Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-binaanak/34

e-BinaAnak edisi 34 (18-6-2001)

Mengenal Kebutuhan Anak

       ><>  Milis Publikasi Elektronik untuk Para Pembina Anak  <><


Daftar Isi:                                        Edisi 034/Juni/2001
-----------
     o/ SALAM DARI REDAKSI
     o/ ARTIKEL                 : Mengenal Anak dan Kebutuhannya
     o/ TIPS MENGAJAR           : Bagaimana Mengajar Alkitab pada Anak
     o/ SERBA SERBI             : Membuat Buku Iman Bersama Anak
     o/ "SHARING" PENGALAMAN    : Saat patah semangat ...
     o/ DARI ANDA UNTUK ANDA

***********************************************************************
Korespondensi dan kontribusi bahan dapat dikirimkan ke staf Redaksi di:
Meilania <submit-BinaAnak@sabda.org> atau <owner-i-kan-BinaAnak@xc.org>
***********************************************************************
o/ SALAM DARI REDAKSI

   Salam Kasih dalam Kristus,

   Seperti yang telah kita ketahui, misi utama Sekolah Minggu adalah
   memberitakan INJIL kepada anak-anak. Para guru SM dan pelayan anak
   memiliki tugas untuk memperkenalkan anak-anak pada Kristus dan
   menuntun mereka untuk menerima Dia sebagai Juruselamat pribadinya.
   Untuk dapat melakukan tugas ini, guru Sekolah Minggu harus lebih
   dahulu belajar mengenal murid-muridnya dengan baik karena mereka
   masing-masing adalah pribadi-pribadi yang unik di hadapan Tuhan.
   Edisi e-BinaAnak kali ini akan khusus membahas tentang "Mengenal Anak
   dan Kebutuhannya", Selain itu, edisi ini juga akan memberi TIPS
   MENGAJAR kepada guru-guru SM tentang "Bagaimana Mengajarkan Alkitab
   pada Anak?". Sebagai tambahan untuk menolong guru mengajar anak
   Firman Tuhan dengan cara yang menarik maka dalam kolom SERBA-SERBI
   kami sajikan kegiatan "Membuat Buku IMAN bersama Anak".

   Seperti yang telah kami umumkan minggu lalu, maka mulai edisi ini
   kami akan menyediakan kolom SHARING PENGALAMAN GURU SEKOLAH MINGGU
   agar pembaca e-BinaAnak dapat mensharingkan pengalaman-pengalamannya
   sebagai guru SM.

   Demikian sajian kami minggu ini. Tuhan memberkati,
   Staf Redaksi

  "Lihatlah betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita,
  sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-
  anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak
                     menganal Dia." (I Yohanes 3:1)
         < http://www.bit.net.id/SABDA-Web/1Yo/T_1Yo3.htm 3:1 >

**********************************************************************
o/ ARTIKEL

                    MENGENAL ANAK DAN KEBUTUHANNYA
                    ==============================

   Mengajar anak di Sekolah Minggu memang merupakan suatu tugas dan
   tanggung jawab yang besar, khususnya bagi guru Sekolah Minggu. Tidak
   cukup guru memiliki pengetahuan yang baik tentang Firman Tuhan, guru
   juga harus "mengenal" keadaan dan kebutuhan murid- muridnya.
   Pelajaran yang disampaikan setiap minggu pada anak-anak tidak akan
   banyak gunanya bila kita sebagai guru tidak mampu mengkaitkan/
   menghubungkan Firman Tuhan dengan kehidupan dan pergumulan hidup
   anak-anak.

   Sebagai contoh, Tulus (nama anak) sudah mengalami lahir baru, namun
   dia belum dapat menghilangkan kebiasaan berkelahinya. Apabila kita
   hanya mengajar mengenai lahir baru saja tanpa mengajarkan bagaimana
   melepaskan diri dari kebiasaan buruk si anak, yaitu berkelahi, maka
   hal ini berarti pengajaran kita kurang sesuai dengan pergumulan/
   kebutuhan hidupnya.

