Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-penulis/36

e-Penulis edisi 36 (10-10-2007)

Penulisan Karya Ilmiah

______________________________________________________________________

                              e-Penulis
                        Menulis untuk Melayani
                        Edisi 036/Oktober/2007

                        PENULISAN KARYA ILMIAH
                        ----------------------

  = DAFTAR ISI =
    * Dari Redaksi
    * Artikel (1) : Memahami Struktur Karya Tulis Ilmiah
    * Artikel (2) : Menulis Artikel Ilmiah Populer
    * Pojok Bahasa: Penerbit dan Anak Perusahaannya
    * Stop Press! : GUBUK Online: Gudangnya Pencinta Buku

                             DARI REDAKSI
                             ------------

  Bagi para mahasiswa, keterampilan menulis karya ilmiah dalam bentuk
  makalah maupun artikel menjadi keterampilan yang mutlak dimiliki.
  Kerangka teori yang kuat, data-data yang relevan dan otentik,
  bahan-bahan pendukung yang relevan, cara penyampaian yang formal dan
  sistematis, semua itu menjadi hal yang harus diperhatikan. Sikap
  objektivitas yang tinggi pun mutlak dituntut dari setiap mahasiswa.

  Semua persyaratan tersebut memang sering kali menjadi momok bagi
  beberapa mahasiswa. Namun, sesulit itukah menulis karya ilmiah?
  Sulitkan memenuhi persyaratan tersebut? Jangan-jangan kesulitan itu
  hanya masalah sikap?

  Lewat sajian berikut ini, kami mengajak Anda untuk mengenal struktur
  karya ilmiah yang umum diterapkan. Melalui pengenalan ini, kami
  berharap Anda dapat membayangkan bagaimana penerapannya pada objek
  penelitian yang tengah atau akan dihadapi. Dan bila Anda masih juga
  merasa pusing, mengapa tidak mencoba menulis artikel ilmiah populer
  yang notabene masih lebih ringan?

  Berkenaan dengan bulan bahasa, kami turut menyerukan,

  "Tumbuhkan jiwa ilmiah dalam diri Anda, wujudkanlah dalam bahasa
  yang baik dan benar."

  Selamat menikmati.

  Penanggung jawab,
  R.S. Kurnia


                              ARTIKEL (1)
                              -----------

                 MEMAHAMI STRUKTUR KARYA TULIS ILMIAH
                          Oleh: R.S. Kurnia

  Menulis makalah? Wah, susah banget! Tapi itulah yang sebenarnya
  menjadi bagian dari kehidupan akademis di sekolahan maupun di
  kuliahan. Ya, penulisan makalah sebagai salah satu bentuk karya
  tulis ilmiah memang sudah disosialisasikan bahkan sejak di bangku
  sekolah dasar lewat tugas-tugas seperti kliping.

  Bagi sebagian besar, tugas menulis karya ilmiah, baik dalam bentuk
  makalah maupun skripsi, tampaknya menjadi tugas yang berat.
  Pemilihan topik penelitian, judul makalah, sampai penentuan teori
  menjadi bagian yang dianggap susah dikerjakan. Tidak heran ketika
  makalah atau skripsi disusun, beragam perbaikan harus dikerjakan
  oleh penulisnya.

  Memahami struktur sebuah karya ilmiah bisa menjadi cara yang akan
  menolong penulis dalam menyajikan karya tulisnya. Bila sudah
  mengenal masing-masing aspeknya, sedikit banyak akan melapangkan
  alur pemikiran penulis.

  Secara umum, sebuah karya tulis ilmiah terbagi dalam tiga bagian
  besar. Bagian yang dimaksud ialah pendahuluan, isi, dan pembahasan.
  Meskipun ketiganya merupakan inti dari sebuah karya, tentu saja
  masih dibutuhkan penyemarak lain, yaitu prakata (bedakan dengan
  kata pengantar!), daftar isi, daftar tabel/skema, bibliografi, dan
  lampiran. Tentu saja kelengkapan-kelengkapan tersebut tidak semuanya
  mutlak disertakan. Masing-masing akan dijelaskan di bawah ini.

