Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-konsel/127

e-Konsel edisi 127 (4-1-2007)

Para Lanjut Usia

                    Edisi (127) -- 01 Januari 2007

                               e-KONSEL
======================================================================
        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
======================================================================

Daftar Isi:
  = Pengantar : Selamat Tahun Baru 2007
  = Renungan  : Memantapkan Bagian Usia Ketiga
  = Cakrawala : Tolong, Saya Bertambah Tua
  = TELAGA    : Sampai Hari Tuaku
  = Surat Anda: Kaset TELAGA


                ========== PENGANTAR REDAKSI ==========

  Selamat tahun baru 2007!

  Tiupan terompet, gemerlap kembang api, dan kemeriahan lain untuk
  menyambut tahun baru sudah mulai reda. Kini tiba saatnya menapaki
  tahun yang baru dengan harapan-harapan dan semangat yang baru.

  Hampir seperti ulang tahun, pergantian tahun sering mengingatkan
  kita akan waktu. Seiring berlalunya waktu, usia kita pun semakin
  bertambah; sehari, seminggu, sebulan, dan kemudian setahun lebih
  tua. Suka tidak suka, itulah yang terjadi. Seiring dengan itu pula,
  berbagai perubahan pun kita alami.

  Mengawali tahun 2007 ini, e-Konsel menghadirkan serangkaian tulisan
  yang mengajak pembaca untuk melihat beberapa perubahan yang terjadi
  ketika seseorang mulai memasuki usia senja. Kami sungguh berharap
  edisi pembuka ini bisa menolong, khususnya bagi Anda yang sudah
  memasuki usia senja. Sedangkan bagi Anda yang masih muda, kami harap
  edisi ini juga membantu Anda untuk memahami mereka yang telah
  berusia lanjut.

  Redaksi e-Konsel,
  Ratri


                    ========== RENUNGAN ==========

                    MEMANTAPKAN BAGIAN USIA KETIGA

  Bacaan: Kisah Para Rasul 2:14-21

  Bacaan Refleksi
  ---------------
  Tahap awal kehidupan adalah waktu bertumbuh dengan menggunakan
  "kepala", "tangan", dan "hati" yang bertumbuh dalam kebijakan,
  anugerah, dan usia. Ini adalah tugas utama usia pertama.

  Bagian usia kedua ditandai dengan otonomi dan pilihan tertentu yang
  berdasar pada apa yang saya nilai dan hargai, orang yang saya
  kenal dan alasan saya mengenal mereka, pekerjaan yang saya lakukan,
  siapa sahabat saya, apakah saya menikah dan punya anak, di mana saya
  harus hidup, dan sebagainya.

  Bagi banyak orang, tanda-tanda memasuki "tahun-tahun kemunduran"
  tampak dalam hal kelambanan, hilangnya semangat dan tujuan, sampai
  menghalangi upaya kreatif dalam sisa hidup ini. Tetapi dilihat dari
  sisi rohani atau duniawi, tahap usia ketiga adalah waktu mengambil
  keputusan secara sadar, saat penuh anugerah, di mana para lanjut
  usia dapat mengembalikan karunia yang diterimanya, sebagai saat
  melibatkan diri dengan masyarakat, bukan selaku anggota keluarga
  atau pekerja, tetapi selaku penduduk dunia yang diberi tanggung
  jawab berat. (Charles J. Fahey)

  Memantapkan Bagian Usia Ketiga
  ------------------------------
  Usia adalah suatu perjalanan yang kita mulai sejak lahir. Bagian
  pertama hidup kita berada di sekitar keluarga dan sekolah. Ini
  adalah usia siap dewasa yang bertanggung jawab.

  Pada bagian kedua, kita menemukan tempat di dunia dan
  memantapkannya. Kita berkeluarga dan terbiasa berperan dalam dunia
  pekerjaan. Lalu, tibalah bagian ketiga perjalanan kita, di mana
  keinginan untuk mencapai sesuatu sudah berkurang atau tidak sibuk
  merawat anak-anak yang semula adalah prioritas pertama. Lalu apa
  ini? Apakah kini waktunya "keluar ke padang rumput"?

