Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-konsel/124

e-Konsel edisi 124 (21-11-2006)

Dusta

                    Edisi (124) -- 15 November 2006

                               e-KONSEL
======================================================================
        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
======================================================================

Daftar Isi:
  = Pengantar            : Tak Perlu Belajar Berdusta
  = Renungan             : Hanya Kebenaran
  = Cakrawala            : Betapa Serius Dusta, Ternyata
  = Bimbingan Alkitabiah : Dusta
  = Kesaksian            : Apakah Kamu Pernah Berbohong?
  = Tanya Jawab Konseling: Apakah Saya Boleh Berbohong pada Istri Demi
                           Kebaikan?
  = Surat Anda           : Datang Tepat Waktunya


                ========== PENGANTAR REDAKSI ==========

  Setiap orang tidak perlu belajar untuk bisa berdusta atau berbohong.
  Natur manusia yang berdosa memberikan banyak peluang bagi kita untuk
  melakukan dosa berbohong. Itu sebabnya, untuk pandai berbohong anak
  kecil tidak perlu diajari, tak terkecuali untuk orang Kristen.

  Selain karena natur dosa, rasa takut dan terdesak sering menjadi
  faktor pendorong seseorang untuk berdusta. Banyak orang berpikir
  bahwa berdusta atau berbohong demi kebaikan boleh dilakukan orang
  Kristen. Tapi Alkitab berkata bahwa dusta untuk alasan apa pun
  tetaplah dosa. Dusta adalah pelanggaran yang serius di mata Allah.

  Edisi ini mengajak pembaca untuk melihat betapa seriusnya dusta di
  mata Allah dan akibatnya bagi manusia. Sejumlah ayat Alkitab akan
  diangkat untuk menunjukkan bahwa dusta merupakan kekejian bagi
  Allah. Kami harap sajian berikut dapat menjadi berkat bagi pembaca.

        "Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi TUHAN,
     tetapi orang yang berlaku setia dikenan-Nya." (Amsal 12:22)
             < http://sabdaweb.sabda.org/?p=Amsal+12:22 >

  Redaksi e-Konsel
  Ratri

                    ========== RENUNGAN ==========

                           HANYA KEBENARAN

  Bacaan : Amsal 19:1-9

  Seorang anak lelaki berusia 12 tahun menjadi saksi kunci dalam suatu
  perkara. Salah seorang pengacara, setelah mengajukan beberapa
  pertanyaan, bertanya, "Ayahmu pasti telah mengatur apa yang harus
  kamu katakan, bukan?"

  "Benar," jawab anak itu.

  "Sekarang katakan pada kami," desak sang pengacara. "Apa saja yang
  ia perintahkan?"

  "Baiklah," jawab anak itu, "Ayah mengatakan bahwa para pengacara
  akan mencoba membingungkan kesaksian saya; tetapi apabila saya
  cermat dan berkata benar, saya akan mampu mengatakan hal yang sama
  setiap saat."

  Orang yang benar tidak memiliki sesuatu pun yang perlu
  disembunyikan, tetapi orang yang suka berbohong akan membayar harga
  yang mahal atas ketidakjujurannya. Satu kebohongan akan berkembang
  menjadi kebohongan lain untuk menutupi kebohongan yang dilakukan
  sebelumnya, dan selanjutnya orang itu akan terjebak dalam jerat
  ketidakjujuran. Amsal 19:5 berkata, "Saksi dusta tidak akan luput
  dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan
  terhindar."

  Bagi pengikut Kristus, hal terpenting yang perlu dipertimbangkan
  adalah bahwa kebenaran itu mencerminkan hubungan kita dengan Tuhan.
  Bohong adalah bahasa iblis (Yohanes 8:44), tetapi barangsiapa yang
  menjadi milik Kristus akan dikenal sebagai orang-orang yang benar
  (Efesus 4:15; Kolose 3:9).

