Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/bio-kristi/5

Bio-Kristi edisi 5 (4-1-2007)

Sinterklas dan Gutenberg


                          Buletin Elektronik
______________________________BIO-KRISTI______________________________
                          Biografi Kristiani
                          ==================
                       Edisi 005, Desember 2006


Isi Edisi Ini:
- Pengantar
- Riwayat        : Sinterklas yang Selalu Dinantikan
- Karya          : Gutenberg dan Mesin Cetaknya: Sebuah Revolusi
                   dalam Budaya Tulisan
- Tahukah Anda?
- Undangan Berpartisipasi

+ Pengantar __________________________________________________________

  Salam damai,

  Menjelang perayaan Natal tahun ini, bagaimana persiapan Anda? Masih
  sibuk mempersiapkan banyak hal? Sesibuk apa pun Anda saat ini,
  setidaknya jangan sampai menggeser Kristus sebagai fokus Natal.
  Itulah harapan kami, mengingat kecenderungan kegiatan perayaan Natal
  saat ini telah menggeser Kristus sebagai fokus Natal.

  Salah satu figur yang juga dapat menggeser Sang Juru Selamat adalah
  Sinterklas. Tokoh yang populer sebagai Santa Claus ini sering muncul
  dalam perayaan Natal anak-anak. Namun, ketika kehadirannya tidak
  disertai informasi mengenai latar belakangnya, kecenderungan
  memandang Sinterklas sebagai sang pemberi hadiah, patut diwaspadai.
  Itulah sebabnya, tulisan mengenai Sinterklas dalam edisi ini
  diharapkan dapat semakin menjernihkan keadaan.

  Jangan lewatkan pula sajian Karya yang kali ini mengetengahkan tokoh
  penemu mesin cetak di Eropa, Johann Gutenberg. Telusuri
  perjalanannya dalam menemukan mesin cetak sekaligus kontroversi yang
  beredar di seputar kehidupannya.

  Tak lupa kami ucapkan,

                   SELAMAT NATAL, 25 DESEMBER 2006
                                 dan
             SELAMAT MENYAMBUT TAHUN BARU, 1 JANUARI 2007

  Tuhan memberkati.

  Pengasuh Bio-Kristi,
  RS. Kurnia

+ Riwayat ____________________________________________________________
270 -- 343/356

                 SINTERKLAS YANG SELALU DINANTIKAN
                         Oleh: RS. Kurnia *)


SOSOK YANG DINANTIKAN ANAK-ANAK
  Pohon cemara yang dipenuhi beraneka hiasan, kue-kue Natal nan lezat,
  dan bingkisan Natal menjadi sesuatu yang senantiasa dihadirkan
  tatkala Natal menjelang. Meskipun hal-hal tersebut bukan inti dari
  Natal, suasana Natal terkesan tidak lengkap tanpa ketiga hal
  tersebut.

  Namun, ada satu ikon lain yang senantiasa dinantikan ketika Natal
  tiba. Sosok yang satu ini bisa dibilang menjadi sosok idola
  anak-anak di bulan Desember. Kehadirannya selalu menghadirkan
  keceriaan. Terutama kebiasaannya membagi-bagikan hadiah.
  Itulah Santa Claus atau yang di Indonesia dikenal sebagai
  Sinterklas. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila banyak
  gereja yang mengadopsi figur satu ini dalam perayaan Natal
  anak-anak.

  Satu pertanyaan yang paling sering muncul, khususnya bagi anak-anak
  yang masih kecil, benarkah Santa Claus ada? Biasanya, ketika sudah
  mulai dewasa, mereka akan menyadari bahwa orang tua merekalah yang
  sebenarnya memberikan hadiah Natal. Dengan demikian, timbullah suatu
  kesimpulan dalam benak mereka bahwa sosok Santa Claus sebenarnya
  tidak ada.

NICHOLAS DARI MYRA
  Nama Santa Claus sebenarnya merupakan nama yang umum diberikan
  kepada Nicholas. Ia dilahirkan di Patara, Provinsi Lycia, sekitar
  tahun 270[1]. Lycia merupakan salah satu wilayah di Asia Kecil yang
  ketika itu merupakan bagian dari Kekaisaran Romawi.

  Nicholas diasuh dalam keluarga Kristen yang taat. Disebutkan bahwa
  ia dibesarkan dengan baik oleh kedua orang tuanya dan dididik dengan
  saleh seturut teladan orang tuanya[2]. Bahkan sejak awal,
  Nicholas sudah terbiasa makan hanya pada malam hari setiap
  hari Rabu dan Jumat. Didikan orang tuanya inilah yang tampaknya
  memberikan karakter Kristen yang kuat padanya.

