Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-konsel/186

e-Konsel edisi 186 (15-6-2009)

Sukacita di Dalam Tuhan

_______________________________e-KONSEL_______________________________

        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
_____________________________________________________________________

EDISI 186/15 Juni 2009

Daftar Isi:
  = Pengantar: Sukacita Sejati
  = Renungan: Kesenangan vs Sukacita
  = Cakrawala 1: Seluruh Sukacita dan Damai
  = Cakrawala 2: Terang dan Sukacita
  = Bimbingan Alkitabiah: Sukacita (Joy)
  = Info: Baru! Situs Doa: Komunitas Pendoa Syafaat Indonesia

PENGANTAR ____________________________________________________________

  Shalom,

  Pernikahan, ulang tahun, kelahiran anak, lulus ujian atau sekolah,
  mendapatkan promosi jabatan, dan peristiwa membahagiakan lainnya
  tentu membuat kita merasa bersukacita. Kita pun juga bersukacita
  saat kita bisa menolong orang lain yang sedang kesusahan, saat kita
  menghadapi masa sulit namun akhirnya kita bisa melaluinya karena
  tuntunan Tuhan, atau saat kita mengalami pengalaman yang tak
  terlupakan bersama Tuhan.

  Semua peristiwa tersebut memang membuat kita bersukacita, hanya saja
  apakah sukacita memang hanya berbicara tentang kesenangan hidup?
  Apakah dalam keadaan susah pun kita bisa bersukacita? Sukacita
  sejati bukanlah rasa senang yang sifatnya hanya sementara. Sukacita
  sejati tidak dapat sirna begitu saja saat kita dihadapkan pada
  kegagalan atau peristiwa sedih yang lain. Sukacita sejati juga tidak
  akan berkesudahan. Bila demikian, bagaimana kita bisa merasakan
  sukacita sejati itu? Dari manakah kita bisa memperoleh sukacita ini?

  Alkitab banyak memberikan pengertian sukacita sejati ini. Mari kita
  gali lebih dalam lagi sukacita sejati ini melalui artikel-artikel
  yang tersaji. Silakan simak, kiranya bisa memberi kita pengertian
  tentang sukacita yang sebenarnya.

  Pimpinan Redaksi e-Konsel,
  Christiana Ratri Yuliani
  http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
  http://c3i.sabda.org/

RENUNGAN _____________________________________________________________

                       KESENANGAN VS SUKACITA

  Bacaan: Yohanes 15:7-11
  Nats: "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di
        dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh." (Yohanes 15:11)

  Dunia menawarkan kesenangan-kesenangan sementara (Ibrani 11:25),
  tetapi Tuhan Yesus menawarkan sukacita yang penuh dan kekal (Yohanes
  15:11). Kesenangan bergantung pada situasi-situasi tertentu,
  sedangkan sukacita datang dari dalam dan tidak terpengaruh oleh
  keadaan lingkungan.

  Kesenangan dapat selalu berubah-ubah, sedangkan sukacita tak pernah
  berubah! Kesenangan-kesenangan duniawi sering diikuti dengan
  depresi. Sukacita sejati berakar dalam Yesus Kristus, yang "tetap
  sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya"
  (Ibrani 13:8).

  Agar selalu dapat menikmati kesenangan, kita harus berupaya masuk
  dari rangsangan kesenangan yang satu ke kesenangan yang lain sebab
  kesenangan tidak bersifat permanen. Namun, sukacita merupakan
  kebalikannya. Sukacita adalah anugerah yang kita terima dari Allah.

  Kesenangan dibangun atas dasar kepentingan pribadi, sedangkan
  sukacita didasarkan pada pengorbanan diri seseorang. Semakin banyak
  kita mengejar kepuasan diri, maka akan semakin hampa perasaan kita.
  Jika kesenangan kecil memberi kegembiraan sementara hari ini, maka
  dibutuhkan kesenangan dan sensasi yang lebih besar untuk mendapat
  kegembiraan yang sama besok pagi. Sebaliknya, sukacita didasarkan
  pada pengorbanan diri kita. Saat kita belajar apa artinya
  memerhatikan kebutuhan orang lain, maka kita akan menemukan
  kepenuhan yang lebih besar dalam diri Allah sendiri, yang memenuhi
  setiap kebutuhan kita.

