Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-binaanak/182

e-BinaAnak edisi 182 (17-6-2004)

Mendidik

     ><>  Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak  <><

Daftar Isi:                                        Edisi 182/Juni/2004
~~~~~~~~~~~
    o/ SALAM DARI REDAKSI
    o/ ARTIKEL              : Guru Sebagai Pendidik
    o/ TIPS MENGAJAR        : Mendidik Murid untuk Belajar
    o/ BAHAN MENGAJAR       : Hidup Rukun dengan Orang Lain
    o/ DARI ANDA UNTUK ANDA : Tanya Alat Peraga
    o/ MUTIARA GURU

=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
 Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi:
     <staf-BinaAnak@sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak@xc.org>
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
o/ SALAM DARI REDAKSI

  Salam dalam kasih Tuhan,

  Mendidik seorang anak merupakan bagian penting dari tugas dan
  kewajiban seorang guru, karena setiap guru haruslah juga seorang
  pendidik. Jika kita sudah terpanggil untuk terjun dalam dunia
  pendidikan dan pelayanan anak, Anda harus mau dan bisa mendidik
  murid-murid Anda. Untuk itu berusahalah untuk terus mengembangkan
  potensi itu dalam diri Anda demi kemajuan pelayanan Anda.

  e-BinaAnak minggu ini akan membahas secara khusus tentang telenta
  guru dalam mendidik. Melalui sajian-sajian ini Anda akan belajar
  tentang pentingnya peranan yang harus dijalankan guru sebagai
  seorang pendidik, khususnya di Artikel yang berjudul "GURU SEBAGAI
  PENDIDIK". Sedangkan dalam Kolom Tips Mengajar, Anda akan belajar
  tentang beberapa prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam mendidik
  anak untuk belajar. Melalui kantung-kantung kecil berisi dua permen
  coklat, Anda bisa menolong anak-anak untuk hidup rukun dengan orang
  lain. Bagaimana caranya? Anda bisa temukan dalam Kolom Bahan
  Mengajar. Semoga semua bahan yang kami sajikan ini dapat semakin
  mendorong Anda untuk menggali dan mengembangkan potensi Anda dalam
  hal mendidik.

  Tuhan memberkati!

  Tim Redaksi

         "Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan
   dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana,
     adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini." (Titus 2:12)
           < http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=Titus+2:12 >


=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
o/ ARTIKEL

                        GURU SEBAGAI PENDIDIK
                        =====================

  Adalah celaka jika kita mau mendirikan sekolah, yang lebih dahulu
  dipikirkan adalah gedungnya, tetapi kemudian tidak mempunyai guru
  atau dosen yang baik. Celakalah kalau sekolah mempunyai fasilitas
  yang terbaik, tetapi guru-gurunya bermutu rendah. Jadi yang terutama
  adalah kebutuhan akan guru-guru yang bermutu tinggi. Kalau tidak ada
  guru yang baik, jangan harap bisa mendirikan pendidikan yang baik.
  Ini hal yang utama.

  Seorang guru yang baik adalah guru yang tidak dikuasai dan berada di
  bawah situasi. Ia dapat mencari posisi yang baik untuk mengajar dan
  selalu akan berada di atas situasi. Jika guru sibuk sendiri mengatur
  anak-anak untuk diam, maka akhirnya guru itu sendiri yang paling
  tidak bisa diam. Guru yang baik akan memberikan perintah ataupun
  mengajar tidak dengan suara keras, tetapi justru dengan wibawa yang
  lebih kuat dari suaranya. Pada saat mengajar, mata perlu bisa
  melihat seluruh pendengar, dan menggunakan sorotan mata untuk bisa
  menguasai setiap pendengar, sehingga jiwa-jiwa itu terpaku
  kepadanya.

  Banyak orang takut melihat mata saya, padahal saya orang biasa.
