Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/27

e-Konsel edisi 27 (1-11-2002)

Singleness

><>                 Edisi (027) -- 01 November 2002               <><

                               e-KONSEL
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

Daftar Isi:
    - Pengantar            : Singleness
    - Cakrawala            : Konseling untuk Orang yang Masih Lajang
    - Telaga               : Kehidupan Lajang dari Perspektif Wanita (T69A)
    - Bimbingan Alkitabiah : Karunia Hidup Lajang
    - Surat                : Terima Kasih atas Kirimannya

*REDAKSI -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*- REDAKSI*

                    -*- PENGANTAR DARI REDAKSI -*-

  Hidup lajang (singleness) bukanlah suatu penyakit atau dosa. Ada
  alasan-alasan yang sangat baik, bahkan alkitabiah, yang menyebabkan
  beberapa orang memilih untuk hidup lajang. Tapi memang tidak dapat
  disangkal, masyarakat Timur khususnya, masih memiliki persepsi yang
  negatif terhadap orang yang tidak menikah dan memilih hidup lajang.
  Walaupun tidak tertulis, tuntutan untuk membina hidup rumahtangga
  dan memiliki keturunan seakan-akan sudah menjadi norma umum yang,
  suka atau tidak suka, harus diterima.

  Tuntutan-tuntutan masyarakat inilah yang seringkali membuat orang-
  orang yang hidup lajang mengalami tekanan-tekanan mental/emosional.
  Untuk itu, pada edisi ini, e-Konsel ingin menyajikan bahasan yang
  diharapkan dapat membuka wawasan kita lebih luas tentang masalah
  hidup lajang (singleness) supaya kita dapat mengubah cara pandang
  kita yang mungkin sebelumnya negatif untuk dapat menolong konsele
  yang kita layani.

  Kolom TELAGA juga akan melengkapi topik bahasan "singleness" ini
  khususnya tentang perspektif wanita terhadap hidup lajang. Sedangkan
  kolom Bimbingan Alkitab akan membahas salah satu karunia rohani
  khusus yang berhubungan langsung dengan topik kita ini, yaitu
  "Karunia Hidup Lajang". Kiranya melalui pembahasan ini, konselor
  dapat mengerti prinsip Alkitab tentang hidup lajang dengan lebih
  jelas.

  Dalam kasih-Nya,
  Tim Redaksi


*CAKRAWALA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* CAKRAWALA*

           -*- KONSELING UNTUK ORANG YANG MASIH LAJANG -*-

  "Melajang seringkali dipandang sebagai hal yang tidak biasa, kurang
  beruntung, tidak alami dan bahkan tidak diinginkan," ungkap seorang
  penulis artikel yang antusias. Lalu penulis itu melanjutkan bahwa
  pandangan itu sekarang telah berubah. Hidup melajang "bukan lagi
  merupakan cacat sosial". Pada kenyataannya, orang-orang yang masih
  lajang menikmati penerimaan sosial yang jauh lebih besar daripada
  sebelumnya .... Pernyataan hidup melajang telah dijunjung sejajar
  dengan pernyataan pernikahan, menjadikan status pernikahan murni
  sebagai masalah pilihan pribadi.

  Walaupun alasan kesejajaran ini menggembirakan, namun seringkali,
  saya menduga, bahwa pergumulan orang-orang yang masih lajang adalah
  hal-hal seputar kesepian, kemarahan, rasa bersalah, hubungan
  interpersonal, kepercayaan diri, seks di luar pernikahan, dan
  homoseksual. Sebagai konselor perlu menyadari hal-hal berikut ini:

  1. Evaluasi Sikap Anda Sendiri Sehubungan dengan Hidup Melajang
  ---------------------------------------------------------------
  Belum lama berselang, sebuah gereja yang besar di daerah pinggiran
  telah mempekerjakan seorang pendeta untuk melayani para jemaat yang
  masih lajang. "Saya perlu suatu pekerjaan," kata pendeta itu.
  "Pekerjaan ini hanyalah sementara karena saya sebenarnya ingin
  sekali menjadi pendeta senior di gereja ini." Sikap seperti ini
  ditangkap dengan cepat, terutama oleh orang-orang lajang yang
  terbiasa menerima perlakuan seperti itu. Tidak ada konselor bisa
  menjadi efektif selama dia memiliki sikap yang negatif terhadap
  orang-orang lajang, berpikiran bahwa orang-orang lajang itu
  kedudukannya lebih rendah, atau menganggap bahwa kehadiran orang-
  orang lajang itu sebagai ancaman.

