Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/20

e-Konsel edisi 20 (15-7-2002)

Konseling yang Baik

><>                   Edisi (020) -- 15 Juli 2002                 <><

                               e-KONSEL
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

Daftar Isi:
    - Pengantar            : Konseling dengan Baik
    - Cakrawala            : Bagaimana Melakukan Konseling yang Baik?
    - Bimbingan Alkitabiah : Metodologi Alkitabiah untuk Perubahan
    - Tips                 : Hal-hal yang Harus Dihindari
                                oleh Konselor Kristen
    - Surat                : Usulan Topik e-Konsel

*REDAKSI -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*- REDAKSI*

                    -*- PENGANTAR DARI REDAKSI -*-

  Edisi e-Konsel nomor 20 ini akan secara khusus dimaksudkan untuk
  membekali konselor-konselor Kristen agar dapat melayani konseling
  dengan baik. Untuk itu silakan simak kolom Cakrawala dan Tips yang
  membahas secara terbuka tentang kesalahan-kesalahan yang dilakukan
  konselor Kristen pada waktu memberikan konseling dan bagaimana
  menemukan solusi agar terhindar dari masalah-masalah tsb.

  Sedangkan kolom Bimbingan Alkitabiah akan memberikan penjelasan
  kepada konselor tentang pentingnya mengetahui bahwa masalah-masalah
  kehidupan yang dialami manusia dapat menjadi sarana untuk
  menumbuhkan iman dan mendekatkan konsele pada Tuhan. Namun untuk itu
  konselor harus memiliki fondasi Firman Tuhan dan cara konseling yang
  tepat agar pembimbingan dapat mencapai sasarannya.

  Selamat belajar! Harapan kami sajian edisi ini dapat menjadi bekal
  agar Anda dapat menjadi konselor Kristen yang bertanggungjawab.

  Dalam kasih-Nya,
  Staf e-Konsel


*CAKRAWALA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* CAKRAWALA*

          -*- BAGAIMANA MELAKUKAN KONSELING YANG BAIK? -*-

  Bayangkan saudara adalah orang yang memerlukan pelayanan konseling.
  Saudara minta nasihat karena saudara tak dapat mengenyahkan depresi
  yang sedang saudara rasakan.

  SAUDARA : Saya menderita depresi akhir-akhir ini. Tak sanggup
            rasanya saya menolong diri sendiri. Saya tak tahu apa
            yang tak beres dalam diri saya.

  KONSELOR: Mengapa Saudara mempunyai perasaan yang demikian buruk?

  SAUDARA : Tak tahulah saya. Saya sendiri tak sanggup menjelaskannya.

  KONSELOR: Adakah dosa dalam diri Saudara yang belum Saudara akui?

  SAUDARA : Saya kira tak ada. Tetapi saya dengan senang bersedia
            mengakui dosa saya kalau ditunjukkan.

  KONSELOR: Ada menaruh dendam?

  SAUDARA : Saya kira tak ada, tetapi saya akan berdoa tentang hal itu
            kalau harus demikian.

  KONSELOR: Kita perlu berdoa kesembuhan ingatan Saudara. (Pada waktu
            inilah konselor saudara mengajak saudara berdoa).

            (Seusai berdoa) Sadarilah, Saudara, bahwa Saudara harus
            yakin bahwa Saudara adalah anak Tuhan. Saudara harus
            merasa malu karena memiliki perasaan-perasaan semacam itu.
            Tuhan Yesus mati untuk mengambil kesedihan dan kemurungan,
            dan Alkitab menyuruh kita untuk selalu bergembira dalam
            Tuhan.

  SAUDARA : Ya, saya tahu Bapak benar. Perasaan saya mengenai depresi
            ini buruk sekali. Saya kurang bersukacita.

  KONSELOR: Mungkin juga Saudara tidak selalu memuji Tuhan! Setiap
            harikah Saudara memuji Tuhan?