  PENDAHULUAN

  Seperti namanya, bagian ini memberikan gambaran mengenai topik
  penelitian yang hendak disajikan. Aspek-aspek yang biasa disertakan
  pada bagian ini diuraikan secara sederhana di bawah ini.

  a. Latar belakang masalah
     Pada bagian ini, penulis harus menguraikan apa yang menjadi
     ketertarikannya pada objek yang diteliti. Oleh karena itu,
     kepekaan untuk memerhatikan fenomena-fenomena yang mutakhir di
     bidang yang sedang ditekuni menjadi kebutuhan. Tidak jarang,
     sebuah makalah atau skripsi mendapat sambutan hangat karena
     membahas topik-topik yang sedang hangat.

     Satu aspek lain yang perlu dikemukakan pada bagian ini ialah
     tinjauan pustaka. Peneliti perlu menyertakan beberapa penelitian
     yang relevan dengan topik yang dikerjakan. Hal ini dilakukan agar
     memperjelas pembaca bahwa penelitian yang dilakukan bukan
     mengulangi berbagai penelitian lainnya.

  b. Masalah dan batasannya
     Dari fenomena yang menarik perhatian, penulis harus secara
     eksplisit mengemukakan masalah yang hendak dibahas. Sebab pada
     bagian latar belakang, masalah yang hendak dibahas biasanya tidak
     dikemukakan secara eksplisit.

     Meski demikian, masalah yang hendak dibahas atau diteliti itu
     masih harus dibatasi lagi. Hal ini dilakukan agar pembahasan
     tidak meluber luas kepada aspek-aspek yang jauh dari relevan.
     Selain itu, pembatasan masalah penelitian juga akan menolong
     dalam hal efektivitas penulisan karya ilmiah.

  c. Tujuan dan manfaat
     Kemukakan tujuan dan manfaat penelitian yang dikerjakan. Sedapat
     mungkin dijabarkan keduanya, baik bagi lingkungan akademis maupun
     masyarakat secara umum.

  d. Metode dan Teknik Analisa
     Penentuan metode dan teknik menganalisis data juga akan
     menentukan hasil dari sebuah penelitian. Metode harus dibedakan
     dari teknik. Mengenai keduanya, Sudaryanto (2001) menyebutkan
     bahwa metode merupakan cara yang harus dilaksanakan, sedangkan
     teknik merupakan cara melaksanakan metode. Sebagai cara,
     tambahnya, kejatian teknik ditentukan oleh adanya alat yang
     dipakai.

     Dalam ilmu linguistik, metode penelitian berkisar pada dua metode
     besar, yaitu metode padan dan agih. Sementara tekniknya ada
     bermacam-macam. Tidak semua metode perlu dan relevan untuk
     digunakan dalam menganalisa data penelitian. Oleh karena itu,
     peneliti perlu berhati-hati dalam menentukan metode dan teknik
     analisanya. Data penelitian yang diperoleh harus benar-benar
     dicermati perilakunya.

  e. Landasan teori
     Sebuah penelitian tentu perlu memiliki dasar teoritis yang kuat.
     Namun, penulis harus benar-benar teliti menentukan dasar teoritis
     yang akan mendukung pembedahan masalah. Biasanya, bila sudah
     mengerti perilaku data yang diperoleh, penentuan teori yang
     hendak dipakai akan lebih mudah.

  ISI

  Setelah merampungkan bagian awal tadi, penelitian pun dapat
  dilanjutkan dengan lebih bergumul dengan data yang telah diperoleh.
  Sub dari bagian isi (biasa disebut juga subbab karena bagian isi
  umumnya dianggap sebagai bab yang mandiri) biasanya tergantung ruang
  lingkup masalah. Bila masalah yang hendak dibahas terdiri dari tiga
  butir, sub bagian isi bisa menjadi tiga. Jangan sampai empat apalagi
  lima, mengingat pada bagian isi, penulis harus melakukan analisa
  berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada bab pendahuluan.

  PENUTUP

  Sebagai penutup, pada bagian ini peneliti harus memberi simpulan
  dari hasil penelitiannya. Simpulan tersebut harus disajikan secara
  sederhana dan singkat. Tujuannya agar pembaca bisa lebih menangkap
  hasil penelitiannya secara ringkas.

  Salah satu bagian yang tampaknya masih banyak digunakan sebagai
  sub-bagian dari penutup ialah saran. Sejumlah departemen pada
  sejumlah perguruan tinggi belakangan ini mulai menghapus bagian
  tersebut. Sederhananya, sebuah penelitian mensyaratkan sebuah
  penelitian lanjutan, entah untuk menyanggah atau menguatkan hasil
  penelitian terdahulu.

