Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/misi/2010/33

e-JEMMi edisi No. 33 Vol. 13/2010 (18-8-2010)

Aspek-Aspek Komunikasi Lintas Budaya (2)

______________________________  e-JEMMi  _____________________________
                   (Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________
SEKILAS ISI

EDITORIAL
ARTIKEL MISI: Aspek-Aspek Komunikasi Lintas Budaya (2)
SUMBER MISI: Asian Access
DOA BAGI MISI DUNIA: Pakistan, Ukraina
DOA BAGI INDONESIA: Dirgahayu Indonesia Ke-65

______________________________________________________________________

              NO MAN HAS A RIGHT TO DO WHAT HE PLEASES,
                  EXCEPT WHEN HE PLEASES TO DO RIGHT
______________________________________________________________________
EDITORIAL

  Shalom,

  Artikel Misi edisi kali ini adalah lanjutan dari artikel misi edisi
  lalu yang bertemakan aspek-aspek komunikasi lintas budaya. Kiranya
  apa yang dipaparkan dalam artikel tersebut dapat menambah wawasan
  para pembaca, khususnya mereka sedang bergumul dalam misi lintas
  budaya. Selamat menikmati suguhan edisi kali ini. Tuhan memberkati.

  Redaksi tamu e-JEMMi,
  Wilfrid Johansen
  http://misi.sabda.org
  http://fb.sabda.org/misi
______________________________________________________________________
ARTIKEL MISI

               ASPEK-ASPEK KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (2)

  Keputusan yang Tidak Mudah Diambil

  Banyak gereja merencanakan kegiatan sepanjang hari pada Hari
  Kemerdekaan atau pada hari-hari libur lainnya. Oleh karena itu,
  khususnya pada Hari Kemerdekaan, orang-orang Kristen tidak hadir
  dalam kegiatan-kegiatan yang penting di tengah-tengah masyarakat.
  Banyak orang Kristen berpendapat bahwa bergabung bersama
  saudara-saudara seiman dan melakukan kegiatan-kegiatan di gereja
  pada hari libur lebih penting daripada ikut berpartisipasi bersama
  para tetangga dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh lingkungan
  setempat. Mereka tidak mau mengecewakan saudara-saudara seimannya di
  gereja. Akibatnya, orang Kristen dianggap tidak tertarik kepada
  lingkungan dan tetangganya atau mereka tidak berjiwa nasionalis.
  Karena hari-hari libur umumnya merupakan waktu untuk menjalin
  hubungan sosial bersama para tetangga, orang-orang Kristen dianggap
  tidak tertarik untuk menjalin ikatan ketetanggaan yang akrab. Jadi
  hilanglah kesempatan untuk menjadi garam!

  Orang-orang Kristen banyak yang tidak menghargai pentingnya
  berpartisipasi dalam lingkungan tempat tinggal mereka sendiri. Maka
  dari itu mereka dianggap tidak ramah atau bahkan dianggap anti
  sosial. Teman-teman kita, sebaliknya, memberikan kesan bahwa mereka
  lebih memerhatikan lingkungannya dan orang-orang di sekitarnya.
  Kebanyakan kegiatan diawali dengan doa dalam bahasa Arab.
  Ketidakhadiran orang Kristen hanya meneguhkan pemikiran yang salah
  bahwa Yesus bukan untuk mereka. Ada juga hari-hari yang digunakan
  untuk kerja bakti. Kegiatan-kegiatan itu sering jatuh pada hari
  Minggu pagi. Apakah mereka sengaja membuatnya bertepatan dengan
  waktu kebaktian gereja? Tidak selalu. Hal itu hanya disebabkan
  karena hari Minggu adalah satu-satunya hari libur bagi kebanyakan
  orang Indonesia. Itu merupakan hari bagi sebagian besar orang
  Indonesia melakukan kegiatan-kegiatan sosial bersama.

