Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-binaanak/110

e-BinaAnak edisi 110 (22-1-2003)

Media Video Games

     ><>  Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak  <><


Daftar Isi:                                     Edisi 110/Januari/2003
-----------
    o/ SALAM DARI REDAKSI
    o/ ARTIKEL (1)          : Video Games dan Pendidikan
    o/ ARTIKEL (2)          : Dampak Negatif Permainan Ding-dong
    o/ BAHAN MENGAJAR (1)   : Naga
    o/ BAHAN MENGAJAR (2)   : Anak-anak Punya Kuasa
    o/ DARI ANDA UNTUK ANDA : Cerita untuk Kelas Remaja

**********************************************************************
 Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi:
    <submit-BinaAnak@sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak@xc.org>
**********************************************************************
o/ SALAM DARI REDAKSI

  Salam dalam kasih dan penyertaan-Nya,

  Kami yakin topik kita kali ini (Video Games) sangat populer di
  kalangan anak-anak. Ada banyak macam permainan video ini, dari
  yang paling murah sampai yang sangat mahal, dari yang baik sampai
  yang buruk. Oleh karena itu sangat baik jika guru dan para pelayan
  anak, khususnya orangtua-orangtua yang memiliki anak-anak yang gemar
  memainkan video games, untuk mengetahui lebih jelas tentang pengaruh
  permainan ini bagi anak-anak didik mereka.

  Sebagai guru maupun orangtua yang memiliki tanggungjawab dalam
  mendidik anak, tugas kita ialah mengarahkan dan membekali mereka
  agar tidak terpengaruh akan dampak negatif dari adanya video games.
  Tapi juga jangan sampai kita mengekang mereka dari kemajuan
  teknologi. Nah, inilah tantangan yang perlu dipikirkan oleh kita
  semua, yaitu bagaimana kita dapat membekali anak-anak kita dengan
  Firman Tuhan dan memiliki iman yang kuat agar mereka dapat menilai
  manakah keunggulan intelektual manusia yang tidak melawan hukum
  Allah.

  Dua artikel yang kami sajikan akan menolong kita untuk melihat
  alat "Video Games" ini dari sudut kaca mata pendidik, bagaimana
  dampak video games terhadap pendidikan? Apakah dampak positif media
  ini dapat dimanfaatkan untuk mendidik anak-anak agar lebih
  menghargai Firman Tuhan dan nilai-nilai kekristenan?

  Selamat merenungkan!

  Tim Redaksi

     "sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan
        oleh rupa-rupa angin pengajaran,
        oleh permainan palsu manusia
             dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,
     tetapi dengan teguh berpegang kepada
        kebenaran di dalam kasih kita
        bertumbuh di dalam segala hal
     ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala." (Efesus 4:14-15)
        < http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=Efesus+4:14-15 >


**********************************************************************
o/ ARTIKEL (1)

  Berikut ini adalah sebuah artikel yang ditulis tahun 1994 dengan
  contoh kasus yang terjadi di Amerika Serikat. Jika Anda bandingkan
  keadaan saat itu dengan keadaan sekarang di Indonesia, maka kita
  lihat hal ini tidak jauh berbeda, karena jaman "Video Games" sudah
  betul-betul datang di Indonesia. Untuk mengetahui lebih lanjut
  tentang pengaruhnya terhadap pendidikan, silakan simak artikel ini
  lebih lanjut.

                      VIDEO GAMES DAN PENDIDIKAN
                      ==========================

  Kreativitas manusia dalam memanfaatkan teknologi komunikasi untuk
  kepentingan hiburan maupun komersial memang luar biasa. Mulai dari
  pengembangan teknologi di bidang pertelevisian sampai pada
  penciptaan video games, video watch, dll.

  Di kota-kota besar Indonesia terutama di pusat-pusat perbelanjaan,
  sering kita jumpai video arcade (pergelaran video games) yang
  menawarkan perbagai macam jenis permainan, dan dipenuhi oleh anak-
  anak dan remaja. Dengan membayar harga yang relatif murah untuk
  ditukar dengan koin, mereka betah menghabiskan waktu berjam-jam
  terlibat dalam kesenangan bermain video games.