  Meski demikian, setidaknya ada dua pendapat yang cukup berbeda
  mengenai masa muda Nicholas, khususnya terkait dengan imannya.
  Selain yang disebutkan di atas, sumber lain[3] menyebutkan bahwa
  kedua orang tua Nicholas justru meninggal ketika Nicholas sedang
  beranjak dewasa. Peristiwa ini membawanya kepada suatu periode
  pencarian jati diri. Disebutkan pula bahwa pamannyalah yang kemudian
  memperkenalkan kekristenan kepada Nicholas.

  Meski tidak jelas, apakah Nicholas memiliki dasar kerohanian sejak
  kecil atau ketika menjelang dewasa, tampaknya kita bisa menyepakati
  satu hal. Imannya kepada Kristus bukanlah iman yang biasa. Hal ini
  terbukti dari apa yang ia alami selanjutnya.

  Nicholas mengenyam pendidikan dasarnya di Patara hingga meraih gelar
  sarjana[4]. Tidak ada informasi mengenai apa yang ia pelajari.
  Namun, melihat kondisi pada saat itu, Nicholas diperkirakan
  mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan teologia dan filsafat
  Yunani.

  Keluarga Nicholas merupakan keluarga yang kaya. Oleh karena itu,
  ketika kedua orang tuanya meninggal, Nicholas menerima warisan harta
  yang jumlahnya tidak sedikit. Namun, ia senantiasa mengingat
  perkataan Yesus untuk "menjual seluruh milikmu dan memberikan uang
  kepada yang miskin"[5]. Demikianlah ia melaksanakan perkataan Yesus
  tersebut dengan membagikan kekayaannya kepada mereka yang
  membutuhkan.

  Salah satu kisah kedermawanan Nicholas yang terkenal melibatkan
  seorang penduduk Patara yang kehilangan seluruh hartanya, sedangkan
  ia tidak lagi dapat menopang kehidupan ketiga anak perempuannya[6].
  Karena kemiskinan mereka, ketiga anaknya tidak kunjung menemukan
  suami yang baik. Pria yang malang itu pun berniat menjual ketiga
  putrinya itu. Berita ini sampai ke telinga Nicholas dan mendorong
  dirinya untuk melemparkan sekantung uang secara diam-diam. Uang itu
  kemudian digunakan oleh putri tertua untuk menikah. Demikian
  Nicholas melakukannya hingga seluruh putri orang tersebut dapat
  menikah.

MENJADI USKUP DI MYRA
  Sebelum menjadi uskup, ia melayani sebagai pendeta di Myra.
  Pelayanannya ini ia lakukan ketika penyiksaan terhadap orang-orang
  Kristen tengah terjadi. Di bawah pemerintahan Kaisar Diocletian
  (berkuasa 284 -- 305) dan Kaisar Maximian (berkuasa 286 -- 306)[7],
  dikeluarkan perintah bagi seluruh rakyatnya agar mereka hanya
  menyembah kepada kaisar. Hal yang jelas bertentangan dengan iman
  Kristen ini menyebabkan banyak orang Kristen yang menolak mengikuti
  perintah tersebut. Oleh karena itu, pada masa-masa tersebut,
  terjadilah penyiksaan yang hebat terhadap para pengikut Kristus.

  Ketika itu, Nicholas turut mengalami penyiksaan yang berat dalam
  penjara. Keteguhannya untuk tidak berbalik dari imannya terhadap
  Kristus tidak kalah dengan para martir. Bagaimanapun juga, tanpa
  pemeliharaan Allah, Nicholas tidak mungkin bertahan sedemikian rupa.
  Setelah Constantine menggantikan Diocletian, Nicholas pun dibebaskan
  dari penjara dan dapat melayani kembali.

  Ketika uskup di Myra meninggal, para pendeta dan penduduk di Myra
  harus bergumul untuk menentukan penggantinya. Disebutkan bahwa Tuhan
  berbicara kepada para pendeta di kota itu untuk memilih Nicholas
  sebagai uskup selanjutnya[8]. Pemilihan Nicholas sebagai uskup
  bukanlah sesuatu yang wajar dilakukan, mengingat Nicholas lebih
  sebagai orang awam daripada kaum terpelajar di bidang teologia.
  Oleh karena itu, pengangkatan Nicholas di satu sisi bisa dibilang
  sebagai pengangkatan berdasarkan popularitas[9]. Adapun pengangkatan
  Nicholas sebagai uskup diperkirakan terjadi pada masa pemerintahan
  Licinius (berkuasa 307 -- 324).

