Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-konsel/10

e-Konsel edisi 10 (15-2-2002)

Prinsip Konseling

><>                Edisi (010) -- 15 Februari 2002                 <><

                               e-KONSEL
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

Daftar Isi:
    - Pengantar
    - Cakrawala            : Menjadi Konselor bagi Teman
    - Bimbingan Alkitabiah : Pengertian Konseling Dalam Alkitab
    - Tips                 : Petunjuk untuk Konselor agar
                                Berhasil dalam Konseling
    - Surat                : Tanya tentang Pelayanan untuk Narkoba

*REDAKSI -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*- REDAKSI*

                    -*- PENGANTAR DARI REDAKSI -*-

  Salam sejahtera,

  Para pembaca yang terkasih, sajian e-Konsel kali ini akan membahas
  tentang beberapa langkap-langkah prinsip konseling yang akan sangat
  berguna untuk membekali anda dalam pelayanan konseling secara umum.
  Secara khusus sasaran penerapan prinsip-prinsip konseling ini adalah
  untuk teman atau sahabat yang kita kenal. Untuk melengkapi artikel
  ini akan dibahas juga 3 kata penting agar pelayanan konseling
  berhasil, yaitu Empati, Kehangatan dan Ketulusan.

  Selain itu akan dibahas juga secara singkat istilah dan pengertian
  yang berhubungan dengan kata "konseling" dari 1 Tesalonika 5:14.
  Pembahasan singkat ini mudah-mudahan semakin mendorong kita untuk
  menggiatkan keterlibatan pelayanan konseling oleh orang awam
  khususnya di gereja-gereja lokal.

  Selamat membaca,
  Staf Redaksi e-Konsel


*CAKRAWALA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* CAKRAWALA*

                 -*- MENJADI KONSELOR BAGI TEMAN -*-
                      Oleh: Cyntia V. MacDonald

  Memberikan pertolongan yang tepat kepada teman kita yang bermasalah
  adalah suatu karunia Tuhan yang indah yang kita bisa berikan kepada
  orang lain. Namun demikian, sayang sekali bahwa apa yang kita yakini
  sebagai suatu pertolongan sering kali justru tidak efektif. Bahkan
  orang-orang Kristen -- mungkin khususnya orang Kristen -- telah
  gagal dalam membagikan karunia Allah yang penting ini karena,
  walaupun kita ingin memberikannya dengan kasih, kita betul-betul
  tidak tahu bagaimana caranya. Menolong orang itu sudah sulit --
  apalagi kalau kita membuat kesalahan.

  Kekeliruan Kita dalam Menolong Teman
  ------------------------------------

  Ada beberapa kesalahan umum yang kita lakukan ketika teman kita
  datang dan meminta pertolongan kita:

  * KITA LANGSUNG MEMBERIKAN NASEHAT. Ini malah bisa memberikan
    implikasi sebagai suatu penghinaan, dan mengganggap bahwa mereka
    tidak tahu apa yang harus dilakukan. Memberikan nasehat/saran juga
    bisa kedengaran arogan karena kita mengganggap diri mengetahui
    keadaan lebih daripada mereka.

  * KITA LANGSUNG BERKATA, "AKU MENGERTI." Kata-kata ini bisa menjadi
    senjata mematikan untuk menyakiti orang. Kita tidak mungkin bisa
    memahami/mengerti sepenuhnya keadaan orang lain. Tidak ada keadaan
    yang kita alami yang bisa sama persis dengan keadaan mereka.
    Perasaan dan tindakan mereka adalah unik.

  * KITA LANGSUNG MENCERITAKAN BAHWA KITA PERNAH MENGALAMI SITUASI
    YANG SAMA. Tiba-tiba pembicaraan beralih menjadi tentang kami dan
    bukan tentang mereka lagi, sehingga mereka merasa diabaikan dan
    frustrasi.

  * KITA BERPISAH DENGAN MENGUCAPKAN "SAYA AKAN BERDOA UNTUK KAMU."
    Tentu saja kita pasti akan mendoakannya, tetapi hal itu seharusnya
    tidak menjadi perpanjangan dari pertolongan yang kita tawarkan.

