Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/157

e-Konsel edisi 157 (1-4-2008)

Mengampuni Orang Lain

  
                    Edisi (157) -- 1 April 2008

                               e-KONSEL
======================================================================
        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
======================================================================

Daftar Isi:
  = Pengantar           : Teladan Yesus untuk Mengampuni
  = Cakrawala 1         : Pengampunan
  = Cakrawala 2         : Makna Pengampunan
  = TELAGA              : Sulitnya Mengampuni Orang Lain
  = Bimbingan Alkitabiah: Pentingnya Pengampunan
  = Info                : Lowongan Tenaga Pendidik PESTA (Pendidikan
                          Elektronik Studi Teologia Awam)

                   ========== PENGANTAR REDAKSI ==========

  Dalam sebuah persekutuan atau ibadah di gereja, topik mengampuni
  sering diangkat oleh para pembicara atau pengkhotbah. Ada banyak
  alasan mengapa topik ini sering diangkat, di antaranya karena Yesus
  telah berkenan mengampuni kita sehingga kita pun harus bisa
  mengampuni orang lain. Mengampuni tidak hanya kita lakukan kepada
  orang lain yang telah menyakiti kita, melainkan juga diri kita
  sendiri. Tak jarang, mengampuni diri sendiri jauh lebih sulit
  daripada mengampuni orang lain.

  Menanggapi realita ini, pada April ini e-Konsel mengajak Pembaca
  untuk belajar mengampuni, baik mengampuni orang lain maupun diri
  sendiri. Edisi kali ini, Redaksi terlebih dahulu mengangkat topik
  Mengampuni Orang Lain. Silakan disimak, kiranya Pembaca dapat
  belajar tentang mengampuni dari sajian ini.

  Selamat membaca!

  Pimpinan Redaksi e-Konsel,
  Christiana Ratri Yuliani

                    ========== RENUNGAN ==========

                       MENGAMPUNI SEPERTI MAWAR

  Bacaan: Kolose 3:1-17

  Banyak pasangan bercerai, salah satunya karena kurangnya
  pengampunan. Kata-kata kasar menembus sampai ke hati, sehingga
  pribadi yang terluka sulit memaafkan. Banyak keluarga juga mengalami
  keretakan relasi, karena antara orang tua dan anak atau antarsaudara
  sulit untuk saling memaafkan kesalahan. Banyak kolega dalam
  pekerjaan juga terpisahkan karena pengampunan sulit diberikan.

  Alkitab menyatakan bahwa pengampunan sejati diberikan oleh Tuhan
  Yesus. Bahkan, Yesus memberikan pengampunan tanpa batas kepada kita
  yang menanggung banyak dosa. Oleh pengampunan-Nya, kita dibebaskan
  dari hukuman atas dosa. Bacaan firman Tuhan hari ini mengajak kita
  untuk bersikap sabar dan suka mengampuni seorang terhadap yang lain,
  sama seperti Tuhan telah mengampuni kita (Kolose 3:13). Inilah salah
  satu ciri manusia baru.

  Sebuah kalimat bijak berkata, "Pengampunan seperti mawar yang
  memancarkan keharuman bagi orang yang menginjaknya." Yesus telah
  memberi teladan yang sempurna dalam hal ini. Dia rela memberikan
  diri-Nya disalibkan dan dihina, namun Dia "memancarkan keharuman"
  yang menuntun kita kepada keselamatan kekal. Inilah prinsip yang
  Yesus ajarkan. Dan, sebagai manusia baru yang terus-menerus
  diperbarui hingga serupa dengan Dia (ayat 10), kita perlu
  mengedepankan pengampunan, bahkan jika kita tak berada dalam posisi
  bersalah sekalipun!

