Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/berita_pesta/147

Berita PESTA edisi 147 (1-10-2019)

September 2019

Berita PESTA -- Edisi 147, September 2019
 
Berita PESTA Edisi 147, September 2019
Berita & Pokok Doa
  1. Undangan untuk Menghadiri Ulang Tahun ke-25 YLSA
  2. Pelaksanaan Kelas DIK September/Oktober 2019
  3. Pembukaan Kelas Natal 2019
  4. Staf PESTA Mengikuti Seminar Eskatologi
Kesaksian Kelas PRK
  1. 1. Evi Yuanita (Yogyakarta)
  2. 2. Victor Francis (Malaysia)
Blog
  1. Jodoh Seiman
Artikel
  1. Usaha Mencari Kesenangan

Salam damai dalam Kristus,

Bagaimana kabar Pembaca sekalian? Kami harap semua dalam keadaan baik dan tetap bersemangat mempelajari firman Tuhan. Bagi Anda yang ingin mengikuti berita yang terjadi seputar PESTA, silakan simak Kolom Berita PESTA. Dalam edisi ini, kami ingin mengajak Anda semua untuk belajar tentang kesenangan sejati. Kesenangan seperti apa yang Allah ingin kita dapatkan? Silakan lihat jawaban lengkapnya pada Kolom Artikel.

Kami dengan gembira juga ingin memberitakan kabar suka cita karena Yayasan Lembaga SABDA, yayasan yang menaungi PESTA, akan merayakan ulang tahunnya yang ke-25. Informasi lengkap ada dalam berita di bawah ini. Tuhan Yesus memberkati.

Roma

Roma
Redaksi Berita PESTA

Berita & Pokok Doa

1. Undangan untuk Menghadiri Ulang Tahun ke-25 YLSA

Undangan SABDA 25

Puji Tuhan! Pada Oktober 2019, Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) memasuki pelayanan yang ke-25 tahun. Dalam momen yang istimewa ini, kami mengajak Pembaca Berita PESTA untuk Celebrating God's Works bersama keluarga besar YLSA pada Senin, 14 Oktober 2019, pkl. 16.00 -- 21.00, di Orient Convention Hall, Solo. Kami akan mengadakan beberapa seminar dengan tema Alkitab dan Teknologi. Selain itu, akan ada pula berbagai pameran produk/proyek pelayanan YLSA selama 25 tahun. Bagi Anda yang tinggal di Solo dan sekitarnya, kami mengajak Anda untuk menghadirinya dengan mendaftarkan diri Anda secara online melalui situs sabda25.sabda.org atau melalui WA ke 08812979100. Acara ini gratis, tetapi Anda perlu mendaftarkan diri terlebih dahulu. Sampai bertemu pada 14 Oktober 2019! Bagi Anda yang tinggal di luar kota Solo dan ingin mengikuti secara streaming, silakan menghubungi WA 08812979100.

2. Pelaksanaan Kelas DIK September/Oktober 2019

Pelaksanaan Kelas DIK

Mari bersyukur kepada Tuhan karena kelas DIK periode September/Oktober 2019 sedang berlangsung di Grup PESTA dengan 26 peserta. Para moderator yang memfasilitasi kelas ini adalah Romauli, Costy Willem, dan Claudya Debbie. Kelas ini dominan diikuti oleh peserta-peserta baru yang mendaftar melalui situs PESTA online, e-Learning PESTA (Moodle), IG @sabdapesta, dan juga email Kusuma. Marilah kita berdoa agar Tuhan memberikan semangat kepada para peserta untuk belajar dan mengikuti kelas ini dengan baik. Kiranya para peserta mendapatkan pengetahuan yang lebih dalam tentang dasar-dasar kekristenan sehingga kehidupan mereka semakin bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus.

3. Pembukaan Kelas Natal 2019

Promosi Kelas Natal

Mari menyambut Natal dengan mengikuti Kelas Natal periode 2019 dari PESTA. Kelas ini akan berlangsung pada November/Desember 2019 dan melaluinya peserta akan belajar maupun berdiskusi mengenai topik-topik penting berkaitan dengan kebenaran sejati tentang kelahiran Kristus. Apabila Bapak/Ibu tertarik untuk mengikuti kelas ini, silakan mendaftarkan diri dengan salah satu cara berikut ini:

4. Staf PESTA Mengikuti Seminar Eskatologi

Seminar Eskatologi

Pada Sabtu, 21 September 2019, staf PESTA mengikuti seminar eskatologi di GKKK Surakarta. Seminar ini dibawakan oleh Bapak Pdt. Yohanes Adrie Hartopo, Ph.D., salah satu dosen di STT Amanat Agung, Jakarta. Seminar dengan judul Rahasia Kehidupan Setelah Kematian ini membahas mengenai apa yang terjadi dengan kehidupan orang percaya setelah kematian dan kedatangan Kristus yang kedua. Pembicara juga membahas beberapa pandangan dunia tentang kehidupan setelah kematian. Doakan agar melalui seminar ini, staf PESTA dapat semakin memahami kebenaran firman Tuhan dan hal ini dapat menunjang pembelajaran di kelas PESTA. Doakan juga kiranya Tuhan menolong kami semua untuk lebih berakar dalam firman Tuhan, khususnya untuk memperkenalkan Kabar Keselamatan kepada orang-orang yang belum percaya dan menguatkan iman orang percaya di sekitar kami.