NICHOLAS DAN PELAYANANNYA
  Sepanjang pelayanannya sebagai seorang uskup, Nicholas dianggap
  sebagai penentang segala bentuk kekafiran. Penolakannya terhadap
  penyembahan berhala terlihat dari penghancuran beberapa kuil kafir,
  salah satunya kuil Artemis yang diprakarsai olehnya[10]. Selain
  itu, ia juga dianggap sebagai salah satu penentang ajaran Arius[11].

  Peran serta yang sangat signifikan ditunjukkan Nicholas ketika
  menghadiri Konsili Nicea pada tahun 325[12]. Terdaftar sebagai salah
  satu uskup yang hadir dalam konsili tersebut, salah satu sumber
  menyebutkan bahwa emosi Nicholas meledak terhadap Arius hingga ia
  melayangkan sebuah pukulan di wajah Arius[13]. Akibat tindakannya
  tersebut, ia sempat diusir dari konsili ini.

  Keteguhan Nicholas untuk menjaga ajaran yang benar sungguh patut
  dihargai. Berkat keteguhannya, Myra menjadi wilayah yang aman dari
  ajaran-ajaran yang menyesatkan. Bahkan ketika Constantius (berkuasa
  337 -- 361) menjadi kaisar dan menganut arianisme, pengaruh
  Nicholas yang notabene merupakan penentang keras arianisme tidak
  bisa digeser dari Myra[14].

AKHIR HIDUP DAN MENJADI ORANG SUCI
  Tidak ada sumber yang menyebutkan secara spesifik perihal kematian
  Nicholas[15]. Tempat dan tanggal kematiannya tidak diketahui secara
  pasti. Sebagian orang menyebutkan ia meninggal di Italia. Ada juga
  yang berpendapat di Irlandia. Namun, ia diperkirakan meninggal pada
  tanggal 6 Desember antara tahun 343 dan 356[16]. Ia dimakamkan di
  sebuah katedral di Myra, sekarang Demer, Turki.

  Nicholas juga diangkat sebagai salah satu orang suci. Penghormatan
  ini tampaknya dilakukan lebih awal. Justinian I, Kaisar
  Romawi Timur yang memberi penghormatan tersebut kepada Nicholas. Ia
  membangun sebuah bangunan gereja di ibukota Roma waktu itu,
  Konstantinopel[17]. Sampai saat ini, umat Katolik dan Ortodoks,
  termasuk dari Protestan masih menghormati Nicholas. Kemurahan hati
  Nicholas juga menjadikan dirinya teladan hidup yang penuh belas
  kasih terhadap sesama[18].

SANTA CLAUS DI INDONESIA
  Masyarakat Indonesia sudah lama mengenal figur berbaju merah dan
  berjanggut putih ini. Meski nama asingnya belakangan ini lebih
  menggema, tapi kita juga mengenal Santa Claus sebagai Sinterklas.
  Nama ini sendiri diperkirakan diadopsi dari nama Belanda,
  Sinterklaas[19]. Dengan demikian, tampaknya kita bisa menduga bahwa
  sosok ini diperkenalkan oleh pemerintah kolonial ketika itu.

  Meskipun demikian, figur Nicholas ini tidak memiliki tempat yang
  lebih khusus kecuali di pusat-pusat perbelanjaan. Kita tidak
  memiliki tradisi untuk mengenang apa yang dikerjakan oleh Nicholas
  pada abad ke-4. Kecuali aspek komersialnya, aspek spiritualitas
  sebagai sesuatu yang lebih penting, cenderung kalah gaungnya.

  Setidaknya ada dua alasan mengapa St. Nicholas tidak dikenang di
  Indonesia.

  a. Nicholas merupakan figur dengan latar belakang Eropa dari abad
     ke-4. Tradisi untuk mengenang sosok ini tampaknya terus
     diwariskan di benua tersebut. Dengan kata lain, sosok Nicholas
     merupakan sosok yang asing bagi masyarakat di Indonesia. Kalaupun
     banyak yang mengenalnya saat ini, pengenalan itu cenderung hanya
     dari aspek lain, misalnya aspek komersial dan hiburan.

  b. Kurangnya pengenalan akan uskup dari Myra ini. Meskipun banyak
     gereja yang menampilkan figur ini dalam perayaan Natal, khususnya
     Natal anak-anak, latar belakang dari Sinterklas ini tidak
     disampaikan dengan baik. Sehingga Nicholas hanya dikenal sebagai
     sosok yang suka memberi.