  Mari kita mempraktikkan pengampunan dalam hidup kita. Mengampuni
  seperti Tuhan Yesus, mengampuni orang yang bahkan menurut ukuran
  dunia tidak pantas diampuni. (MZ)

             PENGAMPUNAN MEMBEBASKAN KITA DAN LAWAN KITA
                  DARI SEGALA DENDAM DAN PERMUSUHAN

  Diambil dari:
  Nama publikasi: e-Renungan Harian, 10 Maret 2008
  Penulis       : MZ
  Alamat URL    : http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2008/03/10/

                  ========== CAKRAWALA 1 ==========

                             PENGAMPUNAN

  Pengampunan adalah sesuatu yang tak ternilai harganya. Pengampunan
  membebaskan dan menyembuhkan manusia dari segala macam perasaan yang
  merugikan, seperti marah, kecewa, benci, dendam, sakit hati, dan
  perasaan-perasaan negatif lainnya. Di samping itu, realitanya
  pengampunan merupakan sesuatu yang tidak mudah dilakukan. Ada proses
  yang harus dijalani untuk seseorang bisa mengampuni atau menerima
  pengampunan dengan benar.

  Ada beberapa pandangan umum yang salah mengenai pengampunan.
  Pandangan umum yang pertama ialah "mengampuni berarti melupakan",
  seolah-olah kita harus "forgive and forget". Melupakan disamakan
  dengan mengampuni. Pandangan ini sering kali mengaburkan arti dari
  pengampunan itu sendiri, karena mengampuni sebenarnya terjadi ketika
  seseorang secara sadar mengampuni kesalahan orang lain yang
  dilakukan terhadap dirinya. Ia mengampuni bukan karena sudah lupa
  akan apa yang terjadi, tetapi karena secara sadar berusaha
  mengampuni kesalahan yang sudah dilakukan. Pengampunan tidak
  menghapus fakta bahwa sesuatu yang menyakitkan pernah terjadi di
  masa lalu. Pengampunan tidak menghilangkan bekas luka/sakit hati
  yang dialami, tetapi pengampunan menyembuhkan luka tersebut.
  Pengampunan berhubungan dengan "healed memory" (memori yang
  disembuhkan), bukan "deleted memory" (memori yang dibuang). Melalui
  pengampunan, luka lama yang tidak bisa dibuang/dihilangkan itu
  mengalami proses penyembuhan.

  Pandangan umum yang kedua ialah "mengampuni berarti kita tidak boleh
  marah atau menunjukkan emosi yang kuat". Emosi kuat yang berhubungan
  dengan kenangan lama merupakan tanda bahwa kita belum mengampuni.
  Dengan kata lain, kita harus "free of anger" (bebas dari perasaan
  marah). Pandangan ini juga tidak sepenuhnya benar, karena tidak
  hadirnya emosi yang kuat tidak menjamin bahwa kita sudah membereskan
  masalah dan sudah mengampuni. Ada individu-individu tertentu yang
  cenderung untuk menyimpan perasaannya dan tidak menunjukkan
  emosinya, tetapi hal ini tidak berarti bahwa ia telah mengampuni.
  Jadi, hadir atau tidak hadirnya emosi yang kuat memang tidak bisa
  dijadikan ukuran apakah seseorang sudah mengampuni atau belum.

  Pandangan umum yang ketiga ialah "mengampuni berarti kita hidup
  `damai` dan tidak lagi ada konflik dengan orang tersebut". Artinya,
  hindari konflik, tidak boleh membela diri, dan tidak boleh
  mengonfrontasi kesalahan. Mengampuni sering kali diartikan dengan
  menerima kesalahan orang tanpa membicarakannya secara terbuka.
  Membicarakan secara terbuka sering diidentikkan dengan memicu
  konflik. Hal ini tentunya akan membuat masalah terpendam, dan tidak
  terselesaikan.