  Tidakkah lebih baik absen satu kali di gereja sekalipun pada
  kebaktian Minggu pagi demi menjangkau orang-orang yang tersesat,
  sesuatu yang diperintahkan dalam firman Allah? Ini mungkin
  kedengarannya radikal, tetapi mengapa jadwal kebaktian Minggu pagi
  dan jadwal kegiatan-kegiatan lainnya tidak diatur sedemikian rupa
  sehingga memungkinkan orang-orang Kristen berpartisipasi dalam
  kegiatan lingkungannya demi menjangkau orang-orang itu yang
  tersesat? Yesus sering bertindak berlawanan dengan tradisi agama
  supaya dapat meluangkan waktu bersama orang-orang yang tersesat
  (Matius 9:9-13). Memang tidak mudah untuk mengambil keputusan
  seperti itu. Jika kita ingin berhasil dalam memenuhi panggilan
  Allah, yaitu menjalin hubungan yang penuh perhatian dengan
  orang-orang yang masih tersesat, maka kita harus membatasi waktu
  yang kita pakai untuk melakukan hal-hal lainnya. Kita memang
  diperintahkan untuk tidak meninggalkan pertemuan dengan orang-orang
  percaya lainnya (Ibrani 10:25), tetapi kita juga diperintahkan untuk
  memberitakan Injil kepada dunia. Kita harus melakukan kedua-duanya.
  Karena itu kita perlu meminta kepada Allah agar Ia memberi tuntunan.

  Kasih Berarti Mengatakan "Tidak" Kepada Diri Sendiri

  Paulus dengan jelas mengajar kita bahwa kita harus melakukan apa
  saja yang diperlukan untuk memenangkan orang yang tersesat
  (1 Korintus 9:22). Jika sebaiknya kita tidak makan daging, maka kita
  harus rela melakukannya (1 Korintus 8:9-13). Kasihlah yang menjadi
  alasannya (1 Korintus 13). Karena Paulus merujuk pada daging,
  marilah kita berbicara tentang daging babi/anjing. Makan daging
  babi/anjing sangat menjijikkan bagi orang lain. Daging babi/anjing
  dianggap makanan haram. Anjing sebagai binatang peliharaan tidak
  dapat disetujui oleh sebagian tetangga yang beragama lain, walau
  sebagian lainnya tidak keberatan. Tidak ada dari mereka yang mau
  dijilat oleh anjing. Orang Kristen yang hendak menjalin hubungan
  dengan mereka harus memerhatikan masalah itu. Jika Paulus mengatakan
  bahwa lebih baik tidak makan daging sama sekali daripada menimbulkan
  pertentangan, tidakkah kita seharusnya mempertimbangkan untuk tidak
  makan daging babi dan tidak memelihara anjing? Jika hal itu terlalu
  memberatkan Anda, bagaimana kalau Anda tidak makan daging babi bila
  sedang berada dekat teman-teman Anda, dan menyembunyikan anjing Anda
  di suatu tempat sehingga mereka tidak merasa jijik?

  Beberapa tahun yang lalu, sebuah kelompok jemaat melakukan
  pendekatan terhadap satu kelompok pemuda dari kelompok etnis lain.
  Orang-orang ini cukup terbuka kepada Injil sebagai hasil kesaksian
  seorang pendeta awam yang berasal dari kelompok etnis yang sama.
  Gereja itu merencanakan suatu kegiatan pada hari libur dan mereka
  mengundang kelompok pemuda ini. Kaum wanita di gereja itu telah
  mempersiapkan makanan. Segala sesuatu berjalan dengan baik sampai
  mereka duduk untuk makan. Pada saat itulah mereka mengetahui bahwa
  daging yang dipersiapkan untuk mereka adalah daging babi. Mereka
  tidak memakannya. Sejak itu mereka tidak pernah lagi berhubungan
  dengan gereja itu. Hilanglah segala kesempatan untuk bersaksi lebih
  jauh lagi. Ada satu gereja di daerah kami yang ditutup oleh
  pemerintah karena keluhan dari tetangga-tetangganya. Saya tahu, ada
  gereja-gereja yang ditutup atau tidak diberi izin walaupun tidak
  melakukan apa-apa yang menyinggung tetangga-tetangga mereka. Tetapi
  dalam perkara ini gereja tersebut telah memanggang daging babi di
  luar gedung gereja mereka. Reaksi para tetangga menunjukkan betapa
  hal itu menimbulkan syak di hati mereka. Tidakkah lebih baik bagi
  gereja tersebut untuk tidak melakukan kegiatan itu? Karena kesalahan
  itu, tidak ada lagi gereja di daerah tersebut.

