Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/45

e-Konsel edisi 45 (1-8-2003)

Perpisahan dengan Anak

><>                 Edisi (045) -- 01 Agustus 2003                <><

                               e-KONSEL
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

Daftar Isi:
    - Pengantar            : Perpisahan Orangtua dengan Anak
    - Cakrawala            : Sarang yang Kosong
    - Telaga               : Ekses Keluarga Jarak Jauh [T 41B]
    - Bimbingan Alkitabiah : Apa yang Alkitab Katakan Tentang
                                Loneliness?
    - Tanya-Jawab          : Kala Harus Berpisah dengan Anak
    - Info                 : Pelatihan "School of Healing"
    - Surat                : Bagaimana Mendapatkan Kaset Telaga?

*REDAKSI -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*- REDAKSI*

                    -*- PENGANTAR DARI REDAKSI -*-

  Waktu sekolah dan perkuliahan sudah dimulai lagi. Bagi orangtua-
  orangtua yang memiliki anak, khususnya anak-anak yang akan kuliah
  di luar kota/di luar negeri, masa kebahagiaan hidup dekat dengan
  anak-anak sepertinya akan segera berakhir. Di satu pihak ada
  perasaan bangga dan bahagia karena melihat anaknya bisa melanjutkan
  sekolah dan hidup mandiri, tapi di lain pihak ada perasaan sedih
  karena terpaksa harus berpisah dengan anak yang dikasihi yang sudah
  belasan tahun hidup bersama. Perasaan-perasaan yang dialami oleh
  para orangtua ini adalah suatu hal yang biasa terjadi karena
  orangtua merasa tidak siap untuk berpisah dengan anak mereka.

  Selain sekolah, ada beberapa alasan yang menyebabkan perpisahan
  orangtua dengan anak mereka, antara lain karena anak mendapatkan
  pekerjaan di luar kota bahkan di luar negeri, bisa juga karena
  mereka sudah menikah dan harus pindah ke rumah mereka sendiri.
  Akibat dari "sarang yang kosong" ini (istilah yang sering dipakai),
  orangtua menjadi kesepian dan merasa kehilangan. Banyak orangtua
  tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk menghilangkan rasa
  sepi ketika mereka sudah ditinggalkan oleh anak-anak mereka.

  Nah, jika saat ini Anda termasuk orangtua yang sudah atau sebentar
  lagi akan ditinggalkan oleh anak-anak karena mereka harus
  melanjutkan sekolah atau bekerja di kota lain ataupun berumah tangga
  sendiri, kami harap seluruh sajian dalam edisi kali ini akan sangat
  membantu Anda dalam menghadapi perpisahan dengan anak yang sangat
  Anda kasihi itu.

  Selamat menyimak!

  Tim Redaksi


*CAKRAWALA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* CAKRAWALA*

                      -*- SARANG YANG KOSONG -*-

  Di dalam bukunya, "Turning Hearts Toward Home" sebuah biografi
  tentang kehidupan dan pelayanan Dr. James Dobson, Rolf Zettersten
  menuliskan perjumpaannya dengan Dr. Dobson yang sedang terduduk
  dengan mata merah dan pipi yang basah dengan air mata. Sehari
  sebelumnya, Dr. Dobson baru saja melepas putra bungsunya, Ryan,
  untuk pergi berkuliah ke tempat yang jauh, kepergian yang mengawali
  fase "sarang yang kosong" di keluarga Dr. Dobson. Di dalam surat
  yang ditulisnya sendiri untuk melukiskan perasaan kehilangannya itu,
  Dr. Dobson menggambarkan rumahnya setelah ditinggal oleh putra-
  putrinya bak "biara - rumah makam - museum". Secara lebih grafik Dr.
  Dobson menggambarkan masa "sarang yang kosong" itu sebagai waktu di
  mana "ban sepeda akan kempes, skateboard menjadi bengkok dan
  tergeletak begitu saja di garasi, ayunan terdiam sunyi, dan ranjang
  kosong ditinggal penghuninya."

  Sarang yang kosong merupakan istilah yang melukiskan periode dimana
  orangtua akan tinggal sendiri lagi tanpa anak yang telah akil
  balig. Ibarat induk burung yang membesarkan anaknya dalam sarang,
  pada suatu ketika ia harus membiarkan anaknya terbang meninggalkan
  sarang ... untuk selamanya. Saya belum memasuki fase itu dan tidak
  bisa berkata banyak tentang masa yang belum saya lalui. Namun, dalam
  kurun 3 tahun, jika Tuhan kehendaki, saya dan istri saya akan mulai
  harus melepas anak pertama kami. Kadang, meski belum mengalaminya
  secara langsung, pemikiran bahwa saya akan berpisah dengan anak-anak
  sudah cukup meresahkan dan membawa kesedihan yang dalam.