  Hanya dengan mencari hal-hal di dalam Kristus, maka Anda dapat
  menemukan sukacita yang abadi. (HGB)

                UNTUK MENDAPATKAN SUKACITA YANG ABADI
                   UTAMAKANLAH KRISTUS SENANTIASA

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Nama publikasi: e-Renungan Harian
  Edisi: Kamis, 5 April 2001
  Alamat URL: http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2001/04/05/

CAKRAWALA 1 __________________________________________________________

                      SELURUH SUKACITA DAN DAMAI

  "Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala
  sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan
  Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan." (Roma 15:13)

  Banyak orang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Namun,
  mereka mengatakan tidak memiliki sukacita dan damai yang timbul
  sebagai hasil dari rasa percaya itu. Mereka tidak menyatakan hal itu
  di gereja Kristen atau di tempat yang terbuka, melainkan ketika
  mereka ditekan dengan masalah keselamatan pribadi. Kadang-kadang
  mereka akan berkata, "Saya benar-benar percaya kepada Kristus,
  tetapi saya tetap saja tidak bahagia. Saya sangat menderita
  sampai-sampai saya tidak percaya bahwa saya sudah diselamatkan."
  Pernyataan itu serupa dengan pernyataan ini: firman Tuhan menyatakan
  bahwa siapa pun yang percaya kepada Yesus tidak dihukum, tetapi
  mereka yang menyatakan bahwa mereka telah percaya Yesus, dihantui
  oleh ketakutan akan penghukuman yang membuat mereka berkeyakinan
  bahwa mereka tidak mungkin sudah dibebaskan dari angkara murka.

  Saya berbicara kepada mereka yang berhati lembut dan yang ingin
  memiliki hati yang lembut, kepada mereka yang menghadapkan wajahnya
  ke Yerusalem, meskipun sekarang ini mereka berjalan dalam kegelapan.
  Bila Anda benar-benar ingin mendapatkan sukacita dan kedamaian
  dengan percaya kepada Yesus, saya yakin Tuhan akan memberkati Anda
  sehingga Anda bisa mendapatkan sukacita dan damai itu.

  Berhati-hatilah ketika menilai sukacita dan damai; jangan menilainya
  terlalu tinggi. Ingatlah bahwa sukacita dan damai, meski sangat
  diperlukan, bukanlah bukti nyata dari keselamatan. Ada banyak orang
  yang memiliki sukacita yang besar dan penuh damai namun tidak
  diselamatkan karena sukacita mereka terpancar dari suatu kesalahan,
  dan kedamaian mereka adalah kedamaian palsu yang tidak bersandar di
  atas batu kebenaran sejati, namun pasir imajinasi mereka sendiri.
  Tentu merupakan pertanda baik saat Anda menemui cuacanya hangat --
  pertanda musim kemarau telah tiba -- tapi ada juga hari-hari yang
  cerah dan penuh sinar matahari saat musim penghujan. Oleh sebab itu,
  saya tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa musim kemarau telah
  tiba. Di sisi lain, ada juga hari-hari dingin saat musim kemarau
  sehingga, jika kita harus menyimpulkan berdasar keadaan itu, mungkin
  saja saat itu adalah bulan November, bukan Mei.

  Demikian halnya dengan sukacita dan damai; keduanya seperti
  hari-hari yang cerah. Sukacita dan damai datang kepada mereka yang
  tidak beriman, yang sedang berada dalam dinginnya ketidakpercayaan
  mereka. Sukacita dan damai itu mungkin tidak ada dalam diri Anda
  yang sudah percaya kepada Kristus; atau bila sukacita dan damai itu
  ada dalam diri Anda, mereka tidak tinggal diam, karena mungkin saja
  ada hari-hari dingin pada bulan Mei, dan bahkan mungkin ada
  kesedihan dan kesusahan dalam diri orang-orang yang benar-benar
  percaya.

