Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/misi/2010/9

e-JEMMi edisi No. 9 Vol. 13/2010 (5-3-2010)

Para Murid Kristus

______________________________  e-JEMMi  _____________________________
                   (Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________
SEKILAS ISI

EDITORIAL
ARTIKEL PASKAH: Para Murid Kristus
SUMBER MISI: Easter Guide Resource
DOA BAGI MISI DUNIA: Haiti, Irak
DOA BAGI INDONESIA: Korban Narkoba Tidak Dikriminalkan Lagi

______________________________________________________________________

      GRACE CAN TRANSFORM PAINFUL TRIALS INTO GLORIOUS TRIUMPHS
______________________________________________________________________
EDITORIAL

  Shalom,

  Salah satu teladan yang Tuhan berikan kepada orang percaya ketika
  mengalami masalah maupun tekanan yang besar adalah menyerahkan
  setiap persoalan kita kepada Bapa melalui doa. Dan inilah yang Yesus
  lakukan menjelang penderitaan dan kematian-Nya di kayu salib. Yesus
  sadar betul bahwa hanya kepada Bapa yang di surgalah semua keluh
  kesah patut disampaikan. Ia menemukan kekuatan yang besar ketika Ia
  menghampiri takhta Bapa di dalam doa-Nya. Kehidupan doa yang Ia
  contohkan kepada kita merupakan sebuah pelajaran yang sangat
  berharga, yaitu segala sesuatu dapat kita tanggung melalui Dia yang
  memberikan kekuatan kepada kita. Melalui teladan Tuhan Yasus ini
  kita diajar untuk senantisa berjaga-jaga dan berdoa dalam setiap
  kehidupan kita.

  Dalam menyambut Paskah 2010, e-JEMMi secara khusus mengangkat tema
  seputar Paskah. Pokok bahasan yang pertama adalah untuk melihat
  kehidupan kedua belas murid yang sangat Ia kasihi. Pokok bahasan
  kedua adalah tentang pengorbanan Kristus. Pokok bahasan ketiga akan
  membahas tentang kebangkitan Kristus, sedangkan pokok bahasan yang
  terakhir adalah tentang kenaikan Kristus. Jangan lewatkan pula
  sajian yang akan membahas salah satu profil bangsa yang ada di dunia
  ini. Selamat mempersiapkan peringatan Hari Paskah!

  Pimpinan Redaksi e-JEMMi,
  Novita Yuniarti
  http://misi.sabda.org/
  http://fb.sabda.org/misi

______________________________________________________________________
ARTIKEL MISI

                PARA MURID KRISTUS DI DALAM KEGELAPAN

  Penting bagi kita untuk mencermati lebih dekat bagaimana dua belas
  pengikut terdekat Tuhan tanpa sadar telah menjadi alat Iblis dalam
  peperangan Iblis melawan Yesus. Setidaknya, Iblis memunyai dua
  tujuan ketika bekerja melalui sahabat Yesus. Pertama, ia sangat
  ingin meyakinkan Yesus bahwa manusia tidak layak menerima semua
  rencana yang akan dilakukan-Nya bagi mereka. Kedua, ia sangat
  membenci sang Juru Selamat sehingga bahkan jika ia gagal
  melaksanakan tujuan ini, ia dapat menambah penderitaan dan rasa malu
  dalam perjalanan-Nya ke kayu salib.

  Kita harus ingat bahwa melalui kematian-Nyalah, bukan melalui
  penderitaan fisik dan psikologis yang mendahuluinya, Dia membayar
  harga dosa manusia. Dari dulu sampai sekarang, Allah bukanlah
  rentenir yang menuntut Yesus membayar dengan penderitaan yang layak
  kita terima karena dosa kita. Penderitaan dan rasa malu yang dialami
  Yesus dalam perjalanan-Nya menuju kematian terjadi karena Allah
  mengizinkan Iblis bertindak sekuat tenaga untuk menghancurkan Yesus
  dan memenangkan pertempurannya melawan Putra Allah itu. Fakta ini
  menjelaskan pernyataan yang telah Yesus ungkapkan kepada kelompok
  yang menangkap diri-Nya di Getsemani, "... inilah saat kamu, dan
  inilah kuasa kegelapan itu." (Lukas 22:53) Kita akan menelusuri
  peristiwa-peristiwa pada bagian kisah ini dalam urutan
  kronologisnya.

