Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-penulis/30

e-Penulis edisi 30 (11-4-2007)

Menumbuhkan Budaya Menulis pada Anak


______________________________________________________________________

                              e-Penulis
                       (Menulis untuk Melayani)
                         Edisi 030/April/2007

                 MENUMBUHKAN BUDAYA MENULIS PADA ANAK
                 ------------------------------------

  = DAFTAR ISI =
    * Dari Redaksi
    * Renungan Paskah   : Bersaing atau Bergabung
    * Artikel 1         : Menumbuhkan Budaya Menulis pada Anak
    * Artikel 2         : Biarlah Anak Mengekspresikan Dirinya
                          dengan Menulis
    * Asah Pena         : Enid Blyton


                             DARI REDAKSI
                             ------------

  Salam Sejahtera,

  Belakangan ini, pandangan bahwa menulis merupakan kegiatan yang
  sulit dilakukan, termasuk oleh anak-anak, tampaknya mulai berubah.
  Hal ini terbukti dari adanya fenomena munculnya penulis cilik yang
  mewarnai pustaka kita. Bermula dari iseng menuangkan perasaan ke
  dalam tulisan, menulis cerita tentang sebuah perjalanan atau cerita
  tokoh yang menjadi imajinasinya, ternyata malah memperlihatkan bahwa
  mereka adalah calon penulis cilik yang berbakat.

  Penggalakan budaya menulis kepada anak-anak memang sudah sepatutnya
  menjadi perhatian kita bersama, seiring digalakkannya kegiatan
  membaca. Edisi e-Penulis kali ini sengaja menyoroti hal tersebut.
  Kiranya membantu Anda memotivasi anak-anak di sekitar Anda untuk
  memaksimalkan bakat menulisnya. Jangan lewatkan pula Asah Pena yang
  kali ini mengulas Enid Blyton, yang memulai karier kepenulisannya
  ketika berusia empat belas tahun.

  Dalam rangka memperingati Paskah 2007, selain menyertakan sebuah 
  renungan Paskah, kami juga turut mengucapkan SELAMAT PASKAH 2007! 
  Kiranya kuasa kebangkitan Kristus membangkitkan semangat kita untuk 
  turut bersaksi melalui dunia literatur.

  Penanggung Jawab e-Penulis,
  Kristina Dwi Lestari


                           RENUNGAN PASKAH
                           ---------------
                       BERSAING ATAU BERGABUNG
                         Bacaan: Rut 4:13-22

  Saat berjalan-jalan di kampus suatu hari, seorang profesor seminari
  berpapasan dengan seorang penjaga kampus yang sedang membaca Alkitab
  pada jam makan siang. Sang profesor bertanya apa yang sedang
  dibacanya. "Kitab Wahyu," kata sang penjaga. "Saya yakin Anda tidak
  memahaminya," kata sang profesor dengan sombong. "Saya paham, kok,"
  jawabnya. "Arti kitab Wahyu adalah Yesus menang."

  Saat menghadapi tantangan hidup, sangatlah penting untuk mengingat
  bahwa pada akhirnya Allah selalu menang! Dan, karena segala
  rencana-Nya selalu berada di jalur kemenangan, maka jauh lebih
  bijaksana jika kita bergabung dengan kehendak-Nya daripada bersaing
  dengannya.

  Dalam kisah Rut, lewat tuntunan Allah, Boas menyelamatkan Rut dan
  Naomi dari kemiskinan dan rasa malu karena tidak memiliki keturunan.
  Rut bisa saja menjadi pedih hati karena berstatus sebagai janda
  muda, dan Boas bisa saja berpikir bahwa sebagai orang asing, Rut
  tidak layak diperhatikan. Namun, mereka menyadari campur tangan
  Allah di dalam situasi mereka dan bergabung dengan rencana-Nya untuk
  menyediakan kebutuhan-kebutuhan Rut. Bagian yang terbaik adalah
  kisah mereka tidak berakhir seperti itu saja. Keselamatan bagi dunia
  akan datang melalui keturunan-keturunan mereka -- pertama-tama Daud
  dan kemudian Yesus (Matius 1:5-16).