  Seperti keluarga lainnya, setiap hari kami melakukan hal-hal yang
  rutin, bangun tidur, menyediakan air untuk mandi anak-anak, istri
  saya menyiapkan sarapan untuk kami semua, anak-anak pergi ke sekolah
  dan akhirnya pulang dari sekolah menonton kartun, belajar, latihan
  piano, menonton televisi lagi, saat teduh, dan tidur. Namun dalam
  kerutinan itulah terletak 'bonding' ikatan batiniah dan
  'familiarity' pengenalan dan keterbiasaan.

  Gordon Allport mengemukakan bahwa diri manusia terbangun dari
  kepingan-kepingan psikofisik yang disatukan oleh intensi tujuan atau
  arah hidup. Psikofisik menandakan bahwa pribadi manusia merupakan
  kombinasi dari pengalaman atau bentukan yang bersifat psikologis dan
  bawaan yang berkodrat biologis. Semua itu bercampur menjadi diri dan
  diri itu menjadi utuh oleh karena adanya tujuan hidup yang mengarah
  ke masa depan.

  Kehadiran anak dan pengalaman hidup bersamanya hari lepas hari sudah
  tentu merupakan kontribusi terhadap diri kita pula kontribusi yang
  membentuk diri kita. Keberadaan anak juga merupakan bagian dari
  intensi tujuan dan arah hidup yang membuat kita melangkah ke depan
  dalam kepastian. Kepergian anak menuntut kita untuk menciptakan
  ulang intensi atau tujuan dan arah hidup kita. Anak-anak yang telah
  menjadi bagian diri kita sekarang dan arah hidup di masa mendatang
  akan terbang meninggalkan sarangnya dan sesuatu pada diri kita akan
  turut terbang pula bersamanya. Ikatan itu akan lepas, segalanya yang
  begitu dikenal dan terbiasa akan berubah menjadi asing, ban
  sepedanya kempes, ayunannya terdiam sunyi, ranjangnya kosong.
  Kepingan psikofisik kita tidak utuh lagi dan intensi kita goyang.

  Saya tidak sedang membicarakan pengalaman pribadi melewati sarang
  yang kosong itu sebab saya belum mencapainya. Sebetulnya saya tengah
  membagikan pengalaman saya sekarang yang sedang dibayang-bayangi
  oleh gambaran terbangnya anak kami satu per satu. Buat sebagian
  saudara, saya mungkin terlalu sentimental; buat saya sendiri, saya
  hancur dan sedih melewati batas sentimental. Berbelasan tahun saya
  membagi hidup dengan mereka dan sekarang kepergian yang tadinya nun
  jauh di sana mulai tampak. Bagaimanakah saya dapat hidup tanpa
  mendengar derai tawanya, memegang tangannya, mengecup pipinya
  sebelum tidur, dan memeluk tubuhnya?

  Beberapa waktu yang lalu di tengah malam buta, kami dikejutkan oleh
  suara panggilan salah seorang anak kami. Rupanya ia terjaga karena
  sakit kepala dan saya langsung memapahnya ke kamar mandi serta
  menolongnya untuk muntah. Setelah itu istri saya membawakan minyak
  kayu putih yang langsung saya oleskan pada tubuhnya. Dalam waktu
  sekejap, ia pun terlelap kembali. Malam itu saya tidur di sampingnya
  dan untuk sejenak saya merenungkan peristiwa yang baru saja terjadi.
  "I want to be there when you throw up." Itulah kata-kata yang keluar
  dari hati saya sewaktu saya memandanginya tidur dengan pulas. "I
  want to be there when you throw up."

  Saya ingin bersamanya sewaktu ia muntah, sebuah permintaan yang
  musykil dan lebih merupakan sebuah protes terhadap kodrat alamiah
  yang telah Tuhan tetapkan. Kepingan itu harus lepas dengan bebas;
  tatapan ke masa depan itu mesti berganti arah walau dengan berat
  hati. Saya tidak boleh turut terbang meninggalkan sarang yang kosong
  itu. Sarang yang kosong itu untuk saya.

