Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-binaanak/40

e-BinaAnak edisi 40 (3-8-2001)

Bercerita

      ><>  Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak  <><


Daftar Isi:                                   Edisi 040/Juli/2001
-----------
    o/ SALAM DARI REDAKSI
    o/ ARTIKEL             : Teknik Bercerita
    o/ TIPS BERCERITA      : Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Bercerita
    o/ SERBA SERBI         : Variasi Membuka Cerita yang Kreatif
    o/ SHARING GURU SM     : Vacation Bible School "Beach Trek"
    o/ DARI ANDA UNTUK ANDA: Membuat Kumpulan Cerita Ilustrasi

***********************************************************************
Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi di:
Meilania <submit-BinaAnak@sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak@xc.org>
***********************************************************************
o/ SALAM DARI REDAKSI

   Salam Sejahtera dalam Kristus,

   Bercerita adalah salah satu teknik yang paling sering digunakan guru
   Sekolah Minggu untuk menyampaikan Firman Tuhan. Bercerita pada anak-
   anak Sekolah Minggu akan terasa lebih mudah apabila guru Sekolah
   Minggu memahami teknik dasar dalam bercerita dan melakukan persiapan
   untuk bercerita jauh-jauh hari. Ada banyak teknik, metode, dan cara
   yang dapat digunakan dalam mengajarkan kebenaran Alkitab kepada anak-
   anak. Pada edisi ini e-BinaAnak akan menyampaikan teknik bercerita
   dan juga hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bercerita agar cerita
   dapat menarik perhatian anak.

   Kiranya ide-ide yang disampaikan e-BinaAnak kali ini dapat menolong
   anda untuk bercerita secara kreatif.

   Selamat Melayani!

   Tim Redaksi/Tabita

     "Kami tidak hendak sembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi
      kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian
           kepada Tuhan dan kekuatan-Nya dan perbuatan ajaib
               yang telah dilakukan-Nya.   (Mazmur 78:4)
        < http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Maz/T_Maz78.htm 78:4 >

**********************************************************************
o/ ARTIKEL
                           TEKNIK BERCERITA
                           ================

   Bercerita merupakan salah satu teknik menyampaikan Firman Tuhan
   yang paling sering digunakan oleh guru Sekolah Minggu. Tuhan Yesus
   pun, semasa hidup-Nya di dunia, menggunakan teknik bercerita dalam
   mengajarkan kebenaran kepada para pengikut dan pendengar-Nya.

   Ada banyak alasan mengapa seseorang memilih menggunakan teknik
   bercerita dibanding teknik lainnya seperti drama, diskusi, atau
   menggunakan peralatan audio visual. Beberapa alasan yang sering
   dikemukakan adalah:

   1. Lebih Praktis dan Fleksibel
      ---------------------------
      Praktis karena dapat dilakukan seorang diri tanpa koordinasi
      dengan orang lain (seperti drama, misalnya) dan juga fleksibel
      karena cerita dapat disampaikan hampir di segala tempat maupun
      situasi, baik di dalam atau di luar kelas, kepada orang dalam
      jumlah banyak atau sedikit.

   2. Lebih Murah (Tanpa atau dengan Alat Peraga)
      -------------------------------------------
      Bercerita merupakan alat pengajaran yang sangat murah, karena
      dapat digunakan dengan atau tanpa alat peraga. Guru Sekolah
      Minggu dapat bebas memilih dan mengembangkan sendiri alat peraga
      yang bervariasi, baik membawa gambar, peraga, boneka sebagai
      partner, membuat sketsa selama bercerita, menciptakan gerak-gerik
      tertentu dan melibatkan anak dalam cerita, dan variasi-variasi
      yang lain.

