Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-binaanak/279

e-BinaAnak edisi 279 (10-5-2006)

Guru sebagai Pelajar

 
   ><>  Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak  <><
        ==================================================

Daftar Isi:                                               279/Mei/2006
----------
    ^o^ SALAM DARI REDAKSI
    ^o^ ARTIKEL (1)         : Guru sebagai Pelajar
    ^o^ ARTIKEL (2)         : Biarlah Murid-Murid Mengajar Saudara
    ^o^ KARYA ANDA          : Kesaksian GSM: Pelajaran Hari Ini
    ^o^ WARNET PENA         : Sunday School -- It`s for Life!
    ^o^ DARI ANDA UNTUK ANDA: Fellowship dan Workshop GSM
    ^o^ MUTIARA GURU

^o^---------------------------------------------------------------^o^
 Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi:
  <staf-BinaAnak(at)sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
^o^ SALAM DARI REDAKSI

  Salam kasih,

  Seorang guru tidak bisa mengajar dengan baik tanpa memiliki
  pengetahuan yang luas. Semakin sedikit pengetahuan guru, semakin
  terbatas pula apa yang dapat diajarkan kepada para murid. Sebagai
  seorang guru kita harus terus-menerus belajar karena mempelajari
  pelajaran bukan hanya tugas murid saja. Justru peran itu harus lebih
  banyak dilakukan oleh gurunya terlebih dahulu.

  Dalam edisi kali ini, ada dua artikel yang mengajak kita untuk
  melihat bagaimana guru bisa memainkan peranannya sebagai seorang
  pelajar. Sajian-sajian lainnya kami harapkan dapat pula memotivasi
  Anda untuk terus belajar dan mengembangkan diri dalam mengemban
  tugas sebagai pelayan anak.

  Selamat belajar!

  Redaksi e-BinaAnak,
  Davida

   "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut
              Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil,
           ia tidak akan masuk ke dalamnya." (Markus 10:15)
          < http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=Markus+10:15 >


^o^ ARTIKEL (1) ---------------------------------------------------^o^

                      ^ GURU SEBAGAI PELAJAR ^
                        ====================

  Banyak guru yang tidak menyadari bahwa ia juga memiliki peran
  sebagai pelajar, sebagai seorang murid. Ketidaksadaran ini
  disebabkan karena selama ini ia lebih bertindak sebagai orang yang
  berwibawa, yang "serba tahu", yang memiliki pengetahuan lebih
  daripada murid-muridnya. Pemikiran seperti ini seringkali
  menyebabkan seorang guru tidak bersedia dikategorikan sebagai
  seorang pelajar. Padahal tak dapat disangkal bahwa setiap kali
  membuat persiapan pelajaran, mau tidak mau dia juga harus belajar.

  Guru yang menyadari bahwa dirinya juga seorang pelajar akan sangat
  mendorong anak didiknya untuk lebih giat lagi belajar. Sikap guru
  yang tetap selalu giat mencari dan menambah pengetahuannya akan
  mudah dirasakan dan ditiru oleh anak didik. Usaha guru untuk mencari
  pengetahuan terus-menerus akan meyakinkan anak didiknya bahwa
  ketidaktahuan bisa digunakan sebagai alasan untuk berkembang
  daripada menjadi suatu halangan.

  Peran guru sebagai pelajar sangat bermanfaat bagi dirinya, terlebih
  bagi anak didiknya. Dia mengambil banyak keuntungan dari mengajar.
  Ketika mengajar, guru banyak mendapat masukan, baik dari bahan-
  bahan mata pelajaran yang diajarkan maupun dari topik-topik yang
  berhubungan dengan itu. Sebagai pelajar, seorang guru jangan sampai
  mudah merasa puas. Salah satu faktor terpenting dalam mengajar ialah
  perasaan belum puas akan kecakapan dan pengetahuan yang sudah
  dimiliki secara terus-menerus. Seorang guru harus mempunyai
  keinginan untuk berusaha mencapai kemahiran yang lebih tinggi lagi.
  Dengan begitu, untuk meningkatkan profesionalitas guru Kristen, dia
  harus terus-menerus belajar. Dan sudah tentu sebagai pelajar, guru
  adalah seorang yang dinamis dan berkembang.