  Sebagai contoh, seorang suami yang selingkuh misalnya, menuntut
  istrinya untuk diam dan tidak membahas masalah perselingkuhannya.
  Bahkan ia juga menolak untuk pergi ke konselor dan mencari
  pertolongan. Ia berpikir bahwa masalahnya sudah selesai dan tidak
  perlu diungkit-ungkit lagi. Jika si istri mau membicarakan atau
  mengonfrontasi masalah perselingkuhannya, maka suami akan sangat
  marah dan merasa bahwa ia toh sudah kembali, mengapa belum
  memaafkannya. Padahal justru dengan hanya diam saja, dan masalah
  tidak dibahas, si suami tidak pernah menyadari akar kejatuhannya dan
  bagaimana cara mengatasinya.

  Beberapa pandangan yang salah ini sering kali juga membuat seseorang
  mengalami masalah di dalam mengampuni. Pengampunan tidak sama dengan
  melupakan, tidak sama dengan tidak marah, dan tidak sama dengan
  diam -- tidak konflik. Jadi apa sebenarnya pengampunan itu?

  1. Pengampunan berkaitan erat dengan usaha mematikan natur dosa.
     Fokus bukan pada pribadinya, tetapi kepada apa yang ia perbuat
     (tingkah lakunya). Kita boleh marah atas dosa yang dilakukan;
     kita marah karena kita benci dosanya, bukan orangnya. Di dalam
     pengampunan ada proses pergumulan dan meratapi kesalahan (godly
     sorrow) yang membawa seseorang pada pertobatan yang sejati.
     Justru pada masalah inilah, Roh Kudus bekerja di dalam kehidupan
     anak-anak Tuhan, untuk mampu melihat kelemahan diri sehingga
     individu dimampukan untuk membuka diri dan menerima
     masukan/kritikan dari orang lain. Bahkan untuk individu tertentu
     yang hati nuraninya tumpul/mati, Roh Kudus bisa memakai orang
     lain untuk melakukan konfrontasi atas dosa yang ia lakukan. Hal
     ini berarti membuka kemungkinan terjadinya "konflik yang
     membangun" (konflik yang membawa individu untuk menyadari
     kesalahannya) sehingga ia sungguh mengerti akan kelemahannya dan
     berusaha mengatasinya. Jadi, individu tidak berhenti hanya pada
     perasaan menyesal lalu menyadari saja, tetapi ada komitmen dan
     disiplin untuk mengubah diri sendiri, menjauhi dosa, dan
     bertanggung jawab kepada Tuhan di dalam hidupnya. Ini merupakan
     salah satu aspek penting dalam pengampunan.

  2. Pengampunan berkaitan erat dengan usaha membangun kembali
     relasi/"reconciliation (rebuilding relationship)". Ada usaha yang
     nyata untuk memperbaiki relasi yang rusak. Mau menyelesaikan
     masalah secara dewasa dan berani membuka diri dan menerima
     masukan/kritikan. Meskipun demikian, pengampunan tidak selalu
     berakhir dengan kembalinya relasi seperti dulu. Rekonsiliasi
     memang membutuhkan kesiapan dari kedua belah pihak (pihak yang
     memberi dan yang menerima pengampunan). Kadang kala, ada pihak
     yang tidak mau membangun relasi yang sudah rusak sehingga
     rekonsiliasi tidak bisa terjadi. Sebaliknya, pengampunan hanya
     membutuhkan satu pihak. Jika pihak yang satunya tidak mau, maka
     rekonsiliasi tidak terjadi. Tetapi, pihak yang lain itu sudah
     mengampuni dan tidak menyimpan dendam atau kemarahan yang bisa
     menghambat pertumbuhan rohaninya atau menghambat relasi pribadi
     dengan Tuhan.

  Pengampunan memang bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan,
  tetapi setiap kita bertanggung jawab kepada Tuhan atas hidup kita
  masing-masing. Adalah omong kosong jika kita menyatakan diri kita
  sebagai orang Kristen, tetapi menyimpan sejumlah kebencian di dalam
  hati. Pengampunan membuka kemungkinan bagi kita untuk hidup tidak
  menyimpan dendam/kebencian.

