Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-binaanak/448

e-BinaAnak edisi 448 (2-9-2009)

Anak yang Sulit Mengampuni

 
___e-BinaAnak (Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak)____

  DAFTAR ISI EDISI 448/SEPTEMBER/2009

  - SALAM DARI REDAKSI:
  - ARTIKEL 1: Makna Pengampunan
  - ARTIKEL 2: Menolong Anak Anda Mengatasi Perasaan Bersalah
  - MUTIARA GURU
  - TIPS: Mengajarkan Pengampunan kepada Anak Anda
  - BAHAN MENGAJAR: Pendamai
  - WARNET PENA: Situs KEKAL: Menyediakan Bahan-Bahan Kesaksian

______________________________________________________________________
   Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke redaksi:
  <binaanak(at)sabda.org> atau <owner-i-kan-binaanak(at)hub.xc.org>
______________________________________________________________________
SALAM DARI REDAKSI

                          BELAJAR MENGAMPUNI!

  Salam jumpa kembali para Pelayan Anak! Puji syukur kepada Tuhan 
  karena pada bulan ini, publikasi e-BinaAnak kembali menjumpai Anda 
  untuk memberikan sajian yang memperlengkapi pelayanan Anda. Topik 
  menarik seputar "Konseling pada Anak" telah kami persiapkan sebagai 
  pelajaran untuk kita semua sepanjang bulan September ini.

  Sebagai sajian pertama, kami bagikan bahan-bahan dengan topik 
  mengajarkan makna mengampuni kepada anak layan. Namun, terlebih 
  dahulu pada artikel pertama, silakan para Pelayan Anak menyimak dan 
  mempelajari makna mengampuni itu sendiri. Hal tersebut penting 
  sebagai dasar untuk memberi konseling kepada anak yang 
  berkepribadian sulit mengampuni orang lain maupun diri sendiri. 
  Cobalah memberikan pendampingan pada anak layan Anda bahwa hal 
  mengampuni tanpa syarat adalah bagian indah yang Tuhan kehendaki 
  untuk anak-anaknya lakukan.

  Pelayan Anak, kiranya teladan yang kita berikan dapat diterapkan di 
  dalam kehidupan anak layan kita dan tentu saja bagi kita sendiri. 
  Selamat menyimak. Tuhan Yesus memberkati.

  Staf Redaksi e-BinaAnak,
  Kristina Dwi Lestari
  http://www.sabda.org/publikasi/arsip/e-binaanak/
  http://pepak.sabda.org/

  "Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah."
                            (Yakobus 1:20)                         
             < http://sabdaweb.sabda.org/?p=Yakobus+1:20 >

______________________________________________________________________
ARTIKEL 1

                           MAKNA PENGAMPUNAN

  "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih
  mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus
  telah mengampuni kamu." (Efesus 4:32)

  Untuk menyelesaikan konflik masa lalu, kita harus mengampuni mereka 
  yang telah menyakiti kita. Setelah menghibur Cindy, yang mengalami 
  trauma emosi karena perkosaan yang dialaminya, saya berkata, "Cindy, 
  kau juga harus mengampuni orang yang telah memerkosamu." Tanggapan 
  Cindy ternyata sama dengan tanggapan sebagian besar orang yang 
  disakiti secara fisik, emosi, atau pun seksual oleh orang lain: 
  "Untuk apa aku mengampuni dia? Anda tidak tahu betapa sakitnya hati 
  saya atas perlakuannya!"

  "Kalau begitu, berarti dia masih menyakitimu sampai sekarang, 
  Cindy," sahut saya. "Pengampunan adalah satu-satunya cara agar 
  engkau mengalami pemulihan. Bukan untuk kebaikannya, tetapi untuk 
  kebaikanmu sendiri."

  Mengapa Anda mesti mengampuni orang yang telah menyakiti Anda di
  masa lalu?

  Pertama, karena pengampunan adalah perintah Allah. Setelah mengajar 
  murid-murid-Nya tentang bagaimana berdoa -- yang juga berisi tentang 
  pengampunan Allah -- Yesus berkata, "Jikalau kamu mengampuni 
  kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. 
  Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan 
  mengampuni kesalahanmu" (Matius 6:14-15). Dalam berhubungan dengan 
  orang lain, hendaknya kita juga menerapkan kriteria seperti yang 
  Allah terapkan terhadap kita, yakni kasih, penerimaan, dan 
  pengampunan (Matius 18:21-35).

