Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-sh/2023/05/20

Sabtu, 20 Mei 2023 (Minggu ke-6 sesudah Paskah)

Amsal 26:17-28
Ikut Campur Urusan Orang Lain? Jangan!

Kadang ada orang yang suka ikut campur dalam pertengkaran orang lain meski tidak diminta. Hal ini bisa menjadi kebiasaan buruk apabila dibiarkan. Dia akan sibuk menilai dan menghakimi orang lain, sementara dia tidak memerhatikan dirinya sendiri. Sejatinya, campur tangan bisa kita lakukan tatkala kita diminta untuk terlibat. Namun, jika tidak, jangan sekali-kali mencampurinya.

Kitab Amsal mengingatkan kita akan hal itu. Ikut campur diibaratkan seperti menangkap telinga anjing yang berlalu (17). Artinya, alih-alih kita membantu dalam menyelesaikan masalah, kita malah memperkeruhnya. Bahkan kita bisa menimbulkan korban dalam pertengkaran seperti itu (18-19).

Saat ini kita diajak untuk tidak tergiur nafsu ikut campur dalam kepentingan orang lain. Sering kali masalah kecil, seperti perbedaan pendapat, bisa berubah menjadi pertengkaran dahsyat oleh karena adanya pemfitnah. Pertengkaran akan reda tatkala pemfitnah tidak ada (20-21).

Daripada memperkeruh suasana, lebih baik kita mendoakan mereka. Kita juga bisa menolong dan menguatkan mereka jika mereka meminta tolong kepada kita. Yang paling penting, jangan melakukannya dengan kemauan sendiri.

Melalui amsal ini kita juga diajak untuk berhati-hati terhadap fitnah. Gosip bisa begitu menggiurkan. Kebohongan dan kebencian bisa dibalut dengan kata-kata manis, tetapi dampaknya bisa menyakiti hati orang lain dan sungguh-sungguh merusak (22-25).

Jangan sampai kita ikut melancarkan fitnah terhadap orang lain. Kalau kita tahu sesuatu, ataupun tidak tahu apa-apa, janganlah kita menyebarkan perkataan yang tidak perlu yang bisa memperkeruh keadaan dan menyebabkan perpecahan.

Saat ini, sekali lagi kita bersyukur karena kita diingatkan agar tidak ikut campur perkara orang lain. Kristus mengutus kita untuk menjadi pendamai yang berhikmat di mana pun kita berada, seperti apa yang Ia ajarkan. Mari kita memohon kepada-Nya agar kita dapat menjadi juru damai yang bijaksana bagi sesama. [MTH]


Baca Gali Alkitab 3

Amsal 26:17-28

"Awasilah perkataanmu!" Barangkali inilah pesan penting yang ingin disampaikan pengamsal dalam bagian yang kita baca. Perkataan bukan sebuah benda yang dapat disentuh atau dilihat. Namun, kata-kata dapat berubah menjadi panah api yang menyala, arang, atau pecahan periuk bersalut perak. Jika candaan saja dapat melukai orang, apalagi fitnah yang keluar dari hati yang busuk.

Apa saja yang Anda baca?
1. Dengan apa pengamsal menggambarkan orang yang tidak menggunakan perkataannya dengan baik? (17-18, 20-23)
2. Bagaimana orang seperti itu membela dirinya? (19)
3. Bagaimana keadaan hati orang yang perkataannya tidak baik? Menurut pengamsal bagaimana seharusnya kita merespons orang yang demikian? (24-25)
4. Apa akibat dari perkataan yang jahat? (26-28)

Apa pesan yang Allah sampaikan kepada Anda?
1. Apa saja dampak buruk dari kebiasaan ikut campur dan kata-kata fitnah?
2. Apa peringatan Tuhan kepada orang yang suka berkata-kata jahat?
3. Jika perkataan kita ternyata bisa melukai orang lain, bagaimana seharusnya kita bersikap dan berbicara?

Apa respons Anda?
1. Bagaimana kita bisa menjaga perkataan kita agar tidak melukai orang lain, tetapi sebaliknya, menjadi berkat?
2. Adakah orang yang ingin Anda doakan yang sering atau pernah berkata jahat dan melukai hati Anda atau orang lain?
3. Jika Anda pernah menyakiti orang lain dengan perkataan Anda, apa yang mau Anda lakukan untuk memperbaikinya dan melakukan rekonsiliasi?

Pokok Doa:
Mohonlah ampun kepada Tuhan jika Anda pernah menyakiti orang lain dengan perkataan.

 

Mari memberkati para hamba Tuhan dan narapidana di banyak daerah
melalui edisi Santapan Harian yang kami kirim secara rutin +/- 10.000 eks.
Kirim dukungan Anda ke: BCA 106.30066.22 Yay Pancar Pijar Alkitab.

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org