Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/misi/2008/29

e-JEMMi edisi No. 29 Vol. 11/2008 (19-7-2008)

Konfusianisme


Juli 2008, Vol.11 No.29
______________________________  e-JEMMi  _____________________________
                   (Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________
SEKILAS ISI

EDITORIAL
ARTIKEL MISI: Konfusianisme
REFERENSI MISI: Sumber-Sumber Seputar Konfusianisme
SUMBER MISI: Chinese Christian Mission (CCM)
DOA BAGI MISI DUNIA: Cina, India
DOA BAGI INDONESIA: Masalah Pluralisme Agama di Indonesia

______________________________________________________________________

     NEVER BE YOKED TO COMPASIONS WHO REFUSE THE YOKE OF CHRIST
______________________________________________________________________
EDITORIAL

  Shalom,

  Konfusianisme adalah warisan dari Timur, suatu bentuk budaya yang
  mekanismenya adalah untuk mengawasi tingkah laku masyarakat. Saat
  ini seperempat bagian dari penduduk dunia mempelajari Konfusianisme.
  Banyak dari mereka adalah orang-orang yang sedang mencari kebenaran
  kekal, tetapi saat ini harus menghidupi budaya ini untuk bisa terus
  bertahan di masyarakatnya. Terbebankah Anda untuk membawa terang
  bagi masyarakat pemercaya Konfusianisme ini?

  Nah, untuk lebih mengenal dari dekat apa itu Konfusianisme --
  asal-usul serta doktrin yang diajarkan kepada para penganutnya,
  silakan menyimak artikel yang telah kami sajikan. Sementara itu,
  mulailah berdoa bagi penganut ajaran ini, khususnya agar mereka
  boleh bertemu dan melihat kasih Tuhan sehingga mereka mendapatkan
  kebenaran yang sejati dalam Yesus Kristus.

  Selamat menyimak dan selamat berdoa.

  Pimpinan Redaksi e-JEMMi,
  Novita Yuniarti

______________________________________________________________________
ARTIKEL MISI

                             KONFUSIANISME

  Riwayat Konfusius

  Meski Konfusius disakralkan dalam tradisi Cina, namun hanya sedikit
  aspek dari riwayat hidupnya yang dapat diketahui secara pasti.
  Sumber terbaik yang ada adalah Analek -- kumpulan ajaran Konfusius
  yang disusun oleh para pengikutnya. Lama setelah kematiannya,
  biografinya banyak bermunculan, namun banyak nilai sejarah dari
  kebanyakan biografi itu yang harus dipertanyakan. Meski demikian,
  ada beberapa fakta dasar yang masuk akal untuk menguraikan riwayat
  hidupnya.

  Sebagai bungsu dari sebelas bersaudara, Konfusius terlahir sebagai
  Chiu King pada sekitar tahun 550 SM di negara Lu, wilayah yang
  terletak di daerah yang kini disebut Shantung. Ia hidup pada zaman
  saat Budha masih hidup (meski mungkin mereka tidak pernah bertemu),
  sebelum Socrates dan Plato. Tidak ada yang pasti mengenai nenek
  moyangnya kecuali fakta bahwa ia berasal dari keluarga yang
  sederhana.

  Seperti yang ia pernah katakan sendiri: "Saat aku kecil, aku hidup
  di lingkungan masyarakat kelas bawah dan hidup sederhana." Ia diasuh
  oleh ibunya setelah ayahnya meninggal beberapa waktu setelah ia
  lahir. Pada masa mudanya, Konfusius terlibat dalam beragam
  aktivitas, termasuk berburu dan memancing; namun, "Pada usia lima
  belas tahun, aku membulatkan tekad untuk belajar."

  Ia menjabat sebagai pemungut cukai di sebuah kantor pemerintah kecil
  sebelum ia mencapai usia dua puluh tahun -- usianya saat menikah.
  Usia pernikahannya pendek, berakhir dengan perceraian, namun
  memiliki seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Pada
  awal usia dua puluhan, ia menjadi seorang pengajar -- profesi yang
  merupakan panggilan hidupnya.

  Kemampuannya sebagai pengajar mulai tampak. Kepopulerannya menyebar
  dengan cepat dan menarik banyak pengikut. Tidak sedikit orang yang
  tertarik dengan kebijaksanaannya. Ia percaya bahwa masyarakat tidak
  akan berubah kecuali ia berada dalam suatu organisasi sosial di mana
  ia dapat menerapkan teorinya.