  Kedua, pengampunan dilakukan untuk menghindari jerat si setan. Dari
  banyaknya konseling yang saya layani, hati yang tak dapat mengampuni
  adalah jerat nomor satu yang dipakai setan untuk memasuki kehidupan
  orang-orang percaya. Paulus mendorong kita untuk saling mengampuni
  "supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu
  apa maksudnya" (2 Korintus 2:11). Hati yang tak dapat mengampuni
  adalah undangan terbuka bagi iblis untuk mengikat hidup kita.

  Ketiga, kita perlu mengampuni karena Kristus telah mengampuni kita
  sehingga kita tidak lagi berada dalam kepahitan. Paulus menulis,
  "Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah
  hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.
  Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih
  mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus
  telah mengampuni kamu." (Efesus 4:31-32)

  Tindakan Anda untuk mengampuni akan membebaskan tawanan. (Pada 
  akhirnya Anda sendiri akan mendapati bahwa tawanannya adalah Anda 
  sendiri!)

  Tuhan, ajarlah kami untuk mengampuni orang lain dari lubuk hati kami
  sebagaimana Engkau telah mengampuni kami.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Nama situs: Christian Counseling Center Indonesia (C3I)
  Penulis: Tidak dicantumkan
  Alamat URL: http://c3i.sabda.org/05/may/2008/konseling_makna_pengampunan

______________________________________________________________________
ARTIKEL 2

            MENOLONG ANAK ANDA MENGATASI PERASAAN BERSALAH

  Sebagai orang tua, salah satu sasaran kita haruslah untuk menolong 
  anak-anak kita membina hati nurani yang kuat dan sehat. Mereka harus 
  memunyai pengertian yang jelas tentang perasaan bersalah dengan 
  mengetahui perbedaan antara "fakta" perasaan bersalah dan 
  "perasaan-perasaan" yang timbul sebagai akibat perasaan bersalah itu 
  sendiri. Merasa diri bersalah tidak selalu berarti bahwa memang 
  benar terjadi suatu pelanggaran.

  Persepsi yang tidak seimbang tentang perasaan bersalah dapat 
  menimbulkan salah satu dari dua akibatnya yang tidak sehat. 
  Seseorang mungkin dapat mengalami tekanan super ego yang kejam dan 
  semena-mena, karena ia tidak dapat membedakan antara perasaan 
  bersalah yang sejati dan yang irasional. Atau justru malah yang 
  kebalikannya yang terjadi: ia mungkin melakukan hal-hal yang salah 
  tanpa memperlihatkan adanya perasaan bersalah sama sekali.

  Dalam mendidik anak-anak kita, sangatlah penting bahwa mereka 
  (demikian juga kita) dapat membedakan perasaan bersalah yang nyata 
  dan yang palsu. Biasanya, kedua macam perasaan bersalah itu disertai 
  dengan perasaan-perasaan bersalah yang sangat tidak menyenangkan 
  itu. Tetapi perasaan bersalah yang berasal dari sesuatu yang benar-
  benar salah dapat mendorong kita untuk bertobat dan dapat diampuni, 
  sedangkan perasaan bersalah yang palsu hanya menghantui kita dan 
  lambat laun akan menghancurkan kita.

  1. Perasaan bersalah yang nyata atau yang memang merupakan fakta
     adalah akibat dari suatu pelanggaran terhadap hukum moral atau
     hukum pergaulan yang nyata, yaitu apa yang oleh Alkitab disebut
     dosa. Jika Markus pulang ke rumah dari sekolah dengan perasaan
     kosong dan muka murung karena ia telah berbuat curang dalam
     ulangan matematikanya, maka ia sedang mengalami perasaan-perasaan
     negatif karena perasaan bersalah yang nyata.

  2. Perasaan bersalah yang timbul karena kegagalan seseorang untuk
     memperoleh persetujuan atau penghargaan dari orang lain adalah
     hasil dari perasaan bersalah yang palsu. Ketika Susi yang berumur
     enam tahun terjatuh di tempat bermain, ia merasa dirinya bodoh
     dan merasa disisihkan karena kawan-kawannya menjulukinya bayi
     sebab ia cengeng, maka hal demikian adalah perasaan bersalah yang
     palsu.

