Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-binaanak/278

e-BinaAnak edisi 278 (5-5-2006)

Guru sebagai Pendidik

   ><>  Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak  <><
        ==================================================

Daftar Isi:                                               278/Mei/2006
----------
    ^o^ SALAM DARI REDAKSI
    ^o^ ARTIKEL             : Guru sebagai Pendidik
    ^o^ TIPS (1)            : Sifat Seorang Pendidik Kristen
    ^o^ TIPS (2)            : Peraturan dan Kesalahan dalam Mendidik
                                  Murid
    ^o^ WARNET PENA         : Sparkles and Friends
    ^o^ DARI ANDA UNTUK ANDA: Referensi Bahan e-BinaAnak
    ^o^ DARI MEJA REDAKSI   : Pembukaan Kelas Guru Sekolah Minggu
    ^o^ MUTIARA GURU

^o^----------------------------------------------------------------^o^
 Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi:
  <staf-BinaAnak(at)sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
^o^ SALAM DARI REDAKSI

  Salam dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus,

  Dalam mengemban tugasnya, setiap guru terpanggil untuk memainkan
  beberapa peranan penting dalam penunaian tugasnya. Setiap peran
  harus merupakan jawaban atas pemenuhan kebutuhan anak-anak yang
  dilayaninya. Kebutuhan yang dimaksud tentu saja bukan kebutuhan
  materi, tetapi kebutuhan dalam hal pendidikan dan hidup rohani
  mereka.

  Dalam tema "Peran Guru Kristen" bulan ini, kita akan melihat apa
  saja peranan yang dapat dilakukan setiap guru Kristen atau para
  pelayan anak. Peran-peran tersebut dijabarkan dalam topik-topik
  berikut.
                1. Guru sebagai Pendidik
                2. Guru sebagai Pelajar
                3. Guru sebagai Pembimbing
                4. Guru sebagai Motivator
                5. Guru sebagai Teladan

  Melalui topik "Guru sebagai Pendidik" minggu ini, kita semua
  diharapkan dapat menjadi seorang pendidik yang tidak hanya mengajar,
  tetapi juga terlibat dalam proses pengubahan sikap dan tata laku
  murid. Dengan kata lain, diharapkan semua yang kita ajarkan dapat
  mencapai tujuannya.

  Selamat mendidik murid-murid Anda!

  Redaksi e-BinaAnak,
  Davida

       "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya,
         maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang
               dari pada jalan itu." (Amsal 22:6)
         < http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=Amsal+22:6 >


^o^ ARTIKEL -------------------------------------------------------^o^

                      ^ GURU SEBAGAI PENDIDIK ^
                        =====================

  Pendidik adalah orang yang bertugas mendidik. Kata "mendidik" itu
  sendiri berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan)
  mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Dalam hal ini akhlak berarti
  budi pekerti atau kelakuan. Dengan demikian, pendidik terlibat dalam
  proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok
  orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan
  pelatihan. Jadi, upaya mendewasakan manusia yang mencakup akhlak
  (moral) dan kecerdasan pikiran tidak melulu dilakukan di dalam ruang
  kelas. Ini berarti bahwa guru Kristen tetap bertanggung jawab
  menjalankan perannya walaupun di luar jam mengajarnya. Dia berperan
  dalam pengembangan budi pekerti atau kelakuan anak didiknya; bukan
  hanya sekadar bertumpu pada pengalihan informasi.

  Sebagai pendidik, guru harus mendampingi siswa dalam perkembangannya
  menuju kedewasaan penuh. Agar anak didik mengalami perkembangan
  menuju kedewasaan tersebut, perlu dihasilkan perubahan dalam
  kehidupan anak didik. Perubahan hidup hanya mungkin terjadi bila
  anak didik sudah memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus.
  Dengan dasar ini, barulah guru dapat menghubungkan kebenaran yang
  diajarkan dengan kehidupan atau permasalahan yang mereka hadapi
  dalam kenyataan.

