Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-konsel/319

e-Konsel edisi 319 (13-11-2012)

Bila Tuhan Tidak Mengaruniai Anak

______________________________e-KONSEL________________________________

        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
______________________________________________________________________

Edisi 319/November 2012

DAFTAR ISI
BIMBINGAN ALKITABIAH: SUAMI ISTRI YANG TIDAK MEMUNYAI ANAK
TIP: RAHASIA HIDUP BAHAGIA SEKALIPUN TANPA ANAK

Salam kasih,

Tidak dapat dimungkiri bahwa kehadiran seorang anak sangat dinanti
oleh semua pasangan. Bagi kebanyakan orang, rumah tangga seolah belum
lengkap tanpa kehadiran seorang anak. Bukan perkara mudah bagi
pasangan tanpa anak untuk hidup dalam anggapan-anggapan tersebut.
Lalu, apakah yang harus dilakukan oleh pasangan yang tidak dikaruniai
anak? Mungkinkah mereka bisa menjalani kehidupan pernikahan dengan
bahagia? Belajar dari beberapa tokoh Alkitab akan sangat membantu
untuk menghadapi situasi ini. Meski tanpa kehadiran seorang anak,
percayalah bahwa Allah tetap memberikan sukacita dalam kehidupan
pernikahan Anda. Semoga artikel dan tip yang kami sajikan dalam edisi
ini, bermanfaat bagi Anda atau konseli yang Anda layani.

Staf Redaksi e-Konsel,
Berlian Sri Marmadi
< http://c3i.sabda.org/ >

      BIMBINGAN ALKITABIAH: SUAMI ISTRI YANG TIDAK MEMUNYAI ANAK

Kisah Rahel dan Lea melukiskan betapa pentingnya bagi seorang wanita
untuk melahirkan anak laki-laki untuk suaminya (Kejadian 30:1-24).

Banyak pasangan suami istri Israel yang tidak dapat melahirkan anak.
Saat ini, kita sudah dapat mengetahui bahwa pasangan yang tidak
dikaruniai anak bisa diakibatkan karena kemandulan suami atau istri.
Akan tetapi, dunia pada zaman dahulu hanya menyalahkan istri berkaitan
dengan masalah ini (kecuali Ulangan 7:14).

Seruan Rahel, "Berikanlah kepadaku anak; kalau tidak, aku akan mati."
(Kejadian 30:1), menggambarkan perasaan setiap istri. Dan sudah pasti
banyak suami yang merasa risau akan menyetujui jawaban Yakub, "Akukah
pengganti Allah, yang telah menghalangi engkau mengandung?" (Kejadian
30:2)

Kemandulan bukan hanya masalah fisik atau sosial. Berbagai arti yang
dalam secara rohani juga dikaitkan dengan masalah ini. Musa
menjanjikan kepada umat Israel bahwa apabila mereka menaati Tuhan,
berkat akan menyusul, "Engkau akan diberkati lebih daripada segala
bangsa: tidak akan ada laki-laki atau perempuan yang mandul di
antaramu, ataupun di antara hewanmu." (Ulangan 7:14) Oleh sebab itu,
kemandulan dianggap sebagai akibat dari ketidaktaatan kepada Allah.
Gagasan ini terlihat sepanjang sejarah Israel. Misalnya, Abraham
secara terus terang menyatakan kepada Abimelekh bahwa Sara adalah
saudara perempuannya. Akan tetapi, Allah menyatakan kepada Abimelekh
dalam sebuah mimpi bahwa Sara sudah menikah. Ketika raja mengembalikan
Sara kepada suaminya, Abraham memohon kepada Allah untuk mengaruniai
anak-anak kepadanya sebagai ganjaran. "Sebab tadinya Tuhan telah
menutup kandungan setiap perempuan di istana Abimelekh karena Sara,
istri Abraham itu." (Kejadian 20:18) Bagian Alkitab ini menggambarkan
kemandulan yang hanya bertahan selama waktu yang singkat. Akan tetapi,
keadaan ini bisa bersifat permanen (bdg. Imamat 20:20-21). Akan
tetapi, entah itu bersifat sementara atau permanen, kemandulan
dianggap sebagai kutukan Allah.

Sulit bagi kita untuk membayangkan betapa menghancurkannya semua
kejadian ini bagi wanita yang tidak dapat melahirkan anak. Secara
rohani ia bingung, secara sosial ia malu, dan secara psikologis ia
tertekan. Ia telah menikah dengan seorang pria yang ingin memunyai
anak untuk menjamin kesinambungan garis keluarganya. Sang suami
mungkin tetap mencintainya, tetapi si istri tetap tidak merasa
terhibur olehnya (bdg. 1 Samuel 1:6-8).

