Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/52

e-BinaAnak edisi 52 (15-11-2001)

Kebohongan pada Anak

     ><>  Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak  <><


Daftar Isi:                                   Edisi 052/November/2001
-----------
     o/ SALAM DARI REDAKSI
     o/ ARTIKEL                : Kebohongan pada Anak
     o/ TIPS MENGAJAR          : Mengatasi Anak Kecil yang Berbohong
     o/ SERBA-SERBI            : Bohong Putih: Boleh atau Tidak?
     o/ STOP PRESS             : Paket Natal 2001 Yay. Domba Kecil
     o/ DARI ANDA UNTUK ANDA   : Minta Kiriman Serba-serbi

***********************************************************************
Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi di:
Meilania <submit-BinaAnak@sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak@xc.org>
***********************************************************************
o/ SALAM DARI REDAKSI

  Salam Sejahtera dalam Kasih Kristus,

  Kebohongan dan ketidakjujuran merupakan sifat buruk yang harus
  segera ditangani sejak kanak-kanak agar sifat itu tidak berkembang
  menjadi suatu kebiasaan. Anak-anak harus dibiasakan mengatakan hal
  yang sebenarnya, jujur, terbuka dan tidak ada hal-hal yang sengaja
  ditutupi. Demikian pula sebagai orang dewasa, guru maupun orangtua,
  kita harus memberikan teladan yang baik dengan selalu berkata jujur
  kepada anak.

  Lalu, bagaimana kita mengetahui tentang kebohongan anak dan
  bagaimana kita mengatasi anak-anak yang suka berbohong? Untuk
  menjawabnya, simak langsung edisi berikut ini.

  Tuhan memberkati.

  Tim Redaksi/Tabita

  "Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, Tuhan jijik
           melihat penumpah darah dan penipu." (Mazmur 5:7)

*********************************************************************
o/ ARTIKEL

                         KEBOHONGAN PADA ANAK
                         ====================

  Setiap anak pernah berbohong dalam hidupnya. Ada yang melakukannya
  karena situasi yang mendesak, namun ada pula yang menjadikannya
  sebagai suatu kebiasaan yang pada akhirnya akan membawa kehancuran
  pada hidup anak.

  Menindak seorang anak yang kedapatan berbohong tidaklah mudah.
  Selain meneliti berbagai alasan dan penyebab yang mungkin mendorong
  seorang anak untuk berbohong, sebagai guru Sekolah Minggu kita juga
  harus bertindak dengan sangat hati-hati serta bijaksana, supaya
  teguran dan disiplin yang kita berikan dapat membawa anak pada
  jalan yang benar dan bukannya malah menyakiti hati anak.

  A. CERITA ANAK YANG BERBOHONG

  Tentunya kita masih ingat cerita si boneka kayu lucu yang bernama
  Pinokio. Dalam salah satu adegannya diceritakan bagaimana si
  Pinokio berbohong untuk menutupi kesalahannya, yaitu membolos dari
  sekolah. Pada saat kata-kata bohong keluar dari mulutnya, bertambah
  panjanglah hidung si Pinokio.

  Cuplikan cerita di atas ingin mengajarkan pada anak bahwa berbohong
  itu tidak baik, dan berkata bohong bukanlah suatu tindakan yang
  benar untuk dilakukan apa pun alasannya. Selain itu, berbohong
  juga tidak akan menyelesaikan masalah, sebaliknya justru akan
  menimbulkan masalah lain.

  Cerita "The Boy Who Cried Wolf" (Anak Laki-Laki yang Teriak
  Serigala) merupakan contoh lain yang mengajarkan kepada anak
  untuk tidak dengan mudah berbohong pada orang lain, meskipun itu
  hanya sekedar "main-main".

  Dalam cerita yang terkenal ini, dikisahkan kebiasaan buruk seorang
  anak yang suka berteriak, "Ada serigala, ada serigala!". Namun
  setiap kali orang banyak datang dan hendak menolongnya dari serangan
  serigala, anak tersebut tertawa karena semua orang terpedaya oleh
  ucapan bohongnya itu. Hingga pada suatu hari dimana anak tersebut
  sungguh-sungguh diserang oleh serigala dan berteriak, "Ada
  serigala, ada serigala!", tidak ada seorang pun yang menggubrisnya
  karena mereka mengira bahwa anak tersebut berbohong lagi seperti
  yang sudah-sudah.