  BIBLIOGRAFI

  Bibliografi atau yang umumnya disebut sebagai daftar pustaka turut
  menjadi bagian yang penting. Asumsinya, sebuah penelitian ilmiah
  tentu akan menggunakan referensi-referensi pendukung. Tidak ada
  batasan minimal maupun maksimal dalam penggunaan referensi. Namun,
  ini bukan berarti bahwa peneliti bisa seenaknya mencantumkan
  referensi. Referensi yang terlalu sedikit bisa menandakan peneliti
  tidak banyak membaca literatur pendukung atau hasil penelitian
  terkait. Sementara bila terlalu banyak, bisa-bisa dicurigai hasil
  tulisannya didominasi oleh pendapat ahli daripada pendapat peneliti
  itu sendiri. Oleh karena itu, pemanfaatan referensi harus dilakukan
  sewajar dan seperlunya saja.

  Tata cara penulisan bibliografi pun harus diperhatikan. Bedakan
  sumber referensi yang berasal dari buku dengan majalah dan surat
  kabar. Mengingat dunia internet saat ini pun menawarkan beragam
  hasil penelitian yang dengan mudah dapat diakses, peneliti dapat
  memanfaatkan sumber-sumber tersebut sebagai bahan referensi
  penelitiannya. Khusus untuk sumber referensi dari internet, saat ini
  disepakati bahwa tata cara penulisannya sebagai bibliografi
  diperlakukan seperti layaknya sebuah artikel.

  MENGENAI ABSTRAK

  Abstrak juga menjadi bagian penting lain yang perlu diperhatikan
  oleh peneliti. Abstrak merupakan suatu bagian uraian yang sangat
  singkat, jarang lebih panjang dari enam atau delapan baris,
  bertujuan untuk menerangkan kepada para pembaca aspek-aspek mana
  yang dibicarakan mengenai aspek-aspek itu (Keraf 1984).

  MENGENAI PRAKATA

  Salah kaprah sering terjadi pada bagian ini. Masih banyak yang
  memilih menggunakan kata pengantar daripada prakata. Perbedaan yang
  mendasar dari keduanya, kata pengantar ditulis oleh seseorang dalam
  rangka menyajikan karya tulis orang lain. Biasanya kata pengantar
  dipilih untuk memberi kesaksian yang menguatkan bagi pembaca, bahwa
  karya yang disajikan penulis pantas dibaca atau dijadikan referensi.
  Sebaliknya, prakata merupakan pengantar yang disajikan oleh penulis
  karya tersebut.

  Pada bagian ini, penulis bisa memberi gambaran singkat mengenai
  karya tulis yang ia hasilkan. Penyajiannya harus dilakukan dengan
  variasi yang kreatif, agar tidak dianggap menjiplak bagian latar
  belakang masalah pada pendahuluan.

  STRUKTUR DALAM LAPORAN ILMIAH

  Pada dasarnya, laporan ilmiah dapat dikatakan sebagai bentuk singkat
  sebuah makalah penelitian. Hal ini terlihat dari bentuknya. Bila
  makalah mensyaratkan penyertaan daftar isi beserta daftar-daftar
  lain yang memang dibutuhkan, laporan ilmiah lebih ringkas lagi.
  Dalam sebuah laporan ilmiah, biasa disajikan dalam jurnal-jurnal
  penelitian, struktur sebuah tulisan ilmiah dapat mengikuti pola
  yang dikemukakan Soeseno (1982) berikut ini.

  a. Judul yang disertai nama penulis dan tempat tugas pekerjaannya.
  b. Abstrak yang menunjukkan intisari tulisan hasil penelitian yang
     hendak disajikan.
  c. Pendahuluan, yang sering berisi informasi latar belakang dan
     identifikasi masalah guna mengantar para pembaca ke arah masalah
     dan pemecahannya.
  d. Tubuh utama, yang berisi:
     - bahan dan metode penelitian yang dipakai;
     - uraian pelaksanaan dan tafsiran maupun rekaannya.
  e. Penutup, yang berisi:
     - hasil penelitian dan pembahasan;
     - ucapan terima kasih kepada mereka yang telah membantu
       terlaksananya penelitian.
  f. Referensi berupa daftar pustaka yang telah digunakan dalam
     penelitian.

  Pola di atas tidak sepenuhnya mutlak. Khusus dalam jurnal-jurnal
  ilmiah, masing-masing jurnal biasanya memberlakukan struktur
  penulisannya masing-masing. Informasi itu biasanya selalu disertakan
  dalam salah satu lembaran jurnal.

