Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/misi/2011/17

e-JEMMi edisi No. 17 Vol. 14/2011 (26-4-2011)

Badui, Indonesia

______________________________  e-JEMMi  _____________________________
                   (Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________

SEKILAS ISI
RENUNGAN: PIKIRAN MANUSIA VS TUHAN
PROFIL BANGSA: BADUI, INDONESIA

Shalom,

Apakah Anda sering merasa bingung memahami pikiran Tuhan yang sama
sekali berbeda dengan pikiran kita? Nah, oleh sebab itu kami undang
Anda untuk menyimak renungan dalam edisi ini. Kami juga menyajikan
seputar suku Badui dalam profil bangsa. Dengan mengetahui lebih dalam
tentang mereka, harapan kami Anda terpanggil untuk memberikan
kontribusi untuk mengenalkan Injil bagi saudara-saudara kita sebangsa
dan setanah air. Selamat menyimak, Tuhan Yesus memberkati.

Redaksi Tamu e-JEMMi,
Mahardhika Dicky Kurniawan
< http://misi.sabda.org/ >

                     RENUNGAN: PIKIRAN MANUSIA VS TUHAN

Pikiran manusia Petrus tidak menginginkan pemimpin-Nya menderita,
diperlakukan tidak adil, dinista, atau dihina; demikian juga kita.
Bukankah Yesus berkuasa melakukan banyak mukjizat? Ia berjalan di atas
air, mengubah air menjadi anggur, membangkitkan orang mati, dan banyak
lainnya. Yesus sanggup membela dan melepaskan diri-Nya dari paku-paku
yang menancapkan-Nya ke kayu salib.

Tetapi Yesus yang Mahakuasa tidak melakukan hal itu, Ia memilih
menderita dan mati di atas kayu salib demi karya penebusan kita dari
dosa-dosa.

Bukankah kita sering punya pikiran yang sama, kita lebih senang hidup
ini dipenuhi oleh kejutan-kejutan dan mukjizat daripada harus
menjalani proses penderitaan. Kita ingin keluarga dan pekerjaan dalam
keadaan selalu baik, pelayanan berjalan sempurna, dan semuanya
berjalan mulus tanpa rintangan. Mukjizat dan kebaikan sering kali kita
jadikan indikator sebuah keberhasilan.

Keberhasilan terbesar Yesus bukanlah pada saat Ia mengubah air menjadi
anggur dan bukan pula saat Ia membangkitkan orang mati, tetapi
keberhasilan terbesar-Nya adalah pada saat Ia menangguhkan kuasa-Nya
untuk menjadi taat dan setia pada kehendak Bapa di bawah penderitaan
salib.

Ketika tiba-tiba sebuah goncangan terjadi dan kita mulai tersingkir
dari zona nyaman, apa respons kita? Kita sering alergi mendengar
kata-kata penderitaan atau pikul salib. Siapa yang merencanakan
kematian Yesus? Bapa tidak pernah merencanakan kejahatan untuk
menggenapi rencana keselamatan. Tapi Iblislah yang memakai orang-orang
jahat yang dipenuhi kebencian untuk hal itu. Jangan pernah putus asa
menghadapi kenyataan hidup yang pahit, agar Iblis tidak memakai
Saudara sebagai alatnya.

Ada kisah tentang sebuah keluarga yang dibantai di dalam sebuah gereja
di Poso pada Paskah baru-baru ini. Kami bertanya apakah mereka marah?
Mereka menjawab, "Kepada siapa kami harus marah? Kami tidak tahu siapa
pelakunya. Justru kami mengasihani mereka." Benar, mereka tidak boleh
marah kepada manusianya karena mereka hanyalah alat yang dipakai oleh
Iblis. Apakah mereka sakit hati, benci, atau sedih karena dianiaya?
Tidak. Mereka justru melihat bahwa keselamatan di dalam Yesus lebih
berharga daripada penderitaan yang mereka alami. Mereka benci kepada
Iblis dan sedih karena orang-orang yang menganiaya mereka diperalat
Iblis untuk meluapkan ketidakpuasan mereka.

Jika kita diperhadapkan pada persoalan yang mengarah kepada kemarahan,
kebencian, atau kepahitan; ingatlah bahwa Iblis akan memakai kita
sebagai alatnya. Bersyukurlah karena Alkitab menulis bahwa penderitaan
yang kita alami tidak akan melebihi kekuatan kita, dan Yesus telah
bangkit dan memberikan kuasa kepada kita untuk mengatasinya.

Terima kasih atas segala dukungan materi dan doa, untuk mereka yang
tetap setia meski teraniaya. Biarlah jejak yang mereka tinggalkan,
menuntun kita pada ketaatan. Tuhan memberkati.