   3. Pada Umumnya Anak Lebih Menyukai Cerita
      ---------------------------------------
      Untuk anak yang lebih kecil, bahkan cerita yang sudah dikenal pun
      akan tetap memiliki daya tarik bila guru dapat mengemasnya dengan
      variasi cerita yang menarik, yang disertai adegan-adegan
      pengulangan pada bagian tertentu. Sedangkan bagi anak yang lebih
      besar, keahlian guru membangkitkan rasa ingin tahu anak terhadap
      kelanjutan cerita akan memikat perhatian mereka selama proses
      bercerita disampaikan.

   Sayangnya, Teknik Bercerita seringkali dianggap sebagai teknik yang
   paling "mudah", sehingga sebagian guru merasa tidak perlu melakukan
   persiapan karena mereka tinggal "menceritakan ulang" isi bahan
   persiapan mengajar yang telah dibaca atau didapatnya dari kelompok
   persiapan guru. Padahal, dalam menyampaikan cerita, seseorang harus
   benar-benar memiliki persiapan yang cukup matang untuk mengemas
   ulang bahan pengajarannya. Hal ini penting untuk dilakukan supaya
   pada saat cerita disampaikan, tujuan yang ingin dicapai benar-benar
   sampai pada sasaran.

   Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam menggunakan
   Teknik Bercerita antara lain:

   1. Pendengar Harus Terlibat
      ------------------------
      Seorang guru Sekolah Minggu biasanya menyampaikan cerita lengkap
      dengan berbagai intisari pengajarannya tanpa melibatkan anak-anak
      yang diajarnya. Padahal, keterlibatan anak secara aktif akan
      semakin mendorong pemahaman anak akan arti cerita.

      Dalam beberapa kesempatan pelayanannya, Tuhan Yesus tidak hanya
      menyampaikan cerita, kotbah atau perumpamaan saja, namun juga
      membuat para pendengar-Nya memberikan respons/tanggapan. Dan dari
      berbagai tanggapan tersebut, Tuhan Yesus mengemasnya sedemikian
      rupa untuk melanjutkan apa yang ingin disampaikan-Nya pada orang
      banyak. (Luk 20:9-19, Luk 17:1-6, Luk 14:12-14 dilanjutkan dengan
      ayat 15-24)

   2. Cerita Dapat Dimengerti dan Memiliki Makna Bagi Pendengarnya
      ------------------------------------------------------------
      Dalam menyampaikan cerita, guru juga harus jeli melihat kebutuhan
      rohani anak yang dilayaninya, keadaan dan situasi dimana anak
      tersebut tinggal, serta pengetahuan anak tentang dunianya. Cerita
      di Alkitab mengenai "perumpamaan bendahara yang tidak jujur",
      misalnya, akan kurang mengena bila disampaikan pada anak balita,
      tapi kisah "Tuhan Yesus memberkati anak-anak" akan jauh lebih
      mengena dan kontekstual bagi kehidupan mereka.

      Tuhan Yesus sendiri dalam menyampaikan perumpamaan, misalnya,
      menggunakan tempat dan situasi yang sudah akrab dengan para
      pendengarnya, seperti: seorang penabur dengan tanah garapannya,
      seorang ayah dan anaknya, seorang tuan dan hamba, para pekerja di
      kebun anggur, dan sebagainya.

   3. Guru Benar-Benar Memahami Cerita yang akan Disampaikan
      ------------------------------------------------------
      Seorang pembawa cerita yang baik dapat membawa anak-anak serasa
      masuk ke dalam tempat dan suasana cerita yang sesungguhnya dan
      dapat membuat karakter dalam cerita menjadi lebih hidup. Hal ini
      bisa terjadi apabila guru benar-benar memahami cerita yang akan
      disampaikan. Hal-hal yang perlu dipahami dengan benar antara
      lain:

      a. Tempat Kejadian
         ---------------
         Dalam menggambarkan tempat kejadian, gunakanlah alat peraga
         dan kalimat yang jelas untuk memudahkan anak-anak
         menggambarkan dan memahami tempat terjadinya peristiwa
         tersebut.

