Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-binaanak/262

e-BinaAnak edisi 262 (13-1-2006)

Bertanggung Jawab dalam Keuangan


   ><>  Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak  <><
        ==================================================

Daftar Isi:                                          262/Januari/2006
----------
    ^o^ SALAM DARI REDAKSI
    ^o^ ARTIKEL             : Anak-anak Anda dan Uang Saku
    ^o^ TIPS                : Mengajar Anak Menggunakan Uang
    ^o^ BAHAN MENGAJAR      : Mengampuni Hutang-hutang
    ^o^ WARNET PENA         : Virtual Church Kids
    ^o^ DARI ANDA UNTUK ANDA: Usulan untuk Bahan Mengajar

^o^---------------------------------------------------------------^o^
 Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi:
  <staf-BinaAnak(at)sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
^o^ SALAM DARI REDAKSI

  Salam kasih dalam Yesus Kristus,

  Anak-anak, khususnya usia sekolah, biasa mulai mengerti kegunaan
  uang. Karenanya mereka mudah tergoda untuk membeli sesuatu yang
  menarik hatinya dengan uang yang mereka dapatkan dari orang tua
  atau orang dewasa lain di keluarganya. Namun apakah bijaksana bagi
  orang tua untuk selalu memberikan uang kepada anak tanpa terlebih
  dahulu memberi pengajaran bagaimana bertanggung jawab dalam
  menggunakan uang?

  Bagaimana Guru Sekolah Minggu dapat menolong orang tua untuk
  mengajar anak bertanggung jawab tentang masalah uang ini? Silakan
  simak sajian Publikasi e-BinaAnak edisi kali ini yang menampilkan
  berbagai referensi menarik seputar masalah keuangan dan anak. Tidak
  lupa pada edisi ini kami juga memuat review singkat mengenai sebuah
  situs gereja online yang ditujukan untuk anak.

  Akhir kata, Redaksi mengucapkan selamat membaca.

  Tim Redaksi
  (Tri Hardhono)

    Janganlah kamu menjadi hamba uang dan
    cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.
          Karena Allah telah berfirman:
          "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau
              dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."
              (Ibrani 13:5)
              < http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=Ibrani+13:5 >


^o^ ARTIKEL ------------------------------------------------------ ^o^

                    ^ ANAK-ANAK ANDA DAN UANG SAKU ^
                      ============================
       Apa yang Mereka Pelajari tentang Tanggung Jawab Keuangan?

  Mengajar anak-anak tentang bagaimana menjadi bendahara yang bijak
  dalam menangani sumber penghasilan mereka merupakan pokok yang
  penting yang harus diajarkan oleh orang tua Kristen. Dan cara yang
  baik untuk mulai mendidik mereka di dalam hal ini ialah dengan
  melatih mereka tentang bagaimana menggunakan uang. Salah satu cara
  yang terbaik bagi anak-anak untuk belajar tentang keuangan ialah
  dengan memberikannya uang saku.

  Banyak orang tua yang tidak terbiasa memberikan uang saku secara
  teratur, mereka hanya memberikan uang kepada anak-anak mereka secara
  tidak teratur dan tidak terencana, dan memberikannya hanya kalau
  diminta. Cara pemberian uang yang demikian itu tidaklah mengajarkan
  kepada mereka bagaimana mengelola uang. Anak-anak harus meminta-
  minta uang dan orang tua selalu harus memutuskan pada saat itu juga
  apakah setiap permintaan mereka itu patut dan dapat diberikan atau
  tidak.

  Jika kita memberikan uang saku secara teratur maka masalah-masalah
  seperti ini dapat dicegah, namun ada banyak pandangan yang sangat
  berbeda tentang bagaimana cara yang terbaik untuk memberikan uang
  saku itu. Ada orang tua yang hanya memberikan uang saku sebagai upah
  untuk anak-anak yang menyelesaikan tugas-tugasnya di rumah. Ada
  orang tua lain yang memberikan uang saku secara teratur tetapi kalau
  tugas-tugas di rumah tidak diselesaikan atau kalau ia nakal, maka
  sebagai hukuman uang saku itu tidak diberikan. Banyak orang tua
  berpendapat bahwa cara-cara ini mendorong anak-anak untuk menjadi
  baik hanya karena uang, dan memandang tugas-tugas harian di rumah
  hanya sebagai pekerjaan untuk mendapat upah dan bukan sebagai
  tanggung jawab yang wajar sebagai anggota keluarga. Selain itu
  karena uang itu diberikan secara tidak teratur, maka sulit bagi
  anak-anak itu untuk belajar bagaimana merencanakan anggaran atau
  menabung penghasilan mereka.