  Kebohongan sepertinya merupakan jalan keluar yang baik, tetapi
  ujungnya menuju maut. Oleh karena itu, pilihan yang tepat dan bijak
  adalah mengatakan yang sebenarnya — tak ada yang lain kecuali
  kebenaran — RWD

  Tell the truth and tell it right,
  A lie will never do;
  The Bible says that God is truth —
  He wants the truth from you. — JDB

                 ORANG YANG SUKA MEREKA-REKA CERITA
                  AKAN MENGALAMI BERBAGAI KESULITAN

  Sumber diambil dari:
  Publikasi e-Renungan Harian
  Edisi: Kamis, 14 Januari 1999
  ==>  http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/1999/01/14/


                   ========== CAKRAWALA ==========

                      BETAPA SERIUS DUSTA, TERNYATA

  Mengapa Hukum Allah ada sepuluh pasal? Dengan perkataan lain,
  mengapa "dasa"? Mengapa bukan, misalnya "panca" atau "sapta"? Orang
  Yahudi punya semacam legenda yang cukup populer menjawab pertanyaan
  ini. Mengapa jumlahnya "sepuluh", itu pasti bukanlah karena angka
  itu angka keramat. Bagi orang Yahudi, angka "tujuh" secara simbolis
  lebih bermakna. Atau "dua belas". Kata yang empunya cerita, konon
  Allah tiba pada angka "sepuluh" itu, setelah proses tawar-menawar
  yang cukup panjang dengan Musa. Semula Yahweh menghendaki angka yang
  jauh lebih tinggi. Alasan-Nya, hukum itu mesti dibuat sejelas
  mungkin agar tidak disalahtafsirkan. Karena itu, mesti dibuat amat
  rinci. Tapi Musa keberatan. Pada satu pihak, ia mengakui, semakin
  spesifik sebuah perintah, semakin jelaslah ia. Dan semakin jelas
  sebuah perintah, orang tidak lagi punya dalih, kecuali mematuhinya.
  Misalnya, orang tidak bisa mengulur-ulur waktu dengan, misalnya,
  mengatakan "menunggu keputusan kasasi Mahkamah Agung". Perintah agar
  "jangan sering-sering jajan dari gerai cepat saji", tentu lebih
  jelas ketimbang perintah "jangan terlalu banyak mengonsumsi makanan
  yang mengandung lemak jenuh atau zat-zat kimiawi". Sebab yang
  disebut "terlalu banyak" itu seberapa banyak? Dan yang mengandung
  "lemak jenuh" atau "zat-zat kimiawi" itu apa saja? Namun di lain
  pihak, bila hukum dibuat terlalu rinci, sudah pasti daftarnya akan
  amat panjang. Orang akan sulit mengingatnya. Lha, kalau untuk
  mengingatnya saja sudah sulit apa lagi untuk menjalankannya, bukan?
  Sebab itu Musa memohon agar hukum Tuhan dibuat seringkas mungkin.
  "Cukup yang pokok-pokok saja, Tuhan, satu atau dua pasal saja kalau
  bisa".

  Allah memahami keberatan tersebut. Hukum yang ringkas memang gampang
  diingat. Tapi bahayanya adalah, bila ia hanya menjadi slogan.
  Diucap-ucapkan, tapi tidak dijiwai. Diingat-ingat, tapi tidak
  dihayati. Disebut-sebut, tapi tidak ditindaki. Seperti kisah tragis
  Pancasila kita. Oleh karena itu, Musa menaikkan tawarannya dan Allah
  menurunkan tuntutan-Nya. Sampai ketika tiba di angka "sepuluh",
  Allah berkata, "Stop! Aku sudah tidak bisa membuatnya lebih rendah
  lagi. Take it or leave it". "Sepuluh" dipandang cukup ringkas untuk
  bisa diingat, sekaligus cukup rinci untuk tidak gampang
  disalahmengerti. Tapi lebih dari itu, yang pasti adalah, apa pun
  yang termasuk "sepuluh" itu, ia pasti adalah dosa yang dianggap
  Allah adalah dosa yang amat serius. Pertanyaan kita adalah, mengapa
  "dusta" sampai bisa menerobos ke "sepuluh besar"? Kalau membunuh,
  mencuri, berzinah, menyembah berhala, okelah — kita sedikit banyak
  dapat memahaminya. Tapi "dusta"? Apakah ia tidak terlalu remeh dan
  kecil? Kita mempertanyakannya karena dalam kehidupan nyata,
  lihatlah, alangkah "biasa" dan betapa "lumrahnya" dusta itu! Mana
  mungkin sukses berdagang, berpolitik, bahkan menyiarkan agama, tanpa
  sedikit banyak berdusta? Inilah salah satu dosa yang paling awal
  dilakukan oleh setiap orang sejak dini. Anak-anak tak perlu belajar
  dari siapa pun untuk mahir berdusta. Yang membedakan antara manusia
  yang satu dan lainnya, bukanlah bahwa yang satu berdusta sedang yang
  lain tidak. Setiap orang adalah "pendusta"! Bedanya cuma, yang satu
  lebih pintar bohongnya ketimbang yang lain. Atau, yang satu berusaha
  melawannya mati-matian, sedang yang lain justru memanfaatkannya
  habis-habisan. Namun, apa pun yang kita katakan, dusta yang bagi
  manusia dianggap "tidak serius-serius amat" itu, oleh Allah
  dipandang sebagai sesuatu yang amat serius. Sekali lagi, pertanyaan
  kita, adalah mengapa?