Suami istri yang mandul menghabiskan banyak waktu untuk memeriksa
kegagalan mereka pada masa lalu, untuk melihat apakah ada dosa yang
tidak diakui. Melalui air matanya, si istri bertobat dari semua dosa
yang diketahuinya dan si suami mempersembahkan korban yang patut untuk
menutup dosa yang diperbuatnya "tidak dengan sengaja" (bdg. Imamat
4:2). Kemandulan menjadi pokok doa utama dari suami istri ini.
Perhatikan bagaimana Ishak memohon kepada Tuhan untuk mengizinkan
istrinya mengandung (Kejadian 25:21). Hana menangis tersedu-sedu di
hadapan Tuhan dan berjanji jika Tuhan mengaruniai seorang anak
laki-laki kepadanya, ia akan menyerahkan anak itu untuk melayani
Tuhan (1 Samuel 1:11).

Ketika dosa dikesampingkan sebagai penyebab masalah itu, sang istri
dengan leluasa dapat menanyakan tentang bermacam-macam obat. Para
kerabat, teman, dan tetangganya mungkin menganjurkan supaya ia mencoba
berbagai obat pekasih atau minuman pembangkit cinta berahi yang
ternyata telah membantu mereka. Salah satu makanan semacam itu yang
disebutkan dalam Alkitab adalah buah dudaim (Kejadian 30:14-16). Orang
percaya bahwa tanaman dudaim dapat menghasilkan kesuburan; sering kali
buahnya dipakai sebagai pemikat kasih. Rahel berharap buah itu dapat
membantunya mengandung. Pada zaman para nabi, kaum wanita berusaha
untuk mengatasi kemandulan dengan mencoba mengubah makanan mereka.
Buah apel dan ikan dianggap dapat menjadikan orang kuat secara
seksual, sehingga mendapat anak.

Berbagai penggalian di Israel belakangan ini, menemukan banyak arca
kesuburan dari tanah liat. Arca-arca tersebut dipercaya membantu
seorang wanita menjadi hamil oleh "daya sihir yang responsif". Tiap
patung dibentuk seperti wanita hamil. Pada waktu wanita yang mandul
itu memegang-megangnya dan menyimpannya di dekatnya, ia berharap bisa
hamil. Wanita juga memakai jimat untuk menjamin kesuburan. Nabi
Yeremia memerhatikan suatu kebiasaan kafir yang umum: Kaum wanita
Yehuda meremas adonan, memberi korban curahan, dan membakar dupa
kepada "ratu surga" untuk menjamin kesuburan (Yeremia 44:17-19; bdg.
Yeremia 7:18). "Ratu" yang disebut dalam ayat-ayat ini mungkin
Asytoret (Astarte), dewi asmara, kehamilan, dan kesuburan. Sudah tentu
semua perbuatan takhayul ini adalah kekejian bagi Allah.

Bila semua pengobatan itu tidak berhasil, wanita itu dianggap mandul
secara permanen. Dalam kondisi ini, sang suami mungkin akan mengambil
tindakan drastis. Ia mungkin akan menikahi wanita lain atau mengambil
seorang budak perempuan untuk melahirkan anak-anak dengan namanya.
Itulah sebabnya, Sara memberikan hambanya, Hagar, kepada Abraham
(Kejadian 16:2). Juga, Rahel meminta suaminya, Yakub, untuk
mendapatkan anak dari budak perempuannya, Bilha (Kejadian 30:3).

Adopsi merupakan cara lain untuk mengatasi kemandulan seorang istri.
Suami istri yang tidak memunyai anak dapat mengangkat seorang
bayi/seorang dewasa sebagai anak. Eliezer dari Damsyik adalah seorang
laki-laki dewasa, tetapi Abraham memberi tahu Allah bahwa ia akan
menjadi ahli warisnya (Kejadian 15:2). Lempeng-lempeng tanah liat abad
ke-15 sM yang ditemukan di Nuzi, menunjukkan bahwa Abraham sedang
mengikuti perbuatan yang umum dalam kebudayaan Semit, meskipun hal ini
sedikit sekali disebut dalam Alkitab. Adopsi menyelesaikan banyak
masalah: Anak laki-laki yang diadopsi akan mengurus suami istri itu
pada usia lanjut, memberikan pemakaman yang semestinya kepada mereka,
dan mewarisi tanah milik keluarga itu. Akan tetapi, apabila suami
istri itu mendapatkan seorang anak kandung setelah mereka mengadopsi
anak, anak kandung itu akan menjadi ahli waris yang sah.