  Diambil dan diedit seperlunya dari:
  Judul buletin: Parakaleo, Edisi Oktober-Desember 2005, Vol XII, No.4
  Penulis      : Lanny Pranata, M.K.
  Penerbit     : Departemen Konseling STTRII, Jakarta 2005

                  ========== CAKRAWALA 2 ==========

                          MAKNA PENGAMPUNAN

  "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih
  mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus
  telah mengampuni kamu." (Efesus 4:32)

  Untuk menyelesaikan konflik masa lalu, kita harus mengampuni mereka
  yang telah menyakiti kita. Setelah menghibur Cindy, yang mengalami
  trauma emosi karena perkosaan yang dialaminya, saya berkata, "Cindy,
  kau juga harus mengampuni orang yang telah memerkosamu." Tanggapan
  Cindy ternyata sama dengan tanggapan sebagian besar orang yang
  disakiti secara fisik, emosi, ataupun seksual oleh orang lain:
  "Untuk apa aku mengampuni dia? Anda tidak tahu betapa sakitnya hati
  saya atas perlakuannya!"

  "Kalau begitu, berarti dia masih menyakitimu sampai sekarang,
  Cindy," sahut saya. "Pengampunan adalah satu-satunya cara agar
  engkau mengalami pemulihan. Bukan untuk kebaikannya, tetapi untuk
  kebaikanmu sendiri."

  Mengapa Anda mesti mengampuni orang yang telah menyakiti Anda di
  masa lalu?

  Pertama, karena pengampunan adalah perintah Allah. Setelah mengajar
  murid-murid-Nya tentang bagaimana berdoa -- yang juga berisi tentang
  pengampunan Allah -- Yesus berkata, "Jikalau kamu mengampuni
  kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga.
  Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan
  mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:14,15) Dalam berhubungan dengan
  orang lain, hendaknya kita juga menerapkan kriteria seperti yang
  Allah terapkan terhadap kita, yakni kasih, penerimaan, dan
  pengampunan (Matius 18:21-35).

  Kedua, pengampunan dilakukan untuk menghindari jerat si setan. Dari
  banyaknya konseling yang saya layani, hati yang tak dapat mengampuni
  adalah jerat nomor satu yang dipakai setan untuk memasuki kehidupan
  orang-orang percaya. Paulus mendorong kita untuk saling mengampuni
  "supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu
  apa maksudnya" (2 Korintus 2:11). Hati yang tak dapat mengampuni
  adalah undangan terbuka bagi Iblis untuk mengikat hidup kita.

  Ketiga, kita perlu mengampuni karena Kristus telah mengampuni kita
  sehingga kita tidak lagi berada dalam kepahitan. Paulus
  menulis, "Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan
  fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala
  kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain,
  penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam
  Kristus telah mengampuni kamu." (Efesus 4:31,32)

  Tindakan Anda untuk mengampuni akan membebaskan tawanan. (Pada
  akhirnya Anda sendiri akan mendapati bahwa tawanannya adalah Anda
  sendiri!)

  Tuhan, ajarlah kami untuk mengampuni orang lain dari lubuk hati kami
  sebagaimana Engkau telah mengampuni kami.

  Diambil dari:
  Nama situs: Sumber Kristen.com
  Penulis   : Tidak dicantumkan
  Alamat URL: http://www.sumberkristen.com/Artikel/maknapengampunan.htm

                     ========== TELAGA ==========

                    SULITNYA MENGAMPUNI ORANG LAIN

  Orang yang sudah dilukai cenderung sulit untuk mengampuni. Hal itu
  disebabkan karena pandangan yang tidak menyeluruh tentang
  pengampunan. Mereka merasa bahwa mengampuni itu merugikan diri
  sendiri, tetapi sebetulnya pengampunan itu menguntungkan karena
  hati menjadi damai.

