Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/misi/2012/11

e-JEMMi edisi No. 11 Vol. 15/2012 (13-3-2012)

Bukti Medis Kematian Yesus 2

______________________________  e-JEMMi  _____________________________
                   (Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________

SEKILAS ISI
ARTIKEL MISI: BUKTI MEDIS: APAKAH KEMATIAN YESUS PURA-PURA DAN
              KEBANGKITAN-NYA ADALAH CERITA BOHONG? 2
DOA BAGI MISI DUNIA: AFGANISTAN
DOA BAGI INDONESIA: ROADSHOW KE JAKARTA

Shalom,

Pada edisi 10, e-JEMMi telah membahas mengenai teori Yesus yang
pingsan. Di bagian kedua ini, Anda akan semakin melihat kebenaran
tentang pencambukan Yesus dan bukti-bukti medis lainnya bahwa hukuman
yang diterima-Nya demi kita itu benar-benar mematikan. Kiranya setelah
membaca artikel sajian kami ini, iman Anda semakin diteguhkan dalam
kebenaran kuasa kematian dan kebangkitan Kristus. Selamat membaca,
Yesus Kristus memberkati!

Staf Redaksi e-JEMMi,
Yosua Setyo Yudo
< http://misi.sabda.org/ >

           ARTIKEL MISI: BUKTI MEDIS: APAKAH KEMATIAN YESUS
         PURA-PURA DAN KEBANGKITAN-NYA ADALAH CERITA BOHONG? (2)

Karena saya hanya memiliki pengetahuan yang belum sempurna tentang
anatomi manusia, saya tidak yakin apa artinya ini. "Kesakitan seperti
apa yang akan dihasilkan?" Saya bertanya.

"Saya akan menjelaskan demikian," jawab beliau. "Apakah Anda tahu rasa
sakit seperti apa yang Anda rasakan, ketika Anda memukul siku Anda dan
mengenai daerah di ujung siku Anda? Itu sebenarnya adalah saraf yang
lain, yang disebut `saraf ulna` dan rasanya sangat sakit ketika Anda
mengenainya secara tidak sengaja. Coba Anda bayangkan sepasang catut
menekan dan menghancurkan saraf itu", kata beliau sambil menegaskan
kata menekan sembari memutar sepasang catut khayalan itu. Efek itu
mungkin mirip dengan apa yang Yesus alami. Rasa sakitnya
sungguh-sungguh tak tertahankan. Bahkan, melampaui kata-kata untuk
menjelaskannya; mereka perlu menciptakan kata yang baru:
`excruciating`, yang secara harfiah berarti berasal dari salib.
Pikirkan hal itu: mereka perlu menciptakan sebuah kata baru, karena
tidak ada di dalam bahasa mereka yang dapat menjelaskan hebatnya
penderitaan yang diakibatkan selama penyaliban. Pada titik ini, Yesus
dikerek ke atas ketika bagian yang melintang dari salib itu dipakukan
ke tiang horisontal, dan kemudian paku-paku ditancapkan menembus kedua
kaki-Nya. Sekali lagi, saraf-saraf kaki-Nya akan hancur dan akan
menimbulkan rasa sakit yang serupa.

Saraf-saraf yang hancur dan dalam keadaan yang parah jelas sudah cukup
buruk, namun saya perlu mengetahui tentang efek dari tergantung di
kayu salib yang mungkin terjadi pada Yesus. "Tekanan-tekanan apa yang
mungkin diakibatkan oleh penyaliban ini pada tubuh-Nya?"

Metherell menjawab, "pertama-tama, lengan-Nya harus direntangkan
secara tiba-tiba, mungkin sekitar 6 inci panjangnya. Kedua, bahu-Nya
mungkin menjadi terlepas dari tempatnya -­ Anda bisa menentukan ini
dengan persamaan matematika yang sederhana. Keadaan ini menggenapi
nubuat dalam Mazmur 22, yang mengatakan, `segala tulangku terlepas
dari sendinya`."

