Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/781

e-BinaAnak edisi 781 (19-12-2018)

Natal

e-BinaAnak -- Edisi 781/Desember/2018
 

Logo: Bina AnakNatal

e-BinaAnak -- Edisi 781/Desember/2018

Natal

Salam kasih,

Bagi sebagian orang, keberadaan Hari Natal sering kali hanya menjadi pelengkap keagamaan yang dirayakan pada akhir tahun. Rutinitas Natal di gereja maupun komunitas Kristen seakan hanya menjadi pelaksanaan program akhir tahun. Masihkah kita bersukacita saat Natal tiba? Atau, kita sudah mulai jenuh dalam merayakan peristiwa kelahiran-Nya?

Pada edisi kali ini, Redaksi menyajikan artikel yang mengajak kita untuk melihat arti Natal dari Injil Markus, yang kiranya membukakan mata kita tentang arti keakraban kita selama ini dengan Tuhan. Selain itu, redaksi juga menyediakan tip dari Billy Graham yang akan terus mengingatkan kita kepada Kristus, alasan terpenting dalam peristiwa Natal. Tidak lupa pada bahan ajar, Redaksi menyuguhkan renungan anak yang mengajak mereka untuk menempatkan Tuhan Yesus sebagai raja dalam hidupnya.

Segenap Redaksi mengucapkan Selamat Natal 2018 dan Selamat Tahun Baru 2019. Kiranya pada masa-masa Natal ini, kita kembali menempatkan Kristus sebagai pusat Natal dan hidup kita. Amin.

Rostika

Pemimpin Redaksi e-BinaAnak,
Rostika

 
Anak dan Alkitab
 

ARTIKEL

Apakah Anda Bosan dengan Kristus pada Hari Natal?

Markus adalah Injil Perjanjian Baru yang biasanya diabaikan pada hari Natal. Yang lain, memulai dengan deskripsi rinci tentang kelahiran Yesus (Matius dan Lukas) atau setidaknya menyebutkannya (Yohanes).

Gambar: Injil Markus

Markus tidak memberi kita semua -- tidak ada palungan, domba, gembala, malaikat, orang Majus, bintang, dan bayi Yesus. Pada awal Markus, Yesus sudah tumbuh dewasa. Kita langsung terjun ke dalam pelayanan-Nya, dan sisa Injil adalah kisah cepat dari pelayanan itu, yang menyebabkan kematian-Nya.

Namun, dalam pasal 6, Markus memberikan referensi tidak langsung terhadap kelahiran dan pertumbuhan Yesus -- dan referensi ini memberi kita sudut pandang berbeda pada kisah Natal.

Percaya Diri dan Bingung

Markus memberi tahu kita bahwa Yesus “sampai di kota asal-Nya, dan murid-murid-Nya mengikuti Dia. Ketika hari Sabat tiba, Yesus mulai mengajar di sinagoge, dan banyak orang yang mendengar-Nya merasa takjub” (Markus 6:1–2).

Warga kota Nazaret menanggapi ajaran Yesus dengan takjub dan bertanya-tanya. Tiga ekspresi alami pertama: "Dari mana Dia mendapat semua hal itu? Hikmat apa yang diberikan kepada-Nya? Bagaimana mukjizat-mukjizat seperti itu dilakukan dengan tangan-Nya?" (Markus 6:2). Ini adalah pertanyaan nyata, dalam rangka untuk mencari jawaban yang tidak dimiliki oleh sesama warga Nazaret.

Kebingungan masyarakat dijelaskan oleh serangkaian pertanyaan berikutnya, yang masing-masing mereka percaya bahwa mereka sudah mengetahui jawaban untuk: "Bukankah Dia seorang tukang kayu, anak Maria, dan saudara Yakobus dan Yoses dan Yudas dan Simon? Bukankah saudara-saudara perempuan-Nya ada di sini bersama kita?” (Markus 6:3). Jawaban yang diharapkan dalam setiap kasus adalah "Ya." Ya, Dia adalah seorang tukang kayu, anak Maria, dan kita tahu saudara-saudara-Nya.

Warga kota tidak dapat menyatukan fakta bahwa orang yang mengajarkan hal-hal menakjubkan seperti itu adalah Yesus yang sama yang mereka kenal. Percaya diri dengan pengetahuan mereka sekaligus bingung dengan ketidaktahuan mereka. Hal itu membuat mereka menanggapi dengan cara yang menimbulkan malapetaka: “Mereka menolak Dia” (Markus 6:3).

Akrab dengan Semua Cara yang Salah

Apa hubungannya dengan Natal? Sudut khas Markus pada peristiwa Natal adalah: setidaknya pada satu kota kecil, fakta bahwa Yesus datang sebagai bayi dan tumbuh sebagai anak normal bukanlah dorongan untuk beriman, melainkan menjadi penghalang akan hal itu. Kita sering (dan dengan benar) berpikir bahwa apa yang dibutuhkan orang jika mereka percaya kepada Yesus adalah mengenal siapa diri-Nya. Namun, dalam bagian ini, teman-teman Yesus tidak bisa melupakan keakraban mereka. Itu hambatan. Keakraban melahirkan penghinaan.

