Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/misi/2012/20

e-JEMMi edisi No. 20 Vol. 15/2012 (15-5-2012)

Menjadi Pemimpin 2

______________________________  e-JEMMi  _____________________________
                   (Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________

e-JEMMi -- Menjadi Pemimpin 2
No.20, Vol.15, Mei 2012

SEKILAS ISI
ARTIKEL MISI: MENJADI PEMIMPIN 2
DOA BAGI MISI DUNIA: IRAN
DOA BAGI INDONESIA: LEDAKAN BOM DI MASOHI, MALUKU TENGAH

Shalom,

Pada e-JEMMi edisi 19, kami telah menyajikan artikel tentang kualitas
seorang pemimpin Kristen. Sebagai lanjutannya, maka pada edisi minggu
ini, akan dibahas tujuh keseimbangan yang harus dimiliki oleh para
pemimpin Kristen. Kiranya menjadi berkat bagi Anda.

Jangan lupa juga berdoa bagi pekerjaan misi di Iran dan juga keadaan
di kota Masohi, Maluku Tengah. Kiranya Tuhan terus menjaga umat-Nya di
seluruh dunia. Selamat berdoa.

Staf Redaksi e-JEMMi,
Yosua Setyo Yudo
< http://misi.sabda.org/ >

                   ARTIKEL MISI: MENJADI PEMIMPIN 2

Para pemimpin seharusnya memiliki keberanian untuk menghadapi
kompleksitas dan berbagai divisi dalam gereja dan di ladang misi.
Gereja terbagi, dan situasi seperti ini tidak akan banyak berubah.
Gereja-gereja individu, organisasi-organisasi, atau bahkan seluruh
kota mungkin bersatu, namun tidak seluruh gereja. Bahkan proyek-proyek
yang diharapkan dapat menyatukan kita seperti AD 2000, ditentang oleh
banyak orang dan menyebabkan perpecahan. Sejarah menunjukkan bahwa
kebanyakan pertumbuhan gereja terjadi di tengah-tengah ketegangan dan
perpecahan. Marilah kita mengakui kebenaran situasi ini. Anak-anak
muda sangat menginginkan keterbukaan ini dari para pemimpin mereka.
Terdapat bermacam kebutuhan akan keterbukaan yang lebih luas dalam
gereja, dan hal ini akan memecahkan rantai legalisme yang sangat
merugikan dalam memperluas Kerajaan Allah. Suatu sudut pandang yang
naif mengenai tingkat persatuan dalam gereja, kadang-kadang terjadi
dari sebuah kegagalan untuk menghargai kekompleksitasan yang ekstrem
dari gereja dan masyarakat di mana gereja itu ada. Operation
Mobilisation adalah sebuah organisasi besar yang rumit di luar
kemampuan pemahaman saya, dan itulah mengapa organisasi ini dijalankan
oleh sebuah tim yang berisi para pemimpin, yang diharapkan berada di
bawah arahan Roh Kudus. Anda bisa yakin bahwa masih terdapat banyak
kebodohan manusia yang lainnya.

Immoralitas seksual adalah sebuah wilayah yang memiliki bahaya besar
untuk para pemimpin rohani. Tentu saja, siapa pun dapat menjadi
sasaran godaan untuk wilayah ini dan tidak seorang pun yang meragukan
kekuatannya. Namun, banyaknya pemimpin dalam gereja dan misi mendapati
pelayanan mereka diruntuhkan oleh imoralitas seksual. Semua pemimpin
adalah target musuh. Inilah salah satu serangannya yang paling ampuh
dan serangan halus pada pikiran mereka, dan mungkin pernikahan mereka.

Pada awal pelayanan saya yang dipengaruhi oleh keberanian Billy Graham
pada masalah ini, saya telah berbicara dengan tegas dari firman Tuhan
tentang hal ini. Lagi dan lagi, kami telah membawa pemimpin muda dan
potensial pada ayat 2 Timotius 2:22, "Sebab itu jauhilah nafsu orang
muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama
dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni."