  Ada juga orang tua yang memberikan uang saku secara teratur dan
  jumlahnya pun tetap, mereka tidak menuntut syarat apa-apa. Nampaknya
  sistem semacam inilah yang paling baik untuk melatih anak-anak
  belajar membuat anggaran belanja, tetapi memang sistem ini tidak
  cukup untuk mengajarkan kepada anak-anak kaitan antara kerja dan
  upah.

  Rupanya pendekatan yang terbaik ialah kombinasi dari kedua cara itu.
  Berikanlah kepada setiap anak sejumlah uang saku secara teratur dan
  jumlah itu pun harus diperhitungkan sesuai dengan berapa kebutuhan
  dasar mereka, ditambah lagi dengan sejumlah uang yang dapat mereka
  pakai sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Uang saku jenis ini
  merupakan uang yang menjadi bagian anak itu dari penghasilan
  keluarga karena ia merupakan salah seorang anggota keluarga. Selain
  itu, ia juga bertanggung jawab untuk melaksanakan beberapa tugas di
  dalam urusan rumah tangga, jika ia tidak memenuhi kewajibannya ia
  harus didisiplin dengan cara lain dan bukan dengan jalan tidak
  memberikan uang sakunya. Sebagai penghasilan tambahan ia dapat
  diberi upah untuk melakukan pekerjaan ekstra, yaitu pekerjaan yang
  biasa dilakukan orang lain dengan jalan Anda mengupahnya, misalnya
  memotong rumput atau mencuci mobil. Penghasilan tambahan ini akan
  mengajarkan kepada si anak tentang hubungan antara pekerjaan dan
  upah. Dan penghasilan yang diperolehnya dengan cara ini dapat
  dipergunakannya untuk hal-hal yang disenanginya dan bukan untuk
  kebutuhannya yang dasar.

  Efektivitas uang saku untuk membina rasa tanggung jawab dalam soal
  keuangan dan dalam soal mengenal nilai uang sebagian besar sangat
  bergantung pada berapa banyak uang yang diberikan dan pada pedoman-
  pedoman yang Anda berikan dalam hal penggunaan uang itu. Berikut ini
  terdapat beberapa prinsip yang penting:

  1. Bagaimana cara Anda sendiri mengelola uang Anda merupakan
     pernyataan yang paling menentukan, tak peduli apa pun yang Anda
     katakan.

  2. Uang saku harus diberikan secara teratur, tepat pada waktunya,
     dan tanpa harus diingatkan. Pemberian uang saku secara teratur
     merupakan kunci untuk mengajarkan disiplin dalam penggunaan uang.

  3. Anda harus menjaga agar sedapat mungkin uang saku itu tidak
     diberikan sebelum waktunya. Janganlah memberi lebih atau kurang
     dari jumlah yang sudah disepakati agar anak Anda dapat belajar
     mengatur pengeluaran dan pendapatannya itu secara seimbang.

  4. Besarnya uang saku harus didasarkan pada apa yang Anda mau ia
     lakukan dengan uang itu, dengan mempertimbangkan umur anak,
     kemampuan, dan kebutuhannya, serta keadaan dalam keluarga.

  5. Tambahkan juga pada jumlah uang sakunya itu sejumlah uang yang
     dapat dipakai sesuka hatinya agar ia dapat belajar bagaimana
     memilih dengan bijaksana dalam membelanjakan uangnya.

  6. Anda juga bertanggung jawab untuk melakukan semacam pengawasan
     agar dapat menjaga supaya pengeluarannya berada dalam batas-batas
     peraturan dan nilai-nilai yang dijunjung oleh keluarga.