  Ada manfaat yang akan diterima anak didik dari guru yang dinamis dan
  berkembang karena senang belajar. Mereka akan senantiasa mendapat
  hal-hal baru yang segar karena gurunya juga selalu menyajikan hal-
  hal baru yang didapatkannya. Dengan demikian, anak didik secara
  otomatis juga akan lebih berkembang karena masukan yang didapatkan
  bukanlah barang lama, tetapi yang baru dan segar.

  Agar pengajaran menjadi sangat dinamis, seorang guru yang berkembang
  hendaknya selalu mencari saran-saran untuk mempertahankan atau
  bahkan meningkatkan kegairahan yang sedang dirasakannya. Cara yang
  terbaik untuk guru tersebut ialah dengan selalu belajar lagi dan
  menggabungkan pelajaran yang baru itu dengan pengetahuan lama yang
  telah ia ajarkan. Dengan begitu, pelajaran yang lama dapat tetap
  bersifat baru bagi anak didik.

  Dari manakah seorang guru mendapatkan sumber-sumber informasi? Tentu
  guru bisa memakai banyak sekali sumber informasi seperti literatur.
  Namun, sumber informasi yang paling vital adalah anak didik. Dengan
  demikian, kalau seorang guru Kristen berhenti belajar dari anak
  didik, mereka juga akan berhenti belajar dari guru.

  Dari anak didik, guru Kristen akan mendapat banyak pelajaran. Tiap
  guru dapat belajar tentang perkembangan anak didik baik dari segi
  moral, mental, emosi, sosial, maupun dari segi kerohanian sesuai
  dengan tingkatan usia mereka. Guru Kristen yang sungguh-sungguh
  terpanggil untuk melayani, mendidik, dan membimbing akan memberikan
  perhatiannya untuk belajar dan memahami anak didik, serta berusaha
  untuk memahami mereka dengan segala gaya hidup mereka masing-masing.
  Anak didik adalah individu yang berbeda dari anak lainnya. Setiap
  mereka memiliki keunikan sendiri yang tidak dimiliki oleh yang
  lainnya. Masing-masing mempunyai kebutuhan, kemampuan, serta
  perasaannya sendiri. Hal-hal itulah yang dapat dan harus dipelajari
  oieh guru Kristen.

  Namun, ada penghambat bagi terlaksananya peran guru sebagai pelajar.
  Hambatannya datang dari diri guru itu sendiri. Ia beranggapan bahwa
  dirinya telah mengetahui semuanya sehingga ia tertutup untuk
  mendapatkan masukan-masukan baru. Ia tidak menyadari bahwa ilmu
  pengetahuan selalu berkembang sehingga ia perlu untuk terus memantau
  dan mengikuti perkembangan itu.

  Ada juga guru yang beranggapan bahwa jawaban-jawaban terhadap
  pengetahuan yang diterimanya saat pertama kali belajar/persiapan
  dulu merupakan jawaban terbaik. Pengalaman-pengalaman lama guru itu
  adalah satu-satunya pengetahuan yang terbaik buat dirinya, juga bagi
  anak didiknya. Guru ini mengajar hal-hal lama yang betul-betul
  dikuasainya dengan cara-cara yang lama, yang sudah menjadi
  kebiasaannya sehingga terasa mudah bagi dirinya. Biasanya guru
  seperti ini tidak terlalu senang jika anak didik (khususnya kaum
  muda) bertanya-tanya tentang hal yang sedang "ramai dibicarakan",
  yang sedang populer, atau dengan memakai istilah sekarang yang
  sedang "trendi". Jika ia tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan
  tersebut, hal itu akan mempersulit dan memojokkan posisinya sebagai
  guru dan akan menurunkan wibawanya. Oleh karena itu, guru semacam
  ini akan menutup diri untuk mencari dan melakukan penelitian.

  Ada beberapa cara yang dapat menolong dan menunjang peran guru
  sebagai pelajar. Pertama adalah dengan melakukan penelitian tentang
  mata pelajaran yang sedang diajarkan. Penelitian ini dapat dilakukan
  pada saat melakukan persiapan pelajaran. Dalam persiapan itu, ia
  dapat mengumpulkan data-data dari buku-buku teks penunjang pedoman
  pengajaran. Penelitian juga dapat dilakukan dari buku-buku di luar
  buku penunjang. Dari penelitian terhadap sumber-sumber di luar
  pelajaran yang diajarkannya itu, ia dapat melihat hubungan antara
  mata pelajarannya dengan pengetahuan lain sehingga ia perlu mencari
  dan meneliti pengetahuan yang lain itu, ini tentunya akan sangat
  menunjang kemajuan profesinya.

