Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-binasiswa/98

e-BinaSiswa edisi 98 (4-6-2018)

Pendidikan Karakter Kristen bagi Remaja Kristen (I)

Pendidikan Karakter Kristen bagi Remaja Kristen -- Edisi 98/I/Juni 2018
 
Pendidikan Karakter Kristen bagi Remaja Kristen
Edisi 98/I/Juni 2018
 
e-BinaSiswa

Kita sering mendengar bahwa masa remaja adalah masa mencari jati diri. Banyak remaja terhilang karena menemukan jati diri yang salah. Ada remaja yang terjebak dalam pergaulan bebas, narkoba, dan seks bebas karena terpengaruh oleh pergaulan yang salah. Hal ini terjadi karena orang tua tidak menanamkan nilai kristiani kepada anak sejak kecil. Sebagai pembina remaja dan pemuda, kita ibarat orang tua sekaligus kakak bagi remaja yang kita bina. Kita harus menanamkan nilai-nilai kristiani pada siswa dan remaja yang kita layani.

Publikasi e-BinaSiswa kali ini menyajikan artikel tentang menanamkan nilai-nilai kristiani pada anak dan remaja. Hal-hal kristiani apa saja yang perlu ditanamkan? Bagaimana cara kita menanamkannya? Semua ini akan dibahas lengkap pada kolom artikel edisi ini. Selain itu, simak juga kolom Bahan Mengajar yang membahas pengenalan karakter remaja. Marilah kita menanamkan nilai kristiani dan pendidikan karakter pada anak dan remaja sejak dini. Tuhan memberkati.

Ariel

Staf redaksi e-BinaSiswa,
Ariel

 

ARTIKEL Menanamkan Nilai-Nilai Kristiani pada Anak dan Remaja

Menanamkan nilai-nilai kristiani dengan dasar Alkitab pada anak-anak dan remaja merupakan suatu hal yang sangat penting. Amsal 22:6 berkata, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Proses pendidikan ini menuntut harga yang sangat mahal yang harus dibayar, khususnya oleh pihak orang tua. Jika tidak, penyesalan akan terus dibawa hingga napas terakhir.

Apa yang disebut dengan nilai-nilai kristiani dan bagaimana menanamkannya dalam kehidupan anak-anak dan remaja akan bersama-sama kita renungkan.

Nilai-Nilai Kristiani

Gambar: Ortu Kristen mengajar

Iman dalam Tuhan Yesus Kristus seharusnya merupakan iman yang hidup, yang diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:17). Sikap dan tindakan tersebut disebut dengan nilai-nilai (values) yang merupakan standar yang ditetapkan Allah sendiri dalam firman-Nya, dan bukan standar yang ditetapkan oleh manusia. Beberapa nilai kristiani yang harus ditanamkan pada generasi berikutnya:

  1. Kebenaran (Truth) – kita harus memegang kebenaran dan mengajarkannya, yaitu kebenaran berdasar pada Alkitab. Dalam kebenaran ini juga terletak integritas dan kejujuran, yaitu adanya keselarasan antara apa yang dikatakan dan dilakukan (Matius 5:37).
  2. Kesalehan (Righteousness) – di sini, setiap orang percaya harus hidup berfokus dan berpusat pada Allah Bapa dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kesalehan berbicara tentang hubungan atau relasi kita dengan Allah dan kesederhanaan hidup. Ayub telah hidup dalam kesalehan, bergaul karib dengan Allah, sejak dia berusia remaja (Ayub 29:4).
  3. Kekudusan (Holiness) – ini merupakan syarat seseorang dapat melihat Allah dan masuk menghadap hadirat-Nya (Matius 5:8). Orang Kristen telah dipisahkan dari dunia yang gelap ini untuk tujuan khusus, yaitu sebagai garam dan terang. Kekudusan mencakup baik pikiran, perkataan, maupun perbuatan.
  4. Kesetiaan (Faithfulness) – sifat setia sangat diharapkan dimiliki oleh setiap orang percaya. Kesetiaan orang Kristen harus didasarkan pada kesetiaan Allah sendiri, yang dengan senantiasa menyertai kita. Hanya orang yang setia sampai mati yang akan memperoleh mahkota kehidupan (Wahyu 2:10b). Kesetiaan kepada Tuhan ini juga harus ditunjukkan dengan kesetiaan atau loyalitas dalam gereja lokal, kepada pasangan, dan hal lain yang dikehendaki Tuhan.
  5. Keutamaan (Excellency) – semangat untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan dan sesama tentunya diilhami oleh Allah sendiri yang telah memberikan pemberian yang terbaik, yaitu Anak-Nya Yang Tunggal, bagi dunia (Yakobus 1:17). Kaidah Emas (Golden Rule) yang diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri harus terus kita pegang.
  6. Kasih (Love) – ini merupakan ciri kehidupan umat kristiani yang selalu dinantikan oleh orang-orang di sekitar kita. Kasih agape yang dinyatakan dengan kesediaan untuk menerima orang lain, mengampuni yang bersalah, dan menyalurkan berkat Tuhan bagi mereka yang membutuhkan. Semua orang percaya diperintahkan untuk menyatakan kasih ini, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama (Matius 22:37-39).

Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja

Untuk dapat menanamkan semua nilai di atas, aspek-aspek perkembangan yang dimiliki oleh anak dan remaja perlu dipahami. Ada aspek perkembangan fisik, moral (Lawrence Kohlberg), mental (Jean Piaget), psiko-sosial (Erik Erickson), dan iman (James Fawler).

Untuk perkembangan iman, James Fawler telah mengelompokkan tahapan perkembangan dengan baik. Jika kita memahaminya, proses penanaman nilai tersebut akan menjadi lebih mudah.

1. Intuitive Projective Faith (0 -- 6 tahun)

Iman diperoleh dari orang tua; berpikir tentang Allah; penuh imajinasi dan fantasi; meniru iman orang lain; gambaran tentang Allah diserupakan dengan orang tuanya; mewarisi tradisi tentang Allah dan iman.

2. Mythic Literal Faith (6 -- 12 tahun)

Iman diperoleh dari cerita-cerita; pentingnya keanggotaan kelompok untuk identitas diri; berpegang pada cerita, aturan dan nilai otoritas, cerita diserap secara harafiah dan faktual; figur otoritas mengendalikan perspektif pribadi.

3. Synthetic Conventional Faith (12 -- remaja lanjut)

Iman diperoleh dari kelompok; gerakan pertama menuju iman pribadi; memilih kepercayaan, nilai, dan sifat-sifat bagi diri sendiri; pilihan tidak diambil secara reflektif/kritis; pemulihan tidak berasal dari norma komunitas; figur otoritas tetap penting.

4. Individuative Reflective Faith (remaja lanjut -- dewasa)

Membentuk imannya sendiri; komitmen pribadi akan iman, nilai-nilai dan tindakan; menjadi reflektif/kritis terhadap iman komunitas; diri sendiri menjadi sumber otoritas kepemilikan; tidak menyukai ketegangan antariman -- memilih satu untuk menyelesaikan ketegangan.

5. Conjunctive Faith (dewasa)

Iman yang dewasa dan terbuka; mampu menggandeng perspektif yang berbeda; mampu memandang kebenaran dari berbagai sudut; terbuka terhadap berbagai pandangan yang masih misteri; terbuka untuk kebenaran dan tradisi lain.

6. Universalizing (dewasa lanjut)

Iman yang dalam dan konsisten; tidak lagi berpusat pada diri sendiri; memandang dunia melalui pengalaman dan iman orang lain; menghargai orang lain dengan kasih Tuhan Pencipta; minat transendental terhadap satu komunitas.

Kiat-Kiat Menanamkan Nilai-Nilai Kristiani pada Anak dan Remaja

Berikut ini adalah kiat-kiat menanamkan nilai-nilai kristiani pada anak dan remaja.

1. Anak (0 -- 12 tahun)

Gambar: Ortu mengajar
  • Memberikan teladan tentang nilai-nilai iman kristiani di atas.
  • Menyediakan bahan-bahan cerita dalam media cetak atau elektronik.
  • Menetapkan aturan-aturan dengan prinsip punishment and reward.
  • Menyediakan diri untuk menjadi ‘sumber’ jawaban atas pelbagai pertanyaan mereka, dengan terus belajar dan menyederhanakan jawaban sesuai tingkat pemahaman anak-anak.
  • Mengajak dan melibatkan anak-anak dalam pelbagai program pelayanan di gereja atau masyarakat sesuai dengan kemampuan mereka.

2. Remaja (12 tahun -- remaja lanjut)

  • Memaparkan segala sesuatu secara terbuka, termasuk mengakui kesalahan dan mencoba memperbaikinya.
  • Menyediakan bahan-bahan pembinaan rohani, seperti buku renungan remaja, dsb..
  • Mengizinkan mereka bergabung dengan kelompok pergaulan yang baik dan terarah.
  • Menyediakan diri untuk menjadi tempat curhat mereka.
  • Memberikan argumentasi yang jelas terhadap segala hal yang diperbolehkan atau dilarang.
  • Mengizinkan Tuhan sendiri "mengajar" mereka.