  7. Janganlah memakai uang saku sebagai alat untuk "membeli" kasih
     sayang.

  Berikut ini terdapat beberapa cara untuk menolong agar anak Anda
  dapat bertanggungjawab dalam soal keuangan:

  a. Mulailah dengan menolong anak-anak Anda yang belum sekolah
     untuk dapat mengerti tentang berbagai pecahan mata uang lima
     puluh rupiah, seratus, lima ratus, dan seribu rupiah sambil
     bermain pasar-pasaran. Selain itu kadang-kadang ajaklah ia untuk
     ikut pergi berbelanja dengan Anda, dan pada waktu itu berikanlah
     uang kecil agar ia sendiri dapat membeli apa yang ia mau. Dengan
     demikian Anda sudah mengajarkan kepada anak Anda bahwa uang
     adalah sarana untuk jual-beli.

  b. Seorang anak kecil yang sudah mulai bersekolah dapat dipercayakan
     untuk membeli makanan kecil, hadiah-hadiah keluarga, dan barang-
     barang kecil lainnya. Ajarkanlah anak itu pentingnya memisahkan
     terlebih dahulu perpuluhannya bagi Tuhan. Kemudian tolonglah anak
     itu untuk menyusun anggaran belanjanya pada sehelai kertas, untuk
     mencatat segala pengeluaran tetap yang menjadi tanggung jawabnya,
     dan hal-hal lain yang ingin dibelinya. Doronglah untuk
     menyisihkan suatu jumlah tertentu untuk ditabung, dan lebih baik
     lagi jika Anda memberikan satu sasaran jangka panjang.

  c. Di antara umur tujuh dan sembilan tahun, kebanyakan anak sudah
     siap untuk mulai mengelola uang saku mingguan dengan mencatat
     anggaran belanjanya pada sehelai kertas. Hal-hal yang dipilihnya
     untuk dibeli dari uang tabungannya akan dapat memberikan
     kepadanya pelajaran yang penting sekali dalam soal keuangan.
     Dengan bertambah besarnya anak Anda, ia akan dapat menabung untuk
     pembelian-pembelian yang lebih besar. Jika ia beberapa kali
     keliru dalam memilih barang yang akan dibeli oleh uang
     simpanannya maka hal itu akan dengan cepat sekali mengajarkan
     kepadanya kaitan harga dengan mutu barang yang dibelinya.
     Biarkanlah anak Anda belajar dengan jalan mengalaminya sendiri
     walau memang hal itu merupakan pengalaman yang pahit: Janganlah
     Anda mencoba "menolong" dengan mengganti kerugian yang
     dideritanya, dan usahakanlah untuk tidak memberi komentar, "Apa
     saya bilang!"

  d. Kadang-kadang mengikutsertakan anak yang masih di bawah umur
     sepuluh tahun dalam membicarakan masalah keuangan keluarga akan
     merupakan cara yang baik bagi anak itu untuk menyadari bahwa
     pendapatan rumah tangga itu terbatas, dan bahwa kadang-kadang
     memang sulit untuk mengambil keputusan tentang yang mana yang
     harus didahulukan. Dan percakapan keluarga ini juga dapat menjadi
     waktu yang baik untuk memberikan pengertian kepada anak-anak
     tentang pajak, asuransi, jaminan sosial, dan masalah kredit.
     Biarkan anak Anda ikut serta dalam menentukan tentang apakah
     keluarga Anda akan membeli mobil atau akan mengubah bentuk
     ruangan. Namun demikian, Anda juga harus memastikan agar anak
     Anda tidak ikut serta memikul beban keuangan keluarga yang sedang
     krisis, atau mempunyai perasaan bersalah karena menjadi beban
     keluarga.

  e. Ingat juga bahwa dengan bertambahnya usia anak Anda, bertambah
     besar pula kebutuhannya akan uang. Baik sekali jika Anda meninjau
     kembali besarnya uang saku anak Anda dua kali setahun. Seorang
     anak remaja perlu dianjurkan untuk mulai bekerja di luar bila ada
     kesempatan, dan upah yang diperoleh sebagai hasil kerjanya harus
     dipisahkan dari uang sakunya supaya anggaran belanjanya tetap
     seimbang. Anda juga dapat mencanangkan agar ia membeli barang
     yang cukup mahal seperti misalnya membeli sepeda atau sepeda
     motor, atau apa saja yang masih dalam jangkauannya. Dan
     ajarkanlah agar ia mendisiplin dirinya untuk menabung secara
     teratur misalnya dengan menjanjikan untuk menyediakan setengah
     dari harga barang yang akan dibeli jika anak itu mau menabung
     yang setengahnya lagi.