  SAUDARA : Saya kira tidak setiap hari. Saya absen memuji Tuhan
            terutama kalau saya merasa depresif seperti ini.

  KONSELOR: Kalau seorang Kristen benar-benar berjalan di dalam Roh,
            Alkitab berkata bahwa ia akan mengalami hidup yang bahagia
            dan damai! Perasaan depresif Saudara berasal dari daging,
            bukan dari roh. Karena Saudara tidak berjalan dalam Roh,
            maka Saudara tidak selalu memuji Tuhan.

  SAUDARA : Saya yakin Bapak benar. Istri saya (suami saya/teman saya)
            juga mengatakan yang sama. Saya dinasihati supaya menjadi
            orang Kristen yang dapat mengatasi persoalan tetapi saya
            sungguh-sungguh merasa depresif.

  KONSELOR: Perhatikanlah apa yang Saudara ucapkan. Apa yang Saudara
            ucapkan adalah apa yang Saudara akan dapatkan.

  SAUDARA : Apa yang saya katakan adalah apa yang akan saya dapatkan?

  KONSELOR: Benar, Saudara berkata bahwa Saudara sedang dalam keadaan
            depresi, karena itulah maka Saudara benar-benar mengalami
            depresi.

  SAUDARA : Jadi saya harus mengatakan bahwa saya tidak mengalami
            depresi sama sekali?

  KONSELOR: Firman Tuhan berkata bahwa kuasa kehidupan dan kematian
            ada di lidah. Mintalah, maka Saudara akan diberi.

  SAUDARA : Baiklah. Saya tidak merasa depresi. Saya tidak merasakan
            depresi.

  KONSELOR: Begitu lebih baik. Sekarang bergembiralah dalam Tuhan.
            Pujilah Tuhan maka Saudara akan segera mengatasi depresi
            itu.

  Sebagai Si konsele, apakah yang akan Saudara rasakan setelah
  mendapatkan pelayanan konseling seperti di atas? Mungkin Saudara
  akan merasa sangat frustasi, dan mungkin lebih merasa bersalah dan
  depresif daripada sebelumnya. Mengapa nasehat Firman Tuhan seperti
  di atas kadang tidak dapat membebaskan konsele dari masalah depresi
  yang dialaminya?

  Marilah kita memeriksa dialog di atas untuk mengetahui apa yang ada
  dalam pikiran si konselor. Barangkali konselor di atas berpendapat:
  1. Setelah kita menjadi seorang Kristen, maka konseling menjadi
     suatu hal yang sederhana. Kita cukup menguasai beberapa ayat
     Alkitab dan sejumlah pengajaran yang sedang populer di masa kini.

  2. Tak ada perlunya mendengarkan orang sebab perasaan itu buruk dan
     adanya problema yang tidak dapat dipecahkan adalah akibat dosa
     dan kegagalan dalam menerapkan Firman Tuhan.

  3. Agar dapat menjadi konselor hanya diperlukan penguasaan sejumlah
     ayat Alkitab. Kalau seorang konsele tidak mau mendengarkan
     kebenaran, biarlah ia menanggung kesalahannya sendiri.

  Tidak semua pendapat konselor di atas salah. Tidak salah jika ia
  mengatakan bahwa Firman Tuhan itu menyucikan dan menyembuhkan
     "Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah
     Kukatakan kepadamu" -- (Yohanes 15:3).
  Benar juga pendapatnya bahwa sebagian problema adalah akibat dosa
  dan akibat tidak mau menerapkan Firman Tuhan dalam kehidupan. Kalau
  demikian, mengapa kata-kata konselor itu masih belum tepat untuk
  membereskan masalah yang dialami konsele?