  Konfusius bekerja di kantor pemerintah kecil sampai ia berusia lima
  puluh tahun. Setelah itu, ia menjadi pejabat tinggi di Lu. Perbaikan
  moralnya mencapai kesuksesan dalam waktu relatif singkat. Namun,
  akhirnya ia bentrok dengan atasannya dan kemudian mengundurkan diri
  dari kantor pemerintah. Setelah itu, Konfusius menghabiskan tiga
  belas tahun berikutnya untuk mengembara, berusaha menerapkan
  reformasi politik dan sosialnya. Ia mengabdikan lima tahun terakhir
  masa hidupnya untuk menulis dan menyunting apa yang kini menjadi
  sastra Konfusian.

  Ia meninggal di Chufou, Shantung, pada 479 SM sebagai seorang
  pengajar paling berpengaruh dalam budaya Cina. Para muridnya
  menyebutnya dengan "Raja fu-tzu" atau "Kung sang Guru", yang
  kemudian dilatinkan menjadi Konfusius.

  Penyembahan Leluhur

  Karakteristik umum dalam agama orang Cina pada masa Konfusius adalah
  penyembahan leluhur. Penyembahan leluhur adalah pemujaan roh-roh
  orang mati oleh kerabatnya yang masih hidup. Mereka percaya bahwa
  kelanjutan kehidupan roh-roh leluhurnya tergantung dari perhatian
  yang diberikan oleh para kerabatnya yang masih hidup. Mereka juga
  menyakini bahwa para roh tersebut dapat mengendalikan peruntungan
  keluarga.

  Jika keluarga menyediakan kebutuhan roh para leluhur, sebagai
  imbalannya, roh para leluhur itu akan membawa hal-hal baik yang
  terjadi dalam kehidupan keluarga. Namun, jika para leluhur
  diabaikan, diyakini bahwa semua hal yang buruk akan menimpa
  keluarga. Akibatnya, orang yang hidup terkadang hidup dalam
  ketakutan kepada mereka yang telah mati. Richard C. Bush menyatakan:

    Penyembahan leluhur oleh keluarga kerajaan dan rakyat jelata
    mengungkapkan beberapa alasan mengapa mereka melakukannya. Mereka
    ingin para leluhur dapat hidup di luar kubur, menjalani hidup
    sama seperti bagaimana mereka hidup di bumi; oleh karena itu,
    yang masih hidup mencoba untuk memberikan apapun yang sekiranya
    diperlukan. Alasan kedua adalah bahwa jika mereka tidak diberi
    makanan, senjata, dan perlengkapan yang diperlukan untuk bertahan
    hidup di luar sana, para leluhur dapat mendatangi mereka sebagai
    hantu dan membawa masalah bagi yang hidup. Hingga kini, orang
    Cina merayakan "Festival Hantu Lapar", menaruh makanan dan anggur
    di depan rumah untuk memuaskan roh leluhur atau hantu yang tidak
    diperhatikan keturunannya yang kemudian menghantui. Motif ketiga
    adalah untuk memberitahu para leluhur apa yang terjadi pada masa
    kini, dengan harapan para roh leluhur itu, entah bagaimana
    caranya, mengetahui bahwa semuanya baik-baik saja sehingga mereka
    dapat hidup dengan damai. Dan alasan terakhir, pemujaan roh
    leluhur menunjukkan harapan bahwa para leluhur akan memberkati
    keluarga yang masih hidup, dengan anak-anak, kemakmuran,
    keharmonisan, dan segala yang berharga. (Richard C. Bush, The
    Story of Religion in China, Niles, IL: Argus Communication, 1977,
    hal. 2)

  Kesalehan Anak-Anak

  Sebuah konsep yang berakar kuat di Cina sebelum masa Konfusius
  adalah kesalehan anak-anak (Hsaio), yang dapat digambarkan sebagai
  pengabdian dan kepatuhan orang-orang yang lebih muda kepada para
  tetua dalam keluarga, khususnya seorang anak laki-laki kepada sang
  ayah. Kesetiaan dan pengabdian kepada keluarga adalah prioritas
  utama dalam kehidupan orang-orang Cina. Tugas untuk keluarga,
  khususnya mengabdi pada orang tua, mereka emban di sepanjang
  kehidupan mereka.