  Dusta, menurut Allah, adalah dosa utama, pertama, karena kebenaran
  adalah hal yang terutama. Sedangkan dusta? Apa lagi, bila bukan
  "lawan" dari kebenaran! Ia menyembunyikan kebenaran, memutarbalikkan
  kebenaran, memalsukan kebenaran, menyajikan ketidakbenaran
  sedemikian rupa seolah-olah itulah kebenaran. Padahal kebenaran itu
  "apa"? Atau lebih tepat, "siapa"? Tidak lain adalah Allah sendiri!
  "Akulah jalan, kebenaran, dan kehidupan", begitu bukan kata Yesus
  (Yohanes 14:6)? Sebab itu, tak ada pilihan lain, kecuali,
  "Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan laksanakanlah hukum
  yang benar .... Janganlah merancang kejahatan dalam hatimu seorang
  terhadap yang lain, dan janganlah mencintai sumpah palsu. Sebab
  semuanya itu Kubenci, demikianlah firman Tuhan" (Zakharia 8:16,17).
  "Cintailah kebenaran dan damai!" (Zakharia 8:19). Jadi, bagaimana
  sesuatu yang melawan Allah dan melawan Kristus bukan dianggap
  sesuatu yang serius? Anda ingat tatkala masyarakat Amerika Serikat
  dilanda heboh perselingkuhan antara Bill Clinton dan Monica
  Lewinsky. Kehebohan itu, konon, bukan terutama karena tindak
  perselingkuhan itu sendiri. Tindakan itu, walau tidak terpuji, namun
  bagi masyarakat Amerika, itu lebih banyak adalah urusan Hillary —
  urusan pribadi. Yang tidak mungkin mereka tolerir adalah — dan
  inilah yang hampir-hampir menjungkalkan sang presiden dari
  kekuasaannya — bila sebagai pejabat ia telah melakukan kebohongan
  publik. Membohongi rakyat. Sebab di sinilah terletak legitimitas
  seorang pejabat publik: pada kredibilitasnya, bahwa ia dapat
  dipercaya! Ini berbeda sekali bila dibandingkan dengan apa yang
  terjadi di negeri kita, bukan? Hampir setiap saat, kita tahu,
  pemimpin-pemimpin kita berbohong. Namun demikian, mereka tetap
  aman-aman saja di takhta mereka, kalau tidak malah semakin aman. Di
  negeri kita, "legalitas" lebih menentukan ketimbang "legitimitas".

  Kedua, dusta adalah dosa utama karena kata-kata adalah hal utama.
  Dengan perantaraan kata-kata — firman Allah — segala sesuatu dari
  "tiada" menjadi "ada" — ex nihilo! (Kejadian 1). Kemudian, dengan
  bersenjatakan kata-kata, Iblis menyeret segenap ciptaan ke pusaran
  kebinasaan kekal; "ditaklukkan kepada kesia-siaan" (Roma 8:20).
  Namun, dengan perantaraan kata-kata juga, Allah — melalui semua
  utusan-Nya — dengan tanpa henti-hentinya memanggil manusia untuk
  kembali, seraya mengaruniakan firman-Nya sebagai "pedang Roh", untuk
  melawan Iblis dengan segala tipu dayanya (Efesus 6:16). Dan
  puncaknya adalah bahwa melalui SANG KATA — LOGOS — Allah
  menyelamatkan segenap umat manusia, bahkan seluruh ciptaan, dari
  kebinasaan yang kekal untuk dibimbing kepada kehidupan yang kekal
  (Yohanes 1). Bila kata-kata begitu vital dalam seluruh karya Allah,
  bagaimana mungkin kita mengatakan bahwa dusta yang melecehkan
  kata-kata tidak layak disebut sebagai dosa utama?