Kami telah mendistribusikan jutaan buku mengenai masalah ini, dan
ribuan orang telah menulis atau bersaksi tentang bagaimana mereka
telah dibantu. Tahun lalu, ketika sebuah buku yang berjudul, "When
Good Men are Tempted", yang ditulis oleh Bill Perkins sampai ke tangan
saya, saya menyadari bahwa itu adalah sebuah dinamit rohani dan kami
telah menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia. Kami tahu Tuhan sedang
menggunakannya. Buku Lois Mowday, "The Snare", dalam beberapa hal
bahkan lebih penting, terutama untuk orang yang berada dalam sebuah
pelayanan.

Sebagai pemimpin, kita harus menyadari rasa frustasi yang datang dari
keterbatasan, dari kelemahan, dan kemanusiaan kita, demikian juga
dengan orang-orang yang bekerja dengan kita. Kadang-kadang saya merasa
bahwa saya sedang mengendarai sebuah mobil Mercedes Benz baru pada
sebuah jalan raya Jerman yang ramai, dengan kecepatan 15 mil/jam.
Sebagai orang yang percaya pada pentingnya sebuah hubungan dan
memberdayakan orang lain, saya harus sadar bahwa saya mungkin tidak
mampu melaju dengan kecepatan yang saya inginkan sebagai seorang
pemimpin. Orang dengan semangat dan tujuan harus menerima bahwa
kelemahan mereka dan orang lain harus diakui dan diperhitungkan. Ada
waktu-waktu di mana para pemimpin harus bergerak cepat, menjadi kuat,
dan tegas dengan orang. Ada waktu lain di mana para pemimpin harus
mengurangi kecepatan, mundur, dan menunggu Tuhan dan sering kali
umat-Nya juga. Tanpa hal ini, bahkan dengan kecepatan rendah, kita
mungkin berakhir di jalan yang salah atau bahkan keluar dari jalur dan
masuk ke parit!

Saya telah menjalani perlombaan lari maraton ini selama lebih dari 44
tahun. Saya sering dibuat takjub oleh kekasaran dan juga oleh
kehalusan kebanggaan diri dalam berbagai bentuk. Bahkan, sikap arogan
yang mencolok tidak menjadi hal yang luar biasa di antara mereka dalam
kepemimpinan. Betapa menakjubkannya ketika orang dengan jujur mengakui
hal ini; tentu saja hal ini adalah salah satu pintu keluar menuju
realitas dan kebangunan rohani. Perjuangan saya sendiri adalah dalam
menangani kritikan yang mengungkapkan hal-hal dalam hati saya yang
tidak suka saya hadapi. Untuk setiap kita, hal itu akan menjadi
pergumulan yang panjang.

Realitas kasar terakhir yang ingin saya sebutkan di sini, untuk
perhatian tertentu dari para pemimpin misi adalah realitas hilangnya
jiwa-jiwa. Keadaan sebenarnya dari kehilangan itu mungkin masih
menjadi sebuah misteri bagi kita. Namun, hal itu haruslah berlanjut
menjadi sebuah motivator untuk semua orang yang terlibat dalam karya
misi. John Piper, dalam bukunya "Let the Nations be Glad", pada akhir
sebuah bab dengan hati-hati dia berargumen dari Alkitab untuk
"supremasi Kristus sebagai pusat kesadaran iman yang menyelamatkan",
mengatakan: "Jadi, saya menegaskan bahwa pengabaian terbaru akan
kebutuhan universal untuk mendengar Kabar Baik keselamatan, pasti
memutuskan sebuah semangat dan motivasi utusan Injil. Saya mengatakan
`sebuah semangat` daripada `semangat` karena saya setuju, bahwa
hilangnya jiwa manusia secara universal bukan hanya titik pusat dari
motivasi misi. Melampaui semua itu adalah tujuan yang luar biasa untuk
membawa kemuliaan pada Kristus."