  Bagaimanapun cara Anda mengatur uang saku anak Anda, ingatlah:
  pelajaran yang terbaik yang dapat dipelajari oleh anak-anak Anda
  tentang keuangan itu ialah teladan Anda. Sudahkah Anda sendiri
  menjadi teladan dalam soal mengatur prioritas, dalam soal menentukan
  mana yang lebih berharga, dan dalam soal menjadi bendahara Kristen
  yang baik sebagaimana yang ingin Anda ajarkan kepada anak-anak
  Anda?

  Sumber diedit dari:
  Judul Buku   : 40 Cara Mengarahkan Anak
  Judul Artikel: Anak-anak Anda dan Uang Saku
  Penulis      : Paul Lewis
  Penerbit     : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993
  Halaman      : 17 - 21


^o^ TIPS ---------------------------------------------------------^o^

                  ^ MENGAJAR ANAK MENGGUNAKAN UANG ^
                    ==============================

  Tanya jawab berikut ini diringkas dari transkrip kaset TELAGA (Tegur
  Sapa Gembala Keluarga - T072B). Bersama Pdt. Paul Gunadi, Ph.D.
  sebagai narasumbernya, kita akan belajar tentang cara mengajar anak
  agar bertanggung jawab dalam hal penggunaan uang.

------
  T : Bagaimana orang tua mengajarkan kepada anaknya di dalam
      menggunakan uang yang dipercayakan kepadanya?

  J : Sebelum kita masuk ke saran-saran praktisnya, kalau kita teliti
      dalam firman Tuhan ada satu tema yang mengalir dengan sangat
      kuat terutama di Perjanjian Baru tentang uang. Kita tahu Tuhan
      pernah berkata, "Engkau tak bisa melayani Tuhan dan Mamon."
      Mamon adalah representasi atau perlambangan dari uang, dengan
      kata lain ada satu hal yang Tuhan setarakan dengan diri-Nya yang
      begitu mengancam manusia dan berpengaruh terhadap manusia selain
      Tuhan, yakni uang. Jadi kalau kita menyadari bahwa Alkitab
      sendiri memberi begitu banyak peringatan tentang harta dan
      tentang uang, sudah pada tempatnyalah kita sebagai orang tua
      juga memperhatikan aspek ini. Ini adalah aspek kehidupan atau
      aspek dalam mendidik anak yang cukup sering terabaikan dan
      sekarang kita baru disadarkan bahwa ini adalah hal yang sangat
      penting sekali. Tuhan tahu bahwa hal ini bisa mengikis iman
      seseorang. Uang bisa menghambat pertumbuhan rohani kita, jadi
      sudah pada tempatnyalah kita sekarang sebagai anak-anak Tuhan
      memberi perhatian yang lebih besar terhadap uang dalam rumah
      kita. Bagaimana kita bisa mengajar anak-anak kita bersikap
      terhadap uang dan memakai uang dengan lebih bijaksana.
------
  T : Bagaimana sebaiknya cara mengatur untuk memberikan uang jajan
      kepada anak-anak itu?