  Sikap Masa Bodoh Petrus, Yakobus, dan Yohanes

  Yesus memasuki Taman Getsemani kira-kira 1 jam sebelum tengah malam.
  Dia memberi tahu kedelapan murid-Nya untuk duduk dan berdoa. Lalu
  Dia mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes masuk lebih dalam ke taman
  itu dan berkata, "Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan
  Aku." (Matius 26:38b) Dia berjalan sedikit menjauh dari mereka,
  sujud ke tanah, berdoa, lalu kembali menghampiri ketiga murid-Nya
  itu dan mendapati mereka tertidur. Orang dapat merasakan luka batin
  dalam perkataan-Nya, "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam
  dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh
  ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (ayat
  40b-41). Dia tahu mereka akan segera dicobai untuk meninggalkan-Nya
  dan melarikan diri.

  Fakta bahwa Dia mengulang rangkaian kejadian ini tiga kali -- yakni
  berdoa, kembali kepada para murid-Nya, dan berbicara kepada mereka
  -- jelas menunjukkan bahwa sedang terjadi sesuatu yang tidak beres.
  Biasanya Dia menghabiskan waktu berjam-jam dalam persekutuan dengan
  Bapa-Nya, tetapi saat ini Dia merindukan dukungan dari
  murid-murid-Nya. Tampaknya penjelasan terbaik untuk hal ini adalah
  Dia mulai merasa ditinggalkan oleh Bapa-Nya. Dengan kesadaran bahwa
  Dia harus menjalani semua ini seorang diri, Yesus, yang telah
  mengesampingkan kemuliaan-Nya sebagai Allah untuk menjadi sama
  dengan kita, merasa sangat sedih. Dia harus menghadapi semua hal
  yang menanti-Nya itu dengan bentuk emosi, struktur tubuh, dan
  kerapuhan terhadap penderitaan yang sama seperti yang kita miliki
  bila kita menghadapi berbagai ujian kehidupan.

  Tidurnya para murid mungkin dapat kita mengerti. Benar, mereka telah
  melewati hari yang sangat melelahkan. Saat itu, hari sudah hampir
  tengah malam dan mereka mengantuk. Namun, semestinya mereka
  menyadari ada hal tidak wajar dan menakutkan yang sedang terjadi.
  Guru mereka sangat menderita dan dari mereka diharapkan akan saling
  menjaga apabila tahu bahwa mereka dibutuhkan. Kurangnya simpati yang
  tulus dari para murid menambah penderitaan Juru Selamat kita.

  Pengkhianatan Yudas

  Nama Yudas Iskariot identik dengan pengkhianatan. Ia adalah murid
  Yesus yang membawa musuh-musuh Yesus kepada-Nya, mengidentifikasikan
  Yesus dengan sebuah ciuman. Karena Yesus telah memilihnya sebagai
  salah seorang dari kedua belas murid-Nya, Dia pasti melihat

  sifat-sifat dalam dirinya yang sesuai dengan para murid lainnya.
  Yesus telah menghargai Yudas dengan menjadikannya bendahara kelompok
  kecil ini. Dia memasukkan Yudas bersama yang lain sebagai salah
  seorang dari kedua belas murid-Nya ketika Dia "... memberi kuasa
  kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan
  segala penyakit dan segala kelemahan." (Matius 10:1) Namun, lelaki
  yang tampaknya memiliki potensi besar untuk melayani Kerajaan
  Kristus ini malah menjadi alat musuh.