  Hal itu diekspresikan dalam "The Classic of Filial Piety": "Sikap
  kasih dan hormat pada orang tua saat hidup, dan ratapan dan
  kesedihan luar biasa untuk mereka pada saat meninggal -- kedua hal
  tersebut benar-benar merupakan tugas paling fundamental semua
  manusia." (Max Mueller, ed., Sacred Books of the East, Krishna
  Press, 1879-1910, Vol. III, hal. 448)

  Konfusius menekankan konsep tersebut dalam ajarannya, dan hal itu
  diterima dengan baik oleh orang-orang Cina, baik dahulu maupun masa
  kini. Dalam kitab Analek, Konfusius mengatakan:

    Sang Guru berkata, "Seorang pemuda harus menjadi anak yang baik
    dalam rumah dan patuh di luar rumah, hemat berkata-kata namun
    dapat dipercaya dalam perkataannya, dan harus mengasihi semua
    orang, namun memelihara persahabatan dengan teman-temannya." (I:6)

    Meng Wu Po bertanya tentang menjadi seorang anak. Sang Guru
    berkata, "Jangan membuat ayah dan ibumu kuatir, kecuali kamu
    sakit." (II:6)

    Tzu-yu bertanya tentang menjadi seorang anak. Sang Guru berkata,
    "Menjadi seorang anak tidak hanya berarti menyediakan makanan
    untuk orang tuanya. Bahkan, entah bagaimana, anjing dan kuda pun
    mendapatkan makanan. Jika seseorang tidak menunjukkan rasa hormat,
    lalu apa bedanya?" (II:2).

  Prinsip-Prinsip Doktrin

  Doktrin-doktrin Konfusianisme dapat dirangkum menjadi enam istilah
  kunci. "Jen" atau kaidah kencana; "Chun-tzu" atau lelaki sejati;
  "Chen-ming" atau peranan; "Te" atau kuasa kebajikan; "Li" atau
  standar tingkah laku; dan "Wen" berkenaan dengan seni kedamaian.
  Pemaparan singkat keenam prinsip tersebut mengungkapkan struktur
  doktrin dasar Konfusianisme.

  1. Jen. Jen berkenaan dengan kemanusiaan, kebaikan, perbuatan baik,
     atau kejujuran. Jen adalah kaidah kencana, kaidah timbal balik;
     artinya, jangan memperlakukan orang lain dengan cara tertentu
     jika Anda tidak mau diperlakukan seperti itu.

       "Tzu-Kung bertanya, `Adakah satu kata yang dapat dijadikan
       penuntun dalam bertingkah laku di sepanjang kehidupan?` Sang
       guru berkata, `Kata itu mungkin adalah kata Shu. Jangan lakukan
       sesuatu yang kamu sendiri tidak inginkan terjadi padamu, kepada
       orang lain.`" (Konfusius, Analek, XV:24)

     Inilah kebajikan yang paling mulia menurut cara hidup Konfusian;
     jika prinsip ini dapat diamalkan, maka manusia akan mencapai
     kedamaian dan keharmonisan.

  2. Chun-tzu. Chun-tzu dapat diartikan sebagai lelaki sejati atau
     lelaki yang hebat. Ajaran Konfusius ditujukan kepada pria sejati,
     pria yang baik.

     Huston Smith berkata, "Jika Jen adalah hubungan yang ideal
     antarmanusia, Chun-tzu menunjuk pada sesuatu yang ideal dalam
     hubungan itu" (Smith, op. cit., hal. 180). Demikian pernyataan
     Konfusius mengenai pria sejati:

       (Konfusius): Pria yang dapat mengamalkan lima hal dalam dunia
       ini dapat dianggap sebagai pria sejati.

     Apa saja kelima hal tersebut:

     Kerendahan hati, kemurahan hati, ketulusan hati, kerajinan, dan
     keluwesan. Jika Anda rendah hati, Anda tidak akan ditertawakan.
     Jika Anda murah hati, Anda akan menarik banyak orang mendekat
     pada Anda. Jika Anda tulus, orang lain akan memercayai Anda.
     Jika Anda luwes, Anda akan mudah bergaul dengan bawahan Anda
     (James R. Ware. trans., The Sayings of Confucius, New York: New
     American Library, 1955, hal. 110).

