Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/779

e-BinaAnak edisi 779 (17-10-2018)

Relasi antara Anak dan Alkitab

e-BinaAnak -- Edisi 779/Oktober/2018
 

Logo: Bina AnakRelasi antara Anak dan Alkitab

e-BinaAnak -- Edisi 779/Oktober/2018

Depresi pada Anak

Salam kasih,

Bagi anak yang lahir dari keluarga Kristen, Alkitab adalah buku yang mereka kenal sejak kecil. Selain itu, buku ini juga akan terus ditemui, baik di rumah, gereja, maupun sekolah. Bahkan, dengan keberadaan era digital, firman Tuhan sudah sangat dimungkinkan masuk dalam setiap gawai mereka. Namun, sudahkah anak layan kita memiliki relasi yang benar dengan firman Tuhan itu? Ataukah, mereka hanya menganggap bahwa Alkitab sama dengan buku peraturan moral yang diselingi dengan dongeng-dongeng masa lampau? Apa yang dapat kita lakukan untuk menuntun mereka memiliki relasi yang benar dengan firman Tuhan?

Pada edisi kali ini, redaksi menyajikan artikel yang mengajak kita untuk mengajarkan kepada anak layan kita bahwa Alkitab tidak bercerita tentang mereka. Selain itu, ada juga tip tentang cara untuk mengajak anak-anak berelasi dengan cerita-cerita dalam Alkitab dan bahan ajar yang menekankan tentang pentingnya disiplin dalam membaca firman Tuhan. Selamat melayani.

Tika

Pemimpin Redaksi e-BinaAnak,
Rostika

 
Anak dan Alkitab
 

ARTIKEL

Mengajarkan kepada Anak-Anak bahwa Alkitab Bukanlah tentang Mereka

Ketika saya masuk ke gereja dan berbicara kepada anak-anak, saya mengajukan dua pertanyaan kepada mereka:

Pertama, berapa orang yang ada di sini yang terkadang berpikir bahwa kamu harus menjadi orang baik supaya Allah mengasihimu? Mereka mengangkat tangan dengan ragu-ragu. Saya juga mengangkat tangan bersama mereka.

Kedua, berapa orang di sini yang terkadang mengira bahwa jika kamu tidak baik, Allah akan berhenti mengasihimu? Mereka melihat sekeliling dan sekali lagi mengangkat tangan mereka.

Mereka adalah anak-anak sekolah minggu yang mengetahui cerita-cerita Alkitab. Mereka adalah anak-anak yang mungkin juga mengetahui semua jawaban yang benar -- tetapi bagaimanapun juga mereka sudah melewatkan hal yang terpenting. Mereka telah melewatkan tentang apa itu Alkitab.

Lebih dari Jawaban yang Baik

Gambar: Seorang anak membaca Alkitab.

Mereka adalah seperti saya dahulu. Sebagai seorang anak, meskipun saya Kristen, saya bertumbuh dengan pemikiran bahwa Alkitab diisi dengan aturan-aturan yang harus kamu taati (jika tidak, Allah tidak akan mengasihimu) dan ada pahlawan-pahlawan yang diberikan sebagai teladan untuk kamu contoh (jika tidak, Allah tidak akan mengasihimu).

Saya berusaha untuk menjadi orang baik. Sungguh. Saya cukup baik. Akan tetapi, betapa pun kerasnya saya berusaha, saya tetap tidak bisa menuruti aturan-aturan itu setiap saat, maka saya tahu Allah pasti tidak senang dengan diri saya.

“Ajarkan anak-anak bahwa Alkitab bukan tentang mereka.”

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Dan, tentu saja saya tidak pernah bisa seberani Daniel. Saya ingat merasa tersiksa dengan lagu refrain lagu sekolah minggu "Beranilah seperti Daniel" karena jika saya berusaha membayangkan diri saya sendiri berani seperti Daniel, dilemparkan ke singa-singa dan tidak keberatan, siapa yang saya kelabui di sini? Saya tahu saya akan sangat ketakutan sampai pingsan. Saya tahu saya hanya akan berkata, "Baik, ya, apa pun yang kaukatakan! Akan tetapi, jangan lemparkan saya ke singa-singa itu! Jangan tarik kuku-kuku jari saya! Hentikan!"

Saya tahu saya tidak cukup berani. Tidak cukup beriman. Tidak cukup baik.

Apa yang Kita Pelajari dari Sebuah Cerita?

Bagaimana bisa Allah selalu mengasihi saya? Saya tidak yakin Dia selalu mengasihi saya.