  Ketika Yudas melihat bahwa Yesus belum siap mendirikan kerajaan yang
  telah dinantikan sejak lama, tampak jelas bahwa ia sakit hati dan
  mulai mencuri "uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya"
  (Yohanes 12:6). Yesus mengetahui apa yang dilakukan Yudas dan telah
  menyadari pengkhianatan yang sedang direncanakannya, jauh sebelum ia
  menjalankannya. Sebelumnya Yesus telah menyebut Yudas "iblis"
  (Yohanes 6:70). Namun Dia menyebutnya dengan cara yang tidak
  kelihatan agar murid yang lain tidak tahu siapa yang Dia maksud.
  Pada senja Kamis terakhir itu, dengan jelas Yesus menyatakan bahwa
  salah seorang dari kedua belas murid-Nya akan mengkhianati-Nya. Dia
  mengatakan bahwa pengkhianat ini akan melakukan hal yang sama
  terhadap-Nya seperti yang dilakukan seorang sahabat terhadap Daud di
  masa silam, sembari mengutip Mazmur 41:10. "Orang yang makan roti-
  Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku." (Yohanes 13:18)

  Selanjutnya malam itu, ketika Yesus merayakan Paskah bersama para
  rasul, Dia memberi Yudas tempat terhormat di sisi kiri-Nya, dan
  Yohanes di sisi kanan-Nya. Hal ini menjelaskan mengapa Dia dapat
  bercakap-cakap dengan keduanya tanpa terdengar murid-murid lainnya.
  Tidak lama setelah mereka mulai makan, Yesus mengindentifikasi
  pengkhianat itu kepada Yohanes saja dengan cara mencelupkan
  sepotong roti ke dalam pinggan dan memberikannya kepada Yudas.
  Penghormatan ini biasanya dirasakan sebagai tanda kasih yang
  diberikan untuk seseorang yang istimewa. Saya yakin itu merupakan
  suatu permohonan penuh kasih dari Yesus -- permohonan yang lembut
  untuk bertobat. Saat itu perasaan Yudas pasti berkecamuk, tetapi ia
  begitu mengeraskan hatinya sehingga ia dapat menolak semua
  nalurinya yang lebih baik dan melaksanakan yang jahat di hatinya.
  Hanya setelah Yudas meninggalkan ruangan atas dan tidak kembali,
  barulah Yesus menyebutnya sebagai yang "telah ditentukan untuk
  binasa" (Yohanes 17:12).

  Yudas bukanlah korban tidak bersalah dari hukum Allah yang telah
  ditetapkan sebelumnya. Ia harus mempertanggungjawabkan keputusannya
  sendiri. Seharusnya ia tidak bertindak demikian. Jika waktu itu ia
  menanggapi peringatan terselubung Yesus dengan hati yang telah
  berubah, maka perkataan Daud dalam Mazmur 41:10 hanya berlaku untuk
  Raja Daud. Tidak akan berlaku lebih luas lagi. Saat merenungkan
  nubuat Yesus bahwa salah seorang dari kedua belas murid-Nya akan
  mengkhianati-Nya, kita harus ingat bahwa pemberitahuan tentang apa
  yang akan terjadi pada masa mendatang semacam itu acap kali tidak
  bersyarat. Misalnya, dengan perintah dari Allah, Yunus memberitakan
  kepada orang Niniwe, "Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan
  ditunggangbalikkan." (Yunus 3:4b) Menurut catatan, hanya itu yang
  dikatakan Yunus. Ia tidak menyerukan agar mereka bertobat dan tidak
  menjanjikan belas kasihan jika mereka bertobat. Namun "Ketika Allah
  melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari
  tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka
  yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi
  melakukannya." (ayat 10)

  Contoh yang lain adalah pengalaman Hizkia. Yesaya berkata
  kepadanya, "Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir
  kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi"
  (2 Raja-raja 20:1). Ia tidak memberi petunjuk bahwa pernyataan ini
  bersyarat. Namun, ketika raja berdoa dan menangis, Tuhan
  menghentikan Nabi Yesaya sebelum ia meninggalkan istana,
  memberitahukannya untuk kembali kepada raja dengan membawa kabar
  baik bahwa Dia telah mendengar doa Hizkia dan akan memberinya
  perpanjangan hidup 15 tahun lagi (ayat 5,6).