Marilah kita secara teratur mengingatkan diri kita pada Yohanes 14:6:
"Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak
ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Keseimbangan dalam Hidup Seorang Pemimpin

Di hadapan semua realitas yang keras tersebut, sangat sulit untuk
mencapai keseimbangan mendasar yang alkitabiah, yang menjadi tanda
pemimpin yang dipenuhi Roh. Selama bertahun-tahun saya telah banyak
mengajarkan tentang keseimbangan. Pada satu bagian dari Alkitab tua
saya, saya membuat daftar tiga puluh pasang hal yang berlawanan, yang
menurut saya harus seimbang dalam kehidupan kekristenan yang efektif;
masih banyak lagi yang lain. Saya ingin menyebutkan tujuh wilayah, di
mana keseimbangan relevan untuk para pemimpin Kristen yang sedang
bekerja untuk memenuhi Amanat Agung.

1. Keseimbangan antara iman dan akal sehat.

Sering kali para pemimpin dipanggil untuk mendemonstrasikan iman yang
sembrono dan berani. Sejarah misi dipenuhi dengan cerita para pemimpin
seperti Amy Carmichael, Hudson Taylor, dan Jim Elliot. Tentu saja,
ketika Roh Tuhan mendorong para pemimpin untuk mengambil langkah iman
yang besar, maka mereka harus bergerak, dan orang-orang yang mengikuti
mereka harus maju dengan mereka. Namun, harus terdapat semacam
pemahaman di antara para pemimpin juga. Para pemimpin perlu memahami
bahwa mereka mempersiapkan orang lain dan menyampaikan harapan mereka
pada pengikutnya. Untuk alasan ini, mereka perlu sadar akan kewajiban
mereka dalam mencapai tujuan yang realistis, dan mungkin mengembangkan
sedikit skeptisisme akal sehat tentang hal-hal apa yang mungkin. Para
pemimpin muda, dalam hal tertentu, harus menyadari bahwa iman yang
sembrono, yang muncul dari sejarah misi yang hebat, sering kali
berasal dari pengalaman selama bertahun-tahun, dan tentu saja setelah
banyak kesalahan yang dilakukan di awal. Saya yakin bahwa banyak
biografi orang Kristen tidak benar-benar jujur, ketika biografi
tersebut tidak mencantumkan dosa dan kegagalan para pemimpin besar di
masa lalu. Seperti yang A.W Tozer katakan:

"Dalam pergumulan kita memercayai bahwa kita sepertinya mengabaikan
kenyataan sederhana, bahwa sedikit ketidakpercayaan yang sehat
kadang-kadang sangat dibutuhkan seperti halnya iman untuk memperkaya
jiwa kita. Saya membahas lebih lanjut dan mengatakan bahwa kita akan
melakukan sebaik mungkin untuk menangani skeptisisme yang dihormati.
Hal itu akan menjauhkan kita dari ribuan rawa dan lumpur hisap, di
mana orang lain yang kurang memahaminya akan terjebak. Bukanlah dosa
untuk meragukan segala sesuatu, namun sangatlah fatal untuk memercayai
segala sesuatu (The Root of Righteousness).

2. Keseimbangan antara disiplin dan kebebasan.

Anda mungkin mengutip Galatia 5:13 untuk menunjukkan bahwa kita
dipanggil untuk merdeka dan saya akan setuju dengan Anda. Namun di
ayat yang sama, kita juga dipanggil untuk saling melayani. Di mana ada
peraturan, di situ ada pembatasan kebebasan, namun peraturan juga
merupakan sebuah cara untuk menunjukkan bahwa kita ingin mempraktikkan
kasih di antara kita. Cara lain untuk memerhatikan sebuah peraturan
adalah melihatnya sebagai sebuah nasihat yang ditambahkan dengan
kekuatan. Secara keseluruhan, anugerah tanpa disiplin dapat mengarah
pada kecemaran. Para pemimpin, dengan pandangannya yang luas akan
wilayah karya Allah, mungkin cenderung untuk melebih-lebihkan
pentingnya berbagai peraturan. Kesadaran akan kuatnya suara
penentangan yang berasal dari liberalisme, dalam dunia luas, mungkin
mendorong mereka untuk melakukannya. Namun, itu mungkin juga
keangkuhan pemimpin yang diikat dengan suatu cara, sehingga orang lain
melakukannya sebagai sebuah peraturan. Hal itu baik karena mereka
benar dalam apa yang mereka putuskan, namun mereka salah dalam cara
mereka untuk berkomunikasi, dan dalam sikap mereka pada orang yang
mengikutinya. Mereka yang memiliki sebuah temperamen kuat dan
keyakinan yang kuat, sering hadir dalam cara yang lebih ofensif dari
yang kita kira.