  * KITA HANYA MENGATAKAN, "YESUS ADALAH JAWABAN." Mereka mungkin
    sudah tahu akan hal ini dan perlu diingatkan lagi, atau mereka
    tidak tahu hal ini dan kata-kata ini tidak berarti apa-apa bagi
    mereka. Yesus memang adalah jawaban, tetapi mungkin Yesus ingin
    menggunakan kita sebagai alat untuk menolong mereka.

  Kalau demikian, bagaimana cara seharusnya menolong teman kita yang
  bermasalah? Ikutilah 4 langkah prinsip di bawah ini:

  1. Menyediakan Diri
  -------------------
  Langkah pertama untuk membantu teman yang membutuhkan pertolongan
  adalah dengan menyediakan diri untuk bersamanya (secara fisik) dan
  memberikan perhatian penuh kepadanya. Yesus secara terus menerus
  menyediakan diri untuk orang-orang yang dilayani-Nya -- baik ketika
  Ia sedang dalam perjalanan, sedang mengajar, atau bahkan saat Ia
  sedang berretreat bersama murid-murid-Nya. Yesus meluangkan waktu
  untuk menampakkan diri kepada murid-murid-Nya saat murid-murid-Nya
  sedih setelah peristiwa penyaliban dan Ia menghibur mereka dengan
  memberi salam "Damai sejahtera bagi kamu." (Lukas 24:36). Ia juga
  menampakkan diri kepada dua orang yang sedang berjalan ke Emmaus dan
  untuk sejenak berjalan bersama-sama dengan mereka (ayat 13-16)

  Saat Ayub mengalami malapetaka, sahabat-sahabatnya segera datang dan
  dengan penuh belas kasihan menemani Ayub yang ada dalam penderitaan.
  Selama tujuh hari berturut-turut mereka menderita dalam kebisuan
  dengan Ayub. Namun, setelah satu minggu, sahabat-sahabat Ayub mulai
  menyalahkan Ayub. Mereka menolak untuk menerima pengakuan Ayub bahwa
  ia setia kepada Allah. Sebaliknya, mereka justru memojokkan Ayub
  dengan mengatakan bahwa ia pasti telah berdosa dan mereka mencoba
  memaksakan pemecahan terhadap dilema yang sedang dihadapi Ayub.
  "Menurut hematmu apakah Allah harus melakukan pembalasan karena
  engkau yang menolak?" kata Elihu kepada Ayub. (ayat 34:33).
  Sedangkan istri Ayub dengan berani menyarankan, "Kutukilah Allahmu
  dan matilah!" (ayat 2:9).

  Kita, sering juga begitu. Kita cenderung membahayakan teman kita
  dengan memberikan nasehat yang buruk, dan dengan cepat memilih
  langsung mendiskusikan rencana bagaimana bertindak karena kita tidak
  sabar lagi menemaninya.

  2. Mendengarkan dengan Efektif
  ------------------------------
  Komponen penting kedua dalam usaha membantu teman/sahabat kita yang
  sedang dalam masalah adalah dengan mendengarkan. Mendengarkan dengan
  efektif akan melibatkan interaksi dengan orang yang bersangkutan dan
  menghormati perasaannya. Walaupun niat kita baik, tapi kalau kita
  langsung mengambil kesimpulan - tidak memperdulikan apa yang mereka
  katakan -- hal itu menunjukkan bahwa kita tidak menghormatinya.

  * MENGUNGKAPKAN ISI BERITA. Langkah pertama dalam mendengarkan
    adalah mengungkapkan kembali isi berita yang dikatakan teman tsb.
    -- dengan kata lain mengulang kembali apa yang dikatakan teman
    tersebut dengan kata-kata kita sendiri. Proses ini mungkin akan
    membuat kita agak sedikit canggung pada awalnya, tetapi sebenarnya
    itu hanya perasaan kita saja, teman yang kita layani tidak akan
    merasakannya. Kemampuan melakukan hal ini memberikan dua
    keuntungan:
    (1) Memaksa kita untuk memfokuskan perhatian pada teman yang kita
        layani.
    (2) Teman kita tahu bahwa kita telah mendengarkannya.