MERAYAKAN ST. NICHOLAS
  Sejarah membuktikan bahwa Santa Claus adalah sosok yang nyata.
  Meskipun tidak mewariskan pemikiran-pemikiran setajam Augustinus
  dan bapa-bapa gereja lainnya, imannya yang teguh terhadap firman
  Allah menjadi hal yang sangat bernilai. Apalagi keteguhannya
  tersebut berdampak bagi masyarakat Myra pada waktu itu[20].

  Penampilan sosok Santa Claus seharusnya diiringi oleh penjelasan
  mengenai Nicholass sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.
  Pertama, Nicholas bukan sekadar pemberi hadiah, tetapi orang yang
  juga beriman teguh. Kedua, Nicholas merupakan salah satu penentang
  ajaran-ajaran sesat di zamannya. Akhirnya, Kristus yang adalah pusat
  dari perayaan Natal harus lebih diutamakan daripada Santa Claus.

  Hal ini bukan berarti merayakan peringatan akan Nicholas tidak
  dibenarkan. Sebaliknya, perayaan hari St. Nicholas pada 6 Desember
  dapat dilakukan. St. Nicholas Centre menguraikan beberapa alasan
  mengenai perayaan hari St. Nicholas[21].

  o Mengisahkan kehidupan orang-orang suci yang menjadi teladan yang
    sekaligus menginspirasikan belas kasih dan kemurahan hati.
  o Menyatakan identitas Santa Claus dan Bapak Natal yang
    sesungguhnya.
  o Menekankan pentingnya memberi daripada menerima.
  o Menegaskan kepedulian pada hal-hal kecil dan kegembiraan
    keluarga.
  o Menghadirkan suatu perayaan awal dalam minggu-minggu Adven.
  o Menawarkan dimensi spiritual dari pemberian hadiah.
  o Menekankan figur Kristus sebagai pusat Natal yang sejati.

  Dengan demikian, setiap perayaan di seputar hari St. Nicholas
  seharusnya mempersiapkan setiap orang untuk menyambut Kristus.

Catatan
  1.  Wikipedia. 2006. "Saint Nicholas". Dalam
      http://en.wikipedia.org/wiki/Saint_Nicholas_of_Myra .
  2.  "Feastday: December 6 Patron of Bakers and Pawnbrokers". Dalam
      http://www.catholic.org/saints/saint.php?saint_id=371 .
  3.  Wikipedia. 2006. loc.cit.
  4.  Ibid.
  5.  "Who Is St. Nicholas?". Dalam
      http://www.stnicholascenter.org/Brix?pageID=38 .
  6.  2. loc.cit.
  7.  Wikipedia. 2006. loc. cit.
  8.  Ibid.
  9.  "Was St. Nicholas A Real Person?". Dalam http://www.stnicholascenter.org/printable_template.jsp?show_print=no&backPageID=37&smpl_sakey=6 .
  13. Wikipedia. 2006. loc. cit.
  11. Arius melahirkan aliran arianisme, ajaran yang menolak keilahian
      Kristus.
  12. Konsili Nicea diyakini sebagai konsili ekumenis pertama. Dalam
      konsili ini, hadir pula Eusebius dari Kaisarea dan Athanasius,
      dua tokoh bapa gereja.
  13. 2. loc. cit.
  14. Ketika itu, uskup-uskup beraliran arianisme ditempatkan di
      berbagai kota. Meski demikian, tampaknya dukungan masyarakat
      Myra yang sangat kuat terhadap Nicholas, membuat Constantius
      tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membiarkan Nicholas tetap
      sebagai uskup di sana (Wikipedia 2006).
  15. Wikipedia. loc. cit.
  16. Bandingkan sumber dari Wikipedia dengan St. Nicholas Centre dan
      Santas.Net.
  17. Wikipedia. 2006. loc. cit.
  18. 5. Ibid.
  19. Wikipedia. 2006. loc. cit.
  20. Hal ini dapat menjadi bahan perenungan bagi kita. Seberapa besar
      hidup kita berdampak bagi orang-orang sekitar kita?
  21. "Why Celebrate St. Nicholas Day?". Dalam
      http://www.stnicholascenter.org/Brix?pageID=102 .

