Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-binaanak/341

e-BinaAnak edisi 341 (25-7-2007)

Guru Sekolah Minggu

 
______________________________e-BinaAnak______________________________
        Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak
        ==================================================

Daftar Isi:                                              341/Juli/2007
----------
  - SALAM DARI REDAKSI
  - ARTIKEL (1)      : Guru Sekolah Minggu
  - ARTIKEL (2)      : Visi Seorang Guru Sekolah Minggu
  - TIPS             : Deskripsi Tugas bagi Para Guru Sekolah Minggu
  - WARNET PENA      : Blog Daniel Harahap (Ruma Metmet):
                       Sekolah Minggu dan Diskusi Sekolah Minggu
  - DARI MEJA REDASI : Alamat Kontak yang Baru
  - MUTIARA GURU


                      o/ SALAM DARI REDAKSI o/

  Guru sekolah minggu memegang peranan yang penting dalam pelayanan
  sekolah minggu. Jika bisa dikatakan, guru sekolah minggu merupakan
  ujung tombak pelayanan karena melalui merekalah firman Tuhan
  dinyatakan kepada para murid. Sungguh sebuah tugas yang penting dan
  tidak dapat dijalankan hanya dengan separuh hati. Tugas penting ini
  menuntut pula para pengajar agar tidak sekadar mengajar, tetapi juga
  hidup di dalam Kristus dan Kristus hidup di dalam mereka.

  Dalam edisi penutup bulan Juli ini, kita dapat melihat bersama-sama
  arti penting seorang guru dalam sekolah minggu. Termasuk tugasnya
  sebagai saksi Kristus bagi anak-anak melalui tugas dan kehidupannya.
  Kiranya menjadi berkat dan terus mengobarkan semangat pelayanan
  kita.

  Selamat mengajar!

  Pemimpin redaksi e-BinaAnak,
  Davida Welni Dana

              "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor,
   biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan." (Roma 12:11)
            < http://sabdaweb.sabda.org/?p=Roma+12:11 >


                         o/ ARTIKEL (1) o/

                         GURU SEKOLAH MINGGU
                         ===================

  Guru sekolah minggu merupakan faktor penting dalam pendidikan
  Kristen yang efektif. Barangkali dari semua orang dalam gereja, ia
  memunyai lebih banyak kesempatan untuk menyalurkan kehidupan
  Kristus dan kehidupannya sendiri kepada orang-orang. Umumnya, ia
  memunyai hubungan yang terdekat dengan murid dalam pengalaman
  gerejawi murid. Tidak usah heran jika murid mencontoh ia.
  Bagaimanakah seorang guru dapat menjadi teladan yang layak? Ia
  harus berusaha menjawab pertanyaan ini dengan terus terang dan
  dengan tulus.

  KEDUDUKAN SEORANG GURU

  Pertama-tama, seorang guru harus menginsafi kedudukannya yang
  tinggi. Hak mengajar di sekolah minggu itu penting karena merupakan
  satu pelayanan yang suci. Ketika seorang guru menyadari hal
  tersebut, ia memperkuat sikapnya sebagai guru dan akan mendapat
  penghormatan dan tanggapan yang lebih besar dari kelasnya.

  Seorang guru menunjukkan jalan menuju iman Kristen. Syarat mutlak
  yang pertama bagi seorang guru adalah pengalaman kelahiran baru yang
  kemudian diikuti oleh kehidupan yang suci. Persekutuannya dengan
  Allah membuktikan besarnya berkat dalam hal menjadi seorang Kristen.
  Para guru sekolah minggu memunyai lebih banyak kesempatan daripada
  kebanyakan orang untuk memenangkan jiwa-jiwa yang kekal kepada
  Kristus karena Injil yang mereka ajarkan itu adalah pusat iman
  Kristen.