  Orang-orang lajang, seperti yang telah kita perhatikan, seringkali
  merasa canggung di gereja. Kebanyakan dari mereka merasa tidak
  diinginkan, merasa dibiarkan, atau kadang-kadang menjadi obyek dari
  praduga dan tekanan-tekanan yang tidak terlalu kentara. Ingat, tidak
  selamanya benar bahwa sebagian orang dewasa yang masih lajang
  mengalami kesepian, kalut dengan urusan mencari pasangan hidup,
  beresiko buruk, mempunyai kecanggungan sosial, takut untuk menjalin
  keakraban atau tanggung jawab, tidak dewasa secara rohani, mudah
  marah, atau mengasihi diri sendiri. Setiap orang lajang, sama
  seperti orang yang telah menikah, adalah seorang pribadi yang
  istimewa dan unik, baik dengan segala kekuatan pribadi dan
  kebutuhannya. Beberapa orang lajang mempunyai banyak permasalahan
  karena kelajangan mereka; sebagian yang lain tidak.

  2. Menolong dengan Penerimaan
  -----------------------------
  Konsele yang masih lajang perlu penerimaan yang suportif, telinga
  yang mau mendengar cerita mereka, dan kadang-kadang seseorang yang
  dapat memahami rasa sakit, kepahitan, dan pergumulan tanpa
  disalahkan. Saat seorang konsele yang lajang mengalami perasaan
  diterima, maka dia kemungkinan akan menjadi lebih jujur dalam
  menghadapi frustasi-frustasi seputar kelajangannya. Sebagai
  tambahan, kemungkinan mereka juga akan lebih terbuka untuk
  merenungkan ajaran alkitabiah bahwa hidup melajang juga merupakan
  panggilan Allah kepada beberapa orang. Bantulah konsele untuk
  melihat bahwa hidup melajang tidaklah masalah untuk selalu menjadi
  orang kedua atau terpuruk dalam penderitaan hidup dan merasa kurang
  lengkap. Jadilah orang yang cukup realistik untuk mengetahui bahwa
  kesendirian dan frustasi-frustasi yang dialami orang lajang memang
  biasa muncul. Sebaliknya, Anda kadang-kadang boleh mengingatkan para
  konsele bahwa menjadi orang lajang tidak perlu menghadapi problema-
  problema yang menimbulkan frustasi yang biasa dihadapi oleh orang-
  orang yang sudah menikah. Ketika permasalahan ini didiskusikan,
  berilah kesempatan kepada konsele untuk mengekspresikan perasaan dan
  pikirannya. Ingat, bahwa kita tidak menyelesaikan permasalahan untuk
  para konsele, namun kita menyelesaikan permasalahan bersama-sama
  dengan konsele.

  3. Dorong untuk Membuat Rencana Hidup yang Realistik
  ----------------------------------------------------
  Sebagai tambahan untuk menghadapi permasalahan dan berurusan secara
  jujur, orang-orang yang hidup melajang dapat belajar untuk
  memperjelas rencana-rencana mereka bagi masa depan. Tidaklah salah
  untuk mengharapkan kehidupan pernikahan atau untuk menyadari adanya
  kemungkinan untuk menikah di masa mendatang, tetapi tidaklah sehat
  untuk membangun kehidupan di atas peristiwa-peristiwa yang belum
  pasti. Lebih dari itu, para individu khususnya orang-orang Kristen,
  harus belajar untuk mempersiapkan masa depan dan untuk hidup di masa
  kini. Bagi orang-orang lajang, hal ini termasuk menghadapi kenyataan
  bahwa pernikahan (atau menikah kembali) mungkin atau tidak mungkin
  menjadi suatu kenyataan. Hal ini membutuhkan perhatian dan
  pengembangan dari kemampuan dan keahlian seseorang, pertimbangan
  akan kehendak Allah dalam kehidupan seseorang, perencanaan untuk
  tujuan jangka panjang dan jangka pendek, dan tindakan untuk
  menjalankan rencana-rencana tersebut guna mencapai tujuan. Konselor
  dapat menolong untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan tersebut,
  memandu para konsele dalam memikirkan dan mewujudkan rencana mereka.
  Ada kalanya, orang lajang akan membutuhkan bantuan untuk
  permasalahan-permasalahan nyata seperti mencari pekerjaan,
  menyeimbangkan pengeluaran, atau menjalankan pekerjaan rumahtangga.
  Hal ini merupakan kebutuhan khusus bagi orang dewasa muda, orangtua
  tunggal, atau orang-orang yang baru saja kehilangan pasangannya.
  Dari semua hal tersebut, tujuannya pertama adalah untuk menerima dan
  mengatasi permasalahan tersebut, kemudian menuju ke arah untuk
  menolong orang-orang yang hidup lajang tersebut.

  4. Dibimbing untuk Menjalin Hubungan Antar Pribadi
  --------------------------------------------------
  Karena orang lajang tidak memiliki pasangan, dia harus dibantu untuk
  menjalin hubungan yang akrab yang terlepas dari pernikahan. Secara
  teori tampaknya mudah, tetapi penerapannya sangatlah sulit.