  Pengamatan terhadap kejadian di sekeliling juga dapat menjadi sumber
  yang baru bagi mata pelajaran yang diajarkan seorang guru. Kejadian
  atau peristiwa yang ia amati dapat menjadi bahan ilustrasi yang
  dapat memperjelas pemahaman anak didik terhadap pelajaran sehingga
  menimbulkan minat mereka untuk belajar. Bahkan lebih jauh lagi, anak
  didik dapat menghubungkan kejadian atau peristiwa sehari-hari di
  sekelilingnya dengan pelajaran yang diterimanya.

  Ada upaya lain yang dapat menolong dan menunjang peran guru sebagai
  pelajar, yaitu dengan cara mengikuti sekolah lagi. Untuk menambah
  pengetahuan, guru dapat mengikuti sekolah yang jenjangnya lebih
  tinggi. Dia juga dapat mengikuti seminar-seminar yang berkaitan
  dengan profesinya sebagai guru. Hal ini akan membuka cakrawala
  berpikirnya dan memperluas pemahamannya karena di tempat ini ia akan
  bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman dan permasalahan
  yang sama atau berbeda. Pengalaman yang berbeda itu yang akan
  memperkaya guru. Mungkin upaya yang satu ini agak sulit untuk
  dilaksanakan, namun cara ini akan sangat mendukung profesi guru.

  Mengajar yang berhasil memerlukan penyelidikan yang tekun dan
  persiapan yang saksama dari tiap-tiap pelajaran. Dari situlah
  diketahui bahwa persiapan yang dipikirkan masak-masak merupakan
  kunci untuk mengajar dengan lebih baik. Maka dari itu, guru yang
  membuat persiapan sebaik-baiknya akan memperoleh hasil yang
  terbanyak. Demikianlah guru yang mau bekerja keras, menguasai baik-
  baik setiap pelajaran, akan menikmati kepuasan yang lebih besar
  dalam pekerjaannya.

  Peran guru Kristen sebagai pelajar ini membantunya supaya lebih
  cakap dan lebih mahir dalam menggunakan keahliannya, juga memacu
  dirinya supaya mempunyai keinginan untuk berusaha mencapai kemahiran
  yang lebih tinggi lagi. Peran ini sangat menunjang seorang guru
  Kristen untuk lebih profesional dalam profesinya.

  Sumber diambil dan diedit dari:
  Judul Majalah: Sahabat Gembala, Desember, 1993
  Judul Artikel: Quovadis Guru Kristen?
  Penulis      : Yoke Tode, S.Th.
  Penerbit     : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
  Halaman      : 14 - 17


^o^ ARTIKEL (2) ---------------------------------------------------^o^

              ^ BIARLAH MURID-MURID MENGAJAR SAUDARA ^
                ====================================

  Mengajar anak-anak yang berusia 6-7 tahun pada Minggu pagi merupakan
  saat-saat yang paling memuaskan bagi saya. Mereka berdesak-desakan
  keluar dari ruang pertemuan dan masuk ke dalam kelas saya penuh
  dengan berita-berita yang ingin diceritakan dan keperluan-keperluan
  yang harus didoakan.

  Kesukaan mereka di dalam Tuhan mudah menjalar. Mereka tidak malu
  untuk menyatakan kegembiraan mereka. Bahkan orang dewasa bisa
  belajar banyak dari anak-anak yang ada di sekelilingnya.

  Anak-anak biasanya suka berterus-terang. Mereka begitu berterus-
  terang dan jujur sehingga perlu bimbingan untuk menghilangkan segi-
  segi yang agak tajam dari ucapan mereka. Tetapi kejujuran mereka
  dapat menyegarkan dunia kita. Orang tua dapat juga belajar untuk
  lebih jujur terhadap sesamanya dengan mengakui kesalahan mereka dan
  saling menceritakan masalah mereka.

  Pernah seorang anak laki-laki mengakui kepada kawannya bahwa kadang-
  kadang dia merasa sukar untuk selalu bertindak sebagai seorang
  Kristen dan minta kawan itu berdoa baginya. Berapa kalikah orang
  dewasa mau merendahkan dirinya dengan meminta sesama Kristen untuk
  berdoa bagi mereka supaya bisa mengatasi kesalahan mereka? Alangkah
  indahnya pelajaran ini bagi kita semua!