    Ada saatnya Yesus mengungkapkan kembali kepada orang yang sedang
    berbicara apa yang telah didengarnya dari mereka. Setelah
    melakukan percakapan pendek, Nathanael menyatakan bahwa Yesus
    adalah Anak Allah. Lalu Yesus merefleksikan kembali dasar dari
    iman percaya Nathanael: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat
    engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya." (Yohanes 1:50).

  * MENGKLARIFIKASIKAN KEBUTUHAN YANG TERPENDAM. Sangat baik kalau
    kita dapat mengungkapkan kembali (merefleksikan) isi/pesan yang
    sudah dikatakan teman kita, namun akan lebih baik lagi jika kita
    dapat mengungkapkan juga emosi dan kebutuhan di balik apa yang
    sudah dikatakannya. Marta yang suka menyibukan dirinya mengeluh
    kepada Yesus, "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku
    membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku"
    (Lukas 10:40). Sebelum memberikan jalan keluar Yesus mengungkapkan
    lebih dahulu kepada Marta inti permasalahannya, "Marta, Marta,
    engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara" (Lukas
    10:41).

    Demikian pula dengan kita, kita dapat melayani orang lain dengan
    mengungkapkan kembali perasaan mereka dan mengklarifikasi
    kebutuhan yang mereka ungkapkan. Namun, kita perlu waspada untuk
    tidak menganalisa secara berlebihan ketika kita mengungkapkan
    perasaan orang lain. Kita seharusnya mengungkapkan hanya perasaan-
    perasaan yang jelas kita liaht saja: "Wah, perasaanmu pasti
    terluka," atau "Kamu kedengarannya lagi marah." Kita seharusnya
    jangan mencoba menafsirkan atau menebak-nebak perasaan orang,
    karena hal itu bisa sangat merugikan.

  * MENGUNGKAPKAN KEMBALI KEBINGUNGAN. Mendengarkan dengan reflektif
    mungkin adalah bantuan yang paling bermanfaat untuk orang sedang
    mengalami kebingungan atau memiliki perasaan yang mendua hati.
    Kalau kita mengulangi apa yang mereka katakan, hal ini akan
    menolong mereka mengenali kebingungannya dan dapat menghasilkan
    tindakan yang membangun. Yesus melakukan hal ini saat seorang
    ayah dari seorang anak yang kerasukan setan datang dan berkata
    padaNya, "Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah
    kami dan kasihanilah kami," (Markus 9:22). Yesus mengungkapkan
    kembali apa yang telah didengar-Nya dalam bentuk pertanyaan,
    "Katamu: jika Engkau dapat?" (ayat 23), hal ini menolongnya
    melihat imannya yang ragu-ragu. Kemudian Yesus berkata, "Tidak ada
    yang mustahil bagi orang yang percaya!" (ayat 23), perkataan Yesus
    ini memberinya kesempatan untuk memutuskan tindakan iman yang
    jelas.  setelah ia mengenali kesalahannya, segera ayah anak itu
    berkata: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!"
    (ayat 24).

  3. Mencari Jalan Keluar
  -----------------------
  Lalu bagaimana kita dapat menolong teman kita untuk sampai pada
  solusi/pemecahan yang dibutuhkannya? Kita tidak berhak untuk
  melakukan langkah ketiga kecuali kita sudah mendengarkan teman yang
  kita layani. Langkah ketiga adalah: proses memecahkan masalah. Kita
  harus cukup menghormati mereka untuk mengijinkan mereka memecahkan
  masalah mereka sendiri. Tujuan utama kita seharusnya adalah untuk
  memberi semangat kepada teman yang kita layani itu sehingga ia dapat
  menemukan solusinya sendiri. Kita dapat menolong proses ini dengan
  mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

  * BICARAKAN TENTANG KEADAANNYA SAAT INI. Teman yang ingin mencari
    jalan keluar bagi permasalahan yang dihadapinya, pertama-tama
    perlu mengungkapkan kondisinya saat ini. Kadang-kadang pertanyaan
    sederhana untuk mencari fakta sudah cukup mengungkapkan banyak
    hal. Yesus, misalnya, bertanya kepada pada seorang yang kerasukan
    roh jahat, "Siapa namamu?" Jawaban yang mengejutkan dari orang
    itu "Legion" (Markus 5:9), lebih dari pada sekedar menarik --
    jawaban itu merupakan pernyataan dari keseluruhan masalah yang
    dihadapi orang tersebut. Dia dirasuk oleh roh jahat yang sangat
    banyak. Tidak heran jika tingkah lakunya sangat merusak.