  Daftar Bacaan

  Keraf, Gorys. 2004. "Diksi dan Gaya Bahasa". Jakarta: Gramedia
    Pustaka Utama.
  Soeseno, Slamet. 1982. "Teknik Penulisan Ilmiah-Populer". Jakarta:
    Gramedia.
  Sudaryanto. 2001. "Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa:
    Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis".
    Yogyakarta: Duta Wacana University Press.


                              ARTIKEL (2)
                              -----------

                    MENULIS ARTIKEL ILMIAH POPULER
                      Disusun oleh: R.S. Kurnia

  1 MENULIS ARTIKEL

  1.1 Menulis dan Mengarang
  Ada suatu pandangan tradisional yang menyebutkan bahwa menulis dan
  mengarang adalah dua kegiatan yang berbeda, meski sama-sama
  berkenaan dengan aspek kebahasaan. Kegiatan menulis sering
  diasosiasikan dengan ilmu yang sifatnya faktual, sedangkan kegiatan
  mengarang selalu diasosiasikan dengan karya sastra yang fiksional
  (Kamandobat 2007). Dengan kata lain, kegiatan menulis mutlak
  membutuhkan studi ilmiah, sedangkan kegiatan mengarang tidak.

  Pandangan tersebut tentu tidak benar. Kita tentu ingat novel "Da
  Vinci Code" yang menggemparkan. Lalu kita juga mungkin masih ingat
  "The Origin of Species" karya Charles Darwin. Keduanya berasal dari
  ranah yang berbeda, namun masing-masing disajikan dengan bahasa yang
  terkesan ilmiah dan literer.

  Akan tetapi, ada satu hal yang membedakan keduanya. Hal tersebut
  ialah dalam hal penekanannya. Meskipun sebuah karya tulis disajikan
  dengan bahasa literer, bila penekanannya menjurus ke bidang keilmuan
  -- termasuk ilmu sastra -- kita bisa mengelompokkannya ke dalam
  kegiatan menulis. Demikian sebaliknya, kegiatan menghasilkan karya
  tulis yang lebih bernuansa fiktif, meski terkesan faktual, bisa
  disebut sebagai kegiatan mengarang.

  1.2 Menulis Artikel
  Ada sejumlah pengertian mengenai artikel. Berikut beberapa di
  antaranya.

  Artikel merupakan karya tulis lengkap, misal laporan berita atau
  esai di majalah, surat kabar, dan sebagainya (KBBI 2002: 66).

  Artikel adalah sebuah karangan prosa yang dimuat dalam media massa,
  yang membahas isu tertentu, persoalan, atau kasus yang berkembang
  dalam masyarakat secara lugas (Tartono 2005: 84).

  Artikel merupakan:
  1. karya tulis atau karangan, 2. karangan nonfiksi, 3. karangan yang tak tentu panjangnya, 4. karangan yang bertujuan untuk meyakinkan, mendidik, atau
     menghibur, 5. sarana penyampaiannya adalah surat kabar, majalah, dan
     sebagainya, 6. wujud karangan berupa berita atau "karkhas" (Pranata 2002: 120).

  2. MENULIS SECARA ILMIAH POPULER

  Pada dasarnya, ada beberapa jenis model penulisan artikel.
  Model-model tersebut bisa dikelompokkan kepada tingkat kerumitannya.
  Model yang paling mudah ialah model penulisan populer. Tulisan
  populer biasanya tulisan ringan yang tidak "njelimet" dan bersifat
  hiburan. Termasuklah di dalamnya gosip. Selain itu, bahasa yang
  digunakan juga cenderung bebas (perhatikan, misalnya, bahasa yang
  digunakan di majalah GetFresh!). Model yang paling sulit ialah
  penulisan ilmiah. Model ini mensyaratkan objektivitas dan kedalaman
  pembahasan, dukungan informasi yang relevan, dan biasa diharapkan
  menjelaskan "mengapa" atau "bagaimana" suatu perkara itu terjadi,
  tanpa pandang bulu dan eksak (Soeseno 1982: 2). Dari aspek bahasa,
  tentu saja tulisan ilmiah mensyaratkan bahasa yang baku.

  Meski demikian, ada satu model penulisan yang berada di
  tengah-tengahnya. Model tersebut dikenal dengan penulisan ilmiah
  populer dan merupakan perpaduan penulisan populer dan ilmiah.
  Istilah ini mengacu pada tulisan yang bersifat ilmiah, namun
  disajikan dengan cara penuturan yang mudah dimengerti (Soeseno
  1982: 1; Eneste 2005: 171). Model inilah yang digunakan dalam
  publikasi Yayasan Lembaga SABDA pada umumnya.