  John Fischer menyarankan dua prinsip untuk membantu orang-orang
  lajang dalam menjalin hubungan: menerima orang lain apa adanya tanpa
  berusaha untuk mengubah mereka, dan melibatkan diri dengan orang
  lain sebagai usaha untuk saling belajar dan berbagi. Namun saat
  seorang wanita lajang dan pria lajang berkomunikasi seperti
  tersebut, sesuatu yang biasa disebut Fischer sebagai "keanehan"
  mungkin akan muncul. Hal ini merupakan serangan halus yang secara
  perlahan-lahan menggerogoti jalinan karena orang-orang itu mulai
  ragu, "Apakah dia orangnya?" "Apakah ini yang disebut 'hubungan
  istimewa'? "Bagaimana jika saya nanti 'menggagalkannya'?" Jika ada
  ketakutan dan ketidakinginan untuk membicarakan pikiran tersebut
  secara terbuka, maka kedua orang itu akan merasa tidak enak,
  percakapan semakin sulit dilakukan, dan salah satu dari mereka
  (biasanya si pria) akan mundur. Untuk menghindari hal tersebut,
  Fischer menyarankan bahwa ketakutan-ketakutan itu dapat diatasi,
  jika pasangan itu secara terbuka setuju untuk melupakan kekuatiran
  mereka tentang pernikahan dan bahwa mereka dapat melanjutkan
  hubungan mereka yang nonromantis.

  Bagi orang Kristen, hal ini dapat diatasi dengan suatu sikap yang
  secara konsisten meletakkan hubungan itu di tangan Tuhan dan mau
  untuk dipimpin oleh-Nya, bahkan jika hal ini berarti bahwa pasangan
  ini harus berjalan ke arah yang berbeda. Para konselor harus
  membantu orang-orang lajang untuk menghadapi tidak hanya "keanehan"
  mereka tetapi juga tantangan-tantangan saat menjalin hubungan secara
  efektif dengan orang-orang dari beragam situasi.

  5. Berikan Bantuan bagi Orangtua Tunggal
  ----------------------------------------
  Kebanyakan orangtua, ada saatnya merasa jenuh dan frustasi dalam
  menjalankan tugasnya untuk membesarkan anak-anak, tetapi orangtua
  tunggal harus mengalami frustasi-frustasi itu sendirian dan membuat
  keputusan sendiri. Beberapa bukti menujukkan bahwa tekanan-tekanan
  yang dialami orangtua terutama lebih dirasakan oleh para ibu yang
  berperan sebagai orangtua tunggal. Banyak di antara ibu tersebut
  memiliki pendapatan yang tidak cukup, standar hidup yang rendah,
  dan permintaan-permintaan yang terlalu banyak menyita waktu mereka.
  Tekanan itu akan terasa berkurang jika ada tenaga pembantu dan
  teman-teman yang menberikan dukungan atau dorongan, namun para ibu
  tunggal empat kali lebih sering mencari pelayanan kesehatan mental
  bila dibandingkan dengan para ibu yang masih didampingi oleh
  suaminya. Para orangtua tunggal perlu memahami dan mengekspresikan
  perasaannya tentang bagaimana menghadapi masalah tanpa pasangannya
  dan seringkali membutuhkan panduan praktis dalam membuat keputusan.

  Orangtua tunggal kadang-kadang perlu diingatkan bahwa kesulitan
  hidup yang mereka hadapi, dirasakan juga oleh anak-anaknya.
  Statistiknya bervariasi di berbagai negara, tetapi di Amerika
  Serikat sekitar seperempat dari semua anak muda yang berumur di
  bawah 18 tahun dibesarkan oleh orangtua tunggal. Anak-anak ini
  membutuhkan perhatian, kasih, dan kontak dengan orang dewasa baik
  pria maupun wanita, serta kesempatan untuk terlibat bersama keluarga
  dari kedua orangtuanya yang dapat memberikan pandangan yang lebih
  luas tentang orang dewasa dan kehidupan keluarga. Komunikasi yang
  diwarnai dengan kejujuran, keterbukaan, ketulusan, dan kasih perlu
  dirasakan di rumah.

  Kadang-kadang gereja dan konselor Kristen menarik orang-orang lajang
  yang menderita gangguan emosi, takut untuk menjalin hubungan, suka
  mengeluh, atau cenderung untuk memanfaatkan gereja sebagai tempat
  untuk mencari pasangan dan pengasuh anak secara gratis, atau teman
  tidur sementara. Melayani orang-orang lajang, terutama orangtua
  tunggal, dapat menyerap banyak waktu, dan belum tentu dijamin
  keberhasilannya. Namun pemikiran itu dapat membatasi diri untuk
  memberikan konseling kepada orang-orang lajang. Membantu orang lain
  selalu melibatkan waktu dan resiko, namun kepuasan yang diterima
  sangatlah besar -- baik bagi konsele, konselor, gereja, dan Kerajaan
  Kristus.