  Faktor-faktor yang menyebabkan orang sulit untuk mengampuni:
  1. Telah dilukai hingga cacat.
  2. Masa kecilnya sulit untuk memaafkan orang lain, jadi terbawa
     hingga dewasa.
  3. Mulai dari kecil perkembangan kejiwaannya belum menyeluruh, belum
     berkembang dengan baik sehingga dia belum bisa memercayai orang
     dan ini membuat dia sulit untuk mengampuni orang lain.

  Untuk bisa mengampuni orang lain, ada tahapan-tahapan yang harus
  dilalui.
  1. Ia harus tahu bahwa apa yang mengganggu adalah suatu masalah dan
     harus diselesaikan.
  2. Dia bisa mengidentifikasikan semua perasaannya dan mengeluarkan
     semuanya.
  3. Membuat satu batasan agar tidak lagi diperlakukan seperti ini.
  4. Setelah itu mengampuni dengan kasih Tuhan Yesus.

  Manfaat dari mengampuni orang lain, yaitu menjadi lebih sehat,
  jantungnya lebih sehat, tekanan darahnya lebih rendah, hidupnya
  lebih bahagia, hubungan suami istri lebih baik, hubungan dengan
  anak-anak lebih baik, hubungan dengan Tuhan lebih baik, bahkan
  penjual di toko-toko itu banyak untungnya karena dia menjadi orang
  yang lebih ramah. Dia menjadi bahagia karena bebannya hilang.

  Pengampunan itu tidak sama dengan rekonsiliasi. Rekonsiliasi artinya
  berhubungan baik kembali dan menjalin hubungan baik. Rekonsiliasi
  terjadi dua arah, jadi antara kita dan orang lain harus ada unsur
  pengampunan, sedangkan mengampuni itu tidak harus dua arah.

  Pada umumnya, kecenderungan kita berkata sudah mengampuni, tetapi
  saat bertemu dengan orang itu kita menjadi sakit hati lagi. Untuk
  menghadapi hal ini, kita perlu belajar kepada Tuhan Yesus, yaitu
  kita bisa mendoakan musuh kita, belajar berempati. Maka Tuhan akan
  memberikan kekuatan kepada kita, sehingga saat kita bertemu orang
  itu, kita tidak lagi membenci.

  Firman Tuhan, "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang
  lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di
  dalam Kristus telah mengampuni kamu." (Efesus 4:32)

  Bahkan di atas kayu salib, Tuhan Yesus masih mengatakan, "Bapa,
  ampuni mereka yang tidak tahu apa yang mereka perbuat."

  Sajian di atas, kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. 220A
  yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan.
  -- Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat
  e-mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org >
                            atau: < TELAGA(at)sabda.org >
  atau kunjungi situs TELAGA di:
  ==> http://www.telaga.org/ringkasan.php?sulitnya_mengampuni_orang_lain.htm

              ========== BIMBINGAN ALKITABIAH ==========

                        PENTINGNYA PENGAMPUNAN

  1. Jika kita tidak mengampuni orang lain, kita berdosa terhadap
     Allah.

     - Kita diperintahkan untuk saling mengampuni sama seperti Tuhan
       sudah mengampuni kita (Efesus 4:32, "Tetapi hendaklah kamu
       ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling
       mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni
       kamu."; bandingkan dengan Matius 18:21-22,35; Kolose 3:13).

     - Jika kita tidak mengampuni orang lain, maka kita melanggar
       perintah Allah.

  2. Jika kita tidak mengampuni orang lain, kita tidak memahami
     keagungan pengampunan yang telah diberikan kepada kita dalam
     Kristus Yesus.

     - Jika kita tidak rela mengampuni kesalahan orang lain, maka kita
       sama seperti hamba yang digambarkan dalam Injil Matius
       18:21-35, yang tidak rela menghapuskan hutang kawannya yang
       kecil kepadanya dibandingkan hutangnya yang besar yang sudah
       dihapuskan oleh rajanya.