  Pahamilah bahwa Anda tidak harus memiliki sukacita dan damai sebagai
  bukti mutlak bahwa Anda sudah diselamatkan. Seseorang mungkin berada
  dalam sekoci penolong, tetapi sekoci itu mungkin berguncang keras
  sehingga dia bisa merasakan dirinya sangat mabuk dan berpikir bahwa
  dirinya masih ada dalam bahaya. Bukan perasaan amannya yang membuat
  dia selamat; disadari atau tidak, dia selamat karena dia berada
  dalam sekoci penolong.

  Pahamilah bahwa sukacita dan damai bukanlah sesuatu yang sempurna
  atau merupakan bukti-bukti keselamatan yang sangat diperlukan. Dan
  jelas, sukacita dan damai bukanlah bukti-bukti yang tak dapat
  berubah. Orang Kristen yang paling bersinar sekalipun kadang-kadang
  kehilangan sukacita mereka. Beberapa dari mereka yang berdiri teguh
  di dalam Tuhan -- dan mereka yang Anda anggap sangat beriman --
  menyimpan banyak kecurigaan tentang diri mereka sendiri.

  Sukacita dan damai adalah elemen normal dari seorang Kristen, namun
  orang tersebut terkadang kehilangan elemen itu. Sukacita dan damai
  merupakan keadaan lazim mereka sebagai manusia, namun ada kalanya,
  dengan pergolakan di dalam diri dan peperangan di luar diri,
  sukacitanya hilang dan kedamaiannya hancur. Daun-daun yang ada pada
  sebuah pohon membuktikan bahwa pohon itu hidup, namun ketiadaan
  daun-daun itu tidak lantas menjadi bukti bahwa pohon itu mati.
  Sukacita dan damai sejati mungkin merupakan bukti yang memuaskan,
  namun tidak adanya sukacita dan damai tidak lantas membuktikan
  ketiadaan iman dalam diri seseorang.

  Yang terpenting, menyatakan Anda percaya Kristus karena Anda merasa
  bahagia adalah tidak masuk akal. Misalnya seorang pria, dalam
  keadaan krisis moneter, berkata, "Saya yakin bahwa bank tempat saya
  menyimpan uang itu aman." Mengapa? "Karena saya tidak kuatir dengan
  uang saya." Seseorang akan menanggapinya, "Tidak masuk akal." Namun,
  dia mungkin berkata, "Saya yakin bahwa uang saya aman," dan Anda
  balik bertanya, "Apa alasannya?" "Karena saya yakin bank itu aman."
  "Oh, ada benarnya; itu alasan yang baik," kata Anda. Pada kasus yang
  pertama, dia meletakkan emosinya sebagai sebab dan mencoba
  menjadikannya sebagai suatu sebab, tapi hal itu tidak bisa diterima.

  Seorang pria berkata, "Saya punya rumah besar di India." Lalu Anda
  bertanya, "Bagaimana Anda tahu?" Dan ia menjawab, "Karena saya
  merasa sangat bahagia ketika memikirkannya." Menanggapi jawaban itu,
  Anda akan berkata, "Anda tidak masuk akal, itu tidak membuktikan
  apapun, sedikit pun tidak." Tetapi bila dia berkata kepada Anda,
  "Saya sangat bahagia," dan Anda bertanya lagi mengapa dan dia
  menjawab, "Karena saya punya rumah di India." "Oh, itu mungkin
  benar," kata Anda. Seorang pria mungkin sangat bersyukur untuk apa
  yang ia punya, tetapi menjadikan sukacita dan damai sebagai bukti
  dari fakta eksternal merupakan suatu hal yang sangat konyol. Orang
  yang berkata, "Saya tahu saya diselamatkan karena saya bahagia,"
  adalah sangat tidak masuk akal. Yang benar adalah Anda bahagia
  karena Anda telah diselamatkan. Saya berdoa untuk Anda, semoga Anda
  tidak berbuat sesuatu yang tidak masuk akal di hadapan Tuhan!