  Kita dapat bersaing dengan rencana Allah dan mengejar rencana kita
  sendiri. Atau, kita dapat bergabung dengan rencana Allah dan berada
  di pihak yang menang. Pilihan ada di tangan kita --JMS


  Jangan pilih jalan yang tak diberkati Allah
  Sebab kegagalan akan datang dengan pasti;
  Pilihlah jalan-Nya yang berkemenangan
  Dan rencana-Nya yang tak tertandingi. --D. De Haan

        RENCANA-RENCANA ALLAH SELALU MENGARAH PADA KEMENANGAN

  Diambil dari:
  Publikasi e-Renungan Harian
  Edisi       : Selasa, 10 April 2007
  Alamat situs: http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2007/04/10/


                              ARTIKEL 1
                              ---------
                MENUMBUHKAN BUDAYA MENULIS PADA ANAK
                   Dirangkum oleh: Puji Arya Yanti

  Kegiatan menulis, pada dasarnya, merupakan kegiatan yang baik
  dilakukan oleh anak. Dengan menulis, kreativitas anak dapat
  ditingkatkan. Demikianlah salah satu alasan menulis yang dikemukakan
  Caryn Mirian-Goldberg dalam bukunya, "Daripada Bete Nulis Aja!".

  Dengan menulis, seorang anak ibarat membenamkan diri dalam proses
  kreatif. Karena ketika ia menulis, itu berarti anak menciptakan
  sesuatu, yang juga berarti melontarkan pertanyaan-pertanyaan,
  mengalami keraguan dan kebingungan, sampai akhirnya menemukan
  pemecahan. Dan ketika proses kreatif tersebut semakin dilatih, anak
  akan semakin mudah untuk mengalihkan keahliannya kepada bidang lain
  yang juga membutuhkan solusi kreatif, seperti sekolah maupun
  kegiatan-kegiatan lainnya.

  Dari kegiatan menulis ini pula anak dapat memperoleh manfaat, di
  antaranya sebagai berikut.

  - Anak dapat menyatakan perasaannya tentang apa yang dialami dalam
    bentuk tulisan.
  - Anak dapat menyatukan pikiran ketika menuangkan ide dengan
    kata-kata.
  - Anak dapat menunjukkan kasih kepada sesama, misalnya dengan
    menulis surat ucapan terima kasih atau ulang tahun kepada orang
    tua, teman, atau bahkan guru.
  - Anak bisa meningkatkan daya ingat dengan cara membuat dan menulis
    informasi tentang sesuatu.

  KIAT MENUMBUHKAN BUDAYA MENULIS PADA ANAK

  Mengingat banyaknya manfaat kegiatan menulis bagi anak, budaya
  menulis tentu perlu ditumbuhkembangkan. Untuk itu, pertama-tama,
  tumbuhkan dulu kecintaan dan kebiasaan anak dalam hal membaca. Satu
  hal yang perlu diingat, menulis sangat berbeda dengan berbicara.
  Tentunya komunikasi melalui tulisan cenderung lebih sulit. Meskipun
  demikian, bukan tidak mungkin bisikan dan teriakan, seperti ketika
  berbicara, diwujudkan dalam bentuk tulisan. Hanya saja, untuk
  mengungkapkannya dibutuhkan kecerdasan bahasa. Dan membaca menjadi
  solusinya. Dengan banyak membaca, rasa kebahasaan anak akan
  berkembang.

  Ketika anak baru memulai menulis, tidak perlu mengajarkan tata
  bahasa pada anak. Sebagian besar pengetahuan ketatabahasaan ini
  sifatnya berkembang sehingga bisa dikuasai anak sedikit demi
  sedikit. Secara alami, anak akan belajar berbicara dari bahasa yang
  mereka dengar. Anak juga akan belajar menulis dalam bahasa yang
  mereka baca, tentunya bila mereka banyak membaca karena buku adalah
  masukan untuk tulisan yang baik.

  Menuntut kesempurnaan tulisan anak adalah kerangka berpikir yang
  buruk untuk menjadikannya seorang penulis. Tidak hanya menyingkirkan
  kreativitas dan keceriaan, hal tersebut juga bisa menimbulkan
  kelumpuhan besar bagi penulis. Gunakan kata-kata pujian sebagai cara
  yang efektif untuk memotivasi anak dalam menulis. Untuk saran dan
  kritik atas tulisan anak, tunggu sampai anak betul-betul mulai
  menganggap diri mereka penulis karena saat itu mereka lebih berminat
  pada cara-cara menulis yang lebih baik. Namun, tetap usahakan
  memberi saran dan kritik dengan cara yang hati-hati.