Tentunya kiat-kiat di atas harus didahului oleh doa yang dinaikkan terus-menerus bagi mereka. Doa Ibu Monica berhasil membawa pertobatan yang radikal dalam kehidupan Agustinus. Ada kuasa yang mengubah dan memperbarui dalam doa!

Unduh Audio

Diambil dari:
Nama situs : Blog MORELORD
Alamat situs : https://petrusfs.com/2010/05/22/menanamkan-nilai-nilai-kristiani-kepada-anak-dan-remaja/
Judul artikel : Menanamkan Nilai-Nilai Kristiani kepada Anak dan Remaja
Penulis artikel : Petrus F. Setiadarma
Tanggal akses : 14 Juni 2017
 

BAHAN AJAR Pelajaran Kelompok Remaja tentang Karakter

Jika murid-murid di kelompok remaja Anda seperti saya, membangun karakter bukanlah hal yang menjadi prioritas mereka. Saya ingin menekan satu tombol dan langsung bisa menjadi lebih mengasihi, lebih sabar, dan lebih ramah.

Bahkan, saya sering menolak keadaan yang Allah taruh dalam perjalanan saya untuk membentuk saya menjadi semakin serupa dengan Yesus.

Saya kira murid-murid Anda juga demikian.

Saya ingat tahun pertama pernikahan saya ... saya kira menikah akan begitu menakjubkan! Saya mengasihi Allah, dia mengasihi Allah, kami saling mengasihi -- apa susahnya, ya 'kan?

Ha ... saya pun dikejutkan! Tahun pertama pernikahan saya sangatlah sulit! Sebagian besar karena saya kira saya baik secara mental dan fisik, tetapi nyatanya masih BANYAK yang harus saya kembangkan.

Akan tetapi, dengan pertolongan Allah, kami melewati tahun pertama itu. Allah menggunakan tahun pertama pernikahan itu (dan 11 tahun lebih berikutnya) sebagai sebuah cara untuk membangun karakter saya.

Terkadang, saya rela mempersilakan Allah membentuk karakter saya. Akan tetapi, tentu ada saat-saat ketika saya tidak mau sejalan dengan apa yang sedang dikerjakan oleh Allah.

Gambar: Pendidikan karakter

Akan tetapi, jika Anda memikirkannya, begitulah seringnya cara Allah mengubah kita. Dia memakai keadaan dalam hidup kita sebagai suatu cara untuk membentuk karakter-Nya dalam diri kita.

Pakailah pelajaran ini untuk menolong remaja memahami kebenaran ini. Selamat menikmati!

Bacaan: Roma 5:3-5

Pakailah pelajaran ini untuk menunjukkan kepada kelompok remaja Anda bahwa setiap situasi yang mereka lalui bisa menjadi kesempatan untuk membangun beberapa jenis karakter. Jika mereka mengandalkan Allah, Dia akan menolong mereka mengembangkan karakter yang baik.

Perlengkapan

  • Dua kaus putih ukuran besar.
  • Cat yang bisa dibersihkan.
  • Kuas cat.
  • Kain terpal atau handuk untuk diletakkan di bawah.
  • Dua kain penutup mata.

Permainan Pembuka -- Warnailah

  1. Sebelum permainan dimulai, letakkan kain terpal atau handuk di bawah.
  2. Pilih dua murid untuk mengenakan kaus putih yang sudah dipersiapkan. Setelah mereka mengenakan kaus di luar pakaian mereka, tutup mata mereka dan bawa mereka berdiri di atas kain terpal atau handuk.
  3. Kelompokkan anak-anak yang lain menjadi dua tim, dan tugaskan satu tim ke masing-masing murid yang ditutup matanya. Berikan cat dan kuas kepada setiap tim.
  4. Biarkan murid-murid bergiliran menaruh warna berbeda pada kuas, kemudian berdiri dengan kuas hampir menyentuh murid yang ditutup matanya. Berikan perintah yang akan membuat murid-murid yang ditutup matanya bergerak, misalnya "berputar tiga kali!"
  5. Saat murid-murid yang ditutup matanya bergerak, mereka akan menabrak kuas, yang menyebabkan cat mengenai kausnya.
  6. Ketika tiba giliran murid berikutnya, berikan perintah lain, misalnya "lakukan lima lompatan!"
  7. Lanjutkan ini sampai semua murid mendapat kesempatan untuk memegang kuas cat.
  8. Mintalah salah seorang pemimpin untuk melepas kaus dari murid-murid. Letakkan kaus itu di kain terpal.
  9. Mintalah dua murid melepas tutup mata mereka dan menentukan kaus mana yang kelihatannya paling keren dan akan menang!