  3 JENIS-JENIS ARTIKEL

  Ada beberapa jenis artikel berdasarkan dari siapa yang menulis dan
  fungsi atau kepentingannya (Tartono 2005: 85-86). Berdasarkan
  penulisnya, ada artikel redaksi dan artikel umum. Artikel redaksi
  ialah tulisan yang digarap oleh redaksi di bawah tema tertentu yang
  menjadi isi penerbitan. Sedangkan artikel umum merupakan tulisan
  yang ditulis oleh umum (bukan redaksi).

  Sedangkan dari segi fungsi atau kepentingannya, ada artikel khusus
  dan artikel sponsor. Artikel khusus adalah nama lain dari artikel
  redaksi. Sedangkan artikel sponsor ialah artikel yang membahas atau
  memperkenalkan sesuatu.

  4 MULAI MENULIS ARTIKEL

  4.1 Menguji Gagasan
  Prinsip paling dasar dari melakukan kegiatan menulis ialah
  menentukan atau memastikan topik atau gagasan apa yang hendak
  dibahas. Ketika sudah menentukan gagasan tersebut, kita bisa
  melakukan sejumlah pengujian. Pengujian ini terdiri dari lima tahap
  sebagai berikut (Georgina dalam Pranata 2002: 124; band. Nadeak
  1989: 44).

  a. Apakah gagasan itu penting bagi sejumlah besar orang?
  b. Dapatkah gagasan ini disempitkan sehingga memunyai fokus yang
     tajam?
  c. Apakah gagasan itu terikat waktu?
  d. Apakah gagasan itu segar dan memiliki pendekatan yang unik?
  e. Apakah gagasan Anda akan lolos dari saringan penerbit?

  4.2 Pola Penggarapan Artikel
  Ketika hendak menghadirkan artikel, kita tidak hanya diperhadapkan
  pada satu kemungkinan. Soeseno (1982: 16-17) memaparkan setidaknya
  lima pola yang bisa kita gunakan untuk menyajikan artikel tersebut.
  Berikut kelima pola yang dimaksudkan.

  a. Pola pemecahan topik
     Pola ini memecah topik yang masih berada dalam lingkup
     pembicaraan yang ditemakan menjadi subtopik atau bagian-bagian
     yang lebih kecil dan sempit kemudian menganalisa masing-masing.

  b. Pola masalah dan pemecahannya
     Pola ini lebih dahulu mengemukakan masalah (bisa lebih dari satu)
     yang masih berada dalam lingkup pokok bahasan yang ditemakan
     dengan jelas. Kemudian menganalisa pemecahan masalah yang
     dikemukakan oleh para ahli di bidang keilmuan yang bersangkutan.

  c. Pola kronologi
     Pola ini menggarap topik menurut urut-urutan peristiwa yang
     terjadi.

  d. Pola pendapat dan alasan pemikiran
     Pola ini baru dipakai bila penulis yang bersangkutan hendak
     mengemukakan pendapatnya sendiri tentang topik yang digarapnya,
     lalu menunjukkan alasan pemikiran yang mendorong ke arah
     pernyataan pendapat itu.

  e. Pola pembandingan
     Pola ini membandingkan dua aspek atau lebih dari suatu topik dan
     menunjukkan persamaan dan perbedaannya. Inilah pola dasar yang
     paling sering dipakai untuk menyusun tulisan.

  Kelima pola penggarapan artikel di atas dapat dikombinasikan satu
  dengan yang lain sejauh dibutuhkan untuk menghadirkan sebuah tulisan
  yang kaya.

  4.3 Menulis Bagian Pendahuluan
  Untuk bagian pendahuluan, setidaknya ada tujuh macam bentuk
  pendahuluan yang bisa digunakan (Soeseno 1982: 42). Salah satu dari
  ketujuh bentuk pendahuluan berikut ini dapat kita jadikan alternatif
  untuk mengawali penulisan artikel kita.

  a. Ringkasan
     Pendahuluan berbentuk ringkasan ini nyata-nyata mengemukakan
     pokok isi tulisan secara garis besar.

  b. Pernyataan yang menonjol
     Terkadang disebut juga sebagai "pendahuluan kejutan", diikuti
     kalimat kekaguman untuk membuat pembaca terpesona.