  Di satu sisi, kehadiran video games memang dapat menumbuhkan
  apresiasi anak maupun remaja pada teknologi. Pada saat yang sama,
  permainan ini dapat pula merangsang kreativitas maupun daya reaksi
  (dengan catatan ia tidak memainkan game yang sama berulang-ulang,
  sehingga mengenal trick permainan).

  Namun, di sisi lain permainan ini dapat menimbulkan ketergantungan,
  manakala penggemarnya terkena video games addict (kecanduan video
  games). Seseorang dapat menghabiskan waktu dan uangnya sekaligus
  untuk menikmati permainan ini. Dampak negatif dari permainan ini
  akan sangat terasa, manakala pemainnya tidak dapat mengendalikan
  diri. Pada saat seseorang mulai merasa, bahwa permainan ini bukan
  sekedar untuk dinikmati dalam waktu senggang sebagai aktivitas
  rekreasional, maka bencana mulai menghadang.

  Di Amerika Serikat, keprihatinan terhadap popularitas permainan ini
  di kalangan anak-anak dan remaja, menyebabkan para pendidik mulai
  mendesak pemerintah agar mengambil langkah-langkah preventif. Bahkan
  bintang yang menjadi idola anak-anak, mendesak pemerintah agar
  memberikan ratings (penilaian) terhadap materi video games yang
  dijual secara bebas. Hal ini ditujukan pada materi video games yang
  mengekspose seks maupun kekerasan.

  Di Amerika Serikat saat ini, cukup banyak materi video games yang
  justru mengagungkan kekerasan, dan mengajar anak-anak untuk
  menikmati kekerasan lewat keikutsertaan aktif sebagai pengendali
  permainan.

  Dalam video games, nilai yang tinggi justru diperoleh lewat sikap
  yang agresif dan penggunaan kekerasan secara sistematis. Dengan cara
  ini, pemain merasa, bahwa kekerasan memperoleh ganjaran (reward) dan
  kekerasan yang lebih tinggi akan memperoleh imbalan yang tinggi
  pula.

  Melarang peredaran video games tersebut tampaknya cukup sulit, namun
  memberikan ratings pada labelnya akan membantu orangtua untuk ikut
  mengetahui apa yang dilakukan anak-anaknya dengan video games.
  Ketidakpedulian pendidik maupun orangtua akan materi video games
  yang penuh dengan sadisme, dikhawatirkan akan menghasilkan anak-anak
  atau remaja yang bersikap menikmati sadisme tanpa sadar.

  Di Jakarta misalnya, di pelbagai tempat gelar video, permainan yang
  mengasyikkan karena sarat kekerasan sangat diminati anak-anak maupun
  remaja. Judul video games seperti Superman maupun Ninja dan
  sejenisnya sangat mengobral kekuatan fisik dan pelumpuhan lawan
  secara berlebihan.

  Permainan semacam inilah yang menjadi favorit pengunjung. Sekalipun
  moral ceritanya tetap mengangkat kemenangan kekerasan atas
  kebathilan, namun perilaku sadistis yang diterapkan seolah-olah
  memberi legitimasi atas tindakan apa pun, sejauh demi menegakkan
  kebenaran. Padahal para pengusaha alat-alat elektronik sudah
  meramalkan, video games masa depan, akan lebih realistis
  penampilannya dengan berkembangnya apa yang disebut Virtual Reality
  Technology.

  Di Barat selama ini telah berkembang Compact Disc Games (CDG) yang
  menampilkan citra aktual wanita yang dapat dikendalikan oleh
  pemainnya untuk melakukan adegan-adegan seks. Sekalipun CDG tersebut
  diperuntukkan bagi orang dewasa, siapa yang dapat menjamin, bahwa
  materi tersebut tidak mungkin jatuh ke tangan anak-anak atau remaja?
  Remaja dan anak-anak kita yang bermukim di kota-kota besar pada
  umumnya telah akrab dengan video games.