  * FOKUSKAN PADA APA YANG MEREKA INGINKAN. Kemudian, tolonglah teman
    yang perasaannya disakiti tsb. mendefinisikan dengan tepat apa
    yang perlu dilakukannya. Yesus bertanya pada si buta Bartimeus,
    "Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" (Markus
    10:51). Yesus tentu saja tahu jawabannya, tetapi ia ingin agar
    Bartimeus sendiri yang mengungkapkan kebutuhannya. Memahami apa
    yang menjadi permasalahannya dapat menjadi langkah yang penting
    untuk kesembuhannya.

  * TOLONGLAH UNTUK MENEMUKAN ALTERNATIF-ALTERNATIF PEMECAHAN.
    Berilah semangat kepada teman anda untuk menemukan sendiri
    pemecahan yang dibutuhkannya. Jauhkan diri dari pencobaan untuk
    memberikan pemecahan kepadanya. Tanyakan pengalamannya yang lalu
    supaya dia ingat bagaimana masalahnya yang dulu terpecahkan.
    Ketika murid-murid Yesus kuatir jika tidak ada cukup makanan,
    Yesus memberikan serangkaian pertanyaan untuk mengingatkan mereka
    tentang mujizat yang telah Ia lakukan untuk memberi makan orang
    banyak (Markus 8:14-21). Mereka perlu diingatkan dan mengerti
    bahwa Yesus adalah pemecahan dari masalah mereka.

  * TAWARKAN SARAN-SARAN. Jika teman yang kita layani benar-benar
    tidak dapat menemukan pemecahan tindakan-tindakan praktis
    sendiri, kita boleh -- dengan hati-hati -- menawarkan satu saran,
    tetapi setelah semua langkah-langkah yang disebutkan di atas
    sudah dikerjakan. Pertama mintalah ijin dulu. Tanyakan, "Apakah
    kau ingin tahu, apa yang akan aku lakukan jika menghadapi situasi
    sepertimu?" atau "...apa yang temanku akan lakukan jika..." atau,
    ".... apa yang disarankan Alkitab jika ...."

  4. Bertekad untuk Melakukan Tindakan
  ------------------------------------
  Terakhir, jika teman kita telah memikirkan apa yang dulu berhasil
  dia lakukan dan telah memutuskan beberapa pilihan bagaimana
  memecahkan masalahnya, dia perlu memutuskan tindakan-tindakan apa
  yang akan dilakukannya.

  Yesus membantu wanita Samaria yang ditemuiNya di sumur untuk pindah
  dari posisi kesakitan dan penolakan ke posisi bertindak dalam
  pengharapan dan iman (Yohanes 4:1-26). Wanita tersebut bingung
  dengan masalah dimana ia akan menyembah Tuhan - di gunung atau di
  Yerusalem. Yesus yang memahami keinginan wanita tersebut untuk
  mengenal Tuhan, maka Dia mengungkapkan kembali dua pilihan yang
  telah dikatakan wanita itu, dan menawarkan pilihan ke tiga dengan
  cara yang tidak membuatnya terancam, yaitu pilihan yang akan dipilih
  oleh "seorang penyembah yang benar"; menyembah Allah "dalam roh dan
  kebenaran" (Yohanes 4:23). Lalu wanita itu menawarkan solusinya
  sendiri, "apabila Ia (Mesias) datang, Ia akan memberitakan segala
  sesuatu kepada kami." (Yohanes 4:25). Wanita ini telah bertekad
  melakukan suatu tindakan -- mencari iman -- jadi ia siap untuk
  menerima Penyataan Kristus, "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata
  dengan engkau" (Yohanes 4:26).

  Kita dapat membantu teman kita untuk sampai pada taraf melakukan
  tindakan dengan terus melayaninya sebagai pendamping. Katakan
  kembali ide-idenya sementara ia bergerak ke arah pembecahan masalah,
  dan membantunya memperjelas kebutuhan dan pilihan-pilihannya. Ketika
  kita telah menemukan apa yang mereka sungguh-sungguh ingin lakukan,
  doronglah mereka untuk melakukannya.