  Untuk menjalankan peranannya sebagai pendidik dalam proses belajar-
  mengajar, seorang guru perlu memberi contoh-contoh penerapan praktis
  kepada anak didik, menggunakan istilah-istilah yang sederhana tapi
  jelas, serta menanyakan soal-soal yang penting supaya apa yang
  dipelajari dapat lebih mudah dipahami. Di samping itu, guru juga
  perlu memberikan kesempatan kepada anak didiknya untuk mau
  mengungkapkan apa yang menjadi kebutuhan dan kesulitan mereka dalam
  belajar. Dari pengungkapan ini akan terlihat kesulitan mereka
  sehingga guru pun bisa menyajikan bahan yang sesuai dengan kebutuhan
  anak didik. Selain itu, cara ini juga memungkinkan guru untuk dapat
  menolong anak didik yang mengalami kesulitan dalam belajar.

  Guru sebagai pendidik juga mencakup perannya sebagai seorang
  fasilitator. Seorang fasilitator adalah seorang yang menyediakan
  bahan buat anak didiknya. Sudah menjadi tugas seorang guru untuk
  selalu menyajikan bahan atau materi pelajaran buat anak didiknya.
  Penyajian bahan ini sama halnya dengan penyajian makanan. Seseorang
  akan makan dengan lahap jika makanan itu baru dan enak. Demikian
  juga dengan bahan/materi pelajaran yang diberikan oleh guru. Materi
  itu hendaknya sesuatu yang "baru" dalam arti yang baru didapat dari
  persiapan guru. Sedangkan yang "enak" berarti menarik dalam
  penyajian. Jadi, seorang guru harus selalu mempunyai bahan/materi
  yang siap untuk diberikan kepada anak didik.

  Namun, dalam menjalankan perannya sebagai pendidik, guru juga
  menghadapi hambatan-hambatan. Pulias dan Young memaparkan dua
  hambatan yang dapat berpengaruh pada proses belajar-mengajar.
  Pertama, seorang guru yang telah mengajar satu mata pelajaran untuk
  jangka waktu yang cukup lama/panjang atau yang telah sangat
  menguasai pokok-pokok penting tersebut, seringkali lupa bagaimana
  sukarnya mempelajari sesuatu yang baru. Dia juga kurang menyadari
  bahwa anak didiknya belum mempunyai pengetahuan dasar yang sangat
  dibutuhkan untuk menerima pengetahuan yang lebih tinggi. Dengan
  begitu, seorang pendidik seringkali tidak dapat atau kurang sabar
  menghadapi anak didik yang agak lambat menerima pelajaran atau hal-
  hal yang baru bagi dirinya. Kedua, seorang guru sering dihinggapi
  perasaan bosan terhadap satu mata pelajaran yang telah diajarkannya
  berulang-ulang. Perasaan bosan ini dapat menurunkan gairah mengajar
  dan sudah pasti akan menjalar pula kepada anak didiknya, yaitu
  kehilangan gairah belajar.

  Bahkan seorang tokoh pendidik Kristen lainnya yang bernama Lawrence
  O. Richards mengemukakan bahwa yang menghambat seorang pendidik
  adalah bila ia mengharapkan hasil pengajarannya secara otomatis dan
  "instan" (cepat/kilat) dapat diterima oleh anak didik tanpa
  memikirkan aspek dan tahap-tahap belajar. Oleh karena itu, beliau
  mengemukakan aspek-aspek dan tahap-tahap belajar yang dapat menolong
  pendidik untuk lebih mengenal anak didiknya. Adapun aspek dan
  tahapan belajar itu adalah sebagai berikut.

  a. Tahap menghafal tanpa berpikir.
     -------------------------------
     Belajar pada tahap ini adalah saat seseorang mengulangi sesuatu
     di luar kepala tanpa memikirkan apa arti dari yang dihafalkan.
     Jika pengajaran yang diberikan guru berhenti sampai tahap ini,
     pengajarannya akan sia-sia.

  b. Tahap mengenali.
     ----------------
     Tahap kedua ini adalah tahap kemampuan seseorang untuk mengenali
     sesuatu yang baru dikatakan atau dibacakan. Mereka mengenali dan
     menyetujui gagasan yang sudah mereka kenal dengan baik. Tetapi
     mereka tidak mengerti maksudnya. Mereka tidak dapat melihat
     hubungan antara yang diterimanya dengan kebutuhan pribadinya.