  3. Perasaan bersalah yang timbul karena tidak berhasil mencapai
     sasaran dari angan-angannya sendiri yang tidak sesuai dengan
     kenyataan dan juga tidak masuk akal merupakan macam perasaan
     bersalah palsu yang lain lagi. Suatu contoh yang lazim ialah Joni
     merasa malu dan jengkel karena ia gagal dan hanya menjadi juara
     harapan.

  Sering sekali, anak-anak bergumul dengan sia-sia terhadap perasaan-
  perasaan bersalah karena mereka tidak dapat menunjukkan dengan pasti 
  sumber dari perasaan bersalah itu dan dengan demikian mereka tidak 
  dapat menanganinya dengan tepat. Masing-masing dari ketiga macam 
  perasaan hersalah yang digambarkan di atas itu memerlukan cara 
  penyelesaian yang berbeda.

  Sebagai contoh, perasaan hersalah yang nyata, yang dialami Markus, 
  akan hilang jika ia mengakui kepada dirinya sendiri bahwa apa yang 
  dilakukan itu betul-betul salah, mengakuinya di hadapan Allah dan 
  kemudian kepada orang tuanya dan atau gurunya, serta bersedia 
  menanggung akibatnya, dan membuat suatu keputusan pribadi untuk 
  tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi. Di dalam Alkitab, hal ini 
  dikenal sebagai pertobatan, dan setiap langkah ini penting untuk 
  dapat menghilangkan perasaan bersalah yang nyata.

  Perasaan bersalah si kecil Susi, yang timbul karena ia menangis, 
  akan lenyap jika ia diberi semangat dan diperbolehkan menangis 
  apabila ia merasa sakit, sekalipun jika anak-anak lainnya 
  menertawakan dia. Anak-anak perlu bersikap berani untuk tidak selalu 
  menuruti saja apa yang dianggap baik atau jelek oleh teman-teman 
  sebayanya, yaitu pada waktu kepercayaan dirinya pada persepsi dan 
  keputusannya sendiri makin berkemhang.

  Perasaan bersalah Joni akan hilang jika ia mengakui bahwa harapannya 
  itu memang tidak realistis. Ia sendiri merupakan pengkritik yang 
  paling kejam terhadap dirinya sendiri, jadi ia betul-betul 
  memerlukan kasih sayang dan penerimaan yang tanpa pamrih dari orang 
  tuanya, yang tidak berubah atau berkurang andai kata apa yang 
  dikerjakannya kurang dari sempurna. Kasih tanpa syarat, melampaui 
  segala sesuatu lainnya, akan menolong seorang anak untuk melihat 
  dirinya sebagai suatu ciptaan Allah yang istimewa dan berharga.

  Berikut ini beberapa cara yang penting untuk dapat menolong anak 
  Anda memperoleh keterampilan yang seimbang dalam mengatasi perasaan 
  bersalahnya:

  - Jangan membesar-besarkan kesalahan dengan mengatakan kepada anak
    itu betapa jahatnya ia sehingga ia melakukan hal yang demikian
    tercela itu. Tekankan bahwa yang jelek adalah tindakannya dan
    bukan orangnya. "Bencilah dosanya, tetapi kasihilah orangnya yang
    berdosa itu."

  - Jangan sekali-kali Anda menjadikan kasih dan rasa sayang Anda
    sebagai salah satu bentuk hukuman. Biarlah kasih Anda
    mencerminkan kasih Allah, yang diberikan tanpa syarat walaupun
    kira sering gagal.

  - Sesuaikan beratnya hukuman atau tindakan disiplin Anda dengan
    beratnya pelanggaran atau kesalahannya, dan bukan dengan berapa
    besarnya ketidaksenangan berdasarkan perasaan Anda. Jika perlu,
    tunggu sampai diri Anda sudah cukup tenang dulu, baru Anda
    menjatuhkan hukuman.

  - Kalau Anda mendisiplin, Anda harus selalu memberi peluang kepada
    anak Anda untuk memelihara nilai dan harga dirinya. Janganlah
    menghukum dengan disertai tuduhan, kemarahan, atau hinaan terhadap
    sifat dan harga diri anak itu, seperti, "Kamu malas!" atau "Kamu
    selalu melakukan kesalahan-kesalahan yang tolol!" Dan jangan
    mempermalukan dia di hadapan orang lain.