  Namun, pada saat saya naik ke mimbar, saya menguasai mereka dengan
  mata. Penguasaan mata mempunyai kekuatan yang jauh lebih berbicara
  dibandingkan dengan kalimat-kalimat yang disampaikan. Mata bisa
  berkuasa menembus jiwa orang. Ketika mendapat kesempatan untuk
  mengajar di sekolah, saya minta kepada kepala sekolah untuk mengajar
  kelas yang paling nakal. Saya mencoba menguasai kelas itu dan
  mencapai banyak kemajuan dan terus bertekad untuk maju.

  Alkitab mengajar kita untuk memiliki hati berani, yang sadar, dan
  yang penuh dengan kasih. Berani bukan untuk liar, dan penuh kasih
  bukan untuk "banjir", tetapi berani yang diikat oleh kasih, dan
  kasih yang diikat oleh kesadaran. Terapkanlah teknik mengajar
  seperti ini dengan dilandasi satu kesadaran, yaitu Anda sedang
  berhadapan dengan jiwa-jiwa yang berpotensi untuk membangun atau
  merusak masyarakat, dan sekaligus menyadari betapa pentingnya jiwa
  anak-anak. Dengan kesadaran akan pentingnya hal ini, maka dengan
  sendirinya akan mengubah cara Saudara mengajar mereka. Ini yang
  disebut "the existential encounter caused by the existential
  consciousness" (semacam kesadaran eksistensial yang mengakibatkan
  secara otomatis terjadi perubahan eksistensial dalam menghadapi
  anak-anak). Itu merupakan suatu hal yang tidak bisa diuraikan dengan
  kalimat, karena pengertiannya melebihi kalimat, yaitu berupa
  kesadaran akan nilai yang berbeda, dan kesadaran itu akan menanamkan
  konsep nilai yang baru. Dulu Saudara memandang mereka sebagai anak-
  anak nakal yang selalu akan mengganggu. Sekarang Saudara melihat
  mereka sebagai jiwa-jiwa berharga yang masih Tuhan percayakan untuk
  dididik. Perasaan dan kesadaran sedemikian pasti mengubah Saudara
  menjadi "air hidup" yang tidak akan pernah merasa kekeringan. Dari
  hidup Saudara akan mengalir cinta kasih yang tidak pernah habis,
  mengalir terus-menerus.

  Bukan hanya demikian, setiap kali Saudara melihat seorang anak,
  Saudara akan melihat satu oknum yang memiliki satu unsur yang
  disebut "diri". "Diri" ini ada di dalam dia, seperti juga "diri" ini
  ada di dalam Saudara sendiri, sehingga mungkin bagi kita untuk
  mengasihi dirinya seperti Saudara mengasihi diri sendiri. Ini
  merupakan kontak antara pribadi dengan pribadi. Saya tidak ingin
  guru-guru sekolah hanya mengontak muridnya dengan peraturan-
  peraturan sekolah atau dengan pengajaran dan kurikulum sekolah. Saya
  lebih senang guru mempunyai kontak dengan muridnya berupa kontak
  dari jiwa ke jiwa, dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran, dan
  dari emosi ke emosi. Berarti terjalinnya suatu hubungan antara
  pribadi dengan pribadi. Kalau perasaan itu keluar dari oknum dan
  menuju kepada oknum, dimana oknum yang kedua mempunyai perasaan yang
  secara pribadi dan secara eksistensial telah dipengaruhi oleh oknum
  yang lain, maka ia akan berubah. Ini adalah rahasia kesuksesan
  seseorang.

  Orang lain tidak memandang Saudara di dalam jabatan sebagai guru
  atau kepala sekolah, atau yang lain, tetapi memandang Saudara
  sebagai pribadi. Biarlah Saudara tampil sebagai pribadi yang
  dihormati dan dikagumi oleh murid-murid, dimana kehadiran Saudara
  diharapkan untuk memberikan berkat dan kebenaran kepada mereka.
  Timbulnya perasaan seperti ini akan mengakibatkan pendidikan menjadi
  suatu aktivitas yang hidup, bukan aktivitas yang staffs. Kehadiran
  Saudara diharapkan akan membuat murid-murid menjadi senang, dan
  merupakan suatu berkat bagi mereka, bukan sebagai hal yang mengikat
  dan menakutkan.