  Kasus lain adalah seorang wanita yang setelah konseling disuruh
  pulang dengan saran agar menghentikan kebingungannya, karena
  perasaan bingung itu dianggap sebagai suatu dosa dan suatu keadaan
  mementingkan diri sendiri. Untuk itu kepadanya dinasihatkan untuk
  bertobat, supaya Tuhan menyucikannya dan ia dapat sembuh. Kepadanya
  tidak diberikan pengertian tentang bagaimana hal-hal yang
  dirisaukannya itu bisa memainkan peran dalam hidupnya, juga tentang
  prosedur-prosedur untuk mengubah keadaannya. Ia hanya mendengar
  tuntutan-tuntutan yang keras untuk melaksanakan apa yang tidak
  sanggup dilakukannya.

  Ia diminta untuk menghentikan perasaannya yang buruk dan mulai
  mengasihi Tuhan sebagaimana mestinya. Bukankah Tuhan telah banyak
  menolongnya? Mengapa ia kurang berterima kasih? Makin banyak ia
  mendengar kata-kata ini, makin susah hatinya karena merasa gagal dan
  bersalah. Ia mulai beranggapan bahwa ia tak berharga dan tak
  memadai, dan bahkan mungkin ia bukan seorang Kristen.

  Kadang-kadang orang yang menderita seperti wanita itu dituduh kena
  serangan Iblis. Ada seorang wanita yang dituduh kena serangan Iblis
  kesombongan karena kebangsaan. Ia wanita asing dan keterikatannya
  dengan negerinya jelas tidak menyenangkan orang-orang yang
  bersangkutan. Ada juga seorang wanita yang dituduh kemasukan setan.
     "Ada yang mengatakan kepada saya bahwa rumah saya telah kemasukan
     setan seni. Saya sangat terkejut mendengar bahwa ada setan seni
     tinggal di rumah saya! Saya lalu membakar semua lukisan saya dan
     membuang koleksi buku saya mengenai barang-barang antik. Saya
     tidak mau melawan kehendak Tuhan, jadi saya membersihkan rumah
     saya dari segala macam karya seni. Saya kehilangan jutaan rupiah
     karenanya."

  Ada pertolongan yang tidak sanggup menolong dan ada kebenaran yang
  tak sanggup membebaskan. Ini dapat disebabkan oleh karena:

  1. Konselor-konselor yang tidak memiliki kasih yang murni terhadap
     orang menderita yang dilayaninya.

  2. Kegagalan menyimak apa yang sebenarnya dikatakan oleh konsele.
     Daripada sabar mendengar supaya dapat mendalami problema yang
     sedang dihadapi konsele, mereka memotong pembicaraan.

  3. Ketidaksediaan konselor untuk mempelajari kehidupan dan keadaan
     konselenya.

  4. Penggunaan Firman Tuhan sebagai tongkat untuk memukul orang-orang
     yang dilayani dengan kebenaran.

  5. Merasa mengetahui segala jawaban dan siap di segala waktu untuk
     memberikan penyelesaian-penyelesaian.

  6. Salah anggapan bahwa konselor lebih baik dan lebih berharga dari
     konsele yang bingung.

  Memang bagi Tuhan Yesus tidak sulit menyelesaikan persoalan apa saja
  yang dihadapi oleh manusia, namun bagi manusia yang berprofesi atau
  berfungsi sebagai konselor tidak semudah itu. Seorang konselor perlu
  memiliki kebijaksanan dan pengertian yang dalam dari Tuhan. Konselor
  harus berdoa kepada Tuhan supaya dianugerahi karunia pengetahuan dan
  pengertian serta kebijaksanaan untuk memakai karunia-karunia itu
  secara efektif, supaya ia tahu kehendak Tuhan untuk orang-orang yang
  dilayaninya. Memberikan pertolongan kepada orang-orang yang
  menderita secara psikologis tidaklah sama dengan memberikan resep
  obat seperti yang dipraktekkan oleh dokter badan, misalnya dengan
  memberikan resep yang sama untuk setiap penyakit pilek dan
  tenggorokan. Tidak semua orang menderita anxietas atau depresi dari
  jenis yang sama atau dengan penyebab yang sama pula. Tidak ada
  jawaban-jawaban yang siap pakai untuk penderitaan emosional.