      b. Kejadian/Peristiwa
         ------------------
         Dalam bercerita pada anak-anak kecil, sebaiknya anda
         menyampaikan alur kejadian secara urut, dari awal, pertengahan
         hingga akhir. Cerita yang menggunakan alur flashback tidak
         akan banyak membantu anak-anak dalam memahami dan mengerti
         cerita yang disampaikan. Jika suatu cerita merupakan
         kelanjutan dari cerita sebelumnya, maka, sebelum bercerita,
         berilah pertanyaan pada anak-anak untuk mengingatkan cerita
         sebelumnya. Usahakan anda menceritakan terjadinya peristiwa
         secara kronologis.

      c. Karakter
         --------
         Dalam bercerita, jelaskan karakternya, tokoh atau pelaku yang
         terdapat dalam cerita tersebut, siapa namanya, bagaimana
         kepribadiaannya, bagaimana bentuk wajahnya, penakut, pemalu
         atau pemberani. Bagaimana bentuk badannya, tinggi, kurus,
         pendek, gemuk. Apa status sosialnya, raja, penduduk,
         pendatang, pedagang atau pemungut cukai. Apa motivasi yang
         dimiliki tokoh tersebut. Apa keistimewaannya. Dan
         kembangkanlah karakternya dengan jelas.

   Ada sebagian orang yang disebut "berbakat" atau "berkharisma"
   sehingga dengan mudah orang-orang ini memikat perhatian para
   pendengarnya. Namun sebagai pelayan Tuhan, janganlah kita berkecil
   hati bahkan terkecoh oleh penampilan luar seseorang. Ingatlah bahwa
   dalam menyampaikan Firman Tuhan, tugas kita sebagai guru Sekolah
   Minggu adalah mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin dan
   bertanggung jawab di hadapan Tuhan, selanjutnya Roh Kudus yang akan
   bekerja untuk memberikan buah-buah pertobatan.

   Sumber:
   1. Judul buku : The Complete Handbook for Children Ministry
                   (How to Reach & Teach the Next Generation)
      Editor     : Dr. Robert J. Choun dan Dr. Michael Lawson
      Penerbit   : Thomas Nelson Publisher
      Halaman    : 308-309

   2. Tim Redaksi (Meilania)

**********************************************************************
o/ TIPS BERCERITA

             HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN SAAT BERCERITA
             ==============================================

   "Ceritanya menarik sekali!"
   "Wah ... ceritanya benar-benar membosankan"
   "Ehmm ... apa ya ceritanya tadi?"
   "Ceritanya bagus sih ... tapi, maksudnya apa saya tidak tahu"
   "Yaah .. kalau itu sih saya sudah tahu ceritanya ..."

   Berbagai komentar anak di atas tentulah sudah tidak asing bagi para
   guru Sekolah Minggu. Cerita, di satu sisi, dapat memikat perhatian
   anak, tapi sebaliknya, cerita juga dapat menjauhkan perhatian anak
   dari guru yang bercerita. Oleh karena itu seorang guru harus
   benar-benar mempersiapkan diri dengan baik sebelum memberanikan
   diri bercerita di depan anak-anak. Sedikitnya ada 3 hal penting yang
   perlu mendapat perhatian, yaitu:

   A. ORANG YANG BERCERITA

   1. Penampilan
      ----------
      Meskipun bukan yang utama, penampilan tetap harus dijaga. Guru
      harus tampak rapi, bersih, mengenakan baju yang pantas dan
      membuatnya merasa nyaman serta mudah bergerak, bersikap wajar dan
      rileks.

   2. Gerakan Tubuh
      -------------
      Gerakan tubuh harus dijaga supaya tidak mengalihkan perhatian
      anak dari fokus cerita. Beberapa orang memiliki kecenderungan
      melakukan gerakan-gerakan yang "mengganggu" tanpa disadarinya,
      seperti: memasukkan tangan ke dalam saku celana, menggaruk-garuk
      kepala, pandangan selalu ke atas, dsb. Guru sebaiknya memang
      bergerak selama menyampaikan cerita, asal tidak berlebihan
      sehingga malah membingungkan anak karena harus menoleh dan
      memutar kepalanya.