  Kasus yang terjadi di Amerika Serikat dengan video games yang sarat
  kekerasan bukan mustahil dapat dijumpai di video arcade Indonesia.
  Sudah saatnya para pendidik dan orangtua mewaspadai materi video
  games yang dimainkan oleh putra-putri mereka.

  Bahan diedit dari sumber:
  Koleksi Kliping Perpustakaan "H.F. TAN" Jakarta
  Judul Koran: Kompas, edisi tahun 1994
  Penulis    : Eduard Depari
  Halaman    : 4


**********************************************************************
o/ ARTIKEL (2)

  Walaupun artikel ini ditulis tahun 1993, tetapi secara prinsip,
  isi dari artikel ini masih sangat relevan dengan keadaan sekarang
  (dengan berbagai jenis permainan lain seperti Sega, PlayStation,
  Komputer, dll.). Silakan simak pendapat, saran dan komentar-
  komentarnya, kami yakin ada manfaat yang dapat Anda ambil.

                 DAMPAK NEGATIF PERMAINAN DING-DONG:
                 ===================================
           Anak-anak yang Ketagihan Menjadi Malas Belajar

  Munculnya pendapat yang pro dan kontra terhadap sesuatu yang baru,
  adalah hal yang wajar. Demikian pula dengan permainan video games,
  ding-dong yang kini bertebaran di banyak tempat di kota-kota besar.
  Permainan yang tampaknya diminati anak-anak, termasuk kalangan
  pelajar. Dan permainan yang sejenis itu, ternyata telah pula
  dimiliki oleh mereka yang tergolong mampu.

  Peralatan elektronik dengan berbagai bentuk permainan, mulai dari
  pertempuran di ruang angkasa sampai pertarungan antara ksatria
  perkasa dengan si jahat, memang menarik perhatian anak-anak, pelajar
  SD sampai SMTA, bahkan juga sebagian orang tua. Bermain ding-dong,
  sangat mengasyikkan jika dilakukan pada saat iseng. Berarti, yang
  mempunyai waktu luang dan cukup uang, dapat bermain sepuas-puasnya.
  Hanya saja, untuk sekali bermain harus disediakan koin bernilai
  Rp 300,- sampai Rp 500,-

  Lama-kelamaan, permainan yang cukup mengasyikkan ini, membuat anak-
  anak ketagihan. Permainan yang sekaligus melatih mata serta
  keterampilan tangan dalam menekan tombol-tombol agar bisa menang,
  ternyata disebutkan, lebih banyak menimbulkan akibat negatif
  ketimbang yang positif.

  Ny. Mindamora, guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan) SMAN 8, Jalan
  Bukit Duri Jakarta Selatan mengungkapkan, warna-warna pada mesin
  ding-dong itu sangat kontras. Jadi, kalau mata terus memandang pada
  layar monitornya, malah bisa silau dan memusingkan. Jika memandang
  terlalu lama pada layar itu, mata bisa cepat rusak.

  Bagi anak-anak TK, SD dan SMP, pantaslah jika mereka tertarik pada
  permainan yang fantastis tersebut. Sebab, permainan itu sesuatu hal
  yang baru bagi mereka, tutur Mindamora lebih jauh. Tetapi bagi
  pelajar SMA, permainan itu agaknya sudah tak terlalu menarik.
  Sebaliknya, mereka lebih tertarik pada permainan biliar, yang
  memerlukan perhitungan tepat. Namun itupun hanya berlaku bagi
  pelajar SMA yang masih banyak santainya.

  Hal itu dibenarkan pula oleh guru BP SMAN 8 yang lain, Dra.
  Ny. Susintowati. Ia mengutip komentar Ketua Umum OSIS (Organisasi
  Siswa Intra Sekolah), SMAN 8 yang mengatakan, permainan tersebut
  sudah tidak menarik. Ketika di SMP, memainkan ding-dong mungkin
  karena ingin tahu. Tetapi setelah di SMA, siswa sudah tak berminat
  karena waktu luang yang makin sempit. Juga terlalu banyak
  menghamburkan uang, padahal uang saku yang diterima dari orang tua
  terbatas.