  Pemberitahuan yang diberikan Allah dalam Alkitab merupakan
  peringatan tentang apa yang akan terjadi jika manusia atau
  bangsa-bangsa yang dimaksud tetap bersikeras berada pada jalan
  mereka saat itu. Allah melihat hati, dan mengetahui apa yang ada di
  dalam hati ketika peringatan diberikan. Jika melihat adanya
  perubahan hati, Dia akan membatalkan peringatan itu. Kemampuan Allah
  melihat sesuatu sebelum hal itu terjadi tidak perlu diragukan lagi.
  Allah tahu isi hati Yudas dan apa yang akan dilakukannya. Namun
  kemampuan Allah itu tidak memadamkan hasrat Yudas. Andaikata ia
  berubah pikiran, mengakui dosanya, dan memohon pengampunan, tentu
  Allah juga telah mengetahui hal itu sebelumnya. Ia akan membiarkan
  Yudas melanjutkan pelayanannya dan menjadi salah satu tonggak
  gereja. Begitulah cara kerja Allah. Dia tidak menjadikan seseorang
  sebagai sebuah pion yang tidak berdaya di atas papan catur takdir.
  Sebaliknya, "... Ia sabar ... menghendaki supaya jangan ada yang
  binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat."
  (2 Petrus 3:9b)

  Seperti yang telah kita lihat, interaksi antara kehendak ilahi dan
  kehendak manusia itu nyata, bahkan pada zaman Perjanjian Lama.
  Melalui nabi Yeremia, Tuhan telah bersabda, "Ada kalanya Aku berkata
  tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan
  mencabut, merobohkan, dan membinasakannya. Tetapi apabila bangsa
  yang terhadap siapa Aku berkata demikian telah bertobat dari
  kejahatannya, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak menjatuhkan
  malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka." (Yeremia 18:7-8)
  Fakta bahwa Yudas menjadi seseorang yang "telah ditentukan untuk
  binasa" bukanlah pekerjaan Allah. Nasib ini adalah akibat perbuatan
  sang murid itu sendiri.

  Kita seharusnya juga berhati-hati untuk tidak melupakan peran
  penting yang dimainkan Iblis dalam skenario yang menyedihkan ini.
  Di atas telah ditunjukkan bahwa tindakan Yesus mencelupkan roti ke
  dalam pinggan dan memberikannya kepada Yudas merupakan suatu tanda
  penghormatan yang istimewa. Rasul Yohanes mengatakan "Dan sesudah
  Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis." (Yohanes 13:27a) Iblis
  dapat melakukan hal itu karena Yudas telah membuka pintu baginya
  dengan merencanakan pengkhianatan terhadap Yesus. Tidak diragukan
  lagi, Iblis memperkuat keputusan Yudas. Iblis mungkin telah berharap
  bahwa perbuatan buruk yang dilakukan salah seorang murid Yesus ini
  akan sangat menghancurkan hati-Nya sehingga Dia akan memutuskan
  bahwa manusia tidak layak mendapatkan penebusan-Nya.

  Satu hal yang jelas: Iblis tahu bahwa pengkhianatan yang kejam dari
  seorang sahabat akan menambah beban penderitaan yang telah dipikul
  Yesus. Dikhianati oleh seseorang yang Anda kasihi dan percayai,
  seseorang yang Anda ajak untuk berbagi rahasia selama ini, merupakan
  salah satu luka batin yang terdalam di dalam hidup. Anda dapat
  merasakan denyut penderitaan dalam ucapan Daud, "Bahkan sahabat
  karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat
  tumitnya terhadap aku." (Mazmur 41:10) Inilah saatnya Iblis bekerja.
  Jika ia tidak dapat mencegah Kristus ke kayu salib, setidaknya ia
  dapat menambah penderitaan dan rasa malu yang ditanggung sang Juru
  Selamat. Iblis tahu bahwa pengkhianatan yang kejam dari seorang
  sahabat akan menambah beban penderitaan yang telah dipikul Yesus.