Penyebab Kematian

Metherell telah menyampaikan maksud beliau -­ dengan amat jelas,
seperti keadaan yang sebenarnya ­- tentang rasa sakit yang berlangsung
terus-menerus sejak proses penyaliban dimulai. Namun, saya perlu
sampai kepada pernyataan final kehidupan korban penyaliban, karena
itulah isu yang sangat penting dalam menentukan apakah kematian bisa
dipalsukan atau dielakkan. Jadi, saya mengajukan pertanyaan penyebab
kematian secara langsung kepada Metherell.

"Penyaliban adalah kematian perlahan yang sangat menyakitkan,
dikarenakan `asphyxia` (keadaan kurangnya suplai oksigen ke dalam
tubuh karena tidak dapat bernapas secara normal, Red.). Penyebabnya
adalah tekanan-tekanan pada otot dan diafragma, yang membuat dada
berada dalam posisi menarik napas; untuk mengeluarkan napas, seseorang
yang disalib harus mendorong dirinya ke atas dengan bertumpu pada
kakinya, sehingga tekanan pada otot dada akan mereda untuk sementara.
Ketika melakukan hal ini, paku akan merobek kaki orang itu dan
akhirnya paku itu akan terkunci dengan `tulang tarsal` [tulang
pergelangan kaki, Red.]. Setelah mengatur untuk mengeluarkan napas,
orang itu lalu akan mampu mengendur ke bawah dan menarik napas
kembali."

"Sekali lagi, dia harus mendorong dirinya sendiri ke atas untuk
mengeluarkan napas, mencabik punggungnya yang berdarah mengenai kayu
salib yang kasar. Keadaan ini berlangsung terus-menerus sampai
kelelahan menguasainya dan orang itu tidak akan mampu mendorong ke
atas dan bernapas lagi. Ketika napas orang itu melambat, dia mengalami
`respiratory acidosis` -­ karbon dioksida di dalam darah larut menjadi
asam karbonat, menyebabkan kadar asam dalam darah meningkat. Lama
kelamaan hal ini membuat denyut jantung menjadi tidak teratur. Dengan
denyut jantung yang tidak teratur, Yesus mungkin tahu bahwa Dia sedang
dalam keadaan sekarat. Saat itulah Ia berkata, `Tuhan, ke dalam
tangan-Mulah Kuserahkan nyawa-Ku,` kemudian Dia meninggal karena
`cardiac arrest` [terhentinya sirkulasi darah yang normal dikarenakan
jantung yang tidak dapat berkontraksi secara penuh. Red.]."

[Gambaran itu merupakan penjelasan paling jelas yang pernah saya
dengar tentang kematian melalui penyaliban dan ini sangat penting -­
namun Metherell belum selesai.]

"Bahkan sebelum Dia mati -- ini sangat penting, syok `hypovolemic`
mungkin mengakibatkan jantung berdenyutnya dengan cepat secara
terus-menerus, yang membuat gagal jantung. Hal itu berakibat
berkumpulnya cairan di dalam membran sekitar jantung (pericardial
effusion) dan di sekitar paru-paru (pleural effusion). Untuk
memastikan kematian Yesus, maka tentara Romawi menusukkan sebuah
tombak ke sebelah kanan-Nya. Mungkin sebelah kanan-Nya; itu tidak
pasti, namun dari catatan kemungkinan sebelah kanan, di antara
tulang-tulang iga. Tombaknya tampaknya menembus paru-paru sebelah
kanan dan masuk ke jantung, maka ketika tombak ditarik keluar
cairan -- `pericardial effusion` dan `pleural effusion` keluar. Ini
terlihat sebagai cairan yang bening seperti air, diikuti dengan darah
yang banyak, sebagaimana Yohanes -- seorang saksi mata menggambarkan
peristiwa itu di dalam Injilnya."