  Kadang-kadang juga membantu bagi para orangtua tunggal untuk
  menjalin hubungan dengan para orangtua lain sehingga bisa saling
  terlibat dalam memberikan dukungan dan dorongan. Jika Anda
  mengadakan pertemuan-pertemuan informal dengan para pasangan yang
  sudah menikah, cobalah untuk menemukan orang-orang yang tidak merasa
  terganggu untuk menjalin hubungan dengan para orangtua tunggal.
  Dalam semuanya itu, tujuan dari pelayanan ini adalah menolong para
  konsele untuk percaya sepenuhnya kepada Allah, memenuhi kebutuhan
  mereka secara efektif, dan belajar untuk membesarkan anak-anak
  mereka dengan penuh kasih, disiplin dan pengertian.

  6. Bantulah Orang untuk Menunggu
  --------------------------------
  Menunggu tidaklah mudah, terutama di jaman yang serba cepat, penuh
  efisiensi, dan ketidaksabaran serta ketidaknyamanan ini. Ketika
  segala sesuatu tidak terjadi dengan cepat, tampaknya paling mudah
  adalah segera keluar dari permasalahan, membuat keputusan, dan
  melakukan tindakan yang mandiri. Namun, orang Kristen secara
  sukarela berada di bawah bimbingan ketuhanan Kristus -- Kristus yang
  tidak terburu-buru dan menginginkan kebaikan bagi orang-orang
  Kristen, seringkali membuat mereka menunggu. Dengan menunggu, kita
  akan belajar kesabaran, berurusan dengan dosa yang belum diakui atau
  permasalahan pribadi, dan berusaha untuk mengubah sikap kita.
  Menunggu tidak berarti bahwa kita hanya duduk-duduk saja dan tidak
  mengerjakan apa-apa. Kita bertindak hati-hati dan sesuai dengan
  kehendak Tuhan. Lalu kita percaya bahwa rencana-rencana Allah bagi
  kita akan tiba tepat pada waktu-Nya.

  Bagaimana hal itu bisa diterapkan oleh orang-orang lajang? Beberapa
  diantara mereka berdiam diri dan menunggu Allah menyediakan seorang
  pasangan baginya, dengan asumsi bahwa jika mereka sungguh-sungguh
  beriman dan telah menyenangkan Allah, maka Dia akan menyediakan
  hadiah yaitu seorang suami atau istri yang tepat. Allah tidak
  menentang pikiran tersebut. Para konsele yang masih lajang, sama
  seperti mereka yang telah menikah, harus didorong untuk mempercayai
  kebaikan Allah, menanti-nantikan Allah setiap hari, dan berusaha
  untuk belajar menerima kebaikan-Nya dalam setiap kehidupan kita.

-*- Diterjemahkan dan diringkas dari sumber -*-:
  Judul Buku   : Christian Counseling, A Comprehensive Guide
  Judul Artikel: Counseling Singles
  Penulis      : Dr. Gary R. Collins, Ph.D.
  Penerbit     : Word Publishing, 1988
  Halaman      : 368 - 372


*TELAGA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TELAGA*

  Kehidupan lajang adalah bagian hidup yang Tuhan berikan, porsi yang
  Tuhan telah tetapkan, yang di dalamnya mempunyai minus dan plusnya.

            -*- KEHIDUPAN LAJANG DARI PERSPEKTIF WANITA -*-

-------
  T: Pertanyaan yang saya ingin tanyakan adalah apa kira-kira alasan
     wanita itu hidup lajang?

  J: Ada sebagian karena mereka tidak mendapatkan jodoh yang cocok,
     mungkin tidak sesuai dengan selera mereka, dengan standar level
     yang mereka sudah tentukan dalam hati mereka sendiri. Ada juga
     karena kekurangan pria terutama yang berkerohanian baik, karena
     pada umumnya wanita menginginkan supaya pria lah yang menjadi
     kepala rumah tangga, yang memimpin, sebagai imam di rumah tangga.
     Jadi mereka menginginkan sekali bahwa apabila mereka menikah,
     mereka menginginkan seorang pria yang sungguh-sungguh bisa
     memimpin mereka di dalam hal kerohanian.

-------
  T: Apakah hidup lajang atau tidak menikah pada wanita itu sebenarnya
     merupakan sesuatu yang direncanakan?

  J: Saya rasa yang memutuskan untuk hidup melajang ada, saya tidak
     berani bilang tidak ada, cuma tidak terlalu banyak. Pada umumnya,
     wanita ingin menikah, mempunyai satu keluarga, membina keluarga
     yang manis dan baik. Saya kira pada umumnya begitu.