  Alasan ketiga mengapa Allah menggolongkan dusta sebagai salah satu
  dari sepuluh dosa utama adalah karena sesama manusia itu juga hal
  yang utama. Oleh sebab itu, titah-Nya, "Jangan mengucapkan saksi
  dusta tentang sesamamu". "Sesama" adalah utama karena sejak awal
  penciptaan Allah melihat, "Tidak baik kalau manusia itu seorang diri
  saja" (Kejadian 2:18). Untuk sekadar hidup atau sekadar eksis,
  mungkin orang bisa hidup sendiri. Ingat kisah Robinson Crusoe? Tapi
  hidup seperti Robinson Crusoe juga "tidak baik". "Tidak baik"
  artinya tidak lengkap, tidak utuh, kualitasnya kurang sempurna.
  Menghadapi kenyataan ini, Allah tahu persis apa yang dibutuhkan
  manusia. "Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan
  dia" (Kejadian 2:18). Itulah bagaimana seharusnya paradigma hubungan
  antara manusia dengan sesamanya! Masing-masing menjadi "penolong
  yang sepadan" bagi yang lain. Saling menjadi "penolong" artinya
  saling mengisi dan saling menghidupi. Saling menerima dan saling
  memberi. Bukan justru saling mengeksploitasi atau mensubordinasi.
  Yang ideal adalah kooperasi, saling menerima dan saling memberi
  pertolongan. Sedang predikat "sepadan", artinya adalah sembabat,
  sederajat, setara. Memang berbeda, sebab bila cuma sama, bagaimana
  bisa saling menolong? Namun begitu, perbedaan ini bukan perbedaan
  tinggi rendah. Yang mengulurkan tangan tidak boleh merasa "super",
  sedang yang menadahkan tangan tidak perlu merasa "minder". Karena
  pada satu saat, yang sekarang menolong boleh jadi justru perlu
  ditolong.

  Oleh sebab itu, dalam hubungan antarmanusia berlaku prinsip saling
  menghargai. "Ojo dumeh". Jangan mentang-mentang. Dan bila itu adalah
  paradigma yang seharusnya, maka "bersaksi dusta tentang sesama"
  adalah antitesisnya. Sebab yang terjadi di sini bukanlah saling
  menolong, tapi saling memotong. Bukan saling memberdayakan, tapi
  saling memperdayakan. Di mana yang pintar mengeksploitasi kebodohan
  sesamanya, yang kuat menindas yang lemah. Dan lengkaplah penderitaan
  manusia! Itulah konsekuensinya, ketika "dusta" dibiarkan. Ketika
  kebenaran dipalsukan. Ketika kata-kata dibuat tak berharga. Ketika
  sesama menjadi subjek yang menindas atau objek yang diperas.
  Mengingat semua ini, masihkah Anda bertanya mengapa dusta bisa
  masuk ke "sepuluh besar"?

  Bahan diambil dari sumber:
  Harian Sore Sinar Harapan, Kolom Sabda No. 4628
  Edisi  : Sabtu, 14 Februari 2004
  Penulis: Pdt. Eka Darmaputera
  URL    : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0402/14/fea01.html


              ========== BIMBINGAN ALKITABIAH ==========

  Alkitab banyak sekali mencatat ayat-ayat yang menjelaskan dusta dan
  akibat-akibat dari berdusta. Berikut ini referensi ayat-ayat
  tersebut.