  *) Penulis merangkap pengasuh Bio-Kristi
______________________________________________________________________

Tak mungkin ada suatu sebab yang terakhir, ataupun yang tengah-tengah,
jika tidak ada yang pertama.
                                    Thomas Aquinas -- teolog skolastik

+ Karya ______________________________________________________________
Ilmuwan, penemu mesin cetak, +/- 1398 -- 1468

  GUTENBERG DAN MESIN CETAKNYA: SEBUAH REVOLUSI DALAM BUDAYA TULISAN
                         Oleh: R.S. Kurnia *)

REVOLUSI DALAM BUDAYA TULISAN
  Budaya tulisan telah melampaui sejarah yang panjang dengan sekian
  banyak perubahan. Mulai dari piktogram (disebut juga piktograf,
  yaitu aksara berupa gambar untuk mengungkapkan amanat
  tertentu[1]) hingga tulisan yang kita kenal sekarang ini. Dari yang
  memanfaatkan dinding-dinding gua, lempengan batu-batu, sampai
  pemanfaatan kertas tulis. Meski demikian, budaya tulisan kita tidak
  akan mengalami perkembangan yang sedemikian pesat bila Gutenberg
  tidak menciptakan mesin cetak pada tahun 1455.

  Sebelum penemuan mesin cetak, satu-satunya cara untuk memperbanyak
  sebuah tulisan ialah dengan menyalinnya. Salinan-salinan yang
  dihasilkan itu dinamakan manuskrip, yang berarti `tulisan
  tangan`[2].

  Namun, metode penyalinan seperti itu justru menimbulkan sejumlah
  masalah. Pertama, butuh waktu yang lama untuk menyalin sebuah buku.
  Menurut Janus (2003)[3], pada tahun 1450, dibutuhkan setidaknya dua
  bulan untuk menyalin sebuah buku -- tentu saja tergantung ketebalan
  buku yang disalin. Kedua, kualitas penyalin tidak selamanya konstan.
  Akibatnya, kesalahan dalam penyalinan dapat terjadi. Akhirnya, harga
  buku menjadi mahal karena melalui proses kerja yang melelahkan dan
  memakan waktu yang lama. Dengan demikian, tidak sembarang orang yang
  bisa memiliki buku[4].

MENUJU ERA MESIN CETAK
  Mesin cetak Gutenberg terwujud setelah melampaui proses yang cukup
  panjang. Pemikiran awal yang ia lakukan ialah dengan memanfaatkan
  sepotong balok yang berasal dari kayu yang keras[5]. Balok ini
  dibentuk seukuran halaman buku. Selanjutnya, setiap kata yang
  tertulis di halaman sebuah buku dipahat di salah satu sisi balok
  tersebut sampai dihasilkan rangkaian kata yang timbul. Bagian
  tersebut kemudian dicelupi tinta. Balok tersebut harus ditekan ke
  lembaran kertas cetak untuk menghasilkan halaman yang dibutuhkan.

  Semula Gutenberg berpikir bahwa cara ini akan lebih baik daripada
  sekadar menyalin manuskrip. Namun, ia justru mendapati bahwa cara
  seperti ini memakan waktu yang sangat lama karena lempengan kayu
  tersebut harus dikerjakan dengan hati-hati. Selain itu, satu balok
  hanya dapat mencetak satu halaman tertentu saja.

  Meski demikian, Gutenberg mulai berpikir. Bila balok kayu dapat
  digunakan untuk membentuk huruf cetak, seharusnya lempengan logam
  juga dapat digunakan untuk tujuan serupa. Menurutnya, pemanfaatan
  logam akan mempercepat proses reproduksi setelah satu karakter
  berhasil dibentuk[6].

  Sejumlah sumber[7] menyebutkan bahwa pemikiran Gutenberg tersebut
  dimungkinkan mengingat keterlibatan keluarga Gutenberg dalam
  pencetakan uang logam. Karena itu, tidak heran bila Gutenberg dapat
  memikirkan model pencetakan mulai dari pemanfaatan balok kayu
  hingga pemikiran untuk memanfaatkan lempengan logam. Tidak
  mengherankan pula bila ia memiliki keahlian dalam pekerjaan yang
  berkaitan dengan logam.

  Semula Gutenberg membangun bengkel kerjanya di Strasbourg (ketika
  itu masih menjadi bagian dari Jerman, sekarang Perancis)[8]. Hal ini
  ia lakukan karena ia tidak ingin orang lain mengetahui apa yang ia
  kerjakan. Ia menemukan runtuhan bangunan tua yang sebelumnya
  digunakan oleh para biarawan dan menggunakan salah satu ruangan
  sebagai bengkel kerjanya. Namun, tampaknya ia kemudian memindahkan
  bengkel kerjanya ke Mainz[9] dan berhasil menciptakan mesin cetaknya
  di kota tersebut.