  Mungkin orang-orang Kristen akan bertanya, "Apakah kita tidak berhak
  makan daging babi di gedung milik gereja kita jika kita mau?" Tentu
  saja kita berhak. Tetapi hukum kasih lebih tinggi daripada hak kita.
  Yesus, sebagai contoh, memiliki hak yang tinggi, tetapi Dia tidak
  mempertahankannya (Filipi 2:6). Kasih mendorong Yesus untuk tidak
  memakai hak itu. Ia bertindak demikian demi kita. Kita pun harus
  melakukan hal yang sama demi memenangkan teman-teman kita.
  Penyesuaian lain yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana kita
  berpakaian, khususnya wanita. Saya tidak menganjurkan wanita Kristen
  memakai penutup kepala walaupun di beberapa tempat di Indonesia ada
  yang memakainya. Tetapi wanita-wanita Kristen hendaknya tidak
  memakai rok mini, baju ketat, atau pakaian-pakaian lain yang tidak
  sopan. Bagi tetangga-tetangga kita, hal itu seperti mengiklankan
  kerendahan moral kita. Dapatkah Anda membayangkan apa yang mereka
  pikirkan ketika melihat wanita yang memakai rok mini pergi
  ke kebaktian Kristen? Mereka berpikir bahwa orang Kristen tidak
  memerhatikan moral. Mode telah menjadi lebih penting daripada
  pendapat umum. Jika kita memberi kesan yang tidak pantas melalui
  pakaian kita, bagaimana mungkin kita dapat berbicara kepada mereka
  tentang Allah yang kudus?

  Hal lain yang layak dipertanyakan apakah laki-laki perlu memakai
  dasi ke gereja? Mengapa orang yang memimpin kebaktian harus memakai
  dasi dan jas? Mengapa laki-laki diharapkan memakai pakaian barat ke
  gereja? Khususnya pendeta! Di banyak gereja, memakai kemeja batik
  dapat diterima. Bagaimana kalau laki-laki memakai sarung dan peci?
  Di banyak tempat, sarung dan peci adalah pakaian Indonesia. Hal-hal
  seperti itu memerlukan kebijaksanaan. Seorang Kristen memakai sarung
  dan peci pada hari-hari khusus seperti Idul Fitri. Teman-teman
  menganggap perbuatan itu sangat menghormati mereka. Di daerah lain,
  seorang Indonesia, apalagi orang barat, yang dikenal sebagai orang
  Kristen mungkin sama sekali dilarang memakai peci. Karena itu,
  kenalilah para tetangga Anda dan temukan sendiri apa yang dapat
  diterima oleh mereka. Isu-isu yang berhubungan dengan apa yang halal
  dan apa yang haram juga berbeda-beda dari satu tempat ke tempat yang
  lain. Sulit untuk memberi penuntun yang jelas. Setiap orang percaya
  harus bersikap hati-hati. Hindarilah kesan-kesan negatif. Perhatikan
  tetangga-tetangga Anda untuk mengetahui apa yang mereka lakukan dan
  mengapa. Kita harus aktif berbicara kepada mereka untuk mengetahui
  bagaimana gaya hidup kita memengaruhi mereka.

  Menghindari Pertentangan

  Bukan rahasia lagi, kekristenan dan Islam sudah sejak dahulu
  bertentangan. Orang-orang Islam dan orang-orang Kristen saling
  menyerang, saling menganiaya, dan saling membunuh. Tidak ada gunanya
  di sini untuk menentukan pihak mana yang lebih banyak menyerang,
  atau pihak mana yang orang-orangnya paling banyak mati syahid. Yang
  nyata pertentangan itu terus berkepanjangan dan sulit diatasi. Hal
  itu terasa ketika kita menyadari bahwa mereka perlu mendengar Injil.
  Saya hendak memaparkan dua hal lainnya yang harus dihindari.