  Bukan. Ini adalah waktu untuk mencari arah baru dalam perjalanan
  hidup kita. Kita menjadi lebih bijaksana, lebih berpengalaman, dan
  lebih tenang daripada sebelumnya. Kita bertumbuh terus dan
  mengembangkan wawasan kita sebagaimana kita tumbuh, berkembang, dan
  beroleh hidup yang berarti pada usia ketiga.

  Benarkah pendapat Robert Browning yang menyebutkan bahwa "semakin
  tua, semakin baik"? Apakah tubuh tua kita mengejek dan membatasi
  pertumbuhan kita? Bila kita melihat para lanjut usia bertumbuh
  bagaikan memiliki sepasang kaki yang baru dalam perjalanan hidup,
  yakni kehidupan usia ketiga, kita mungkin dipesonakan oleh hal-hal
  yang sudah Tuhan siapkan bagi kita.

      Di dalam terang hidup itu aku berjalan
      hingga ku selesaikan seluruh perjalanan hidupku
      (terjemahan dari "I Heard the Voice of Jesus Say")

  Doa
  ---
  Tuhan dari segala generasi, kami hidup melalui dua bagian usia kami
  dan sejauh ini kami berhasil. Tolonglah agar kami menyelesaikan usia
  ketiga kami dengan sebaik-baiknya. Amin.

  Bahan diambil dari:
  Judul buku: Tetap Ceria di Usia Senja
  Penulis   : Richard L. Morgan
  Penerbit  : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta 1998
  Halaman   : 44 -- 45

                   ========== CAKRAWALA ==========

                     TOLONG, SAYA BERTAMBAH TUA!

  Usia tua sering dipandang sebagai masa yang tidak produktif dan
  tidak berguna. Bob Buford, pendiri Jaringan Kepemimpinan, menuliskan
  dalam bukunya bahwa usia produktif seseorang hanyalah pada empat
  dekade pertama kehidupannya sedangkan sisanya adalah masa-masa
  kemunduran diri. Namun, pandangan ini berbeda sekali dengan Alkitab.
  Mazmur 92:13-15 menyatakan bahwa pada usia lanjut sekalipun, manusia
  tetap dapat Allah pakai untuk menyatakan kebenaran-Nya.

  Pertanyaan "Mengapa"
  --------------------
  Mengapa kita menjadi tua? Mungkin itulah pertanyaan yang sering
  muncul. Tak seorang pun akan bertambah muda. Seiring pertambahan
  usia, perubahan fisik pun mulai muncul. Namun, pengalaman-pengalaman
  hidup yang semakin bertambah hendaknya semakin membuat kita
  bijaksana.

  Rentang hidup kita diawali dengan bekerja keras untuk mencapai apa
  yang kita inginkan. Bahkan sampai usia tengah baya pun kita masih
  terus mencari apa yang kita inginkan. Tapi Allah tidak melihat kita
  dari apa yang kita lakukan atau yang kita dapatkan, tetapi dari
  siapa diri kita.

  Beban Setengah Baya
  -------------------
  Usia tengah baya merupakan transisi dari kesibukan kita ke fokus
  kita. Karena masa ini adalah masa transisi, tidaklah mengherankan
  bila banyak orang yang mengalami krisis pada saat memasuki usia
  tengah baya ini. Oleh sebab itulah, usia tengah baya memberikan
  kesempatan kepada kita untuk mengevaluasi diri, khususnya hubungan
  kita dengan Kristus. Sudahkah kita benar-benar menggunakan karunia,
  kreativitas, tenaga, dan kemampuan yang Allah berikan kepada kita
  untuk kemuliaan-Nya. Pada usia ini juga merupakan saat yang baik
  untuk mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan baru untuk masa yang
  akan datang. Jangan memandang masa lalu, namun rayakan masa
  sekarang.

  Hulu-Hulu Sungai Manusia
  ------------------------
  Sungai Mississippi yang mengalir di Louisiana merupakan aliran air
  yang membawa lumpur dan kotoran. Keadaan ini berkebalikan dengan
  aliran Father of Water di Minnesota yang mengalir jernih. Sungai
  Mississippi merupakan gambaran dari diri kita yang sudah terpolusi
  dengan dosa. Polusi ini berawal dari dosa Adam dan Hawa. Kain adalah
  pembunuh pertama, sedangkan Habel merupakan korbannya.