  J : Anak-anak memang tidak lepas dari uang jajan. Biasanya kita
      mulai memperkenalkan uang pada anak dalam bentuk uang jajan.
      Sebelumnya uang itu dipegang oleh kita, dan barang-barang yang
      dia butuhkan kita yang membelikannya. Pada waktu anak-anak sudah
      berusia misalnya 6 tahun mulailah memberikan uang jajan. Konsep
      uang jajan menolong anak belajar mengatur uang, inilah aspek
      pertama yang kita harus ajarkan kepada anak. Anak bisa mengatur
      uang karena dia memegang uang, tanpa uang di tangannya tidak ada
      yang harus diatur. Pada anak-anak di bawah umur 8 tahun, kita
      beri uang jajan itu sehari demi sehari, mungkin kita bisa
      terapkan ini sampai kelas 6 SD. Anak-anak akan secara alamiah
      memberitahukan kita tadi beli ini itu, dari situ kita mulai tahu
      kira-kira apa yang ingin dia beli setiap hari dan kita bisa
      perhitungkan secara pas berapa uang yang dia butuhkan. Itu tahap
      pertama dalam pengaturan uang. Sewaktu anak-anak sudah SMP,
      sudah waktunya anak-anak diberikan uang yang lebih banyak.
      Misalnya kita berikan uang jajan untuk 3 hari tapi kita lebihkan
      sedikit untuk yang dia ingin beli. Dari situ dia mulai bisa
      belajar mengatur uangnya. Pada waktu anak duduk di bangku SMU,
      kita bisa berikan dia uang jajan untuk 1 minggu, termasuk uang
      yang dia pakai ketika pergi bersama temannya pada hari Sabtu
      atau Minggu. Dia harus belajar mengatur uang untuk keperluannya
      dan tidak bisa lagi meminta dari kita, karena itu adalah alokasi
      dana yang kita berikan kepadanya.
------
  T : Prinsip apa yang bisa kita ajarkan kepada anak-anak tentang
      pemakaian uang?

  J : Kita bisa mengajarkan prinsip pemakaian uang yakni membedakan
      antara yang perlu dan yang tidak perlu. Membedakan antara
      membeli sesuatu yang hanya untuk menyenangkan hati, yang sedang
      model atau yang benar-benar dia butuhkan. Adakalanya anak
      membeli sesuatu bukan karena dia perlu, tapi karena menyenangkan
      hatinya. Atau adakalanya dia beli karena barang itu sedang model
      dan teman-temannya membelinya juga. Tapi yang penting adalah
      kita mulai mengajarkan kepadanya untuk melihat berapa uang yang
      dia punya, kalau uangnya hanya bisa untuk membeli barang yang
      dibutuhkan, itu yang harus dia utamakan. Setelah itu baru barang
      yang ia sukai dan yang terakhir kalau masih ada uang sisa bisa
      untuk membeli barang yang memang sedang model. Urutan ini jangan
      terbalik-balik, ada kecenderungan anak-anak kalau tidak kita
      ajarkan hal seperti ini begitu ada uang dia akan buru-buru
      membeli barang yang menjadi model. Jadi sejak kecil ajarkan
      bahwa kita adalah juru kunci yang Tuhan percayakan, jangan
      sampai kita sembarangan dengan kepercayaan yang Tuhan telah
      berikan kepada kita.
------
  T : Mengajar anak menabung itu sampai seberapa jauh?

  J : Anak-anak sering kali tidak bisa menabung dengan begitu saja,
      perlu ada objeknya, tujuannya. Misalkan dia ingin sesuatu tapi
      kita tahu harganya sangat tinggi, kita bisa katakan supaya dia
      menabung setiap minggu, nanti setelah misalnya 2 bulan uangnya
      itu akan mencapai ½ harga barang itu ½ nya akan Anda tambahkan,
      tapi ½ nya tetap dari uang tabungannya. Ini menolong anak
      memiliki motivasi menabung. Anak-anak belum mengerti arti
      menabung seperti kita ini, kalau kita menabung karena kita
      memikirkan jauh ke depan.
------
  T : Bagaimana kalau sebaliknya, orang tua mengetahui anaknya
      meminjam uang temannya untuk membeli sesuatu barang?

  J : Kita bisa tanyakan kepada anak apa yang membuatnya tidak meminta
      kepada orang tua tetapi meminjam kepada teman. Biasanya anak
      meminjam kepada teman karena dia tahu dia tidak bisa
      mendapatkannya dari orang tua. Ini bukanlah kebiasaan yang baik,
      Alkitab berkata: "Jangan berhutang kepada siapa pun kecuali
      berhutang kasih." Jadi memang Alkitab sangat menekankan bahwa
      kita sebagai anak Tuhan perlu mandiri, jangan mudah bergantung
      pada orang dalam hal finansial. Katakan kepada si anak bahwa
      berhutang itu bukan kebiasaan baik, meskipun bisa membayarnya
      nanti.
------
  T : Apakah orang tua perlu langsung melunasi hutang anak kita atau
      membiarkannya menanggung sendiri sampai lunas?