     Pria seperti itulah yang dapat mengubah masyarakat menjadi
     seperti yang seharusnya -- masyarakat yang damai.

  3. Chen-ming. Konsep penting lain menurut Konfusius adalah
     Chen-ming atau pembuktian sebutan. Agar masyarakat dapat tertata
     dengan baik, Konfusius percaya bahwa semua orang harus memainkan
     peran yang benar. Karenanya, seorang raja harus bertindak
     layaknya raja, seorang pria sejati layaknya pria sejati, dll..

       Konfusius berkata, "Adipati Ching dari Ch`i bertanya kepada
       Konfusius mengenai pemerintahan. Konfusius menjawab, `Biarkan
       pemerintah menjadi pemerintah, warganegara menjadi warganegara,
       ayah menjadi ayah, anak menjadi anak ....`" (Analek, XII:11)

       Katanya juga, "Tzu-lu berkata, `Jika Raja Wei memberikan tugas
       administrasi (cheng) kenegaraan kepadamu, apa yang kamu
       utamakan?` Sang guru berkata, `Jika ada sesuatu harus yang
       diutamakan, maka hal itu mungkin adalah pembuktian sebutan.`"
       (Analek, XIII:3)

  4. Te. Kata te secara harfiah berarti "kekuatan", namun konsepnya
     memiliki makna yang jauh lebih luas. Kuasa yang diperlukan untuk
     memerintah, menurut Konfusius, tidak hanya kekuatan fisik.
     Sangatlah penting untuk seorang pemimpin menjadi orang yang bijak
     yang dapat menginspirasi warganya untuk patuh melalui teladan.
     Konsep tersebut tidak terwujud pada masa Konfusius hidup, yang
     berkeyakinan bahwa hanya kekuatan fisiklah cara satu-satunya yang
     tepat untuk memerintah masyarakat.

     Konfusius melihat kembali ke sejarah dua orang guru pada masa
     lalu, Yao dan Shun, dengan para pendiri dinasti Chou, sebagai
     contoh dari pemerintahan yang baik. Jika saja pemerintah
     mengikuti teladan masa lalu, maka masyarakatnya juga akan
     meneladaninya.

  5. Li. Salah satu kata kunci yang digunakan Konfusius adalah Li.
     Istilah ini memiliki beragam makna, tergantung konteksnya.
     Istilah ini dapat berarti kesopanan, penghormatan, ritual, atau
     standar ideal tingkah laku. Dalam Buku Tata Cara (Li Chi), konsep
     Li diungkapkan:

       Adipati Ai bertanya kepada Konfusius, "Apakah Li itu? Mengapa
       saat kamu membicarakan mengenai Li, kamu berbicara seolah-olah
       hal itu adalah hal yang penting?"

       Konfusius menjawab, "Hambamu yang sederhana ini sungguh tidak
       pantas untuk memahami Li."

       "Tapi kamu terus membicarakannya," kata Adipati Ai.

       Konfusius: "Yang telah saya pelajari adalah bahwa dari segala
       yang ada di sekitar manusia, Li adalah yang terhebat. Tanpa Li,
       kita tidak tahu bagaimana menyembah roh-roh yang ada di dunia
       dengan benar; atau bagaimana menetapkan dengan benar status
       raja dan menteri, pemerintah dan yang diperintah, dan tua-tua
       dan anak muda; atau bagaimana menetapkan hubungan moral
       antarkelamin; antara orang tua dan anak, dan antara saudara;
       atau bagaimana membedakan tingkat hubungan yang berbeda dalam
       keluarga. Itulah mengapa seorang pria sejati memegang teguh
       Li." (Lin Yutang, The Wisdom of Confucius, New York: Random
       House, 1938, Li Chi, hal. 216)

  6. Wen. Konsep Wen menunjuk pada seni kedamaian yang sangat
     Konfusius hargai. Hal ini meliputi musik, puisi, dan seni.
     Konfusius merasa bahwa semua seni kedamaian itu, yang berasal
     dari zaman Chou, merupakan simbol kebajikan yang harus
     dimanifestasikan di seluruh lapisan masyarakat.

