Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-sh/2019/04/19

Jumat, 19 April 2019 (Jumat Agung)

Matius 27:45-66
Ketika Allah Tak Menolong

Kesepian di tengah keramaian. Jiwa kehilangan daya. Orang menyalahartikan kata dan perbuatan. Allah seakan membisu atas semua pergumulan. Pernahkah Anda merasakan semua perasaan itu? Pasti saat itu beban hidup Anda terasa berat, bukan?

Mungkin, perasaan itu juga yang dialami Yesus saat disalib. Orang banyak mulai menyangsikan Dia (47-49). Perempuan-perempuan—yang selalu menemani pelayanan-Nya—kini berdiri jauh menatap Dia (55-56). Imam-imam kepala dan orang-orang Farisi tetap bersikeras menyatakan Dia adalah penyesat (63). Menjelang kematian-Nya, Yesus berseru, ”Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (46). Penderitaan yang begitu menyakitkan membuat Yesus merasa ditinggalkan oleh Allah. Lengkap sudah penderitaan Yesus. Allah Bapa memalingkan wajah-Nya dari Dia.

Kendati demikian, dalam ketakutan, kepala pasukan dan prajurit-prajurit akhirnya mengakui Yesus adalah Anak Allah (54). Yusuf dari Arimatea pun berbaik hati mengambil mayat Yesus. Ia mengafani-Nya dengan kain linen yang putih bersih, kemudian membaringkan-Nya dalam kubur (59-60).

Mengapa Allah Bapa terkesan diam kala Yesus terpaku di kayu salib? Allah Bapa murka dengan dosa yang memisahkan manusia dari-Nya. Keterpisahan itu menyakitkan. Kematian Yesus adalah jembatan agar murka Allah dipadamkan oleh kasih-Nya. Dosa harus dibayar oleh kematian. Yesus telah menjadi penebus manusia. Jadi, tak ada lagi penghalang relasi kita dengan Allah.

Mungkin, kita pernah merasakan seakan Allah tak bersegera menolong. Pada momen itu, ingatlah seruan Yesus di kayu salib. Sesungguhnya, Allah tidak pernah ingin melihat anak-Nya menderita. Namun, ada kalanya nestapa dan kesesakan harus kita jalani demi penggenapan rencana Allah. Dalam diam, Allah sedang merancangkan sesuatu yang besar. Jadi, bertahan dan bersabarlah!

Doa: Ya Allah, berikan kami ketabahan dan pengertian agar memahami rencana-Mu pada saat Engkau terasa jauh. [SA]

 

Mari memberkati para hamba Tuhan dan narapidana di banyak daerah
melalui edisi Santapan Harian yang kami kirim secara rutin +/- 10.000 eks.
Kirim dukungan Anda ke: BCA 106.30066.22 Yay Pancar Pijar Alkitab.

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org