Gambar: Ilustrasi masa kecil Yesus

Mungkin kita akrab dengan Yesus juga. Kita tidak pernah berlari bersama-Nya melalui jalan-jalan berdebu di Nazaret, mengajari-Nya di sekolah minggu, atau membayar-Nya untuk memperbaiki kursi yang rusak. Namun, kita tumbuh mengenal-Nya. Kita belajar sejak awal bahwa jika kita menjawab dengan antusias, “Yesus!” untuk setiap pertanyaan di sekolah minggu, kita akan selalu benar hampir setiap waktu. Kita tamat menonton Veggie Tales*, atau (jika kita sedikit lebih tua) angka dengan kain flanel. Kita bermain drama kelahiran Kristus setiap tahun. Kita tahu lirik untuk semua lagu utama Natal.

J.C. Ryle pernah menulis, “Keakraban dengan hal-hal kudus memiliki kecenderungan buruk untuk membuat seseorang membencinya.” Itu benar. Adalah mungkin menjadi begitu akrab dengan Yesus sehingga kita mengenal-Nya hanya sebagai jawaban sekolah minggu daripada sebagai Tuhan yang mengagumkan dengan keindahan-Nya yang melelehkan hati, yang berotoritas terhadap hidup kita, yang kepada-Nya kita berutang segalanya, satu-satunya yang memberi kita sukacita kekal, dan yang layak untuk semua ibadah kita. Keakraban dengan Yesus dapat menuntun kita untuk percaya bahwa kita telah memahami-Nya. Sederhananya, mungkin kita sedikit bosan dengan-Nya.

Biarkan Keakraban Melahirkan Iman

Jika ini benar untuk kita semua, itu adalah tanda kepastian bahwa kita tidak benar-benar mengenal-Nya. Setidaknya, kita tidak cukup mengenal-Nya. Mengetahui Yesus sama seperti mengetahui Gunung Everest. Bagi yang mengetahuinya, Everest semakin menggetarkan, mengherankan, menyenangkan, membahayakan, dan menggirangkan. Jika orang bosan dengan Everest, itu karena mereka mempelajari fakta tentang hal itu di ruang tamu mereka, bukan memanjatnya.

Keakraban tidak perlu melahirkan penghinaan. Sebaliknya, itu bisa melahirkan iman. Perhatikan nama dari empat saudara tiri biologis Yesus. Hebatnya, dua dari empat saudara-Nya -- Yudas dan Yakobus -- kemudian menulis surat-surat Perjanjian Baru. Kedua pria itu mengenal Yesus secara intim sebagai seorang saudara selama bertahun-tahun. Namun, Yudas memulai suratnya, “Yudas, pelayan Yesus Kristus” (Yudas 1), dan Yakobus memulai suratnya, “Yakobus, pelayan Allah dan Tuhan Yesus Kristus” (Yakobus 1:1).

“Keakraban dengan Yesus dapat menuntun kita untuk percaya bahwa kita telah memahami-Nya.”

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Ya, Yesus adalah saudara mereka. Namun, mereka akhirnya mengenal-Nya sebagai Guru dan Mesias. Dalam kehidupan mereka, keakraban menuntun kepada iman. Semakin banyak yang mereka tahu, semakin banyak yang mereka lihat. Semakin banyak mereka melihat, semakin banyak mereka menyembah. Semakin banyak mereka menyembah, semakin banyak mereka ingin tahu.

Hal yang sama berlaku bagi kita ketika melihat Yesus yang sebenarnya. Di surga, kita akan semakin akrab dengan Yesus selamanya, dan kita tidak akan pernah bosan. Ingat kata-kata John Newton dalam Amazing Grace:

Ketika kita sudah berada di sana sepuluh ribu tahun,
bersinar terang seperti matahari,
kita tidak kekurangan hari untuk memuji Tuhan
daripada saat pertama kita memulainya.

Note:
*Veggie tales adalah serangkaian acara TV, video, dan film animasi komputer anak-anak Amerika yang menampilkan buah dan sayuran antropomorfik dalam kisah-kisah yang menyampaikan tema moral berdasarkan budaya Kristen. (t/Tika)

Download Audio

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : https://www.desiringgod.org/articles/are-you-bored-with-christ-at-christmas
Judul asli artikel : Are You Bored with Christ at Christmas?
Penulis artikel : Stephen Witmer
Tanggal akses : 16 November 2018
 

TIP

Tiga Tip yang Mengingatkan bahwa Yesus Adalah Alasan Adanya Natal

Bagi banyak orang, Natal adalah waktu yang melelahkan sepanjang tahun. Dengan pesta, pertukaran hadiah, dan belanja, ada banyak hal yang perlu dipikirkan.

Gambar: Tulisan Jesus

Pendeta Billy Graham telah membagikan tiga tip yang membuat mata Anda terus memandang Yesus pada musim liburan ini.

1. Renungkan Kelahiran-Nya Setiap Hari

"Sisihkan waktu setiap hari untuk berfokus pada Natal pertama itu," tulis Graham dalam postingan blog dalam situs pelayanannya.

