Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/1997/07/23

Rabu, 23 Juli 1997

Bacaan   : Pengkhotbah 7:1-14
Setahun : Pengkhotbah 7-9
Nas       : Bersedih lebih baik daripada tertawa, karena muka muram membuat hati lega (Pengkhotbah 7:3)

TUJUAN UTAMA

Kita semua punya pengalaman membagikan kegembiraan dan kesedihan. Meskipun secara alami kita lebih suka kegembiraan daripada airmata, kita pasti akan mengakui bahwa hikmat diperoleh terutama dari pengalaman pahit yang kita alami. Meskipun demikian, banyak orang Kristen yang hanya mengejar kebahagiaan pribadi. Penulis kitab Pengkhotbah menilai usaha seperti itu sebagai kebodohan (7:3-4).

Beberapa tahun yang lalu, ketika diwawancarai mengenai pergumulannya melawan kanker, teolog Francis Schaeffer berkata, "Satu-satunya cara merasakan kegembiraan yang bodoh dalam dunia ini adalah: tetap muda, cukup sehat, dan punya cukup uang -- dan tidak peduli dengan orang lain. Tetapi begitu Anda tak memperoleh satu pun dari ketiga hal di atas, atau jika Anda berbelas kasihan pada dunia yang menangis di sekitar Anda, maka mustahillah memiliki kebahagiaan yang bodoh, yang saya yakini sebagian orang Kristen menyebutnya sebagai kekristenan."

Apa kebutuhan hidup kita yang paling besar? Bukankah kebahagiaan? Mungkin saja kita menginginkan perubahan di sekeliling hidup kita, dan kadang-kadang kita mendapatkannya. Tetapi kebutuhan yang paling dalam adalah perubahan hidup kita. Adanya perubahan di sekeliling bisa saja membuat kita lebih berbahagia, tetapi perubahan dalam hidup akan membuat kita lebih baik, karena hal itu menjadikan kita semakin menyerupai Kristus.

Apa yang paling Anda kejar dalam hidup ini? [JEY]


Oft a hearts bowed in grief
Looks to Jesus for relief,
Seeks the Savior's loving care,
Learns to have more faith in prayer. -- Donaghy

KEBAHAGIAAN BUKANLAH TUJUAN HIDUP --
MELAINKAN KESALEHAN HIDUP

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org