Diambil dari:
Nama buletin: Kasih Dalam Perbuatan, Edisi Mei -- Juni 2004
Penulis: Tim Kasih Dalam Perbuatan
Penerbit: Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
Halaman: 1

                    PROFIL BANGSA: BADUI, INDONESIA

Pendahuluan/Sejarah

Daerah perbukitan Jawa Barat sebagian besar dihuni oleh kaum Muslim
suku Sunda, namun daerah yang terletak di sektor barat dihuni oleh
suku Badui -- suatu komunitas Sunda purba yang masih tersisa, yang
menggunakan dialek Sunda kuno. Suku Badui sengaja mengisolasi diri
mereka di daerah pegunungan, ketika mayoritas penduduk pulau Jawa
menjadi pemeluk agama Islam. Mereka telah mempertahankan kasta sebagai
sistem stratifikasi sosial yang kental. Keturunannya ditandai melalui
kedua orang tua mereka, namun keluarga asalnya tidak sekuat seperti
pada kalangan etnis utama suku Jawa. Bentuk atau corak desa terdiri
dari lebih kurang 35 kelompok kecil, yang terdiri dari rumah-rumah
penduduk yang tersebar di sekitar lahan padi gagarancah, yang digarap
secara musiman dan berpindah-pindah. Terdapat tiga desa yang tetap
terisolasi sama sekali dari kontak-kontak dengan suku non-Badui. Orang
Badui yang mengenakan busana hitam, berbicara dengan pihak luar; namun
mereka yang mengenakan sarung putih, harus tetap mempertahankan
isolasi secara ketat. Pemerintah telah berupaya untuk mendidik mereka
dan telah membawa suatu perubahan gaya hidup bagi mereka. Namun,
sebagian besar di antara mereka menolak bantuan ini, dan sebagai
akibatnya mereka tetap buta aksara dan primitif. Suku Badui memiliki
reputasi sebagai orang-orang yang gemar menggunakan ilmu hitam. Banyak
orang yang takut karena kemampuan mereka untuk meramalkan masa depan
dan menjampi musuh-musuh mereka.

Karena keterbelakangan mereka, mereka telah menolak untuk mendidik
anak-cucu mereka pada sekolah-sekolah umum. Pemerintah juga tidak
menyelenggarakan pendidikan, akibatnya mereka tetap buta huruf dan
primitif. Menurut berita, para pria Badui diizinkan untuk menumpang
kereta api secara gratis. Pria-pria mengenakan kemeja biru tua atau
hitam dan sarung, serta melilitkan rambut mereka yang panjangnya
sepinggang dengan kain hitam pada kepala mereka. Memotret mereka
adalah suatu tindakan yang tabu.

Suatu kesulitan utama adalah akses ke wilayah Badui. Mungkin langkah
pertama adalah menetapkan suatu titik pertemuan di perbatasan dan
berteman dengan beberapa orang Badui. Pertemuan yang alamiah lebih
baik dilakukan oleh orang Sunda sendiri, daripada oleh orang luar.
Para pelayan harus diperlengkapi dengan alat-alat peraga visual yang
baik untuk penginjilan, dan yang berorientasi pada budaya karena
orang-orang Badui tidak bisa membaca. Setiap pelayan juga harus
dipersiapkan untuk menghadapi kuasa ilmu hitam dan penyembahan berhala
orang-orang Badui. Pelayanan penyembuhan dan pelepasan, akan sangat
tepat menyertai pemberitaan Injil. Seorang ahli bahasa-penerjemah
Kristen asing bisa ditempatkan di daerah itu, yang akan memfasilitasi
dengan menggunakan kata-kata kunci Injil sehari-hari sebagai langkah
awal.

Perlu dicari cara-cara untuk menjangkau orang Badui luar yang memiliki
relasi dengan orang Badui dalam. Selanjutnya, orang-orang Kristen
etnis lainnya dapat diperkenalkan. Sebagian kecil orang Badui yang
berhubungan dengan para pengusaha adalah contoh Badui yang berhubungan
dengan pihak luar. Suatu risiko yang mungkin terjadi adalah pengucilan
para penghubung itu. Kaum muda bisa menjadi sasaran yang mau menerima.
Mereka yang telah bepergian keluar dan menyaksikan kehidupan
orang-orang non-Badui adalah calon orang-orang yang dapat diubahkan.
Namun demikian, budaya dapat dengan mudah menghadapi ketidakseimbangan
bilamana orang-orang yang lanjut usia diabaikan. Para pelayan harus
berteman dengan mereka, dan mengetahui kebutuhan yang dirasakan unik
bagi mereka yang gaya hidupnya terasing. Selanjutnya, dibutuhkan
strategi yang lebih lengkap yang disusun untuk menjangkau seluruh suku
bangsa. Telah diberitakan bahwa beberapa pejabat pemerintah di
republik ini telah meminta orang Badui untuk memberi nasihat pada
urusan kenegaraan, karena mereka percaya bahwa orang-orang Badui
memiliki kekuatan khusus untuk meramal masa depan dan menjampi
musuh-musuh mereka. Namun, orang-orang Badui lebih suka membiarkan
diri mereka sebagai orang-orang buta huruf, daripada mendidik
anak-anak mereka di sekolah-sekolah umum milik pemerintah.