  Lama hidup manusia sekarang dan dulu pun berbeda. Alkitab mencatat,
  Adam meninggal pada usia 930 tahun, Nuh hidup sampai berusia 950
  tahun, sedangkan Metusalah, kakeknya, sampai usia 969 tahun. Akan
  tetapi, lama hidup manusia semakin lama semakin pendek. Abraham
  hanya sampai berusia 175 tahun (Kejadian 25:7). Pada zaman Musa,
  rata-rata usia manusia 120 tahun (Ulangan 34:7) dan Daud hanya
  berumur 70 tahun (2 Samuel 5:4). Meskipun perkembangan dan kemajuan
  medis telah berhasil memperpanjang sedikit usia manusia, penuaan
  tetap tidak bisa dihindari.

  Perspektif Allah tentang Penuaan
  --------------------------------
  Dunia memang cenderung lebih menyukai masa muda dibanding dengan
  masa tua, namun tidak demikian dengan Allah. Allah memiliki
  pandangan tersendiri terhadap masa tua. Mazmur 92:13-15 menjelaskan,
  orang yang bertambah tua masih tetap dapat berbuah dan memperdalam
  persahabatannya dengan Tuhan. Ini jelas sekali berbeda dengan
  pandangan dunia yang menganggap orang yang sudah lanjut usia sudah
  tidak produktif lagi. Amsal 16:31 dan 20:29 menyebutkan bahwa Allah
  tetap menghormati orang yang sudah tua dan menjadi tua adalah suatu
  kehormatan. Alkitab mencatat beberapa peristiwa yang dialami Kaleb,
  Naomi, Abraham, dan Simeon yang menunjukkan bahwa Allah tetap
  menghargai orang yang sudah lanjut usia.

  Meskipun demikian, Allah tidak memberikan jaminan karakter pada masa
  lanjut usia. Contohnya, Salomo yang memiliki banyak istri pada masa
  tuanya justru berpaling kepada Allah karena pengaruh istri-istrinya
  yang memiliki allah lain (1Raja-raja 11:4). Salomo akhirnya
  menyesal dan kembali kepada Allah (Mazmur 71:17-18).

  Janji lain Allah untuk para lanjut usia terdapat di Yesaya 46:4,
  "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku
  menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu
  terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu."

  Sikap Kita Menuju Masa Tua
  --------------------------
  Langkah pertama yang dapat kita tempuh saat mulai memasuki masa tua
  adalah menyadari bahwa masa tua merupakan bagian dari kehidupan
  dunia yang telah jatuh. Masa tua tidak berarti menurunnya segala
  kemampuan fisik kita. Yesus mengatakan dalam Lukas 2:52 bahwa kita
  hendaknya terus meningkat dalam kebijakan, termasuk hubungan dengan
  Allah dan orang lain.

  Langkah kedua adalah menyadari bahwa masa tua juga dialami oleh
  orang lain. Perubahan-perubahan secara fisik tidak perlu
  dikhawatirkan. Sebaliknya, pikiran-pikiran positiflah yang
  diperlukan untuk menjalani masa tua. Ada banyak tokoh dunia yang
  justru menghasilkan karya terbaik mereka ketika mereka sudah lanjut
  usia, misalnya:
  -  Michaelangelo yang menyelesaikan lukisan "The Last Judgement"-nya
     pada usia 89 tahun. Sebelumnya, di usia 66 tahun dia ditunjuk
     sebagai arsitek Gereja St. Petrus.

  -  John Wesley masih berkhotbah sampai akhirnya dipanggil Tuhan pada
     usia 90 tahun.

  -  Thomas Alfa Edison menghasilkan karya terbaiknya antara usia 70
     dan 80 tahun.

  Alkitab juga mencatat tokoh-tokoh yang pada masa tuanya justru
  diberi kepercayaan oleh Tuhan, misalnya Abraham yang memiliki anak
  dan membesarkannya saat mencapai usia seratus tahun. Musa, Abraham,
  Ishak, Yakub, dan Yusuf juga tetap Tuhan pakai sampai masa tua
  mereka.

  Perintah untuk Menghormati
  --------------------------
  Dalam Imamat 19:32, Musa mencatat hal penting yang harus kita
  lakukan terhadap orang yang lebih tua. Kita tidak mungkin takut akan
  Tuhan jika kita tidak menghormati orang yang lebih tua. Paulus juga
  menasihatkan orang-orang muda supaya mereka menghormati dan tidak
  berlaku kasar kepada orang yang lebih tua (1Timotius 1-3).