  Rasa Takut Seluruh Murid

  Hal lain lagi yang menambah penderitaan Yesus adalah bahwa semua
  sahabat-Nya akan meninggalkan-Nya. Menurut Injil Matius, ketika
  Yesus ditangkap di Getsemani, "... semua murid itu meninggalkan Dia
  dan melarikan diri" (Matius 26:56). Yesus telah memperingatkan
  mereka dalam perjalanan dari ruangan atas menuju Getsemani, "Malam
  ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. ...." (ayat 31b)
  Bukannya menanggapi peringatan ini dengan kerendahan hati, Petrus
  justru bersikap ceroboh dan terlalu percaya diri. Dengan berani ia
  menyatakan bahwa ia siap membela Yesus, bahkan mati bagi-Nya. "Semua
  murid yang lainpun berkata demikian juga." (ayat 35b) Namun, "...
  semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri." (ayat 56)
  Bayangkan bagaimana perasaan Yesus tatkala mereka meninggalkan-Nya
  tepat saat hati-Nya sebagai manusia begitu merindukan dukungan dan
  dorongan mereka! Beberapa saat sebelumnya, ketika Dia sedang berdoa,
  Dia merasakan bahwa Bapa-Nya tengah menjauhkan diri dari-Nya. Allah
  harus melakukannya agar Yesus dapat "menjadi dosa karena kita"
  (2 Korintus 5:21). Kini dengan kepergian semua murid-Nya, Yesus
  kehilangan persahabatan dari manusia juga.

  Saya ingat betul suatu peristiwa yang menunjukkan betapa besar arti
  persahabatan manusia tatkala seseorang menghadapi kematian. Saya
  telah meluangkan waktu untuk berbincang-bincang dan berdoa dengan
  seorang bujangan yang sudah tua. Saya bermaksud untuk pergi
  meninggalkan ruangan dan kembali lagi nanti karena sadar ia tidak
  memunyai keluarga. Namun, dengan jarinya ia memberi isyarat kepada
  saya untuk kembali ke sampingnya. Ia tidak ingin sendirian. Saya
  tidak dapat meninggalkannya, untuk satu dua menit sekalipun. Ia
  tampak diliputi kedamaian dan segera terlelap dalam Yesus.
  Merasakan kehadiran orang lain tatkala menghadapi kematian
  merupakan hal yang sangat dibutuhkan manusia. Namun, kini Yesus
  melihat bahwa di sepanjang saat-saat yang mengerikan di depan-Nya
  hingga kematian-Nya kelak, Dia akan sendirian tanpa Bapa-Nya maupun
  para murid-Nya di sisi-Nya. Inilah cara Iblis menambahkan beban
  lain pada beban penderitaan dan kedukaan sang Juru Selamat kita.

  Penyangkalan Petrus

  Petrus, murid yang ketika di Kaisarea Filipi telah mengakui dengan
  sangat agung bahwa Yesus adalah "Mesias, Anak Allah yang hidup!"
  (Matius 16:16b) turut menambah beban lain dalam penderitaan sang
  Juru Selamat. Sebelumnya, ketika Petrus dengan terburu-buru
  menyatakan keberaniannya, Yesus telah memeringatkannya, "Aku
  berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga,
  sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga
  kali." (Markus 14:30b) Meski menunjukkan keberaniannya, ia, seperti
  halnya murid-murid yang lain, melarikan diri ketika Yesus
  ditangkap. Petrus memang tidak betul-betul meninggalkan Yesus.
  Sambil mengambil jarak yang aman agar tidak dikenali sebagai murid
  Yesus, ia mengikuti kelompok yang menangkap Yesus "sampai ke dalam
  halaman Imam Besar" (ayat 54).