  Doa anak-anak dapat merupakan pelajaran dalam kesungguhan,
  kerendahan hati, dan kasih. Saya tidak akan melupakan doa seorang
  anak kecil seperti berikut, "Allah, kami mengasihi Engkau. Kami
  berterima kasih untuk rumah kami, keluarga, dan segala-galanya.
  Tuhan, kadang-kadang kami marah kepada ibu kami, tetapi kami
  mencintainya. Tolonglah kami untuk bersikap lebih baik. Dan
  tolonglah ibu kami agar tidak marah kepada kami."

  Saya pernah membaca bahwa doa yang baik terdiri dari pemujaan,
  pengakuan, pengucapan syukur, dan permohonan. Setiap orang yang
  menganalisa doa di atas ini akan segera melihat bahwa tanpa
  mengetahui rumus itu seorang anak kecil berusia 6 tahun telah
  mencakup semua unsur tersebut dalam doanya.

  Kita, orang dewasa, dapat belajar berdoa seperti anak-anak, yaitu
  dengan penuh kasih, dengan sungguh-sungguh, dengan berani, dengan
  rendah hati, tanpa merasa malu dan yang paling penting lagi, dengan
  iman bahwa Allah akan mendengarkan dan menjawab.

  Kadang-kadang kita melihat sikap orang tua tercermin dalam sikap dan
  tindakan anak-anak.

  Pada suatu hari, seorang anak perempuan merebahkan diri di sebuah
  kursi di samping saya dan tanpa pendahuluan berbisik kepada saya,
  "Saya ingin menceritakan sebuah rahasia kepadamu." Ketika saya
  membungkuk untuk mendengatnya, dia mengeluh, "Saya marah kepada
  Linda. Dia nakal kepada saya minggu yang lalu!"

  "O, benarkah?" tanyaku. "Sayang. Sudahkah engkau mengampuni dia?
  Ingatlah, Yesus ingin agar kita mengampuni."

  Pada wajahnya terpancar rasa heran. Penuh pemikiran dan dengan
  sedikit menantang jawabnya, "Sudah. Tetapi saya masih marah
  kepadanya."

  Ketika mengenangkan peristiwa yang menggelikan ini saya berpikir,
  "Tuhan, apakah saya juga sudah berkata telah mengampuni seseorang,
  tetapi masih marah terhadapnya? Jika demikian, tunjukkan kesalahan
  saya sehingga saya dapat meminta pengampunan dan pertolongan-Mu
  untuk sungguh-sungguh menghilangkan rasa dendam itu."

  Biasanya, anak-anak kecil dengan cepat mengampuni seperti orang
  dewasa, bahkan kadang-kadang lebih cepat lagi. Mereka terlalu sibuk
  untuk menyimpan rasa dendam. Alangkah baik seandainya semua orang
  dewasa terlalu sibuk mengurus kehidupan mereka sendiri dan menolong
  orang yang ada di sekelilingnya sehingga tidak membiarkan sifat
  mendendam itu berakar.

  Banyak pelajaran yang dapat dipelajari oleh para guru dari anak-anak
  didiknya. Asal saja kita mau waspada terhadap bimbingan Roh,
  seringkali kita akan mendengar suara-Nya berbicara kepada kita
  "dari mulut anak-anak kecil." "Dan seorang anak kecil akan
  mengiringnya" (Yesaya 11:6). Semoga kita tidak terlalu angkuh untuk
  mengikutinya!

  Sumber diambil dan diedit dari:
  Judul Buku    : Buku Pintar Sekolah Minggu, Jilid 2
  Judul Artikel : Biarlah Murid-Murid Mengajar Saudara
  Penerbit      : Gandum Mas, Malang
  Halaman       : 210 - 211


^o^ KARYA ANDA ----------------------------------------------------^o^

               ^ KESAKSIAN GSM: PELAJARAN HARI INI ^
                 =================================

  "Siapa yang mau duduk dekat aku?" tanya Ria.

  "Aku ... aku ... aku ....," suara teman-teman kecilnya bersahutan
  sambil berlari-lari untuk segera duduk di sampingnya.