Yohanes kemungkinan tidak mengetahui mengapa dia melihat darah dan
juga cairan bening keluar -­ tentulah seseorang tidak terlatih seperti
dirinya tidak akan mengantisipasi hal tersebut. Namun, apa yang
digambarkan Yohanes itu konsisten dengan yang diperkirakan ilmu
kedokteran modern. Awalnya, laporan ini terlihat seperti memberikan
kredibilitas kepada Yohanes sebagai saksi mata; tetapi bagaimanapun
juga, sepertinya terdapat sebuah kecacatan yang besar pada semua hal
ini.

Saya lalu membuka Yohanes 19:34. "Tunggu sebentar, dok," saya protes.
"Jika Anda membaca dengan teliti apa yang dikatakan oleh Yohanes, dia
melihat `darah dan air` keluar; dengan sengaja dia meletakkan
kata-kata dengan urutan itu. Namun menurut Anda, cairan bening
mungkin keluar lebih dahulu. Jadi, ada ketidakcocokkan di sini."

Metherell tersenyum. "Saya bukan ahli bahasa Yunani," jawab beliau.
Namun menurut orang-orang yang ahli, urutan kata dalam Yunani kuno
tidak selalu ditentukan oleh rangkaian waktu, melainkan yang mana yang
lebih menonjol. Ini berarti karena dalam peristiwa itu ada lebih
banyak darah daripada air, maka bisa dipahami bahwa Yohanes
menyebutkan darah terlebih dahulu.

Pada titik ini saya bertanya, "Kondisi Yesus menjadi seperti apa?"

Tatapan Metherell terkunci dengan tatapan saya. Beliau menjawab dengan
otoritas, "Jelas tidak diragukan lagi bahwa Yesus telah mati."

Menjawab Orang-Orang Skeptis

Pernyataan Dr. Metherell kelihatannya benar-benar didukung oleh bukti
medis. Namun, masih ada beberapa rincian yang ingin saya ajukan ­-
demikian pula setidaknya satu kelemahan dalam penjelasan beliau yang
sangat bisa meruntuhkan kredibilitas Alkitab.

"Kitab Injil mengatakan bahwa para prajurit Romawi mematahkan kaki
kedua penjahat yang disalib bersama Yesus," kata saya. "Mengapa mereka
melakukan hal itu?"

"Jika mereka ingin mempercepat kematian -­ dan dengan menjelangnya
hari Sabat dan Paskah, para pemimpin Yahudi tentunya ingin
menyelesaikan ini semua sebelum matahari terbenam ­- orang-orang
Romawi akan memakai gagang baja dari tombak pendek Romawi untuk
menghancurkan tulang kaki korban. Dengan demikian akan menghalangi
korban untuk mendorong dirinya ke atas dengan kakinya untuk bernapas,
sehingga kematian yang disebabkan oleh kesulitan bernapas akan terjadi
dalam hitungan menit. Tentu saja kita diberi tahu di dalam Perjanjian
Baru bahwa kaki Yesus tidak dipatahkan, karena para tentara telah
memastikan bahwa Dia sudah mati, dan mereka hanya memakai tombak untuk
memastikan hal itu. Peristiwa ini menggenapi nubuat Perjanjian Lama
lainnya tentang Mesias, yaitu bahwa tulang-tulang-Nya tidak akan
dipatahkan."

Sekali lagi saya menyela. "Beberapa orang berusaha untuk menimbulkan
keraguan terhadap catatan Injil dengan menyerang kisah penyaliban.
Misalnya, sebuah artikel di Harvard Theological Review menyimpulkan
bertahun-tahun yang lampau terdapat `bukti yang sangat sedikit bahwa
kaki orang yang tersalib pernah ditembus dengan paku.` Sebaliknya,
dikatakan dalam artikel itu, tangan dan kaki korban diikat di kayu
salib dengan tali. Akankah Anda mengakui bahwa hal ini meningkatkan
permasalahan mengenai kredibilitas catatan Perjanjian Baru?"