  c. Pelukisan
     Pendahuluan yang melukiskan suatu fakta, kejadian, atau hal untuk
     menggugah pembaca karena mengajak mereka membayangkan bersama
     penulis apa-apa yang hendak disajikan dalam artikel itu nantinya.

  d. Anekdot
     Pembukaan jenis ini sering menawan karena memberi selingan kepada
     nonfiksi, seolah-olah menjadi fiksi.

  e. Pertanyaan
     Pendahuluan ini merangsang keingintahuan sehingga dianggap
     sebagai pendahuluan yang bagus.

  f. Kutipan orang lain
     Pendahuluan berupa kutipan seseorang dapat langsung menyentuh
     rasa pembaca, sekaligus membawanya ke pokok bahasan yang akan
     dikemukakan dalam artikel nanti.

  g. Amanat langsung
     Pendahuluan berbentuk amanat langsung kepada pembaca sudah tentu
     akan lebih akrab karena seolah-olah tertuju kepada perorangan.

  Meskipun merupakan pendahuluan, bagian ini tidaklah mutlak ditulis
  pertama kali. Mengingat tugasnya untuk memancing minat dan
  mengarahkan pembaca ke arah pembahasan, sering kali menulis bagian
  pendahuluan ini menjadi lebih sulit daipada menulis judul atau tubuh
  tulisan. Oleh karena itu, Soeseno (1982: 43) menyarankan agar
  menuliskan bagian lain terlebih dahulu.

  4.4 Menulis Bagian Pembahasan atau Tubuh Utama
  Bagian ini disarankan dipecah-pecah menjadi beberapa bagian.
  Masing-masing dibatasi dengan subjudul-subjudul. Selain memberi
  kesempatan agar pembaca beristirahat sejenak, subjudul itu juga
  bertugas sebagai penyegar, pemberi semangat baca yang baru (Soeseno
  1982: 46). Oleh karena itu, ada baiknya subjudul tidak ditulis
  secara kaku.

  Pada bagian ini, kita bisa membahas topik secara lebih mendalam.
  Uraikan persoalan yang perlu dibahas, bandingkan dengan persoalan
  lain bila diperlukan.

  4.5 Menutup Artikel
  Kerangka besar terakhir dalam suatu karya tulis ialah penutup.
  Bagian ini biasanya memuat simpulan dari isi tulisan secara
  keseluruhan, bisa juga berupa saran, imbauan, ajakan, dan sebagainya
  (Tartono 2005: 88).

  Ketika hendak mengakhiri tulisan, kita tidak mesti terang-terangan
  menuliskan subjudul berupa "Penutup" atau "Simpulan". Penutupan
  artikel bisa kita lakukan dengan menggunakan gaya berpamitan
  (Soeseno 1982: 48). Gaya pamit itu bisa ditandai dengan pemarkah
  seperti "demikian", "jadi", "maka", "akhirnya", dan bisa pula berupa
  pertanyaan yang menggugah pembaca.

  4.6 Pemeriksaan Isi Artikel
  Ketika selesai menulis artikel, hal selanjutnya yang perlu kita
  lakukan ialah melakukan pemeriksaan menyeluruh. Untuk meyakinkan
  bahwa tulisan yang kita hasilkan memang baik, kita harus rajin
  memeriksa tulisan kita. Untuk memudahkan pengoreksian artikel,
  beberapa pertanyaan berikut perlu kita jawab (Pranata 2002:
  129-130).

  Untuk pembukaan, misalnya, apakah kalimat pembuka bisa menarik
  pembaca? Dapatkah pembaca mulai mengerti ide yang kita tuangkan?
  Jika tulisan kita serius, adakah kata-kata yang sembrono? Apakah
  pembukaan kita menyediakan cukup banyak informasi?

  Untuk isi atau tubuh, apakah kalimat pendukung sudah benar-benar
  mendukung pembukaan? Apakah masing-masing kalimat berhubungan dengan
  ide pokok? Apakah ada urutan logis antarparagraf?

  Untuk simpulan, apakah disajikan dengan cukup kuat? Apakah mencakup
  semua ide tulisan? Bagaimana reaksi kita terhadap kata-kata dalam
  simpulan tersebut? Sudah cukup yakinkah kita bahwa pembaca pun akan
  memiliki reaksi seperti kita?