  Yesus memberi dorongan kepada orang-orang untuk melakukan tindakan
  ketika Ia berkata kepada seorang muda yang kaya, yang rupanya sedang
  mencari suatu pemenuhan, "Ikutlah Aku." (Markus 10:21). Kepada
  seorang perwira yang memiliki hamba yang sakit, Yesus bersabda,
  "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya" (Matius
  8:13). Lalu kepada wanita tertangkap sedang berzinah, Ia berkata,
  "Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai sekarang" (Yohanes
  8:11), dan dalam Markus 16:15, Yesus bersabda kepada murid-muridNya,
  "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala
  makhluk."

  Kita, juga dapat mendorong orang-orang untuk melakukan tindakan.
  Tapi kita perlu yakin bahwa tindakan yang akan mereka lakukan
  tersebut berasal dari Tuhan untuk mereka, dan bukan dari kita.

  Kita dapat membantu teman dengan jalan mendengarkan. Bukankah ini
  hadiah yang indah untuk diberikan?

-*- Sumber diterjemahkan dari: -*-
  Judul Artikel: "How to Help a Friend"
  Penulis      : Cyntia V. MacDonald
  Judul Buku   : "The Me I See"
  Editor       : Leadingham, Everett
  Penerbit     : Beacon Hill Press of Kansas City
  Halaman      : 78 - 83


*BIMBINGAN *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* ALKITABIAH*

             -*- PENGERTIAN KONSELING DALAM ALKITAB -*-

  Perjanjian Baru:
  ================
  Dalam kitab Perjanjian Baru ada sejumlah kata-kata bahasa Yunani
  yang berhubungan tentang pengertian "konseling". Secara khusus akan
  kita lihat 1 Tesalonika 5:14, karena didalamnya terdapat lima kata
  yang semuanya menyinggung pengertian "konseling".

  1 Tesalonika 5:14
  -----------------
  "Kami juga menasehati (parakaleo) kamu, saudara-saudara, tegorlah
  (nouthetheo) mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah
  (paramutheomai) mereka yang tawar hati, belalah (antechomai)
  mereka yang lemah, sabarlah (makrothumeo) terhadap semua orang."

  1. "Parakaleo" -- menasehati, mendorong, mendukung, menghibur (juga
     dipakai dalam: Rom. 12:1, 15:30; 2 Kor. 1:4).
  2. "Nouthetheo" -- memberikan pengertian, mengingatkan, dan menegur
     (juga dipakai dalam: Rom. 15:14; 1 Kor. 4:14; Kol. 3:16).
  3. "Paramutheomai" -- menghibur, menguatkan (juga dipakai dalam
     1 Tes. 2:11)
  4. "Antechomai" -- memberi perhatian, memegang teguh, menggenggam
     erat.
  5. "Makrothumeo" -- bersabar (juga dipakai dalam: Mat. 18:26,29;
     Ibr. 6:15; Yak. 5:7).

  Perjanjian Lama:
  ================
  Selain itu dalam Perjanjian Lama, ada beberapa kata dalam bahasa
  Ibrani yang mengacu pada arti konseling:

  1. "dabar" -- "nasihat Bileam" (Bilangan 31:16) yang mengacu pada
     kata nasihat.
  2. "ya'ats" -- "Lalu diamlah nabi itu setelah berkata: 'Sekarang aku
     tahu, bahwa Allah telah menentukan akan membinasakan engkau,
     karena engkau telah berbuat hal ini, dan tidak mendengarkan
     nasihatku!'" (2 Tawarikh 25:16). Ayat ini sekali lagi dijelaskan
     bahwa konseling mengacu pada kata nasihat dan petunjuk.
  3. "sowd" -- kata yang mengacu pada "bergaul dengan baik"
     menurut Daud (Mazmur 55:14), yang pernah dialaminya dengan teman
     lamanya ini memiliki konotasi tentang persekutuan dan sharing.
  4. "eja" -- Daniel menjawab Ariokh "dengan cerdik dan bijaksana"
     memperlihatkan bahwa ia memberi respon dengan bijaksana.
  5. "etsah" -- bangsa Israel yang tidak punya "pertimbangan"
     (Ulangan 32:28) memberi kesan tentang tidak adanya pengertian.
  6. "yasad" --"Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar
     bermufakat bersama-sama" (Mazmur 2:2) berarti bahwa mereka duduk
     bersama untuk saling berkonsultasi, memberi pertimbangan, dan
     memberi nasihat.