-------
  T: Kalau ada orang yang berkata bahwa karier itu adalah musuh dari
     perkawinan, bagaimana pendapat Bapak?

  J: Tidak selalu ... walaupun memang ada orang yang mungkin karena
     tuntutan tanggung jawab -- karena adik-adiknya yang masih kecil,
     harus membiayai sekolah, orangtua sudah meninggal dll. Karena
     rasa tanggung jawab, wanita ini bekerja terus dan lebih
     mementingkan kariernya, sampai akhirnya memang lupa. Jadi memang
     dapat menjadi bermusuhan dengan perkawinan itu sendiri. Tetapi
     kalau mau diakui secara jujur saya yakin, walaupun dia berkarier
     sedemikian rupa, keinginan untuk membangun sebuah rumah tangga
     pasti ada di dalam hatinya.

-------
  T: Nah, bagaimana wanita-wanita lajang menghadapi sikap masyarakat
     atau keluarga yang kadang-kadang curiga, mencemooh atau
     menganggap hal itu aneh?

  J: Sikapnya bisa bermacam-macam. Ada orang-orang yang kelihatannya
     happy-happy saja. Dia begitu menikmati status lajangnya karena
     rasanya tidak perlu pusing dalam pengambilan keputusan apa yang
     ia ingin lakukan, bekerja di bidang apa, atau mau pergi ke mana.
     Rasanya tidak perlu banyak urusan dibanding orang-orang yang
     sudah menikah, karena sebentar-sebentar harus telepon ke rumah
     menge-cek apa anaknya sudah minum susu atau belum. Tetapi di
     kalangan lain cukup banyak wanita lajang yang akhirnya memang
     stress dengan tuntutan orangtua atau keluarga. Dia cenderung
     menghindari pertemuan-pertemuan keluarga karena setiap kali
     kumpul ada yang menikah, ada yang ulang tahun. Keluarga biasanya
     menanyakan, "Kapan menyusul?", lalu "Mana calonnya?", itu memang
     hal yang dapat sangat membuat stres.

-------
  T: Bagaimana dengan wanita lajang yang punya kedudukan yang tinggi
     dan merasa hidup lebih baik daripada yang sudah menikah,
     bagaimana seharusnya ia bersikap di tengah-tengah keluarganya?

  J: Saya rasa hal ini tidak hanya menjadi masalah wanita lajang saja.
     Sama seperti orang-orang pada umumnya perlu belajar memahami
     posisi orang lain. Wanita lajang pun perlu memahami bahwa mungkin
     orang lain (yang menikah) memiliki hambatan sehingga tidak bisa
     seproduktif dia yang masih lajang. Orang yang sudah menikah bisa
     mempunyai kesulitan karena harus membagi waktu dengan
     keluarganya. Jadi kalau wanita lajang mempunyai sikap bisa
     menerima dan memahami kesulitan mereka yang sudah menikah,
     maka ia bisa menjadi orang yang menyenangkan juga.

-------
  T: Jadi apa saran Bapak bagi para wanita lajang, apa yang bisa
     mereka lakukan untuk mengisi kebutuhan emosionalnya? Sebab
     kesendirian itu harus menjadi bagian hidup yang sangat riil.

  J: Tetap menjalin relasi. Saya pikir memang kadang-kadang sulit.
     Mungkin dulu pernah bersahabat akrab dengan seorang teman, tapi
     kemudian teman akrabnya sudah menikah. Maka kadang-kadang mau
     tidak mau hubungan menjadi berubah karena temannya harus mengurus
     suami dan keluarganya sementara dia tetap sendiri. Tetapi tidak
     menutup kemungkinan bahwa dia tetap bisa menjalin relasi dengan
     orang-orang lain juga. Misalnya, tetap terlibat dalam kehidupan
     sosial, mungkin pelayanan, persekutuan, hal-hal yang memang bisa
     membuat dia bisa mengaktualisasikan dirinya dan menjalin
     kehidupan sosialnya. Jangan justru malah menyendiri takut
     diomongin orang atau takut dipandang remeh.

-------
  T: Sebelum kita mengakhiri perbincangan ini mungkin Bapak ingin
     menyampaikan suatu kesimpulan.

  J: Saya akan bacakan dari Filipi 4:11 dan 12, "Sebab aku telah
     belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan, aku tahu apa itu
     kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan, dalam segala hal dan
     dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia
     bagiku." Terus disambung di ayat 13, "Segala perkara dapat
     kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."

     Yang bisa saya simpulkan dari pembicaraan kita di atas adalah:
     Pertama: kita perlu menerima keadaan kita. Jangan sampai kita
     merasa ada masalah dengan status lajang kita. Tidak apa-apa
     melajang, ini adalah bagian hidup yang Tuhan berikan kepada kita
     sampai saat ini, tidak tahu nantinya bagaimana, yang penting
     sampai saat ini inilah porsi yang Tuhan telah tetapkan, terimalah
     tanpa harus ada rasa bersalah.