   Sasaran/tujuan dalam mengajar Sekolah Minggu adalah membawa murid-
   murid yang masih muda ini kepada Tuhan agar mereka menemukan hidup
   baru di dalam Yesus serta dapat bertumbuh secara rohani sesuai dengan
   kebenaran Alkitab. Untuk itu, selain pengetahuan tentang Firman
   Tuhan, sebagai guru Sekolah Minggu kita juga harus benar-benar
   mengenal murid-murid kita dan mengerti akan pergumulan/kebutuhan
   hidupnya agar pengajaran yang kita berikan dapat menjawab kebutuhan
   mereka masing-masing.

   A. SIAPAKAH MURID-MURID ANDA?

   Yang menjadi murid-murid di Sekolah Minggu adalah anak-anak yang
   masih dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan, yang (biasanya)
   kita bagi dalam kelompok umur seperti berikut ini:
   1. Anak Asuhan/Batita   :  2 -  3 tahun
   2. Anak Balita/Indria   :  4 -  5 tahun
   3. Anak Pratama/Kecil   :  6 -  8 tahun
   4. Anak Madya/Tengah    :  9 - 11 tahun
   5. Anak Pra-remaja/Besar: 12 - 14 tahun

   Untuk mengetahui karakteristik anak dari masing-masing kelompok umur
   ini, silakan anda melihat ulang edisi e-BinaAnak edisi 019 - 023.

   Selain memiliki karakter umum sesuai dengan kelompok umur masing-
   masing, murid-murid anda juga merupakan pribadi-pribadi yang unik,
   yang berbeda antar anak yang satu dengan anak yang lainnya. Keunikan
   setiap pribadi ini dipengaruhi oleh seluruh aspek kehidupan anak yang
   meliputi aspek fisik, mental, sosial, dan rohani, serta dipengaruhi
   oleh lingkungan yang membentuk mereka, baik lingkungan keluarga,
   sekolah dan masyarakat. Keunikan tiap murid ini menimbulkan adanya
   perbedaan kebutuhan bagi masing-masing mereka, dimana setiap anak
   memerlukan pemenuhan terhadap kebutuhan-kebutuhannya itu.

   Misalnya, anda mengajar di sebuah kelas pratama (6-8 tahun). Dapatkah
   anda bayangkan, bahwa mungkin anda akan mendapati seorang anak yang
   suka berkelahi, sementara itu ada anak yang suka bersungut-sungut,
   ada yang malas menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi tanggung
   jawabnya, atau bahkan ada anak yang memiliki ketakutan jika
   ditinggalkan orang tuanya. Jadi, walau mereka berada dalam kelompok
   umur yang sama, namun setiap anak bisa saja memiliki sifat dan latar
   belakang yang berbeda, yang menjadi penyebab timbulnya perbedaan pula
   dalam kebutuhan dan pergumulan hidup mereka.

   Supaya dapat lebih memahami kebutuhan dan keperluan murid-murid, ada
   baiknya seorang guru Sekolah Minggu memperlengkapi diri dengan
   membuat catatan khusus mengenai kondisi dan kebutuhan murid-muridnya.
   Untuk penjelasan lebih lengkap mengenai hal ini, anda dapat melihat
   ulang edisi e-BinaAnak 001 mengenai cara membuat Buku Data Anak.

   Di bawah ini ada beberapa langkah sederhana yang dapat anda lakukan
   untuk dapat semakin "mengenal" murid-murid anda:
   1. Mengadakan kunjungan ke rumah murid
   2. Bercakap-cakap secara pribadi sebelum atau sesudah pelajaran
      selesai.
   3. Memperhatikan murid ketika dia sedang mengadakan kegiatan
      bersama murid lain, misalnya amatilah bagaimana ia berinteraksi,
      bagaimana ia bersikap, bagaimana ia berbicara, dll.
   4. Meminta setiap murid untuk bercerita mengenai keluarganya, hobinya
      dan kegiatan-kegiatan yang disukainya.
   5. Membuat buku catatan data anak (alamat dan tgl. ulang tahun) dan
      juga hasil pengamatan kita terhadap anak tsb.
   6. Mencatat kehadiran anak setiap minggu, mengunjungi anak-anak yang
      sering absen atau sakit, serta mendoakan mereka yang berhalangan
      hadir.