-*- Sumber diterjemahkan dari: -*-
  Judul Buku: Counseling & the Nature of Man
  Penulis   : Frank B. Minirth & Paul D. Meier
  Penerbit  : Baker Book House, Grand Rapids, Michigan, 1982
  Halaman   : 60 - 61


*TIPS *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TIPS*

    -*- PETUNJUK UNTUK KONSELOR AGAR BERHASIL DALAM KONSELING -*-

  Berikut ini adalah 3 kata penting yang disebutkan oleh Dr. Gary
  Collins yang perlu dipelajari untuk konselor agar pelayanannya
  berhasil. Kata tersebut adalah: Empati, Kehangatan dan Ketulusan.

  Empati
  ======
    Empati adalah kata yang berasal dari bahasa Jerman "enfulung",
    yang  artinya "merasakan di dalam" atau "merasakan bersama".
    Kebanyakan dari kita pernah merasakan pengalaman duduk di kursi
    penumpang di sebuah mobil yang sedang berjalan cepat. Kita akan
    ikut menjejakkan kaki kita kuat-kuat ke lantai mobil saat kita
    merasa bahwa mobil yang kita tumpangi perlu diperlambat jalannya.
    Pada saat-saat seperti itu kita ikut merasakan situasi yang
    dialami pengemudi dan kita ikut merasa bersama dengannya.

    Dalam konseling, konselor yang efektif berusaha untuk melihat dan
    memahami masalah yang dihadapi konselee dari sudut pandang
    konselee itu. Kita mungkin bertanya-tanya, "Mengapa ia sangat
    kecewa?", "Bagaimana ia memandang situasi yang dialaminya?" atau
    "Jika aku adalah dia, apa yang akan kurasakan?". Sebagai seorang
    konselor kita memang perlu menjaga sudut pandang untuk tetap
    obyektif, namun kita perlu juga menyadari bahwa kita akan sangat
    menolong konselee seandainya kita juga mampu melihat permasalahan
    dari sudut pandang konselee dan membiarkannya mengetahui bahwa
    kita memahami perasaannya dan sudut pandangya terhadap masalah
    yang dihadapinya. Sebaliknya, konselee pun perlu mengetahui bahwa
    seseorang saat ini sedang berusaha memahaminya. Pemahaman timbal
    balik antara konselor dan konselee ini akan membangun jalinan rasa
    simpati dan saling pengertian yang maksimal.

  Kehangatan
  ==========
    Kata kehangatan mungkin dapat disamakan dengan kata kepedulian.
    Kehangatan adalah keramahtamahan dan kepedulian yang ditunjukkan
    melalui ekspresi wajah atau raut muka, nada suara, bahasa tubuh,
    sikap badan, kontak mata dan tindakan-tindakan non-verbal lainnya
    saat konselor berusaha menghibur konseleenya. Kehangatan selalu
    mengungkapkan, "saya peduli denganmu dan saya tahu bahwa engkau
    adalah orang yang baik." Disini, sama halnya perilaku manusia pada
    umumnya, tindakan berbicara lebih keras dari pada kata-kata.
    Konselor yang mempunyai kepedulian yang besar terhadap orang lain
    tidak perlu mengungkapkan penghiburannya secara verbal, setiap
    orang yang tahu pasti dapat merasakannya.

  Ketulusan
  =========
    Ketulusan artinya apa yang dikatakan konselor memiliki
    kekonsistenan   dengan tindakannya. Konselor selalu bersikap jujur
    terhadap konseleenya dengan menghindarkan pernyataan-pernyataan
    yang dapat dianggap palsu atau tidak tulus. Seorang penulis pernah
    mengatakan bahwa orang-orang yang benar-benar tulus adalah orang
    yang spontan tetapi tidak impulsif atau bukan orang yang tidak
    mempunyai rasa hormat, konsisten dengan nilai-nilai yang
    dianutnya, sikapnya tidak defensif, sabar akan emosi dalam dirinya
    dan mau mensharingkan dirinya sendiri dan perasaannya.