  Seorang guru memengaruhi pertumbuhan Kristen. Pendidikan Kristen
  diterangkan sebagai "hal membimbing pelajar melalui
  pengalaman-pengalaman kebenaran ke dalam kehidupan pelayanan yang
  memuliakan Allah". Dikatakan bahwa pendidikan Kristen memunyai
  hubungan dengan hal membangunkan, menanamkan, menolong, mengilhami,
  membetulkan, dan membimbing. Sebagai seorang anggota gereja yang
  berserah, seorang pelajar Alkitab yang teliti, seorang pelayan
  Kristen yang setia, guru memiliki kesempatan untuk memimpin
  murid-muridnya dalam hal menjadi orang Kristen yang dewasa, yang
  menyatakan Kristus kepada dunia ini.

  SIAP MENGAJAR

  Tampaknya guru-guru yang berhasil adalah mereka yang memiliki
  kecakapan untuk mengajar. Namun, pengajaran yang berhasil terbit
  dari mendisiplin diri dalam hal belajar dan persiapan pribadi.
  Persiapan dasar bagi seorang guru sekurang-kurangnya harus meliputi
  hal-hal berikut.

  1. Pengetahuan Alkitab
     -------------------
     Karena Alkitab merupakan buku pegangan yang terpenting dalam
     sekolah minggu, guru harus paham mengenai isinya. Ia harus
     mengusahakan dirinya untuk mempelajari Alkitab dengan
     sungguh-sungguh dan sistematis. Misalnya, untuk mengerti
     pelayanan Yesus, bukan saja pokok-pokok utama dari pengajaran-Nya
     yang harus diketahui, tetapi juga keadaan sosial, politik,
     ekonomi, dan rohani yang menjadi latar belakang seluruh pelayanan
     Yesus di bumi. Bagaimanakah hal-hal ini memengaruhi
     tindak-tanduk-Nya? Atau bagaimanakah kehidupan pada zaman Yesaya,
     Yeremia, atau Yehezkiel? Pada saat apa dalam sejarah bangsa
     Yahudi, mereka bernubuat? Penelaahan Alkitab sedemikian itu tidak
     dilakukan sebagai ibadah pribadi, itu merupakan satu usaha
     sistematis untuk memahami arti Alkitab dan menguasai isinya.
     Ketika seseorang melakukan hal ini, pengajarannya menjadi makin
     berkuasa dan Alkitab menjadi lebih nyata dalam pikiran
     murid-murid.

  2. Teologi
     -------
     Kadang-kadang orang memikirkan teologi sebagai satu pelajaran
     yang rumit. Pelajaran ini tampak kepada mereka sebagai satu
     campuran teori dan pikiran-pikiran yang abstrak dan kabur.
     Sebenarnya, setiap orang memiliki teologi, yakni sesuatu yang
     dipercayainya mengenai kebenaran Kristen. Kepercayaannya mungkin
     tidak tersusun dan ia mungkin tidak dapat menyatakannya dengan
     jelas; walaupun demikian, ia yakin bahwa semua yang
     dipercayainya itu benar. Dalam hal mengajar, bilamanapun seorang
     guru berbicara tentang Allah, tentang Yesus, Alkitab, kasih, dan
     iman, ia sedang mengajarkan teologi. Betapa pentingnya
     kesesuaian pengajarannya itu dengan pengajaran-pengajaran Alkitab
     dan apa yang dipercayai gerejanya.

  3. Sifat-Sifat Kelompok Usia
     -------------------------
     Pengajaran itu efektif bila dilakukan dengan mengingat minat,
     keperluan, dan sifat-sifat murid. Dalam hal mengajar di sekolah
     minggu, banyak anggota kelas tertinggal sementara guru maju dalam
     suatu perjalanan rohani karena guru tidak memulainya pada tingkat
     pengertian si murid. Para guru yang mengajar anak-anak harus
     mempertimbangkan tingkat perkembangan murid-muridnya agar tidak
     mengajarkan konsep-konsep agama yang tidak mungkin dipahaminya.
     Para guru orang dewasa harus memastikan bahwa mereka memberi
     pengajaran yang cukup dalam yang perlu bagi pendewasaan kelas
     itu.