  Ada banyak teori tentang penyebab kesulitan, masing-masing dianggap
  benar oleh penganutnya. Penyebab kesulitan, menurut beberapa teori
  psikopatologi, adalah konflik yang tidak disadari yang disebabkan
  oleh kejadian-kejadian yang dialami pada waktu masih anak-anak. Yang
  dekat dengan teori ini adalah pendapat bahwa ingatan merupakan
  penyebab kesulitan yang dihadapi di masa kini dan apabila ingatan
  itu disembuhkan, maka semua kesulitan akan teratasi.

  Masih ada teori-teori yang mengatakan bahwa penyebab perilaku
  terletak pada gen-gen. Akibat logis yang pantas diragukan dari teori
  ini adalah bahwa keburukan tertentu dapat dihilangkan dari anak cucu
  kita asal saja kita mau dijodohkan menurut gagasan para cendekiawan
  gen, atau asalkan bahan-bahan gen kita ubah.

  Para ahli lain keras berpegang pada pendapatnya bahwa semua emosi
  yang tak diinginkan itu timbul dari tidak adanya keseimbangan kimia.
  Mereka menganjurkan agar para ahli psikofarmakologi mengembangkan
  obat-obatan yang akan dapat menyembuhkan depresi dan gangguan
  psikologis lainnya sehingga dunia akan bebas dari depresi.

  Ada juga orang-orang di kalangan rohani yang berkeras mengatakan
  bahwa persoalan-persoalan emosional selalu disebabkan oleh dosa yang
  belum diakui dan ketiadaan iman. Yang lain mengatakan bahwa
  penyebabnya terletak pada roh, dan beranggapan bahwa pasti roh jahat
  yang mengganggu. Ini terutama dikenakan pada persoalan-persoalan
  psikologis yang tak dapat mereka pahami seperti sindrom dislogika
  dan skizofrenia. Dalam kenyataannya, semua teori ini ada
  kebenarannya, tetapi tidak satu pun dapat memberikan keterangan yang
  memadai dan dapat menyembuhkan perilaku-perilaku yang kacau.

  Kenyataan akan adanya kemajuan dalam diri si penderita setelah
  dilayani melalui teori-teori di atas tidak berarti bahwa masing-
  masing teori itu sendiri adalah jawaban satu-satunya dari persoalan.

  Tuhan menghendaki penyembuhan melalui pelbagai cara seperti doa,
  penumpangan tangan, perminyakan, pembebasan dari roh jahat,
  konseling, diet, pengobatan, pekerjaan, rekreasi, udara segar, olah
  raga, teman-teman, kasih dan mungkin juga pelayanan seorang
  psikolog. Apabila Tuhan telah memilih untuk memakai seorang psikolog
  untuk menolong seseorang yang menderita gangguan emosi, hal ini
  tidak berarti bahwa penyembuhan itu bukan hasil pekerjaan Tuhan;
  seorang ahli jiwa dapat menjadi sarana yang dikehendaki Tuhan.

-*- Sumber -*-:
  Judul Buku: Mengapa Aku Merasa Begini?
  Penulis   : William Backus, M.Th., Ph.D. dan Marie Chapian
  Penerbit  : Buku Betania, Semarang, 1999
  Halaman   : 179 - 184


*BIMBINGAN *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* ALKITABIAH*

            -*- METODOLOGI ALKITABIAH UNTUK PERUBAHAN -*-

  Metodologi alkitabiah untuk perubahan adalah proses rohani yang
  berjalan sesuai apa yang telah dilakukan Allah dan iman seseorang
  kepada Allah. Untuk melaksanakan perubahan secara rohani, Allah
  telah menyediakan segala yang diperlukan melalui Anak-Nya, Roh
  Kudus-Nya, dan firman-Nya. Meskipun demikian seseorang harus
  memberikan tanggapan dengan iman baik untuk keselamatan mula-mula
  dan hidup baru maupun untuk penyucian yang terus-menerus. Perubahan
  seperti itu dilaksanakan dengan iman yang menuju pada mengasihi dan
  menaati Allah.