   B. TELADAN TUHAN YESUS

   Tuhan Yesus semasa hidup-Nya telah memberikan teladan bagi kita
   tentang bagaimana mengajar sesuai dengan kondisi dan pergumulan hidup
   masing-masing orang yang diajar-Nya. Mis., dengan Nikodemus (seorang
   Farisi), maka Tuhan Yesus memberi contoh dari Perjanjian Lama (karena
   Perjanjian Lama inilah yang dipelajari oleh Nikodemus siang dan
   malam). Namun dengan perempuan Samaria, yang sederhana, Tuhan Yesus
   memberi contoh tentang air minum dan air hidup (contoh sederhana yang
   berkaitan dengan pengalaman hidupnya sehari-hari), supaya perempuan
   Samaria itu bisa mengerti ajaran-Nya.

   Sebagai guru Sekolah Minggu, kita sebaiknya juga mengajar seperti
   Tuhan Yesus, yaitu merancang sedemikian rupa sehingga pengajaran
   yang kita sampaikan adalah sesuai dengan keadaan/kondisi murid
   serta mampu menjawab kebutuhan hidupnya.

   C. KEBUTUHAN MURID-MURID ANDA

   Anak-anak boleh berbeda dalam umur, dalam kedudukan sosial, dalam
   daya pikir maupun dalam cara mengemukakan pikirannya. Tetapi,
   status rohani anak manapun adalah sama, yaitu orang berdosa yang
   membutuhkan Juruselamat. Hal ini akan lebih jelas apabila kita
   menelaah Roma 5 dan Efesus 2.

   Dalam Matius 18 juga dijelaskan keadaan dan akibat dosa, hal ini
   berlaku tidak hanya bagi orang dewasa, anak-anak pun juga termasuk
   di dalamnya. Dosa anak tidak boleh dianggap sebagai kenakalan biasa,
   yang tidak perlu disesalkan, sehingga akhirnya kita sebagai orang
   dewasa cenderung menganggapnya sebagai suatu hal yang "wajar".

   Di dalam Alkitab, kita dapat melihat bahwa Tuhan Yesus mengajarkan
   banyak hal mengenai anak-anak dan berbagai potensi yang dapat
   berkembang dalam diri anak. Hal ini dapat kita lihat dalam:
   1. Matius 18:10 - mereka berharga (tinggi nilainya)
   2. Matius 18:11 - mereka hilang
   3. Matius 18:12 - mereka sesat
   4. Matius 18:14 - mereka dapat hilang
   5. Matius 18:6  - mereka dapat disesatkan
   6. Matius 18:6  - mereka dapat percaya kepada Yesus

   Di dalam sebuah kelas Sekolah Minggu, memang ada 2 kemungkinan
   mengenai kondisi rohani anak, yaitu:
   1. Ia telah dilahirkan kembali/telah menerima Tuhan Yesus sebagai
      Juruselamatnya secara pribadi.
   2. Ia belum dilahirkan kembali, dan ini berarti anak tersebut belum
      menjadi anak Allah.

   Keadaaan di atas bisa terjadi pada anak mana pun; baik yang terdidik
   dengan baik atau yang kurang diperhatikan oleh orang tua; baik anak
   yang status sosial ekonominya yang baik maupun yang kurang baik.
   Keselamatan seseorang tidak bisa dinilai dari "penampakan" luar
   seorang anak. Seringkali, kita mencoba menilai keadaan lahiriahnya
   saja, sehingga kita hanya mencari tanda atau bukti luarnya saja.
   Dalam diri anak kadang kita sulit menemukannya karena mereka
   nampaknya polos dan tidak berdosa. Tapi Tuhan melihat "sampai ke
   dalam hati/batin", seperti yang dikatakannya dari Markus 7:21, " ...
   dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan,
   pencurian, pembunuhan ...". Inilah gambaran yang diberikan Tuhan
   mengenai hati manusia.