     Konfusius mengutuk budaya pada masanya karena menurutnya tidak
     memiliki kebajikan. Ia menyatakan:

       Sang guru berkata, "Jelas bahwa saat seseorang mengatakan,
       "Ritual, ritual," itu bukan hanya berarti batu nefrit dan
       sutra. Jelas bahwa saat seseorang mengatakan `musik, musik`,
       itu bukan hanya berarti bel dan drum ...." Sang guru berkata,
       "Apa yang dapat dilakukan manusia dengan ritual yang tidak
       baik? Apa yang dapat dilakukan manusia dengan musik yang tidak
       baik?" (Analek XVII:11, III:3)

    Oleh karena itu, ia yang menolak seni kedamaian berarti menolak
    tata cara manusia dan surga yang baik. (t/Dian)

  *) Catatan: Semua kutipan, khususnya kutipan dari kitab,
     diterjemahkan secara bebas dari versi Bahasa Inggris.

  Diterjemahkan dan disunting seperlunya dari:
  Judul buku: Understanding Non-Christian Religions
  Judul asli artikel: Confucianism
  Penulis: Josh McDowell dan Don Stewart
  Penerbit: Here`s Life Publishers, Inc., California 1982
  Halaman: 77 -- 78 dan 83 -- 87

______________________________________________________________________
REFERENSI MISI

                  SUMBER-SUMBER SEPUTAR KONFUSIANISME

  Silakan kunjungi alamat-alamat URL di bawah ini untuk mendapatkan
  sumber-sumber lain seputar Konfusianisme.

  1. Budhisme dan Konfusisisme
  ==> http://misi.sabda.org/node/1991

  2. Agama Khonghucu
  ==> http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Khonghucu

  3. Persahabatan Menurut Konfusius
  ==> http://forumteologi.com/blog/2008/07/08/persahabatan-menurut-konfusius/

  4. Lao Tzu dan Konfusius, Suatu Perbandingan
  ==> http://winsig-cina.blogspot.com/2007/04/lao-tzu-dan-konfusius-suatu.html

  5. Riwayat Singkat Konfusius
  ==> http://klipingartikel.anastix.net/2007/09/17/riwayat-singkat-konfusius/

  6. Kong Hu Cu (Filsuf)
  ==> http://www.jokermerah.net/forum/showthread.php?p=7397

  7. Agama Khonghucu di Mata Seorang Tionghua Kristen
  ==> http://www.sabdaspace.org/agama_khonghucu_di_mata_seorang_tionghua_kristen

______________________________________________________________________
SUMBER MISI

CHINESE CHRISTIAN MISSION (CCM)
==>    http://www.ccmusa.org/
  Sesuai dengan namanya, organisasi ini fokus untuk menjangkau
  orang-orang Cina yang tersebar di seluruh dunia, namun bukan itu
  tujuan akhirnya. Penjangkauan orang-orang Cina di seluruh dunia
  adalah langkah awal organisasi ini menjangkau dunia. Ada sekitar 1;3
  milyar orang Cina di Daratan Cina dan lebih dari 70 juta orang Cina
  di luar negeri. Dari setiap lima atau tiga orang nonpercaya di
  dunia, salah satunya adalah orang Cina. Itulah dasar mengapa CCM
  akhirnya didirikan di Detroit pada 1961. Mulai dari menyebarkan
  literatur untuk membagikan Injil, kini CCM berkembang menjadi
  organisasi misi Kristen nondenominasi multijaringan untuk menjangkau
  orang-orang yang belum terjangkau oleh Injil melalui persatuan
  kekuatan gereja-gereja Cina dan orang-orang Kristen di seluruh
  dunia. Bergantung sepenuhnya kepada dukungan berbagai gereja dan
  perorangan, CCM secara aktif mencari gereja-gereja dan
  organisasi-organisasi untuk bekerja sama menyebarkan Kabar Sukacita
  kepada orang-orang Cina untuk menjangkau dunia. Anda tertarik untuk
  mengenal lebih jauh pelayanan mereka? Kunjungi alamat situs yang
  tercantum di atas.