  4. Teknik Mengajar
     ---------------
     Penggunaan teknik-teknik dengan bijaksana akan menjadikan
     pengetahuan Alkitab lebih berarti dan tetap. Hukum dasar dalam
     hal belajar adalah bahwa pengajaran itu lebih berhasil bila para
     murid melibatkan diri dan saling memengaruhi. Jadi, seorang guru
     harus mengetahui teknik-teknik manakah yang akan menerbitkan
     tanggapan terbaik atas suatu kebenaran pelajaran yang diberikan.
     Ia juga harus mengetahui batas-batas dari bermacam-macam teknik
     itu, cara untuk menyesuaikannya dengan kesanggupan kelompok usia
     itu, dan bagaimana waktu serta ruangan yang tersedia memengaruhi
     pemilihan suatu metode mengajar. Misalnya, seorang guru tidak
     menceritakan sebuah cerita dalam cara yang sama dalam kelas
     kanak-kanak dan kelas tunas remaja; ia juga tidak akan
     memisah-misahkan kelas itu dalam beberapa kelompok diskusi jika
     hanya ada lima atau enam murid yang hadir dalam kelas itu.

  HAL MENYIAPKAN DAN MENYAMPAIKAN PELAJARAN

  Persiapan seorang guru berpusat pada dua hal -- yang pertama adalah
  Alkitab, dan yang kedua adalah murid serta kebutuhannya.

  1. Isi pelajaran berpusat pada Alkitab
     -----------------------------------
     Yang menjadi perhatian guru dalam hal ini adalah "Apa yang
     dikatakan Alkitab?" Ia harus mengetahui tokoh-tokoh Alkitab, apa
     yang mereka lakukan, dan di mana serta kapan mereka melakukannya.
     Biarpun cerita atau kebenaran asasi itu sudah lazim bagi guru,
     ia harus selalu bertanya kepada dirinya: "Terdapat pelajaran
     apakah bagi saya pribadi di sini?" sambil mengizinkan Roh Kudus
     menyatakan penerapan yang baru baginya. Lalu ia akan mempelajari
     pelajaran itu dari segi pandangan murid, lagi pula menyadari
     bahwa pandangan seorang anak kelas satu SD akan jauh berbeda dari
     seorang remaja.

  2. Penerapannya berpusat pada murid
     --------------------------------
     Bila guru hanya memerhatikan apa yang dikatakan Alkitab,
     pelajaran akan menjadi terlalu teoritis dan tidak berhubungan
     dengan soal-soal kehidupan yang sedang dihadapi oleh
     anggota-anggota kelas. Jadi, guru harus memikirkan apa yang
     diperlukan murid-muridnya dan menyusun suatu tujuan pelajaran
     yang akan memimpin ia untuk memberi pelajaran yang sesuai dengan
     kebutuhan dan pengertian mereka. Dalam hal menyusun tujuan-tujuan
     pelajaran, perlu diingat bahwa tujuan pelajaran harus cukup
     singkat supaya dapat diingat, cukup jelas supaya dapat dicatat,
     cukup terbatas supaya dapat dicapai, dan cukup bersifat pribadi
     supaya dapat mengubahkan hidup. Setelah mempelajari
     bahan-bahannya dan menentukan metodenya, guru perlu membuat suatu
     rencana pelajaran. Rencana pelajaran itu makin menolong ia
     mengatur bahannya dan nenyajikan pelajarannya dengan lebih
     efektif.

  Seluruh persiapan pelajaran memuncak dalam penyajian pelajaran. Pada
  saat inilah para murid dipimpin dan digerakkan. Meskipun guru telah
  merencanakan dengan teliti dan merasakan sebelumnya apa yang akan
  menjadi tanggapan kelasnya, ia tahu bahwa ia harus menyisihkan apa
  pun yang perlu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang tak
  disangka-sangka, untuk mengubah satu kehidupan meskipun ia tidak
  menyampaikan seluruh pelajarannya! Teknik mengajar yang
  bermacam-macam itu memungkinkan seorang guru menyesuaikan
  pengajarannya dengan keadaan kelasnya.

  GURU SEBAGAI ANGGOTA TIM

  Sebagai seorang guru sekolah minggu, ia menjadi seorang pemimpin
  di gereja. Sebagai pemimpin, ia bertanggung jawab memelihara
  hubungan-hubungan yang berikut.