Pada hari Minggu, belum lama ini, saya membacakan cerita tentang Daniel and the Scary Sleepover dari The Jesus Storybook Bible kepada beberapa anak usia 6 tahun selama pelajaran sekolah minggu. Ada seorang gadis kecil yang duduk sangat dekat dengan saya dan hampir duduk di pangkuan saya. Wajahnya bersinar dan ingin tahu saat mendengarkan cerita, benar-benar terperangah. Dia tetap tenang dan memberi perhatian lebih ke dalam ceritanya.

Pada akhir cerita, tidak ada guru lain di dekat situ, lalu saya panik dan secara otomatis mendengar diri sendiri -- dengan ketakutan -- bertanya, "Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari Daniel tentang bagaimana Allah ingin kita menjalani hidup?"

Dan, saat saya mengucapkan kata-kata itu, seakan-akan saya secara harfiah meletakkan beban yang sangat berat kepada gadis kecil itu. Seakan-akan, saya mematahkan mantra. Dia beringsut tepat di depan saya, secara fisik merosot dan menundukkan kepala. Saya tidak akan melupakannya. Itu adalah gambaran tentang apa yang terjadi kepada seorang anak kecil ketika kita mengubah sebuah cerita menjadi pelajaran moral.

Kekuatan Sebuah Cerita

Saat kita mendorong sebuah cerita Alkitab ke dalam pelajaran moral semata, kita membuat semuanya menjadi tentang kita. Akan tetapi, inti Alkitab bukanlah tentang kita dan apa yang seharusnya kita lakukan; itu adalah tentang Allah dan apa telah Dia lakukan! Ketika kita mengemas cerita dengan bungkusan yang rapi, kecil, dan memberikan jawaban-jawaban yang sederhana untuk semua pertanyaan yang sulit, kita menyisakan hanya sedikit ruang untuk misteri. Atau, penemuan. Kita menyisakan sedikit ruang untuk anak. Sedikit ruang untuk Allah.

Gambar: Ibu dan anak membaca Alkitab.

Ketika kita berkata, “Nah, cerita ini adalah tentang ....” Atau, “Maksud dari cerita itu adalah ....” Kita mungkin, sesungguhnya, benar-benar kehilangan maksudnya. Kekuatan dari sebuah cerita bukanlah dengan merangkumnya, atau menelitinya secara detail, menguranginya menjadi sebuah ide yang abstrak, atau menggantinya dengan sesuatu yang lain.

Karena kekuatan dari cerita bukanlah dalam pelajarannya. Kekuatan cerita, di bawah Allah oleh Roh Kudus-Nya, adalah dalam cerita itu sendiri dan apa yang Dia lakukan dalam kita melalui cerita.

Peraturan Tidak Mengubah Siapa pun

“Peraturan tidak mengubah Anda. Akan tetapi, satu cerita bisa.”

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Itulah sebabnya, mengapa saya menulis The Jesus Storybook Bible? Supaya anak-anak dapat mengetahui apa yang tidak dapat saya lakukan: bahwa Alkitab intinya bukanlah tentang saya dan apa yang seharusnya saya lakukan. Itu adalah tentang Allah dan apa yang telah Dia lakukan. Bahwa Alkitab adalah secara luas, meskipun bukan satu-satunya -- cerita yang paling hebat, cerita tentang betapa Allah mengasihi anak-anak-Nya dan datang untuk menyelamatkan mereka. Hal tersebut -- di atas segalanya, apa pun yang terjadi, apa pun risikonya -- Allah tidak akan pernah berhenti mengasihi anak-anak-Nya ... dengan kasih yang indah, yang tidak pernah berhenti, yang tidak pernah menyerah, yang tidak putus, selalu, dan selamanya.

Bahwa Alkitab, singkatnya, memiliki naskah cerita yang sungguh mengagumkan dan masuk akal -- bukan hanya kumpulan peraturan -- dan bahwa hanya ada satu Pahlawan dalam ceritanya.

Saya menulis supaya anak-anak bisa berjumpa dengan Pahlawan itu di setiap halamannya. Dan, menjadi bagian dari cerita-Nya yang luar biasa.