  Di sini ia sekali lagi berusaha menyembunyikan identitasnya. Namun,
  tampaknya ia kelihatan janggal di antara para musuh Yesus. Tiga kali
  berturut-turut dan dalam waktu singkat ia berhadapan dengan orang
  yang menuduhnya sebagai salah seorang pengikut Tuhan. Tiga kali pula
  ia menyangkal hubungannya dengan Yesus. Kali yang ketiga, "Maka
  mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: `Aku tidak kenal orang yang
  kamu sebut-sebut ini!`" (ayat 71). Lukas melengkapi kisah itu: "....
  Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam. Lalu
  berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus
  [perkataan Tuhan] kepadanya ... Lalu ia pergi ke luar dan menangis
  dengan sedihnya." (Lukas 22:60-62) Saya kerap bertanya-tanya dalam
  hati apa yang ditangkap Petrus dalam tatapan mata Yesus. Saya yakin
  ia tidak melihat kemarahan atau penghinaan yang sangat besar di
  mata-Nya. Mungkin ia melihat tatapan kekecewaan. Namun terlepas dari
  semua itu, saya yakin ia melihat luka hati yang amat sangat dan juga
  lautan kasih dalam tatapan mata-Nya. Hal ini menghancurkan hati
  Petrus dan membuatnya menangis.

  Lukas mengatakan bahwa ketika sebelumnya Yesus memeringatkan
  sahabat-Nya yang terlalu percaya diri ini mengenai penyangkalan
  yang akan terjadi, Dia memulai perkataan-Nya demikian, "Simon,
  Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti
  gandum." (Lukas 22:31) Ujian yang dirancang Iblis bagi Petrus
  sangat berat bagaikan guncangan kuat pada gandum di dalam sebuah
  penampi untuk memisahkan biji dari sekamnya. Dan karena "inilah
  kuasa kegelapan itu" (ayat 53), maka Iblis diberi keleluasaan.
  Keberanian Petrus pupus dan ia melakukan apa yang tidak pernah
  dibayangkan bakal diperbuatnya. Akan tetapi, doa Yesus dijawab,
  iman Petrus tidak melemah. Ia tidak pernah berhenti memercayai Yesus
  sebagai Mesias, Anak Allah. Ia bertobat dan kemudian dipulihkan
  (Yohanes 21:15-19).

  Selanjutnya Petrus menjadi seorang pengkhotbah yang tidak mengenal
  rasa takut dan penuh kuasa pada hari Pentakosta, hari lahirnya
  gereja (Kisah Para Rasul 2:1-41). Ia menjadi pemimpin terkemuka
  dalam pelayanan kerasulan bagi orang Yahudi. Ia menulis dua surat
  yang dimasukkan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Ia menanggung
  siksaan yang kejam karena imannya dan mati sebagai martir. Iblis
  telah berhasil menjadikan Petrus alat untuk memperbesar penderitaan
  dan kepedihan Kristus dalam perjalanan-Nya menuju Kalvari, tetapi ia
  tidak mampu menghancurkan Petrus.

  Diambil dari:
  Judul buku: The Passion of Christ
  Judul artikel: Para Murid Kristus
  Penulis: Martin R. De Haan II
  Penerjemah: Ellen Hanafi
  Penerbit: Yayasan Gloria, Yogyakarta 2005
  Halaman: 36 -- 53

______________________________________________________________________
SUMBER MISI

EASTER GUIDE RESOURCE
==> http://www.everythingeaster.com/

  Situs Pusat Bahan-bahan Paskah ini memang memiliki banyak
  bahan-bahan Paskah -- semuanya bertemakan sekuler, artinya ada telur
  Paskah, kelinci Paskah, peralatan pesta Paskah, kostum Paskah,
  hadiah Paskah, resep Paskah, belanja Paskah, dan lain sebagainya.
  Situs ini cocok untuk Anda jika Anda sedang mencari bahan-bahan
  untuk acara Paskah sekolah minggu atau Paskah untuk anak-anak kecil,
  tapi jika Anda atau pelayanan Anda tidak berhubungan dengan
  anak-anak kecil, maka situs ini tidak memiliki faedah apa pun
  kecuali satu atau dua artikel tentang asal muasal perayaan Paskah
  oleh orang Kristen. Situs ini merupakan anak situs dari BuySeasons,
  Inc., sebuah perusahaan sekuler yang bergerak di bidang penjualan
  kostum dan pernak-pernik Halloween.