  J : Kita harus memberi tanggung jawab itu kepada si anak. Jadi
      uang sakunya berapa dari situlah kita potong, dia juga harus
      merasakan sakitnya membayar hutang. Anak-anak yang tidak pernah
      belajar membayar hutang tidak bisa menghargai artinya pemberian.
      Anak-anak yang terus menerima pemberian cenderung tidak
      menghargai betapa bernilainya pemberian itu. Tetapi ketika anak
      harus membayar sesuatu, hutangnya atau apa, dia lebih menghargai
      artinya pemberian. Jadi tanggung jawab membayar balik harus kita
      embankan pada si anak.

  Sumber diedit dan diringkas dari:
  Transkrip Kaset TELAGA No. #072B
  Situs: TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga)
  URL  : http://www.telaga.org/transkrip.php?anak_menggunakan_uang.htm

  ----------------
  Catatan Redaksi:
  ----------------
  TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga) adalah sebuah program pelayanan
  konseling melalui radio yang diselenggarakan oleh LEMBAGA BINA
  KELUARGA KRISTEN (LBKK). Fokus pelayanan mereka adalah memberi
  pembinaan kepada keluarga Kristen. LBKK telah mengembangkan kiprah
  pelayanannya ke dunia internet dengan mengemas pelayanan TELAGA
  dalam sebuah situs bernama Situs TELAGA. Selain berisi informasi
  tentang pelayanan LBKK dan program TELAGA, situs ini juga
  menampilkan rekaman kaset-kaset TELAGA yang tersedia dengan
  fasilitas audionya termasuk transkrip lengkap (versi tulisan) dari
  semua kaset TELAGA yang telah disiarkan lewat radio.
  ==>   http://www.telaga.org/


^o^ BAHAN MENGAJAR -----------------------------------------------^o^

                     ^ MENGAMPUNI HUTANG-HUTANG ^
                       ========================

  Ketika Gito pergi berpiknik dengan teman-teman sekelasnya, ia
  meminjam lima ratus rupiah dari salah seorang temannya untuk membeli
  es krim. Kemudian dia meminjam dua ribu lima ratus dari temannya
  yang lain untuk membeli oleh-oleh. Setelah itu ia masih meminjam dua
  ribu rupiah lagi dari temannya yang lain lagi untuk membeli sebuah
  poster. Seorang temannya yang lain meminjamkannya lima ratus rupiah
  untuk membeli jagung.

  Dalam perjalanan pulang Gito mulai menghitung jumlah hutang yang
  harus dibayarnya. Ia hampir tidak percaya! Ia telah berhutang lima
  ribu lima ratus rupiah kepada empat temannya! Bagaimana mungkin ia
  dapat mengembalikan uang sebanyak itu?

  Sesampainya di rumah, Gito tampak gelisah sehingga ayah menanyakan
  hal itu kepadanya. Gito pun menceritakan apa yang telah terjadi
  kepada ayahnya. Ia mengatakan bahwa ia menyesal atas apa yang telah
  diperbuatnya.

  Renungan Singkat tentang Hutang:
  -------------------------------

  1. Perbuatan bodoh apakah yang telah dilakukan Gito?
     Bagaimanakah kamu tahu bahwa Gito menyesali perbuatannya?

  2. Seandainya kamu adalah ayah Gito, apakah yang akan kamu katakan
     kepadanya sekarang juga? Apakah yang akan kamu lakukan?

  "Saya akan membayar hutang-hutangmu kali ini," kata ayahnya.
  "Sebagaimana Tuhan Yesus telah membayar hutang-hutang saya."

  "Pernahkah Ayah meminjam uang banyak dari seseorang?" tanya Gito.

  Ayah tersenyum. "Bukan, bukan uang," katanya. "Bila kita berbuat
  dosa, kita berhutang. Kita tidak akan pernah membayar seluruh hutang
  dosa kita. Tetapi Tuhan Yesus berkata bahwa Ia akan membayar seluruh
  hutang dosa kita. Tetapi Tuhan Yesus berkata bahwa Ia akan membayar
  hutang-hutang dosa Ayah. Ayah menyesal atas hutang-hutang dosa ini
  dan meminta Dia membayarnya, dan Ia sungguh-sungguh melakukannya."