  c. Tahap mengucapkan kembali dengan kata-kata sendiri.
     ---------------------------------------------------
     Tahap pengajaran seperti ini diperlukan walaupun belum cukup.
     Pada tahap ini seorang pelajar sudah memiliki pengertian tentang
     hubungan antara beberapa gagasan dan kesanggupan untuk
     menjelaskan suatu kesatuan pikiran secara lengkap tanpa diberi
     petunjuk karena gagasan itu sudah dikuasainya. Namun, hal itu
     belum cukup karena ia belum dapat menghubungkan gagasan tersebut
     dengan dirinya sendiri. Karena itu, tahap yang diperlukan
     selanjutnya adalah tahap menghubungkan.

  d. Tahap menghubungkan.
     --------------------
     Tahap ini meliputi kesanggupan untuk menghubungkan kebenaran
     gagasan yang diterima dengan kehidupannya. Hal ini dapat terjadi
     apabila seseorang dalam kata-katanya sendiri memikirkan
     kebenaran-kebenaran gagasan. Pada saat demikian, mungkin secara
     tiba-tiba ia melihat makna dari kebenaran itu dapat diterapkan
     dalam kehidupannya sendiri.

     Apabila seorang pelajar melihat adanya hubungan seperti itu
     dengan sendirinya, dan apabila secara sekilas ia melihat adanya
     suatu pengertian yang baru, yang cocok dan berarti untuk
     kehidupannya, pada saat itulah terbuka suatu jalan untuk memberi
     respon secara pribadi.

  e. Tahap merealisasi/mewujudkan.
     -----------------------------
     Tahap inilah yang menjadi sasaran dari semua kegiatan belajar-
     mengajar, yaitu merealisasikan, dalam pengertian membuatnya nyata
     dalam pengalaman hidup pelajar itu sendiri.

  Dengan memahami tahap-tahap di atas, pendidik dapat mengerti bahwa
  seorang dapat belajar dalam beberapa tahap yang berbeda-beda,
  demikian juga anak didik.

  Bahan diedit dari sumber:
  Judul Majalah     : Sahabat Gembala, Edisi Desember 1993
  Judul Artikel Asli: Quovadis Guru Kristen?
  Penulis           : Yoke Tode S.Th.
  Penerbit          : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993
  Halaman           : 11 - 21


^o^ TIPS (1) ------------------------------------------------------^o^

                  ^ SIFAT SEORANG PENDIDIK KRISTEN ^
                    ==============================

  Salah satu faktor terpenting dalam pendidikan adalah guru atau
  pendidik. Sebab itu, selain metodologi pengajaran, sifat seorang
  pendidik memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap keberhasilan
  pelayanan anak. Sifat-sifat seperti takut Tuhan, mau mengampuni,
  rela berkorban, setia memegang janji, tanggung jawab, sabar, dan
  kreatif, perlu dimiliki oleh para pelayan anak. Menurut Pdt. Dr.
  Stephen Tong, kita dapat memperoleh sifat-sifat di atas apabila kita
  menjadi pendidik seperti berikut ini.

  1. Pendidik yang Mencintai Tuhan.
     ------------------------------
     Seorang guru pertama-tama haruslah seorang pribadi yang mengasihi
     Tuhan. Dengan sifat ini, ia akan dapat mencapai keberhasilan
     seperti yang diharapkan Tuhan. Dengan sifat ini pula ia dapat
     memiliki motivasi yang benar untuk melayani Tuhan. Orang semacam
     ini tidak akan mudah putus asa dan tidak mudah merasa kecewa
     sehingga tidak akan sekali-kali mengambil keputusan untuk
     mengundurkan diri sebagai guru. Jadi, karena pelayanan ini adalah
     mandat Allah, si pelaksana mandat (guru) haruslah orang yang
     takut kepada sang pemberi mandat (Tuhan). Dengan demikian, mandat
     tersebut dapat dilaksanakan sebaik-baiknya.