  Satu hal yang juga perlu dihindari adalah membaca tulisan anak tanpa
  seizin mereka. Jangan pernah melakukan hal itu! Tunjukkan saja kalau
  Anda tertarik dengan tulisan mereka dan untuk membacanya bertanyalah
  terlebih dulu dan jangan memaksa atau mencuri-curi untuk membaca
  tulisan anak. Selain itu, jangan menyensor tulisan anak. Tulisan
  anak yang betul-betul tidak bisa diterima biasanya hanyalah musiman.
  Jangan khawatir ketika hal itu terjadi karena masa tersebut akan
  berakhir juga. Bersyukur dan bergembiralah saja karena anak
  memperlihatkan tulisannya yang seperti itu kepada Anda. Itu berarti
  mereka mempercayai Anda.

  Seperti halnya membaca, selera menulis anak bisa berbeda-beda.
  Oleh karena itu, doronglah mereka untuk menulis sesuatu yang mereka
  senangi. Tidak menjadi masalah apa jenis tulisan anak. Malahan,
  semakin banyak jenis tulisan yang dibuat, semakin terampil pula
  mereka jadinya.

  Berikut ini empat bentuk kegiatan menulis yang bisa dikerjakan guna
  menumbuhkan budaya menulis pada anak.

  1. Menulis Puisi

     Menulis puisi merupakan cara yang mudah untuk memulai usaha
     menumbuhkan budaya menulis pada anak. Penulisan puisi bisa
     menggugah rasa kebahasaan lewat permainan dengan kata-kata dan
     struktur kalimat. Meskipun menulis puisi mungkin tidak disukai
     oleh semua anak, kita bisa menyediakan berbagai bentuk puisi
     untuk menunjukkan pada anak-anak bahwa membuat puisi itu mudah
     dan menyenangkan untuk mengekspresikan perasaan dan ide pikiran.

  2. Menulis Kalimat Deskripsi

     Kegiatan menulis ini dilakukan dengan cara, anak menuliskan
     kalimat-kalimat deskripsi dari gambar-gambar yang mereka miliki.
     Misalnya, gambar kuda. Ajak anak menjelaskan seekor kuda lewat
     tulisan. Tulisan tersebut bisa dipasang di bawah gambar kuda yang
     dimiliki anak. Kegiatan menulis deskripsi ini dapat merangsang
     anak untuk mengungkapkan suatu bentuk/benda yang dipahami anak
     melalui tulisan.

  3. Menulis Doa

     Menuliskan doa tidak dimaksudkan untuk menunjukkan bagaimana cara
     anak berkomunikasi dengan Allah. Namun, hal ini dapat menolong
     anak untuk lebih mengerti permohonan doa yang disampaikan dan
     mengatur cara penyampaian idenya. Menulis doa sekaligus juga
     dapat menolong anak-anak untuk mengetahui bagaimana Allah
     menjawab doa-doa mereka.

  4. Menulis Jurnal atau Catatan Harian

     Menulis buku harian atau jurnal bisa menjadi aktivitas menulis
     yang baik bagi anak. Kegiatan ini bisa menciptakan hubungan intim
     antara anak dan kegiatan tulis-menulis. Hal ini juga bisa membuat
     anak melihat betapa kuatnya tulisan dan banyaknya wawasan tentang
     pengalaman sehari-hari yang diperoleh anak dari tulisan.

  Pada akhirnya, untuk menumbuhkan budaya menulis pada anak, anak
  perlu dibiasakan dengan tulis menulis itu sendiri dan menjadikan
  kegiatan menulis sebagai suatu hal yang menyenangkan. Perlu kerja
  keras, kesabaran, dan bimbingan untuk meraihnya. Namun hasilnya,
  anak akan memetik keuntungan sepanjang hidupnya melalui kegiatan
  ini.

  Sumber bacaan:
  Choun, Robert J. dan Michael S. Lawson. 1993. "The Complete
    Handbook of Children`s Ministry". Nashville: Thomas Nelson
    Publishers.
  Haystead, Wes dan Sheryl Haystead. 1992. "Sunday School Smart
    Pages". Ventura: Gospel Light.
  Leonhardt, Mary. 2001. ",99 Cara Menjadikan Anak Anda Bergairah
    Menulis:. Bandung: Kaifa.
  Mirriam-Goldberg, Caryn. 2003. "Daripada Bete Nulis Aja!".
    Bandung: Kaifa.