Ketika Injil telah masuk ke pulau Jawa, mereka juga bersikukuh
menentangnya. Pada suatu ketika, seorang Indonesia yang telah menjadi
orang Kristen berbicara dengan beberapa orang Badui tentang Yesus
Kristus, namun usaha-usahanya ditentang keras oleh para pemimpin
Badui. Meskipun tidak ada data untuk membuktikannya, tampaknya
menjangkau kaum bangsawan Badui merupakan kunci untuk menjangkau semua
lapisan orang Badui. Mereka menutup diri terhadap setiap kesaksian
orang-orang Kristen. Meskipun demikian, beberapa orang Kristen suku
Jawa telah mempertaruhkan nyawa untuk mencoba membawa Injil kepada
orang-orang yang membutuhkan ini.

Apakah Kepercayaan Mereka?

Agama rakyat (tradisional) adalah kekuatan spiritual yang dominan
dalam kehidupan mereka sehari-hari. Gambaran Kekristenan sedikit
sekali masuk ke dalam kehidupan Badui, karena daerah ini sangat
terisolasi. Selama tahun 1970-an, seorang Kristen suku Sunda yang
memiliki semangat pelayanan melakukan beberapa perjalanan ke Badui,
diberitakan bahwa banyak orang bertobat. Kehidupannya dalam bahaya
selama beberapa waktu dan ia harus melarikan diri dari daerah itu.
Kontak itu tidak berlangsung lama dan tak ada lagi saksi-saksi Kristen
di sana. Bahkan ketika kontak Injil berlangsung, orang-orang Badui
sangat menentang. Satu-satunya penghubung dari luar dengan orang-orang
ini sekarang adalah, para pengusaha terdekat yang mempekerjakan
orang-orang Badui untuk menampilkan kerajinan tangan dan kebiasaan
mereka. (t/Samuel)

Pokok Doa:

1. Doakan agar Tuhan menaruh visi-Nya kepada orang-orang percaya untuk
memahami bahasa suku Badui, supaya mereka memunyai kerinduan untuk
belajar bahasa yang dipahami orang Badui dan kebiasaan-kebiasaan hidup
yang mereka jalani.

2. Doakan agar lebih banyak anak-anak Tuhan memunyai kerinduan hati
untuk berdoa agar kasih Tuhan diberitakan kepada suku Badui.

3. Doakan orang-orang Badui agar Tuhan persiapkan hati mereka untuk
dilembutkan sehingga dapat menyambut pemberitaan Injil dan merespons
tawaran Allah akan anugerah keselamatan bagi mereka.

4. Doakan agar Tuhan membuka jalan agar orang-orang Badui yang sudah
mengalami kasih Tuhan dapat menjangkau saudara-saudara mereka bagi
Kristus.

5. Doakan supaya gereja-gereja mau mengutus dan mendukung para
penginjil untuk membawa terang Kristus kepada orang-orang Badui.

6. Doakan para pengusaha Kristen agar memiliki keberanian untuk
memberitakan Injil Yesus Kristus kepada relasi mereka yang berasal
dari suku Badui.

Diterjemahkan dari:
Nama situs: Joshua Project
Alamat URL: http://joshuaproject.net/people-profile.php?peo3=10985&rog3=ID
Judul asli artikel: Badui of Indonesia
Penulis: Tidak dicantumkan
Tanggal akses: 24 Januari 2011

"PAIN MAKES US THINK, THINKING MAKES US WISE, WISDOM MAKES LIFE
PROFITABLE"

Kontak: < jemmi(at)sabda.org >
Redaksi: Novita Yuniarti, Yulia Oeniyati
(c) 2011 -- Yayasan Lembaga SABDA
< http://www.ylsa.org >
Rekening: BCA Pasar Legi Solo;
No. 0790266579
a.n. Yulia Oeniyati
< http://blog.sabda.org/ >
< http://fb.sabda.org/misi >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org