  Pertama, hindarilah perkataan yang menentang nabi mereka. Kita
  percaya bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Manusia sempurna
  yang pernah hidup. Al-Qur`an sendiri meneguhkan bahwa Yesus tidak
  pernah berdosa (QS 19:19). Nabi mereka adalah manusia biasa.
  Al-Qur`an memberi kesan bahwa dia berdosa (QS 47:19). Hal ini sesuai
  dengan kebenaran Alkitab bahwa tidak ada seorang pun kecuali Yesus
  yang tidak berdosa (Ibrani 4:15 dan Roma 3:23). Walaupun demikian,
  sedikit sekali manfaatnya bila kita meninggikan Kristus tetapi
  merendahkan nabi mereka. Kehidupan Kristus tidak bercela. Dia akan
  dimuliakan sekarang dan selamanya. Akan lebih bermanfaat kalau kita
  menunjukkan hormat kepada pendiri agama itu. Bukankah orang-orang
  Kristen tidak berharap akan diserang oleh kelompok mayoritas? Kita
  pun hendaknya tidak menyerang mereka.

  Kritik terhadap nabi lain biasanya menimbulkan kemarahan. Kalau
  seseorang menjadi marah, maka mereka tidak dapat berpikir jernih.
  Mereka tidak akan bersikap terbuka terhadap cara baru untuk
  mempertimbangkan pendapat-pendapat. Apakah benar bila kita mengakui
  nabi mereka sebagai nabi bagi suku-suku Arab? Dia diutus untuk
  menyampaikan pesan. Dia memanggil mereka dari kekafiran untuk
  percaya kepada Allah Pencipta. Dia berusaha membela hak orang yang
  miskin dan tertindas. Dia juga mengerti banyak mengenai Mesias. Pada
  kenyataannya, dia menyebut Isa Almasih, yaitu Yesus Kristus, sebagai
  yang paling ditinggikan di dunia ini dan yang akan datang (QS 3:45).
  Saya menganggap itu sebagai peranan seorang nabi. Mengingat hal itu,
  orang Kristen seharusnya tidak merendahkan nabi itu. Isi Al-Qur`an
  itu sendiri sering dipakai oleh Allah untuk mengarahkan orang-orang
  agar mereka percaya kepada Kristus. Karena itu, kita juga boleh
  menyebut nabi mereka sebagai nabi yang dipakai Allah.

  Kedua, Al-Qur`an adalah buku yang dikritik oleh orang-orang Kristen.
  Orang Kristen tidak menganggap Al-Qur`an diwahyukan Allah. Sekali
  lagi, sama seperti halnya menyerang nabi mereka bukan merupakan hal
  yang produktif, demikian pula tidak efektif bila kita menyerang
  Al-Qur`an. Entah mereka membaca Al-Qur`an atau tidak, tetapi mereka
  bergantung kepadanya secara emosional sebagai bagian hakiki dari
  imannya. Usaha-usaha orang Kristen untuk mengubah pandangan mereka
  mengenai Al-Qur`an hanya akan lebih mengobarkan peperangan yang
  sudah sejak lama terjadi. Lebih berguna kalau kita memakai
  titik-titik persamaan antara Alkitab dan Al-Qur`an sebagai jembatan
  bagi mereka. Paulus "gusar" ketika menyadari adanya praktik-praktik
  dan kepercayaan yang salah di Athena (Kisah Para Rasul 17:16). Namun
  dia memakai prasasti dari salah satu altar kafir itu untuk
  memberitakan Injil (Kisah Para Rasul 17:23). Demikian pula, kalau
  kita mengarahkan mereka pada kesamaan-kesamaan Al-Qur`an dan
  Alkitab, itu bukan berarti kita sepenuhnya menerima Al-Qur`an
  sebagai firman Allah. Titik-titik persamaan itu dapat menekankan
  kebenaran Allah yang tertera di dalam Alkitab.