                              ARTIKEL 2
                              ---------
          BIARLAH ANAK MENGEKSPRESIKAN DIRINYA DENGAN MENULIS
                      Oleh: Kristina Dwi Lestari

  Ada orang tua yang menganggap bahwa tingkat kecerdasan anak diukur
  dari IQ-nya saja. Anak yang mempunyai tingkat intelektual yang
  tinggi adalah anak yang mampu mengerjakan soal matematika atau
  pelajaran eksakta daripada pelajaran lainnya. Hal ini jelas sebuah
  pandangan yang harus sedikit diubah dalam masyarakat kita, khususnya
  para orang tua. Tingkat kecerdasan anak sekarang ini tidak hanya
  diukur dari IQ saja, namun juga tingkat spiritualitas (SQ) dan
  emosionalnya (EQ). Kita juga harus menyadari bahwa seorang anak
  mempunyai tingkat kecerdasan dan bakat, serta minat yang
  berbeda-beda.

  Berbicara masalah bakat, ada anak yang berbakat dalam hal seni,
  menulis, olahraga, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, peranan
  orang tua dalam memupuk bakat anak sejak usia dini agar berkembang
  secara optimal adalah sangat penting. Pada artikel di atas kita
  mendapat pemahaman betapa menumbuhkan budaya menulis kepada anak
  merupakan hal yang perlu kita lakukan kepada anak-anak kita.

  Beberapa penulis cilik yang bermunculan akhir-akhir ini membuktikan
  bahwa budaya menulis mulai diminati oleh anak. Sebut saja Izzati,
  seorang novelis termuda asal Bandung yang berhasil dinobatkan
  sebagai novelis termuda oleh MURI. Gadis kelas VI SD ini telah
  menghasilkan beberapa karya, di antaranya novel berjudul "Powerful
  Girls", "Kado untuk Ummi", dan lain-lain. Ada juga A. Ataka A.R.,
  salah satu penulis cilik yang telah membuat dua novel. Ia menuturkan
  bahwa menulis dilakukannya saat merasa frustasi atau bosan. Dalam
  keadaan inilah dia menyalurkan idenya dengan membiarkan jarinya
  menari di atas kertas. Jangan pernah takut salah atau takut cerita
  kita jelek. Dan jangan menanti mood datang, tapi kitalah yang harus
  menciptakan mood itu, kata Ataka dalam pernyataannya seperti dikutip
  dari majalah Matabaca.

  BUDAYA MEMBACA SEBAGAI MODAL PENTING DALAM MENULIS

  Apa betul kegiatan membaca dapat membantu seseorang untuk kreatif?
  Jordan E. Ayan menjelaskan bahwa membaca dapat memicu kreativitas.
  Buku mengajak kita membayangkan dunia beserta isinya, lengkap dengan
  segala kejadian, lokasi, dan karakter. Bayangan yang terkumpul dalam
  tiap buku yang melekat dalam pikiran, membangun sebuah bentang ide
  dan perasaan yang menjadi dasar dari ide kreatif (Hernowo 2003: 37).
  Padahal salah satu faktor yang mendorong agar anak mempunyai minat
  menulis ialah kebiasaan membacanya.

  Sudahkah minat baca anak kita tinggi? Ini merupakan pertanyaan yang
  sedikit ironis karena pada kenyatannya, minat baca anak-anak
  Indonesia sangatlah rendah. Banyak fakta menunjukkan bahwa anak-anak
  kita lebih suka bermain video game daripada duduk berlama-lama untuk
  membaca sebuah buku. Murti Bunanta menganjurkan, sedari kecil,
  anak-anak perlu didekatkan pada bacaan. Penelitian Prof. Benyamin
  Bloom mengungkapkan, saat berusia empat tahun, anak berada dalam
  periode suka meniru perbuatan orang tuanya tanpa terkecuali. Jadi
  dapat diharapkan, jika orang tua suka membaca, anak juga akan
  melakukan hal yang sama. Sebagai contoh, jika sejak kecil anak sudah
  dibiasakan dengan bacaan (sastra), mereka akan didekatkan dengan
  kehidupan manusia (Bunanta 2004: 85). Dengan membaca karya sastra
  seperti cerpen, puisi, dll., mereka akan belajar banyak hal dan
  memuliakan perasaan (Kartono 2001: 116).