     Kedua: kita mesti belajar mencukupkan diri. Sebab memang
     kehidupan lajang mempunyai nilai plus, yaitu mempunyai waktu
     lebih banyak dan tenaga lebih besar untuk bisa dicurahkan. Namun
     minusnya juga ada, seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Nah,
     tugas kita adalah belajar untuk mencukupkan diri, tidak bersungut-
     sungut atau menyalahkan siapa-siapa, apalagi menyalahkan Tuhan
     tapi belajarlah mencukupkan yang kurang itu.

-*- Sumber -*-:
   [[Sajian kami di atas, kami ambil dari isi salah satu kaset TELAGA
     No. T69A, yang telah kami ringkas/sajikan dalam bentuk tulisan.]]
     -- Jika Anda ingin mendapatkan transkrip seluruh kaset ini lewat
        e-Mail, silakan kirim surat ke:  < owner-i-kan-konsel@xc.org >
     -- Informasi tentang pelayanan TELAGA/Tegur Sapa Gembala Keluarga
        dapat anda lihat dalam kolom INFO edisi e-Konsel 03 dari URL:
     ==> http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/003/    [01 Nov 2001]


*BIMBINGAN *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* ALKITABIAH*

                    -*- KARUNIA HIDUP LAJANG -*-

  Ada orang Kristen yang menikah, tapi ada juga yang tetap hidup
  membujang. Namun jelas bahwa ada lebih banyak orang yang menikah
  daripada yang membujang, sebab pernikahan merupakan rencana Tuhan
  untuk manusia. Banyak orang Kristen yang memilih hidup lajang
  (walaupun tidak semuanya) karena Tuhan telah memberikan kepada
  mereka karunia khusus untuk hidup lajang (the gift of celibacy).
  Allah telah menjadikan mereka sedemikian rupa sehingga dengan tetap
  hidup lajang mereka dapat melaksanakan kehendak-Nya dengan lebih
  baik.

     "Karunia hidup lajang adalah kemampuan istimewa yang diberikan
     oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk
     tetap hidup lajang dan menikmatinya; mereka tidak menikah dan
     dapat menanggung semua godaan-godaan seksual."

  Jika Anda saat ini hidup lajang dan dalam hati sanubari merasa bahwa
  Anda akan segera menikah bila ada kesempatan yang tepat, maka
  kemungkinan Anda tidak memiliki karunia hidup lajang. Jika Anda
  hidup lajang dan mengalami frustasi hebat karena dorongan-dorongan
  seksual yang tak tertahankan, maka boleh jadi Anda tidak memiliki
  karunia hidup lajang. Akan tetapi, jika kedua dorongan di atas tidak
  mengganggu Anda, bersukacitalah -- mungkin Anda telah menemukan
  salah satu karunia rohani Anda.

  Ayat Alkitab untuk hal ini terdapat dalam 1Korintus 7:7. Dalam ayat
  itu Rasul Paulus membicarakan keadaannya sendiri yang hidup lajang
  dan ia menyebutnya sebagai suatu "charisma", suatu karunia rohani.
  Pria dan wanita yang hidup lajang termasuk bagian dari rencana Allah
  untuk umat-Nya dan mereka harus diterima dan dihormati.

  Perhatikanlah bahwa tidak diperlukan karunia khusus untuk menikah,
  memiliki hubungan seksual, dan membina keluarga. Allah memang telah
  menciptakan semua manusia dengan berbagai alat tubuh dan kelenjar
  dan nafsu yang dibutuhkan untuk itu, termasuk orang Kristen. Itu
  sebabnya mereka perlu menikah dan itulah yang mereka lakukan.

  Hal inilah yang menyebabkan prinsip umum yang penting muncul
  berkaitan dengan karunia-karunia rohani: ada lebih banyak anggota
  Tubuh Kristus yang tidak membagikan karunia rohani khusus yang
  dimilikinya bila dibandingkan dengan mereka mau membagikannya. Lebih
  banyak orang Kristen yang tidak memiliki karunia hidup lajang
  daripada mereka yang memilikinya. Begitu juga lebih banyak orang
  Kristen yang tidak memiliki karunia menjadi pendeta daripada mereka
  yang memilikinya. Hal ini berlaku untuk karunia nubuat dan
  pemberitaan Injil dan pengajar dan kepemimpinan, dan barangkali
  juga untuk setiap karunia lainnya.