  Sudahkah kamu meminta Tuhan Yesus membayar hutang-hutang dosamu?"

  Renungan Singkat tentang Tuhan Yesus dan Kamu:
  ----------------------------------------------

  1. Hutang apakah yang dibayar ayah untuk Gito?
     Hutang apakah yang dibayar Tuhan Yesus untuk ayah?

  2. Sudahkah kamu meminta Tuhan Yesus mengampunimu dan menjadi
     Juruselamatmu? Pada waktu kamu melakukannya, Ia mengampuni
     hutang-hutangmu yang kamu buat karena kamu berbuat dosa,
     sebagaimana yang dilakukan-Nya untuk ayah Gito.

  Bacaan Alkitab:
  ---------------
  Matius 6:9-15

  Kebenaran Alkitab:
  ------------------
  Tuhan Yesus akan mengampuni kita, sebagaimana kita juga mengampuni
  orang lain. (Matius 6:12)

  Doa:
  ----
  Tuhan Yesus, ampunilah saya atas kesalahan-kesalahan yang telah saya
  perbuat. Ingatkanlah saya agar hidup menurut jalan yang Engkau
  kehendaki. Amin.

  Bahan diedit dari sumber:
  Judul Buku: 100 Renungan Singkat untuk Anak-anak
  Penulis   : V. Gilbert Beers
  Penerbit  : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1986
  Halaman   : 78 - 79


^o^ WARNET PENA --------------------------------------------------^o^

                         ^ Virtual Church Kids ^
                           ===================
                  http://www.virtualchurch.org/kids.htm

  Virtual Church Kids adalah situs gereja online yang menyediakan
  beragam bahan kekristenan yang dapat diakses oleh anak-anak
  sehingga mereka dapat belajar untuk semakin mengenal Tuhan lebih
  dekat lagi. Bahan- bahan tersebut berupa cerita-cerita Alkitab,
  gambar-gambar tokoh Alkitab, dan juga beberapa permainan menarik
  untuk anak. Tersedia juga beberapa link ke situs lain yang sejenis.
  Jika Anda ingin tahu lebih banyak, silakan menjelajahi Situs Virtual
  Church Kids ini. [Kiriman dari Hardhono]


^o^ DARI ANDA UNTUK ANDA -----------------------------------------^o^

  Dari: Jean <jhm@>
  >Halo redaksi e-BA. Mau usul nih, bahan mengajarnya kalau bisa
  >selalu ada donk tiap minggunya. Kadang ada edisi yang tidak ada
  >bahan mengajarnya. Soalnya saya sering banget ngambil bahan ngajar
  >dari binaanak. Trims buat perhatiannya .......
  >regards,
  >Jean

  Redaksi:
  Memang tidak selalu Redaksi menyajikan Bahan Mengajar, tapi setiap
  ada bahan yang sesuai dengan tema/topik yang kami pilih maka kami
  pasti akan sajikan untuk Anda. Terima kasih banyak buat usulannya :)

  Nah, untuk menambah koleksi kami, kami mengundang rekan-rekan
  e-BinaAnak yang mempunyai bahan-bahan mengajar, khususnya dari hasil
  tulisan sendiri, untuk mengirimkannya kepada kami. Siapa tahu
  tulisan Anda dapat menjadi berkat. Silakan hubungi kami di alamat:
  ==> < staf-binaanak(at)sabda.org >

  Kami tunggu ya :)


^o^---------------------------------------------------------------^o^
               Staf Redaksi: Davida, Ratri, dan Lisbet
       Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
             Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
                 Copyright(c) e-BinaAnak 2006 -- YLSA
        http://www.sabda.org/ylsa/ ~~ http://katalog.sabda.org/
                     Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                  No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
^o^---------------------------------------------------------------^o^
Anda terdaftar dengan alamat email: $subst(`Recip.EmailAddr`)
Alamat berlangganan : <subscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
Alamat Berhenti     : <unsubscribe-i-kan-BinaAnak(at)xc.org>
Arsip e-BinaAnak    : http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen:  http://www.sabda.org/pepak/
><> --------- PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN ANAK --------- <><

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org