   3. Ekspresi
      --------
      Idealnya pandangan mata mengarah pada mata murid, asal jangan
      menatap dengan terlalu tajam atau melihat pada murid-murid
      tertentu saja. Dalam bercerita, gunakanlah ekspresi muka (takut,
      marah, benci, senang). Ubahlah tekanan suara (berat, ringan),
      kecepatan suara (cepat, lambat), dan volume suara (keras, kecil),
      serta bentuk suara (gagap, serak). Perhatikan setiap jeda
      kalimat.

   4. Pilihan Kata
      ------------
      Pilihan kata harus tepat, dan di sinilah letak pentingnya
      persiapan yang matang. Dalam bercerita kepada anak pilihlah
      kata-kata dan pakailah bahasa yang sederhana menurut tingkatan
      pemahaman mereka. Hindari istilah yang sulit, kecuali istilah
      tersebut memang merupakan bagian penting dalam cerita, misalnya:
      akan menjelaskan mengenai sinagoge.

   Arahkan setiap komentar dan pertanyaan agar tujuan pengajaran dapat
   disampaikan serta hindarilah cerita yang panjang lebar. Buatlah
   agar cerita yang disampaikan seringkas mungkin, untuk menjaga
   konsentrasi dan perhatian anak-anak, selain itu setelah cerita
   berakhir masih ada waktu untuk diskusi.

   B. KESELURUHAN CERITA

   1. Pendahuluan
      -----------
      Bagian ini sangat menentukan keberhasilan seluruh cerita anda,
      karena merupakan momen penting untuk mengikat perhatian anak.
      Pendahuluan harus dibuat semenarik mungkin sehingga menimbulkan
      rasa ingin tahu anak. Kalimat pendahuluan dengan menanyakan,
      "Siapa yang masih ingat cerita minggu lalu?" sepertinya bukan
      ide yang baik.

   2. Perubahan
      ---------
      Meskipun telah dipersiapkan dengan matang, tidak menutup

      kemungkinan akan terjadi perubahan saat anda menyampaikan cerita,
      misalnya, ada anak yang memotong cerita anda dengan pertanyaan,
      ada anak yang menangis, ada anak yang berkelahi, dsb. Di sini
      anda dituntut untuk "menyelamatkan situasi" dengan berbagai cara,
      termasuk dengan menggunakan situasi yang sedang berkembang
      sebagai bahan cerita.

   3. Fokus
      -----
      Hindarilah menyisipkan ajaran moral lain di tengah-tengah cerita,
      selain akan mengaburkan cerita utama, hadirnya "pesan sponsor"
      tersebut akan membuat cerita utama kehilangan daya tariknya.

   4. Penutup
      -------
      Cerita harus diakhiri dengan situasi yang membuat anak menahan
      napas serta menanti-nantikannya. Begitu sampai pada klimaks,
      segeralah akhiri, karena bila terlau pamnjang lebar, anak-anak
      biasanya akan merasa jenuh dan letih. Berikan kesan yang mendalam
      pada anak saat anda menyampaikan penutup karena inilah bagian
      penting yang perlu anda tekankan pada mereka.

   C. PENGATURAN TEMPAT DAN SUASANA

   Cerita dapat disampaikan dengan duduk mengelilingi meja, di atas
   lantai/tikar, atau berkerumun di dekat api unggun. Yang penting
   pastikan bahwa anak-anak merasa nyaman sebelum cerita dimulai dan
   bahwa setiap anak memiliki pandangan yang jelas (tidak terhalang)
   pada guru yang akan menyampaikan cerita.

   Pendengar anak-anak cenderung untuk mendekat pada orang yang
   bercerita selama cerita berlangsung, khususnya jika ada alat bantu
   yang menarik, seperti: orang-orangan, boneka maupun wayang. Jadi,
   buatlah aturan tertentu sebelum cerita disampaikan.