  - Aturlah apa yang menjadi tugas anak Anda di rumah, tanggung
    jawabnya, batas-batasnya, dan peraturan-peraturannya sedemikian
    rupa sehingga dapat memberi peluang besar bagi anak itu untuk
    berhasil. Kita harus menjaga agar apa yang diharapkan dari anak
    itu sesuai dengan tahap kedewasaan atau kemampuannya. Dengan
    demikian, anak itu akan terhindar dari siksaan batin yang timbul 
    oleh karma sasaran yang ditentukannya tidak realistis dan karma 
    kekecewaan yang berlebihan.

  - Perhatikanlah supaya bahan-bahan bacaannya, acara-acara televisi
    dan film yang ditontonnya, dan hal-hal yang dialaminya di dalam
    kehidupan nyata, semuanya menunjukkan sikap-sikap hidup yang sehat
    dan cara-cara yang benar untuk menyelesaikan perasaan bersalahnya.
    Tolonglah anak Anda untuk mengerti etika situasi, yang menjadi
    dasar dari kebanyakan pandangan kebudayaan yang keliru tentang apa
    yang benar dan apa yang salah.

  - Apabila anak Anda menceritakan tentang kelakuan jelek seorang
    kawan sebayanya, manfaatkanlah kesempatan itu untuk mengajukan
    pertanyaan: "Apakah itu salah? Mengapa?" Dengan demikian, Anda 
    akan dapat menguak sedikit bagaimana kira-kira pemikiran dan
    pengertian anak Anda tentang perasaan bersalah itu.

  - Berilah teladan di dalam kehidupan pribadi Anda sendiri bagaimana
    memberi respons yang benar terhadap ketiga macam perasaan bersalah
    ini. Ini merupakan cara mengajar yang paling efektif. Dan jika
    anak Anda mendapati dan menghadapkan Anda dengan perbuatan Anda
    yang salah, terimalah hal itu sebagai kesempatan yang baik agar
    Anda dapat sama-sama bertumbuh. Biarlah anak Anda juga melihat
    pertobatan Anda.

  Mengampuni anak Anda dan mengajarkannya seni untuk dapat mengampuni 
  orang lain juga akan meningkatkan kemampuan anak itu untuk 
  mengampuni dirinya sendiri.

  Tidak banyak pemberian yang dapat Anda berikan kepada anak Anda yang 
  nilainya lebih besar daripada membuat dia mengerti tentang sumber 
  perasaan bersalah itu dan kesanggupan untuk mengatasinya. Hati 
  nurani yang diberi pengertian yang baik akan menjadi akar dari suatu 
  kehidupan yang sehat dan bahagia, dan yang taat kepada Allah.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buku: 40 cara Mengarahkan Anak
  Judul asli buku: 40 Ways to Teach Your Child Values
  Penulis: Paul Lewis
  Penerjemah: Gerrit J. Tiendas
  Penerbit: Kalam Hidup, Bandung 1997
  Halaman: 42 -- 46

______________________________________________________________________
MUTIARA GURU

  Mengampuni anak Anda dan mengajarkannya seni untuk dapat mengampuni
      orang lain juga akan meningkatkan kemampuan anak itu untuk
                       mengampuni dirinya sendiri.
                             - Paul Lewis -
                             
______________________________________________________________________
TIPS

               MENGAJARKAN PENGAMPUNAN KEPADA ANAK ANDA

  Pengampunan adalah suatu pelajaran yang sulit. Sebagai orang dewasa,
  kita berjuang dengan konsep yang membingungkan ini. Mengajarkan
  pengampunan kepada anak Anda merupakan pelajaran yang sangat
  penting, tetapi sering kali kita harus berjuang untuk melakukannya.
  Menjelaskan manfaat pengampunan dan prosesnya merupakan suatu usaha.
  Berikut beberapa tips untuk membantu mengajarkan pengampunan kepada
  anak Anda.

  Bagaimana mengajari anak Anda untuk mengampuni?