  1. Gembala sidang dan gereja
     -------------------------
     Dengan pelajaran dan teladannya, guru harus memengaruhi
     murid-murid untuk menaruh kepercayaan di dalam gembala sidang dan
     majelis gereja. Ia harus menjadi seorang yang tetap menghadiri
     kebaktian.

  2. Kepada pemimpin dan staf sekolah minggu
     ---------------------------------------
     Ia harus selalu menyadari bahwa ia adalah anggota sebuah tim.
     Jika ia cenderung untuk memikirkan kelasnya sebagai semacam
     "gereja" kecil miliknya sendiri, tanpa disadarinya, ia menabur
     benih-benih suatu keadaan yang tidak sehat. Usaha kerja sama
     merupakan jalan untuk membangun sebuah sekolah minggu dan dengan
     demikian, membangun kerajaan Allah. Guru harus berunding dengan
     pemimpinnya mengenai persoalan-persoalannya. Ia harus memberikan
     bantuan sepenuhnya untuk proyek-proyek sekolah minggu dan dengan
     tetap menghadiri rapat-rapat pekerja serta pertemuan-pertemuan
     sekolah minggu lainnya. Ia harus mengindahkan guru-guru lain
     serta usaha mereka. Para guru hendaknya bekerja bahu-membahu
     untuk melaksanakan sebaik-baiknya tugas mereka di bidang
     pendidikan Kristen bagi murid-murid yang ada di bawah didikan
     mereka.

  3. Kepada murid-muridnya
     ---------------------
     Sokrates, salah seorang guru besar di dunia, tak pernah
     mengizinkan dirinya disebut sebagai guru. Ia menganggap para
     pelajar mudanya sebagai rekan, bukan pelajar atau murid. Bagi
     Sokrates hal mengajar berarti membangkitkan pikiran, menggiatkan
     pikiran-pikiran yang tumpul. Tujuan seorang guru adalah
     menggerakkan murid-muridnya ke suatu pengalaman sejati mengenai
     pertobatan dan menyediakan pimpinan dan asuhan untuk perkembangan
     selanjutnya menuju ke persekutuan dengan Kristus yang bermakna
     dan dewasa. Hal ini mencakup doa, kunjungan, bimbingan, perhatian
     yang aktif dalam kesejahteraan pribadi dan rohani setiap murid.

  Telah dikatakan bahwa pendidikan umum berusaha menyampaikan
  pengetahuan kepada manusia; pendidikan Kristen berusaha membentuk
  manusia. Pernyataan itu sangat menekankan pentingnya guru sekolah
  minggu.

  Diambil dan diedit seperlunya dari:
  Judul buku: Buku Pintar Sekolah Minggu Jilid 2
  Penyusun  : Badan Pembina DSM Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah
  Penerbit  : Gandum Mas, Malang 1996
  Halaman   : 217 -- 219


                          o/ ARTIKEL (2) o/

                   VISI SEORANG GURU SEKOLAH MINGGU
                   ================================

  Pagi itu, seorang guru sedang menjemput dua anak sekolah minggu
  dengan sepeda motor tuanya. Ia begitu rajin melakukan tugas, baik
  menjemput maupun mengantarkan mereka pulang ke rumah masing-masing
  seusai sekolah minggu. Pada suatu hari, ia ditanya mengapa ia begitu
  setia melakukan hal itu? Jawabnya, "Suatu saat aku ingin kedua anak
  ini bukan saja menjadi orang yang percaya kepada Kristus (menerima
  keselamatan di dalam Kristus). Aku ingin mereka menjadi murid
  Kristus yang setia dan dapat menjadi terang dunia melalui seluruh
  sikap hidupnya yang baik, yang menjadi kesaksian bagi banyak orang
  di sekitarnya."

  Guru yang saya ceritakan di atas, entah sadar atau tidak, memiliki
  visi Bapa bagi kedua muridnya. Ia adalah guru yang memiliki visi ke
  depan.

  Visi adalah penglihatan (vision) yang diterima seseorang untuk
  sebuah tujuan yang diharapkannya terwujud di masa mendatang.
  Misalnya, visi bangsa Indonesia adalah mewujudkan masyarakat yang
  adil dan makmur. Visi adalah tujuan yang diharapkan terwujud. Karena
  itu, setiap guru sekolah minggu diharapkan memiliki visi.