                                DUSTA

  1. Dilarang: Imamat 19:11; Kolose 3:9
  2. Dibenci Allah: Amsal 6:16-19
  3. Kekejian bagi Allah: Amsal 12:22
  4. Merintangi permintaan doa: Yesaya 59:2,3
  5. Iblis adalah bapa dusta: Yohanes 8:44
  6. Iblis menggerakkan orang untuk berdusta: 1Raja-raja 22:22; Kisah
     Para Rasul 5:3
  7. Orang-orang kudus:
       - Membenci dusta: Mazmur 119:163; Amsal 13:5
       - Menjauhkan diri dari dusta: Yesaya 63:8; Zefanya 3:13
       - Tidak menghormati orang yang berdusta: Mazmur 40:5
       - Menolak orang yang berdusta: Mazmur 101:7
       - Berdoa supaya dihindarkan dari dusta: Mazmur 119:29; Amsal
         30:8
  8. Para pemimpin bangsa tidak patut berdusta: Amsal 17:7
  9. Kejahatan pemerintah karena memperhatikan dusta: Amsal 29:12
  10. Nabi-nabi palsu sudah biasa berdusta: Amsal 14:5,25
  11. Kesaksian palsu terikat pada dusta: Yeremia 23:14; Yehezkiel
      22:28
  12. Orang-orang fasik terikat pada dusta: Hosea 12:1
  13. Orang-orang fasik menjadi benih dusta: Yesaya 57:4
  14. Orang-orang fasik:
       - Terikat oleh dusta sejak dari kandungan ibunya: Mazmur 58:3
       - Mencintai dusta: Mazmur 52:4
       - Suka kepada dusta: Mazmur 62:4
       - Mencari dusta: Mazmur 4:3
       - Melenturkan lidahnya untuk dusta: Yeremia 9:3,5
       - Melahirkan dusta: Mazmur 7:14
       - Memerhatikan dusta: Amsal 17:4
  15. Ciri-ciri sifat seorang pendurhaka: 2Tesalonika 2:9; 1Timotius
      4:2
  16. Dusta menimbulkan:
       - Kebencian: Amsal 26:28
       - Suka pada percakapan yang tidak baik: Amsal 17:4
  17. Sering kali disertai dengan banyak kejahatan: Hosea 4:1,2
  18. Kebodohan orang yang menyembunyikan kebencian dengan dusta:
      Amsal 10:16
  19. Kesia-siaan memperoleh kekayaan dengan dusta: Amsal 21:6
  20. Dusta akan ketahuan: Amsal 12:19
  21. Miskin lebih baik dari pada berdusta: Amsal 19:22
  22. Tidak akan masuk surga: Wahyu 21:17, 22:15
  23. Orang yang berdosa karena dusta dimasukkan ke dalam neraka:
      Wahyu 21:8
  24. Hukuman untuk dusta: Mazmur 5:7, 120:3,4; Amsal 19:5; Yeremia
      50:36
  25. Contoh-contoh:
       - Ananias: Kisah Para Rasul 5:5
       - Daud: 1 Samuel 21:2
       - Gehazi: 2 Raja-raja 5:22
       - Iblis: Kejadian 3:4
       - Kain: Kejadian 4:9
       - Mikhal: 1 Samuel 19:14
       - Nabi dari Betel: 1 Raja-raja 13:18
       - Orang Kreta: Titus 1:12
       - Orang Niniwe: Nahum 3:1
       - Orang-orang Gibeon: Yosua 9:9-13
       - Petrus: Matius 26:72
       - Sarah: Kejadian 18:15
       - Saudara-saudara Yusuf: Kejadian 37:31,32
       - Saul: 1 Samuel 15:13
       - Simson: Hakim-hakim 16:10
       - Teman-teman Ayub: Ayub 13:14
       - Yakub: Kejadian 27:19

  Sumber diambil dari:
  Pedoman Pokok-Pokok Isi Alkitab (CD SABDA 2.0)
  Nomor topik: 06145
  Copyright  : Yayasan Lembaga SABDA [Versi Elektronik (SABDA)]


                   ========== KESAKSIAN ==========

                    APAKAH KAMU PERNAH BERBOHONG?