 
Kesaksian Kelas PRK 2019

Kelas Pembentukan Rohani Kristen (PRK) 2019 telah usai dan berjalan dengan baik. Berikut beberapa kesaksian peserta yang telah lulus dari kelas tersebut.

1. Evi Yuanita (Yogyakarta)

Evi Yuanita

Pelajaran-pelajaran yang disampaikan dalam PRK ini sangat memberkati saya karena topik-topik yang dibahas sangat menarik dan aktual terjadi dalam kehidupan rohani kita. Saya jadi lebih mengetahui bagaimana cara untuk terus bertumbuh dalam kerohanian, apa saja yang menghambat, dan cara untuk memperbaiki kondisi kerohanian kita dengan melakukan disiplin rohani. Dalam PRK juga dibahas mengenai penyakit-penyakit rohani yang sering terjadi, apa saja gejalanya, dan bagaimana cara mengatasinya. Terima kasih banyak untuk tim PESTA yang sudah memfasilitasi terselenggaranya kursus PRK ini secara gratis sehingga firman Tuhan boleh semakin kita pahami dan kita taati. Tuhan Yesus memberkati.

2. Victor Francis (Malaysia)

Victor Francis

Saya sangat bersyukur karena melalui pelajaran modul PRK ini, Tuhan banyak menyingkapkan kepada saya tentang pentingnya disiplin rohani, latihan belajar firman Tuhan, puasa, dan doa untuk bertumbuh menjadi seorang yang dewasa dalam rohani. Mata rohani saya juga dibukakan untuk melihat penyakit rohani, yang memang saya alami sebelumnya, tetapi saya tidak sadar kalau itu adalah penyakit rohani. Pelajaran tentang penyakit rohani akan membuat saya lebih peka, dan yang lebih penting, tahu bagaimana cara mengatasinya jika itu terjadi kepada saya dan orang lain. Terima kasih buat pelajarannya. Modul PRK dan modul yang lain dalam PESTA sangat membantu untuk pertumbuhan pribadi orang percaya. Diharapkan lebih banyak orang akan mengikuti modul ini pada masa yang akan datang. Terima kasih dan Tuhan memberkati.

 
Blog: Jodoh Seiman

Oleh: Adhi Subagio (Bekasi)

Adhi Subagio

Sejak dahulu, saya berdoa untuk pasangan hidup, dan tentunya saya menginginkan pasangan yang seiman. Untuk mendapatkan pasangan seiman itu, saya harus melalui proses yang panjang. Saat ini, saya akan membagikan kepada pembaca cerita mengenai cara Tuhan mempertemukan saya dengan istri saya.

Pada tahun 1994, usia saya sudah 26 tahun, saya termasuk cowok yang tidak ganteng dan juga kerja hanya PNS di bandara di Waingapu (Sumba Timur/NTT) yang penghasilannya cukup kecil. Saya bercita-cita menikah dengan orang seiman dan tentunya berharap pasangan saya akan membantu perekonomian kami. Di lingkungan kerja saya di Sumba, saya memiliki banyak teman dari Jawa. Saya pikir berteman dengan satu suku adalah hal yang cukup membantu dalam membangun hubungan. Kami yang bekerja di sana kebanyakan tinggal di rumah kompleks bandara, dan kebanyakan teman-teman di sana beragama saudara kita. Jadi, bagi saya, itu akan mempersulit saya untuk membangun hubungan yang lebih serius (mencari pasangan untuk menikah). Hal itu membuat saya cukup khawatir, apalagi usia saya sudah lewat dari 25 tahun. Rasa cemas tersebut hilang, saat saya berlutut di hadapan Dia. Saya meminta supaya Tuhan mempertemukan saya dengan pasangan yang seiman, mau hidup sederhana, dan juga mau saya ajak pindah ke Jawa.

Selengkapnya »

 
Artikel
Usaha Mencari Kesenangan

Apakah Anda tahu bahwa Allah memerintahkan kita untuk mencari kesenangan kita?

"Maka hendaklah engkau menyukakan dirimu dalam Allah, dan Ia akan mengaruniakan kepadamu segala kehendak hatimu."
(Mazmur 37:4)

1. Allah menciptakan kita untuk kemuliaan-Nya.

".... Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi ... yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, ...!"
(Yesaya 43:6-7)

Penyembahan

Allah menciptakan kita untuk menyatakan kebesaran-Nya -- sama seperti teleskop membesarkan bintang. Allah menciptakan kita untuk menyatakan kebaikan, kebenaran, keindahan, kebijaksanaan, dan keadilan-Nya. Kemuliaan Allah yang terbesar hanyalah ketika kita merasa sungguh-sungguh bahagia akan keberadaan-Nya. Artinya, Allah menerima puji-pujian, dan kita merasa bahagia. Allah menciptakan kita supaya Dia dimuliakan pada waktu kita puas dan bahagia dalam Dia.