  1. Langkah 1

  Bersimpatilah. Bila anak Anda sedih, ikutilah reaksi dan 
  perasaannya. Sering kali, sebagai manusia, kita hanya ingin 
  didengarkan dan apa yang kita pikirkan diakui. Begitu anak Anda 
  memiliki kesempatan untuk melepaskannya, perlahan-lahan jelaskan 
  bahwa orang yang menyakiti dia sangat perlu dikasihani. Doronglah 
  anak Anda untuk berdiskusi dengan orang yang melukai dia itu.

  2. Langkah 2

  Ingatkan anak Anda pada saat-saat ketika dia melukai perasaan orang 
  lain. Anak-anak sangat mudah menerima, tetapi selalu kurang mampu 
  memahami pandangan orang lain. Bila anak Anda mampu merasakan 
  bagaimana perasaan anak yang melukainya, dia akan lebih bersimpati 
  dan lebih mudah memberikan pengampunan. Mengingatkan dia pada saat 
  dia merasa sedih karena melukai seseorang akan membantu dia memahami 
  emosi temannya yang tidak stabil.

  3. Langkah 3

  Doronglah anak Anda untuk berbicara dengan orang yang melukainya. 
  Mengajarkan pentingnya komunikasi sejak dini kepada anak Anda adalah 
  hal yang penting. Ketidaksetujuan adalah bagian dari hidup. Semakin 
  cepat dia dapat memahami dan mengetahui bahwa orang-orang akan 
  memiliki cara pandang yang berlawanan dan dia mau menerima mereka, 
  semakin dia dipersiapkan untuk menjalin relasi pada masa yang akan 
  datang.

  4. Langkah 4

  Ingatkan anak Anda bahwa mengampuni seseorang tidak membuat luka itu 
  hilang. Biarkan anak Anda sedih atau terluka untuk sesaat. Mendorong 
  dia untuk mengampuni merupakan cara baginya untuk melepaskan 
  perasaan buruk. Selalu mengalami sakit hati dan kepahitan hanya akan 
  membuat dia tidak bahagia.

  5. Langkah 5

  Bersabarlah. Anak Anda adalah individu yang bertumbuh dan belajar.
  Dia akan membuat kesalahan dan berjuang. Perlahan-lahan, bimbinglah
  dia ke arah yang benar.

  6. Langkah 6

  Lakukan apa yang Anda ajarkan. Bila Anda terus menyuruh anak Anda 
  untuk meminta maaf kepada kakaknya atau mengampuni adiknya, tetapi 
  Anda sendiri suka mengungkit-ungkit atau menyimpan kepahitan dalam 
  diri Anda, Anda merugikan anak Anda. Anak-anak belajar melalui 
  contoh.

  7. Langkah 7

  Diskusikan agama. Anda bisa memasukkan pelajaran
  Alkitab atau topik-topik yang digunakan di sekolah minggu dalam
  diskusi ini. (t/Ratri)

  Diterjemahkan dan disesuaikan dari:
  Nama situs: e-How
  Judul asli artikel: How to Teach Your Child to Forgive
  Penulis: Mollyhcarter
  Alamat URL: http://www.ehow.com/how_2147300_teach-child-forgive.html

______________________________________________________________________
BAHAN MENGAJAR

                               PENDAMAI

  Pembacaan Alkitab: Matius 5:1-12

  Apakah kalian memerhatikan bahwa ada satu kata yang diulangi 
  beberapa kali dalam ayat-ayat yang baru saja dibaca? Apakah itu? Ya, 
  "berbahagialah". Kita semuanya menghendaki kehidupan yang bahagia 
  dan diberkati. Dalam ayat-ayat itu, Yesus memberi tahu bagaimana 
  kita dapat menjadi berbahagia.

  Hari ini kita akan membicarakan ayat 9. "Berbahagialah orang yang
  membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah." Apakah
  artinya menjadi seorang pendamai? (Berilah waktu untuk jawaban.)

  Kadang-kadang, anak-anak bahkan kakak adik bertengkar. Mereka 
  terlalu merepotkan hal-hal yang tidak perlu. Seandainya kita 
  bertanya kepada mereka apakah yang sedang mereka ributkan, sering 
  kali mereka tidak mengetahuinya.

  Alkitab mengatakan, "Berbahagialah orang yang membawa damai; karena 
  mereka akan disebut anak-anak Allah." Ini berarti bahwa apabila 
  seseorang mencoba bertengkar, kalian tidak boleh membalasnya. 
  Mungkin hal ini berarti mengalah kepada mereka dan tidak mendapatkan 
  kemauanmu sendiri.