  Sayup-sayup saya mendengar, "Ada waktu untuk memeluk, ada waktu
  untuk menahan diri dari memeluk." ... betapa susahnya ...!

-*- Sumber -*-:
  Judul Buku   : Parakaleo Volume VIII/ April-Juni 2001
  Judul Artikel: Sarang yang Kosong
  Penulis      : Pdt. Paul Gunadi, Ph.D
  Penerbit     : Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia,
                 Jakarta
  Halaman      : 3 - 4


*TELAGA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TELAGA*

                   -*-EKSES KELUARGA JARAK JAUH-*-

  TELAGA dengan topik "Ekses Keluarga Jarak Jauh" ini sebenarnya
  membahas tentang perpisahan yang terpaksa dilakukan oleh suami atau
  istri karena harus bekerja di luar kota. Namun ada sebagian
  percakapan yang membahas tentang orangtua yang ditinggalkan anak-
  anaknya untuk sekolah ke luar kota/luar negeri. Ringkasan percakapan
  dari bagian tersebut kami sajikan berikut ini. Apa dampak yang
  mungkin ditimbulkan dan hal-hal apa saja yang perlu dipertimbangkan
  sebelum memutuskan untuk berpisah dengan anak-anak? Simak jawabannya
  bersama Pdt. Dr. Paul Gunadi, Ph.D.

------
  T : Dalam kesempatan ini kita akan membahas mengenai orangtua dan
      anak-anak yang harus berpisah untuk jangka waktu tertentu karena
      alasan-alasan tertentu pula. Sebab-sebab atau faktor–faktor apa
      saja yang biasanya membuat orangtua dan anak-anak itu terpaksa
      harus berpisah?

  J : Saya mau menggarisbawahi kata 'terpaksa berpisah' sebab yang
      sedang kita bicarakan di sini bukanlah berpisah karena tidak
      cocok atau disengaja supaya bisa menjauh dari orangtua atau
      anak-anak. Tapi suatu keadaan yang sangat memaksa sehingga
      mereka harus berpisah. Yang biasanya menjadi penyebab adalah
      pekerjaan, karena seringkali orang mendapatkan pekerjaan di luar
      kota, apalagi seperti masa sekarang ini, pilihan-pilihan untuk
      bekerja lebih menyempit. Sehingga akhirnya harus diambil yang
      tersedia, meskipun itu di luar kota. Alasan yang lain adalah
      banyak anak yang disekolahkan oleh orangtuanya ke luar negeri,
      misalnya ke Malaysia atau Singapura. Dan sekali lagi, ini juga
      merupakan suatu keterpaksaan.
-----
  T : Cepat atau lambat anak-anak dewasa mungkin harus pindah kota
      karena sekolah dan sebagainya. Apa dampaknya bagi orangtua
      maupun anak-anak?

  J : Sewaktu kita berpisah tidak bisa tidak kita harus mulai menata
      hidup kita kembali supaya kita bisa terus hidup, sebab kalau
      hidup terus-menerus dirundung oleh kesedihan, kita bisa-bisa
      tidak berfungsi dengan optimal, tidak bisa bekerja dengan penuh
      konsentrasi dan sebagainya. Kita perlu mulai beradaptasi yang
      merupakan kodrat manusiawi kita. Kita mulai beradaptasi dengan
      kesendirian. Masalahnya adalah pada waktu keduanya mulai bisa
      beradaptasi, ada kemungkinan terjadi perasaan bahwa keduanya
      makin tidak saling membutuhkan.
-----
  T : Apakah karena masing-masing menganggap bisa hidup sendiri?

  J : Betul, dan itu adalah konsekuensi natural, sewaktu beradaptasi
      untuk hidup sendiri, kita mencoba menyesuaikan diri untuk
      memenuhi kebutuhan sendiri. Hal itu bisa juga sering terjadi
      antara orangtua dan anak-anak kalau lama berpisah. Begitu anak-
      anak itu pulang, mereka langsung disuruh-suruh atau ditanya-
      tanya karena tidak mau cerita sama sekali tentang hal-hal yang
      mereka alami. Mungkin orangtua merasa rumahnya yang semula
      tenang karena tidak ada anak-anak menjadi hiruk-pikuk dan
      orangtua merasa terganggu. Pada mulanya saat anak-anak tidak ada
      orangtua merasa kesepian. Namun setelah lama berpisah, dan suatu
      saat anak-anak pulang, pada hari pertama merasa senang, hari
      kedua bisa mulai tidak senang, dan pada hari ketiga menjadi
      sangat tidak senang dengan kepulangan mereka.
-----
  T : Faktor-faktor apakah yang perlu dipertimbangkan sebelum
      berpisah?