  Kasus lain. Misalnya seseorang mengkhawatirkan kesehatan seorang
  teman dekatnya. "Saya ingin teman saya sehat, tetapi saya tidak
  ingin mengkhawatirkannya. Sekarang ini saya sama sekali tidak tahu
  tentang keadaannya, dan saya khawatir. Bila saya merasa tenang, maka
  saya bisa yakin bahwa teman saya baik-baik saja." "Bagaimana bisa?"
  begitulah jawaban Anda, "ucapanmu tidak masuk akal. Yang harus kamu
  lakukan adalah mencari tahu apakah teman Anda sehat, dan kemudian
  Anda akan merasa tenang."

  Bila Anda berkata, "Saya percaya saya diselamatkan bila saya merasa
  bahagia." Apakah ada alasan yang logis dalam kalimat itu?
  Sebaliknya! Pertama, percayalah bahwa Anda diselamatkan, dan
  kemudian kebahagiaan akan mengikutinya. Anda tidak bisa percaya
  bahwa Anda diselamatkan bila Anda tetap melakukan apa yang tidak
  Tuhan kehendaki untuk Anda lakukan, yang artinya Anda memandang
  sukacita dan damai Anda sendiri, bukannya memandang karya Yesus
  Kristus.

  Orang Kristen tetap adalah manusia. Mereka mungkin saja mengidap
  penyakit atau didera cobaan lain, dan kemudian mereka merasa depresi
  karena itu. Lalu bagaimana? Anda bisa mendapatkan sukacita dan damai
  dengan percaya.

  Saya adalah sasaran depresi roh ketakutan sehingga saya harap tak
  seorang pun dari Anda pernah merasakan keadaan yang sangat
  menyedihkan seperti yang saya rasakan ini. Namun saya selalu kembali
  pada hal ini: saya tahu saya percaya Kristus. Saya hanya boleh
  bergantung kepada Tuhan. Bila Dia jatuh, saya akan jatuh
  bersama-Nya; tetapi bila Dia tidak jatuh, saya pun tidak akan jatuh.
  Karena Dia hidup, saya juga akan hidup, dan saya berdiri lagi dan
  berjuang melawan depresi dan kesedihan yang jiwa saya rasakan, dan
  memenangkannya. Jadi, saya harap Anda pun demikian, dan harus,
  karena tidak ada jalan lain untuk keluar. Pada masa di mana Anda
  benar-benar mengalami depresi, Anda akan mendapatkan sukacita dan
  damai dengan percaya kepada Kristus.

  Tapi ada yang berkata, "Bagaimana kalau Anda benar-benar jatuh ke
  dalam dosa yang besar?" Mengapa perlu lebih banyak alasan bahwa Anda
  seharusnya menggantungkan diri Anda kepada-Nya? Apakah menurut Anda
  Yesus Kristus hanyalah untuk orang-orang yang berbuat dosa kecil?
  Apakah Dia seorang dokter yang hanya menyembuhkan sakit kepala?
  Tidak diperlukan iman untuk percaya kepada Kristus bila saya tidak
  berdosa, tetapi iman benar-benar diperlukan saat saya melanggar
  hukum, jahat, dan kotor. Pada saat saya tersandung dan jatuh,
  membuat sukacita dan damai saya rusak parah, saya kembali dengan
  iman kepada Sumber Air itu dan berkata, "Tuhan, saya tidak pernah
  sangat suka mengakui dosa dan bertobat seperti malam ini sebelumnya,
  karena hari ini saya telah memalukan diri saya sendiri. Saya telah
  berkata dan melakukan apa yang tidak seharusnya saya lakukan, dan
  saya malu dan sangat bingung, tetapi saya percaya Kristus bisa
  menyelamatkan saya, bahkan saya, dan saya akan tinggal di dalam
  Dia." (t/Ratri)

