Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2007/02/23

Jumat, 23 Februari 2007

Bacaan   : Pengkhotbah 2:1-11
Setahun : Bilangan 7-8; Markus 4:21-41
Nas       : Waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaan-nya itu (Luk. 12:15)

AGAMA BARU

Ketika berkendara menuju Irlandia untuk menghadiri konferensi Alkitab, saya melihat papan reklame yang menarik. Papan yang besar dan berwarna putih itu tidak memuat gambar apa pun selain sepatu wanita berwarna merah dengan kalimat yang ditulis tebal: "Apakah Belanja Telah Menjadi Agama Baru?"

Pemenuhan keinginan untuk memiliki sesuatu terus menjadi motivasi terkuat yang dapat dialami manusia. Namun, bisakah barang-barang yang kita miliki membuat kita merasakan kepuasan sejati?

Dalam Lukas 12:15, Yesus menjawab pertanyaan itu dengan tegas dan tanpa kompromi, "Tidak!" Selama membicarakan harta duniawi, Dia berkata, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala keta-makan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu." Hidup seharusnya memiliki makna lebih jika dibandingkan setumpuk benda yang kita miliki.

Raja Salomo juga pernah tergoda untuk mencari kepuasan dalam mengumpulkan harta benda. Namun ia mendapati bahwa semua itu sia-sia (Pkh. 2:1-17). Bila kita menempatkan "harta berlimpah" sebagai pusat hidup kita, maka kegemaran kita berbelanja bisa jadi telah menggantikan Allah -- dan menjadi agama baru. Namun, hal-hal seperti ini pasti akan berakhir dengan kesia-siaan.

Daud berdoa, "Engkau yang membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala yang hidup" (Mzm. 145:16). Hanya Allah yang sanggup memberi kepuasan sejati dalam hidup ini -- WEC

Ya Tuhan, bantu dan ajarlah kami
Berpuas atas segala yang kami miliki,
Dan kiranya hati kami melimpah
Dengan rasa syukur yang tercurah. -- Sper

ANDA MENJADI KAYA SAAT ANDA MERASA PUAS
DENGAN APA YANG TELAH ANDA MILIKI

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org