   Hubungan yang akrab dapat dibangun antara guru dan anak-anak dengan
   kontak mata dan interaksi. Untuk memelihara hubungan ini usahakan
   kelas terdiri dari sekelompok kecil anak, dan anak yang memiliki
   fisik paling kecil dapat duduk di bagian depan.

   Bila cerita harus disampaikan dalam kelompok besar, maka posisikan
   guru-guru yang lain untuk duduk di tengah anak-anak, supaya dapat
   menjaga dan memberikan contoh pada anak bagaimana sikap mendengarkan
   yang baik.

   Jika anda memikirkan kemungkinan terjadinya pengalihan perhatian
   anak, misalnya oleh anak-anak lain yang berkeliaran di lokasi
   cerita, rencanakan agar setiap anak membawa sesuatu sepanjang anda
   bercerita. Misalnya untuk cerita "domba yang hilang", anda dapat
   memberikan masing-masing anak stiker bergambar domba untuk
   direkatkan di tengah cerita. Gunakan gerakan tangan, nyanyian atau
   tanda yang sama sebagai tanda dimulainya cerita atau sebagai usaha
   menarik kembali perhatian anak pada anda.

   Pada akhirnya, selain berbagai usaha di atas, banyak berlatih juga
   turut membantu "keberhasilan" anda bercerita. Latihan bercerita di
   depan cermin akan sangat membantu, terutama bagi para guru yang
   baru memasuki dunia pelayanan anak. Anda juga dapat merekam suara
   (audio) atau penampilan anda (audio visual) untuk kemudian
   didengarkan dan atau dilihat kembali guna melihat kekurangan serta
   melakukan perbaikan.

   Bahan ini dirangkum dari:
   1. Judul buku : Pembaruan Mengajar
      Penulis    : Dr. Mary Go Setiawan
      Penerbit   : Yayasan Kalam Hidup
      Halaman    : 92-94

   2. Judul buku : The Complete Handbook for Children Ministry
                   (How to Reach & Teach the Next Generation)
      Editor     : Dr. Robert J. Choun dan Dr. Michael Lawson
      Penerbit   : Thomas Nelson Publisher
      Halaman    : 308-309

**********************************************************************
o/ SERBA-SERBI

                 VARIASI MEMBUKA CERITA YANG KREATIF
                 ===================================

   Seorang pembawa cerita yang baik dapat membawa anak-anak serasa
   masuk ke dalam tempat dan suasana cerita yang sesungguhnya dan dapat
   membuat karakter dalam cerita menjadi lebih hidup. Ketrampilan guru
   menggunakan berbagai macam dan jenis suara, menjadi penting
   karenanya.

   Ketrampilan membuka cerita dengan menggunakan suara-suara memiliki
   daya tarik tersendiri, karena biasanya, dengan segera anak akan
   memusatkan perhatian pada asal suara tersebut muncul, siapa lagi
   kalau bukan pada si guru yang akan memulai ceritanya.

   Beberapa ide untuk membuka cerita antara lain:

   1. Cerita/Ilustrasi Singkat
      ------------------------
      Sebelum cerita utama disampaikan, berikan cerita/ilustrasi
      singkat sebagai pengantar cerita. Ilustrasi haruslah dipilih yang
      singkat dan sesuai dengan tujuan cerita. Misalnya cerita: "Tuhan
      Yesus mati di salib." Tujuan cerita: "Betapa setianya Tuhan
      menebus dosa kita." Cerita ilustrasi singkat yang dipakai: "Kisah
      induk ayam yang rela mati terbakar untuk melindungi anak-
      anaknya." Untuk memikat anak, tirukan suara induk ayam yang
      sedang memanggil anak-anaknya, atau suara ayam yang sedang ribut
      karena terjadi kebakaran.