  Diterjemahkan dan disesuaikan dari:
  Judul buku: Joy in Your Life
  Judul asli artikel: All Joy and Peace
  Penulis: Charles Spurgeon
  Penerbit: Whitaker House, New Kensington 1998
  Halaman: 101 -- 106

CAKRAWALA 2 __________________________________________________________

			TERANG DAN SUKACITA

  "Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai, ya Tuhan, mereka
  hidup dalam cahaya wajah-Mu; karena nama-Mu mereka bersorak-sorak
  sepanjang hari." (Mazmur 89:16, 17)

  "Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang
  yang tulus hati." (Mazmur 97:11)

  "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan
  berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."
  (Yohanes 8:12)

  "Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada
  seorang pun yang akan merampas kegembiraanmu itu dari padamu."
  (Yohanes 8:12)

  "Sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita." (2
  Korintus 6:10)

  Seorang ayah selalu menginginkan anak-anaknya bersukacita. Ia
  melakukan segala hal yang dapat dikerjakannya untuk membuat
  anak-anaknya berbahagia. Oleh karena itu, Allah juga menginginkan
  anak-anak-Nya hidup di hadapan-Nya dengan hati yang bersukacita. Ia
  telah menjanjikan sukacita kepada mereka. Ia akan memberikannya
  (Mazmur 89:17, 18; Yesaya 29:19; Yohanes 16:22; 1 Petrus 1:8). Ia
  telah memerintahkannya. Kita harus menerimanya dan senantiasa hidup
  di dalam sukacita itu (Mazmur 32:11; Yesaya 12:5, 6; 1 Tesalonika
  5:16; Filipi 4:4).

  Tidak begitu sukar untuk mengetahui apa alasannya. Sukacita itu
  selalu merupakan ciri bahwa ada sesuatu yang sungguh-sungguh
  memuaskan saya dan yang berharga sekali bagi saya. Lebih dari itu,
  sukacita atas apa yang saya miliki menyebabkan orang lain ingin
  memilikinya juga. Bersukacita di dalam Tuhan merupakan bukti terkuat
  bahwa di dalam Allah saya memiliki segala sesuatu yang memuaskan dan
  mengenyangkan saya, dan bahwa saya tidak melayani Dia karena takut
  atau melayani supaya terpelihara, tetapi melayani karena Ia adalah
  keselamatan saya. Sukacita merupakan tanda kebenaran dan nilai
  ketaatan yang menunjukkan apakah saya senang berada dalam kehendak
  Tuhan (Ulangan 28:47; Mazmur 9, 119:111). Itulah sebabnya mengapa
  bersukacita di dalam Tuhan itu begitu berkenan kepada-Nya dan sangat
  menguatkan orang-orang percaya itu sendiri. Bagi semua orang yang
  ada di sekeliling kita, sukacita itu merupakan kesaksian yang paling
  indah mengenai pandangan kita terhadap Allah (Nehemia 8:11; Mazmur
  68:5; Amsal 4:18).

  Di dalam Alkitab, terang dan sukacita itu sering kali dihubungkan
  (Ester 8:16; Amsal 13:9, 15:30; Yesaya 60:20). Hal ini memang sesuai
  dengan keadaan alam. Terang yang menyukakan pada pagi hari
  membangunkan burung-burung untuk bernyanyi dan menggembirakan
  penjaga-penjaga malam yang merindukan datangnya siang. Terang wajah
  Allah memberikan sukacita kepada orang Kristen. Di dalam persekutuan
  dengan Allah, ia dapat dan akan selalu merasa bahagia. Kasih Bapa
  itu bersinar seperti matahari atas anak-anak-Nya (Keluaran 10:23; 2
  Samuel 23:4; Mazmur 36:11; Yesaya 60:1, 20; 1 Yohanes 1:5, 4:16).
  Kegelapan yang meliputi jiwa, selamanya melalui dosa atau melalui
  ketidakpercayaan. Dosa adalah kegelapan yang menggelapkan. Dan
  ketidakpercayaan juga menggelapkan, karena hal itu memalingkan kita
  dari Dia yang merupakan terang satu-satunya.