   Yang nyata ialah, bahwa anak itu mempunyai hati yang berdosa, dan
   akan mengikuti jalan dosa, sampai Kasih karunia Allah bekerja dalam
   hatinya. Itu sebabnya semua anak memerlukan Injil anugerah (Kasih
   karunia) Allah. Mereka perlu diberitahukan tentang pengampunan dosa,
   karena Tuhan Yesus bersedia menanggung salib ganti mereka; tentang
   kuasa Tuhan yang dapat mengubah/memperbaharui hidup mereka; dan
   tentang kuasa Tuhan Yesus yang memberi kemenangan atas Iblis.

   Di sisi yang lain, janganlah kita menganggap remeh keberadaan rohani
   seorang anak. Mereka dapat bertumbuh secara rohani! Meskipun
   kelihatannya mereka sangat terbatas daya tangkap dan pemahamannya
   mengenai Firman Tuhan, namun pengetahuan dan pengalaman anak tentang
   Kristus dapat bertumbuh secara luar biasa.

   Alkitab mencatat tentang pertumbuhan Yesus dalam Lukas 2:40, 52
   "Yesus bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih
   karunia Allah ada padaNya." Dan tentang Yohanes pembabtis Alkitab
   menulis, "Anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya" (Lukas
   1:80).

   Perkembangan rohani dalam kasih karunia Allah adalah sesuatu yang
   harus dimiliki oleh setiap anak yang kita bimbing kepada Tuhan
   Yesus. Dan inilah yang menjadi tugas utama kita sebagai guru Sekolah
   Minggu.

   Selamat melayani!

   Bahan ini dirangkum dari:
   1. Judul buku : Mengajar untuk mengubah kehidupan
      Penulis    : Lelia Lewis
      Penerbit   : Yayasan Kalam Hidup
      Halaman    : 14-17

   2. Judul buku : Penuntun Sekolah Minggu (Sunday School Teaching)
      Penulis    : J. Reginald Hill
      Penerbit   : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF
      Halaman    : 18-22

**********************************************************************
o/ TIPS MENGAJAR

                 BAGAIMANA MENGAJARKAN ALKITAB PADA ANAK
                 =======================================

   Kita semua sebagai guru Sekolah Minggu tentunya sepakat bahwa
   Alkitab perlu dan harus diajarkan pada anak-anak. Namun demikian
   kita juga menyadari bahwa ini tidak mudah. Sebagai guru-guru SM kita
   harus tahu bagaimana "menerjemahkan" gaya bahasa Alkitab yang ditulis
   untuk orang dewasa itu menjadi bahasa yang mudah dimengerti dan
   dicerna oleh anak-anak.

   Salah satu hal yang sering diperdebatkan oleh para guru Sekolah
   Minggu adalah: bagian Alkitab mana saja yang "cocok" untuk diajarkan
   pada anak-anak dan bagian mana yang belum cocok. Pertanyaan ini akan
   jauh lebih rumit bila kita mulai memilah anak-anak berdasarkan
   tingkatan usianya. Untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaan ini,
   maka ada beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh seorang guru
   Sekolah Minggu:

   1. Ajaran itu harus sesuai dengan asas Firman Allah

   Seringkali tanpa disadari, kepada anak-anak diajarkan pokok-pokok
   "kebenaran" yang harus diperbaiki di kemudian hari, seperti
   mengajarkan bahwa Alkitab adalah suatu buku yang penuh peraturan-
   peraturan moral saja, daftar dari hal-hal yang dilarang dan hal-hal
   yang harus dilakukan. Padahal bukan itu inti berita yang terdapat
   dalam Alkitab.