  Bimbingan alkitabiah sedikitnya melibatkan tiga pribadi yaitu Allah,
  orang yang mencari pertolongan, dan satu orang Kristen atau lebih
  sebagai pendamping untuk melayani dengan penuh kasih dan kebenaran
  Allah (konselor). Perubahan-perubahan terpenting terjadi melalui
  kasih Allah dan tanggapan seseorang. Karena itu fungsi utama
  pembimbing (konselor) adalah menyatakan tentang kasih Allah dan
  mendorong seseorang untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah
  melalui iman dalam kasih-Nya.

  Prinsip utama bimbingan alkitabiah adalah: ketika seseorang mulai
  mendekatkan diri kepada Allah melalui kasih-Nya -- dinyatakan
  melalui firman-Nya dan Roh Kudus-Nya -- maka ia akan mengalami
  perubahan dalam cara pemikiran, emosi, dan tindakan. Lima asumsi
  yang melandasi prinsip dasar ini:

  1. Perubahan yang mula-mula terjadi melalui iman. Ketika seseorang
     menjadi anak Allah, ia menjadi ciptaan baru yang didiami oleh Roh
     Kudus (Roma 8:9-15).

  2. Sekali seseorang menerima ciptaan baru, ia hendaknya hidup di
     dalam Roh, menurut prinsip-prinsip hidup baru dan bukan menurut
     cara-cara hidup lama (Galatia 5:22-23).

  3. Karena itu, sumber pengenalan akan semua situasi kehidupan ialah
     di dalam alam Roh -- di dalam persekutuan dengan Allah
     (2Petrus 1:1-4).

  4. Karena seorang Kristen adalah ciptaan di dalam roh, maka hanya
     Alkitab yang dapat menggambarkan dia dengan tepat (model manusia,
     Mazmur 94:8-11; Ibrani 4:12-13) dan menunjukkan bagaimana harus
     hidup (metodologi perubahan, Kisah Para Rasul 20:32; 1Tesalonika 2:13).

  5. Satu doktrin alkitabiah yang pokok tentang pendekatan rohani
     adalah pergumulan antara kasih dan ketuhanan Allah (hidup menurut
     Roh) dan kasih serta ketuhanan pribadi (hidup menurut daging,
     lihat Roma 7:14-25).

  Apa pun masalah yang dialami, orang-orang diubah ke arah yang lebih
  baik dalam hal tertentu dengan mendekatkan diri kepada Allah melalui
  kasih-Nya. Karena kita adalah makhluk yang utuh, masalah-masalah
  kehidupan kejiwaan pasti mempengaruhi roh. Karena itu, tidaklah
  alkitabiah jika kita menganggap masalah-masalah kehidupan seakan-
  akan tidak ada hubungannya dengan roh. Dengan menangani implikasi
  rohani suatu masalah secara alkitabiah, orang tersebut akan lebih
  mampu menangani aspek-aspek mental, emosi, dan tingkah laku. Ketika
  seseorang mendekat kepada Allah, orang itu terbuka terhadap
  kemurahan dan kebenaran kasih Allah. Ketika orang itu memutuskan
  untuk mendekat, Allah melayani jiwanya sehingga ia menemukan
  penyelesaian terhadap masalah-masalahnya.

  Dalam abad teknologi dan kemajuan seperti sekarang ini orang mungkin
  mengabaikan fakta alkitabiah, yaitu bahwa membawa seseorang lebih
  dekat kepada Allah melalui kasih-Nya akan mengubah masalah-masalah
  kehidupan karena tidak ada yang lain dapat mengubahnya. Kasih Allah
  menyentuh roh seseorang, dan kehidupan rohani yang dalam selalu
  menghasilkan kehidupan mental, emosi dan tingkah laku yang
  diperbaiki.