  Memang, ada permainan yang menyajikan sesuatu yang menggiurkan.
  Berdasarkan cerita sejumlah murid, ada permainan ding-dong yang
  selalu dikerubungi orang banyak. Pasalnya, bila pemain menang dan
  skornya tinggi, ada bonus berupa munculnya gambar wanita cantik di
  layar. Bila pemainnya menang lagi, maka gambar berikutnya akan lebih
  menarik lagi.

  DISIPLIN

  "Kami tidak melarang anak-anak memiliki dan bermain video games atau
  ding-dong. Terlebih lagi, jika untuk bermain itu, tidak diperlukan
  biaya. Cuma kadang-kadang, anak-anak tidak bisa mengontrol waktu.
  Mereka merasa baru saja mulai bermain, tetapi ternyata sudah dua
  jam," kata Dra. Christina Maria Prasetyowati, Staf Pengajar BP SMPK
  Santa Maria Fatima kepada Pembaruan di Jakarta.

  Bila si anak bisa mengatur waktu, kapan dapat bermain dan kapan
  harus belajar, saya kira tidak ada masalah. Permainan itu bisa
  dilakukan di waktu senggang seperti petang hari, setelah mandi.
  Yang penting dan perlu diperhatikan, harus ketat dan disiplin dalam
  pengaturan waktu bermain. Berarti, perlu bantuan dari orang tua
  untuk mengawasi, katanya lagi.

  Permainan ini, sebenarnya tidak menambah kecerdasan anak. Yang lebih
  berperan dalam permainan tersebut ialah kebiasaan. Dengan begitu,
  anak yang sudah terbiasa bermain, akan lebih lancar karena ia sudah
  mengetahui teknik-tekniknya.

  KETAGIHAN

  Yang jelek dari permainan ding-dong ialah anak-anak harus
  mengeluarkan uang. Jelas itu merugikan. Paling tidak si anak
  memerlukan dana untuk bermain. Tidak mengherankan kalau uang jajan
  mereka, akan habis di tempat ding-dong.

  Secara umum, permainan tersebut akan memberikan dampak tertentu pada
  sikap anak, yakni malas belajar. Entah itu cepat atau lambat. Tentu
  saja, kalau sampai si anak terlalu sering bermain, ia akan menjadi
  ketagihan. Kalau sampai si anak ketagihan bermain dan ternyata tidak
  mempunyai uang, bukan mustahil ia akan mencari uang dengan jalan
  yang tidak benar, seperti mencuri.

  AF Ratri Murtiningsih, Staf Pengajar BP SMP Yayasan Perguruan Cikini
  malah mengatakan kepada Pembaruan bahwa permainan ding-dong sangat
  berkaitan dengan uang. Permainan ini apapun alasannya, tidak bisa
  ditoleransi. Kehadirannya tidak baik bagi para pelajar. Bisa saja
  anak menjadi seorang pencuri, penodong, suka ngompas karena
  ketagihan bermain ding-dong. Kalau keinginan bermain muncul, dan
  tidak mempunyai uang, maka pelajar yang bersangkutan mungkin saja
  akan melakukan tindakan negatif seperti disebutkan di atas, kata
  Murtiningsih. Jika permainan itu tidak memerlukan pengeluaran uang,
  ada positifnya bagi anak. Paling tidak, ia akan lebih tangkas,
  teliti dan terlatih berkonsentrasi. Walaupun begitu, keasyikan
  bermain bisa membuat anak malas belajar.

  "Pada prinsipnya saya tidak setuju dengan permainan ding-dong.
  Sebaiknya permainan ini ditiadakan saja. Saya sama sekali tidak
  melihat sisi yang positif dari permainan ini. Malahan permainan ini
  bisa dimasukkan pada golongan permainan judi," jelas Murtiningsih.

  Dan kemungkinan tersebut di atas bisa saja terjadi, walaupun untuk
  membuktikan diperlukan suatu penelitian. "Kendati begitu, saya pikir
  ada juga sedikit segi positifnya. Anak menjadi lebih tangkas dan
  lebih teliti," kata Dra. Christina Maria Prasetyowati.