  Meski demikian, Gutenberg masih harus melakukan serangkaian
  percobaan lagi untuk membuktikan bahwa mesin cetaknya dapat
  digunakan. Oleh karena itu, ia melakukan serangkaian persiapan yang
  sangat panjang dan menempuh serangkaian uji coba. Keberhasilan
  pertamanya ialah mencetak buku tata bahasa Latin. Diperkirakan
  sekitar dua lusin edisi Ars Minor, salah satu bagian dari buku
  pelajaran tata bahasa Latin Aelius Donatus. Edisi pertama
  diperkirakan dicetak antara tahun 1451 dan 1452[10].

  Setelah melakukan serangkaian percobaan termasuk keberhasilannya
  mencetak buku pelajaran tata bahasa Latin tersebut, Gutenberg mulai
  melangkah lebih jauh lagi. Proyek besar selanjutnya adalah mencetak
  Alkitab. Antara tahun 1450 dan 1455, Gutenberg menyelesaikan
  pencetakan Alkitabnya[11]. Adapun versi Alkitab yang dicetak
  Gutenberg kala itu adalah Alkitab Vulgata, Alkitab bahasa Latin
  hasil terjemahan Hieronymus[12]. Dokumen-dokumen awal menyebutkan,
  setidaknya 200 kopi dijadwalkan dicetak di atas kertas katun linen,
  30 kopi dicetak di atas kulit hewan. Alkitab tersebut kemudian
  dijual seharga 300 florins[13], harga yang jauh lebih murah
  ketimbang Alkitab yang ditulis dengan tangan, yang penyalinannya
  oleh seorang rahib bisa menghabiskan dua puluh tahun[14].

  Adapun Alkitab yang dihasilkan oleh mesin cetak Gutenberg merupakan
  Alkitab yang sangat indah. Gutenberg mendesain dan membentuk sendiri
  keping-keping logam yang akan digunakan untuk mesin cetaknya dengan
  huruf-huruf kaligrafi yang indah, ciri khas tulisan Abad
  Pertengahan[15].

GUTENBERG DAN JOHANN FUST
  Proyek Gutenberg ini merupakan proyek yang sangat besar. Oleh karena
  itu, Gutenberg membutuhkan biaya yang sangat besar pula. Untuk
  mencapai visinya, Gutenberg menghabiskan seluruh kekayaan yang ia
  warisi dari keluarganya. Di tengah kesulitan dana, Gutenberg
  berhasil meyakinkan Johann Fust, seorang pedagang kaya (sumber
  lainnya, lihat catatan nomor 2, menyebutkan bahwa Fust juga seorang
  pengacara). Pada tahun 1449, Fust memberikan 800 florins pertama
  kepada Gutenberg, lalu sejumlah 800 florins lagi pada tahun 1452 dan
  1453[16].

  Meski berhasil mencetak Alkitab Vulgata, bahkan menjualnya seharga
  300 florins, Gutenberg tetap tidak dapat mengembalikan pinjaman yang
  diberikan Fust. Hal ini menyebabkan Fust membawa Gutenberg ke
  pengadilan. Kemudian, hakim memutuskan Gutenberg bersalah sehingga
  mesin cetak dan Alkitab yang berhasil ia cetak beralih menjadi milik
  Fust[17]. Dengan demikian, Gutenberg pun bangkrut dan kehilangan
  semua jerih payahnya selama ini.

  Ketidakmampuan Gutenberg untuk mengembalikan hutangnya itu tampaknya
  disebabkan oleh kepribadiannya sebagai seorang yang tidak sabaran.
  Kemungkinan Gutenberg harus melakukan begitu banyak percobaan
  sampai mesin cetaknya selesai. Dari sekian banyak percobaan yang ia
  lakukan, bukan tidak mungkin ia menemukan sekian banyak kegagalan
  yang tentunya memakan dana yang besar pula.

  Setelah berhasil mengambil alih mesin cetak Gutenberg dan sejumlah
  Alkitabnya, Fust melanjutkan bengkel kerja Gutenberg ini. Ia
  menggaet Peter Schaeffer, mitra kerja Gutenberg sebelumnya sebagai
  rekannya[18]. Sementara itu, Gutenberg masih melanjutkan
  pekerjaannya dengan membuka percetakan. Meski demikian, cetakan yang
  ia hasilkan berkurang baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

PENGARUH BAGI KEKRISTENAN
  Satu hal yang jelas, Gutenberg merupakan salah satu orang jenius
  yang dipakai oleh Tuhan. Mesin cetak yang dihasilkan oleh Gutenberg
  mengambil peranan yang sangat vital dalam penyebaran Alkitab.