  J : Faktor pertama adalah mendaftarkan apa manfaat dan kerugian dari
      hidup berpisah. Kadang kerugiannya lebih besar. Namun karena
      terpaksa, memang harus dilakukan, jadi harus dilakukan. Kalaupun
      harus dilakukan, faktor kedua yang harus dipikirkan adalah
      apakah perpisahan ini permanen atau sementara? Kalau bisa
      usahkan agar perpisahan itu hanya sementara. Faktor ketiga yang
      harus diperhatikan juga adalah kuat lemahnya kemampuan kita
      untuk melakukannya.
-----
  T : Sebelum kita akhiri bisakah Pak Paul memberikan Firman Tuhan
      yang bisa diajarkan kepada anak-anak kita yang harus studi di
      luar kota atau luar negeri.

  J : Saya akan bacakan dari Kolose 3:17,
         "Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau
         perbuatan lakukanlah semua itu dalam nama Tuhan Yesus."
      Anak-anak yang berpisah dari orangtua, yang tidak diawasi lagi
      oleh orangtua, harus bertanya, "Dapatkah saya berkata bahwa apa
      yang saya lakukan ini dalam nama Tuhan Yesus?" Kita harus
      bersyukur bahwa kita punya Tuhan yang terus mengawasi,
      membimbing hidup kita ke jalan yang benar.

-*- Sumber -*-:
   [[Sajian kami di atas, kami ambil dari isi salah satu kaset TELAGA
     No. #41B, yang telah kami ringkas/sajikan dalam bentuk tulisan.]]
     -- Jika Anda ingin mendapatkan transkrip seluruh kaset ini lewat
        e-Mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel@xc.org >
                                   atau: < TELAGA@sabda.org >


*BIMBINGAN *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*--*-*-*-*-*-*-*-*-* ALKITABIAH*

         -*- APA YANG ALKITAB KATAKAN TENTANG LONELINESS? -*-

  Alkitab tidak mengatakan bahwa loneliness (kesepian) itu dosa.
  Alkitab dengan jelas menyaksikan betapa orang-orang percaya seperti
  Musa, Yakub, Ayub, Nehemia, Elia, Yeremia, dan lain-lain pernah
  mengalami apa yang disebut loneliness.

  Bahkan Tuhan Yesus sendiri di taman Getsemane jelas mengalami
  loneliness, begitu juga dengan Paulus, Yohanes, dsb.
  (Matius 26:38,40; 2Timotius 4:9-11, dst.)

  Meskipun demikian Alkitab memberikan isyarat betapa loneliness juga
  menjadi bagian integral dari kehidupan manusia setelah manusia jatuh
  ke dalam dosa dan kehilangan persekutuannya yang harmonis dengan
  Allah dan sesamanya (Kejadian 3:8,10,12, dst.).

  Oleh sebab itu pulihnya hubungan dengan Allah dan sesama manusia
  menjadi dasar utama penyelesaian masalah loneliness.

  Membangun hubungan pribadi dengan Allah dan sesama manusia menjadi
  inti dari kehidupan manusia yang sangat berarti.
  (Hosea 6:6; Yeremia 7:3-ff)

-*- Sumber -*-:
  Judul Buku   : Pastoral Konseling Jilid 2
  Judul Artikel: Apa yang Alkitab Katakan Tentang Loneliness?
  Penulis      : Yakub B. Susabda
  Penerbit     : Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, Jawa Timur
  Halaman      : 63


*TANYA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* JAWAB*

               -*- KALA HARUS BERPISAH DENGAN ANAK -*-
                     Oleh: Esther Susabda, Ph.D.

  Pertanyaan:
  ===========
  Kedua anak kami (dua-duanya wanita) sudah di SMU. Tanpa terasa hidup
  begitu cepat, dan mereka segera akan meninggalkan kami. Mereka
  sedang dalam proses mempersiapkan diri untuk sekolah di Amerika.
  Suami saya sibuk dengan usahanya sehingga sulit untuk diajak bicara;
  saya sendiri akhir-akhir ini rasanya tegang sekali, dan kadang-
  kadang muncul pertanyaan-pertanyaan dan keraguan, apakah saya sudah
  memilih jalan yang tepat untuk mereka?