  2. Pendidik yang mencintai kebenaran.
     ----------------------------------
     Pelayanan yang dilakukan seorang guru adalah usaha untuk
     menceritakan atau menyampaikan kebenaran Tuhan. Karena itu,
     sebagai pembawa kebenaran, seorang guru juga harus mencintai
     kebenaran. Seperti sebuah pipa yang menghubungkan tandon air
     dengan wadah penerima, jika pipanya kotor, air yang melewatinya
     juga akan menjadi kotor. Seseorang yang mencintai kebenaran akan
     dapat menyampaikan pesan atau berita dengan kuasa karena berita
     yang disampaikannya telah dialami, dijalani, atau mungkin juga
     sedang digumulinya. Seorang guru yang mencintai kebenaran akan
     dapat menyampaikan atau menularkan berita kebenaran, cara hidup
     yang benar, dan hidup yang benar pula kepada murid-muridnya.

  3. Pendidik yang mencintai murid.
     ------------------------------
     Cinta akan menimbulkan perbedaan dalam tindakan seseorang. Dari
     luar orang akan dapat melihat apakah seorang guru melayani karena
     mencintai anak-anak yang dilayaninya, karena ikut-ikutan, sekedar
     untuk mengisi waktu, atau untuk alasan lainnya. Dengan cinta,
     seorang guru akan melayani anak-anak secara lebih sungguh-
     sungguh. Dengan cinta, ia rela berkorban waktu, uang, dan tenaga,
     atau dengan kata lain mau membayar harga. Ia juga akan mau
     memaafkan kesalahan dari anak-anak yang dicintainya. Selain itu,
     karena cinta pula ia akan mengajarkan yang benar, bukan yang
     salah atau menyesatkan. Dengan cinta ia dapat memerhatikan dengan
     lebih baik, tahu jika ada anak yang mengalami masalah, dan mampu
     melihat kebutuhan anak-anak yang dilayaninya.

  Bahan diedit dari sumber:
  Judul buku        : Menciptakan Sekolah Minggu
  Judul artikel asli: Sifat Pelayan Anak
  Penulis           : Sudi Aryanto dan Helena Erika
  Penerbit          : Gloria Graffa, Yogyakarta, 2003
  Halaman           : 72 - 74


^o^ TIPS (2) ------------------------------------------------------^o^

           ^ PERATURAN DAN KESALAHAN DALAM MENDIDIK MURID ^
             ============================================

  Mungkin sebagai seorang guru kita akan lebih banyak mendidik murid-
  murid kita dalam ruang kelas. Mendidik mereka menjadi bagian dalam
  proses belajar. Peraturan dan pelanggaran apa saja yang dapat
  membuat kita berhasil atau gagal dalam mendidik para murid di kelas
  kita sendiri?

  PERATURAN PRAKTIS

  1. Bantulah murid memperoleh pemahaman yang jelas mengenai tugas
     yang harus dikerjakan.

  2. Beritahukan dia bahwa kata-kata dalam pelajaran telah dipilih
     secara teliti, bahwa kata-kata itu mengandung makna khusus yang
     penting untuk dicari tahu artinya.

  3. Perlihatkan kepadanya bahwa biasanya ada lebih banyak hal yang
     tersirat daripada yang dikatakan langsung.

  4. Mintalah ia menerangkan dengan kata-katanya sendiri tentang arti
     pelajaran itu menurut pemahamannya. Dengan demikian, anak harus
     tekun sehingga ia menangkap seluruh maksud pelajaran.

  5. Biarlah murid itu senantiasa ditanya "mengapa?", sampai ia
     menyadari bahwa ia diharapkan untuk memberikan alasan yang tepat
     sesuai pendapatnya. Tetapi hendaknya anak itu juga mengerti
     dengan jelas bahwa alasan-alasan itu harus sesuai dengan bahan
     yang sedang dipelajari.

  6. Berusahalah untuk menjadikan murid itu seorang "penyelidik yang
     bebas" -- seorang yang mempelajari masalah kehidupan dan mencari
     kebenaran. Kembangkanlah kebiasaan dalam dirinya untuk suka
     menyelidik lebih mendalam.