  Mengapa ada orang yang baru berbicara dua menit, sudah terasa begitu
  lama dan mengantuk, dan mengapa ada orang yang sudah berbicara lebih
  dari satu jam, tetapi orang merasa begitu singkat? Ini bukan teknik
  berbicara semata, tetapi ini merupakan masalah "person to person
  interest"; "person to person influence"; dan "person to person
  communication". Hal ini penting sekali. Jika tidak ada kontak dari
  pribadi ke pribadi dalam penginjilan pribadi, maka ketika diinjili,
  orang yang diinjili selalu merasa ingin lari. Jadilah seorang
  pribadi yang mengontak pribadi yang lainnya. Ini akan menjadikan
  Anda sebagai guru yang sukses. Jika pada suatu saat saya harus
  ceramah, namun saya tidak hadir, hanya mengirimkan kaset ceramah itu
  kepada Anda, apakah itu dapat dianggap sama dengan kehadiran saya?
  Saya rasa tidak. Jelas berbeda karena pribadi saya tidak hadir.
  Sekalipun sudah memiliki banyak pengetahuan akan pendidikan, jangan
  harap Saudara sudah langsung dapat menjadi guru.

  Mark Twain mengatakan jika seorang mempunyai bakat di dalam,
  tetapi tidak dapat menyatakan keluar, itu berarti ia belum ada
  bakat. Bakat itu harus bisa dikomunikasikan dari pribadi ke pribadi.
  Kalau itu tidak ada, berarti belum sukses.

  Bahan diedit dari sumber:
  Judul Buku : Arsitek Jiwa
  Penulis    : Pdt. dr. Stephen Tong
  Penerbit   : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1993


=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
o/ TIPS MENGAJAR

                     MENDIDIK MURID UNTUK BELAJAR
                     ============================

  Talenta mendidik yang Anda miliki tidak akan ada gunanya jika tidak
  Anda praktekkan dalam kehidupan mengajar Anda. Salah satu tindakan
  yang dapat kita lakukan adalah mendidik mereka dalam hal belajar.
  Secara kongkret dan praktis, untuk mendidik peserta didiknya dalam
  hal belajar, guru dapat memperhatikan beberapa prinsip berikut ini.

  1. Hargailah pendapat peserta didik meskipun tampak dan kedengaran
     kurang tepat (bandingkan dengan Roma 14:1-2). Berilah terlebih
     dahulu penghargaan bahwa peserta didik itu telah rela memberikan
     pendapatnya. Kemudian, seperlunya berilah koreksi positif dan
     konstruktif. Usahakan memberikan perbaikan pemikiran dari sudut
     mana peserta didik memandang. Cara pandang guru dengan peserta
     didik tidaklah selalu sama.

  2. Hargailah peserta didik sebagai seorang pribadi, meskipun
     kemampuan belajarnya sangat kurang. Bahwa ia tetap setia hadir di
     kelas sudah menunjukkan usaha yang serius. Kita harus tahu bahwa
     orang dapat belajar dari pengalaman, yakni pengalaman terhadap
     proses belajar, bukan saja dari hasil yang sudah dicapai. Apa
     yang telah dialami seseorang melalui interaksi dalam kelas
     mungkin sekali tidak selalu dapat diungkapkannya secara gamblang.
     Apalagi bagi mereka yang dibesarkan dalam nilai budaya Timur,
     yang berkembang dalam tatanan "budaya bisu" atau "budaya diam".

  3. Binalah selalu persahabatan dengan peserta didik tanpa
     mengorbankan tujuan disiplin. Kita tahu hal ini memang sering
     menjadi semacam motif-motif yang bertentangan bagi guru dan
     peserta didik. Ada peserta didik yang sungguh ingin dikenal dan
     dihargai oleh gurunya, lalu membina persahabatan harmonis, sama
     sekali tanpa ada motivasi ingin mendapat nilai terbaik dari
     persahabatan itu. Namun ada pula peserta didik yang ingin membina
     persahabatan dengan guru untuk memperoleh kemudahan ataupun nilai
     yang bagus. Guru harus dapat memahami kemungkinan motif semacam
     itu, lalu berupaya meluruskannya.