  B. PELAJARAN DARI ALKITAB MENGENAI KEBOHONGAN

  Alkitab mengajarkan pada kita untuk selalu berlaku jujur,
  mengatakan yang benar jika itu benar dan yang salah jika itu salah,
  membuang dusta, dan menghindari kebohongan.

  Beberapa kisah di Alkitab secara jelas menunjukkan penghukuman
  Tuhan atas sikap serta perilaku orang-orang yang tidak jujur,
  misalnya: Ananias dan Safira bersepakat mengatakan hal yang tidak
  sebenarnya, Gehazi menipu tamu Elisa untuk mendapatkan uang serta
  materi, atau Yakub yang bersekongkol dengan ibunya untuk mengelabui
  Ishak, ayahnya sendiri.

  Kebohongan jelas merupakan perbuatan yang tidak terpuji, namun cara
  mengoreksi tindakan anak yang berbohong tidaklah sederhana dan
  mudah. Karena ada beberapa jenis kebohongan dan berbagai alasan
  anak berbohong, maka sebagai guru Sekolah Minggu kita perlu
  terlebih dulu mengenali latar belakang dan sebab-sebab seorang anak
  berbohong sebelum kita melakukan tindakan koreksi.

  C. DUSTA SEMU DAN DUSTA YANG SEBENARNYA

  Seorang anak balita yang melihat sebuah film tentang kereta api dan
  bercerita bahwa ia baru saja naik kereta api (padahal kenyataannya
  tidak demikian), tidak dapat disebut berdusta/berbohong. Anak
  balita suka berimajinasi dan masih sulit membedakan khayalannya
  dengan kenyataan hidupnya. Anak pada usia ini masih banyak yang
  belum mengetahui perbedaan mengatakan yang benar dan yang tidak
  benar. "Kebohongan" semacam ini disebut sebagai "dusta semu".

  Alex Sobur dalam artikelnya yang berjudul "Bila Anak Anda Suka
  Berdusta" mengajak para pembaca untuk membedakan antara dusta semu
  dari dusta yang sebenarnya. Seseorang melakukan dusta yang
  sebenarnya apabila "ia secara sadar mengatakan sesuatu yang tidak
  benar, dengan maksud memperdaya seseorang untuk memperoleh suatu
  penipuan."

  Untuk membedakan dusta yang bersifat semu dan dusta yang
  sebenarnya, Alex Sobur mengemukakan ciri-ciri dusta semu sebagai
  berikut:
    1. Dusta semu sering disebabkan karena daya khayal.
    2. Dusta semu tidak mengetahui antara yang benar dan yang tidak
       benar.
    3. Dusta semu tidak bermaksud untuk memperdayakan seseorang.
    4. Dusta semu tidak bermaksud mencari keuntungan dengan tidak
       mengatakan yang tidak benar itu.
    5. Dusta semu disebabkan karena pengamatan yang salah.

  Sedangkan dusta yang sebenarnya dapat disebabkan karena hal-hal
  sebagai berikut:
    1. Mempunyai perasaan takut, artinya takut mengatakan sesuatu
       yang sebenarnya, misalnya takut dimarahi oleh orangtuanya.
    2. Mempunyai rasa dengki atau iri hati, misalnya iri terhadap
       temannya.
    3. Mempunyai maksud menguasai orang lain.
    4. Mempunyai maksud untuk meperolok-olokkan orang lain.

  Jadi, penting bagi kita semua untuk terlebih dahulu menentukan
  jenis kebohongan yang dilakukan oleh anak sebelum kita bertindak
  untuk mengoreksi perilaku mereka.

  D. HARGA DIRI DAN PERILAKU BERBOHONG

  Mengapa ada anak yang sepertinya "suka berbohong"? Bahkan cenderung
  menjadikan perilaku tersebut sebagai suatu kebiasaan dalam
  hidupnya?