  Hiasan-Hiasan Kristen

  Masalah lain yang harus dihindari berhubungan dengan apa yang sangat
  disayangi oleh setiap orang Kristen: salib Kristus. Salib merupakan
  batu sandungan bagi teman-teman kita, walaupun itu merupakan lambang
  keselamatan bagi orang Kristen (1 Korintus 1:23-24). Sayang sekali,
  bagi mereka, salib telah menjadi simbol orang kafir sejak zaman
  Perang Salib. Tentara-tentara Kristen dalam Perang Salib menghiasi
  perisai mereka dengan salib sementara mereka membantai desa-desa
  Islam. Kalau orang-orang Kristen memakai kalung salib atau
  menggantungkan salib di dinding rumah mereka, secara otomatis mereka
  menyebabkan banyak dari mereka merasa syak. Di sinilah kita harus
  hati-hati. Kenyataan tentang salib, yaitu bahwa Yesus telah datang
  ke dunia dan mati, akan selalu sulit untuk diterima oleh orang-orang
  yang belum percaya. Itu merupakan batu sandungan. Tetapi itu
  merupakan inti Injil dan tidak boleh dipudarkan dengan cara apa pun.
  Sayang sekali, lambang salib telah dimuati dengan kesan-kesan
  negatif dan dipandang sebagai bagian dari kebudayaan Kristen Barat
  yang mereka tolak. Sering kali [hiasan salib] menjadi penghalang
  komunikasi antara orang Islam dan orang Kristen. Kenyataan bahwa
  Yesus sudah mati di kayu salib itulah yang harus kita pegang
  erat-erat, bukan kalung salib atau hak untuk menghiasi rumah kita
  dengan cara yang menyenangkan diri kita sendiri.

  Jika kalung salib atau penjepit dasi berbentuk salib yang kita pakai
  menghalangi kita untuk didekati oleh tetangga kita, kita seharusnya
  tidak memakainya. Jika salib yang tergantung di dinding rumah kita
  menghalangi mereka mengunjungi rumah kita, kita harus
  memindahkannya. Pasti ada cara lain yang lebih tepat untuk
  menyatakan diri sebagai pengikut Kristus daripada dengan menunjukkan
  salib. Misalnya, cara yang lebih baik untuk menunjukkan bahwa Anda
  pengikut Yesus adalah dengan mengasihi tetangga kita. Jika lambang
  salib membuat syak teman-teman kita, jika hal itu menutup kesempatan
  bagi mereka untuk mendengar Injil, maka kita perlu membuat
  perubahan. Hal lain yang mungkin juga tidak berkenan ialah gambar
  tangan yang sedang berdoa, Yesus yang rambut-Nya pirang dan yang
  mata-Nya biru, yang sedang membawa anak domba; gambar-gambar Kristen
  Barat tradisional lainnya juga mungkin menimbulkan akibat yang sama.
  Haruskah kita malu menjadi orang Kristen? Tentu saja tidak. Namun
  kita harus ingat bahwa hiasan-hiasan Kristen di rumah kita dapat
  menjadi penghalang bagi teman-teman kita.

  Sebutan

  Kita harus hidup dengan memerhatikan masalah-masalah itu. Kita harus
  terus bertumbuh menjadi semakin peka terhadap tetangga-tetangga
  kita. Seorang yang tersinggung tidak akan mendengarkan kita. Bahkan
  istilah "Kristen" sudah mengandung arti negatif sehingga sering
  tidak produktif bagi kita untuk menyebut diri "orang Kristen" kepada
  mereka. Orang-orang percaya mula-mula disebut sebagai
  pengikut-pengikut Kristus atau pengikut Jalan Tuhan (Kisah Para
  Rasul 9:2). Kata "Kristen" ditemukan tiga kali di dalam Alkitab
  (Kisah Para Rasul 11:26, 26:28 dan 1 Petrus 4:16). Istilah itu
  semula dianggap sebagai penghinaan, tetapi istilah itu sekarang
  sudah menjadi lambang kehormatan bagi orang-orang yang menerima
  Kristus sebagai Tuhan. Namun, sebagaimana sudah disebutkan
  sebelumnya, istilah itu mengingatkan mereka akan kekejaman tentara
  Kristen dalam Perang Salib -- peperangan antara denominasi gereja,
  atau boleh dikatakan antara partai politik barat.