     Sering guru melemahkan disiplin terhadap peserta didik karena
     persahabatan, atau melemahkan persahabatan (dengan menjaga jarak)
     demi disiplin. Karena itu, guru harus "pandai-pandai" membawa
     dirinya agar dapat menghadapi tugas yang menuntut pencapaian
     tujuan, namun sekaligus membina persahabatan yang terbuka dan
     tegas.

  4. Peliharalah agar peserta didik merasa terlindungi, baik hak dan
     harga dirinya, dalam setiap kesempatan interaksi.

  5. Belajarlah mengembangkan suasana humor tanpa bernada sarkastik
     terhadap peserta didik. Pada dasarnya, guru dapat mengajak
     peserta didik menertawakan dirinya sendiri. Dengan begitu peserta
     didik merasa aman dan tidak akan dijadikan bahan lelucon oleh
     gurunya.

  6. Berikanlah pujian atau penghargaan kepada peserta didik yang
     memang patut memperolehnya. Penghargaan ini dapat berupa hadiah
     buku dan sejenisnya, atau berupa ucapan atau kata-kata yang
     membangun semangat, termasuk nilai yang layak diperoleh. Guru
     harus tahu bahwa perkataan yang diucapkannya senantiasa "memiliki
     kuasa" apakah untuk membangun atau sebaliknya meruntuhkan atau
     menghilangkan gairah. (Bandingkan dengan Efesus 4:29: "Janganlah
     ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah
     perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka
     yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.") Karena itu, guru
     harus belajar menetapkan sikapnya agar senantiasa dapat
     mengeluarkan perkataan yang membangun dan memberi harapan.

  7. Sesuaikanlah metode mengajar dengan situasi dan kondisi peserta
     didik, agar mereka dapat mengikuti proses belajar. Kadang-kadang
     metode yang terasa asing sama sekali bagi mereka dapat menghambat
     kelancaran proses belajar. Jika guru memakai metode "baru",
     peserta didik memerlukan waktu untuk penyesuaian, sebelum
     memperoleh masukan atau makna dari kegiatan yang diikutinya itu.

  8. Teruslah berdoa dan berharaplah akan campur tangan Allah, oleh
     Roh-Nya, yang mampu membuat suasana nyaman dan menggairahkan
     untuk belajar. Kita ketahui bahwa Roh Kudus adalah "pengajar"
     yang hadir tanpa dilihat oleh siapa pun. Dialah sesungguhnya yang
     sanggup menimbulkan "pencerahan" dalam diri guru dan peserta
     didiknya (bandingkan dengan Yohanes 16:11-13; 1Yohanes 2:20,27, 3:24). Terutama dalam pengajaran iman Kristen (PAK), kedua belah
     pihak harus senantiasa sadar akan kehadiran dan pimpinan-Nya.
     Baik guru maupun peserta didik harus merelakan Dia bekerja secara
     bebas dalam interaksi belajar mengajar itu.

     Dalam pengajaran yang "non-Alkitab" atau "non-teologis" pun,
     sebagai orang percaya, guru harus tetap mengandalkan campur
     tangan Roh yang Mahapintar itu. Sebab kita tahu Roh Kudus adalah
     Roh yang mampu menuangkan kreativitas dalam diri orang percaya.
     Sebab ada sisi ilahi dari kreativitas manusia, khususnya bagi
     mereka yang memberikan diri dikendalikan oleh Roh Allah. Roh yang
     sama menumbuhkan motivasi, wibawa, dan otoritas serta percaya
     diri yang mantap dalam diri guru. Modal dasar ini sangat perlu
     bagi setiap guru dalam menghadapi situasi dan kondisi relasi
     maupun interaksi manusiawi, yang sering tidak berlangsung segar
     atau menyenangkan. Guru yang memberi diri dipimpin oleh Roh yang
     maha mendidik, akan merefleksikan nilai-nilai hidup yang
     menyukakan batin dan pikiran peserta didiknya!