  DIBATASI

  Tak dapat disangkal, permainan ding-dong sangat disenangi anak-anak
  dan remaja. Sebab permainan ini sudah berlangsung di beberapa
  tempat, maka usaha, yang bisa dilakukan sekolah ialah mengelimir
  pengaruh negatif yang mungkin ditimbulkan. Jika lokasi tempat
  permainan ding-dong ini dekat sekolah, memang sulit mengawasi anak-
  anak.

  Menurut Sri Hartati, dengan kesibukan murid-murid, pengaruh
  permainan tersebut bisa dikurangi. Murid-murid setelah pulang
  sekolah, hanya sempat makan siang, sebagian besar mengikuti les
  di luar. Sore menjelang magrib, mereka pulang makan dan mengerjakan
  PR (pekerjaan rumah), kemudian belajar untuk menghadapi pelajaran
  besok pagi. Kalau tidak begitu pasti mereka ketinggalan
  pelajarannya.

  "Untuk memberantas memang agak sulit. Jika mesin-mesin itu
  dihilangkan begitu saja, tentu tidak bisa. Kecuali bila ada
  peraturan dari pemerintah tentang permainan macam apa yang bisa
  masuk ke Indonesia, dan dipertegas yang boleh dan yang tidak boleh.
  Pihak yang menjual dan mengedarkan mesin-mesin itu, harus diawasi,"
  kata Dra. Ny. Susintowati.

  "Ya, paling tidak sekolah memberikan pedoman nilai-nilai yang baik
  dan buruk pada para pelajar. Ini bisa dilakukan pada pelajaran
  bimbingan karir, lewat pelajaran agama. Atau bisa juga pada
  pelajaran ekonomi dan koperasi, sebab dalam pelajaran ini anak
  mendapat pelajaran tentang pengaturan uang agar tidak boros, baik
  untuk pemasukan maupun pengeluaran," jelas Susintowati lagi.

  Sebenarnya pihak sekolah juga bisa mencoba berkomunikasi dengan
  pengusaha yang membuka permainan tersebut, agar mereka melarang atau
  melaporkan bila ada pelajar yang masih berpakaian seragam, bermain
  di tempatnya.

  "Ini cuma teoritis saja. Dalam praktek, saya ragu ini bisa
  dijalankan," kata Murtiningsih.

  Pihak sekolah dapat pula melakukan pendekatan ke pemerintahan daerah
  untuk melarang atau membatasi pembukaan tempat permainan ding-dong.
  Kalau lokasinya berdekatan dengan sekolah, pemerintah bisa dihimbau
  agar tempat permainan itu dipindahkan.

  Yang menjadi persoalan sekarang, bila tempat bermain ding-dong
  tersebut sudah beroperasi. Himbauan dari sekolah barangkali akan
  dijawab: "Untuk sementara informasi itu ditampung dan diperhatikan".
  Sejauh mana realisasinya, terkadang tak pernah menjadi kenyataan.

  Bahan diedit dari sumber:
  Koleksi Kliping Perpustakaan "H.F. TAN" Jakarta
  Judul Koran: Suara Pembaruan, 26 Februari 1993
  Penulis    : Brantini-Marcell W
  Halaman    : 16


**********************************************************************
o/ BAHAN MENGAJAR (1)

                                NAGA
                                ====

  "Lihat naga yang licik itu!" kata Rano. Ia menunjuk kepada seekor
  naga besar yang sedang ikut dalam pawai. "Giginya panjang dan
  runcing, dan matanya kelihatan sangat jahat. Naga itu sama sekali
  tidak kelihatan baik."

  "Pernahkah kamu melihat naga-naga yang lain?" tanya ayah.

  Rano kelihatan heran mendengar pertanyaan ayahnya itu. Kemudian ia
  mulai berpikir. Menurut kamu, apakah yang akan dikatakan Rano?

  Renungan Singkat tentang Hal Menjadi Jahat:
  -------------------------------------------

  1. Apakah naga itu kelihatan baik atau jahat?

  2. Menurut kamu, apakah yang dimaksudkan ayah ketika ia menanyakan
     kepada Rano apakah ia pernah melihat naga-naga yang lain?
     Pernahkah kamu melihat naga-naga yang lain?