3. Keseimbangan antara otoritas dan persekutuan.

Ada kisah-kisah yang mencolok dari sejarah misi tentang otoritas yang
sangat kuat dari para pemimpin misi. Baik William Booth maupun CT
Studd, meminta anggota keluarga mereka sendiri untuk meninggalkan
pergerakan yang mereka pimpin, karena dianggap gagal untuk mengikuti
arahan dari pemimpin. Saya percaya bahwa hari ini, seperti halnya
kebutuhan akan pemimpin yang kuat, terdapat juga suatu kebutuhan untuk
melibatkan para anggota kelompok untuk menaati otoritas. Sebagai
tambahan untuk mereka yang membuat keputusan, haruslah ada yang
menasihati, mengoreksi, dan menantang; harus ada "check and balance"
(pemeriksaan dan penyeimbangan) untuk menghadapi kekuasaan dari
seorang pemimpin yang kuat. Dalam banyak organisasi misi, fungsi ini
dilakukan oleh sebuah dewan yang beranggotakan para pengawas atau
orang yang sederajat. Sejarah dan peristiwa-peristiwa masa kini
menunjukkan bahwa Tuhan menggunakan berbagai susunan, gaya, dan metode
kepemimpinan.

4. Menentukan prioritas adalah sebuah tantangan yang tetap bagi para
pemimpin.

Ada banyak harapan untuk kita sehingga penggunaan waktu dengan
hati-hati sangatlah esensial. Beberapa keseimbangan penting yang
harus dicapai adalah antara waktu untuk sendiri dan waktu untuk orang
lain; antara waktu untuk keluarga dan nonkeluarga; antara bekerja dan
beristirahat; antara bekerja dan bermain; antara berdoa dan belajar
Alkitab; antara bersaksi kepada orang yang belum percaya dan menolong
saudara seiman.

Temperamen memainkan bagian yang besar untuk keseimbangan ini. Tidak
ada dua orang pemimpin yang pekerjaannya sama persis. Sebuah
keseimbangan dalam penggunaan waktu harus dilakukan dalam situasi
tertentu yang dialami seorang pemimpin. Orang yang bukan pemimpin
haruslah mempertimbangkan keseimbangan ini dalam hidup para pemimpin
mereka, dan harus mendukungnya dengan tidak memiliki pengharapan yang
kurang realistis, yang membuat tekanan yang tidak perlu untuk para
pemimpin. Kasih dan kerja sama haruslah ditekankan. Kita akan dan
sedang bekerja dalam wilayah ini sepanjang sisa hidup kita.

5. Para pemimpin diharapkan untuk berpendirian teguh dan tegas, namun
ada juga kebutuhan akan adanya sebuah keseimbangan antara
kualitas-kualitas tersebut dan antara kelemahlembutan dan kehancuran.

Kehancuran berbicara lebih kuat dari pekerjaan yang tiada habisnya;
hal ini tidak bisa dipalsukan. Itu artinya memosisikan diri sebagai
orang yang berbuat kesalahan, mengaku salah, jujur mengakui motivasi
yang salah, dan mengaku salah pada orang lain. Hal ini tidak sama
dengan kegagalan untuk mengambil suatu tindakan karena takut
menyebabkan masalah. Tentu saja, kesiapan pemimpin menjadi hal yang
sangat penting dan mendasar untuk menjadi kemampuan melawan
intimidasi. Beberapa orang sangat mahir dalam mengatakan hal-hal yang
mengintimidasi orang lain dan membuat mereka merasa kurang berarti.
Sebuah ayat yang membantu kita melawan hal ini adalah 2 Timotius 1:7:
"Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh
yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban."

