Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2018/12/01

Sabtu, 1 Desember 2018 (Minggu ke-27 sesudah Pentakosta)

Keluaran 16:1-36
Jangan Mudah Terkejut

Dalam filosofi Jawa, istilah "aja kagetan" (jangan mudah terkejut) adalah suatu ajaran yang mendidik kita untuk tidak latah, tidak berandai-andai, tidak gampang menuduh orang lain, tidak gampang mengutuk, dan tidak takabur.

Satu bulan lima belas hari, setelah keluar dari Mesir, bangsa Israel mulai bersungut-sungut kepada Musa dan Harun (2). Mereka merasa lebih baik tetap berada dalam penindasan di Mesir karena kebutuhan makanan tercukupi. Sedangkan di bawah kepemimpinan Musa dan Harun, mereka dibawa ke padang gurun yang gersang seolah untuk membunuh mereka (3).

Sebagai pemimpin, Musa mendidik bangsa Israel agar mengerti bahwa sesungguhnya Tuhanlah yang telah membawa mereka keluar dari Mesir. Jika mereka bersungut-sungut, maka mereka bersungut-sungut kepada Tuhan. Tuhan mendengar sungut-sunggut mereka dan Ia akan mencukupi kebutuhan makanan bagi umat-Nya dan mendidik mereka hidup menurut hukum-Nya (4-18). Meski didikan-Nya terkadang diabaikan, namun Musa tetap mendidik bangsa Israel untuk taat pada ketetapan dan hukum Tuhan (15-30). Supaya bangsa Israel tidak takabur dan selalu mengingat kebaikan dan pemeliharaan Tuhan. Karena itu, disimpanlah manna, yang menjadi makanan bangsa Israel empat puluh tahun lamanya di padang gurun, menjadi pengingat turun-temurun (32-35).

Itulah bangsa Israel. Mereka mudah terkejut atas apa yang dihadapi sebagai konsekuensi bangsa merdeka. Namun, Allah menuntun mereka menyadari bahwa anugerah keselamatan dengan cara mencukupkan kebutuhan jasmani mereka. Begitu pun dengan kita yang telah menerima anugerah keselamatan dalam Kristus.

Jangan mudah terkejut dengan tantangan zaman yang kita hadapi sebagai pengikut Kristus, lalu merasa lebih baik bila tidak menjadi pengikut Kristus. Terimalah dengan syukur keselamatan Allah sebagai anugerah terbaik, apalagi Ia menambahkan berkat kecukupan kebutuhan hidup.

Doa: Tuhan, kami mensyukuri keselamatan yang Kau anugerahkan. [CR]


Baca Gali Alkitab 4

Keluaran 15:22-27

Perjalanan panjang yang melelahkan tentu tidak menyenangkan bagi sebagian orang. Hal itu yang dialami orang Israel ketika keluar dari Mesir. Musa berusaha dengan keras meyakinkan bahwa Tuhanlah yang menyertai mereka dalam perjalanan menuju tanah perjanjian. Salah satu kondisi yang dialami oleh Israel adalah peristiwa di Mara dan di Elim.

Apa saja yang Anda baca?
1. Apa rute perjalanan orang Israel setelah dari laut Teberau? Dan apa yang terjadi di sana (22)?
2. Bagaimana kondisi yang ada di kota Mara (23)? Apa reaksi orang Israel atas kondisi kota itu (24)?
3. Apa yang dilakukan Musa? Apa yang dilakukan Tuhan (25)?
4. Apa yang Tuhan firmankan (26)?
5. Apa nama kota yang mereka tuju setelah Mara (27)?

Apa pesan yang Allah sampaikan kepada Anda?
1. Mengapa perjalanan kehidupan untuk menuruti perintah Tuhan tidak disertai kemudahan-kemudahan yang nyaman?
2. Mengapa Tuhan perlu membentuk karakter umat-Nya dalam segala bidang kehidupan mereka?
3. Mengapa begitu pentingnya Tuhan mengucapkan perintah-Nya berkali-kali kepada umat-Nya? Apakah hal itu tidak membosankan dan melelahkan mereka?
4. Apa yang akan terjadi bila kita menuruti perintah Tuhan? Dan apa yang terjadi bila sebaliknya?

Apa respons Anda?
1. Bagaimana respons Anda sekarang jika dahulu pernah mengalami kehidupan yang menyenangkan, tetapi tidak di dalam perintah Tuhan?
2. Apa yang menjadi pendorong kuat Anda untuk mengubah kehidupan Anda? Bagaimana Anda memulai perubahan dalam hidup Anda?

Doa respons:

Tetap setia kepada Tuhan di dalam penderitaan sekalipun dan percaya sepenuhnya bahwa Tuhan menyertai Anda.

 

Mari memberkati para hamba Tuhan dan narapidana di banyak daerah
melalui edisi Santapan Harian yang kami kirim secara rutin +/- 10.000 eks.
Kirim dukungan Anda ke: BCA 106.30066.22 Yay Pancar Pijar Alkitab.

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org