  Mengamati tingkah laku anak-anak saya, rasanya mereka tidak atau
  masih belum siap untuk mandiri. Dalam banyak hal mereka kelihatannya
  masih sangat kekanak-kanakan. Mengatur kamarnya sendiri saja tidak
  bisa. Makan, tidur, pemakaian uang, mengisi waktu libur, dll masih
  harus disupervisi. Juga yang sangat mencemaskan adalah pergaulan
  dengan teman-temannya. Sulit dinasehati, bahkan seringkali tidak
  suka kalau saya bertanya darimana atau mau kemana, dengan siapa.
  Saya juga baru sadar, pengenalan mereka tentang Tuhan minim sekali.

  Saya bingung, apa yang saya harus lakukan karena saya sangat
  mencintai mereka, menunda keberangkatan? ... saya tidak tega,
  sedangkan melepaskannya saya juga tidak berani?

  Jawab:
  ======
  Sikap orangtua memang sangat menentukan pembentukan konsep dari
  anak tentang dirinya, tentang hidup dan tentunya tentang Tuhan.
  Sistem yang sudah terbentuk memang sulit diubah, terutama di sini
  Anda kelihatannya mendidik sendiri, suami kurang terlibat dan
  mungkin tidak mendapat tempat; hal ini menjadi lebih jelas pada saat
  Anda ragu-ragu dan kuatir suami kurang peduli. Ketika Anda gelisah
  seperti ini rasanya semua yang kurang terbentang di pelupuk mata
  Anda, tanggung jawab, pergaulan bahkan hubungan mereka dengan Tuhan.

  Kasih Anda kepada mereka yang begitu besar, sangat nampak dari
  keluhan Anda sendiri, bahwa sampai hal yang kecil-kecil Anda masih
  menjadi "otak" bahkan mungkin Anda mengambil alih semua tanggung
  jawab. Satu pihak mungkin Anda senang dengan apa yang Anda lakukan
  selama ini yaitu tanpa sadar Anda sudah memanjakan mereka secara
  berlebihan. Di pihak lain pada saat sekarang mereka ingin
  menunjukkan kemandirian mereka, Anda merasa tertolak dan usaha Anda
  tidak lagi mendapatkan respon yang menyenangkan.

  Ada beberapa hal yang dapat menjadi bahan pertimbangan:

  a. Kesadaran Anda akan tanggung jawab utama yang belum Anda lakukan
     selama ini adalah menanamkan prinsip-prinsip kebenaran dalam hati
     sanubari mereka, walaupun yang nampak di permukaan adalah
     kekuatiran Anda kehilangan anak-anak (empty nest syndrome). Tidak
     ada kata terlambat ... belajarlah bertanya "bagaimana menggunakan
     waktu yang ada untuk memberikan yang terbaik bagi mereka."
     Memang prinsip kebenaran tidak bisa diberikan semuanya dalam
     waktu yang sempit ini, tapi paling tidak Anda bisa mulai dengan
     mendoakan secara terperinci apa yang Anda rasakan sangat
     dibutuhkan mereka. Jangan sampai seperti keluarga imam Eli
     (1Samuel 3:13-14) yang akhirnya dibinasakan Tuhan karena "anak-
     anaknya telah menghujat Allah, dan ia tidak memarahi mereka ..."
     Mintalah pimpinan Tuhan bagaimana mengkomunikasikan kekuatiran
     Anda kepada suami, supaya Anda bisa berbagi tentang masalah ini,
     tanpa ada kesan menimpakan kesalahan pada suami.

  b. Mencintai anak merupakan art/seni yang membutuhkan tanggung jawab
     dan disiplin yang tinggi. Perbaharuilah sistem interaksi dalam
     keluarga supaya Anda bersama suami dapat menciptakan sistem yang
     kondusif di mana peran dan tanggung jawab mereka sebagai orang
     dewasa dapat dimanifestasikan. Kekompakan, keseriusan, dan
     konsistensi Anda berdua akan menghasilkan sistem kehidupan baru.
     Hal ini dapat dilakukan secara bertahap tentunya, yaitu bagaimana
     mereka dapat mengatur diri mereka sendiri, mulailah dari hal-hal
     yang sederhana dan tidak perlu nasehat yang terlalu banyak.