   Tidak jarang pula, sekali lagi tanpa disadari, guru berusaha
   mencabut peristiwa-peristiwa dalam Alkitab keluar dari konteksnya,
   dan mempergunakannya sebagai contoh untuk menyampaikan ajaran moral
   tertentu.

   Kesulitan lain yang ditemui adalah dalam hal pengajaran doktrin.
   Belum saatnya anak-anak mempelajari seluruh doktrin yang ada dalam
   Alkitab. Tapi, mereka tetap perlu mengerti (walaupun mungkin
   pengertian mereka belum sempurna) tentang doktrin yang dasar,
   yang ada hubungannya dengan apa yang dialaminya sendiri. Misalnya:
   doktrin Allah dan Kristus, bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta.
   dan juga bahwa Kristus adalah berkuasa untuk menyelamatkan dan
   memelihara/melindungi mereka.

   2. Ajaran tersebut harus menyangkut apa yang diperlukan anak-anak
      dan apa yang sedang dialami anak-anak.

   Sasaran utama dalam mengajarkan Alkitab adalah untuk membimbing
   anak-anak agar mempunyai hubungan pribadi dengan Allah SEKARANG juga,
   dan bukan hanya untuk mengajarkan hal-hal yang "kelak di kemudian
   hari" akan berguna bagi anak-anak tersebut. Misalnya: melarang anak
   balita untuk minum minuman keras/merokok. Walaupun nantinya mungkin
   mereka akan memerlukan ajaran itu, namun akan lebih berguna bila
   guru memusatkan perhatian pada apa yang menjadi kebutuhan anak pada
   masanya tersebut.

   Konsekuensi dari pernyataan di atas memang tidak mudah, guru tidak
   lagi cukup sekedar menyajikan materi pengajaran yang sudah tersusun
   rapi (apalagi oleh orang lain), guru justru harus berperan aktif
   dalam menentukan arah dan materi pengajaran supaya sesuai dengan
   konteks kehidupan anak-anak didiknya.

   3. Ajaran itu harus membuat agar penyataan Allah relevan untuk anak-
      anak dan sesuai dengan tahap pengertiannya

   Seringkali dalam mengajar anak-anak, kita hanya memberikan jawaban
   yang sederhana dan penyelesaian yang dangkal. Seperti: "Percayalah
   pada Tuhan, dan taatilah Dia!", "Mintalah pertolongan pada Tuhan".
   Sayangnya, kebenaran yang disampaikan hanya sebagai nasihat saja
   tapi belum menjadikan Firman Tuhan relevan bagi kehidupan si anak.
   Ajaran Alkitab harus mengantar mereka untuk bertemu dengan Allah
   secara pribadi, dan bukan hanya untuk mengenalkan peraturan/perintah
   Allah saja.

   Walaupun pengertian seorang anak tentang Tuhan dan peristiwa
   hidupnya mungkin tidak sedalam pemahaman orang dewasa, namun itu
   sudah cukup berarti dan berkesan bagi diri mereka sendiri. Jadi,
   ajaran kita harus dapat menolong anak untuk mengenal kebenaran yang
   relevan untuk kehidupan mereka, sehingga mereka dapat memberi respons
   sesuai dengan kesanggupan dan tahap pengertian mereka sendiri.

   Bahan ini diambil dari:
   Judul   : Mengajarkan Alkitab Secara Kreatif
   Penulis : Lawrence O. Richards
   Penerbit: Kalam Hidup
   Halaman : 247-257

**********************************************************************
o/ SERBA SERBI

                     MEMBUAT BUKU IMAN BERSAMA ANAK
                     ==============================

   Di bawah ini Tim Redaksi menyajikan sebuah ide aktivitas, dimana
   anak dapat belajar Firman Tuhan secara aktif mengenai berbagai
   permasalahan hidup mereka sendiri dengan bimbingan anda sebagai
   guru Sekolah Minggu mereka.

   Aktivitas ini menuntut kesabaran dan kreativitas, tapi hasilnya
   akan sangat bermanfaat, terutama bagi anak yang sedang mengalami
   pergumulan hidup tertentu.