  Jika kita menjawab "tidak" untuk tiap pertanyaan tersebut, berarti
  kita perlu merevisi artikel itu dengan menambah, mengganti,
  menyisipi, dan menulis ulang bagian yang salah.

  5 ASPEK BAHASA DALAM ARTIKEL

  Melihat target pembacanya yang adalah khalayak umum, kita perlu
  mencermati bahasa yang kita gunakan dalam menulis artikel ilmiah
  populer ini. Meskipun bersifat ilmiah (karena memakai metode
  ilmiah), bukan berarti tulisan yang kita hasilkan ditujukan untuk
  kalangan akademisi. Sebaliknya, artikel ilmiah populer ditujukan
  kepada para pembaca umum.

  Mengingat kondisi tersebut, kita perlu membedakan antara kosakata
  ilmiah dan kosakata populer. Kata-kata populer merupakan kata-kata
  yang selalu akan dipakai dalam komunikasi sehari-hari, baik antara
  mereka yang berada di lapisan atas maupun di lapisan bawah, demikian
  sebaliknya. Sedangkan kata-kata yang biasa dipakai oleh kaum
  terpelajar, terutama dalam tulisan-tulisan ilmiah,
  pertemuan-pertemuan resmi, diskusi-diskusi khusus disebut kata-kata
  ilmiah (Keraf 2004: 105-106).

  Berikut daftar kata ilmiah dan populer.

  KATA ILMIAH             KATA POPULER
  --------------------------------------------
  analogi                 kiasan
  anarki                  kekacauan
  bibliografi             daftar pustaka
  biodata                 biografi singkat
  definisi                batasan
  diskriminasi            perbedaan perlakuan
  eksentrik               aneh
  final                   akhir
  formasi                 susunan
  format                  ukuran
  friksi                  bagian, pecahan
  indeks                  penunjuk
  konklusi                kesimpulan
  kontemporer             masa kini, mutakhir
  kontradiksi             pertentangan
  menganalisa             menguraikan
  prediksi                ramalan
  pasien                  orang sakit

  Sumber Pustaka:

  Eneste, Pamusuk. 2005. "Buku Pintar Penyuntingan Naskah". Edisi
    Kedua. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  Kamandobat, Faisal. 2007. Terjebak antara Pengarang dan Penulis,
    dalam "Kompas", Sabtu, 24 Maret 2007. Hlm. 14.
  Keraf, Gorys. 2004. "Diksi dan Gaya Bahasa". Jakarta: Gramedia
    Pustaka Utama.
  Nadeak, Wilson. 1989. "Bagaimana Menjadi Penulis Kristiani yang
    Sukses". Bandung: Yayasan Kalam Hidup.
  Pranata, Xavier Quentin. 2002. "Menulis dengan Cinta: Belajar
    Mandiri dan Mengajarkan Kembali Jurnalisme Kasih Sayang".
    Yogyakarta: Yayasan ANDI.
  Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2002. "Kamus Besar
    Bahasa Indonesia". Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
  Soeseno, Slamet. 1982. "Teknik Penulisan Ilmiah-Populer". Jakarta:
    Gramedia.
  Tartono, St. S. 2005. "Menulis di Media Massa Gampang!". Yogyakarta:
    Yayasan Pustaka Nusatama.


                             POJOK BAHASA
                             ------------

                   PENERBIT DAN ANAK PERUSAHAANNYA

  Masih berkenaan dengan tulisan mengenai bibliografi sebelum ini,
  ternyata ada juga informasi lain yang bisa memusingkan pencantuman
  bibliogafi. Kali ini menyangkut masalah nama penerbit.

  Sering kali penerbit yang sudah maju, seperti Gramedia, harus
  dipecah ke dalam berbagai divisi penerbitan. Seperti kita tahu,
  selain Gramedia Pustaka Utama, ada Elexmedia Komputindo, Gramedia
  Widiasarana Indonesia (Grasindo), juga Bhuana Ilmu Populer (BIP).
  Penerbit ANDI Yogyakarta juga sudah mulai mengikuti jejak Gramedia.
  Ada Penerbit Buku dan Majalah Rohani ANDI (PBMR ANDI), ada juga
  Penerbit ANDI untuk buku-buku umum dan populer. Kalau menilik ke
  luar negeri, kondisi demikian tentu bukan hal asing lagi. Semakin
  maju sebuah penerbit, semakin besar kemungkinan dan kebutuhan untuk
  membuka divisi penerbitan yang lain.

  Namun sekali lagi, hal ini, bagi sebagian orang, tampaknya memang
  memusingkan, yang mana yang mau dicantumkan dalam bibliografi?