  Suatu unsur yang umum dalam bimbingan psikologis maupun alkitabiah
  ialah kasih. Kuasa Allah yang menembus dapat melunakkan kehendak dan
  mendorong hati manusia sehingga perubahan mungkin terjadi. Perubahan
  itu terjadi melalui kasih, bukan melalui teknik-teknik dan
  pendidikan psikologis. Pernyataan utama buku Paul Halmos yang
  berjudul "The Faith of the Counsellors" (Iman Para Pembimbing)
  adalah
       "bahwa semua bentuk psikoterapi bukan didasarkan atas
       serangkaian fakta atau prinsip ilmiah, melainkan atas suatu
       kepercayaan yang sifatnya meresap dalam kuasa kasih yang
       menyembuhkan".
  Bahkan kasih manusia yang dimaksud Halmos mempunyai kuasa yang
  mengubahkan. Namun kasih manusia tidak pernah dapat mengubah roh
  manusia; hanya kasih Allah yang dapat diandalkan, sehingga apabila
  diterima, mengubah seseorang dan memampukan dia untuk hidup dalam
  iman, berharap kepada Allah dan mengasihi Allah dan sesama
  manusia sesuai dengan Hukum Utama (Ulangan 6:5; Imamat 19:18;
  Matius 22:36-40).

  Orang-orang telah dilepaskan dan akan dilepaskan dari setiap masalah
  yang ditangani oleh terapi percakapan dengan cara menerima dan
  memberikan kasih Allah. Masalah mental, emosi, dan tingkah laku apa
  pun yang diserahkan kepada terapi percakapan akan diubah oleh kasih.
  Segala sesuatu dari kecemasan yang kecil sampai kecanduan alkohol
  berat dan dari depresi sampai masalah perkawinan paling baik
  ditangani melalui kasih Allah. Kasih yang sama inilah yang juga
  dahulu sampai sekarang dapat menguabah berbagai pencobaan kehidupan.

  Masalah-masalah merupakan tanah yang sudah dibajak yang dapat
  ditanami benih-benih rohani dari kehidupan dan kasih. Seorang
  pembimbing (konselor) alkitabiah akan mempergunakan masalah-masalah
  kehidupan sebagai sarana untuk membawa orang lebih dekat kepada
  Allah. Karena mendekatkan diri kepada Allah merupakan satu-satunya
  ciri yang paling konsisten dari mereka yang berubah, maka hal itu
  hendaknya merupakan faktor utama dalam bimbingan. Orang yang
  dibimbing dan pembimbing harus mengalami kebenaran bahwa rintangan
  terbesar terhadap pertumbuhan adalah keterpisahan dari Allah dan
  dorongan terbesar bagi pertumbuhan adalah mendekatkan diri kepada
  Allah dan memberi tanggapan terhadap kasih-Nya. Apabila masalah-
  masalah terjadi fokus kita bukan pada masalahnya, walaupun masalah
  itu dibahas. Fokusnya terletak pada orang yang bersangkutan dan
  hubungannya dengan Allah.

-*- Sumber -*-:
  Judul Buku: Bimbingan Berdasarkan Firman Allah
  Penulis   : Martin dan Deidre Bobgon
  Penerbit  : Yayasan Kalam Hidup
  Halaman   : 69 - 72