  Bahan diedit dari sumber:
  Judul Buku        : Menjadi Guru Profesional:
                         Sebuah Perspektif Kristiani
  Judul Artikel Asli: Masalah Motivasi Belajar
  Pengarang         : B.S. Sidjabat, Ed.D.
  Penerbit          : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993
  Halaman           : 112 - 114


=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
o/ BAHAN MENGAJAR

  Mendidik anak-anak untuk memiliki sikap yang baik dalam hidupnya
  merupakan hal yang wajib dilakukan oleh setiap guru. Bahan pelajaran
  berikut dapat dipakai untuk mendidik anak-anak agar dapat hidup
  rukun dengan orang lain.

                     HIDUP RUKUN DENGAN ORANG LAIN
                     =============================

  Alat Peraga:
  ------------
  Kantung-kantung kecil berisi dua permen coklat.

  Ayat Alkitab:
  -------------
  Filipi 4:1-9

  Tema:
  -----
  Hidup rukun dengan orang lain perlu diusahakan.

  Penyampaian:
  ------------

  Selamat pagi! Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh kita setiap
  harinya. Menurut kamu apa yang harus kita lakukan?

  (Tunggu jawaban mereka. Sesuaikan paragraf berikut ini menurut
  jawaban-jawaban yang ada. Tuntunlah anak-anak untuk dapat melihat
  bahwa kita harus hidup rukun dengan orang lain.)

  Pertama, kita harus bangun tidur. Kita harus makan setiap hari. Kita
  harus menyisir rambut kita, dan menggosok gigi. Ada orang yang harus
  pergi kerja. Ada di antara kamu yang harus pergi ke sekolah. Kita
  semua perlu bermain. Dan kita semua harus hidup rukun dengan orang
  lain.

  Kadang-kadang hidup rukun dengan orang lain itu mudah. Mungkin kamu
  sangat menyukai orang itu dan sering bermain bersama. Tetapi,
  kadang-kadang hidup rukun itu susah sekali. Walaupun kamu sangat
  menyukai seseorang, pasti ada saatnya kamu tidak rukun dengannya.
  Mungkin kamu sedang merasa bosan dan mengeluh, dan merasa sedang
  tidak mau bersikap baik kepada siapa pun.

  Ada juga saat-saat di mana seseorang tidak bersikap baik kepada
  kamu. Itu menyedihkan sekali. Ada banyak hal yang dapat kita lakukan
  untuk memperbaiki persahabatan kita. Kita dapat berbuat baik. Kita
  dapat memberi. Kadang-kadang, merangkul dan mencium itu baik juga.
  Kadang-kadang kita harus mengampuni. Menyenangkan kalau dapat
  bermain dan melakukan banyak hal bersama-sama, dan kadang-kadang
  kita juga perlu menyendiri beberapa saat lamanya.

  Setiap waktu, kita harus menyadari bahwa Tuhan akan menolong kita
  mempertahankan persahabatan kita dan meminta pimpinan, juga
  pertolongan Tuhan untuk dapat hidup rukun dengan orang lain.

  Saya punya sesuatu yang istimewa buat kamu setelah doa nanti. Ini
  kantung kecil dengan dua permen coklat di dalamnya. Salah satu
  permen itu saya berikan untuk kamu sebagai tanda bahwa saya menyukai
  kamu, memperhatikan kamu, dan ingin hidup rukun dengan kamu.
  Ingatlah, ada dua permen coklat di sini. Saya ingin kamu memberikan
  yang satu lagi untuk seseorang yang kamu sayangi.