"Tidak," ujar Dr. Metherell, karena sekarang bukti arkeologi telah
menetapkan bahwa penggunaan paku dalam penyaliban adalah sesuatu yang
historis -­ meskipun saya mengakui bahwa tali-tali memang terkadang
digunakan.

"Apa buktinya?"

"Pada tahun 1968, para arkeolog di Yerusalem menemukan sisa-sisa
jenazah dari sekitar tiga puluh enam orang Yahudi yang meninggal
selama pemberontakan terhadap penjajahan Roma sekitar tahun 70 M.
Seorang korban, yang sepertinya bernama Yohanan, disalib dalam
peristiwa itu dan mereka menemukan paku sepanjang tujuh inci yang
masih tertancap di kakinya, dengan serpihan-serpihan kecil kayu zaitun
yang dipakai sebagai kayu salib yang masih menempel. Penemuan ini
merupakan konfirmasi arkeologis yang baik sekali mengenai rincian
penting dalam penggambaran kitab Injil tentang Penyaliban."

"Masuk akal," pikir saya. Namun, ada hal lain yang dipertentangkan
oleh para ahli tentang orang-orang Romawi dalam menentukan apakah
Yesus benar-benar mati. Mereka sangat primitif dalam hal ilmu
kedokteran dan anatomi. Bagaimana kita tahu bahwa mereka tidak keliru
ketika mereka menyatakan bahwa Yesus tidak lagi hidup?

"Saya menjamin bahwa tentara-tentara ini tidak belajar kedokteran.
Tetapi, ingatlah bahwa mereka adalah para ahli dalam membunuh orang --
itu adalah pekerjaan mereka dan mereka melakukannya dengan sangat
baik. Tanpa ragu, mereka dapat mengetahui jika korban mereka mati dan
hal itu benar-benar bukan merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk
mereka ketahui. Lagi pula, jika seorang tahanan entah dengan cara
bagaimana dapat meloloskan diri, tentara-tentara yang bertanggung
jawab terhadap tahanan itu pasti akan dibunuh. Jadi, mereka memiliki
dorongan yang sangat besar untuk memastikan bahwa setiap tahanan sudah
mati ketika diturunkan dari salib."

Argumen Final

Dengan mengacu kepada sejarah, ilmu kedokteran, arkeologi, dan bahkan
aturan-aturan kemiliteran Romawi, Metherell telah menutup semua celah:
Yesus tidak mungkin turun dari kayu salib hidup-hidup. Namun, saya
masih mendesak beliau lebih jauh. "Apakah kemungkinan­kemungkinan yang
paling kecil sekalipun ­- bahwa Yesus selamat melewati penyaliban
ini?"

Metherell menggelengkan kepala dan mengacungkan jarinya ke arah saya
sebagai penekanan. "Sangat tidak mungkin," katanya. Ingat, Dia telah
berada dalam syok "hypovolemic" akibat kehilangan darah yang sangat
banyak bahkan sebelum penyaliban dimulai. Dia tidak mungkin memalsukan
kematian-Nya karena Anda tidak bisa memalsukan ketidakmampuan bernapas
untuk waktu yang lama. Lagi pula, tombak yang menusuk jantung-Nya
pasti benar-benar mengakhiri hidup-Nya dan para prajurit Romawi tidak
akan mempertaruhkan nyawa mereka sendiri dengan membiarkan Dia pergi
hidup-hidup. Jadi, Yesus hanya jatuh pingsan di kayu salib adalah hal
mustahil. Itu adalah teori khayalan yang tidak memiliki dasar yang
memungkinkan di dalam kenyataannya.

Saya belum siap untuk meninggalkan masalah ini. Dengan risiko membuat
dokter Metherell merasa frustrasi, saya berkata, "mari berspekulasi
bahwa hal yang mustahil itu terjadi dan bahwa Yesus dengan cara yang
entah bagaimana dapat selamat dari penyaliban. Katakan saja Dia bisa
lolos dari lilitan kain linen-Nya, menggulingkan batu besar dari mulut
kubur-Nya, dan melewati prajurit-prajurit Romawi yang sedang berjaga.
Secara medis, kondisi seperti apa yang Dia alami setelah Dia melacak
keberadaan murid-murid-Nya?