  Gary Collin selanjutnya berkata bahwa Yesus telah memberikan
  teladan tentang empati, kehangatan dan ketulusan. Demikian pula kita
  para konselor Kristen, kita harus mampu melakukan hal yang sama.
  Namun pada prakteknya, sebagai konselor kita seringkali bersikap
  terlalu berlebihan terhadap salah satu dari ketiga karakteristik di
  atas. Kita mungkin akan terlalu berempati terhadap konselee sehingga
  kita menjadi kehilangan obyektifitas kita, mungkin kita terlalu
  hangat sehingga konselee merasa dirinya dimanja, atau terlalu tulus
  sehingga konselor justru kehilangan pemahaman tentang apa yang
  sebenarnya dibutuhkan konselee-nya. Oleh karena itu, konselor harus
  rajin memeriksa kembali motif yang dimilikinya ketika ia sedang
  memberikan konseling terhadap konselee-nya. Sebagai konselor,
  kebutuhan kita akan terpenuhi dalam hubungan konseling, tetapi tugas
  utama kita adalah menolong orang lain dalam menghadapi masalah-
  masalah atau pergumulannya.

-*- Sumber diterjemahkan dari: -*-
  Judul Buku: How To Be a People Helper
  Penulis   : Dr. Gary Collins
  Penerbit  : Regal Books, U.S.A, 1975
  Halaman   : 33 - 34


*SURAT *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*- DARI ANDA -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* SURAT*

  Dari: "GKKD Pekanbaru" <gkkd_pku@>
  >Shalom,
  >Saya sangat bersyukur, dapat kiriman informasi dari e-konsel,
  >sungguh menambah wawasan saya. Apalagi saya seorang konselor dalam
  >suatu pelayanan. Saya mau minta informasi mengenai Pelayanan Untuk
  >Narkoba, karena saya rindu sekali melayani anak-anak muda yang
  >terlibat Narkorba, tetapi saya kurang sekali informasi mengenai hal
  >ini. Oleh karena itu saya rindu sekali e-konsel dapat mengirimnya
  >kepada saya. So, teruskan pelayanan ini, doa kami dari Pekanbaru
  >untuk semua staff e-konsel, Berkat dari Allah kita yang luar biasa
  >melimpah atas Seluruh Staff. Thanx, God Bless You.
  >Juni

  Redaksi:
  Terima kasih untuk surat anda. Sehubungan dengan pertanyaan anda
  maaf kami tidak dapat menjawab secara detail karena kami tidak
  memiliki informasi lengkap tentang pelayanan Narkoba. Informasi
  yang kami tahu adalah sbb.:

  1. RACE (Reformed After CarE)
        Lokasi: Permata Indah VI Blok B7 No. 3
                Taman Permata Millenium,
                Lippo Karawaci, Tangerang
                Phone 021-5916931
        E-mail: <race@link.net.id>
                <agbar2645@dnet.net.id>, 2. YCAB - YAYASAN CINTA ANAK BANGSA
==>     http://www.ycab.net/
==>     http://www.yadanet.com/

  Apakah ada pembaca e-Konsel yang mengetahui informasi lain? Jika
  ada silakan kirimkan kepada < staf-Konsel@sabda.org >, kami akan
  salurkan kepada yang membutuhkan. Sebelumnya kami ucapkan terima
  kasih.

e-KONSEL *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* e-KONSEL
                        STAF REDAKSI e-Konsel
                   Yulia O., Margareta A., Lani M.
                   PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
                        Yayasan Lembaga SABDA
                    INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
                         Sistem Network I-KAN
                     Copyright(c) 2002 oleh YLSA

*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
 Anda punya masalah atau perlu konseling? <masalah-konsel@sabda.org>
 Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
 dapat dikirimkan ke alamat:             <owner-i-kan-konsel@xc.org>
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
 Berlangganan: Kirim e-mail kosong ke: subscribe-i-kan-konsel@xc.org
 Berhenti:     Kirim e-mail kosong:  unsubscribe-i-kan-konsel@xc.org
 Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
 ARSIP publikasi e-Konsel:  http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org