  Orang tua acapkali mengeluh tentang kurangnya kejujuran pada
  anak-anak mereka. Menurut orang tua, mereka tidak pernah mengajarkan
  anak-anaknya berbohong, tetapi anak-anak sudah dapat membohongi
  orang tua sejak mereka masih sangat muda. Bahkan sebenarnya banyak
  orang tua sudah mengajarkan tentang dosa dan akibatnya, namun mereka
  masih dikelabui juga oleh putra-putri mereka. Berikut ini pendapat
  beberapa anak sehubungan dengan perilaku berbohong mereka.

  "Tidak pernah, kan tidak boleh. Bohong itu dosa, kata Alkitab. Saya
  baca sendiri." Gideon, 1 SD

  "Bohong itu kan dosa, kata mama. Saya nggak pernah bohong ...."
  Hellen, 3 SD

  "Bohong itu tidak bagus, itu kata semua orang, papa, mama, dan
  kakak." Inggrid, 3 SD

  "Saya pernah bohongin kakak, habis dia nakal sih. Ya, sebenarnya
  tidak boleh bohong ...." Elia, TK B

  "Tidak boleh bohong, jadi saya tidak pernah ...." Tri, 1 SD

  "Saya tidak pernah bohong, tidak boleh, nanti dimarahi Tuhan. Itu
  kata ibu ...." Elizabeth, 2 SD

  "Kata papa kita tidak boleh bohong .... Saya tidak pernah bohong."
  Patricia, 3 SD

  "Pernah, bohongin mama tapi ketahuan, jadi dimarahin. Sekarang tidak
  bohong lagi, kata Tuhan tidak boleh bohong." Thomson, 1 SD

  "Pernah sih ... tapi kata mama bohong itu tidak boleh, nanti dosa,
  masuk neraka." Robert, 1 SD

  "Saya tidak pernah bohong, kan tidak boleh, dosa ... itu kata kakak
  di sekolah minggu, juga kata papa." Kiki, 3 SD

  "Pernah, tapi takut dimarahi. Lagian kan dosa, jadi tidak boleh,
  nanti dimarahi mama." Nathanael, 4 SD

  "Pernah, tapi ketahuan sama papa dan mama, sampai saya dihukum.
  Sekarang kapok, tidak mau bohong lagi. Lagipula bohong itu dosa,
  kata mama." Jonathan, 4 SD

  "Pernah, bohongin teman yang nakal. Jadi sekali-sekali bohongin dia
  tidak apa-apa, supaya dia jera. Tapi kalau dengan teman yang baik,
  ya tidak perlu dibohongi." Vina, 6 SD

  "Tidak boleh bohong karena itu dosa, kata firman Tuhan nanti
  akibatnya maut. Tapi saya pernah bohong juga sih ...." Michele, 6 SD

  "Pernah bohong. Sebenarnya tidak boleh bohong, itu dosa. Saya tahu
  dari Alkitab, juga dikasih tahu mama." Yosephine, 6 SD

  Ada beberapa hal menarik yang dapat kita cermati dari komentar-
  komentar mereka. Beberapa anak langsung mengakui bahwa mereka pernah
  berbohong ketika ditanyai, sementara anak yang lain lebih banyak
  menjawab bahwa mereka tidak pernah berbohong sama sekali. Ada pula
  yang menyatakan bahwa kebohongannya dimaksudkan untuk membawa
  "kebaikan". Bagaimanapun juga, semua anak mengetahui dan mengakui
  bahwa berbohong adalah perbuatan yang salah, dosa, dan tidak
  diperkenan, baik oleh Tuhan maupun orang tua. Kebanyakan mereka
  memperoleh pemahaman tersebut dari orang tua. Namun, karena anak-
  anak yang dimintai komentar ini adalah murid-murid sekolah minggu
  sebuah gereja, tentunya mereka juga mendapatkan pesan-pesan moral
  sejenis dari guru-guru sekolah minggu mereka.

  Anak-anak yang menjawab pernah berbohong tidaklah menunjukkan bahwa
  orang tua maupun guru sekolah minggu gagal menanamkan kebenaran
  kepada mereka. Karena hal ini mungkin saja berarti bahwa mereka
  justru adalah anak yang jujur dan peka terhadap dirinya. Sebaliknya,
  anak-anak yang mengatakan tidak pernah berbohong juga tidak berarti
  sudah berhasil mengamalkan nilai-nilai kebenaran yang pernah
  diajarkan. Yang menarik, yaitu pengakuan pernah berbohong
  dikemukakan oleh anak yang usianya lebih muda (TK dan 1 SD),
  sedangkan anak-anak yang lebih besar, misalnya kelas 3 SD, justru
  mengatakan bahwa mereka tidak pernah berbohong.

