Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2018/11/03

Sabtu, 3 November 2018 (Minggu ke-23 sesudah Pentakosta)

Zakharia 10:1-2
Berhala dalam Kehidupan Umat

Tuhan kita adalah Allah yang kudus, sehingga ketika umat terus tidak taat, maka Tuhan pasti akan menjatuhkan hukuman (Kel. 34:7). Apalagi jika dosa menyembah berhala, maka hukumannya bertambah berat.

Ayat pertama dimulai dengan seruan kepada umat untuk meminta hujan kepada Tuhan. Pasalnya, Tuhanlah yang membuat awan-awan pembawa hujan deras (1). Tuhan juga yang memberikan kekeringan sebagai hukuman bagi umat yang melanggar perjanjian-Nya. Musa sudah memperingatkan hal ini seperti tertulis dalam Imamat 26:19 dan Ulangan 28:23. Secara tersirat, Tuhan meminta umat-Nya untuk bertobat serta meminta pengampunan-Nya. Jika mereka berbalik kepada Tuhan, Ia akan menurunkan hujan lebat dan tumbuh-tumbuhan pun akan tumbuh kembali di padang (1b).

Penyebab murka dan hukuman Tuhan terlihat pada ayat kedua. Di situ ditunjukkan bahwa umat sudah menyembah terafim, yaitu patung berhala rumah (lih. Kej. 31:19). Mereka juga datang kepada juru-juru tenung untuk mendapatkan penglihatan dan mimpi. Padahal, itu merupakan kekejian bagi Tuhan (Ul. 18:10-12). Oleh sebab itulah, Dia menghukum umat-Nya dengan memberikan kekeringan sehingga mereka tercerai-berai seperti domba yang tidak bergembala.

Salah satu dosa yang sangat dibenci Tuhan adalah penyembahan berhala. Alasannya, TUHAN Allah kita adalah Allah yang cemburu (Kel. 20:5). Oleh sebab itu, Tuhan akan menghukum dengan berat umat yang menyembah berhala. Dia bahkan akan membalaskan sampai kepada keturunan yang ketiga dan keempat (Kel. 20:5). Namun, Tuhan Allah kita juga penyayang dan pengasih. Dia akan mengampuni pelanggaran, kesalahan, dan dosa (Kel. 34:6) ketika umat bertobat.

Mari kita merenung. Apakah masih ada berhala dalam kehidupan kita? Berhala itu bisa saja berwujud kekuasaan, uang, atau mungkin juga keluarga kita? Jika masih ada, mari segera bertobat. Penyembahan berhala adalah suatu kekejian di hadapan Tuhan.

Doa: Berikan aku hikmat dan kekuatan untuk tidak menyembah berhala apa pun. [IT]


Baca Gali Alkitab 1

Zakharia 10:1-2

Dalam sepanjang catatan Alkitab, Allah selalu memperkenalkan diri-Nya sebagai sosok yang kudus. Alkitab mencatat bahwa kekudusan Allah adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar, tegas, dan tidak kenal kompromi.

Allah selalu menuntut ketaatan kepada umat-Nya untuk menghormati kekudusan-Nya. Allah sangat menekankan agar tidak ada ilah selain Dia. Oleh karena itu, penyembahan berhala termasuk sebagai dosa besar dalam Alkitab. Dosa jenis ini selalu akan mendatangkan murka Allah.

Berhala bukan lagi hadir hanya dalam bentuk patung, pohon, atau objek sembahan lainnya. Dalam dunia "modern" seperti sekarang ini, berhala sudah beralih bentuk menjadi uang, pacar, bahkan handphone. Berhala adalah apa saja yang menjauhkan kita dari Tuhan.

Apa saja yang Anda baca?
1. Apa seruan nabi Zakharia kepada umat Israel (1a)?
2. Siapakah Tuhan bagi nabi Zakharia (1b)?
3. Apa yang dilakukan bangsa Israel sehingga mereka mendapat peringatan dari Tuhan (2a)?
4. Apa akibatnya ketika bangsa Israel mencoba berpaling dari Tuhan (2b)?

Apa pesan yang Allah sampaikan kepada Anda?
1. Siapakah Tuhan bagi Anda?
2. Pernahkah Anda jatuh dalam penyembahan berhala "modern"? Coba ingat lagi, apa jenis berhala itu?
3. Ketika itu, apa yang Tuhan lakukan untuk memperingatkan Anda?

Apa respons Anda?
1. Sudahkah Anda membuang segala berhala yang pernah ada?
2. Apakah Anda bersedia untuk selalu menempatkan Tuhan menjadi prioritas pertama dan utama?

Pokok Doa:
Agar umat Allah menjaga kekudusan dengan menjauhkan diri dari segala bentuk penyembahan berhala.

 

Mari memberkati para hamba Tuhan dan narapidana di banyak daerah
melalui edisi Santapan Harian yang kami kirim secara rutin +/- 10.000 eks.
Kirim dukungan Anda ke: BCA 106.30066.22 Yay Pancar Pijar Alkitab.

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org