Perhatikan bahwa setelah anak Bilha dilahirkan, ia diletakkan dalam
pangkuan Rahel. Perbuatan ini adalah bagian inti dari upacara adopsi.
Bayi itu diadopsi oleh Rahel sebagai bayinya (bdg. Kejadian 30:3).
Acuan-acuan lain tentang adopsi: putri Firaun mengadopsi Musa
(Keluaran 2: 10 - Mesir) dan Mordekhai mengadopsi Ester (Ester 2:7, 15
- Persia).

Apabila seorang wanita menjadi hamil setelah menunggu selama
bertahun-tahun, ia menjadi wanita yang paling bahagia di desanya.
Dan, akan terjadi sukacita besar ketika bayinya lahir. Kita melihat
hal ini dalam kisah Elisabet, ibu Yohanes Pembaptis. Lukas menulis,
"Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa
Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya,
bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia." (Lukas 1:58) Ketika
akhirnya Rahel mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, ia
berseru, "Allah telah menghapuskan aibku." (Kejadian 30:23) Karena
berharap bahwa anak ini tidak akan menjadi anak tunggal, ia menamai
dia Yusuf yang berarti "Ia menambah," sambil berkata, "Mudah-mudahan
Tuhan menambah seorang anak laki-laki lagi bagiku." (Kejadian 30:24)

Sumber: Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac

Diambil dan diedit dari:
Nama situs: Alkitab SABDA
Alamat situs: http://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=934&res=almanac
Tanggal akses: 27 Agustus 2012

           TIP: RAHASIA HIDUP BAHAGIA SEKALIPUN TANPA ANAK
                     Diringkas oleh: Sri Setyawati

Semua pasangan menikah tentu menantikan hadirnya seorang anak karena
anak adalah penerus garis keturunan keluarga dan penolong pada masa
tua. Selain itu, anak merupakan bukti ikatan cinta kasih suami dan
istri. Karenanya, orang tua dengan sukacita mencurahkan kasih
sayangnya kepada anak-anak mereka. Dan, jika mereka tidak memiliki
anak, mereka merasa gagal. Lalu, bagaimana jika sudah menanti cukup
lama dan melakukan berbagai usaha, tetapi tetap tidak kunjung memiliki
anak? Semoga langkah-langkah berikut bisa menolong suami istri tetap
bahagia, meskipun tanpa kehadiran anak.

- Pernikahan Memang Tidak Selalu Memiliki Anak

Salah satu tugas yang diberikan kepada manusia adalah "Beranakcuculah
dan bertambah banyak; penuhilah bumi". Artinya, manusia harus
berkembang biak. Akan tetapi, Kejadian 2:24 menunjukkan bahwa
pernikahan menuntun kepada kesatuan, namun hasil dari kesatuan, yaitu
anak, tidak dituliskan. Jadi, secara umum manusia memang harus
berkembang biak, tetapi kesatuan suami istri lebih penting. Karena
itu, jika suami istri tidak memiliki anak, jangan berpikir bahwa
pernikahannya gagal. Ketika sebuah pernikahan tidak memenuhi maksud
umum Allah untuk beranak cucu dan bertambah banyak, mungkin Allah
mendesain pernikahan itu untuk tugas khusus.

- Mengenali Tugas Khusus

Daripada terus merasa gagal, tidak sempurna, atau bersalah; suami
istri sebaiknya mencari apa maksud Allah dengan tidak memberikan
keturunan kepada mereka. Adakah tugas khusus yang Tuhan kehendaki
untuk dilakukan?

Tuhan kadang mengizinkan sepasang suami istri tidak memiliki anak agar
hidupnya menghasilkan buah yang banyak bagi Dia. Tuhan menugaskan
mereka untuk menggerakkan organisasi-organisasi dan beberapa orang
untuk melakukan proyek pembinaan karakter, pertolongan bagi
ketidakadilan, atau pengentasan kemiskinan. Jika mereka memiliki anak,
mereka belum tentu bisa melayani seefektif itu.

Meskipun begitu, tidak berarti tugas yang dilakukan pasangan tanpa
anak harus dalam skala besar. Mereka bisa memberikan dukungan keuangan
sambil memantau perkembangan jiwa anak-anak kurang mampu atau yatim
piatu. Mereka tidak harus menarik anak-anak untuk menjadi keluarga
mereka, mereka bisa mengunjungi anak-anak untuk berbincang dan
melakukan pembinaan. Tugas khusus lainnya adalah melakukan riset-riset
sulit dan penting untuk kepentingan umum. Misalnya, melakukan
penelitian terhadap penyakit-penyakit yang belum ada obatnya (seperti
HIV/Aids, kanker, atau TBC) dan persoalan-persoalan masa depan
(seperti menyusutnya pangan, energi, maupun kerusakan lingkungan).
Tugas-tugas besar ini membutuhkan pencurahan waktu, tenaga, dan uang.
Dan, orang-orang yang tidak memiliki anak akan lebih leluasa
melakukannya. Dengan tugas khusus ini, walaupun sepasang suami istri
tidak memiliki anak, mereka sedang menyelamatkan hidup banyak anak.