Setelah permainan usai, bahaslah beberapa pertanyaan ini:

  • Apakah kaus akan menjadi berwarna-warni jika murid-murid yang ditutup matanya tidak pernah bergerak?
  • Apakah mereka akan bergerak jika saya tidak menyuruh mereka untuk melakukannya?
  • Apakah mereka tahu mengapa saya menyuruh mereka untuk berputar?

Setelah permainan usai, katakan:

  • Kalian benar-benar menghasilkan desain kaus yang keren!
  • Pastilah terlalu mudah bagi kalian untuk mewarnai kausnya, jadi saya putuskan untuk membuatnya lebih menarik dan menutup mata mereka.
  • Meskipun akan jauh lebih mudah bagi mereka untuk hanya berdiri mengenakan kaos mereka, hasil akhirnya tidak akan terlihat sekeren itu! Meskipun mereka tidak tahu mengapa mereka berputar dan melakukan semua hal yang saya katakan, mereka sesungguhnya sedang membuat sesuatu yang menakjubkan!
  • Mereka ditutup matanya sehingga mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Akan tetapi, dengan berjalan menurut gerakan-gerakan yang saya perintahkan, mereka mengubah sesuatu yang sangat biasa menjadi sesuatu yang sangat berwarna.

Baca Roma 5:3-5, "Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita."

Jangan salah sangka; saya menyukai ayat ini. Akan tetapi, bukankah akan baik dan jauh lebih mudah jika dikatakan saja, "Tuhan akan memberi engkau karakter dan pengharapan" daripada bahwa kesengsaraan kita menghasilkan ketekunan, yang menghasilkan karakter?

Namun, bukan begitu cara kerjanya. Lihat, setiap hal yang Anda lalui akan menghasilkan beberapa macam karakter.

Kita memulai permainan dengan dua kaus putih. Jika kalian menginginkannya, kalian bisa mengabaikan perintah saya. Jika kalian mengabaikan saya, kalian masih akan memiliki kaus itu ketika permainan usai. Namun, kausnya tidak akan berwarna-warni seperti itu!

Gambar: Membentuk karakter

Dengan segala situasi dalam hidup yang Anda lalui, itu akan membangun karakter Anda dengan beberapa cara. Anda bisa memilih untuk berjalan melewati masa-masa sulit dengan bersandar pada Allah, menaati, dan memercayai Dia, dan itu akan menghasilkan karakter yang baik, karakter yang mendatangkan pengharapan. Atau, Anda bisa berusaha untuk melewati masa-masa sulit dengan kekuatan Anda sendiri, mengabaikan Allah sama sekali. Itu akan menghasilkan karakter yang keras, sendirian, dan letih lesu. Karakter seperti itu tidak punya harapan.

Karakter mana yang ingin Anda miliki?

Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi Kelompok Kecil

  • Apakah Anda pernah mengalami masa-masa sulit yang menjadikan karakter Anda lebih baik?
  • Menurut Anda, mungkinkah kita bertahan melalui masa-masa sulit tanpa Allah?
  • Manakah karakter yang Anda inginkan, yang berasal dari Allah dan menghasilkan pengharapan, atau karakter yang Anda kembangkan sendiri yang tanpa pengharapan?

Penutup

Sama seperti yang dikatakan ayat ini, Anda akan mengalami masa-masa sulit dalam hidup Anda. Tidak ada cara untuk menghindarinya. Namun, jika Anda bertahan menghadapinya, karakter baik akan muncul.

Jadi, bagaimana Anda bertahan? Anda berpaling kepada Allah untuk memohon kekuatan dan pimpinan. Anda memohon kepada Dia untuk menolong Anda bertahan melalui kesulitan, melewati masa-masa yang berat sehingga Anda bisa mengembangkan karakter yang baik.

Jika Anda berpaling kepada Dia, Allah akan menolong Anda. Akan tetapi, Dia tidak memaksa Anda berpaling kepada-Nya. Bahkan, jika Anda mau, Anda bisa mengabaikan Dia sama sekali, berusaha untuk melewati semuanya dengan kekuatan diri sendiri. Namun, itu hanya akan membuat masa-masa sulit menjadi semakin sulit.

Atau, Anda bisa berpaling kepada-Nya, meminta Dia berjalan bersama Anda melalui masa-masa sulit, dan mengembangkan karakter yang mengagumkan di tengah prosesnya. Ini adalah pilihan Anda. Saya kira pilihannya cukup jelas. Bukankah demikian? (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Ministry to Youth
Alamat situs : http://ministrytoyouth.com/youth-group-lessons-on-character/
Judul asli artikel : Developing Character
Penulis artikel : Nick Diliberto
Tanggal akses : 17 Januari 2018
 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-BinaSiswa.
binasiswa@sabda.org
e-BinaSiswa
@sabdabinasiswa
Redaksi: Amidya, Ariel, dan Lena
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2018 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org