  Demikian pula dengan orang lebih tua, mereka harus dapat menjadi
  teladan bagi yang muda dan menyalurkan nilai-nilai Allah (Mazmur
  71:18; Titus 2:2-5).

  Jadi, masa tua bukanlah masa yang membuat kita panik. Sebaliknya,
  masa tua merupakan masa untuk memasuki tahapan kehidupan yang baru.

  Bahan diringkas dari:
  Judul buku: Hidup Prima di Usia Senja
  Penulis   : Woodrow Kroll dan Don Hawkins
  Penerbit  : Yayasan Andi, Yogyakarta 2001
  Halaman   : 19 -- 28

                     ========== TELAGA ==========

  Seperti halnya seorang anak yang mulai memasuki usia remaja, yang
  sibuk mencari jati diri mereka dan beradaptasi dengan berbagai
  perubahan baik secara fisik maupun psikologis, demikian pula dengan
  seseorang yang mulai memasuki usia senja. Adaptasi dengan masa yang
  baru juga mereka perlukan untuk dapat menjalani sisa hidup mereka.
  Dalam tanya jawab berikut ini, Pdt. Paul Gunadi Ph.D. akan
  memaparkan perubahan-perubahan dan adaptasi apa saja yang terjadi
  ketika kita memasuki usia lanjut. Silakan menyimak!

                          SAMPAI HARI TUAKU

  T : Setiap fase pernikahan memiliki masalahnya sendiri-sendiri. Bagi
      pasangan yang sudah memasuki fase usia lanjut, masalah-masalah
      apa saja yang biasanya muncul?

  J : Masalah yang biasanya muncul adalah keterbatasan. Kesehatan kita
      di hari tua sudah terbatas, tidak sesehat dulu lagi. Contohnya,
      dalam hal pendengaran. Pendengaran kita mulai berkurang sehingga
      perlu penyesuaian untuk berbicara dengan pasangan. Atau ingatan
      kita berkurang sehingga kita atau pasangan kita kembali
      menanyakan hal-hal yang baru saja kita bicarakan. Mereka yang
      kebetulan memiliki memori lebih kuat bisa menjadi jengkel karena
      pasangannya bertanya lagi, padahal baru saja diberitahukan.
      Masalah juga bisa timbul karena sering lupa sehingga merepotkan
      pasangan. Di dalam keterbatasan inilah sebagai suami-istri kita
      harus menghadapi tantangannya. Untuk menghadapi tantangan ini,
      kita harus belajar melihat unsur-unsur yang menimbulkan
      keterbatasan itu.

      Pertama adalah jenis aktivitas. Ada hal-hal yang biasa kita
      lakukan, namun sekarang tidak bisa lagi kita lakukan. Misalnya,
      kalau kita senang main tenis, sampai usia tertentu kita masih
      bisa bermain tenis. Namun, melewati usia tertentu, kita tidak
      akan bisa lagi bermain tenis. Pilihannya adalah tidak lagi
      bermain tenis atau harus mengganti jenis aktivitasnya karena
      tetap ingin hidup sehat. Ada orang yang tidak bersedia dan
      berkata, "Saya suka tenis, maka saya akan terus main tenis."
      Akhirnya, tulangnya patah atau terkena serangan jantung karena
      tenis tidak cocok lagi untuk usia yang sudah lanjut. Atau karena
      tidak bersedia mengganti dengan aktivitas lain, akhirnya tidak
      olahraga sama sekali sehingga di masa tuanya ia justru
      mengumpulkan penyakit-penyakit yang lain.

      Kecenderungan bagi pasangan yang sudah lanjut usia adalah adanya
      salah satu pihak yang menyangkali keterbatasannya sehingga
      pasangannya akan menjadi kesal. Akhirnya, terjadilah percekcokan
      yang tidak pernah muncul di usia muda karena masalah ini memang
      muncul di usia tua. Sebaliknya, ada juga pasangan yang tidak mau
      mengerti bahwa pasangannya tidak lagi sekuat dan selincah dulu.
      Dia memaksa pasangannya untuk terus pergi bersamanya. Dengan
      demikian, kita bisa menyimpulkan bahwa kedua belah pihak memang
      harus benar-benar saling memahami, menerima, dan terutama
      saling memercayai. Jadi, perlu suatu jalinan komunikasi yang
      baik dengan berlandaskan saling memercayai dan menghargai.
------
  T : Selain keterbatasan dalam jenis aktivitas, apakah ada hal-hal
      lainnya?