______________________________________________________________________
DOA BAGI MISI DUNIA

C I N A
  Bulan ini, polisi provinsi Shandong di Cina bagian timur menangkap
  270 pendeta Protestan dari gereja rumah karena ikut serta dalam
  "persekutuan agama ilegal" -- pembelajaran Alkitab -- dekat kota
  Linyi. Menurut China Aid Association (CAA) yang berpusat di Amerika,
  yang mengusahakan kebebasan beribadah di Cina, sekarang ini masih
  ada kurang lebih 150 orang pendeta yang ada di penjara. Sekitar lima
  puluh anggota polisi yang berasal dari berbagai kota datang
  mengepung tempat persekutuan tersebut, menutup mata dan memborgol
  para pendeta, kemudian membawa mereka ke kantor polisi setempat
  untuk diinvestigasi. Sekitar 120 orang akhirnya dibebaskan setelah
  membayar tiga ratus yuan (US) sebagai "pajak interogasi". Dalam
  aksi lain, para petugas Public Security Bureau (PSB) Beijing
  menangkap seorang pemilik toko buku Kristen yang ada di dekat
  Olympic Village meskipun dia membuka tokonya secara legal dan hanya
  menjual buku-buku yang sudah mendapat izin pemerintah. Seorang
  pekerja lain juga dipenjara dan ayahnya dipukuli dengan bengis.
  (t/Setyo)
  Diterjemahkan dari:
  Judul buletin: Body Life, Edisi Januari 2008, Volume 26, No. 1
  Judul asli artikel: 270 Pastor Arrested
  Penerbit: 120 Fellowship adult class at Lake Avenue Church, Pasadena
  Halaman: 3
  Pokok doa:
  * Keberadaan para pendeta di Cina sangat memprihantinkan. Doakan
    agar mereka tetap kuat di dalam Tuhan meskipun tekanan dan aniaya
    sering datang mencobai hidup mereka.
  * Doakan untuk pemerintah Cina, agar memiliki rasa takut akan Tuhan
    dengan memberi lebih banyak kebebasan dan ketenangan beribadah
    bagi orang-orang percaya di negara tersebut.

I N D I A
  Rochunga and Mawii Pudaite of Bibles for World baru saja kembali
  dari India. Selama di sana, mereka mengunjungi beberapa kota di
  India dan juga negara Bhutan. Tujuan mereka adalah menghadiri
  ibadah tahunan gereja mereka di Manipur, India.

  Tema ibadah tahun ini adalah "Nyatakan Kemuliaan Tuhan di antara
  Bangsa-bangsa". Inilah waktunya untuk menginspirasi gereja-gereja
  dan menguatkan satu sama lain, memfokuskan diri secara khusus pada
  program penjangkauan. "Diungkapkan dalam ibadah itu bahwa gereja di
  India Timur Laut telah mengirimkan para misionaris ke Birma,
  Kamboja, Nepal, dan Bangladesh. Kami juga memunyai lebih dari 120
  misionaris yang melayani di daerah yang tak terjangkau di India,"
  kata Mawii Pudaite.

  Selama tiga hari ibadah, Mawii mengatakan bahwa ada dua hal penting
  yang terjadi. Yang pertama, hadirnya biksu-biksu Budha yang
  baru-baru ini bertobat menjadi Kristen. "Luar biasa bagaimana mereka
  menyerap firman Tuhan yang kami bagikan kepada mereka secara pribadi
  dan di dalam ibadah umum. Tuhan menggunakan firman-Nya yang hidup
  untuk mengubah dan mentransformasi kehidupan," katanya.

  Peristiwa penting kedua adalah pertunjukkan paduan suara misi dari
  Chipura. Mawii mengungkapkan bahwa itu adalah bukti kegerakan dan
  pertumbuhan rohani. "Dalam Kongres Lausanne Billy Graham, tahun
  1974, Chipura dinyatakan sebagai salah satu daerah yang tidak
  terjangkau di dunia. Setelah kongres tersebut, kami mengirim
  beberapa misionaris lokal ke daerah itu. Puji Tuhan, kini Chipura
  tidak lagi menjadi daerah yang paling tidak terjangkau. Mereka
  benar-benar dikuatkan. Sungguh ada semangat dan kegerakan yang luar
  biasa yang sedang terjadi selama beberapa waktu." (t/Setyo)
  Diterjemahkan dari: Mission News Network, Mei 2008
  Alamat URL: http://www.MNNonline.org/article/11094
  Pokok doa:
  * Doakan kegerakan luar biasa yang sedang terjadi di Manipur, India.
    Kiranya Tuhan terus gerakkan orang-orang untuk pergi ke berbagai
    tempat di dunia untuk memberitakan Injil ke tempat-tempat yang
    belum terjangkau oleh Kabar Baik.
  * Mengucap syukur karena Tuhan telah membuka pintu bagi masuknya
    Injil ke wilayah Chipura, India. Doakan agar Tuhan mengirim lebih
    banyak lagi pekerja di Chipura. Doakan juga keberadaan orang
    percaya di sana, agar Tuhan menjaga dan memelihara pertumbuhan
    iman mereka melalui firman-Nya.