   2. Kalimat Puitis/Pepatah
      -----------------------
      Sebagai "penarik" perhatian anak, sebelum bercerita berikan
      semacam slogan, pepatah atau kalimat yang puitis. Misalnya, kita
      dapat memulai cerita dengan berteriak keras dan tegas! "MERDEKA!
      MERDEKA! MERDEKA ATAU MATI! DARAHKU KUPERSEMBAHKAN AGAR ENGKAU
      ... MERDEKA!" Lalu dengan suara lembut jelaskanlah pada anak-anak
      Sekolah Minggu, "Adik-adik, para pejuang pada waktu itu bertekad,
      Indonesia harus merdeka. Kalau perlu. kemerdekaan itu harus
      ditebus dengan darah! Walau harus mati mereka rela agar kita
      semua bisa merdeka ... Begitu juga Tuhan Yesus ..." (langsung
      masuk ke cerita utama tentang Tuhan Yesus yang rela mati untuk
      menebus dosa kita).

   3. Mendramatisasi Awal cerita
      --------------------------
      Teknik ini langsung menuju inti cerita (tidak bertele-tele).
      Misalnya cerita tentang penyaliban Tuhan Yesus. Cerita ini dapat
      dimulai dengan kekasaran dan penghinaan para prajurit kepada
      Yesus sebelum menyalibkan Yesus. Tirukan sikap para prajurit
      tersebut. (Dengan suara keras, lantang, sikap congkak dan bengis)
      "Maju! Ayo maju! Hayoo jalan! Katanya Mesias, kok loyo...
      cepaatt! (tarr bunyi cambuk bergema keras) Ayo jalan..!"
      (dilanjutkan dengan cerita sesungguhnya)

   4. Tokoh Tersembunyi
      -----------------
      Pada variasi ini guru menjadi tokoh Alkitab yang menjadi saksi
      mata kisah dalam Alkitab. Misalnya: (Guru memulai sambil
      berekspresi sedih & terisak-isak) "Tidak! Ia tidak boleh mati!
      Tidak! Tidaakkk! Oh.. Tuhan kenapa Engkau mati ... hu ... hu ...
      hu ... Dulu aku begitu sombong mau mati demi Engkau, tapi nyatanya
      aku takut Tuhan ... huu ... hu ... hu ... Tahukah kalian apa yang
      terjadi dengan Guruku? ... Baik ... akan aku ceritakan ..." (Masuk
      ke cerita dengan teknik seolah-olah pencerita adalah saksi mata
      kejadian itu.) Di akhir cerita tanyakan pada anak-anak "Siapakah
      Pencerita itu?" Jawaban yang benar adalah Petrus.

   5. Cerita di dalam cerita
      ----------------------
      Kreasi ini adalah dengan "membungkus" cerita dalam "cerita
      tambahan" agar "sajian" cerita menjadi lebih menarik.
      Misalnya:
      Glegar ... darr ... darr suara kilat menyambar-nyambar "Malam itu
      Kiki sedang tidur sendirian di kamarnya. Mendengar suara kilat
      dan guntur bersahutan, Kiki jadi ketakutan, ia segera berdoa:
      "Tuhan tolonglah aku!". Kemudian dengan penuh penyerahan kepada
      Yesus, Kiki memejamkan matanya. Tanpa disadarinya ia bermimpi
      seperti benar-benar terjadi ... bahkan Kiki sampai berteriak
      "Jangan! ... jangan kau seret Yesusku sekejam itu. Tolonglah
      bapak prajurit ... tolong! Hentikan! Lihat darah-Nya sangat
      banyak! Pak, ampunilah Dia!" Tetapi rupanya prajurit itu tidak
      mempedulikan Dia dan ... (masuk ke cerita utama, setelah cerita
      berakhir) "Jangan ... jangan!!!" (berteriaklah keras!)

      "Ki... Kiki ... kenapa engkau berteriak-teriak terus," kata Papa
      Kiki yang membangunkan Kiki. Kiki terkejut rupanya ia sedang
      bermimpi ... "Papa, tadi Kiki bermimpi seolah-olah Kiki melihat
      sendiri penyaliban Tuhan Yesus di bukit Golgota ..."