  Boleh dikatakan, membaca dan menulis bak dua sisi mata uang yang
  tidak dapat dipisahkan. Dengan membaca, wawasan anak akan semakin
  berkembang. Negara yang terencana dan tersistematis membangun negara
  dan bangsanya melalui gerakan pendidikan massal dengan sikap ilmiah,
  rasional, kritis, dan rajin membaca apa saja dan di mana saja, tegas
  Suryopratomo, pemimpin redaksi/penanggung jawab harian "Kompas"
  dalam pernyataannya yang dikutip dalam Matabaca edisi Juli 2004.

  MENULIS ADALAH SENI

  Kita mungkin masih ingat ketika sewaktu kecil kita suka sekali
  menulis suatu kejadian dalam sebuah diari. Dengan mudahnya kita
  meluapkan segala perasaan itu ke dalam sebuah untaian kata-kata dan
  akhirnya sebuah cerita. Kita tidak menyadari bahwa kegiatan itu
  merupakan bagian dari proses kreatif yang sedang kita ciptakan
  sebagai salah satu bentuk seni. Jika bakat tersebut sudah terlihat
  pada anak Anda, jangan sia-siakan. Berikan ruang buat mereka untuk
  mengembangkan bakat tersebut.

  Menulis merupakan sebuah seni. Karena dalam menuangkan ide seorang
  penulis ke dalam sebuah tulisan itu bebas, sesuai dengan kreativitas
  dan daya seni seseorang. Kata "seni" mengandung arti keahlian
  membuat karya yang bermutu atau kesanggupan akal untuk menciptakan
  sesuatu yang bernilai tinggi dan luar biasa. Menulis, sesuai dengan
  pendapat Tony Tedjo, berarti menuangkan isi hati si penulis ke dalam
  bentuk tulisan sehingga maksud hati penulis bisa diketahui banyak
  orang melalui tulisan yang disajikan. Setiap anak mempunyai potensi
  untuk menulis. Biarkan imajinasinya mereka tumpahkan dalam cerita
  yang mereka ciptakan. A. Ataka A.R. mengatakan bahwa dia seperti
  mempunyai dunia sendiri manakala dia sedang menulis sebuah cerita.
  Novel pertama yang dia ciptakan dengan judul "Misteri Pedang
  Skinhead# 1" yang diterbitkan oleh Penerbit Alenia, dia selesaikan
  dalam waktu satu tahun. Kita dapat membayangkan betapa luar biasa
  imajinasi yang ada di otak mereka. "Yang dibutuhkan dari seorang
  penulis adalah 10% bakat, sisanya 90% adalah kemauan dan latihan,"
  begitulah pengakuan dari Gary Provost sebagaimana dikutip Tony
  Tedjo.

  BEKERJA SAMA DENGAN PENERBIT

  Benar jika nanti akan banyak karya dari anak untuk anak. Anak tidak
  lagi membaca karya yang orang dewasa ciptakan bagi mereka. Bisa jadi
  mereka dapat menciptakan karya bagi anak yang lain. Hal ini tidak
  menutup kemungkinan bahwa karya-karya mereka akan memberikan
  motivasi bagi teman-teman sebayanya yang mempunyai minat yang sama,
  namun malu untuk mengekspresikan dirinya dengan menulis. Sebuah
  stimulus yang bagus jika banyak penerbit yang mau menerbitkan karya
  dari penulis anak-anak. Bukan tidak mungkin nanti banyak penerbit
  yang akan kerepotan dengan banyaknya naskah yang ditulis oleh
  anak-anak masuk ke meja penerbit.

  Ali Muakhir, manajer penerbitan DAR!Mizan, mengatakan bahwa
  anak-anak harus didengar dan diapresiasi keinginannya sambil sedikit
  diarahkan, bukan diberi masukan, karena akan meningkatkan adrenalin
  mereka untuk menghasilkan karya yang optimal. Dan satu lagi, jangan
  ada pemaksaan terhadap mereka. Dia menambahkan bahwa penerbitannya
  tidak akan mengedit karya mereka seperti penulis dewasa. Penerbit
  ingin menjaga keorisinalan karya mereka. Oleh karenanya, penerbitnya
  hanya akan mengedit 5% dari naskah yang ada. Itupun harus
  didiskusikan terlebih dahulu dengan penulis maupun dengan orang
  tuanya.