     - Hamba tersebut ditegur dengan keras oleh tuannya, yang
       melambangkan Allah yang Mahaadil: "Melihat itu, kawan-kawannya
       yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi
       kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan
       berkata kepadanya, `Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu
       telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah
       engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah
       mengasihani engkau?` Maka marahlah tuannya itu dan
       menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan
       seluruh hutangnya.", 3. Jika kita tidak mengampuni orang lain, kita mengganggu kesatuan
     tubuh Kristus.

     - Dalam firman Tuhan, kita diperintahkan untuk memelihara
       kesatuan roh dalam tubuh Kristus (Efesus 4:3, "Dan berusahalah
       memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.")

     - Jika kita tidak rela mengampuni saudara-saudara seiman kita,
       maka kita tidak memelihara kesatuan tubuh Kristus, malah justru
       kita mengganggu dan merusak kesatuannya.

  4. Jika kita tidak mengampuni, kita memberikan kesempatan kepada
     Iblis untuk merusak -- bahkan menghancurkan -- hidup kita dan
     pelayanan kita.

     - Ayat kunci: "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat
       dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan
       janganlah beri kesempatan kepada iblis." (Efesus 4:26-27)

     - Jangan lupa bahwa Iblis akan mengambil setiap kesempatan yang
       kita berikan kepadanya!

  Diambil dari:
  Judul buku: Buku Panduan Pemulihan Terpadu Dasar v1. Mei 07
  Penulis   : Tim Duta Pembaharuan
  Penerbit  : Duta Pembaharuan

                      ========== INFO ==========

                    LOWONGAN TENAGA PENDIDIK PESTA
             (PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM)

  Yayasan Lembaga SABDA mengajak para profesional muda untuk
  bersama-sama melayani Tuhan melalui dunia teknologi informasi.
  Melalui program pendidikan jarak jauh, yaitu Pendidikan Elektronik
  Studi Teologi Awam (PESTA), YLSA ingin mengembangkan pelayanannya
  lebih luas lagi. Untuk itu, dicari tenaga PENDIDIK yang berkualitas
  untuk bekerja di YLSA, dengan syarat-syarat sebagai berikut.

  1. Sudah lahir baru dalam Kristus dan sudah dibaptis.
  2. Pendidikan S1/S2 Jurusan PAK/Teologia.
  3. Memiliki kemampuan menulis dan membuat modul pelajaran.
  4. Memiliki kemampuan komunikasi yang baik (verbal dan non verbal).
  5. Bisa bekerja dalam Tim.
  6. Bisa mengoperasikan komputer dengan lancar.
  7. Terbiasa dengan internet.
  8. Bersedia ditempatkan di Solo, Jawa Tengah.
  9. Bersedia kerja penuh waktu (full time -- dalam kantor) dengan
     masa kerja minimal 2 tahun.
  10. Pria/Wanita, diutamakan belum menikah.

  Jika Anda dipanggil Tuhan untuk terjun dalam pelayanan elektronik,
  silakan mengirim surat lamaran dan CV secepatnya ke:

  YLSA
  Kotak Pos 25 SLONS
  57135

  atau kirim e-mail ke:

  ==>  rekrutmen-ylsa(at)sabda.org

  Untuk mengetahui pelayanan PESTA lebih lanjut, silakan berkunjung
  ke:

  ==> http://www.pesta.org/

============================== e-KONSEL ==============================
             PIMPINAN REDAKSI: Christiana Ratri Yuliani
                     STAF REDAKSI: Evie Wisnubroto
                    PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
                         Yayasan Lembaga SABDA
                     INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
                          Sistem Network I-KAN
                      Copyright(c) 2008 oleh YLSA
                         http://www.ylsa.org/
                        http://katalog.sabda.org/
                     Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                 No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
======================================================================
                Anda punya masalah/perlu konseling?
         atau ingin mengirimkan Informasi/artikel/bahan/
           sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
               silakan kirim ke: konsel(at)sabda.org
               atau owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org

  Berlangganan: subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
  Berhenti    : unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
  ARSIP       : http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
  Situs C3I   : http://c3i.sabda.org/
======================================================================

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org