Sebab, peraturan tidak mengubah Anda. Namun, sebuah cerita -- cerita Allah, oleh kuasa Roh-Nya -- dapat melakukannya. (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : http://www.desiringgod.org/articles/teach-children-the-bible-is-not-about-them
Judul asli artikel : Teach Children the Bible Is Not About Them
Penulis artikel : Sally Lloyd-Jones
Tanggal akses : 25 September 2018
 

TIP

Empat Tip untuk Menolong Anak-Anak Kita Terhubung ke Cerita Alkitab

Salah satu hal yang saya suka lakukan adalah membaca cerita-cerita Alkitab bersama dengan anak-anak saya. Saya bertumbuh besar dengan pergi ke gereja, tetapi membaca Alkitab tidak benar-benar dilakukan di rumah.

Gambar: Keluarga membaca Alkitab.

Saya suka cerita-cerita dengan gambar kain flannel yang diceritakan oleh guru sekolah minggu saya, tetapi cerita-cerita ini biasanya berdasarkan tema dan disampaikan dengan tidak berurutan. Sebagai orang dewasa, ketika saya mulai mempelajari Alkitab di kampus, saya menyadari bahwa saya tidak bisa memberi tahu Anda apakah Abraham hidup sebelum Daud, atau apakah Yesus hidup sebelum atau setelah Saul. Jujur saya tidak tahu!

Yang lebih penting, saya benar-benar tidak memahami bagaimana cerita-cerita itu diaplikasikan dalam hidup saya. Akan tetapi, sebagai orang tua, kita bisa menolong anak-anak kita melihat diri mereka dan hidup mereka dalam cerita-cerita Alkitab. Kita bisa menolong mereka untuk memahami bahwa pelajaran-pelajaran itu bukanlah tentang orang-orang pada zaman dahulu, melainkan juga bisa diaplikasikan kepada kita hari ini. Berikut adalah cara kita melakukannya:

  1. Tanyakan kepada anak-anak apa pendapat mereka tentang cerita itu.
  2. Perankan cerita Alkitab bersama-sama.
  3. Tunjukkan emosi-emosi tokoh-tokoh Alkitab seperti rasa takut, marah, sukacita, dan kesedihan.
  4. Sorot tokoh-tokoh dalam Alkitab yang belajar untuk bergantung kepada Allah.
“Kita bisa mengingatkan anak-anak kita bahwa tidak sama seperti buku-buku cerita lain, cerita-cerita Alkitab adalah nyata.”

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Bacalah cerita-cerita ini dengan sering dan biarkan anak-anak Anda melihat diri mereka sendiri, emosi mereka, dan kebutuhan mereka di dalam tokoh-tokoh Alkitab, dan betapa luar biasanya iman mereka akan bertumbuh! (t/Jing-Jing)

Selengkapnya »

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Faith Gateway
Alamat situs : https://www.faithgateway.com/4-tips-help-kids-relate-bible-stories
Judul asli artikel : 4 Tips to Help Our Kids Relate to Bible Stories
Penulis artikel : Tricia Goyer
Tanggal akses : 14 September 2018
 

BAHAN MENGAJAR

Disiplin Rohani Membaca Alkitab

Pelajaran sederhana ini akan membantu memperkenalkan kepada anak-anak pemahaman tentang “disiplin rohani” dengan fokus khusus pada pentingnya membaca Alkitab. Pelajaran ini dirancang untuk kelompok anak-anak yang lebih kecil, tetapi bisa dipakai untuk semua kelas sekolah minggu atau di gereja anak-anak.

Topik Alkitab: Membaca Alkitab

Bacaan: Mazmur 119:105

Target kelompok usia: SD (kelas 1-5)

Konteks pembelajaran: Kelompok kecil yang disiapkan seperti sekolah minggu.

Target waktu: 30 menit

Tujuan Pelajaran: Anak-anak akan belajar tentang disiplin rohani membaca Alkitab.

Pendahuluan: Mulailah pelajaran dengan membacakan ayat kunci kepada anak-anak. Untuk anak-anak SD yang lebih besar, doronglah seseorang untuk bersedia membacakan ayat ini untuk kelompok.

Gambar: Anak menangis yang digendong orang tuanya.

Peganglah peta dan tanyakan kepada anak-anak apa fungsi dari peta. Biarkan anak-anak menjawabnya. Arahkan jawaban-jawaban mereka jika perlu. Katakan kepada anak-anak tentang sebuah peta yang membantu kita untuk mengetahui arah tujuan jika kita tersesat atau jika kita akan melakukan sebuah perjalanan. Jelaskan bahwa peta memimpin kita, atau memandu jalan kita sehingga kita tahu jalan mana yang harus kita lalui.