  Analogi tubuh jasmani yang ditandaskan Paulus dalam Roma 12:4
  sebagai model yang dipakai agar kita dapat memahami karunia-karunia
  rohani telah menjelaskan hal ini. Kita tahu bahwa dalam tubuh kita
  sendiri sebagian besar anggotanya bukanlah tangan. Tubuh tidak
  seluruhnya adalah mata atau ginjal atau jari kaki atau gigi atau
  siku. Allah telah menetapkan bahwa kita memiliki dua mata dan ini
  sudah cukup guna melaksanakan tugas melihat bagi semua ratusan
  anggota lain dalam tubuh kita. Secara khusus Alkitab mengatakan
  bahwa tubuh tidak seluruhnya mata, karena jika demikian tubuh tidak
  dapat mendengar atau mencium (lihat 1Korintus 12:17).

  Hal yang sama berlaku untuk Tubuh Kristus. Sebuah sekte, yang
  dinamakan "Shakers", membuat kesalahan karena memberlakukan
  karunia hidup lajang untuk semua anggotanya -- mereka semua
  menaatinya dan mati secara alami sebagai suatu denominasi. Mereka
  tidak hanya memutuskan pertumbuhan biologis, tetapi pertumbuhan
  pergantian dan pertobatan merupakan kemungkinan paling jauh bagi
  mereka. Gaya hidup mereka tidak menarik banyak orang karena Allah
  tidak menjadikan banyak orang hidup seperti itu. Gereja Katolik
  telah menetapkan penerapan yang tidak alkitabiah dari karunia hidup
  melajang dengan menuntut semua rohaniwan mereka hidup lajang, baik
  bagi mereka memiliki karunia itu atau tidak.

  Masuk akal untuk menyimpulkan bahwa kurang dari 50% Tubuh Kristus
  diharapkan mempunyai suatu karunia khusus. Dugaan saya ialah bahwa
  kebanyakan persentase itu akan jauh lebih kurang dari 50%. Saya
  pernah mengadakan penyelidikan mengenai karunia untuk menjadi
  pemberita Injil (evangelist) dan menemukan bahwa jumlahnya sekitar
  10%. Lebih banyak penyelidikan perlu diadakan untuk mengetahui
  bagian mana dari Tubuh itu yang mempunyai karunia-karunia lain
  supaya kita dapat mengerti dengan lebih baik profil dari sebuah
  jemaat rohani yang sehat.

  Pria dan wanita yang memiliki karunia hidup lajang mempunyai banyak
  kelebihan. Paulus menekankan hal ini dalam 1Korintus 7. Ia
  menyebutkan, misalnya, bahwa orang Kristen dengan karunia hidup
  lajang benar-benar dapat melayani Tuhan dengan lebih baik daripada
  orang-orang yang tidak memiliki karunia itu, sebab orang yang
  melajang tidak perlu kuatir tentang bagaimana caranya menyenangkan
  suami atau istri atau keluarga mereka (lihat 1Korintus 7:32-34).
  Saya telah mengalami kebenaran perkataan ini dalam pengalaman saya
  sendiri. Kebenaran ini menjadi lebih nyata setelah saya menjalin
  persahabatan pribadi dengan John Stott, seorang guru Alkitab,
  penulis, dan negarawan Kristen yang paling dihormati masa kini. John
  Stott dan saya menjadi anggota dari komisi eksekutif Panitia
  Lausanne untuk Penginjilan Dunia, jadi kami sering bertemu di
  berbagai bagian dunia, menikmati persekutuan satu sama lain dan
  saling membagikan banyak bidang yang kami minati bersama.

  John Stott mempunyai karunia hidup lajang. Karena hal ini secara
  khusus menarik perhatian saya, maka saya memperhatikan berbagai hal
  yang menguntungkan beliau dibandingkan dengan orang-orang yang
  menikah, seperti saya, yang tidak memiliki karunia itu. Misalnya,
  saya terbiasa untuk menelepon ke rumah bila saya sedang bepergian.
  Bila saya menelepon biasanya saya akan berbicara dengan dua putri
  saya yang ada di rumah dan kemudian dengan istri saya, Doris. Jika
  saya menghabiskan waktu terlalu banyak untuk bepergian, keluarga
  saya akan menyatakannya dengan cara yang ramah namun tegas. Bila di
  rumah, saya akan menyisihkan waktu untuk menikmati kebersamaan
  dengan keluarga saya. Saya akan membuat rencana makan siang di
  rumah, jika hari Sabtu saya akan bekerja di sekitar rumah dan
  pekarangan bersama mereka, menyisihkan waktu-waktu saya untuk acara
  olahraga dan rekreasi bersama, dan pada hari libur musim panas akan
  pergi berkemah bersama. Sementara saya sibuk melakukan semua acara
  keluarga itu, John Stott sedang menulis sebuah buku lain atau
  bepergian ke negera lain. Tidaklah mengherankan jika saya sama
  sekali tidak dapat menyamai hasil pekerjaannya. John Stott telah
  menulis begitu banyak buku sehingga beberapa toko buku Kristen
  mempunyai sebuah rak buku khusus untuk karya-karyanya.