- Mengadopsi Anak

Pilihan untuk mengadopsi anak itu baik. Namun, perlu dipikirkan
bagaimana mengasuh dan memeliharanya, bagaimana menjalin relasi dengan
orang tua biologis mereka, dan kapan memberi tahu anak tentang
identitasnya. Oleh sebab itu, perlu dipikirkan bentuk komunikasinya,
supaya anak adopsi tidak merasa terbuang.

Apabila Anda ingin mengadopsi anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya
atau yang dititipkan di rumah yatim piatu, Anda perlu mengenali masa
lalu si anak dengan baik dan mempertimbangkannya dengan matang.
Karena, bisa saja orang tua biologis si anak berniat buruk dengan
memantau dari jauh dan suatu saat melakukan pemerasan. Selain itu,
Anda harus memerhatikan aspek legal. Buatlah akta adopsi sehingga
kedudukan relasi orang tua anak menjadi kuat.

- Hidup Benar dan Tidak Terluka

Karena tidak memiliki anak, beberapa pasangan sering merasa terluka,
marah kepada Tuhan, dan menyalahkan pasangan. Hal ini sangat tidak
baik karena akan merusak diri sendiri dan pernikahan. Ketika
pernikahan tidak dikaruniai anak, baik karena kemandulan salah satu
pasangan atau keduanya, sebaiknya masing-masing mau menerima kenyataan
dengan ikhlas dan saling menguatkan serta menerimanya sebagai
kedaulatan Allah untuk mereka berdua. Pasangan suami istri harus
saling menguatkan, lalu mencari tahu apa tugas yang mereka emban
dengan ketidakhadiran anak tersebut. Seperti Zakharia dan Elisabet
yang tetap hidup benar di hadapan Allah, meskipun tidak memunyai anak.
Kehidupan yang benar akan membuat pasangan suami istri menjadi berkat
bagi banyak orang. Mereka menjadi teladan bagi banyak pasangan yang
bergumul dengan ketidakhadiran anak.

Jangan sampai meninggalkan pasangan karena ia mandul. Hanya
orang-orang yang tidak dewasa, yang tidak memiliki kasih dan komitmen
sejati, yang membesar-besarkan masalah itu dan meninggalkan
pasangannya.

- Terus Berharap, Tetapi Tidak Memaksa

Bagi pasangan yang belum dikaruniai anak, tentu boleh berharap.
Apalagi, jika hal itu terjadi karena alasan medis yang tidak bisa
ditanggulangi. Tetaplah berharap sebab tidak ada yang mustahil bagi
Allah. Zakharia dan Elisabet pun terus berharap dan semakin tekun
berdoa. Akhirnya, mereka mendapatkan anak. Dalam hal ini, yang penting
adalah jangan memaksa Tuhan. Berdoalah dengan terbuka, tetapi tidak
berfokus pada persoalan anak. Lanjutkan hidup yang berguna bagi sesama
dan kehidupan.

- Menyiapkan Hari Tua

Daripada terus bersedih karena tidak memiliki anak, pasangan suami
istri sebaiknya mempersiapkan masa tua mereka dengan baik. Karena itu,
selama masih sehat, gunakanlah waktu sebaik mungkin untuk
mempersiapkan keuangan untuk pembiayaan hari tua yang akan dilalui
dengan tinggal di rumah keluarga/biaya panti jompo.

Diringkas dari:
Nama situs: Kompasiana
Alamat URL: http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2011/10/07/
            rahasia-hidup-bahagia-sekalipun-tanpa-anak/
Penulis: Gunawan Sri Haryono
Tanggal akses: 8 Oktober 2012

Kontak: < konsel(at)sabda.org >
Redaksi: Sri Setyawati, Tatik Wahyuningsih, dan Berlian Sri Marmadi
Tim Editor: Davida Welni Dana, Berlian Sri Marmadi, dan
            Santi Titik Lestari
(c) 2012 -- Yayasan Lembaga SABDA
< http://www.ylsa.org >
Rekening: BCA Pasar Legi Solo;
No. 0790266579
a.n. Yulia Oeniyati
< http://blog.sabda.org/ >
< http://fb.sabda.org/konsel >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org