  Guru sekolah minggu yang tidak memiliki visi akan menjadi seperti
  pemain olahraga tanpa target (pemain sepak bola tanpa gol).
  Sebaliknya, guru yang memiliki visi akan dengan penuh semangat dan
  setia melakukan pelayanannya, seperti guru di atas.

  Ada dua macam visi yang perlu kita pahami: visi global Bapa dan visi
  pribadi setiap guru.

  VISI GLOBAL BAPA

  Bapa, sebagai perencana keselamatan dan pemelihara seluruh
  kehidupan, sudah memiliki visi global, yaitu:

  1. mewujudkan Kerajaan Allah di muka bumi ini sehingga semua
     makhluk akan merasakan shalom (damai sejahtera Allah) di bumi
     ini, 2. Matius 28:19-20: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa
     murid-Ku dan baptiskanlah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh
     Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah
     Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah Aku menyertai kamu
     senantiasa sampai kepada akhir zaman."

  Visi global Bapa yang sering disebut sebagai Amanat Agung Yesus bagi
  para murid ini sekaligus menjadi visi wajib, visi pokok, atau visi
  utama kita (para guru sekolah minggu).

  Visi di atas membuat kita harus berjuang bersama Kristus yang
  menyertai kita. Berjuang untuk membuat semua bangsa (sebanyak
  mungkin orang) mau menerima Kristus dan menjadi murid-Nya! Jadi,
  anak-anak sekolah minggu bukan saja diharapkan menjadi anak yang
  percaya kepada Kristus. Lebih dari itu, mereka harus dididik menjadi
  murid Kristus. Murid yang belajar taat dan melakukan apa yang
  diperintahkan sang Guru, yaitu Yesus sendiri.

  "Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan
  kepadamu." Guru bukan hanya bertugas membuat anak-anak memahami apa
  yang Yesus ajarkan, apa yang Yesus kehendaki, apa yang diberitakan
  oleh Alkitab, melainkan lebih dari itu. Guru diharapkan membuat
  anak-anak menjadi pelaku firman.

  Ajar anak-anak itu melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Yesus
  kepada kita, yaitu mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati dan
  mengasihi sesama seperti diri kita sendiri (Mat. 22:34-40).

  Membuat para murid menjadi pelaku-pelaku firman yang melakukan
  perintah Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, merupakan visi wajib
  setiap guru sekolah minggu. Untuk itu, guru tidak cukup hanya pandai
  bercerita, meminta para anak belajar menghafalkan ayat, atau rajin
  ke sekolah minggu. Guru harus mengajar para murid untuk menjadi
  pelaku firman. Itu berarti setiap guru harus menjadi teladan bagi
  murid-muridnya. Setiap guru sekolah minggu harus menjadi kitab
  terbuka bagi semua muridnya sehingga mereka tahu bagaimana harus
  menjadi pelaku firman karena ada contoh nyata dalam hidup mereka.

  Beranikah para guru memperjuangkan visi global Bapa ini? Mudahkah?
  Tidak mudah, bahkan sangat sulit! Membawa seorang anak ke sekolah
  minggu saja tidak mudah, apalagi memuridkan anak itu menjadi
  pelaku-pelaku firman. Visi ini sungguh tidak mudah. Karena itulah,
  Kristus menyatakan: "Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir
  zaman." Penyertaan Yesus inilah yang menjadi kekuatan bagi kita yang
  lemah untuk mewujudkan visi global Bapa.

  Sebuah visi biasanya adalah sebuah tujuan yang ideal, yang "hampir
  mustahil" untuk terwujud dengan sempurna. Namun, visi menjadi arah
  perjuangan kita. Walaupun menjadikan semua anak pelaku firman yang
  baik itu sulit, namun itulah visi kita. Visi global Bapa menjadi
  arah utama bagi pelayanan setiap guru sekolah minggu.