  c. Biasakan juga untuk bicara pribadi dengan anak-anak, ungkapkan
     kekuatiran Anda, bagikan pergumulan Anda dan jangan takut konflik
     karena perbedaan pendapat, jadilah teman untuk mereka.

  d. Kekuatiran Anda tidak dapat mengubah dan menyelesaikan masalah
     mereka, namun Anda juga dapat berdoa seperti yang ditulis Dr.
     James Dobson:
        "Be there Father, in the moment of decision when two paths
        present themselves to our children. Especially during that
        time when they are beyond our direct influence, send others
        who will help them do what is righteous and just"
     yang artinya adalah:
        "Hadirlah ya Tuhan, pada saat-saat anak-anak kami harus
        memilih. Terutama saat kami jauh; kirimkan orang yang mampu
        menolong mereka untuk melakukan apa yang benar dan adil di
        mata-Mu."

-*- Diedit dari sumber -*-:
  Judul Buletin : Parakaleo Volume VIII/ April-Juni 2001
  Penulis       : Esther Susabda, Ph.D.
  Penerbit      : Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia,
                  Jakarta
  Halaman       : 4


*INFO *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* INFO*

                 -*- Pelatihan "SCHOOL OF HEALING" -*-
                          Angkatan VII/2003

  Duta Pembaharuan adalah sebuah yayasan Kristen yang bertujuan untuk
  melatih dan melengkapi peserta dalam melakukan pelayanan keluarga,
  kelepasan, kesembuhan luka batin, dan konseling yang Alkitabiah.
  Salah satu programnya adalah mengadakan pelatihan yang disebut
  "SCHOOL OF HEALING".

  Paket pertama yang membahas tentang "Prinsip-prinsip Kemenangan"
  telah diadakan pada pertengahan Juli yang lalu. Sedangkan paket
  kedua yang akan membahas tentang "Pelayanan Kesembuhan Luka-luka
  Batin" akan diadakan pada:

  Hari, tanggal: Kamis - Sabtu, 14 - 16 Agustus 2003
  Tempat       : Bukit Hermon, Karang Pandan, Tawangmangu
  Pembicara    : Dra. Agnes Maria Layantara, M.A.
  Kontribusi   : Rp 75.000; per orang

  Pelatihan ini sangat penting bagi para gembala sidang, majelis,
  pemimpin kelompok sel, orang-orang yang terlibat dalam konseling,
  dan anak-anak Tuhan yang dipanggil untuk melayani orang lain.

  Pendaftaran dapat dilakukan di:
  1. Sekretariat Duta Pembaharuan, Kantor OC Yogyakarta,
     Telp./Fax. (0274) 496418, E-mail: <jogjaoc@indo.net.id>, 2. Titik Haryani
     Telp. (0271) 635676, Fax (0271) 630743

  3. Theofani Sri Minarni, SE.
     Telp. (0276) 323041 (rumah), 321189 (kantor), HP. 081-22622555

  Registrasi ulang akan dilakukan mulai pukul 14.00 - 16.00 WIB, di
  Bukit Hermon, Karang Pandan, Tawangmangu.


*SURAT*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-DARI ANDA-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*SURAT*

  Dari: <lisa veronique@>
  >Dimana saya bisa mendapatkan kaset2 telaga?

  Redaksi:
  Caranya mudah sekali. Untuk mendapatkan kaset-kaset TELAGA, Anda
  bisa mengirimkan surat ke:
     Sekretariat LBKK Jl. Cimanuk 58 Malang 65122
     Telp. (0341) 493645,
     atau melalui e-mail ke: <telaga@indo.net.id>
  Jangan lupa menyebutkan judul/nomor kaset yang Anda kehendaki.
  Selamat memesan!


e-KONSEL*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*e-KONSEL

                         STAF REDAKSI e-Konsel
                 Yulia, Ratri, Natalia, Purwanti, Kiky
                    PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
                         Yayasan Lembaga SABDA
                     INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
                          Sistem Network I-KAN
                      Copyright(c) 2003 oleh YLSA


*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
  Anda punya masalah atau perlu konseling? <masalah-konsel@sabda.org>
  Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
  dapat dikirimkan ke alamat:             <owner-i-kan-konsel@xc.org>
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
  Berlangganan: Kirim e-mail kosong ke: subscribe-i-kan-konsel@xc.org
  Berhenti:     Kirim e-mail kosong:  unsubscribe-i-kan-konsel@xc.org
  Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
  ARSIP publikasi e-Konsel:  http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org