  J : Hal yang kedua adalah frekuensi. Jika kita terbiasa bermain
      tenis, misalkan tiga kali per minggu, ketika berusia lanjut,
      kita tidak lagi bisa bermain tiga kali seminggu. Mungkin hanya
      menjadi dua kali seminggu. Aktivitas yang biasa kita lakukan
      beberapa kali per hari atau per minggu, seiring pertambahan
      usia, harus kita kurangi.

      Selain frekuensi, yang juga harus kita pertimbangkan ulang
      adalah seberapa baik dan memuaskan kualitasnya. Salah satu yang
      juga mesti kita sadari adalah relasi suami-istri secara seksual.
      Tidak bisa disangkal, relasi seksual pada masa tua akan berubah,
      tidak lagi mempunyai kualitas sebaik dulu. Ini bagian yang juga
      harus diterima. Ada hal-hal yang masih bisa dilakukan, tapi
      tidak lagi sebaik atau sememuaskan sebelumnya. Bagian yang mesti
      kita sadari juga adalah berapa lama durasinya. Misalnya, jika
      dulu bisa bermain tenis dua jam, maka dengan bertambahnya usia
      mungkin harus ada pengurangan dari dua jam ke satu setengah jam.
      Bepergian dulu bisa dari pagi sampai sore, sekarang sampai siang
      saja harus sudah pulang. Inilah elemen-elemen yang mesti kita
      sadari telah berubah dan harus kita terima.
------
  T : Kalau keterbatasan justru mengurangi jenis aktivitas, tidakkah
      sebaiknya dicarikan penggantinya? Misalnya, walaupun tidak bisa
      menikmati kepuasan seksual, bukankah harus ada sesuatu yang
      memuaskan dirinya?

  J : Sudah tentu dia harus kreatif mencari bentuk-bentuk aktivitas
      lain yang dapat dilakukannya. Namun, kita harus tetap berjalan
      di koridor kehendak Tuhan. Jangan sampai kita mencari aktivitas
      pengganti yang melawan kehendak Tuhan. Kita memang harus
      kreatif dan kreativitas itu bisa diwujudkan. Misalnya, kalau
      dulu terbiasa pergi ke mana-mana, sekarang mungkin jalan di
      sekitar rumah saja bersama-sama. Dulu biasa pulang malam,
      sekarang pulang sore karena mata tidak lagi awas untuk bisa
      melihat jalanan dengan baik. Pikirkanlah apa yang bisa dilakukan
      di rumah sehingga masih bisa melakukan kebersamaan.
------
  T : Selain faktor keterbatasan, adakah faktor lainnya?

  J : Masa tua ini sebenarnya masa mengenang dan menuai. Di masa
      seperti ini, kita tidak lagi dapat memandang ke depan sebab
      secara alamiah kita tahu bahwa tidak banyak lagi waktu yang
      tersisa. Secara fisik pun ingatan jangka pendek kita makin
      memudar sehingga kita sering melupakan yang sekarang. Tapi
      jangka waktu kita masih ada. Kita bisa mengingat hal-hal yang
      dulu pernah terjadi. Itu sebabnya, kalau kita pernah mengalami
      kepahitan atau kekecewaan di masa lalu, kita perlu
      membereskannya, mengampuni orang yang melukai atau mengecewakan
      kita. Bila tidak, di hari tua kepahitan itu akan mengganggu,
      membesar, dan benar-benar menguasai kita. Ketika berkunjung ke
      rumah orang seperti ini, kita akan selalu disuguhi cerita yang
      sama tentang kepahitan dan kebenciannya kepada orang lain.
      Masalahnya, orang ini sudah membicarakan kemarahan dan
      kekecewaannya berkali-kali kepada setiap orang yang berkunjung
      kepadanya. Masa tua adalah masa mengenang dan menuai. Kalau
      sebelumnya menabur benci dan dendam, di hari tua kelak kita akan
      menuai benci dan dendam dalam skala yang lebih besar.
      Sebaliknya, kalau di masa lampau kita menanam banyak pengalaman
      indah dengan mengampuni, tidak menggenggamnya sendiri, tetapi
      memilih menyerahkan semuanya kembali kepada Tuhan, masa tua akan
      menjadi masa yang lebih indah sebab yang kita ingat adalah yang
      hal yang indah. Ketika kita tidak menyimpan dendam, maka yang
      kita tuai adalah pengampunan dan keindahan. Itu sebabnya, kita
      akan melihat mata orang tua yang indah, bersinar, dan menjadi
      berkat karena masa lalu yang penuh pengampunan. Tapi ada juga
      orang tua yang masih memancarkan kebencian dan kepahitan.
------
  T : Kadang-kadang, ada orang tua yang terus menyesali masa lalunya,
      tapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena unsur usia.
      Bagaimana mengatasi keadaan seperti ini?