*TIPS *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TIPS*

     -*- HAL-HAL YANG HARUS DIHINDARI OLEH KONSELOR KRISTEN -*-

  Dalam dunia konseling, beberapa hal yang harus dihindari konselor
  supaya tidak menghambat keefektifan kerjanya adalah:

  a. Memihak/menitikberatkan pada informasi sepihak
  -------------------------------------------------
  Biasanya problema yang didengar konselor merupakan salah satu aspek
  persoalan yang dilihat dari sudut pandang konsele itu sendiri.
  Sebagai contoh, dalam konseling pernikahan, suami maupun istri bisa
  mempunyai pandangan berbeda mengenai satu persoalan. Tentunya
  konselor tidak dapat menyelesaikan persoalan dengan baik jika
  problema hanya didengar dari satu pihak, apalagi kalau sampai
  berpihak kepada salah satu konsele.

  b. Mengambil kesimpulan yang premature/tergesa-gesa/ceroboh
  -----------------------------------------------------------
  Seringkali yang dikemukakan oleh konsele hanya merupakan gejala atau
  akibat dari inti persoalannya dan belum tentu merupakan persoalan
  yang sebenarnya. Oleh karena itu seorang konselor harus menjadi
  pendengar yang baik dan cermat, tidak terlalu cepat mengambil
  kesimpulan, atau langsung memberi jalan keluar.

  c. Menekankan konfrontasi
  -------------------------
  Banyak pendapat yang mengatakan bahwa menkonfrontasikan konsele
  dengan kebenaran firman Tuhan adalah satu-satunya jalan bagi orang
  Kristen untuk mengatasi persoalan. Padahal jika diperhatikan ada
  banyak cara dalam Alkitab yang dapat disaksikan dan digunakan untuk
  menolong orang lain mengatasi persoalan mereka, misalnya dengan
  konfrontasi (Roma 15:14), mengajar (Kolose 3:16), menghibur
  (1Tesalonika 4:18), memperhatikan (1Korintus 12:25), menguatkan
  (1Tesalonika 5:11), menerima (Roma 15:7), bahkan kadang-kadang
  dengan kasih menolong konsele menanggung beban atau pergumulan
  mereka (Galatia 6:2). Jadi jelas tidak mungkin hanya melalui satu
  cara saja kita dapat menolong konsele.

  d. Terlalu banyak ikut campur
  -----------------------------
  Terjerat dan ikut campur dalam banyak hal mengenai permasalahan
  konsele sering dialami oleh konselor. Hal ini membuat konselor tidak
  obyektif terhadap inti persoalannya dan banyak waktu maupun tenaga
  terkuras yang seharusnya kita gunakan untuk hal-hal lain. Konsele
  biasanya menuntut perhatian penuh tanpa peduli bahwa konselor
  mempunyai tanggung jawab kepada keluarga dan konsele lainnya. Untuk
  menghindarinya konselor harus dapat menemukan cara yang tepat untuk
  mengatasinya tanpa merusak hubungan baik yang mungkin sudah terbina.
  Kebijaksanaan dari Tuhan sangat dibutuhkan untuk dapat tetap
  memperhatikan konsele tanpa menjadikan persoalannya sebagai
  pergumulan/beban yang dapat menghancurkan diri konselor.

  e. Akrab dengan konsele lawan jenis
  -----------------------------------
  Meskipun kita adalah konselor-konselor Kristen, tidak ada jaminan
  bahwa tidak akan terjadi skandal dalam hubungan konselor dan
  konsele. Karena itu jangan menyombongkan diri bahwa kita tidak akan
  jatuh (1 Korintus 10:12-13). Konseling membutuhkan pendekatan yang
  terkadang sampai pada kebutuhan pribadi konsele yang sangat
  mendalam, seperti misalnya kebutuhan seksual. Sudah banyak kasus
  dimana para konselor profesional dan hamba-hamba Tuhan terlibat
  dalam persoalan ini sehingga pelayanan mereka gagal. Mereka
  membiarkan hawa nafsu dan perasaannya terikat dengan konsele. Untuk
  menghindari hal ini konselor harus tegas, dan tidak membiarkan
  perasaannya terlibat lebih jauh jika mulai muncul tanda-tanda
  tersebut diantara mereka berdua. Selain itu konselor dianjurkan
  untuk tidak mengadakan pertemuan di tempat-tempat tertutup,
  tersembunyi, atau di tempat-tempat sunyi, kecuali jika konselor
  ditemani diaken atau pekerja gereja yang lain.