  Seorang pendamai meredakan keadaan sebelum keributan timbul. Dia
  tidak mencari kesulitan. Dia tidak memulai perbantahan, tidak pula
  mulai pertengkaran.

  Adapun yang menjadikan suatu rumah tangga tidak berbahagia adalah 
  salah, dan kita masing-masing harus mencoba sebaik-baiknya untuk 
  mencegah ketidakbahagiaan itu.

  Janji yang diberikan kepada orang yang membawa damai adalah, "Mereka 
  akan disebut anak-anak Allah." Suatu nama yang indah.

  Kita semua ingin menjadi anak-anak Allah dan tinggal bersama Dia di
  surga. Tetapi untuk pergi ke surga, kita harus meminta kepada Yesus
  untuk mengampuni kita karena saat-saat kita menyebabkan kesukaran.
  Menjadi seorang pendamai tidaklah mudah, tetapi hal ini membawa
  ganjaran yang besar!

  Sekarang, marilah kita menundukkan kepala kita dan mohon Yesus
  mengampuni kita karena setiap kesukaran yang mungkin kita timbulkan
  dan karena tidak sabar menghadapi adik-adik kita. Yesus akan
  menolong kita.

  Doa:

  Berdoalah agar Tuhan akan monolong anak-anak menjadi pendamai, di 
  rumah, di sekolah, maupun saat bermain.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buku: Buku Pintar Sekolah Minggu Jilid I
  Penulis: Tidak dicantumkan
  Penerbit: Gandum Mas, Malang 1997
  Halaman: 126

______________________________________________________________________
o/ WARNET PENA o/

             SITUS KEKAL: MENYEDIAKAN BAHAN-BAHAN KESAKSIAN
                      http://kesaksian.sabda.org/

  Kita senantiasa mendapat berkat dari kesaksian orang lain tentang 
  pengalamannya bersama dengan Tuhan. Kejadian yang berhasil 
  mengubahkan, berkat kesembuhan, dan kesaksian yang berhasil Tuhan 
  nyatakan, menunjukkan luar biasanya cinta kasih-Nya kepada kita. 
  Kali ini kami ajak Anda untuk membaca beberapa kesaksian yang 
  memberkati yang ada di situs KEKAL (Kesaksian Cinta Kasih Allah). 
  Anda juga bisa terlibat secara langsung di dalam situs ini. Caranya 
  bisa dengan mengirimkan kesaksian yang memberkati, mengirimkan pokok 
  doa, atau terlibat dalam tim pendoa. Selamat berkunjung!

  a. Kesaksian Hidup Baru
     ==> http://kesaksian.sabda.org/taxonomy/term/1/9
  b. Kesaksian Keajaiban Jasmaniah
     ==> http://kesaksian.sabda.org/taxonomy/term/2/9
  c. Kesaksian Misi
     ==> http://kesaksian.sabda.org/taxonomy/term/3/9
  d. Kesaksian Natal
     ==> http://kesaksian.sabda.org/taxonomy/term/18/9
  e. Kesaksian Panggilan Pelayanan
     ==> http://kesaksian.sabda.org/taxonomy/term/4/9
  f. Kesaksian Paskah
     ==> http://kesaksian.sabda.org/taxonomy/term/19/9
  g. Kesaksian Pertobatan
     ==> http://kesaksian.sabda.org/taxonomy/term/5/9

______________________________________________________________________
Pimpinan Redaksi: Davida Welni Dana
Staf Redaksi: Kristina Dwi Lestari dan Tatik Wahyuningsih
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
eopyright(e) e-BinaAnak 2009 -- YLSA
http://www.ylsa.org/ ~~ http://katalog.sabda.org/
Rekening: BeA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Anda terdaftar dengan alamat email: $subst(`Reeip.EmailAddr`)
Alamat berlangganan: <subseribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xe.org>
Alamat berhenti: <unsubseribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xe.org>
Arsip e-BinaAnak: http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen: http://pepak.sabda.org/

Bergabunglah dalam Network Anak di Situs In-ehrist.Net:
http://www.in-ehrist.net/komunitas_umum/network_anak

BLOG SABDA: http://blog.sabda.org/

______________PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN GURU_______________

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org