  Dalam banyak kasus, menurut artikel yang berjudul "Karena Terancam
  Tito Berbohong", masalah utama seorang anak jatuh dalam kebiasaan
  berbohong adalah karena anak tersebut mulai kurang menghargai
  dirinya sendiri. Hal ini bisa disebabkan oleh orang-orang di
  sekitarnya yang menuntut secara berlebihan, tidak menghargainya,
  atau karena pola pendidikan yang keliru.

  Mendorong anak untuk menguasai kecakapan tertentu, sesederhana
  apapun bentuknya, sangatlah membantu anak untuk mengembalikan rasa
  percaya dirinya. Lingkungan yang mendukung dari orang-orang yang
  mau mengerti serta menerima anak (meskipun anak tersebut bukan anak
  yang "manis" atau "pandai") juga akan menolong anak keluar dari
  rasa takut berbuat salah atau dari rasa minder yang tidak sehat.

  Seorang anak yang menerima cinta kasih yang tulus dari orang-orang
  yang dekat dengannya cenderung akan lebih mengembangkan kebiasaan
  yang baik dan tidak suka berbohong. Sebaliknya, seorang anak yang
  dibesarkan dalam suasana yang tegang, dimana kesalahan kecil
  mendatangkan hukuman yang hebat, tuntutan orang tua sangat tinggi,
  dan penghargaan serta pujian mahal harganya, akan mencetak anak
  yang rusak harga dirinya, yang memilih jalan keluar "berbohong"
  untuk menghindar dari berbagai tekanan hidupnya.

  Menanamkan nilai-nilai kejujuran adalah penting. Ajarkan pada anak
  bahwa Tuhan menghendaki anak-anak-Nya datang kepada-Nya dengan hati
  yang jujur dan terbuka. Bahwa Tuhan mau menerima siapa saja yang
  datang kepada-Nya meminta pengampunan atas segala dosa dan
  kesalahan yang telah diperbuatnya. Dan bahwa Tuhan memberikan
  pengampunan serta hidup baru bagi mereka yang bertobat/berbalik
  dari perilakunya yang tidak benar.

  Kiranya Tuhan memberkati pelayanan anda.

  Sumber:
  1. Judul artikel: Bila Anak Anda Suka Berdusta
     Judul buku   : Butir-Butir Mutiara Rumah Tangga
     Penulis      : Alex Sobur
     Penerbit     : BPK Gunung Mulia
     Halaman      : 98 - 100

  2. Judul artikel: Karena Terancam Tito Berbohong
     Judul buku   : Kumpulan Artikel Intisari Psikologi Anak
     Penerbit     : PT Gramedia
     Halaman      : 124 - 125
     (Bagian II ide diungkapkan dan dikembangkan dengan kata-kata
     sendiri dengan ide dari artikel tsb.)

  3. Judul buku   : Aesop's Fables
     Penerbit     : Ladybird Books
     Halaman      : 12


*********************************************************************
o/ TIPS MENGAJAR

                 MENGATASI ANAK KECIL YANG BERBOHONG
                 ===================================

  Apakah kebohongan pada anak batita (di bawah tiga tahun) merupakan
  perilaku yang perlu dikuatirkan? Apakah seorang anak batita yang
  "berbohong" dapat dikatakan telah berdosa? Apakah kebiasaan
  "berbohong" pada anak batita tertentu merupakan prediksi tentang
  sikap moral anak di masa yang akan datang?

  Sebagai guru Sekolah Minggu, khususnya yang mengajar anak-anak
  pra-sekolah, kita perlu mencermati dengan lebih jelas mengenai
  kondisi mental serta penyebab munculnya kebohongan tersebut. Kasus
  kebohongan pada anak yang masih kecil ini biasanya agak berbeda
  dari kasus-kasus yang terjadi pada anak yang lebih besar, yang
  sudah memahami apa itu berbohong.

  Sebuah buku pedoman mengenai anak batita "Anak di Bawah Tiga
  Tahun: Apa yang Anda Hadapi Bulan per Bulan" pada salah satu
  bagiannya membahas khusus perilaku berbohong pada anak batita dan
  menjelaskan 4 alasan anak berbohong, yaitu:

  1. Kebutuhan untuk mempertahankan kebaikan
     ---------------------------------------
     Menurut pikiran anak batita, menolak mengakui perbuatan salah
     akan membuat perbuatan ini lenyap dan ia tetap `bersih`

  2. Keinginan untuk menghindari konsekuensi
     --------------------------------------
     Pikiran anak berlanjut: "Jika saya tidak menceritakan pada ayah
     bahwa saya telah menjatuhkan crayon, mungkin saya tidak usah
     memungutnya kembali."