Metherell enggan mengikuti permainan saya. Sekali lagi beliau
menekankan, "Tidak mungkin Ia selamat dari salib. Namun seandainya Dia
lolos, bagaimana mungkin Dia bisa berjalan setelah paku-paku menembus
kaki-kaki-Nya? Bagaimana mungkin bisa Dia muncul di jalan menuju ke
Emaus dalam waktu singkat dan melakukan perjalanan dalam jarak yang
jauh? Bagaimana mungkin Dia menggunakan tangan-Nya, setelah kedua
tangan-Nya itu direntangkan dan ditarik dari sendi-sendi-Nya? Ingat,
Dia juga memunyai luka yang sangat parah pada punggung-Nya dan sebuah
luka akibat tusukkan tombak di dada-Nya."

"Dengar," kata Metherell. Seseorang dalam kondisi menyedihkan semacam
itu tidak akan pernah menginspirasi murid-murid-Nya untuk pergi ke
luar dan menyatakan bahwa Dialah Tuhan atas hidup yang telah
mengalahkan kematian. "Apakah Anda mengerti apa yang sedang saya
katakan?" Setelah menderita penyiksaan yang begitu mengerikan, dengan
kehilangan darah dan luka yang mematikan, Dia akan terlihat begitu
menyedihkan, sehingga murid-murid-Nya tidak mungkin meninggikan Dia
sebagai penakluk kematian yang berkemenangan; mereka akan merasa
kasihan kepada-Nya dan berusaha untuk merawat Dia agar kembali sehat.
Jadi, tidak masuk akal jika berpikir seandainya Dia telah menampakkan
diri kepada mereka dalam keadaan yang mengerikan, dan para
pengikut-Nya terdorong untuk memulai gerakan ke seluruh dunia,
berdasarkan pengharapan bahwa suatu hari mereka akan memiliki
kebangkitan tubuh seperti ini. Benar-benar tidak mungkin.

Pernyataan Metherell ini merupakan poin penutup, yang akan menancapkan
pancang terakhir di jantung teori jatuh pingsan sekali dan untuk
selamanya -- teori yang belum pernah disangkal oleh seorang pun sejak
pertama kali diajukan oleh teolog Jerman, David Strauss pada tahun
1835.

Sebuah Pertanyaan untuk Hati

Metherell telah menetapkan pernyataannya melampaui keraguan yang
beralasan. Beliau telah melakukannya dengan berfokus semata-mata pada
pertanyaan, "Bagaimana Yesus dihukum mati sedemikian rupa, sehingga
memastikan kematian-Nya?" Namun ketika kami selesai, saya merasakan
ada sesuatu yang kurang. Saya telah mengetuk ke dalam pengetahuan
beliau, namun saya tidak menyentuh hatinya. Jadi, ketika kami berdiri
untuk bersalaman, saya merasa terdorong untuk mengajukan pertanyaan.
"Alex, sebelum saya pergi, izinkan saya menanyakan pendapat Anda
tentang sesuatu -­ bukan pendapat medis Anda atau penilaian ilmiah
Anda, tetapi sesuatu dari hati Anda."

"Yesus dengan sengaja masuk ke dalam cengkeraman pengkhianat-Nya. Dia
tidak menolak penangkapan, tidak membela diri-Nya sendiri di
pengadilan -­ jelas bahwa Dia bersedia mengarahkan diri-Nya sendiri
kepada apa yang telah Anda jelaskan sebagai penghinaan dan penderitaan
yang dalam dari penganiayaan. Saya ingin tahu mengapa. Apa yang
mungkin memotivasi seseorang untuk bersedia memikul penghukuman
semacam ini?"