  VISI PRIBADI SEORANG GURU SEKOLAH MINGGU

  Di samping visi global Bapa yang merupakan visi utama seorang guru
  sekolah minggu, kita sebagai pribadi tentu saja boleh memiliki visi
  pribadi, sejauh tidak bertentangan dengan visi global Bapa. Jadi,
  visi pribadi harus mendukung visi global Bapa. Contohnya seperti
  berikut ini.

  Seorang guru bersemangat melayani kelasnya karena terdiri dari
  anak-anak "kampung" dengan tingkat ekonomi rendah dan dari kalangan
  orang tua yang belum mengenal Kristus. Walaupun hanya mengajar empat
  orang murid setiap Minggu, ia melakukannya dengan setia. Sebab ia
  berharap empat murid itu menjadi cikal bakal kekristenan di daerah
  itu. Puji Tuhan, dua keluarga dari murid itu menjadi orang percaya
  karena pekabaran Injil anaknya sendiri. Dan sepuluh tahun kemudian,
  beberapa keluarga di daerah itu menjadi percaya dan ada cukup banyak
  anak menjadi murid sekolah minggu. Bagaimana dengan ekonomi
  masyarakat? Kelompok kecil orang percaya ini menjadi kesaksian yang
  indah. Mereka berhasil memiliki tingkat kehidupan yang lebih baik.
  Anak-anak sekolah minggu yang telah mendapat beasiswa berhasil
  memperoleh pekerjaan yang baik. Dengan demikian, visi guru itu
  berhasil, meski baru sebagian karena ada begitu banyak anak di
  daerah terbelakang yang kondisinya seperti itu. Adakah guru lain
  yang memiliki visi yang sama?

  Visi pribadi setiap guru mungkin berbeda. Hal itu dapat terjadi
  karena perbedaan latar belakang dan situasi, serta kondisi pelayanan
  yang berbeda. Visi pribadi biasanya lebih bersifat jangka pendek dan
  terbatas.

  Diambil dan diedit seperlunya dari:
  Judul buku: Mereformasi Sekolah Minggu: 8 Kiat Praktis Menjadikan
              Sekolah Minggu Berpusat pada Anak
  Penulis   : Paulus Lie
  Penerbit  : PBMR Andi, Yogyakarta 2003
  Halaman   : 72 -- 74


                            o/ TIPS o/

            DESKRIPSI TUGAS BAGI PARA GURU SEKOLAH MINGGU
            =============================================

  MENGAPA MEMERLUKAN SUATU DESKRIPSI TUGAS?

  Dunia bisnis dan industri sangat berhati-hati dalam memberikan
  deskripsi tugas tertulis kepada para pekerjanya. Hal ini bertujuan
  supaya tidak ada kesalahpahaman dalam hal harapan dan tanggung
  jawab. Deskripsi ini juga digunakan untuk mengevaluasi
  penampilan/pencapaian seseorang. Dengan alasan yang sama pula,
  deskripsi tugas juga berguna bagi para guru sekolah minggu.
  Deskripsi tugas sangat membantu koordinator sekolah minggu dan guru
  sekolah minggu untuk menentukan dengan jelas apa yang diharapkan
  dari mereka yang dengan sukarela mau mengajarkan firman Allah.

  Berikut beberapa elemen penting dalam suatu deskripsi tugas yang
  baik.

  1. Mengapa kita mengajar?
     ----------------------
     Alasan kita mengajar berasal dari dalam Alkitab. Dalam Perjanjian
     Lama, kita diperintahkan, "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada
     hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau
     mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan
     membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau
     sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila
     engkau bangun" (Ul. 6:6-7). Amanat Agung memerintahkan semua
     orang, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan
     baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan
     ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan
     kepadamu" (Mat. 28:19-20). Mengajarkan firman Allah adalah
     pekerjaan penting bagi anak-anak Allah agar iman mereka
     bertumbuh.