  Untuk menghayati dan mengamalkan sebuah nilai kebenaran, setiap
  individu perlu melewati dua tahapan atau proses. Anak mulai
  mempelajari perilaku benar atau salah dari orang-orang yang ada di
  sekitarnya. Awalnya, anak akan mematuhi hal yang benar itu karena ia
  tidak mau dihukum. Dengan bertambahnya usia, ia menjalankan hal yang
  benar karena ingin dipuji dan memperoleh dukungan orang lain.
  Akhirnya, anak mulai merasa wajib melakukan yang benar.

  Sampai sejauh ini, dapat dikatakan bahwa nilai kebenaran yang
  dipegang anak masih bersifat objektif (tahap objektif). Anak
  memegang nilai-nilai tersebut lebih karena pengaruh orang lain.
  Namun, memasuki tahap perkembangan berikutnya, yaitu sekitar usia 18
  tahun, individu diharapkan sudah mempunyai prinsip pilihan sendiri.
  Pada tahap ini, anak sudah memiliki nilai mereka sendiri dan
  tindakan mereka tidak lagi didasarkan pada pendapat orang lain
  (tahap subjektif). Tahap subjektif ini tentunya akan berlangsung
  dengan lebih mulus kalau pada tahapan perkembangan objektif,
  individu yang bersangkutan sudah memperoleh bekal nilai yang memadai
  dari orang-orang di sekelilingnya.

  Kita dapat pula melihat setiap komentar anak-anak di atas dengan
  cara pandang yang berbeda. Melihat usia mereka, jawaban-jawaban
  mereka mencerminkan bahwa mereka masih berada pada tahap
  perkembangan objektif. Di sisi lain, kita juga melihat bahwa manusia
  sudah berjuang dengan dosa sejak usia dini. Jadi, meskipun mereka
  tahu bahwa mereka tidak boleh berbohong, mereka sulit untuk tidak
  berbohong. Hukuman dan kemarahan yang mereka terima tatkala mereka
  berbohong juga tidak menjamin bahwa mereka tidak akan berbohong
  lagi.

  Di sinilah pentingnya kita pun mengajarkan mengenai kasih karunia
  dan pengampunan Allah. Manusia memerlukan karya penebusan Kristus di
  atas kayu salib untuk membebaskannya dari status keberdosaan dan
  belenggu dosanya.

  "Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri
  kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita
  mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan
  mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala
  kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa,
  maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di
  dalam kita." (1Yohanes 1:8-10)

 Sumber diambil dan diedit dari:
 Judul buletin       : Buletin Eunike (Edisi 21)
 Penulis             : Heman Elia, M.Psi dan Esther Tjahja, S.Psi
 Penerbit            : Yayasan Eunike, Jakarta
 Publikasi elektronik: Situs C3I
 URL                 : http://c3i.sabda.org/artikel/isi/?id=83&mulai=0


              ========== TANYA JAWAB KONSELING  ==========

         APAKAH SAYA BOLEH BERBOHONG PADA ISTRI DEMI KEBAIKAN?

  PERTANYAAN:
  -----------
  Istri saya tidak bisa mengelola uang dengan baik sehingga berapa pun
  uang yang kami punya selalu habis dibelanjakan. Padahal saya ingin
  bisa menabung. Saya ingin gaji saya dapat disisihkan sebagian untuk
  simpanan dan saya ingin istri saya bisa membuat perencanaan uang
  dengan baik. Tapi hal itu sering gagal sehingga saya ingin mencari
  jalan lain, yaitu dengan berbohong pada istri mengenai gaji bulanan
  saya. Apakah ini dosa?