Beberapa orang salah memahami inti pesan dari kehancuran dan telah
secara konsekuen mengembangkan sebuah pemahaman yang tidak sehat
tentang diri dan kepribadian mereka sendiri -- penghargaan diri yang
rendah. Orang seperti itu akan sangat sulit untuk menjadi pemimpin
misi, dan bahkan mungkin memiliki kesulitan untuk menjadi murid yang
efektif dan motor penggerak misi. Para pemimpin akan selalu
menimbulkan gejolak dan memerlukan kekuatan untuk menghadapi
intimidasi yang mungkin ditimbulkan, namun mereka perlu melakukannya
dengan gabungan antara sebuah kesediaan untuk terbuka, jujur, dan
penuh kasih terhadap segala akibatnya. Selama 30 tahun dalam pelayanan
kami, kami telah melihat Tuhan menggunakan pesan yang ditulis David
Seamands, terutama melalui bukunya "Healing the Damaged Emotions",
yang telah menolong banyak orang dalam pergumulan menghadapi hal ini.

6. Keseimbangan dalam hal doktrin penting untuk pemimpin.

Dr. Francis Schaeffer dan Dr. John Stott telah menolong saya untuk
mempelajari kemurnian kasih dari doktrin kekristenan. A.W. Tozer dan
banyak orang yang seperti dia, telah mengajar saya untuk menghargai
pengalaman setiap hari akan kehadiran Tuhan. Kita memerlukan kedua hal
itu, dan keduanya akan selalu berada dalam penekanan yang dinamis --
sebuah keseimbangan antara kehidupan dan doktrin. Bagaimanapun juga,
doktrin harus dibedakan dari keyakinan pribadi dan hal-hal yang
diceritakan. Banyak pemimpin berada pada posisi tertentu karena
keyakinan pribadi yang sangat kuat, sehingga beberapa tugas tertentu
perlu dilakukan dan beberapa titik perlu dibuat. Tidak ada yang salah
dengan hal ini, namun terdapat sebuah kebutuhan untuk mengenali batas
yang jelas, yang membedakan doktrin umum yang harus kita percayai, dan
wilayah lain di mana ada ruang -- atau memang seharusnya ada -- untuk
ketidaksetujuan. Sayangnya, banyak denominasi dan para pemimpin
terintimidasi oleh kerja sama interdenominasi, karena kerja sama itu
menuntut fleksibilitas dalam keyakinan dan cita-cita mereka, walaupun
hal itu tidak akan mengancam doktrin Kristen yang penting dan
mendasar. Sikap seperti ini biasanya disebabkan oleh sikap yang
tertutup, dan dapat dipatahkan dengan membawa orang dari latar
belakang yang berbeda untuk bersama-sama berdoa dan membuat keputusan.
Di mana ada perbedaan doktrin yang mendasar, tentu saja ada kebutuhan
untuk menghormatinya. Sering kali, akan ada kesempatan untuk
berkompromi dengan penuh kasih, di mana prinsip pribadi atau
organisasi dipertimbangkan, atau paling tidak ada kesempatan untuk
setuju atau tidak setuju, dan pada saat yang sama bersama-sama
melangkah maju.

7. Para pemimpin memerlukan pandangan yang berimbang mengenai Tuhan.

Saya suka pandangan berimbang mengenai Tuhan yang diberikan A.W.
Tozer: "Persekutuan dengan Tuhan sangatlah menyenangkan melebihi semua
yang dapat dikatakan. Dia berbicara dari hati ke hati dengan makhluk
tebusannya dalam sebuah persekutuan ringan dan tanpa hambatan, yang
menjadi peristirahatan dan pemulihan bagi jiwa. Dia tidak mudah
tersinggung, tidak egois maupun temperamental. Dia selalu sama baik
hari ini, besok, dan seterusnya. Dia tidak sulit disenangkan walaupun
Dia mungkin sulit untuk dipuaskan. Dia dengan cepat menandai setiap
usaha untuk menyenangkan-Nya. Kita paling menyenangkan-Nya bukan
dengan susah payah membuat kita menjadi orang baik, namun dengan
melemparkan diri kita ke dalam pelukan-Nya dengan segala
ketidaksempurnaan kita, dan percaya bahwa Dia mengerti segala-Nya dan
tetap mengasihi kita ("The Root of the Righteous"). (tRinto)