  2. Mengenal Allah secara pribadi.
     ------------------------------
     Seorang guru harus memiliki hubungan pribadi dengan Yesus Kristus
     agar dapat menyampaikan firman Allah kepada orang lain. Namun,
     seorang guru seharusnya tidak "baru mengenal" Kristus. Guru harus
     memiliki tingkat kematangan rohani yang terus berkembang, dapat
     membagikan pengalaman rohani mereka, dan bertumbuh dalam
     kehidupan rohani mereka sendiri. Berikut beberapa pertimbangan
     dasar: apakah guru itu terlibat dalam doa dan pemahaman Alkitab
     yang rutin dan secara pribadi diikuti? Apakah guru itu memiliki
     hubungan yang baik dengan Allah dan orang lain di gereja? Apakah
     guru mengetahui bagaimana memimpin seorang anak datang kepada
     Kristus?

  3. Apa yang kita ajarkan?
     ----------------------
     Guru tentu saja harus memiliki suatu pemahaman tentang doktrin
     dasar kekristenan dan juga harus tahu serta memahami doktrin yang
     dianut oleh gerejanya. Sangat disayangkan bila hal-hal seperti
     okultisme atau mistik, diterangkan di gereja oleh orang-orang
     yang tidak terlatih.

  4. Pahami kebutuhan murid.
     -----------------------
     Kita bisa mengetahui apa yang kita ajarkan, tetapi bila pelajaran
     yang diajarkan itu tidak sesuai dengan porsi murid, murid tidak
     akan mempelajarinya. Banyak kurikulum yang menyertakan
     bahan-bahan yang sangat menolong, yang sudah disesuaikan dengan
     tingkat usia dan kebutuhan anak; ada pula buku-buku lain yang
     baik untuk digunakan. Guru harus berkomitmen untuk mempelajari
     kebutuhan murid dan mengajar untuk memenuhi kebutuhan murid
     tersebut.

  5. Mengajarkan tanggung jawab.
     ---------------------------
     Guru harus mau menyediakan waktu untuk proses mengajar. Waktu ini
     termasuk persiapan selama minggu itu, setia hadir di kelas (bila
     berhalangan dan diganti orang lain, lakukan itu bila terpaksa),
     memberikan kegiatan kreativitas sehingga kegiatan sekolah minggu
     tidak hanya mengajar sesuai dengan kurikulum yang diberikan
     setiap minggunya, dan kemauan untuk mengevaluasi jalannya sekolah
     minggu. Banyak masalah-masalah disiplin dalam kelas yang
     disebabkan oleh guru yang tidak teratur atau tidak siap;
     murid-murid yang sibuk dan belajar tidak akan membuat banyak
     masalah.

  6. Kesempatan untuk mengikuti pelatihan.
     -------------------------------------
     Guru harus mau mengambil bagian dalam berbagai pertemuan guru dan
     pelatihan yang diadakan oleh gereja. Beberapa gereja mengadakan
     sendiri pelatihan-pelatihan tersebut. Di beberapa tempat,
     pertemuan guru sekolah minggu atau pelatihan denominasional
     memberikan kesempatan tambahan bagi para guru untuk mempelajari
     metode belajar yang efektif, sesuai dengan tingkat usia tertentu.

  7. Menjangkau.
     -----------
     Seorang guru mungkin tidak bisa mengunjungi setiap murid di
     kelasnya, tetapi ia harus peka terhadap siapa saja yang tidak
     hadir atau memiliki kebutuhan khusus. Apakah ada beberapa anak
     yang jarang hadir? Apakah ada anggota keluarga gereja yang tidak
     hadir? Apakah ada murid yang sakit? Guru bertanggung jawab untuk
     memahami bahwa kontak seperti ini adalah penting untuk dilakukan.

  8. Persekutuan.
     ------------
     Murid akan lebih merespons seorang guru yang menunjukkan
     perhatian yang sungguh-sungguh kepada mereka sebagai seorang
     pribadi di luar jam pelajaran. Waktu untuk bersekutu dan
     bersenang-senang juga dapat membangun semangat dalam kelas. Guru
     harus mau menyediakan waktu dalam acara-acara informal sekolah
     minggu, misalnya pesta kelas, waktu untuk berkunjung atau makan
     siang di rumah mereka, atau "melakukan perjalanan" ke tempat yang
     menarik bagi murid-murid di kelasnya.

  TULISLAH ....