  Sebut saja contohnya, buku From Jerusalem To Irian Jaya: A
  Biographical History of Christian Missions yang ditulis dengan
  sangat baik oleh Ruth A. Tucker. Buku yang memaparkan sejarah misi
  dari abad pertama kekristenan ini merupakan referensi yang sangat
  baik dalam dunia misi.

  Pada halaman tiga, tercantum:

                            FROM JERUSALEM

                                  TO

                              IRIAN JAYA


                            A BIOGRAPHICAL
                              HISTORY OF
                          CHRISTIAN MISSIONS


                            RUTH A. TUCKER


                            Academie Books
          1415 Lake Drive, S.E., Grand Rapid Michigan 49506
                   from Zondervan Publishing House

  Sebagai salah satu penerbit besar dari Amerika Serikat, nama
  Zondervan Publishing House ternyata bisa memancing kita untuk
  mencantumkannya sebagai penerbit buku misi tersebut. Benarkah
  demikian?

  Kalau mencermati informasi di atas, seharusnya tidak. Karena pada
  seksi penerbit, yang tercantum paling atas adalah Academie Books,
  bukan Zondervan Publishing House. Lihat pula kata from di baris
  akhir itu. Hal ini cukup menunjukkan bahwa Zondervan Publishing
  House hanya merupakan induk perusahaan daripada penerbit yang
  mencetak buku ini.

  Kalau kita mencermati buku-buku lain, katakanlah itu dari Gramedia,
  kita bisa juga menemukan informasi bahwa buku Bhuana Ilmu Populer,
  misalnya, merupakan anak perusahaan penerbit Gramedia. Informasi itu
  berbunyi "Kelompok Gramedia".

  Maka, dalam bibliografi buku Ruth A. Tucker tersebut, kita harus
  menuliskan

  Tucker, Ruth A. 1988. From Jerusalem To Irian Jaya: A Biographical
    History of Christian Missions. Grand Rapid, Michigan: Academie
    Books.

  daripada

  Tucker, Ruth A. 1988. From Jerusalem To Irian Jaya: A Biographical
    History of Christian Missions. Amerika: The Zondervan Publishing
    House.

  Diambil dari:
  Nama blog : Corat-Coret Bahasa
  Penulis   : indonesiasaram
  Alamat URL: http://indonesiasaram.wordpress.com/2007/04/30/penerbit-dan-anak-perusahaannya/


                             STOP PRESS!
                             -----------

                GUBUK Online: Gudangnya Pencinta Buku

  Situs ini merupakan salah satu situs Indonesia yang menyajikan
  beragam resensi buku. Dengan sembilan kategori jenis buku, mulai
  dari Alkitab, Leadership, Konseling, sampai yang berlabel Umum, bisa
  Anda temukan di sini. Dihadirkan oleh Yayaysan Lembaga SABDA, situs
  ini telah berkembang dengan menggunakan CMS Drupal. Anda bisa
  menjadi bagian di dalamnya dengan melakukan pendaftaran sederhana.
  Sebagai anggota, Anda yang beroleh berkat bisa mengomentari tiap
  tulisan yang ada, plus dapat dengan mudah mengirimkan artikel,
  kesaksian, dan resensi buku. Atau bila ingin menikmati buku versi
  elektronik, Anda tinggal mengunduhnya dari menu Download. Nah, masih
  terbuka peluang bagi Anda untuk berbagi berkat melalui buku.
  Segeralah bergabung dan turut mengembangkan GUBUK Online
  bersama-sama.

  ==> http://gubuk.sabda.org/

______________________________________________________________________

Penanggung jawab: Raka Sukma Kurnia
Berlangganan    : Kirim e-mail ke
                  subscribe-i-kan-penulis(at)hub.xc.org
Berhenti        : Kirim e-mail ke
                  unsubscribe-i-kan-penulis(at)hub.xc.org
Kirim bahan     : Kirim e-mail ke
                  penulis(at)sabda.org
Arsip e-Penulis : http://www.sabda.org/publikasi/e-penulis/
Situs CWC       : http://www.ylsa.org/cwc/
Situs Pelitaku  : http://pelitaku.sabda.org/
______________________________________________________________________
      Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA.
             Didistribusikan melalui sistem network I-KAN.
                     Copyright(c) e-Penulis 2007
                  YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa/
                       http://katalog.sabda.org/
                    Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                 No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org