Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-sh/2020/02/08

Sabtu, 8 Februari 2020 (Minggu ke-4 sesudah Epifania)

2 Samuel 12:1-25
Natan dan Daud

Ada lima hal yang bisa kita pelajari dari pertemuan Natan dan Daud. Pertama, Natan tidak merasa segan saat diutus Tuhan untuk memperingatkan Daud (1). Tampaknya, Natan memahami dirinya sebagai hamba Allah. Sehingga dia tidak menolak saat diutus Tuhan untuk menyatakan dosa-dosa Daud. Sebagai hamba Tuhan, Natan tidak gentar. Bagaimanapun, Natan membawa pesan penting dari Tuhan yang lebih berkuasa daripada Daud.

Kedua, Natan mengasihi Daud. Kasihnya kepada Daud mendorong dia tidak ingin Daud terus berkubang dalam dosa. Di mata Natan, Daud adalah sahabat. Sebagai sahabat, Natan tidak ingin Daud semakin jauh dari Tuhan. Keprihatinan akan nasib sahabatnya memampukan Natan datang kepada Daud. Keprihatinan merupakan kunci persahabatan.

Ketiga, Natan menyadari bahwa Daud adalah pemimpin bangsa (7). Jika kesalahan pemimpin bangsa didiamkan, apa jadinya dengan rakyat yang dipimpinnya. Jika kesalahan Daud terus dibiarkan, tanpa ada orang yang berani mengoreksinya, maka kelangsungan hidup Israel sebagai bangsa pilihan Allah tidak akan berlangsung lama. Bagi Natan, pemimpin adalah guru, yakni orang yang harus digugu dan ditiru.

Keempat, Natan tidak mempermalukan Daud di muka umum. Pembicaraan antara Natan dan Daud berlangsung empat mata. Natan tidak ingin orang lain mendengar apa yang hendak dia sampaikan kepada Daud. Sebab itu memang bukan urusan orang lain. Sesungguhnya itu merupakan urusan pribadi Daud dengan Tuhannya.

Kelima, Natan tidak langsung datang dengan nasihat. Dia tidak langsung menyalahkan Daud. Sebab, tidak ada satu orang pun gemar dinasihati, apalagi disalahkan. Natan menyampaikan sebuah cerita (1-4). Natan sungguh-sungguh mengasihi Daud sehingga Dia mengupayakan hal terbaik supaya sahabatnya sungguh-sungguh dapat dirangkul kembali. Dan Natan pun mencapai tujuannya.

Doa: Tuhan, berikan kami keberanian dan kearifan untuk menegur sahabat yang salah. [YMI]


Baca Gali Alkitab 6

2 Samuel 12:26-31

Banyak orang ingin menjadi besar dan hebat, namun dengan cara yang salah dan menyakiti orang lain. Yoab mempunyai kesempatan untuk menjadi besar, tetapi ia menolaknya. Ia memberikan kebesaran itu kepada Daud. Dengan melakukan hal ini, sesungguhnya Yoab telah membesarkan namanya sendiri dengan cara yang indah dan anggun, dan itu benar. Ia akan diingat dengan baik untuk seterusnya atas apa yang dilakukannya.

Hal yang sama seharusnya juga dilakukan orang Kristen. Orang Kristen harus selalu meninggikan Tuhan di atas dirinya, bukan sebaliknya. Namun, apa yang banyak dilakukan orang Kristen justru menyedihkan.

Apa saja yang Anda baca?
1. Apa yang dilakukan Yoab setelah hampir menang atas kota Raba (26-28)?
2. Apakah Daud menolak hal tersebut? Apa yang dilakukan Daud (29)?
3. Apa yang dilakukan Daud setelah merebut kota Raba (30-31)?

Apa pesan yang Allah sampaikan kepada Anda?
1. Apakah Anda haus ketenaran, nama besar, menjadi terkenal, dipuja, bahkan disembah? Pernahkah Anda melepaskan kesempatan untuk menjadi besar secara tidak layak?
2. Apakah Anda merasa sudah memberikan kehormatan dan kemuliaan kepada Allah secara layak dan seharusnya?

Apa respons Anda?
1. Apakah Anda sudah berhasil merendahkan diri sedemikian dan memberikan penghormatan kepada orang lain, juga kepada Allah?
2. Mampukah Anda merasakan hinanya diri sebagai manusia biasa yang berdosa, serta memberikan kemuliaan kepada Allah?

Pokok Doa:
Agar Allah dimuliakan melalui setiap kesempatan yang diizinkan terjadi dalam hidup.

 

Mari memberkati para hamba Tuhan dan narapidana di banyak daerah
melalui edisi Santapan Harian yang kami kirim secara rutin +/- 10.000 eks.
Kirim dukungan Anda ke: BCA 106.30066.22 Yay Pancar Pijar Alkitab.

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org