  Potensi-potensi kecil itu menurut Ali Muakhir harus senantiasa
  dipupuk, baik secara individu, yaitu dengan melibatkan orang tua
  untuk memberi motivasi dan fasilitas untuk terus berkarya, atau
  secara bersama-sama dengan mengadakan temu penulis atau memberikan
  info- info yang diperlukan mereka.

  Mel Levine, salah seorang pakar pendidikan anak, menekankan bahwa
  sangatlah penting untuk menumbuhkan dan meningkatkan kelebihan pada
  anak. Lebih lagi pada minat yang terfokus, perlu juga dipupuk.
  Pikiran manusia itu berkembang dengan minat yang mendalam pada
  bidang yang menarik baginya. Minat pada suatu bidang bisa membuat
  kita mahir dalam hal tersebut (Levine 2004: 363-365). Oleh sebab
  itu, orang tua dan guru perlu membantu menemukan hal yang diminati
  anak dengan sepenuh hati. Kalau ada beberapa penerbit yang menaruh
  perhatian pada perkembangan para penulis cilik yang notabene adalah
  calon penulis di masa mendatang, maka kita patut menyambut gembira
  hal tersebut. Selamat mendukung anak Anda dalam proses kreatif yang
  sedang mereka ciptakan.


  Daftar bacaan:

  Bunanta, Murti. 2004. "Buku, Mendongeng dan Minat Membaca". Jakarta:
     Penerbit Tangga.
  Hernowo. 2003. "Quantum Reading". Bandung: Mizan Learning Centre.
  Kartono, ST. 2001. "Menabur Benih Keteladanan". Yogyakarta: KEPEL
     Press.
  Levine, Mel. 2004. "Menemukan Bakat Istimewa Anak". Jakarta:
     Gramedia Pustaka Utama.
  Muakhir, Ali. 2006. Kecil-Kecil Punya Karya, dalam "Matabaca"
     Vol.4/No.7/Maret 2006. Hlm. 11.
  Parera, Frans.M. 2004. Buku Sebagai Kultur Product, dalam "Matabaca"
     Vol.2/No.11/Juli 2004. Hlm. 10 -- 11.
  Tedjo, Tony. "Menulis Seni Mengungkapkan Hati", dalam
     http://www.sabda.org/pelitaku/node/225.


                              ASAH PENA
                              ---------
                             ENID BLYTON
                  Diringkas oleh: Raka Sukma Kurnia

  Enid Mary Blyton lahir di flat kecil di atas sebuah toko di Lordship
  Lane, East Dulwich, South London pada tanggal 11 Agustus 1897. Ia
  merupakan putri pertama dari pasangan Thomas Carey Blyton dan
  Theresa Mary Hamilton. Belum genap setahun usianya, Enid menderita
  sakit parah dan hampir meninggal. Namun, ia kembali sehat.

  Keluarga ini kemudian pindah ke Beckenham, Kent. Di sinilah Hanly,
  anak kedua Thomas dan Theresa lahir, tepatnya pada tahun 1899. Tiga
  tahun kemudian, Carey, anak terakhir keluarga ini pun lahir. Saat
  itu, keluarga Blyton telah pindah ke rumah yang lebih besar di
  Clockhouse Road 31.

  Enid mulai bersekolah ketika berusia sepuluh tahun. Di sekolah, ia
  menjadi murid yang populer. Bersama Mirabel Davies dan Mary
  Attenborough, Enid membuat sebuah majalah bernama "Dab". Bila
  Mirabel menulis puisi dan Mary menggambar ilustrasinya, Enid menulis
  cerita pendek.

  Sejak kecil, Enid sangat gemar membaca. Ia sangat menyukai "Alice In
  Wonderland" karya Lewis Carroll, "Little Women" karya Louisa Alcott,
  "The Princess and the Goblin" karya George Macdonald, dan "The Coral
  Island" karya R.N. Ballantyne.

  Namun, setelah menjalani hidup yang tidak harmonis, kedua orang tua
  Enid akhirnya bercerai. Kondisi ini jelas sangat memukul Enid. Tak
  heran bila kemudian ia sering menulis, "ayahnya tak memerhatikan
  keluarganya", "ayahnya pergi", "ayahnya meninggal", dan
  ungkapan-ungkapan sejenis lainnya dalam cerita-ceritanya.