Diterjemahkan dari:
Judul buku: Out of the Comfort Zone: Grace! Vision! Action!
Judul asli artikel: Taking the Lead
Penulis: George Verwer
Penerbit: OM Books, Secunderabad-India 2000
Halaman: 55 -- 64

                       DOA BAGI MISI DUNIA: IRAN

Tim pengacara pendeta Y masih menunggu keputusan akhir perihal hukuman
mati yang belum diterima dari pihak pengadilan, meski kabar tentang
eksekusi telah tersebar. Kabar tersebut merebak setelah sebuah sumber
tepercaya dari pihak pengacara Y menghubungi media internasional,
dengan informasi bahwa pengadilan telah menandatangani dokumen yang
berisi keputusan eksekusi, dan dengan jelas menyatakan bahwa hukuman
mati bisa dilaksanakan.

Sumber: Buletin Frontline Faith, Mei-Juni 2012, Halaman 3

Pokok Doa:

1. Doakan untuk Y, agar Tuhan memberi kekuatan kepadanya. Doakan juga
untuk anggota keluarga dan jemaat yang digembalakan Y, agar tetap
berpengharapan kepada Tuhan.

2. Mari berdoa untuk umat percaya di Iran, agar Tuhan terus menjaga
kesatuan hati di antara umat percaya dan gereja Tuhan di Iran.

       DOA BAGI INDONESIA: LEDAKAN BOM DI MASOHI, MALUKU TENGAH

Setelah diguncang tiga buah ledakan bom, warga kota Masohi, Kabupaten
Maluku Tengah (Malteng), kembali dibuat panik dengan penemuan sebuah
bom aktif di Kawasan Letuaru, kota Masohi, Kamis (17/5/2012) malam.
Bom tersebut ditemukan oleh seorang anak, RM (11), saat dirinya tengah
mencari besi tua di kawasan tersebut. Bom rakitan yang terbuat dari
pipa besi tersebut diduga diletakkan oleh orang tak dikenal (OTK)
untuk kembali mengacaukan situasi kota Masohi. Kapolres Malteng Ajun
dan Komisaris Besar Udi Juswanto menduga motif dari teror bom tersebut
tak lain untuk mengacaukan Pilkada Malteng putaran kedua yang akan
segera digelar 23 Mei mendatang.

Sumber: Kompas.com

Pokok Doa:

1. Berdoalah agar Tuhan memberi keamanan di kota Masohi sehingga
keadaan terkendali menjelang Pilkada tanggal 23 Mei nanti.

2. Berdoalah agar Tuhan menolong aparat yang berwenang supaya mereka
senantiasa waspada dan sigap menjaga keamanan kota Masohi.

3. Doakan agar Pilkada putaran kedua ini berlangsung secara jujur,
aman dan tertib.

4. Berdoalah untuk para calon pemimpin kepala daerah yang bersaing
agar tidak menggunakan cara-cara kotor untuk memenangkan Pilkada ini,
terutama cara-cara yang merusak stabilitas keamanan di kota Masohi.

5. Berdoalah agar Tuhan memakai umat-Nya di kota Masohi untuk menjadi
garam dan terang bagi kota ini, sehingga kasih dan kemuliaan Kristus
terpancar di kota Masohi.

"THOSE WHO DESERVE LOVE LEAST NEED IT THE MOST"

Kontak: < jemmi(at)sabda.org >
Redaksi: Novita Yuniarti, Yosua Setyo Yudo
(c) 2012 -- Yayasan Lembaga SABDA
< http://www.ylsa.org >
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579
a.n. Yulia Oeniyati
< http://blog.sabda.org/ >
< http://fb.sabda.org/misi >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org