  Kalau ditanya, penulis lebih suka memperkenalkan diri sebagai
  "pengikut Isa Almasih". Sebutan itu biasanya akan menimbulkan
  beberapa pertanyaan yang dapat menjadi titik tolak pembicaraan
  tentang Kabar Baik. Hal itu dinilai positif sebab Isa adalah nama
  Islam untuk Yesus. Pada suatu kesempatan, ketika ditanya apa artinya
  menjadi pengikut Isa, saya dapat memberitakan seluruh Injil kepada
  mereka. Sebutan lain yang positif adalah "Nasrani". Ini juga
  merupakan istilah yang artinya orang Kristen. Istilah itu dapat
  ditemukan di dalam Al-Qur`an.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buku: Sedapat Mungkin
  Judul artikel: Aspek-Aspek Komunikasi Lintas Budaya
  Penulis: P. Agusman
  Penerbit: Tidak dicantumkan
  Halaman: 20 -- 45
______________________________________________________________________
SUMBER MISI

ASIAN ACCESS
==> http://www.asianaccess.org

  Asian Access adalah sebuah organisasi penginjilan interdenominasi
  yang bekerja di seluruh Asia. Fokus mereka adalah untuk
  mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengutus para pemimpin yang
  melayani sebagai pendeta dari gereja-gereja yang sedang bertumbuh
  dan berkembang. Organisasi ini pertama kali berdiri pada tahun 1967
  di Jepang dengan nama Language Institute For Evangelism, dan telah
  bekerja dengan lebih dari 600 gereja di seluruh Jepang. Selama
  lebih dari 40 tahun, Asian Access telah menyebarkan misionaris
  untuk program jangka pendek maupun jangka panjang dan bermitra
  dengan para pemimpin jemaat lokal dan nasional untuk memulai dan
  memperkuat gereja-gereja di Jepang.

  Visi Asian Access adalah untuk melihat tumbuhnya komunitas
  pemimpin-pemimpin dengan visi, karakter, dan kompetensi untuk
  memimpin gereja-gereja di seluruh Asia. Sedangkan misinya adalah
  untuk mengutus para pemimpin menumbuhkan gereja, melipatgandakan
  para pemimpin dan jemaat, serta menyebarluaskan Injil Yesus
  Kristus. Silakan kunjungi situs ini untuk mendukung pelayanan
  mereka. (DIY)

______________________________________________________________________
DOA BAGI MISI DUNIA

P A K I S T A N

  Pada bulan Juli, sebanyak 250 keluarga Kristen diperintahkan oleh
  kepala desa untuk meninggalkan rumah-rumah mereka di wilayah
  Khanewal, provinsi Punjab. Peristiwa ini terjadi setelah penduduk
  Kristen keberatan dengan pelecehan seksual terhadap gadis dan
  wanita-wanita Kristen. Sebagian besar pria Kristen di daerah
  tersebut bekerja di ladang pemilik tanah, sedangkan sebagian besar
  wanita dan gadis Kristen bekerja sebagai pelayan di rumah-rumah
  keluarga non-Kristen. Dia menambahkan bahwa orang-orang Kristen yang
  miskin hidup dengan kondisi yang memilukan. Pekerja-pekerja setempat
  dilaporkan menggunakan posisi kekuasaannya untuk terus melecehkan
  wanita-wanita Kristen. Orang-orang Kristen dulunya membangun
  perkampungan itu, tetapi sekarang mereka menjadi minoritas. (tUly)

  Diterjemahkan dari:
  Nama buletin: Body Life, Edisi Juli 2010, Volume 28, No. 7
  Halaman: 4

  Pokok doa:
  * Doakan wanita dan gadis Kristen di Pakistan yang sering
    dilecehkan. Doakan agar Tuhan membuka hati nurani para penguasa
    setempat sehingga tidak membiarkan keadaan itu berkelanjutan.
  * Berdoa agar Tuhan menyediakan tempat yang lebih baik kepada
    keluarga-keluarga Kristen yang diusir dari tempat tinggal mereka.

U K R A I N A

  Global Aid Network sedang menyiapkan pelayanan bagi orang-orang
  cacat di Ukraina sebelah timur laut pada bulan September mendatang.
  Sebuah tim telah dibentuk untuk membantu mereka dalam perjalanan
  tersebut.

  Tim misi ini akan pergi ke Sumy dan membagikan dua ratus kursi roda
  kepada penderita cacat di panti asuhan, rumah sakit, dan
  sekolah-sekolah. Selain itu, tim ini juga membutuhkan relawan
  nonmedis lainnya untuk membagikan, mendoakan, dan melakukan
  tugas-tugas administrasi ketika yang lainnya membagikan kursi-kursi
  roda. Tim tersebut akan memberikan bantuan serta membagikan pesan
  Injil lewat kerja sama dengan pelayanan dan gereja-gereja lokal.