   PERALATAN YANG DIBUTUHKAN:
   1. Alkitab
   2. Buku gambar / buku tulis
   3. Konkordansi, Ensiklopedi Alkitab (boleh ditambahkan buku penunjang
      lainnya)
   4. Peralatan menulis dan menggambar (crayon, spidol, dsb)
   5. Kertas warna, gunting, lem, dll (bila dibutuhkan)

   TUJUAN AKTIVITAS:
   Anak dapat mempelajari dan mendalami satu tema tertentu dari Alkitab
   dan mengkaitkannya dengan hidup mereka secara pribadi

   WAKTU:
   Tergantung kebutuhan (sebaiknya dibuat berseri selama beberapa
   minggu/pertemuan)

   CARANYA:
   1. Menentukan TEMA
      ---------------
      GURU: Guru Sekolah Minggu mengajak anak menentukan tema apa yang
            ingin dipelajari bersama. Misalnya: tentang KETAKUTAN. Guru
            dapat mengajak anak menginventarisasi berbagai jenis
            ketakutan dan penyebabnya. Bisa jadi ada anak yang takut
            anjing karena pernah digigit, atau takut gelap karena
            pernah mendengar cerita yang seram tentang hantu, takut
            mati, takut ditinggal ibu dan ayahnya, dst.

      ANAK: Anak dapat menuliskan berbagai jenis ketakutan tsb, atau
            membuat karangan singkat tentang sebuah pengalaman yang
            menakutkan baginya, atau menyajikannya dalam bentuk gambar

   2. Menggali Alkitab: TOKOH-TOKOH
      -----------------------------
      GURU: Guru mengajak anak mencari berbagai ayat di Alkitab yang
            memuat pengalaman tokoh-tokoh Alkitab yang (mungkin) pernah
            merasa takut, atau adanya peristiwa tertentu yang dapat
            membuat mereka menjadi takut. Misalnya: Maria waktu
            didatangi malaikat, Daniel di gua singa, Yusuf dipenjara,
            dsb. guru menunjukkan pada anak bahwa "rasa takut" adalah
            perasaan yang dapat dialami oleh semua orang, bahkan orang
            dewasa, dan orang-orang yang percaya pada Tuhan.

      ANAK: Anak dapat mempelajari pengalaman beberapa tokoh yang
            dipilihnya, atau menggambar dan mewarna (bisa dilakukan di
            rumah)

   3. Menggali Alkitab: AYAT-AYAT
      ---------------------------
      GURU: Guru mengajak anak mencari berbagai ayat di Alkitab yang
            berisi janji Tuhan, penghiburan, penguatan, dsb mengenai
            perasaan takut tersebut.

      ANAK: Anak dapat mendaftarkan dan menuliskan ayat-ayat yang
            mereka "sukai" dari hasil penyelidikan tersebut (bisa
            dilakukan di rumah).

   Selanjutnya, setelah semua materi selesai dikumpulkan, anak dapat
   berkarya sesuai dengan kreativitas dan pergumulan mereka masing-
   masing. Misalnya: anak menetapkan judul buku "Jangan Takut", atau
   "Aku Tidak Takut Lagi", dst. Barangkali ada yang ingin menambahkan
   gambar di sampul depan buku: apakah itu gambar perisai, atau benteng
   yang kokoh, atau lukisan Tuhan Yesus. Di dalam buku tersebut bisa
   saja terdapat kesaksian, pengalaman, syair lagu, puisi, dsb. Setiap
   anak dapat menuangkan pikiran dan perasaannya masing-masing dengan
   bebas. Tugas guru di sini hanyalah membantu anak menemukan kebenaran

   dari Firman Tuhan guna menjawab pergumulan hidup mereka secara
   pribadi.

