Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2009/01/15

Kamis, 15 Januari 2009

Bacaan   : Yunus 1:1-16
Setahun : Kejadian 47-50
Nas       : Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu (Yunus 1:12)

BERANI MENGAKU SALAH

Dulu pernah ada sebuah lagu pop Indonesia berjudul Merpati Tak Pernah Ingkar Janji. Janji didekatkan dengan sikap burung merpati yang tak pernah mendua hati. Merpati selalu setia pada pasangannya. Setiap kali, perhatiannya terarah hanya pada pasangannya.

Dalam Perjanjian Lama, arti nama Yunus sesungguhnya adalah "merpati". Namun, "merpati" yang satu ini tidak hanya ingkar janji. Ia bahkan enggan untuk taat, dan dengan segaja menolak perintah Tuhan. Tuhan memerintahkannya agar ke Niniwe, tetapi ia malah melarikan diri ke Tarsis; jauh dari hadapan Tuhan. Yunus menunjukkan keengganannya dengan "membayar kapal, naik kapal, pergi jauh dari hadapan TUHAN" (ayat 3). Namun, Tuhan menurunkan badai besar ke laut, sehingga kapal hendak karam. Saat itulah awak kapal membuang undi guna mengetahui siapa penyebab malapetaka tersebut. Dan Yunuslah yang terkena undi. Dengan besar hati, ia berkata, "Aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu" (ayat 12). Lalu ia pun meminta agar orang-orang membuangnya ke laut. Setelah itu dilakukan, laut pun reda. Dan "orang-orang di kapal itu menjadi sangat takut kepada TUHAN dan kemudian mempersembahkan korban sembelihan bagi Tuhan dan mengikrarkan nazar" (ayat 16).

Imbas sebuah pengakuan dosa adalah: masalah bisa selesai. Bahkan orang lain mengakui kekuatan Tuhan. Ketika kita salah, apakah kita berani mengakuinya secara kesatria? Atau, kita bersembunyi di balik segala alasan dan "tidur nyenyak" (ayat 5)? Yunus, "sang merpati" sempat hendak ingkar, tetapi akhirnya ia mau belajar setia pada Tuhan. Sudahkah kita juga? -DKL

PAHLAWAN IMAN, SELALU BERHATI KESATRIA
SEBAB IA TAHU, TUHAN MELIHAT SEGALA ISI HATINYA

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org