  Kemudian Enid dan adik-adiknya dibawa pindah ke Elm Road 14 di
  Beckenham, Kent. Diliputi kesedihan, Enid mulai menulis. Sejumlah
  puisi dan cerita-ceritanya ia kirim ke media massa. Sayangnya selalu
  ditolak.

  Meski demikian, pada usia empat belas, Enid memenangi lomba menulis
  puisi anak-anak. Ketika itu ia mendapat pujian dari Arthur Mee,
  seorang penulis yang mendorongnya untuk terus menulis.

  Ketika mendapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke Sekolah
  Musik Guildhall, Enid menampiknya. Meski hal itu merupakan impian
  ayahnya, Enid merasa jalur menulis merupakan jalan hidupnya.

  Hubungan Enid dengan ibunya tidak sebaik hubungan Enid dengan
  ayahnya, bahkan tidak pernah baik. Sebaliknya, Enid malah menemukan
  sosok ibu idaman pada diri Mabel Attenborough, bibi teman
  sekolahnya, Mary Attenborough. Bibi Mabel inilah yang mendorong Enid
  untuk terus menulis cerita dan puisi.

  Masih diliputi kebingungan untuk melanjutkan sekolahnya, Enid
  disarankan untuk berlibur ke tanah pertanian keluarga Hunt di
  Suffolk. Di sanalah Enid bertemu Ida Hunt yang mengajaknya untuk
  terlibat mengajar anak-anak. Ida pulalah yang menyarankan Enid untuk
  melanjutkan ke sekolah guru. Akhirnya, pada bulan September 1916,
  Enid menempuh pendidikan sebagai guru TK di Sekolah Menengah
  Ipswich.

  Meskipun mendapat banyak pengetahuan seputar dunia anak-anak, Enid
  harus menghentikan kesukaannya menulis cerita fiksi. Tapi ia tidak
  pernah berhenti menulis puisi. Malahan, puisinya yang berjudul Have
  You dimuat di "Nash`s Magazine" pada 1917. Ia pun semakin giat
  menulis.

  Setelah lulus pada 1918, Enid menjadi guru privat anak-anak. Ia
  sangat disenangi, terutama dongengnya. Dan ia selalu mengarang
  sendiri setiap dongeng yang ia sampaikan di ruang kelasnya. Dari
  ruang kelasnya pulalah ia mengetahui selera anak-anak.

  Melihat reaksi murid-muridnya terhadap cerita dan dongengnya, Enid
  memberanikan diri untuk mengirimkan karya-karyanya ke majalah.
  "Teachers` World" menjadi tempat menampung karya-karya Enid, mulai
  dari fiksi hingga lagu-lagu karangannya. Bahkan redaksi majalah
  tersebut mengangkat Enid menjadi penulis tetap dengan kolom sendiri
  yang bernama From My Window.

  Sejak buku kumpulan puisi, "Child Whisper", dibukukan pada 1922,
  karier Enid sebagai penulis semakin berkembang. Buku-buku
  selanjutnya pun menyusul, seperti "Real Fairies Poems", "Responsive
  Singing Games", "The Enid Blyton Book of Fairies", "Songs of
  Gladness", "The Zoo Book", dan buku-buku lainnya yang diterbitkan
  oleh J. Saville & Newnes.

  Ketika berada di penerbitan J. Saville & Newnes, Enid bertemu dengan
  Mayor Hugh Alexander Pollock, veteran perang sekaligus editor di
  sana. Enid jatuh cinta padanya meskipun Pollock sudah menikah. Meski
  demikian, mereka akhirnya menikah juga pada 28 Agustus 1924, setelah
  rumah tangga Pollock akhirnya berantakan.

  Setelah menikah, mereka tinggal di Elfin Cottage, di Shortlands
  Road, Beckenham, Kent. Di sana Enid memiliki sejumlah hewan
  peliharaan yang kemudian memberi banyak inspirasi dalam
  cerita-ceritanya.

  Beberapa tahun setelah pernikahan mereka, Enid belum juga mendapat
  anak. Ketika memeriksakan diri ke dokter, barulah diketahui bahwa
  uterus Enid sangat kecil, seperti gadis belasan tahun. Namun,
  kehidupan mereka tetap mesra. Akhirnya, pada tahun 1931, dalam
  usianya yang ke-34, Enid melahirkan Gillian.