   Selamat mencoba!
                                                          /Tim Redaksi

**********************************************************************
o/ "SHARING" PENGALAMAN DARI GURU SEKOLAH MINGGU

   Terkadang para guru SM tidak dapat langsung melihat buah atau hasil
   pelayanan dari segala pengajaran yang telah mereka berikan pada anak-
   anak SM. Sering kali hal tersebut membuat para guru merasa putus
   asa dan patah semangat. Bagaimana cara mengatasi hal tersebut? Mari
   kita bersama belajar dari sharing berikut ini yang dikirimkan oleh
   salah seorang guru SM

   Kiriman dari: Dona S. Leon

   >Sebelumnya perkenalkan nama saya Dona, saya berkecimpung di
   >pelayanan anak sejak thn 1992. Tahun-tahun awal di mana saya
   >mengajar adalah anak umur batita/bawah 3 thn (Toddler), sekitar
   >satu tahun pertama, terus terang saya sempat putus harapan karena
   >apa yang saya ajarkan pada anak didik saya rasanya kok tidak
   >membawa hasil. Maksudnya di sini adalah pada saat saya menyampaikan
   >firman Tuhan mereka hanya duduk diam dengan manis tanpa ada
   >ekspresinya (seperti bengong saja). Proses belajar mengajar hanya
   >terjadi monolog.
   >
   >Saya sempat berpikir apa saya yang salah cara mengajarnya atau
   >memang mereka tidak mengerti sama sekali karena masih terlalu kecil
   >atau bagaimana, dan terus terang hal ini membuat saya jadi agak
   >patah semangat sampai-sampai sempat terlintas dalam benak saya
   >untuk berhenti sebagai guru SM, karena saya merasa ini bukan
   >panggilan saya. Sampai pada hari di mana saya memutuskan untuk
   >benar-benar berhenti dari pelayanan anak, saya bertemu dengan salah
   >seorang ibu yang anaknya adalah salah satu murid SM saya. Beliau
   >bercerita bahwa anaknya yang masih kecil, pada saat itu masih
   >berumur 2 thn, bisa cerita mengenai firman Tuhan, bahkan bernyanyi
   >lagu2 SM yang selama ini diajarkan. Beliau mengucapkan terima kasih
   >atas apa yang telah saya lakukan. Saya mendengarnya sampai
   >terbengong2 karena tidak percaya. Dalam hati saya berkata: "Ini
   >tidak mungkin!!" berulang kali sampai akhirnya saya diingatkan,
   >jangan pernah putus asa! Teruskan pelayananmu, jangan pernah
   >berhenti! Firman Tuhan yg menguatkan saya hingga saat ini saya
   >masih mendapat kehormatan untuk melayani Dia, dari Filipi 1:6,
   >  "Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai
   >    pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya
   >        sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus."


**********************************************************************
o/ DARI ANDA UNTUK ANDA

   Dari: E.R. <elsyer@>
   >Salam Sejahtera,
   >Saya sangat senang sekali menerima informasi untuk para Pembina
   >Anak dalam artikel "Menjadi Seorang Guru Sekolah Minggu". Saya akan
   >share dengan teman-teman Pelayan Anak di Gereja kami, karena saya
   >rasa hal tsb. sangat bermanfaat bagi para pelayan (pengajar SM).
   ---- cut----
   >Terima kasih.

   Redaksi:
   Puji Tuhan karena artikel "Menjadi Seorang Guru Sekolah Minggu"
   dapat menjadi bahan sharing dan membawa banyak manfaat bagi
   perkembangan pelayanan SM di gereja anda. Dapatkah anda sharingkan
   tentang manfaat-manfaat apa saja yang anda terima kepada para pembaca
   e-BinaAnak? Kami tunggu balasan dan sharing anda.

**********************************************************************
  Untuk berlangganan kirim e-mail ke: <subscribe-i-kan-BinaAnak@xc.org>
  Untuk berhenti kirim e-mail ke:   <unsubscribe-i-kan-BinaAnak@xc.org>
  Untuk arsip:  http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-BinaAnak
**********************************************************************
        Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
               Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
                    Copyright(c) e-BinaAnak 2001 YLSA

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org