  J : Dia harus datang kepada Tuhan dan berkata, "Tuhan, ada kerikil
      dalam hidup saya. Saya tahu ini tidak benar, saya harus
      membereskannya." Nah, dia harus mau membereskan. Tidak saat di
      mana kita berkata terlambat untuk mengampuni, untuk
      membereskan -- selama masih ada hari, berarti kita masih bisa
      mengampuni. Yang penting ada kemauan. Namun, sering kali
      kebencian sudah mendarah daging dan menjadi bagian hidupnya
      untuk waktu yang lama. Bila ini terjadi, ia tidak dengan mudah
      mau atau melepaskan kebencian itu. Jadi semakin hidup ini diisi
      oleh kepahitan, yang harus menanggung hal itu justru
      pasangannya. Setiap hari pasangannya harus mendengarkan keluhan
      kepahitan yang tidak pernah habis. Jadi kalau kita melihat dia
      merugikan dirinya sendiri, tapi tidak mau melepaskannya, Tuhan
      memberikan pilihan kepada mereka, yaitu datang kepada-Nya
      sehingga dimampukan untuk mengampuni atau tetap tidak mau
      mengampuni sehingga ia terus dikuasai oleh kebencian.
------
  T : Masih adakah faktor lain pada masa tua ini yang perlu
      diperhatikan?

  J : Masa tua adalah masa perubahan prioritas. Maksudnya, oleh karena
      sedikitnya waktu yang tersisa dan berkurangnya kesanggupan
      fisik, kita pun dipaksa menetapkan ulang prioritas hidup kita.
      Kita mesti duduk bersama dan membicarakan apa yang sekarang
      ingin kita lakukan di sisa-sisa hari kita. Jangan sampai nanti
      yang satu mau ke kiri, yang lain mau ke kanan. Sudah tentu di
      masa tua tetap diperlukan suatu kerelaan untuk mengalah, untuk
      berkata, "Maaf, saya sebetulnya sulit menerima ini, tapi karena
      saya tahu ini penting bagimu saya akan mendukungmu." Semua ini
      harus dijaga dalam koridor saling mengerti.

      Ada kecenderungan di hari tuanya sebagian orang menggunakannya
      untuk membalas dendam. Adakalanya mereka memang terlalu pahit di
      masa lampau, diperlakukan buruk oleh pasangannya, jadi masa
      tua dimanfaatkan sebagai masa pembalasan dendam. Namun, kita
      mesti ingat bahwa kita tetap bertanggung jawab atas tindakan
      kita sekarang. Tuhan memanggil kita untuk mengampuni -- tidak
      membalas kejahatan dengan kejahatan, Tuhan memanggil kita untuk
      mengasihi, dan kita bertanggung jawab untuk menunaikan perintah
      Tuhan ini.
------
  T : Apakah orang yang sudah lanjut usia tetap perlu mempunyai
      cita-cita atau pengharapan untuk masa depannya walaupun hanya
      tinggal sedikit?

  J : Itu penting sekali. Bicarakanlah apa yang ingin dikerjakan
      bersama setahun ini atau tahun depan kalau Tuhan mengaruniakan
      kesehatan kepada kita. Jadi, silakan mengisi masa tua dengan
      rencana-rencana yang realistik dan dapat dilakukan.
------
  T : Bagaimana dengan harapan-harapan masa lalunya yang tidak menjadi
      kenyataan? Bukankah harapan-harapan itu harus ditinjau ulang,
      atau malah harus ditinggalkan, dsb.? Bukankah menyakitkan
      meninggalkan harapan-harapan yang sudah tidak mungkin tercapai?