   6. Suara Bunyi-bunyian
      -------------------
      Teknik ini sangat mudah dan disukai anak-anak. Pada kreasi ini
      guru menirukan bunyi-bunyian, baik suara binatang, angin, maupun
      suara yang lain. Ada banyak bunyi yang dapat ditirukan dalam
      suatu cerita, misalnya:
      - Suara cambuk prajurit: tar ... tar ... tar
      - Suara sepatu prajurit: tok ... tok ... tok
      - Suara orang banyak berbisik-bisik: sstt.. ssstt..
      - Suara Yesus terjatuh : .. brakk .. aaahhh
      - Teriakan prajurit    : .. Ayo .. jalan!
      - Desah nafas pemikul salib: ohh ..ohh ..ohh
      - Teriakan orang ketakutan: gelap! ..ggllaaappp!
      Mulailah cerita dengan memberikan bunyi-bunyian suara semacam di
      atas. Dan diteruskan langsung pada alur cerita yang diinginkan.

   Demikian beberapa ide membuka cerita yang kreatif, kiranya hal ini
   dapat menolong anda dalam bercerita kepada anak-anak.
   Selamat mencoba!

   Bahan ini diambil dan diedit dari:
   Judul buku : Mengajar Sekolah Minggu yang Kreatif
   Penulis    : Paulus Lie
   Penerbit   : Yayasan Andi
   Halaman    : 36-39

**********************************************************************
o/ "SHARING" PENGALAMAN DARI GURU SEKOLAH MINGGU

   Berikut ini merupakan salah satu sharing guru Sekolah Minggu yang
   yang ditulis oleh Lina W. dalam Newsletternya, saat mengadakan
   Sekolah Alkitab Liburan (SAL) Musim Panas. Kiranya sharing ini
   dapat menambah semangat kita untuk melakukan yang terbaik dalam
   pelayanan kita.

   Kiriman dari Lina W.

   >VACATION BIBLE SCHOOL "BEACH TREK"
   >
   >Sebagai perwujudan dari kerinduan komisi Sekolah Minggu untuk
   >mengisi kegiatan Summer anak-anak dengan kegiatan yang bermakna,
   >maka tahun ini kami mengadakan Sekolah Alkitab Liburan (SAL)/
   >Vacation Bible School (VBS) yang pertama.
   >
   >Dengan tema "BEACH TREK", VBS kali ini telah berlangsung selama
   >seminggu (6 hari) dari tgl. 25 Juni sampai 30 Juni 2001. Kegiatan
   >berlangsung tiap hari kerja selama lima hari berturut-turut dari
   >jam 9 pagi sampai jam 2 siang dan telah berakhir pada hari Sabtu
   >,30 Juni 2001.

   >Peserta "BEACH TREK" berjumlah 46 anak berusia 13 bulan sampai 11
   >tahun, dibagi dalam kelompok kelas:
   >,1. Preschool               10 orang
   >,2. Kindergarten            10 orang
   >,3. Elementary (1st grade)   8 orang
   >,4. Elementary (2nd grade)  10 orang
   >,5. Middle                   8 orang
   >
   >VBS melibatkan 42 orang volunteer, termasuk guru, asisten guru di
   >kelas, craft dan game, pendaftaran, snack/lunch, transportasi,
   >sound system, dokumentasi dan pembersihan.

   >Kegiatan meliputi kegiatan kelompok (group time), craft dan games.
   >Program ini penuh dengan aktivitas dan tantangan yang sangat
   >menarik. Bahan Alkitab yang diajarkan berkaitan dengan air, danau
   >dan pantai, dengan kegiatan harian:
   >,1. COME MEET JESUS! Mengenai Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembabtis.
   >,2. COME HAVE FAITH! Mengenai Yesus meredakan badai.
   >,3. COME AND HEAR! Mengenai perumpamaaan biji yang ditabur,
   >   pengajaran Yesus di tepi danau.
   >,4. COME AND EAT! Mengenai penampakkan Yesus di tepi pantai, dimana
   >   murid-murid bersantap pagi bersama Yesus.
   >,5. COME AND STAY! Mengenai perjalanan Paulus mengabarkan Injil di
   >   Filipi, menyusuri tepi sungai.