  Tetapi saat dua orang anak berhasil duduk di sampingnya, Ria
  langsung bekata kepada dua temannya itu, "Ihh ... aku nggak mau
  duduk sama kamu. Aku mau duduk sama Nia dan Kiki aja!"

  Segera terjadi keributan besar. Dua orang anak yang sudah duduk di
  samping Ria menangis terisak-isak.

  Saat itu ibadah SM belum pula dimulai, tetapi sudah terjadi huru-
  hara yang membuatku menggeleng-gelengkan kepala. Ya, Ria, seorang
  gadis kecil berusia tiga tahun, kesekian kalinya telah berhasil
  memberi tugas ekstra kepada guru yang sedang bertugas. Ria memang
  merupakan anak yang paling berpengaruh dalam kelas kecil dan sangat
  sering memberikan keputusan yang dianggap tidak adil oleh para
  "pengikutnya".

  Kubiarkan seorang guru SM yang masih pemula mendekati mereka guna
  meredakan huru-hara tersebut. Guru tersebut berhasil menghentikan
  tangis kedua anak tersebut tetapi belum berhasil mempertemukan
  tangan Ria dengan mereka sebagai tanda permintaan maaf. Agar ibadah
  SM dapat segera dimulai, sang guru yunior tersebut akhirnya
  memisahkan mereka saja.

  Ibadah SM segera dimulai. Walaupun pada awalnya terjadi huru-hara,
  tetapi aku bersyukur ibadah dapat berjalan dengan baik. Kulirik Ria,
  yang hari itu mengenakan baju baru, bernyanyi dengan riang tanpa
  sedikit pun merasa bersalah. Dua orang anak yang tadi terisak-isak
  pun sudah mulai menggerakkan tangan mereka untuk memuji Tuhan
  walaupun sesekali kuperhatikan mereka melirik-lirik Ria dengan
  tatapan penuh protes.

  Saat ibadah SM selesai, seperti biasa murid-muridku antri untuk
  bersalaman dengan para guru termasuk denganku. Saat sedang
  bersalaman dengan anak lain, kulihat kejadian yang sudah terlalu
  sering kulihat selama aku melayani Dia sebagai seorang guru SM,
  sekaligus juga kejadian tersebut selalu membuat aku belajar lebih
  lagi mengenai arti pengampunan yang tulus.

  Ria, si pemimpin itu, menghampiri dua teman yang sudah dia "sakiti
  hatinya". Untuk kesekian kalinya, kulihat tangan mungilnya terulur
  ke tangan teman yang sudah dia lakukan dengan tidak adil. Dan, bukan
  kali itu saja kulihat bibir mungilnya tanpa malu-malu mengucapkan,
  "Maapin aku ya!" Dua buah tangan kanan yang mungil, yang tadi sempat
  digunakan untuk mengusap air mata kekecewaan, secara serentak
  terulur pula ke arah tangan kanan Ria, plus senyuman lebar yang
  tersungging di bibir.

  Dengan berlari kecil sambil bergandeng tangan, mereka bertiga
  menghampiriku, mengulurkan tangan mungil mereka dan berkata,
  "Selamat pagi, Kak! Pulang dulu ya!"

  Kejadian hari itu sekali lagi menjadi sebuah alasan mengapa aku
  masih bertahan melayani Dia sebagai seorang guru SM. Terlalu banyak
  pelajaran rohani yang aku dapatkan dari "guru-guru mungilku"
  tersebut. Hari itu sebuah pengampunan yang tulus tanpa sisa-sisa
  dendam kembali terjadi di depan mataku, seorang guru SM yang masih
  sering menyimpan rasa sakit hati dan terkadang sangat sulit mengakui
  kesalahannya. Yang bibirnya sering mengucapkan kata "maaf", tetapi
  masih sering menyimpan beribu alasan di balik kata maaf itu.