  3. Ingatan yang masih pendek
     -------------------------
     Ketika Jonathan menuduh Laura merebut truk darinya, ia mungkin
     sudah lupa bahwa dialah yang merebutnya terlebih dulu dari
     Laura.

  4. Kesulitan membedakan kenyataan dan khayalan dengan sepenuhnya
     -------------------------------------------------------------
     Ketika Kayla mendapat boneka baru, Hillary sama sekali bukan
     bersikap tidak jujur ketika berkata "Saya juga mendapat boneka
     baru." Bagaimana pun, mengucapkan khayalannya akan membuat ia
     merasa lebih baik.

  Berhubung "kebohongan" pada anak batita kemungkinan besar
  disebabkan oleh pengertiannya yang masih berkembang tentang yang
  benar dan yang salah, tindakan yang jujur dan tidak jujur, dan
  seringkali "kebohongan" tersebut tidak digunakan untuk maksud jahat
  atau sudah dipersiapkan sebelumnya, maka jenis "kebohongan" ini
  tidak selayaknya mendapatkan hukuman.

  Namun demikian, adalah tidak tepat juga bila kita membiarkan saja
  mereka "berbohong" dengan pemikiran toh nantinya mereka akan
  mengerti sendiri bila sudah besar. Justru di sinilah peran kita
  sebagai guru Sekolah Minggu untuk membentuk pemahaman yang benar
  dalam diri anak untuk bersikap dan berlaku jujur sejak dini.

  Beberapa tips di bawah ini dapat membantu para guru untuk
  menanamkan kejujuran pada anak-anak pra-sekolah:

  1. Jangan membawa anak ke dalam "pencobaan"
     ---------------------------------------
     Bila anda dengan jelas melihat anak melakukan suatu perbuatan
     yang tidak benar, misal mendorong atau memukul temannya, jangan
     tanyakan "Apakah kamu yang mendorong Ani?" Sebaiknya langsung
     saja katakan "Saya lihat kamu mendorong Ani. Maukah kamu
     menceritakan pada saya mengapa kamu melakukan hal itu?"

  2. Jangan memaksa anak untuk "mengaku"
     -----------------------------------
     Jika anda mendapati anak menyangkali perbuatannya (padahal
     dengan jelas anda telah melihatnya sendiri) janganlah memaksa
     dia atau memojokkannya sampai anda mendapatkan pengakuannya. Hal
     ini justru akan membuat perasaan anak terluka dan hubungan di
     antara kalian menjadi rusak. Lebih baik anda menjelaskan bahwa
     apa yang dilakukannya itu tidak benar (dan jelaskan secara
     singkat alasannya). Bila perlu berikan 'sanksi' atas tindakannya
     yang salah tersebut (BUKAN atas "kebohongan"nya) berikanlah
     dengan tegas dan tetap ramah. Jika dalam kasus tertentu anda
     tidak mengetahui kejadian sesungguhnya, jangan pernah sekali-
     kali  menuduh anak, (misal: "Ari, pasti ini kamu yang memukul
     Nona") apalagi memberi hukuman padanya. Untuk hal semacam ini,
     lebih baik anda bertanya pada anak apa yang baru saja terjadi
     dan apa pun cerita mereka terimalah dan katakan, "Saya senang
     bila kamu mau mengatakan yang sebenarnya."

  3. Memberikan penghargaan pada anak yang berlaku jujur
     --------------------------------------------------
     Bila ada anak yang jujur mengakui perbuatannya yang kurang baik,
     misalnya: mengaku telah memukul temannya, katakan padanya "Saya
     senang kamu mengatakan hal yang sebenarnya/jujur." Tapi, bukan
     berarti pengakuannya ini akan membuatnya terlepas dari tanggung
     jawab. Sebaiknya guru tetap memberikan 'sanksi' atas perbuatannya
     tersebut, misalnya dengan mengajaknya meminta maaf kepada teman
     yang baru saja dipukulnya.