   >Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak mengenal Yesus lebih dekat,
   >lebih mendalami kasih Yesus melalui cerita-cerita dari Alkitab dan
   >juga merupakan saat yang baik untuk membina hubungan murid dan guru.
   >Terlihat beberapa anak yang menjadi lebih kooperatif karena hubungan
   >yang lebih dekat dengan para panitia selama lima hari tersebut.
   >Juga anak-anak telah merasakan kegiatan yang "fun", terutama mungkin
   >saat bermain air ....
   >
   >Sebagai program yang baru pertama kali diadakan di gereja saya
   >VBS kali ini masih jauh dari sempurna, tapi panitia yakin bila
   >program ini didukung oleh jemaat dan sukarelawan yang berkomitmen
   >tinggi, maka kita akan dapat melakukannya dengan lebih baik di masa
   >yang akan datang.

   >Panitia juga mengalami penyertaan dan kehadiran Tuhan nyata dalam
   >pelaksanaan program ini. Pada saat yang tepat Tuhan mengirimkan
   >cukup guru, sehingga kami bisa membagi kelas menjadi lebih kecil
   >supaya lebih efektif. Memang kegiatan yang demikian padat membuat
   >kami lelah namun kami merasakan diberi kekuatan dan kesehatan yang
   >baik selama berlangsungnya VBS tersebut.

**********************************************************************
o/ DARI ANDA UNTUK ANDA

   Dari: E. Novalina
   >Ibu Meilania yang baik,
   >Terkadang didalam menyampaikan Firman Tuhan, kita membutuhkan cerita
   >ilustrasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sesuai tingkatan
   >usia anak dengan memakai "bahasa anak".
   >
   >Bagaimana kalau publikasi e-BinaAnak membuat kumpulan cerita
   >ilustrasi yang disesuaikan dengan kelompok umur dan bahannya bisa
   >saja diperoleh dari rekan-rekan guru SM pemerhati e-BinaAnak. Saya
   >yakin sebagai guru SM, pasti ada diantara rekan-rekan kita yang
   >memiliki talenta menulis cerita.
   >
   >Selain menggali bakat terpendam, kegiatan ini bisa semakin mengasah
   >kepekaan guru SM terhadap prinsip Firman Tuhan. Bisa saja suatu saat
   >pada ulang tahun e-BinaAnak misalnya, cerita-cerita ilustrasi
   >tersebut dilombakan dan dipilih cerita favorit berdasarkan pooling
   >dari rekan-rekan lain, asal cerita harus orisinil dengan
   >mencantumkan dasar atau ayat dari Firman Tuhan.
   >
   >Bu Mei, demikian usul saya dan saya belum berani mem-broadcast ide
   >ini, karena mungkin perlu pertimbangan lebih lanjut dari rekan-rekan
   >di redaksi.
   >Tuhan memberkati. E. Novalina

   Redaksi:
   Terima kasih banyak atas ide dan masukan anda yang sangat menarik.
   Redaksi e-BinaAnak pada beberapa edisi yang akan datang akan
   menyertakan beberapa ilustrasi yang menarik, yang dapat menolong
   anda mengajarkan Firman Tuhan pada anak-anak Sekolah Minggu.
   Apabila anda dan juga para pembaca e-BinaAnak punya ide, masukan
   atau saran lain ... jangan ragu untuk segera menghubungi Redaksi.
   Tuhan memberkati.

**********************************************************************
  Untuk berlangganan kirim e-mail ke: <subscribe-i-kan-BinaAnak@xc.org>
  Untuk berhenti kirim e-mail ke:   <unsubscribe-i-kan-BinaAnak@xc.org>
  Untuk arsip:  http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-BinaAnak
**********************************************************************
        Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
              Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
                    Copyright(c) e-BinaAnak 2001 YLSA

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org