  Kadang-kadang diajukan pertanyaan: "Dapatkah orang Kristen selalu
  berjalan di dalam terang?" Jawaban Tuhan kita jelas sekali:
  "Barangsiapa mengikuti Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan."
  Dosa, yaitu berpaling dari Yesus dan menuruti jalan kita sendiri,
  itulah yang menggelapkan. Tetapi, pada saat kita mengakui dosa kita
  dan minta dibersihkan di dalam darah-Nya, kita kembali berada di
  dalam terang (Yosua 7:13; Yesaya 58:10, 59:1 , 2, 9; Matius 15:14,
  16; 2 Korintus 6:14; Efesus 5:8, 14; 1 Tesalonika 5:5; 1 Yohanes
  2:10.) Atau, ketidakpercayaanlah yang menggelapkan. Kita memandang
  kepada diri kita dan kekuatan kita sendiri; kita ingin mencari
  penghiburan di dalam perasaan kita atau di dalam pekerjaan kita
  sendiri dan segalanya menjadi gelap. Segera setelah kita memandang
  kepada Yesus -- kepada kepenuhan dan kesempurnaan persediaan
  kebutuhan kita yang ada di dalam Dia -- semuanya menjadi terang. Ia
  berkata, "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikuti Aku ia tidak
  akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang
  hidup." Selama saya percaya, saya memunyai terang dan sukacita
  (Yohanes 12:36, 11:40; Roma 15:13; 1 Petrus 1:3).

  Orang-orang Kristen yang bersedia hidup sesuai dengan kehendak
  Allah, dengarlah apa yang dikatakan Firman-Nya, "Bersukacitalah
  senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!"
  (Filipi 3:1, 4:6.) Di dalam Tuhan Yesus terdapat sukacita yang tak
  terkatakan dan kemuliaan yang sempurna. Percayalah kepada-Nya,
  bersukacitalah dalam hal ini. Hiduplah dengan iman. Kehidupan dengan
  iman itu merupakan keselamatan dan sukacita yang mulia. Hati yang
  sepenuhnya diserahkan untuk mengikuti Yesus, yang hidup dengan iman
  di dalam Dia dan di dalam kasih-Nya, akan memiliki terang dan
  sukacita. Oleh sebab itu, hai jiwa-jiwa, percayalah. Janganlah hanya
  mencari sukacita; Saudara tidak akan mendapatnya, karena Saudara
  hanya mencari perasaan. Tetapi carilah Yesus, ikutlah Yesus,
  percayalah Yesus, maka sukacita akan ditambahkan kepada Saudara.
  "Bukan melihat, tetapi percaya, bersukacitalah dengan sukacita yang
  tak terkatakan dan penuhlah dengan kemuliaan."

  Tuhan Yesus, Engkau adalah terang dunia, cahaya dari terang yang tak
  dapat dihampiri, di dalam-Nya kami melihat terang Allah. Dari
  wajah-Mu terpancarlah terang sehingga kami mengetahui kasih
  kemuliaan Allah. Engkau adalah milik kami, terang dan keselamatan
  kami. Ajarlah kami agar kepercayaan kami kepada-Mu lebih teguh,
  supaya dengan Engkau kami tidak akan berjalan di dalam kegelapan.
  Biarlah sukacita di dalam Engkau menjadi bukti bahwa Engkaulah
  segala-galanya bagi kami dan menjadi kekuatan kami untuk melakukan
  segala sesuatu yang Engkau kehendaki bagi kami. Amin.