  4. Menyampaikan cerita teladan
     ---------------------------
     Dalam beberapa kesempatan, ceritakan berbagai kisah Alkitab yang
     menyorot tindakan berbohong dan tunjukkan bahwa Tuhan tidak
     membenarkan tindakan tersebut. Beberapa cerita teladan di luar
     Alkitab juga dapat disampaikan pada anak, misalnya: "The Boy Who
     Cried Wolf" (Anak Laki-Laki yang Teriak Serigala).

  5. Menjadi teladan bagi anak
     -------------------------
     Sebagai guru, kita sendiri harus mampu bersikap dan bertindak
     jujur. Bahkan "kebohongan putih" pun sebaiknya tidak dilakukan
     oleh guru Sekolah Minggu. Misalkan anak ingin bermain lift
     sementara ada banyak orang menunggu giliran untuk
     menggunakannya.
     Lebih baik langsung saja kita katakan "Maaf ya, kita harus
     bergantian karena ada banyak orang yang juga ingin menggunakan
     lift." daripada mengatakan "Wah, liftnya rusak!" atau "Awas, di
     dalam lift ada hantunya." dan macam-macam alasan tidak benar
     lainnya.

  Bersikap dan berlaku jujur merupakan kebiasaan yang harus dipupuk
  sejak dini. Karena itu, didiklah anak-anak yang Tuhan percayakan
  kepada anda supaya mereka bertumbuh menjadi anak yang sehat jiwa
  serta rohaninya.

  Selamat melayani.

  Sumber:
  1. Judul buku: Anak di Bawah Tiga Tahun: Apa yang Anda Hadapi
                 Bulan per Bulan
     Penulis   : Arlene Eisenberg, Heidi E. Murkoff, Sandee E.
                 Hathway, B.S.N.
     Penerbit  : Penerbit ARCAN
     Halaman   : 490 - 493

  2. Tim Redaksi


*********************************************************************
o/ SERBA-SERBI

                  BOHONG PUTIH: BOLEH ATAU TIDAK?
                  ==============================

  Seringkali kita mendengar pandangan yang mengatakan bahwa "bohong
  putih" itu tidak apa-apa, toh tujuannya baik. Dalam kenyataan
  hidup, sulit sekali untuk berlaku jujur apalagi di saat yang sama
  kita seringkali diperhadapkan dengan suatu dilema. Sehingga "bohong
  putih" seringkali menjadi salah satu pilihan terpaksa sebagai jalan
  keluar.

  Sebagai contoh, anda sedang mengajak anak anda yang masih berusia
  3 tahun berjalan-jalan di taman dan kebetulan ada seorang penjaja
  es krim yang lewat. Anak anda segera merengek minta dibelikan, tapi
  anda tidak ingin membelikannya karena anak anda sedang batuk.
  Mungkin pada akhirnya anda akan tergoda untuk mengatakan pada anak
  bahwa es krim yang dibawa penjual tersebut sebenarnya sudah habis.

  Pada dasarnya "bohong putih" sama saja dengan kebohongan, yaitu
  mengatakan hal yang tidak benar dengan tujuan mengelabui seseorang.
  Untuk mengajarkan sikap dan perilaku jujur pada anak, sebagai orang
  dewasa kita harus terlebih dulu memberi contoh yang baik.

  Meskipun anak kecil dapat kita "perdaya" oleh "kebohongan putih"
  tersebut, pada saatnya mereka akan mengerti juga dan pada saat itu
  tiba mereka telah belajar dua hal yang tidak menguntungkan dari
  kita, yaitu:
  1. Anak menganggap "bohong" sebagai jalan keluar dari situasi yang
     sulit
  2. Anak mendapati bahwa orang tua (orang dewasa) tidak selalu
     dapat dipercayai perkataannya


  Bahan di atas diambil dari:
  Judul buku: Anak di Bawah Tiga Tahun: Apa yang Anda Hadapi
              Bulan per Bulan
  Penulis   : Arlene Eisenberg, Heidi E. Murkoff, Sandee E.
              Hathway, B.S.N.
  Penerbit  : Penerbit ARCAN
  Halaman   : 491


*********************************************************************
o/ STOP PRES!

              PAKET NATAL 2001 DARI YAYASAN DOMBA KECIL

  Yayasan Domba Kecil akan menyelenggarakan Presentasi Sehari berupa
  Paket Natal 2001, yang akan diadakan di enam kota di P. Jawa. Untuk
  itu YDK mengundang para Guru Sekolah Minggu, Guru Sekolah, Penginjil
  Anak, Pencinta Anak dan semua yang merayakan Natal bersama anak-
  anak untuk mengikutinya.