  Setelah Gillian lahir, Enid yang masih menyimpan obsesinya untuk
  menulis novel dewasa, mulai menulis "The Caravan Goes On". Dengan
  kecepatan tujuh ribu kata per hari, novel itu selesai pada 25
  Januari 1932. Namun, karyanya itu ditolak penerbit sehingga ia
  kembali menulis cerita anak-anak.

  Akan tetapi, hubungan Enid dengan suaminya menjadi buruk. Kesuksesan
  Enid membuatnya minder sehingga ia sering mabuk-mabukan. Di tengah
  kondisi itu, putri kedua mereka, Imogen, lahir. Hubungan keduanya
  ternyata tidak dapat dipertahankan lagi. Pada 1942, Pollock
  menceraikan Enid dengan catatan tetap diizinkan menemui kedua putri
  mereka. Kemudian Enid menikahi Kenneth Darrell Waters, seorang ahli
  bedah setahun setelah bercerai. Sedangkan Pollock menikahi Ida
  Crowe, novelis wanita, enam hari setelah pernikahan Enid.

  Pada 1942 itu juga, serial terkenal "Famous Five" mulai ditulis. Ia
  menulis kisah Julian, Dick, George, Ann, dan seekor anjing bernama
  Timmy ini setiap tahun. Ia menulis 21 judul dalam serial ini. Tokoh
  Georgina, yang lebih suka dipanggil George dan berpenampilan seperti
  laki-laki ini sering disebut menyerupai Enid.

  Produktivitas Enid masih terus berlangsung. Ia juga menulis "Secret
  Seven", "The Adventurer series", "The Mystery series" dan "The
  `Barney` Mystery Books". Dan ketika Perang Dunia II berlangsung, ia
  mengurus pencetakan setiap karyanya. Bahkan saat itu ia menulis
  sepuluh ribu kata per hari. Kadang ia menggunakan nama Mary Pollock,
  seperti dalam "Three Boys and a Circus" dan "Children of Kidillin".

  Pada 1945, ia berhenti mengisi kolom di "Teachers` World". Lalu
  menerbitkan "Little Noddy Goes to Toyland" yang kemudian menjadi
  seri terkenal. Lalu pada 1952, ia mengundurkan diri dari "Sunny
  Stories" dan menerbitkan "Enid Blyton Magazine".

  Ia juga bukannya tidak diserang kritik. Antara 1950 dan 1960,
  karya-karyanya dianggap menekankan peranan gender secara kaku dan
  menampilkan nilai-nilai kelas menengah yang santai. Karya-karyanya
  pun dianggap tidak mendidik dan ditarik dari perpustakaan umum,
  bahkan dilarang di sekolah-sekolah. Beberapa tulisannya juga
  disebut-sebut tidak ditulis sendiri.

  "The Summer Storm" menjadi novel dewasa keduanya. Namun seperti yang
  pertama, novel ini pun ditolak penerbit.

  Setelah "Enid Blyton Magazine" berhenti terbit pada akhir 1959,
  konsentrasi Enid untuk menulis mulai hilang. Lalu suaminya meninggal
  pada 1967. Ia sendiri menyusul pada 28 November 1968 setelah menulis
  sekitar tujuh ratus buku, tersebar di seluruh dunia.

  Mengenai keberhasilannya, Michael Woods, seorang psikolog berujar,
  "Enid pernah menjadi seorang anak, dia berpikir seperti anak-anak,
  menulis sebagai anak-anak".

  Diringkas dari:
  Judul buku: 10 Kisah Hidup Penulis Dunia
  Penyunting: Anton W.P. dan Yudhi Herwibowo
  Penerbit  : KATTA, Solo 2005
  Halaman   : 36 -- 48

______________________________________________________________________

Penanggung jawab: Kristina Dwi Lestari
Berlangganan    : Kirim e-mail ke
                  subscribe-i-kan-penulis(at)hub.xc.org
Berhenti        : Kirim e-mail ke
                  unsubscribe-i-kan-penulis(at)hub.xc.org
Kirim bahan     : Kirim e-mail ke
                  staf-penulis(at)sabda.org
Arsip e-Penulis : http://www.sabda.org/publikasi/e-penulis/
Situs CWC       : http://www.ylsa.org/cwc/
Situs Pelitaku  : http://pelitaku.sabda.org/
______________________________________________________________________
      Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA.
             Didistribusikan melalui sistem network I-KAN.
                     Copyright(c) e-Penulis 2007
                  YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa/
                       http://katalog.sabda.org/
                    Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                 No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org