  1. Sukacita saya karena memiliki sesuatu merupakan ukuran dalam
     menilai hal itu; kesukaan terhadap seseorang merupakan ukuran
     kesenangan saya terhadap dia; kegembiraan di dalam suatu
     pekerjaan merupakan ukuran kesenangan saya akan pekerjaan itu.
     Sukacita saya di dalam Tuhan dan pelayanan-Nya merupakan salah
     satu tanda yang paling nyata dari kehidupan rohani yang sehat.

  2. Sukacita dapat terhalang oleh ketidaktahuan, yaitu apabila kita
     tidak mengenal Allah dan kasih-Nya serta kemuliaan pelayanan-Nya
     dengan benar; oleh ketidakpercayaan, yaitu apabila kita masih
     mencari-cari sesuatu di dalam kekuatan dan perasaan kita sendiri;
     oleh hati yang bercabang, yaitu apabila kita tidak bersedia
     menyerahkan dan menyingkirkan segala sesuatu bagi Yesus.

  3. Pahamilah perkataan ini: "Orang yang mencari sukacita tidak akan
     mendapatkannya; tetapi orang yang mencari Tuhan dan kehendak-Nya
     akan mendapatkan kesukacitaan tanpa dicari." Renungkanlah hal
     ini: Orang yang mencari sukacita sebagai suatu perasaan, berarti
     mencari dirinya sendiri; ia ingin bersukacita tetapi tidak akan
     menemukannya. Orang yang melupakan dirinya sendiri untuk hidup di
     dalam Tuhan dan kehendak-Nya akan diajar untuk bersukacita di
     dalam Tuhan. Allah dan hanya Allah sendiri yang merupakan Allah
     daripada sukacita kita. Carilah Allah, maka Saudara akan memiliki
     sukacita itu. Saudara semata-mata hanya perlu menerimanya dan
     menikmatinya dengan iman.

  4. Apabila kita ingin memiliki sukacita yang abadi, kita harus
     bersyukur kepada Allah atas segala yang dilakukan-Nya bagi kita,
     dan percaya pada firman-Nya serta segala yang dijanjikan-Nya
     untuk digenapi-Nya.

  5. "Mata yang bersinar-sinar menyukakan hati." Tuhan tidak
     menginginkan anak-anak-Nya berjalan di dalam kegelapan; Iblis
     adalah raja kegelapan; Allah adalah terang. Kristus adalah terang
     dunia; kami adalah anak-anak terang. Hendaklah kita berjalan di
     dalam terang. Hendaklah kita percaya akan janji: "Tuhan akan
     menjadi penerang abadi bagimu .... Bagimu akan ada matahari yang
     tidak pernah terbenam ... sebab Tuhan akan menjadi penerang abadi
     bagimu dan hari-hari perkabunganmu akan berakhir" (Yesaya
     60:19, 20).

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buku: Membina Iman
  Judul asli buku: The New Life
  Penulis: Andrew Murray
  Penerjemah: Eviyanti Agus dan Pauline Tiendas-Iskandar
  Penerbit: Penerbit Kalam Hidup, Bandung 1965
  Halaman: 137 -- 140

BIMBINGAN ALKITABIAH _________________________________________________

  Sukacita sejati hanya ada di dalam Allah, berikut ayat-ayat Alkitab
  yang mengajarkan sukacita sejati itu.

                            SUKACITA (JOY)

  Perjanjian Lama:

  1. Ulangan 12:18
  2. 1 Samuel 2:1
  3. Nehemia 8:10, 12:43
  4. Ayub 33:26
  5. Mazmur 2:11, 4:7, 5:11, 9:2, 13:5, 16:9, 11, 19:8, 20:5, 28:7
  6. Mazmur 30:5, 11, 32:11, 33:21, 35:9, 40:16, 63:5, 7, 64:10, 71:23, 89:16
  7. Mazmur 97:12, 100:1-2, 119:14, 16, 162, 126:5-6
  8. Pengkhotbah 2:26
  9. Yesaya 12:2-3, 35:10, 41:16, 51:11, 55:12, 61:10
  10. Yeremia 15:16, 32:41, 33:11
  11. Yoel 2:23
  12. Habakuk 3:18