  7. Bantulah ia untuk menguji pengertian-pengertiannya guna
     mengetahui apakah pengertiannya itu sudah persis dengan apa yang
     diajarkan menurut kemampuannya.

  8. Berusahalah senantiasa mengembangkan sikap murid agar ia dapat
     menghormati kebenaran sebagai sesuatu yang mulia dan abadi.

  9. Didiklah murid-murid untuk membenci kepalsuan, perselisihan kata,
     dan senantiasa menjauhinya dengan cara mengucapkan kebenaran dan
     kata-kata yang menimbulkan perasaan positif dalam diri mereka.

  KESALAHAN-KESALAHAN

  1. Murid ditinggalkan dengan pengertian yang kurang lengkap dan
     kabur karena gagal memikirkan pelajaran itu hingga jelas.
     Keinginan guru untuk melanjutkan pelajaran menghalangi waktu
     untuk berpikir.

  2. Guru telah memaksakan untuk memakai "bahasa buku" sehingga murid
     tidak lagi merasa terdorong untuk menguraikannya dengan kata-kata
     sendiri. Ia mendapat kesan seolah-olah yang penting hanyalah
     kata-katanya, bukan pengertiannya.

  3. Kelalaian guru untuk menyuruh murid berpikir sendiri merupakan
     suatu kesalahan yang paling sering dilakukan dalam ruang kelas.

  4. Seringkali guru tidak meminta murid-muridnya untuk memberi alasan
     bagi pernyataan-pernyataan dalam pelajaran sehingga murid-murid
     itu tidak terbiasa untuk memberikannya. Murid itu percaya saja
     pada apa yang dikatakan karena ada di dalam buku.

  5. Penerapan praktis pelajaran itu selalu diabaikan. Murid itu tidak
     menyadari tentang manfaat pelajaran.

  Bahan diedit dari sumber:
  Judul buku        : Tujuh Hukum Mengajar
  Judul artikel asli: Hukum yang Bersangkutan dengan Proses Belajar
  Penulis           : John Milton Gregory
  Penerbit          : Gandum Mas, Malang
  Halaman           : 142 - 146


^o^ WARNET PENA ---------------------------------------------------^o^

                      ^ SPARKLES AND FRIENDS ^
                        ====================
              http://www.ilovejesus.com/myhome/sparkles/

  Sebagian besar isi situs berbahasa Inggris ini adalah cerita anak-
  anak, baik tentang Yesus maupun cerita-cerita lain yang disukai
  anak-anak. Dengan mengklik link "More Stories", Anda dapat
  memperoleh sejumlah cerita yang akan menolong anak-anak untuk
  mengerti lebih banyak tentang Yesus. Bagi anak-anak yang suka
  bermain teka-teki, mereka akan memperoleh kiriman "Free Puzzle Club
  Book" hanya dengan mengklik bagian "Puzzle Club". Selain bagian-
  bagian tersebut, situs ini juga memuat surat anak-anak kepada Shep.
  Shep adalah tokoh di situs ini yang suka sekali membagikan
  pengalamannya untuk menunjukkan betapa besar kasih Tuhan Yesus
  padanya dan pada anak-anak. Ingin segera berkunjung dan berkenalan
  dengan Shep? Arahkan saja browser Anda ke alamat situs ini.

  Sumber diedit dari:
  Nama situs: LINKS
  Alamat URL: http://www.sabda.org/links/detail/ilovejesussparkles.htm


^o^ DARI ANDA UNTUK ANDA ------------------------------------------^o^

  Dari: Kristina W. <chris_tin4(at)>
  >Bisakah mendapatkan referensi buku-buku pedoman yang digunakan
  >e-BinaAnak? Saya butuh karena akan membuat perpustakaan gereja.
  >Terima kasih untuk kerjasamanya.
  >Kristina

  Redaksi:
  Buku-buku yang kami gunakan sebagai bahan referensi e-BinaAnak dapat
  Anda peroleh di toko buku Kristen. Bila Anda ingin mengetahui daftar
  buku-buku yang menjadi referensi tersebut, kami persilakan untuk
  mengunjungi alamat berikut ini.
  ==> http://www.sabda.org/pepak/sumber/