  [Kiriman dari: Evie Wisnubroto <evie(at)>]

  *Red: Redaksi mengajak setiap pelayan anak untuk membagikan
  kesaksian atau pelajaran-pelajaran berharga dalam pelayanan.
  Kesaksian atau berkat tersebut bisa semakin menguatkan dan
  meneguhkan panggilan dalam pelayanan kita. Pasti akan sangat indah
  bukan jika kita bisa saling membangun dengan membagikan setiap
  pengalaman kita. Kirimkan kesaksian Anda ke:
  ==> < staf-binaanak(at)sabda.org >


^o^ WARNET PENA ---------------------------------------------------^o^

                 ^ SUNDAY SCHOOL -- IT`S FOR LIFE! ^
                   ===============================
      http://sundayschool.cokesbury.com/content.aspx?dyn=232

  Sebagai guru sekolah Minggu, seharusnya kita senang mendapatkan
  pengetahuan dan tambahan keterampilan dalam pelayanan kita. Situs
  Sunday School -- It`s for Life! saat ini telah memiliki 52 artikel
  seputar pelayanan sekolah Minggu. Begitu Anda klik alamat di atas,
  Anda akan langsung mendapatkan daftar judul yang bisa Anda klik
  langsung untuk membaca artikelnya. Judul-judul artikel yang tersedia
  antara lain, "To Realize Your Sunday School`s Potential", "Pray
  First", "Eleven Helps for Teacher and Leaders in the Church",
  "Equipping Teachers and Leaders for Sunday School Classes", "Online
  Courses Train Time - Stressed Sunday School Teachers", dan masih
  banyak lagi.

  [Kiriman dari: Davida]


^o^ DARI ANDA UNTUK ANDA ------------------------------------------^o^

  Surat berikut ini kami ambil dari milis diskusi e-BinaGuru karena
  sangat penting bagi rekan-rekan sekalian.

  Dari: Natalia Anggraini <anak_sek(at)>
  >Shallom kak meilania,
  >
  >Saya mohon bantuan dan kerjasama dari pihak kakak untuk dapat
  >menginformasikan acara kami dari KIDS PRODUCTION kepada para guru
  >sekolah minggu dan pelayan anak. Adapun acara kami akan kami adakan
  >pada :

  >   Hari/Tanggal : Sabtu, 27 Mei 2006
  >   Waktu        : 09.00 - 18.00
  >   Tempat       : Gedung BHS Gajah Mada lt.12 (Gajah Mada Plaza)
  >   Acara        : Fellowship dan Workshop Guru Sekolah Minggu
  >                  "THINK THANKS 2"
  >   Materi       : - Penginjilan Anak
  >                  - Tehnik Gambar Alat Peraga
  >                  - Panggung Boneka Kreatif
  >                  - Balon Kreasi
  >   Info & Daftar: Natalia 021-93798765
  >, 0817 - 890987
  >, 021 - 4528436 ext 134
  >                  Cynthia 0816 - 1146004
  >, 021 - 4528436 ext 137
  >                  Effendy 021 - 92924887
  >, 021 - 45847880 ext 135
  >   Biaya        : GRATIS TAPI WAJIB DAFTAR PALING LAMBAT
  >, 19 MEI 2006, LANGSUNG FAX KE 021 - 4500231
  >                  (NAMA, ASAL GEREJA, TELP / HP)
  >
  >Bersama ini saya kirim attachment file ttg brosur dan denah lokasi
  >acara kami. Atas bantuan dan kerjasama dari pihak kakak, kami
  >mengucapkan terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.

  Redaksi:
  Untuk file attachment yang dimaksud, mohon maaf kami tidak bisa
  mem-postingnya melalui milis e-BinaAnak. Bagi teman-teman yang
  berminat memperoleh file attachment tsb., bisa langsung menghubungi
  rekan Natalia <anak_sek(at)j-hop.org>. Sukses buat acaranya yah!
  Tuhan memberkati.


^o^ MUTIARA GURU --------------------------------------------------^o^

                        Pelajaran minggu ini:
          Hari ini dan setiap hari saya akan belajar untuk
    mengajarkan semua yang saya ketahui kepada murid-murid saya.
                   Untuk itu saya harus belajar!
                             - Welni -

^o^----------------------------------------------------------------^o^
               Staf Redaksi: Davida, Ratri, dan Lisbet
       Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
             Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
                 Copyright(c) e-BinaAnak 2006 -- YLSA
        http://www.sabda.org/ylsa/  ~~ http://katalog.sabda.org/
                     Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                  No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
^o^----------------------------------------------------------------^o^
Anda terdaftar dengan alamat email: $subst(`Recip.EmailAddr`)
Alamat berlangganan : <subscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
Alamat Berhenti     : <unsubscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
Arsip e-BinaAnak    : http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen:  http://www.sabda.org/pepak/
><> --------- PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN ANAK --------- <><

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org