  Apakah saya iri pada John Stott? Sama sekali tidak. Jika saya iri,
  saya tidak setia kepada pengajaran Alkitab mengenai karunia-karunia
  rohani. Saya sangat bersyukur kepada Allah atas sumbangsih John
  Stott bagi pembangunan jemaat Kristen dan bagi tugas penginjilan
  dunia. Bagaimana dengan saya? Saya tidak mau menukar istri dan
  keluarga saya dengan seratus rak khusus untuk buku-buku tulisan saya
  di berbagai toko buku Kristen! Sebaliknya, karena saya tidak
  memiliki karunia hidup lajang, maka tanpa istri saya dan apa yang ia
  sumbangkan bagi setiap segi kehidupan saya, maka pekerjaan yang saya
  usahakan untuk dilakukan bagi Tuhan tidak akan berhasil.

  Godaan untuk memproyeksikan karunia yang dimiliki jarang terdapat di
  antara orang-orang yang memiliki karunia hidup lajang. Satu-satunya
  orang yang saya tahu hidup membujang dan memproyeksikan karunianya
  ini kepada orang lain adalah Rasul Paulus sendiri. Dalam 1Korintus
  ia begitu bersemangat menceritakan keuntungan-keuntungan yang
  didapat dari hidup tak beristri (menurut banyak ahli Alkitab mungkin
  Paulus seorang duda pada waktu itu) sehingga ia berkata, "Namun
  demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku;"
  (1Korintus 7:7). Akan tetapi, kemudian, dibawah ilham Roh, ia dengan
  cepat berbalik dan mengatakan bahwa hal itu dapat terjadi karena
  suatu karunia rohani.

  Satu segi lain dari karunia membujang yang perlu diperhatikan.
  Karunia hidup lajang adalah salah satu dari dua karunia yang tidak
  dapat berdiri sendiri. Dengan kata lain, tidak ada manfaatnya sama
  sekali hidup membujang, jika tidak ada tujuan lain yang menyebabkan
  kita tidak menikah. Hidup tanpa menikah seharusnya menjadikan
  seorang pria atau wanita menjadi lebih efektif dalam memakai karunia
  lain atau gabungan-karunia yang dikaruniakan Allah kepada seseorang.
  Karunia itu harus dimengerti dan digunakan dalam terang pengertian
  bahwa karunia itu dapat membantu seseorang untuk dapat mencapai
  apa yang dibutuhkan dalam Tubuh Kristus.

-*- Bahan diedit dari sumber -*-:
  Judul Buku   : Manfaat Karunia Roh untuk Pertumbuhan Gereja
  Judul Asli   : Your Spiritual Gifts Can Help Your Church Grow
  Judul Artikel: The Gift of Celibacy // Karunia Hidup Lajang
  Penulis      : Dr. C. Peter Wagner
  Penerbit     : Gandum Mas
  Halaman      : 63 - 67


*SURAT *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*- DARI ANDA -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* SURAT*

  Dari: bruri tumiwa <berel_t@>
  >Saya berterima kasih, karena e-Konsel masih tetap mengingat saya
  >dengan mengirimi artikel walaupun saya tidak memberikan informasi
  >balasan sama sekali selama ini. Sekali lagi terima kasih dan
  >maafkan saya bila tidak memberikan informasi balasan selama ini,
  >tetapi yang jelas artikel yang diberikan dari e-Konsel ...
  >menguatkan saya dan telah juga diketahui oleh sahabat-sahabat saya
  >sekaligus mereka dikuatkan.
  >
  >Terima kasih, Tuhan Yesus Kristus memberkati kita dan e-Konsel
  >semakin dilimpahkan hikmat, kebijakan dan pewahyuan dari Allah Bapa
  >di Surga dalam menghadapi hari-hari yang semakin jahat ini.
  >Syalom,
  >Bruri T.

  Redaksi:
  Terima kasih atas kiriman email dan juga doanya. Kami berharap agar
  setiap terbitan e-Konsel bisa memberikan informasi yang bermanfaat
  bagi Anda dan sahabat-sahabat Anda.


e-KONSEL*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*e-KONSEL

                        STAF REDAKSI e-Konsel
                      Yulia O., Lani M., Ka Fung
                   PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
                         Yayasan Lembaga SABDA
                     INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
                         Sistem Network I-KAN
                     Copyright(c) 2002 oleh YLSA

*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
  Anda punya masalah atau perlu konseling? <masalah-konsel@sabda.org>
  Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
  dapat dikirimkan ke alamat:             <owner-i-kan-konsel@xc.org>
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
  Berlangganan: Kirim e-mail kosong ke: subscribe-i-kan-konsel@xc.org
  Berhenti:     Kirim e-mail kosong:  unsubscribe-i-kan-konsel@xc.org
  Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
  ARSIP publikasi e-Konsel:  http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org