  J : Di masa tua, kita mesti berdamai dengan diri kita pula.
      Maksudnya, waktu kita menengok ke belakang dan melihat hal-hal
      yang tidak kita dapatkan, kita mesti duduk dan berpikir dengan
      jernih. Jangan menyalahkan orang karena tindakan ini hanya akan
      menambahkan kepahitan. Lihatlah, apakah itu bagian kita. Kalau
      memang ini kesalahan orang dan orang berbuat buruk kepada kita,
      tugas kita di masa tua adalah meminta Tuhan menolong kita
      mengampuni orang itu, ini proyek kita. Kita tidak bisa
      mendelegasikan ini kepada orang lain, ini adalah tanggung jawab
      kita kepada Tuhan. Kalau memang kitalah yang berandil, yang
      membuat kita kehilangan kesempatan baik itu, kita juga mesti
      berdamai dengan diri kita dan menerimanya. Setelah itu, kita
      datang kembali kepada Tuhan dan percaya bahwa meskipun kita
      kehilangan itu semua, tetapi rencana Tuhan, anugerah Tuhan bagi
      kita cukup, tidak lebih juga tidak kurang.
------
  T : Apa firman Tuhan yang sesuai dengan topik ini?

  J : Pengkhotbah 3:11 dan 13, "Ia membuat segala sesuatu indah pada
      waktunya ...; dan bahwa setiap orang dapat makan, minum, dan
      menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga
      adalah pemberian Allah." Ini benar-benar konsep teologis yang
      dalam, yaitu bahwa Tuhan menguasai segalanya. Dia Allah yang
      berdaulat; Dia yang memberikan keindahan pada waktunya; Dia
      yang membuat seseorang mampu untuk makan, minum, dan menikmati
      hidupnya. Tuhanlah segalanya. Jadi, di hari tua kita kembali
      kepada Tuhan, bersyukur dan berserah kepada-Nya.


    Sajian di atas, kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. #032A
    yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan.
    -- Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat
    e-mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-onsel(at)hub.xc.org>
                              atau: < TELAGA(at)sabda.org >


                   ========== SURAT ANDA ==========

  Dari: Ronny <ronny<at>>
  >Saya mau tanya, dimana ya saya bisa dapat kaset-kaset TELAGA?
  >Selain kaset apa ada dalam bentuk buku? terus apa saya bisa tahu
  >judul-judul kaset maupun buku apa saja yang tersedia? Karena saya
  >tertarik untuk membelinya. Saya tinggal di Surabaya.

  Redaksi:
  Saat ini, selain dalam bentuk kaset dan CD, beberapa topik dari
  TELAGA juga sudah diterbitkan dalam bentuk buklet. Buklet-buklet
  ini bisa Anda dapatkan di toko-toko buku Kristen seperti Kalam
  Hidup, Immanuel, dan lain-lain. Sedangkan untuk mendapatkan kaset
  dan CD-nya, Anda bisa datang langsung ke:

  Kantor LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen)
  Jl. Cimanuk 58 Malang 65122
  Telp. (0341) 493645,
  e-mail: < pesan(at)telaga.org >

  Untuk mengetahui judul-judul kaset/CD maupun buklet yang tersedia,
  silakan kunjungi Situs TELAGA di:
  ==>  http://www.telaga.org/
  atau
  ==>  http://www.telaga.org/audio.php
  untuk mengunduh kaset yang tersedia.

  Informasi ini sekaligus kami sampaikan untuk pembaca e-Konsel yang
  ingin mendapatkan lebih banyak lagi informasi seputar masalah
  keluarga dan masalah psikologi secara umum dari TELAGA.


============================== e-KONSEL ==============================
                         STAF REDAKSI e-Konsel
                             Ratri, Evie
                    PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
                         Yayasan Lembaga SABDA
                     INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
                          Sistem Network I-KAN
                      Copyright(c) 2007 oleh YLSA
                      http://www.sabda.org/ylsa/
                       http://katalog.sabda.org/
                     Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                 No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
======================================================================
Anda punya masalah/perlu konseling?        masalah-konsel(at)sabda.org
Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
dapat dikirimkan ke alamat:           owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
  Berlangganan: subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
  Berhenti    : unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
  Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
  ARSIP       : http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
  Situs C3I   : http://c3i.sabda.org/
======================================================================

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org