Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2019/07/25

Kamis, 25 Juli 2019 (Minggu ke-6 sesudah Pentakosta)

Imamat 24:1-9
Hargai Simbol yang Ditetapkan Allah

Carl G. Jung pernah menyimpulkan: anomali psikologis dan psikis terjadi pada pribadi yang tidak menghargai simbol. Allah tidak antisimbol karena itulah jendela untuk merefleksikan kedalaman diri dan karya-Nya.

Allah menetapkan prinsip ini dalam Imamat 24:1-9. Di hadapan terang lampu tersebut ada dua belas roti sajian sebagai simbol dua belas suku Israel (24:5-9). Roti tersebut mendapat terang dari lampu minyak yang ditetapkan Allah untuk menyala terus menerus (24:1-3). Terang itu menyinari dua susun roti sajian yang diganti tiap hari Sabat. Terang menyoroti dua belas roti merupakan simbol penerimaan Allah atas dua belas suku Israel. Roti sajian tersebut kemudian dimakan oleh Harun dan anak-anaknya di hadapan Allah sebagai simbol persekutuan antara Allah dan umat-Nya (bdk. Kel. 24:8). Hal ini menegaskan bahwa Allah menginginkan persekutuan dengan umat-Nya. Sabat, hari perhentian, menjadi momen terjadinya komuni yang direpresentasi oleh perjamuan makan para imam di hadapan-Nya.

Dari simbol tersebut, kita mengenal Allah yang menyediakan jalan agar umat dapat bersekutu dengan-Nya dalam sepanjang waktu kehidupan. Simbol terang dari lampu minyak dan dua belas roti sajian digenapi dalam diri Yesus yang adalah terang dan roti hidup. Yesuslah jalan yang Allah sediakan. Namun, jalan itu sudah disingkapkan sejak dahulu kala sebagai bayang-bayang melalui simbol dalam Imamat 24. Dengan kata lain, Allah tidak antisimbol karena melaluinya kebenaran jati diri dan karya-Nya dapat disampaikan kepada umat.

Kita perlu menyikapi penggunaan simbol dengan lebih positif selama simbol tersebut mengarahkan kita mengenali jati diri dan karya Allah di dalam Kristus. Biarlah melalui simbol kristiani yang bermakna, seperti yang terjadi dalam peristiwa Perjamuan Kudus melalui roti dan anggur, kita bersekutu dengan Allah secara intim. Kita menerima simbol tersebut dengan hormat dan hikmat.

Doa: Terpujilah Tuhan yang tidak antisimbol dalam menyatakan kebenaran. [BL]

 

Mari memberkati para hamba Tuhan dan narapidana di banyak daerah
melalui edisi Santapan Harian yang kami kirim secara rutin +/- 10.000 eks.
Kirim dukungan Anda ke: BCA 106.30066.22 Yay Pancar Pijar Alkitab.

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org