Jelaskan: Baca Mazmur 119:105 sekali lagi. Jelaskan bahwa Alkitab adalah seperti sebuah peta! Itu adalah peta yang kita gunakan untuk membantu kita mengetahui bagaimana menjalani kehidupan Kristen. Katakan kepada anak-anak bahwa firman Allah (Alkitab) bermanfaat untuk memberi tahu kita bagaimana menjalankan hidup kita sehingga kita bisa menjadi semakin serupa dengan Yesus! Kita harus berusaha keras untuk membaca Alkitab setiap hari supaya kita tahu apa yang dikatakan oleh Allah di dalam Alkitab.

Dia menulis Alkitab untuk kita semua -- anak-anak dan orang dewasa -- supaya kita dapat semakin mengenal Dia. Beberapa dari kalian di sini mungkin belum bisa membaca beberapa kata di Alkitab karena kalian baru saja mulai belajar membaca. Lukas 11:28 berkata, “Berbahagialah orang-orang yang mendengarkan firman Allah dan menaatinya.” Kamu bisa meminta orang tua atau orang dewasa yang lain untuk membacakan Alkitab untukmu jika kamu belum bisa membacanya sendiri!

Yang penting adalah kamu belajar dari Alkitab dan apa yang dikatakan di dalamnya. Saat kamu semakin besar, penting bagimu menyisihkan waktu sendirian untuk membaca Alkitab supaya kamu bisa belajar apa yang dikatakan oleh Allah kepadamu. Pada saat ini, kamu mungkin memiliki waktu saat teduh bersama keluarga setiap malam sebelum tidur (atau pada waktu lain yang nyaman menurut keluargamu) supaya kamu belajar apa yang ada di dalam Alkitab.

Gambar: Keluarga membaca Alkitab.

Saat kamu membaca Alkitab, juga penting untuk memastikan bahwa kamu mengerti apa yang kamu baca. Pastikan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang teks itu. Cobalah untuk menceritakan ulang kisahnya dengan kata-katamu sendiri untuk memastikan kamu tidak melewatkan detailnya. Ajukan pertanyaan seperti: siapa yang bercerita atau tentang siapakah cerita itu? Apa yang terjadi dalam cerita itu? Apakah cerita itu terjadi di Perjanjian Baru atau Perjanjian Lama? Bagaimana/Apa yang bisa saya pelajari dari cerita itu?

Alkitab adalah buku istimewa dari Allah untuk kita, dan kita seharusnya menghormati Dia dengan menyisihkan waktu untuk melihat apa yang dikatakan Alkitab! Bayangkan seorang teman menulis sebuah surat kepadamu, memberi tahu betapa kamu adalah seorang teman yang hebat. Akan tetapi, bukannya membaca surat itu, kamu memasukkannya di dalam sebuah laci dan tidak pernah membukanya. Kamu tidak akan pernah tahu bahwa menurut temanmu, kamu adalah seorang teman yang hebat! Jika kita tidak membaca Alkitab kita, itu adalah seperti tidak pernah membuka surat dari teman kita. Kita tidak akan mengetahui apa yang Allah katakan mengenai kita tentang bagaimana menjalankan hidup bagi Dia jika kita tidak membaca apa yang dikatakan di Alkitab.

“Alkitab adalah buku istimewa dari Allah untuk kita, dan kita seharusnya menghormati Dia dengan menyisihkan waktu untuk melihat apa yang dikatakan Alkitab!”

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Aktivitas Kerajinan mengenai Membaca Alkitab

Buatlah lampu kertas yang dicetak untuk anak-anak. (klik di sini untuk mengunduh) Mintalah mereka untuk mengisi ayat Alkitab di atas kertas sebagai pengingat bahwa firman Allah adalah panduan jalan kita dan itulah alasan penting bagi kita untuk membacanya!

Anda juga dapat melakukan beberapa gerakan untuk menolong anak-anak menghafalkan ayat itu (tangan ditangkupkan untuk Alkitab, posisikan tangan seperti saat Anda memegang sebuah lentera, arahkan ke kaki, tangan di atas kepala menghadap keluar, arahkan tangan ke depan seakan-akan Anda membuat jalan dan menunjuk ke depan). (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Ministry to Children
Alamat situs : https://ministry-to-children.com/bible-reading-lesson/
Judul asli artikel : The Spiritual Discipline of Bible Reading
Penulis artikel : Brandi Riddle
Tanggal akses : 14 September 2018
 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-BinaAnak.
binaanak@sabda.org
e-BinaAnak
@sabdabinaanak
Redaksi: Rostika, Ariel, dan Davida
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2018 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org