  Pertimbangkan elemen-elemen berikut ini ketika Anda menuliskan
  deskripsi tugas bagi guru-guru sekolah minggu Anda sesuai dengan
  situasi sekolah minggu Anda.

  Guru sekolah minggu perlu:
  1. memahami bahwa pelayanan pengajaran adalah diberikan oleh Tuhan, 2. memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan dan bertumbuhlah dalam
     iman yang dewasa, 3. menguasai apa yang Anda ajarkan, 4. belajar cara mengajar yang efektif, termasuk pemahaman
     perkembangan tiap tahap usia dan kebutuhan murid-muridnya, 5. setia pada tanggung jawab mengajar mereka, 6. ikut serta ambil bagian dalam pelatihan-pelatihan yang diadakan
     oleh gereja, 7. ikut serta dalam pelayanan penginjilan di sekolah minggu, 8. menyediakan waktu untuk mengadakan persekutuan dengan para
     murid. (t/Ratri)

  Diterjemahkan dari:
  Judul buku: Super Sunday School Sourcebook
  Penulis   : Dr. Dennis E. Williams
  Judul asli: Job Descriptions for Teachers
  Penerbit  : David C. Cook Publishing Co., Elgin 1989
  Halaman   : 13 -- 14


                          o/ WARNET PENA o/

                  BLOG DANIEL HARAHAP (RUMA METMET):
              SEKOLAH MINGGU DAN DISKUSI SEKOLAH MINGGU
              =========================================
          http://danielharahap.blogs.friendster.com/my_blog/

  Blog sedang menjadi tren masa kini yang baik untuk menuangkan ide
  atau gagasan kita dan mendapatkan tanggapan dari orang lain mengenai
  ide kita tersebut. Di tengah-tengah maraknya blog saat ini, Daniel
  Harahap menghadirkan pula sebuah blog yang bernama RUMA METMET.
  Dalam blog ini, para guru sekolah minggu dapat juga melihat tiga
  puluh tanya jawab seputar pelayanan sekolah minggu dalam kategori
  Diskusi Sekolah Minggu. Sedangkan untuk menikmati artikel-artikel
  seputar sekolah minggu, silakan masuk ke kategori Sekolah Minggu.
  Rasanya jejak Daniel Harahap ini dapat diikuti oleh para guru
  sekolah minggu yang lain. Dengan demikian blog-blog seputar
  pelayanan sekolah minggu, yang sekaligus sebagai sarana berbagi
  pengalaman dan bertukar pikiran demi kemajuan pelayanan anak akan
  semakin bertambah banyak.

  Oleh: Redaksi


                       o/ DARI MEJA REDASI o/

                       ALAMAT KONTAK YANG BARU
                       =======================

  Sebagai tindak lanjut pembenahan sistem e-mail pada Yayasan Lembaga
  SABDA (YLSA), kami menginformasikan kepada para pelanggan sekalian
  bahwa alamat kontak staf e-BinaAnak telah beralih dari:

                      staf-binaanak(at)sabda.org

  menjadi:

                        binaanak(at)sabda.org

  Bagi para pelanggan yang hendak berkorespondensi, mohon menggunakan
  alamat yang baru sebagaimana diumumkan di atas.


                         o/ MUTIARA GURU o/

          Setiap guru dipanggil pada misi penyelamatan anak.
                    Dengan meyakini panggilan ini
                guru akan semakin bertambah semangat
                            untuk melayani
                           -- Paulus Lie --


----------------------------------------------------------------------
 Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi:
  <binaanak(at)sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
----------------------------------------------------------------------
                  Pemimpin redaksi: Davida Welni Dana
       Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
             Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
                 Copyright(c) e-BinaAnak 2007 -- YLSA
        http://www.sabda.org/ylsa/  ~~ http://katalog.sabda.org/
                     Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                  No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
======================================================================
Anda terdaftar dengan alamat email: $subst(`Recip.EmailAddr`)
Alamat berlangganan : <subscribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
Alamat Berhenti     : <unsubscribe-i-kan-BinaAnak(at)hub.xc.org>
Arsip e-BinaAnak    : http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen:  http://pepak.sabda.org/
------------- PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN GURU --------------

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org