Metherell menjawab, "orang biasa tidak dapat melakukannya. Yesus tahu
apa yang akan terjadi dan Dia bersedia melaluinya, karena hukuman itu
adalah satu-satunya jalan untuk-Nya agar bisa menebus kita ­- dengan
menjadi pengganti kita dan menjalani hukuman mati yang pantas kita
terima karena pemberontakan kita melawan Allah. Itulah seluruh
misi-Nya datang ke dalam dunia."

Saat beliau mengucapkan kalimat itu, saya merasakan bahwa Metherell
tidak henti-hentinya berpikir secara rasional, logis, dan teratur,
terus menjawab pertanyaan saya dengan jawaban yang paling mendasar dan
tidak dapat dikurangi. "Jadi, ketika saya bertanya apa yang memotivasi
Dia?"

Beliau menyimpulkan, "Baiklah, saya rasa jawabannya dapat dirangkum
dalam satu kata -­ dan itu adalah kasih."

Jawaban ini terus terngiang-ngiang dalam benak saya. Metherell secara
meyakinkan menegaskan bahwa Yesus tidak mungkin selamat dari siksaan
salib, sebuah bentuk kekejaman yang begitu keji, sehingga orang-orang
Romawi mengecualikan warganya sendiri dari hukuman itu, kecuali untuk
kasus-kasus pengkhianatan yang berat.

Kesimpulan Metherell konsisten dengan penemuan-penemuan para dokter
lain yang telah mempelajari masalah ini dengan cermat. Salah satunya
adalah tulisan Dr. William D. Edwards, dalam "Journal of the American
Medical Association" tahun 1986, yang menyimpulkan dengan jelas, bobot
bukti historis dan medis menunjukkan bahwa Yesus mati sebelum luka di
bagian-Nya dibebankan. Karena itu, anggapan bahwa Yesus tidak mati di
kayu salib akan tampak sebagai sesuatu yang ganjil menurut pengetahuan
medis modern. Mereka yang mencoba menghilangkan kebangkitan Yesus
dengan alasan yang menyatakan bahwa Dia lolos dari cengkeraman
kematian di Golgota, perlu memberikan teori yang lebih masuk akal,
yang sesuai dengan fakta. Mereka juga harus mempertimbangkan
pertanyaan -- yang kita semua harus pertimbangkan: apa yang memotivasi
Yesus sehingga rela membiarkan diri-Nya direndahkan dan disiksa
sebagaimana yang Dia alami? (tJing Jing)

Diterjemahkan dari:
Judul buku: The Case for Easter
Judul asli artikel: The Medical Evidence:
            Was Jesus` Death a Sham and His Resurrection a Hoax?
Penulis: Lee Strobel
Penerbit: Zondervan, Grand Rapids, Michigan 2003
Halaman: 17 -- 28

                    DOA BAGI MISI DUNIA: AFGANISTAN

Turunnya salju yang menyebabkan banyak laporan kematian di Eropa Timur
ternyata juga memberi dampak di Timur Tengah. Para korban bencana
gempa bumi menderita di Turki, sementara para pengungsi di Afganistan
menderita akibat musim dingin yang tidak biasa. Menurut laporan
terbaru, sedikitnya 40 penduduk Afganistan meninggal pada bulan
terakhir. Hampir semua korban itu adalah anak-anak.

Menurut laporan Al Jazeera, suhu musim dingin tahun ini berkisar
antara 5-6 derajat Celcius, lebih dingin daripada musim dingin tahun
lalu. Temperatur di Kabul menurun hingga -16 derajat Celcius dan
diperkirakan akan bertambah buruk.

Kebutuhan akan sarana yang dapat menghangatkan para korban sangat
dibutuhkan. Banyak orang yang tidak memiliki tempat berlindung yang
layak, juga yang ada di tempat pengungsian. Kelompok penanggulangan
bencana Southern Baptist, Baptist Global Response, mengatakan bahwa
banyak orang Afganistan yang tinggal di tenda-tenda, rumah-rumah yang
terbuat dari adonan lumpur atau tripleks yang tidak sanggup memberi
perlindungan terhadap udara dingin.