  3. Menurut kamu, apakah yang akan dikatakan Rano kepada ayahnya?
     Apakah yang akan kamu katakan seandainya kamu adalah Rano?

  "Saya pernah melihat teman-teman yang berkelakuan seperti naga-naga
  yang jahat itu," kata Rano. "Mereka berusaha menyalahkan dan
  menyakiti orang lain dan bukannya menolong orang lain."

  "Apakah yang akan kamu katakan kepada teman-teman seperti itu?"
  tanya ayah.

  "Saya kira saya akan mengatakan kepada mereka agar mereka
  menghentikan tindakan mereka yang seperti naga-naga jahat itu," kata
  Rano. "Tak seorang pun yang bersedia berteman dengan naga jahat."

  "Kita juga harus mengingat hal itu, bukan?" tanya ayah.

  "Ya, saya kira begitu," kata Rano. "Tuhan Yesus tentu tidak ingin
  kita berkelakuan seperti naga-naga tua yang jahat itu?"

  Renungan Singkat tentang Tuhan Yesus dan Kamu:
  ----------------------------------------------

  1. Mengapa Tuhan Yesus tidak ingin kita berkelakuan seperti naga-
     naga tua yang jahat itu? Pernahkah Ia berkelakuan seperti itu?
     Jika Ia tidak pernah, mengapa kamu berkelakuan seperti itu?", 2. Bagaimana seharusnya kelakuan sahabat-sahabat Tuhan Yesus?
     Haruskah kita bersikap ramah dan baik?
     Apakah yang diinginkan Tuhan Yesus dari kita?

  Bacaan Alkitab:
  ---------------
  1Tesalonika 5:15-18

  Kebenaran Alkitab:
  ------------------
  Usahakanlah senantiasa berbuat baik satu sama lain.
  (1Tesalonika 5:15)

  Doa:
  ----
  Ya Tuhan Yesus, Engkau sangat baik, pengasih dan suka menolong.
  Jadikanlah saya agar makin menyerupai Engkau setiap hari. Amin!

  Bahan diedit dari sumber:
  Judul Buku: 100 Renungan Singkat untuk Anak-anak
  Pengarang : V. Gilbert Beers
  Penerbit  : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1986
  Halaman   : 202 - 203


**********************************************************************
o/ BAHAN MENGAJAR (2)

                         ANAK-ANAK PUNYA KUASA
                         =====================

  Alat Peraga:
  ------------
  Daftar kata-kata baik/buruk.

  Ayat Alkitab:
  -------------
  Mazmur 19:14

  Tema:
  -----
  Anak-anak dapat memilih, kuasa BAIK atau kuasa jahat.

  Penyampaian:
  ------------
  Mari kita mulai dengan pertanyaan. Apakah hal yang paling berkuasa
  yang kamu ketahui?

  (Jawaban-jawaban anak-anak sering kali berkaitan dengan kekuatan
  fisik yang dipandang sebagai suatu bentuk kuasa -- menangkap bola,
  berlari, dan sebagainya.)

  Tahukah kamu, anak-anak juga punya kuasa? Kamu mempunyai kekuatan
  fisik untuk berlari, melempar bola, dan melakukan kegiatan lainnya.
  Kamu menggunakan kekuatan otak untuk membaca, berpikir, dan
  mengerjakan tugas-tugas dan kegiatan di sekolah. Kita juga punya
  kuasa dalam kata-kata, yaitu kata-kata baik maupun jahat.

  Mari kita mencoba sesuatu -- Saya akan mengucapkan beberapa kata dan
  kamu harus menilai, apakah kata-kata itu menggunakan kuasa baik atau
  jahat? Siap?

     "Bodoh sekali!"

  [Tunggulah tanggapan anak-anak dan pujilah mereka jika jawabannya
  benar, lakukan sama untuk kata-kata berikutnya.]

     "Terima kasih telah menolongku, kamu baik sekali."
     "Anak itu sama sekali tidak bisa melempar bola!"
     "Gambarmu bagus sekali!"