  Perjanjian Baru:

  1. Matius 25:21
  2. Lukas 1:47, 2:10, 6:23, 10:20, 15:10
  3. Yohanes 15:11, 16:20, 22, 24, 33, 17:13
  4. Kisah Para Rasul 2:28, 8:8, 39, 13:52, 16:34
  5. Roma 5:2, 11, 12:12, 14:17, 15:13
  6. 2 Korintus 1:12, 6:10, 7:4, 8:2
  7. Galatia 5:22
  8. Efesus 5:18
  9. Filipi 4:4
  10. Kolose 1:11
  11. 1 Tesalonika 1:6, 5:16
  12. Ibrani 10:34
  13. Yakobus 1:2
  14. 1 Petrus 1:8, 4:13
  15. 1 Yohanes 1:4
  16. Yudas 1:24

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Nama situs: Christian Counseling Center Indonesia (C3I)
  Penulis: Tidak dicantumkan
  Alamat URL: http://c3i.sabda.org/sukacita_joy

INFO _________________________________________________________________

                           BARU! SITUS DOA:
                  KOMUNITAS PENDOA SYAFAAT INDONESIA
                       < http://doa.sabda.org >

  Anda rindu melihat pemulihan terjadi atas keluarga, gereja, kota,
  dan bangsa Anda?

  Anda ingin belajar lebih banyak tentang doa?

  Anda ingin memiliki partner untuk berdoa dan berbagi?

  Situs Doa, yang diluncurkan oleh Yayasan Lembaga SABDA
  <http://www.ylsa.org>, adalah tempat yang tepat untuk menjawab
  kerinduan dan keinginan Anda.

  Kami percaya situs Doa, yang dilengkapi dengan Artikel, Renungan,
  Ilustrasi, Kesaksian, serta Riwayat Tokoh-Tokoh Doa, akan memperluas
  wawasan dan pengetahuan Anda tentang doa.

  Istimewanya, situs ini menyediakan beberapa kalender doa yang
  bisa Anda pakai sebagai panduan Anda berdoa, baik secara pribadi
  maupun kelompok. Bagi Anda yang ingin berbagi beban doa, situs Doa
  juga menyediakan fasilitas untuk mengirimkan permohonan doa agar
  Anda mendapatkan dukungan doa dari saudara-saudara seiman yang lain.

  Khusus bagi Anda yang dilengkapi Tuhan dengan karunia berdoa, situs
  ini menyediakan fasilitas forum yang mengundang Anda bergabung dalam
  "Komunitas Pendoa Syafaat Indonesia" untuk berdoa bersama bagi
  Indonesia. Forum ini disediakan bukan untuk berdiskusi atau berdebat
  tentang doa, namun untuk menyatukan hati kita dalam berdoa bagi
  bangsa kita yang tercinta, yaitu Indonesia. Untuk mendaftarkan diri,
  silakan menghubungi < doa(at)sabda.org >.

  Segera kunjungi situs DOA <http://doa.sabda.org>! Ingatlah selalu
  untuk memberitahukan informasi ini kepada rekan-rekan pendoa yang
  lain, sehingga kita semua mendapat berkat dan menjadi berkat bagi
  orang lain. Tuhan memberkati.

_______________________________e-KONSEL ______________________________
Pimpinan Redaksi: Christiana Ratri Yuliani
Staf Redaksi: Tatik Wahyuningsih dan Dian Pradana
Penanggung Jawab Isi Dan Teknis Yayasan Lembaga SABDA
INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR Sistem Network I-KAN
Copyright(c) 2009
YLSA -- http://www.ylsa.org/
Katalog -- http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Anda punya masalah/perlu konseling? atau ingin mengirimkan
Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
silakan kirim ke:
konsel(at)sabda.org atau owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Berlangganan: subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
ARSIP: http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
Situs C3I: http://c3i.sabda.org/
Network Konseling: http://www.in-christ.net/komunitas_umum/network_konseling
______________________________________________________________________

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org