"Ketika Anda makan bersama sebagai sebuah keluarga, janganlah hanya berterima kasih kepada Tuhan atas pemberian makanan Anda, tetapi berterima kasihlah juga kepada-Nya atas karunia terbesar -- karunia Putra-Nya, Yesus Kristus," katanya. "Selain itu, setiap hari sisihkan beberapa menit untuk membaca tentang kelahiran Yesus dari Alkitab (Anda dapat menemukannya dalam Matius 1-2 dan Lukas 1-2)."

2. Luangkan Waktu untuk Melakukan Sesuatu yang Istimewa

Graham mengatakan salah satu cara terbaik untuk memperlambat dan bersantai selama waktu Natal adalah menikmati acara yang berfokus pada kelahiran Kristus.

"Sisihkan waktu untuk sesuatu yang istimewa -- konser Natal, misalnya, atau kontes Natal di gereja Anda. Pastikan Anda juga menghadiri layanan rutin gereja Anda selama musim Natal; ini akan membantu Anda berfokus kepada Kristus," kata Graham.

“Yang paling penting yang dapat Anda lakukan adalah menempatkan Kristus sebagai pusat Natal dan hidup Anda.”

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

3. Rencanakan ke Depan

Jika Anda menemukan diri Anda terus sibuk pada masa Natal ini, mungkin solusinya adalah mengelola waktu Anda lebih baik.

"Rencanakan waktu Anda dengan lebih bijaksana sehingga Anda tidak jatuh ke dalam perangkap yang sama setahun dari sekarang. Yang terpenting, biarkan Natal ini menjadi awal perjalanan untuk keluarga Anda yang berlangsung sepanjang tahun -- sebuah perjalanan bersama Kristus. Alkitab mengatakan bahwa setelah para gembala melihat Yesus, 'mereka menceritakan perkataan yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu' (Lukas 2:17)," katanya.

Banyak orang jatuh ke dalam perangkap "mengeluarkan terlalu banyak uang" selama Natal. Graham mengatakan ini sebagai masalah spiritual.

"Ini adalah pertanyaan spiritual -- karena berhubungan dengan segala sesuatu dari cara kita menggunakan uang kita untuk hal yang kita anggap benar-benar penting dalam hidup. Yesus berkata, 'Sebab, di tempat hartamu berada, di situ juga hatimu berada' (Lukas 12:34)," katanya.

Sementara hadiah adalah cara yang menyenangkan untuk merayakan liburan, Graham mengingatkan kembali tentang Siapa Pribadi di balik masa ini sebenarnya.

"Yang terpenting untuk Anda lakukan adalah menempatkan Kristus sebagai pusat Natal dan hidup Anda. 'Di dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah Terang manusia' (Yohanes 1:4)," katanya. (t/Tika)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : CBN News
Alamat situs : http://www1.cbn.com/cbnnews/us/2017/december/billy-grahams-christmas-tips-will-help-you-remember-jesus-is-the-reason-for-the-season
Judul asli artikel : Billy Graham's Christmas Tips Will Help You Remember Jesus is the Reason for the Season
Penulis artikel : Tim CBN News
Tanggal akses : 26 November 2018
 

BAHAN MENGAJAR

Renungan: Yesus Adalah Raja

Bacaan: Matius 2:16-18

Ayat emas: “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.” (Matius 2:18)
Gambar: Yesus sang Raja

Kemarahan Raja Herodes benar-benar ditunjukkan dengan pembunuhan besar-besaran terhadap semua bayi laki-laki di Betlehem, yang berumur dibawah dua tahun, saat ia tidak dapat menemui bayi Tuhan Yesus.

Seketika itu juga, terjadilah kesedihan, tangis, dan ratapan di mana-mana. Herodes bertindak dengan kejam karena takut takhta kerajaan dan kedudukannya diambil oleh Raja yang baru lahir itu.

Yesus adalah Tuhan kita, Dia akan bertakhta dalam hati kita. Dia telah merendahkan diri-Nya sehingga rela lahir di kandang domba yang hina. Itu semua dilakukan-Nya karena cinta-Nya yang besar kepada manusia. Jadikanlah Tuhan Yesus menjadi Raja atas hidupmu sehingga kasih-Nya tetap ada dalam hatimu.

“Jadikanlah Tuhan Yesus menjadi Raja atas hidupmu sehingga kasih-Nya tetap ada dalam hatimu.”

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Doakan: Anak-anak yang dibuang dari keluarganya supaya Tuhan menyelamatkan mereka.

Diambil dari:
Nama situs : Kerygma Kidz
Alamat situs : http://www.kerygmakidz.com/renungan/2014/12/28/yesus-adalah-raja
Judul asli renungan : Yesus Adalah Raja
Penulis artikel : Kak Ayik
Tanggal akses : 26 November 2018
 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-BinaAnak.
Logo: Bina Anak binaanak@sabda.org
e-BinaAnak
@sabdabinaanak
Redaksi: Rostika, Ariel, dan Davida
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2018 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org