  Kamu semua pintar sekali dapat membedakan mana kuasa yang baik
  dan mana kuasa yang jahat! Kata-kata yang kita ucapkan itu memiliki
  pengaruh atau kuasa pada orang lain. Pernahkah ada di antara kamu
  yang mendengar seseorang mengucapkan kata-kata yang jahat kepadamu
  atau marah kepadamu? Apakah mereka menunjukkan marahnya itu
  kepadamu?

  Bagaimana perasaanmu? Mungkin kamu merasa sedih dan mungkin juga
  marah. Kata-kata yang jahat dan tidak baik itu memiliki kuasa untuk
  membuat orang merasa sedih atau marah.

  Tetapi, pikirkanlah kuasa yang ada dalam kata-kata yang baik
  terhadap orang lain! Kalau kamu mengucapkan kata-kata yang baik
  dalam mengatakan kepada orang lain bahwa mereka telah sangat baik
  kepadamu atau mengatakan bahwa mereka tampak cantik, maka kamu
  membuat mereka merasa bahagia.

  Apakah kamu memilih untuk menggunakan kuasa kata-kata yang jahat
  atau kuasa kata-kata yang baik? Saya pikir kita semua akan memilih
  untuk menggunakan kuasa kata-kata yang baik.

  Setiap hari cobalah untuk menggunakan kuasa kata-kata yang BAIK ini
  kepada orang lain. Maka kamu akan membuat mereka merasa senang dan
  kamu juga akan merasa senang.

  Doa:
  ----
  Ya Tuhan, tunjukkanlah kepada kami cara-cara untuk menggunakan kuasa
  kata-kata yang BAIK dan tolong kami untuk melupakan kuasa kata-kata
  yang jahat. Amin!

  Bahan diedit dari sumber:
  Judul Buku: Ceritakan untuk Anak-anak Sekolah Minggu:
              Sebuah Sumber Ibadah
  Pengarang : Donna McKee Rhodes
  Penerbit  : Gospel Press, Batam Center, 2002
  Halaman   : 35 - 37


**********************************************************************
o/ DARI ANDA UNTUK ANDA

  Dari: Triana <triana_exp@>
  >SYALOM
  >Di gereja saya akan dimulai sekolah minggu kelas remaja dengan
  >kriteria umur 15 th s/d umur 18 th. Apa yang pertama kali yang
  >paling mudah cerita/ayat dibawakan untuk adik-adik remaja
  >Terimakasih atas bantuannya
  >
  >Tuhan memberkati
  >triana

  Redaksi:
  Untuk kelas remaja, e-BinaAnak belum pernah membahasnya secara
  khusus. Usul kami, untuk mempersiapkan kelas remaja tersebut, Anda
  bisa mencari buku berisi materi-materi pengajaran yang banyak
  terdapat di toko buku Kristen atau minta pendapat dari guru-guru
  remaja lain yang lebih berpengalaman.

  Surat Anda ini telah dimuat juga dalam milis diskusi e-BinaGuru
  agar rekan-rekan sepelayanan dapat memberi masukan untuk Anda.
  Apakah Anda sudah menjadi anggota milis tersebut? Jika belum
  silakan kirim e-mail ke ==> subscribe-i-kan-BinaGuru@xc.org

  Jika Anda mendapatkan saran-saran dan dapat menerapkannya dengan
  baik di kelas Anda, silakan share-kan pengalaman Anda tsb. dengan
  rekan-rekan para pembaca di e-BinaAnak/e-BinaGuru. Kami yakin
  pengalaman Anda ini dapat menjadi berkat bagi yang lain.


**********************************************************************
Anda terdaftar dengan alamat email: danielb@solonet.co.id
Untuk berlangganan kirim e-mail ke: <subscribe-i-kan-BinaAnak@xc.org>
Untuk berhenti kirim e-mail ke:   <unsubscribe-i-kan-BinaAnak@xc.org>
Untuk Arsip e-BinaAnak:    http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen:  http://www.sabda.org/pepak/
**********************************************************************
                     Staf Redaksi: Oeni dan Davida
       Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
              Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
                   Copyright(c) e-BinaAnak 2003 YLSA

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org