______________________________________________________________________
DOA BAGI INDONESIA

                MASALAH PLURALISME AGAMA DI INDONESIA

  Dewasa ini ada banyak pembicaraan mengenai perlunya menggabungkan
  unsur-unsur yang baik dari berbagai agama dengan anggapan bahwa
  semua agama berasal dari Tuhan dan semuanya membawa kepada Tuhan.
  Beberapa mengatakan bahwa Kristus dapat ditemui dalam tiap agama,
  dan bahwa Roh-Nya bekerja dalam tiap agama. Hal ini tidak benar,
  karena masing-masing agama memiliki pandangan yang berbeda-beda
  mengenai Tuhan, bahkan banyak yang tidak menerima Yesus Kristus
  sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya. Sebagai orang Kristen,
  kita wajib mengasihi dan menghormati orang-orang yang memunyai
  kepercayaan lain. Namun, iman Kristen tidak dapat berkompromi. Kita
  harus tetap meninggikan bahwa Tuhan Yesus itu Raja di atas segala
  raja dan Tuan di atas segala tuan yang tidak ada bandingannya.

  Pokok Doa:

  1. Mari satukan hati berdoa bagi setiap orang Kristen agar memiliki
     pengenalan yang benar dan teguh akan ajaran Kristus seperti dalam
     Alkitab sehingga mereka dapat memberi pembelaan yang benar akan
     iman Kristennya.

  2. Tidak dapat dihindarkan bahwa masalah pluralisme menurunkan
     kesungguhan memberitakan Injil yang benar dan tepat. Doakan agar
     setiap gereja Tuhan tidak terjebak untuk mengadopsi pluralisme
     agama sebagai cara saling menghormati agama lain. Biarlah Tuhan
     memberi bijaksana sehingga rasa hormat kepada agama lain tetap
     dijunjung tinggi tanpa mengorbankan prinsip iman Kristennya.

  3. Banyak tantangan dan rintangan yang akan dihadapi oleh gereja
     pada akhir zaman ini. Doakan agar setiap anggota jemaat,
     khususnya para pemimpinnya, dapat diperlengkapi dengan
     pengetahuan dan kesaksian yang benar sehingga bisa saling
     mendorong dan hidup saling mengasihi di tengah tekanan-tekanan
     lingkungan.

  4. Doakan untuk setiap pemimpin agama yang ada di Indonesia agar
     mereka tidak mudah terprovokasi oleh ide-ide/paham-paham/
     orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang bertujuan
     menghancurkan kesatuan bangsa dan negara kita tercinta.

______________________________________________________________________
Anda diizinkan mengcopy/memerbanyak semua/sebagian bahan dari e-JEMMi
(untuk warta gereja/bahan pelayanan lain) dengan syarat: tidak
untuk tujuan komersil dan harus mencantumkan SUMBER ASLI bahan
yang diambil dan nama e-JEMMi sebagai penerbit elektroniknya.
______________________________________________________________________
Staf Redaksi: Novita Yuniarti, Yulia Oeniyati, dan Dian Pradana
Bahan-bahan dalam e-JEMMi disadur dengan izin dari berbagai pihak.
Copyright(c) 2008 oleh e-JEMMi/e-MISI --- diterbitkan: YLSA dan I-KAN
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Kontak Redaski: < jemmi(at)sabda.org >
Untuk berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Untuk pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
______________________________________________________________________
Situs e-MISI dan e-JEMMi: http://misi.sabda.org/
Arsip e-JEMMi: http://www.sabda.org/publikasi/misi/
Situs YLSA: http://www.ylsa.org/
Situs SABDA Katalog: http://katalog.sabda.org/
______________________________________________________________________

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org