  Ukraina merupakan penyedia utama para misionaris, percetakan, dan
  pusat pelatihan penginjilan di negara-negara yang dulunya tergabung
  dalam Uni Soviet. Pada masa lalu situasi hukum di Uni soviet tidak
  seramah ini. (t/Uly)

  Sumber: Mission News, July 2010
  [Selengkapnya: http://www.mnnonline.org/article/14424]

  Pokok doa:
  * Doakan agar Tuhan mengirimkan ahli-ahli terapis yang
    sungguh-sungguh mengasihi Tuhan bersedia melayani orang-orang
    berkebutuhan khusus di Ukraina.
  * Doakan agar Tuhan memberikan perlindungan kepada tim Global Aid
    Network yang sedang melayani di Ukraina. Doakan juga agar melalui
    pelayanan mereka banyak orang yang bersedia menerima Yesus sebagai
    Tuhan dan Juru Selamat pribadi mereka.
______________________________________________________________________
DOA BAGI INDONESIA

                      DIRGAHAYU INDONESIA KE-65

  Sudah 65 tahun Indonesia merdeka. Kita patut bersyukur untuk
  kemerdekaan yang sudah Tuhan berikan bagi bangsa Indonesia. Dalam
  kesempatan ini kami mengajak Anda untuk berdoa secara khusus bagi
  negara dan bangsa Indonesia, karena Allah sangat mengasihi
  Indonesia.

  POKOK DOA:

  1. Bersyukur untuk kemerdekaan yang sudah Tuhan berikan atas bangsa
     Indonesia. Doakan agar Tuhan memberi kekuatan kepada bangsa
     Indonesia untuk dapat mengisi dan melanjutkan perjuangan bangsa
     ini untuk hal-hal yang berkenan kepada Tuhan.

  2. Doakan terjadi pemulihan dalam bangsa Indonesia, khususnya dari
     luka-luka penjajahan supaya Tuhan bisa bekerja dengan lebih
     leluasa untuk memenangkan bangsa ini bagi kemuliaan Tuhan.

  3. Doakan agar Tuhan memberi kekuatan dan hikmat kepada para
     pemimpin Indonesia untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya
     memimpin bangsa Indonesia dengan baik sehingga dihormati oleh
     bangsa-bangsa lain.

  4. Berdoa agar Tuhan terus menunjuk orang-orang yang dikehendaki-Nya
     untuk memerintah dengan takut akan Tuhan.

  5. Berdoa agar Tuhan ikut campur dalam masalah-masalah yang masih
     terus merongrong sehingga bangsa Indonesia kurang bisa berkembang
     dengan baik, misalnya kemiskinan, kekerasan, ketidakadilan,
     korupsi, narkoba dll..

  6. Doakan agar masyarakat Indonesia, terkhusus umat percaya, untuk
     belajar mengucapkan berkat bagi Indonesia. Kiranya sikap
     kerja sama dapat terpupuk sehingga semua mau terlibat memajukan
     bangsa Indonesia.

______________________________________________________________________
Anda diizinkan menyalin/memperbanyak semua/sebagian bahan dari e-JEMMi
(untuk warta gereja/bahan pelayanan lain) dengan syarat: tidak
untuk tujuan komersial dan harus mencantumkan SUMBER ASLI bahan
yang diambil dan nama e-JEMMi sebagai penerbit elektroniknya.
______________________________________________________________________
Staf Redaksi: Novita Yuniarti dan Yulia Oeniyati
Kontributor: Dewi Irma Yanti, Wilfrid Johansen
Kontak Redaksi: < jemmi(at)sabda.org >
Untuk berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
______________________________________________________________________
Situs e-MISI dan e-JEMMi: http://misi.sabda.org
Arsip e-JEMMi: http://www.sabda.org/publikasi/misi
Facebook MISI: http://fb.sabda.org/misi
______________________________________________________________________
Bahan-bahan dalam e-JEMMi disadur dengan izin dari berbagai pihak.
Copyright(c) e-JEMMi/e-MISI 2010 / YLSA -- http://www.ylsa.org
SABDA Katalog: http://katalog.sabda.org
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org