  Bahasa: Inggris
  Negara: Amerika Serikat
  Terakhir diperbarui: 2009
______________________________________________________________________
DOA BAGI MISI DUNIA

H A I T I

  Korban gempa Haiti sangat membutuhkan makanan, obat-obatan, tempat
  tinggal, dan air. Parahnya, keterbatasan air akan menjadi masalah
  jangka panjang. Living Water International (LWI) telah berada di
  Haiti sejak 2004. JW dari LWI mengatakan bahwa tim mereka tengah
  berada di Haiti saat gempa terjadi. "Kami mendengar dari kru kami
  yang dekat dengan pusat gempa, dan kami dengar bahwa semua anggota
  kelompok kami serta anggota keluarga mereka akan bertanggung jawab."
  JW mengatakan bahwa regu bagian utara masih utuh dan mereka membuat
  rencana untuk memperbaiki 500 sistem air yang rusak. "Warga kota
  akan mengungsi ke daerah terpencil. Populasi desa akan membengkak
  dengan cepat, dan apa pun yang mereka punya tidak akan cukup. Kami
  akan mulai dari daerah terpencil, lalu kami akan bekerja agar kami
  dapat melayani daerah yang menjadi tempat pengungsian." LWI akan
  bekerja dengan jaringan-jaringan gereja agar Injil dapat disebarkan.
  Dibutuhkan dana yang cukup besar untuk memperbaiki satu sitem
  saluran air. (t/Uly)

  Diterjemahkan dari: Mission News, January 2010
  Kisah selengkapnya: http://mnnonline.org/article/13764

  Pokok doa:
  * Kita patut bersyukur untuk tim Living Water International yang
    membantu meringankan beban para pengungsi di Haiti. Doakan agar
    program memperbaiki sistem air yang rusak akibat gempa yang
    mengguncang Haiti beberapa waktu yang lalu, dapat terlaksana
    dengan baik.
  * Doakan juga upaya Living Water International dan gereja lokal
    untuk menjangkau masyarakat di Haiti dengan Injil, agar Tuhan
    melindungi mereka selama melayani di sana.

I R A K

  Rentetan pengeboman minggu ini yang merenggut 127 nyawa menunjukan
  adanya perebutan kekuasaan di Irak. Tampaknya situasi ini akan
  semakin memburuk berhubung semakin dekatnya pemilihan umum. Lalu,
  terlintas satu pertanyaan: apakah kekerasan ini pada akhirnya
  menimpa minoritas Kristen? AK dari Suara Kaum Martir (Voice of the
  Martyrs - VOM) di Kanada berkata bahwa mereka telah terganggu.
  "Pesan kepada orang Kristen seolah-olah seperti ini, `Pergilah!".
  Tampaknya mereka mempermasalahkan kontrol kekuasaan. Warga setempat
  ingin mempertahankan kontrol mereka. Oleh karena itu, mereka ingin
  orang Kristen mengikuti mereka, atau pergi dari Irak." Ratusan,
  bahkan ribuan warga telah pergi meninggalkan Irak; ini bukanlah
  kabar baik bagi ladang pelayanan. "Permasalahannya akan semakin
  banyak umat Kristen yang dipaksa pergi dari daerah ini dan
  meninggalkan orang-orang Kristen lainnya di Irak dengan
  tantangan-tantangan khusus; contohnya, tantangan untuk terus
  melayani Kristus." AK meminta Anda senantiasa mendoakan para hamba
  Tuhan dan pekerja gereja. "Kita telah menyaksikan bagaimana gereja
  tetap bertumbuh sekalipun daerah itu diamcam oleh semakin banyaknya
  kekerasan; sebenarnya, warga Irak bersedia menerima pesan
  pengharapan dan perdamaian dari Yesus." (t/Uly)