  Sebagaimana disebutkan sebelumnya, buku merupakan sesuatu yang
  sangat mahal. Demikian halnya dengan Alkitab sehingga tidak
  sembarang orang bisa memilikinya. Dengan penemuan Gutenberg ini,
  semua orang dapat memiliki Alkitab, meskipun masih dalam bahasa
  Latin. Setidaknya hal ini sudah memberikan akses kepada masyarakat
  awam, khususnya yang mengerti bahasa Latin  untuk membaca Alkitab.

  Meski terlibat dalam pencetakan surat indulgensi  pada masa-masa
  berikutnya, ciptaan Gutenberg ini sangat berperan dalam Reformasi.
  Bahan-bahan seperti traktat, pamflet, khotbah, maupun
  "Flugschriften" yang ditulis oleh para reformator seperti Martin
  Luther, Martin Bucer, John Calvin, termasuk Ulrich Zwingli, dengan
  mudah dapat diperbanyak[19]. Sekali lagi hal ini memudahkan akses
  masyarakat luas terhadap kebobrokan gereja selama ini. Sehingga
  banyak mata yang terbuka dan mulai melihat kebenaran yang
  sesungguhnya.

MESIN CETAK DI ASIA
  Meski karya Gutenberg diakui sebagai karya yang luar biasa, ternyata
  Gutenberg bukanlah penemu mesin cetak yang pertama. Jauh sebelum
  Gutenberg berhasil menciptakan mesin cetak dengan kepingan potongan
  logam yang dapat dipindahkan, Chae Yun-eui dari Dinasti Goryeo telah
  menciptakan mesin cetak pertama pada tahun 1234[20]. Sedangkan,
  perangkat cetak dengan kepingan yang dapat dipindahkan diciptakan
  pertama kali di Tiongkok oleh Bi Sheng, antara tahun 1041 -- 1048[21].

KEHIDUPAN GUTENBERG
  Tidak banyak informasi yang bisa diperoleh mengenai masa kecil
  Gutenberg. Ia dilahirkan antara sekitar tahun 1394 -- 1404. Sebagian
  menyebut tahun lahirnya pada tahun 1398. Ayahnya bernama Friele
  Gensfleisch zur Laden dan ibunya Else Wirich[22]. Sebagai anak
  bangsawan, kemungkinan ia menempuh studi di Universiteit of
  Erfurt[23]. Namun, sekali lagi tidak ada bukti otentik bahwa
  Gutenberg pernah mengenyam studi di sekolah tersebut.

  Setelah mengalami kebangkrutan, disebutkan kemudian, kehidupan
  Gutenberg belakangan ditopang oleh Keuskupan Mainz sampai akhir
  hayatnya. Karena Gutenberg dikenal sebagai seorang peminum -- ia
  akan membelanjakan uangnya hanya untuk alkohol, pihak keuskupan
  memutuskan untuk memberikan makanan dan tempat tinggal daripada
  uang[24].

  Meski demikian, ada sumber lain yang menyebutkan bahwa menjelang
  akhir hidupnya, Gutenberg bergabung dalam ordo Fransiskan[25]. Ia
  mengabdikan dirinya dalam doa, ketaatan, dan melakukan hal-hal yang
  baik. Setelah gagal meraih kesuksesan duniawi, ia beralih mencari
  kesuksesan surgawi.

  Dalam pandangan Armstrong[26], perubahan dalam diri Gutenberg ini
  merupakan bukti dari cinta kasih Tuhan. Ia tetap mengasihi mereka
  yang Ia karuniai talenta sehingga ketika mereka ini terjerat dalam
  dosa, Ia sama sekali tidak membiarkan mereka. Banyak cara yang bisa
  Ia lakukan untuk memanggil kembali umatnya, diantaranya melalui
  suatu kejatuhan yang menyakitkan.

  Berdasarkan sebuah buku yang dicetak setelah kematiannya, disebutkan
  bahwa Gutenberg meninggal pada tanggal 3 Februari 1468. Ia kemudian
  dimakamkan di sebuah gereja di Saint Frances. Sayangnya gereja itu
  kemudian dihancurkan sehingga makamnya tidak dapat ditemukan lagi.