  Sumber:
  Judul Buku: Ceritakan untuk Anak-anak Sekolah Minggu:
                 Sebuah Sumber Ibadah
  Pengarang : Donna McKee Rhodes
  Penerbit  : Gospel Press, Batam Centre, 2002
  Halaman   : 137 - 139


=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
o/ DARI ANDA UNTUK ANDA

  Dari: Maria N. <marian@>
  >Syalom,
  >Apakah e-binaanak juga menyediakan alat-alat peraga untuk setiap
  >bahan mengajar yang disajikan? Kalau ada, saya mau donk minta
  >dikirimkan beberapa. Saya akan mengganti biaya dan ongkos kirim
  >saya termasuk yang tidak kreatif membuat alat peraga.
  >GBU,
  >Maria

  Redaksi:
  Maaf sekali, kami tidak membuat atau menjual alat-alat peraga yang
  Anda inginkan. Namun, jika Anda ingin mendapatkan ide-ide kreatif
  untuk membuat alat peraga, ada beberapa informasi yang bisa kami
  berikann:
  1. Yayasan Lembaga SABDA (yayasan yang menaungi penerbitan Publikasi
     e-BinaAnak) memiliki situs yang menyediakan berbagai bahan-bahan
     tertulis seputar pelayanan anak dan Sekolah Minggu. Situs
     tersebut bernama PEPAK diambil dari singkatan Pusat Elektronik
     Pelayanan Anak Kristen. Didalamnya ada beberapa artikel mengenai
     alat peraga, antara lain:
        a. Membuat Alat Peraga Sendiri
        ==> http://www.sabda.org/pepak/pustaka/000078/
        b. Petunjuk Pemakaian Alat Peraga
        ==> http://www.sabda.org/pepak/pustaka/020304/
        c. Mengajar dengan Alat Peraga
        ==> http://www.sabda.org/pepak/pustaka/000077/
        d. Alat Peraga sebagai Fasilitas dalam Sekolah Minggu
        ==> http://www.sabda.org/pepak/pustaka/020303/
        e. dll.
     Anda dapat mencari lebih banyak lagi materi mengenai alat peraga
     dalam topik "Metode dan Cara Mengajar" yang bisa diakses di:
     ==> http://www.sabda.org/pepak/topik/05/

  2. Selain itu Anda dapat juga berdiskusi tentang bagaimana membuat
     atau membeli alat peraga dalam milis diskusi e-BinaGuru. Untuk
     bergabung silakan kirim e-mail kosong ke:
     < subscribe-i-kan-BinaGuru@xc.org >, 3. Atau Anda bisa menghubungi Yayasan Domba Kecil, karena mereka
     adalah yayasan yang menyediakan berbagai alat peraga. Silakan
     menghubungi di:
     Yayasan Domba Kecil
     Jl. Tanjung Duren Utara III E/236
     Jakarta Barat 11470 - INDONESIA
     Telp. (021) 560-2630, 566-8962
     Fax.  (021) 566-8962

  Untuk para pembaca e-BinaAnak yang tahu informasi seputar alat-alat
  peraga, silakan mengirimkan informasinya ke kami karena mungkin ada
  juga guru-guru SM yang membutuhkan informasi ini.


=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
o/ MUTIARA GURU

              Untuk dapat masuk ke dalam dunia pikiran --
                        itulah artinya dididik
                         -- Edith Hamilton --

                       Rahasia pendidikan adalah
                           menghormati murid
                         -- Ralph W. Emerson --


=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^
           Staf Redaksi: Davida, Oeni, Ratri, dan Kristian
      Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
             Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
                  Copyright(c) e-BinaAnak 2004 YLSA
                      http://www.sabda.org/ylsa/
=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^=^

Untuk berlangganan kirim e-mail ke: <subscribe-i-kan-BinaAnak@xc.org>
Untuk berhenti kirim e-mail ke:   <unsubscribe-i-kan-BinaAnak@xc.org>
Untuk Arsip e-BinaAnak:    http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen:  http://www.sabda.org/pepak/
><> ========= PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN ANAK ========== <><

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org