  JAWABAN:
  --------
  Dalam membangun komunikasi keluarga yang baik, faktor yang
  terpenting adalah kejujuran. Ketidakjujuran bukan hanya akan
  mengikis rasa saling percaya namun juga akan mengakibatkan banyak
  masalah yang berkepanjangan di kemudian hari. Bila kita berhasil
  menyampaikan segala hal kepada pasangan secara jujur dan dengan cara
  yang tepat, hasilnya akan jauh lebih baik dan hubungan kalian tidak
  akan runyam.

  Mengenai masalah sulitnya merencanakan keuangan bersama, menurut
  saran kami sebaiknya dibicarakan secara terbuka untuk menghasilkan
  kesepakatan bersama. Bila istri Anda sulit memegang uang (karena
  selalu ingin membelanjakannya), lebih baik bila setiap awal bulan
  direncanakan lebih dulu pengeluaran-pengeluaran penting yang harus
  dilakukan. Sedangkan jika ada sisa uang, buatlah kesepakatan untuk
  menyimpan sebagian untuk simpanan dan selebihnya biarkan istri Anda
  untuk memakainya.

  Selain itu, buatlah kesepakatan agar masing-masing pihak tidak
  mengambil keputusan tanpa mengomunikasikannya lebih dahulu. Dalam
  membuat rencana/kesepakatan tidak perlu memfokuskan pembicaraan pada
  kelemahan istri yang menurut Anda tidak mampu mengelola keuangan
  dengan baik. Diskusikanlah bersama pentingnya menyisihkan sebagian
  uang setiap bulan untuk menabung untuk hal-hal tak terduga atau
  perencanaan pengeluaran di masa depan (misalnya, biaya sekolah
  anak-anak, membeli mobil, dsb.). Kalau perlu buatlah sebuah rekening
  baru bersama-sama yang dikhususkan untuk simpanan saja kecuali jika
  ada kondisi mendesak.

  Keterbukaan seperti ini akan jauh lebih baik dibandingkan melakukan
  sesuatu secara sembunyi-sembunyi sekalipun motivasi Anda adalah
  baik. Keterbukaan dan kejujuran juga terbukti efektif dalam
  meningkatkan kepercayaan masing-masing pasangan. Selamat menabung.
  (Sil)

  Tim Konselor YLSA

  Bahan diambil dari:
  Situs C3I
  ==>  http://c3i.sabda.org/artikel/isi/?id=650&mulai=0


                   ========== SURAT ANDA ==========

  Dari: Martin <martin(at)xxxx>
  >Salam dalam kasih Tuhan Yesus,
  >Konsel edisi 1 Nopember 2006, datang tepat pada waktu ketika saya
  >membutuhkan. Ada seorang teman kehilangan ibunya.
  --cut--
  >Terima kasih konsel. Saya sudah meneruskan artikel ini kepada anak
  >yang sebatang kara tersebut.
  >Salam dalam kasih Tuhan Yesus

  Redaksi:
  To God be the glory. Kami doakan kiranya Tuhan beri kekuatan dan
  penghiburan bagi teman Anda.

  Selain dalam edisi 1 November tersebut, e-Konsel juga pernah
  menampilkan topik yang berhubungan dengan dukacita. Jika Anda
  membutuhkannya, silakan membuka arsip e-Konsel di:

  ==>  http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/036/

  ==>  http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/037/

  Kami harap artikel-artikel yang ada dalam dua edisi tersebut dapat
  juga Anda gunakan untuk menolong teman Anda. Terima kasih untuk
  sharingnya, Tuhan memberkati.

============================== e-KONSEL ==============================
                         STAF REDAKSI e-Konsel
                           Ratri, Evie, Raka
                    PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
                         Yayasan Lembaga SABDA
                     INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
                          Sistem Network I-KAN
                      Copyright(c) 2006 oleh YLSA
                      http://www.sabda.org/ylsa/
                       http://katalog.sabda.org/
                     Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                 No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
======================================================================
Anda punya masalah/perlu konseling?        masalah-konsel(at)sabda.org
Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
dapat dikirimkan ke alamat:               owner-i-kan-konsel(at)xc.org
  Berlangganan: subscribe-i-kan-konsel(at)xc.org
  Berhenti    : unsubscribe-i-kan-konsel(at)xc.org
  Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
  ARSIP       : http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
  Situs C3I   : http://c3i.sabda.org/
======================================================================

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org