  Topik:
  1. Musikal Drama Natal
  2. Cerita Boneka Natal
  3. Peraga Cerita Natal
  4. Peraga Lagu Natal
  5. Ayat Hafalan Natal
  6. Ide-ide Alat Peraga Natal
  7. Aktivitas Natal
  8. Ide Hadiah Natal

  Presentasi Sehari tersebut akan diadakan di:

  1. BOGOR
     Tema  : Yesus Lahir Membawa Mujizat Keselamatan
     Waktu : Sabtu, 17 November 2001, pk. 13:00-16:00 WIB
     Tempat: Gereja Bethel Indonesia Elohim, Jl. Batutulis 66 Bogor

  2. PEKALONGAN
     Tema  : Malam Ajaib
     Waktu : Rabu, 21 November 2001, pk. 09:00-12:00 WIB
     Tempat: Gereja Bethel Maranatha, Jl. Diponegoro 37 Pekalongan

  3. KUDUS
     Tema  : Malam Ajaib
     Waktu : Kamis, 22 November 2001, pk. 17:30-20:30 WIB
     Tempat: JKI Elim, Jl. Pemuda 60 Kudus

  4. SEMARANG
     Tema  : Malam Ajaib
     Waktu : Sabtu, 24 November 2001, pk. 14:00-16:30 WIB
     Tempat: Gereja Isa Almasih Tanah Mas, Jl. Delta Mas Raya A-16
             Semarang

  5. SOLO
     Tema  : Hari Heboh
     Waktu : Senin, 26 November 2001, pk. 18:00-20:30 WIB
     Tempat: Gereja Bethel Injil Sepenuh Kepunton
             Jl. A.R. Hakim 49, Solo

  Untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai Paket Natal 2001
  ini anda juga dapat menghubungi:
  Yayasan Domba Kecil                Tel. +62(21) 560-2630, 566-8962
  Jl. Tanjung Duren Utara III E/236  Fax. +62(21) 566-8962
  Jakarta Barat 11470 - INDONESIA


*********************************************************************
o/ DARI ANDA UNTUK ANDA

 Dari: Helsi.Dominggus@
 >Syallom...
 >Kalau bisa saya minta bantuannya agar lebih banyak dikirimkan
 >beberapa serba-serbi terlebih kalau berupa kesaksian nyata lebih
 >baik lagi, saya memerlukan ini, kalau ada mungkin bisa menambah
 >kesaksian saya tentang Tuhan Yesus di zaman sekarang ini.

 Redaksi:
 Terima kasih untuk sarannya, pada waktu yang akan datang kami akan
 mencoba menambah dengan kesaksian-kesaksian. Tapi jika anda
 menginginkan lebih banyak kesaksian, anda bisa berlangganan publikasi
 e-JEMMi (Journal Elektronik Mingguan Misi) yang banyak memuat
 kesaksian misi tentang apa yang Allah kerjakan di dunia ini. Bila
 anda tertarik untuk berlangganan, silakan kirim email kosong ke:
          <subscribe-i-kan-misi@xc.org>

 atau anda bisa baca kesaksian/arsip dari Situs e-JEMMi dan e-MISI:
          http://www.sabda.org/publikasi/e-jemmi/
          http://www.sabda.org/misi/cerita/

*********************************************************************
Untuk berlangganan kirim e-mail ke: <subscribe-i-kan-BinaAnak@xc.org>
Untuk berhenti kirim e-mail ke:   <unsubscribe-i-kan-BinaAnak@xc.org>
Untuk Arsip e-BinaAnak:    http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
*********************************************************************
      Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
            Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
                 Copyright(c) e-BinaAnak 2001 YLSA

><> ========= PUBLIKASI ELEKTRONIK UNTUK PEMBINAAN ANAK ========== <><


 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org