Penduduk Afganistan sangat membutuhkan tempat perlindungan, bahan
bakar, makanan, baju hangat, dan sepatu. Banyak dari mereka yang
bahkan tidak memiliki kayu bakar atau batu bara untuk menyalakan api
bagi keluarga mereka yang kedinginan.

Partner Baptist Global Response (BGR) di Kabul memberi respons dengan
membagikan "Winter Relief Family Packs" (Paket Pertolongan Musim
Dingin Keluarga) kepada 500 keluarga yang mendapat musibah terparah.
Paket itu terdiri dari kayu bakar dan makanan, termasuk beras, minyak
goreng, kacang-kacangan dan teh.

Rekanan BGR juga akan menindaklanjuti keluarga tertentu untuk
menyediakan kursus dalam bidang pekerjaan praktis agar dapat menolong
mereka mandiri kembali.

Rekanan pelayanan itu juga melihat hal ini tidak hanya sebagai
kesempatan untuk menolong orang-orang yang sedang dalam kesulitan
tetapi juga kesempatan untuk menunjukkan kasih Tuhan kepada ratusan
orang yang tidak mengetahui tentang itu. (t/Yudo)

Sumber: http://mnnonline.org/article/16878

1. Berdoalah agar orang-orang di Afganistan yang menerima Paket
Pertolongan Musim Dingin Keluarga, dapat merasakan kasih Tuhan melalui
perhatian orang-orang percaya.

2. Doakan anak-anak Tuhan yang saat ini melayani di Afganistan agar
Tuhan memberikan perlindungan dan kesehatan yang baik di tengah cuaca
yang cukup ekstrem ini.

3. Doakan agar Tuhan mencukupkan dana yang dibutuhkan untuk membantu
orang-orang di Afganistan. Doakan juga agar semakin banyak anak-anak
Tuhan yang tergerak untuk mendukung pelayanan di Afganistan.

               DOA BAGI INDONESIA: ROADSHOW KE JAKARTA

Pada tanggal 1-4 Maret 2012, Tim SABDA melakukan perjalanan ke Jakarta
untuk mengadakan pelatihan SABDA. Tujuan utamanya adalah memberikan
pelatihan SABDA_Care untuk tim multimedia gereja-gereja di Jakarta.
Pelatihan ini diikuti oleh 140 peserta (mewakili 80 gereja dan
organisasi Kristen). Selain itu, Tim SABDA juga memberikan pelatihan
software Alkitab SABDA kepada hamba-hamba Tuhan GMII, STT IKSM dan
PGLII Depok. Puji Tuhan semua kegiatan ini berjalan dengan baik.

Pokok Doa:

1. Mengucap syukur untuk perlindungan yang Tuhan berikan kepada Tim
SABDA selama perjalanan dari Solo ke Jakarta dan kembali lagi ke Solo.
Penyertaan Tuhan sungguh luar biasa.

2. Mengucap syukur untuk pelayanan Yasti dan Yasuma yang telah
membantu pelaksanaan pelatihan ini. Tuhan memberkati pelayanan Anda.

3. Mengucap syukur karena melalui pelatihan ini banyak produk
pelayanan SABDA boleh disebarkan, dan berharap bisa menjadi berkat
bagi kemajuan pelayanan para peserta yang mengikuti pelatihan ini.

4. Doakan agar Tuhan menolong setiap peserta, baik dari tim Multimedia
gereja atau para hamba Tuhan, agar pelayanan mereka dipakai Tuhan
untuk menumbuhkan jemaatnya sehingga mereka mengenal Firman Tuhan
dengan benar.

Kontak: < jemmi(at)sabda.org >
Redaksi: Novita Yuniarti, Yosua Setyo Yudo
(c) 2012 -- Yayasan Lembaga SABDA
< http://www.ylsa.org >
Rekening: BCA Pasar Legi Solo;
No. 0790266579
a.n. Yulia Oeniyati
< http://blog.sabda.org/ >
< http://fb.sabda.org/misi >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org