Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2009/01/10

Sabtu, 10 Januari 2009

Bacaan   : Pengkhotbah 5:9-18
Setahun : Kejadian 30-32
Nas       : Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya ... juga itu pun karunia Allah (Pengkhotbah 5:18)

MENYUSUT 75 PERSEN

Amerika Serikat (AS) merupakan negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Perusahaan-perusahaan finansial AS juga beroperasi hampir di seluruh dunia. Tak heran jika krisis keuangan AS yang dipicu oleh kredit macet sektor perumahan, segera meluas ke seluruh dunia-merontokkan harga saham di berbagai negara, termasuk Indonesia. Seorang pemilik saham, misalnya, sangat tegang dan menjadi sulit tidur karena hanya dalam waktu dua pekan, nilai sahamnya yang bernilai miliaran rupiah menyusut hingga 75 persen. Apa pelajaran yang kita petik dari sini? Krisis keuangan yang terjadi menyingkapkan betapa rapuhnya aset finansial. Kondisi finansial kita sangat rentan terhadap perubahan.

Pengkhotbah menggarisbawahi hal serupa ketika mengatakan bahwa orang kaya bisa mengalami hal buruk justru karena hartanya (ayat 12,13). Banyak orang berusaha mencari kepuasan hidup dengan mengumpulkan kekayaan. Padahal kekayaan di dunia ini belum tentu bertahan lama. Krisis, kecelakaan, kecerobohan, kebakaran, pencurian, dapat menggerus kekayaan secara tidak terduga. Lebih ironis lagi, tidak sedikit orang mengorbankan kehidupan kekal demi mengejar kekayaan yang sifatnya hanya sementara.

Menurut perhitungan pakar, dampak krisis dunia masih akan berlangsung dua sampai empat tahun mendatang. Bila kita mengandalkan kekayaan, kita akan selalu panik dan cemas. Hanya dengan mengandalkan Tuhan, kita dapat memasuki tahun baru ini dengan tenang dan penuh pengharapan. Sebab di tengah krisis sekalipun, Tuhanlah yang memberi kita kekuatan untuk mendapatkan penghasilan guna mencukupi kebutuhan hidup -ARS

DUNIA DENGAN SEGALA PERUBAHANNYA TAK DAPAT DIDUGA
NAMUN ALLAH YANG KITA PUNYA SELALU DAPAT DIPERCAYA

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org