^o^ DARI MEJA REDAKSI ---------------------------------------------^o^

            ^ PEMBUKAAN KELAS GURU SEKOLAH MINGGU (GSM) ^
              =========================================

  Kabar gembira bagi Anda yang terlibat dalam pelayanan di sekolah
  Minggu (SM)! PESTA <http://www.pesta.org/> akan membuka Kursus Kelas
  Online bagi para guru SM yang ingin membekali diri agar dapat
  melayani anak-anak dengan lebih mantap. Kursus ini merupakan kursus-
  kursus dasar untuk mempelajari visi, misi, dan hal-hal penting yang
  harus dipahami oleh seorang guru SM. Pendaftaran untuk mengikuti
  Kursus Kelas Guru Sekolah Minggu (GSM) ini telah dimulai. Bagi yang
  tertarik, segeralah mengisi formulir di bawah ini.

  Sebarkan informasi ini kepada teman-teman Anda yang melayani di
  sekolah Minggu. Untuk mulai mendaftar, silakan kirim surat atau isi
  formulir di bawah ini dan kirimkan ke:
  ==> Staf PESTA < kusuma(at)in-christ.net >

____________________________potong di sini____________________________

          FORMULIR PENDAFTARAN KURSUS GURU SEKOLAH MINGGU
           ===============================================

Isilah data pribadi berikut ini dengan lengkap:
-----------------------------------------------

Nama                    :
E-mail                  :
Alamat lengkap          :
Kota                    :
Provinsi                :
Negara                  :
Kode pos                :
Tempat, tanggal lahir   :
Status menikah          :
Pekerjaan               :
Pendidikan akhir        :
Talenta/keterampilan    :
Keanggotaan gereja      :
Jabatan pelayanan       :
Komputer yang dipakai   : [ ] rumah atau [ ] kantor

DATA PELAYANAN (harus diisi lengkap)
------------------------------------

1.  Kapan untuk pertama kalinya Anda terlibat dalam pelayanan sekolah
    Minggu?

2.  Mengapa Anda tertarik untuk melayani di sekolah Minggu?

3.  Apakah sampai sekarang Anda masih melayani di sekolah Minggu?
    Jadi, berapa lama Anda sudah menjadi guru sekolah Minggu?

4.  Tugas-tugas apa yang Anda kerjakan dalam pelayanan sekolah Minggu?

5.  Berapa jumlah seluruh murid sekolah Minggu di gereja Anda?

6.  Berapa jumlah murid di kelas sekolah Minggu yang Anda pegang?

7.  Berapa jumlah guru yang bersama-sama melayani dalam kelas sekolah
    Minggu Anda?

8.  Berapa jumlah seluruh guru sekolah Minggu dalam gereja Anda?

9.  Berapa jumlah jemaat dewasa di gereja Anda?

10. Apakah Anda pernah mendapat pelatihan (training) khusus tentang
    bagaimana melayani sekolah Minggu? Kalau pernah berapa kali?

potong di sini___________________Kirim ke: < kusuma(at)in-christ.net >


^o^ MUTIARA GURU --------------------------------------------------^o^

    Pendidik terlibat dalam proses pengubahan sikap dan tata laku
      seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan
          manusia melalui upaya pengajaran dan latihan.
                           - Yoke Tode -

^o^----------------------------------------------------------------^o^
               Staf Redaksi: Davida, Ratri, dan Lisbet
      Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
             Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
                 Copyright(c) e-BinaAnak 2006 -- YLSA
        http://www.sabda.org/ylsa/  ~~ http://katalog.sabda.org/
                     Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                  No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
^o^----------------------------------------------------------------^o^
Anda terdaftar dengan alamat email: $subst(`Recip.EmailAddr`)
Alamat berlangganan : < subscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org >
Alamat Berhenti     : < unsubscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org >
Arsip e-BinaAnak    : http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen:  http://www.sabda.org/pepak/
><> --------- PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN ANAK --------- <><

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org