Catatan
  1.  Kridalaksana, Harimurti. 2001. "Kamus Linguistik". Edisi Ketiga.
      Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 174.
  2.  "Johann Gutenberg". Dalam http://www.greatsite.com/timeline-english-bible-history/gutenberg.html.
  3.  Janus, Bill. 2003. "Book Review of John Man`s Gutenberg: How One
      Man Remade The World With Words". Dalam http://mtprof.msun.edu/Win2003/JanRev.html .
  4.  Gutenberg sendiri menikmati manuskrip-manuskrip dan balok-balok
      buku (blockbooks")yang dapat dibacanya. Namun, ia juga berkata,
      "Sayangnya, hanya orang kaya saja yang dapat memiliki buku."
      ("Johann Gutenberg". Dalam http://www.greatsite.com/timeline-english-bible-history/gutenberg.html .)
  5.  2. loc. cit.
  6.  Wikipedia. 2006. "Johannes Gutenberg". Dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Johann_Gutenberg .
  7.  Lihat Janus, Bill. 2003. loc.cit. dan Armstrong, Chris. 2004. "A
      God`s Eye View of Gutenberg: The Rise, Fall, and Redemption of
      The Father of the Information Age". Dalam http://www.christianitytoday.com/ct/2004/augustweb-only/8-23-42.0.html
  8.  2. loc. cit.
  9.  Hanebutt-Benz, Eva-Maria. Tanpa Tahun. "Johann Gutenberg and
      Mainz". Dalam http://www.mainz.de/gutenberg/english/zeitgum.htm
  10. Wikipedia. loc. cit.
  11. 2. loc.cit. Sumber lain menyebutkan bahwa Alkitab tersebut
      dicetak pada tahun 1455, sementara sumber lainnya menyebut tahun
      1456.
  12. Alkitab Vulgata tersebut merupakan versi Alkitab yang
      diterjemahkan oleh John Wycliffe pada 1384.
  13. Uang logam Inggris yang sebanding dengan dua shilling.
  14. Wikipedia. 2006. loc. cit.
  15. Armstrong, Chris. 2004. "A God`s Eye View of Gutenberg: The
      Rise, Fall, and Redemption of the Father of the Information
      Age". Dalam http://www.christianitytoday.com/ct/2004/augustweb-only/8-23-42.0.html
  16. Hanebutt-Benz, Eva-Maria. Tanpa Tahun. loc.cit.
  17. Ibid.
  18. Ibid.
  19. Hesperian. 2006. "Gutenberg and Reformation: The First
      Information Age". Dalam http://hesperian.wordpress.com/2006/08/02/gutenberg-and-the-reformation-the-first-information-age/ .
  20. Baek Su-gi. 1987. Dalam Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Johann_Gutenberg .
  21. Ibid.
  22. Hanebutt-Benz, Eva-Maria. Tanpa Tahun. loc.cit.
  23. Ibid.
  24. Wikipedia. loc. cit.
  25. Armstrong, Chris. 2004. loc. cit.
  26. Ibid.

  *) Penulis merangkap pengasuh Bio-Kristi

+ Tahukah Anda? ______________________________________________________

  Bret Harte merupakan orang pertama yang memperkenalkan Sinterklas ke
  Amerika.

Dari: http://www.catholic.org/saints/saint.php?saint_id=371

+ Undangan Berpartisipasi ____________________________________________

  Tahun pelayanan yang baru segera menjelang. Oleh karena itu,
  Bio-Kristi sungguh mengharapkan dukungan doa dan partisipasi para
  pelanggan.

  Selain mengisi kolom Apa Kata Mereka, Anda dapat mengirimkan
  bahan-bahan berupa artikel dari sumber-sumber seperti buku, buletin,
  tabloid, majalah, maupun situs internet. Jangan lupa untuk
  mencantumkan sumber tulisan secara jelas. Misalnya:
  a. judul buku, buletin, tabloid, atau majalah,
  b. judul artikel,
  c. judul asli (bila diambil dari buku terjemahan)
  d. nama penulis,
  e. nama penerjemah (bila dicantumkan),
  f. nama penerbit dan tahun terbit,
  g. situs penerbit bila ada,
  h. halaman,
  i. nama situs, dan
  j. URL situs.

______________________________________________________________________
                        Pengasuh: R.S. Kurnia
    Isi dan bahan menjadi tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
             Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
                     Copyright(c) BIO-KRISTI 2006
                  YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa
                      http://katalog.sabda.org/
                    Rekening: BCA Pasar Legi Solo
_________________No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati_________________

Anda terdaftar dengan alamat email: $subst(`Recip.EmailAddr`)
Alamat berlangganan : < subscribe-i-kan-bio-kristi(at)hub.xc.org >
Alamat berhenti     : < unsubscribe-i-kan-bio-kristi(at)hub.xc.org >
Kontak redaksi      : < staf-bio-kristi(at)sabda.org >
Arsip Bio-Kristi    : http://www.sabda.org/publikasi/Bio-Kristi

____________________BULETIN ELEKTRONIK BIO-KRISTI_____________________

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org