  f. Kegagalan menyimpan rahasia
  ------------------------------
  Harapan para konsele jika mereka mengutarakan segala persoalan dan
  isi hatinya kepada konselor adalah agar apa yang mereka katakan itu
  tidak akan bocor. Namun tanpa disadari, konselor sering mengungkap
  hal-hal tersebut dalam diskusi formal atau dijadikan ilustrasi
  khotbah. Untuk menghindarinya, dengan kuasa dan pertolongan Tuhan
  kita harus mematikan kebiasaan untuk membicarakan orang lain
  (Yakobus 3:1-10; 1Petrus 3:10).

  g. Pelayanan yang tidak seimbang
  --------------------------------
  Melalaikan tanggung jawab kepada keluarga, mengabaikan waktu untuk
  berdiam diri, berdoa, atau beristirahat seringkali dilakukan oleh
  para konselor Kristen yang terlalu sibuk dalam pelayanan
  konselingnya. Konselor hendaknya belajar dari Tuhan Yesus yang
  selalu mempunyai waktu untuk istirahat dan berdoa. Konselor harus
  mengerti batas-batasnya, jangan sampai persiapan khotbah, waktu doa
  dan saat teduh terabaikan, begitu juga dengan tugas-tugas dan
  tanggung jawab lainnya. Pelayanan konselor akan menjadi tidak
  efektif dan tidak akan menjadi teladan bagi orang lain apabila
  konselor mengabaikan hal-hal tersebut diatas. Menjadi konselor yang
  profesional memang tidak mudah, tetapi kita dapat mencobanya dengan
  menjadi konselor yang efektif dalam membagi waktu, baik itu untuk
  dunia konseling, keluarga, pelayanan, dan hubungan pribadi dengan
  Tuhan.

-*- Bahan diringkas dari sumber -*-:
  Judul Buku: Konseling Kristen yang Efektif
  Penulis   : DR. Gary R. Collins
  Penerbit  : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 1998
  Halaman   : 18 - 22


*SURAT *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* SURAT*

  Dari: robby tarigan <rby_ministries@>
  >Tolong kalau bisa keluarkan edisi yang mendatang dengan artikel
  >hati bapa atau hal-hal yang menyangkut kebapaan, baik bapa secara
  >horizontal(yang ada di bumi) atau vertikal(yang disurga). Dan kalau
  >bisa lengkap dengan semua conyoh dan pengajarannya. Atas
  >perhatiannya saya berterima kasih dan Tuhan Yesus memberkati!!!

  Redaksi:
  Terima kasih untuk usulan topiknya. Kami harap topik tsb. akan
  menjadi salah satu topik yang bisa kami rencanakan pada edisi tahun
  2003. Bagi pembaca e-Konsel yang ingin menyumbangkan artikel/bahan
  yang berhubungan dengan topik yang diusulkan ini, silakan mengubungi
  Redaksi di alamat: <submit-konsel@sabda.org>


e-KONSEL*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*e-KONSEL
                         STAF REDAKSI e-Konsel
                      Yulia O., Lani M., Ka Fung
                    PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
                         Yayasan Lembaga SABDA
                     INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
                          Sistem Network I-KAN
                      Copyright(c) 2002 oleh YLSA

*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
  Anda punya masalah atau perlu konseling? <masalah-konsel@sabda.org>
  Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
  dapat dikirimkan ke alamat:             <owner-i-kan-konsel@xc.org>
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
  Berlangganan: Kirim e-mail kosong ke: subscribe-i-kan-konsel@xc.org
  Berhenti:     Kirim e-mail kosong:  unsubscribe-i-kan-konsel@xc.org
  Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
  ARSIP publikasi e-Konsel:  http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org