  Diterjemahkan dari: Mission News, December 2009
  Kisah selengkapnya: http://mnnonline.org/article/13610

  Pokok doa:
  * Penganiayaan terhadap umat percaya di Irak sudah bukan merupakan
    cerita baru. Berdoalah agar penganiayaan yang umat percaya alami
    di Irak tidak membuat mereka menyangkali imannya.
  * Mari kita menaikkan syukur kepada Tuhan, karena meskipun terus
    mendapat tekanan, gereja di Irak dapat terus bertumbuh. Mintalah
    belas kasihan Allah untuk terus menjaga iman mereka.

______________________________________________________________________
DOA BAGI INDONESIA

                   REHABILITASI BAGI KORBAN NARKOBA

  Pengguna atau korban narkoba tidak akan dikriminalkan lagi saat
  ditangkap petugas. Tempat mereka bukan di rumah tahanan, melainkan
  di panti rehabilitasi. Untuk merealisasikan hal itu, kalangan
  penegak hukum membuat petunjuk pelaksanaan Undang-Undang Nomor 35
  Tahun 2009 tentang Narkotika. Kini Polri, Kejaksaan Agung, Mahkamah
  Agung, serta Kementerian Hukum dan HAM sedang membuat cara untuk
  menangani pengguna atau korban narkoba saat dan sesudah ditangkap.

  Sumber: Kompas, Rabu 17 Februari 2010, Halaman 27

  Pokok doa:

  1. Doakan agar Tuhan memberi hikmat kepada pemerintah dalam menyusun
     dan menerapkan Undang-Undang tentang Narkotika kepada para
     pengguna atau korban narkoba.

  2. Berdoa agar pihak yang bertugas menangkap sekaligus mempercepat
     proses rehabilitasi korban di lapangan tidak menyalahgunakan
     wewenang yang telah diberikan kepada mereka. Doakan juga upaya
     pihak terkait untuk melakukan pencegahan penggunaan narkoba
     dengan lebih gencar lagi.

  3. Doakan juga agar Tuhan memberi pemulihan kepada mereka yang saat
     ini sedang menjalani masa rehabilitasi.

  4. Berdoalah agar Tuhan menjamah hati para pengguna dan bandar
     narkoba dan mereka bersedia meninggalkan kehidupan mereka yang
     sesat.

  5. Doakan agar rumah-rumah panti rehabilitasi yang dibuka oleh
     orang-orang Kristen dapat menjadi tempat untuk pemulihan
     raga dan jiwa para pengguna narkoba.

______________________________________________________________________
Anda diizinkan menyalin/memperbanyak semua/sebagian bahan dari e-JEMMi
(untuk warta gereja/bahan pelayanan lain) dengan syarat: tidak
untuk tujuan komersial dan harus mencantumkan SUMBER ASLI bahan
yang diambil dan nama e-JEMMi sebagai penerbit elektroniknya.
______________________________________________________________________
Staf Redaksi: Novita Yuniarti dan Yulia Oeniyati
Kontributor: Kusuma Negara
Kontak Redaksi: < jemmi(at)sabda.org >
Untuk berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
______________________________________________________________________
Situs e-MISI dan e-JEMMi: http://misi.sabda.org/
Arsip e-JEMMi: http://www.sabda.org/publikasi/misi/
Facebook MISI: http://fb.sabda.org/misi
______________________________________________________________________
Bahan-bahan dalam e-JEMMi disadur dengan izin dari berbagai pihak.
Copyright(c) e-JEMMi/e-MISI 2010 / YLSA -- http://www.ylsa.org
SABDA Katalog: http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org