2. Setiap manusia harus hidup untuk kemuliaan Allah.

"Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah."
(1 Korintus 10:31)

Jika Allah menciptakan kita untuk kemuliaan-Nya, jelas bahwa kita harus hidup demi kemuliaan-Nya. Hal ini adalah rancangan Allah. Jadi, tugas utama kita adalah menyatakan nilai Allah dengan cara menerima dan puas dengan keberadaan-Nya dalam hidup kita. Ini adalah inti dari mengasihi (Matius 22:37), percaya (1 Yohanes 5:3-4), dan bersyukur kepada Allah (Mazmur 100:2-4). Hal ini merupakan akar dari segala ketaatan, khususnya mengasihi orang lain (Kolose 1:4-5).

3. Kita semua telah gagal untuk memuliakan Allah.

"Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah."
(Roma 3:23)

Apa artinya "telah kehilangan kemuliaan Allah"? Artinya, tidak ada satu pun dari kita yang sungguh-sungguh percaya dan menghargai Allah sebagaimana seharusnya. Kita tidak puas dengan keagungan Allah sehingga kita tidak berjalan menurut kehendak-Nya. Kita memalingkan wajah dan mencari kepuasan sendiri dan menganggap semua itu lebih berharga daripada Allah. Hal ini adalah inti dari penyembahan berhala (Roma 1:21-23). Sejak dosa merajalela di bumi ini, kita tidak mau menerima Allah sebagai sumber kepuasan dan kelegaan kita (Efesus 2:3). Hal ini merupakan penghinaan bagi kebesaran Allah (Yeremia 2:12-13).

4. Kita semua layak menerima hukuman yang adil dari Allah.

"Karena upah dosa ialah maut ...."
(Roma 6:23)

Kita semua sudah meremehkan kebesaran Allah. Bagaimana mungkin? Ketika kita lebih menyukai hal lain selain Allah, kita semua sudah meremehkan kebesaran Allah. Ketika kita tidak bersyukur, tidak percaya dan tidak patuh kepada Allah, maka kita sudah meremehkan Allah. Jadi, sudah selayaknya Allah menjauhkan kita dari nikmat kemuliaan-Nya untuk selama-lamanya. "Mereka akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya." (2 Tesalonika 1:9)

Dalam Perjanjian Baru, kata "neraka" disebutkan sebanyak dua belas kali -- Yesus sendiri menyebutnya sebanyak sebelas kali. Jadi, neraka bukanlah dongeng yang dibuat oleh pengkhotbah yang marah dan prihatin. Neraka adalah peringatan keras dari Anak Allah yang telah mati supaya manusia yang berdosa ini jauh dari kutukan neraka. Kita mengabaikan hal itu.

Seandainya saja Alkitab membahas keadaan manusia hanya sampai di sini, maka kita semua akan dihukum dan sama sekali tidak punya harapan masa depan. Akan tetapi, cerita Alkitab tidak selesai sampai di sini ....

5. Allah mengirim Anak-Nya yang tunggal, Yesus, untuk menyediakan hidup kekal dan kebahagiaan.

Quote KISAH

"Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: 'Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa.'"
(1 Timotius 1:15)

Kabar Baiknya adalah Kristus telah mati untuk menyelamatkan orang berdosa seperti kita. Dan, Kristus telah bangkit dari dunia orang mati untuk membuktikan kekuasaan-Nya atas maut, dan juga untuk membuka gerbang kehidupan kekal dan kebahagiaan abadi (1 Korintus 15:20). Artinya, Allah mampu membebaskan orang berdosa (Roma 3:25-26). "Sebab Kristus telah mati sekali untuk dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah." (1 Petrus 3:18) Kembali kepada Allah adalah kembali ke tempat adanya kelegaan abadi.

6. Keuntungan yang dibeli oleh kematian Kristus adalah hak milik oleh orang yang bertobat dan percaya kepada Kristus.

"Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan."
(Kisah Para Rasul 3:19)

"Jawab mereka: 'Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat.'"
(Kisah Para Rasul 16:31)

"Bertobat" berarti lari menjauh dari semua janji licik dosa. "Percaya" berarti merasa puas dan lega atas apa pun yang dijanjikan Tuhan Allah dalam Yesus. "Barangsiapa percaya kepada Ku, ia tidak akan haus." (Yohanes 6:35) Sesungguhnya, keselamatan kita bukan karena usaha kita. Kita tidak pantas menerima keselamatan (Roma 4:4-5). Keselamatan adalah kasih karunia melalui iman (Efesus 2:8-9). Keselamatan diberikan secara cuma-cuma kepada manusia (Roma 3:24). Kita akan menerima keselamatan jika kita memang dengan sungguh-sungguh mendambakannya (Matius 13:44). Jika memang begitu keadaan kita, tujuan utama Allah dalam penciptaan sudah tercapai, yaitu Allah dimuliakan dalam kehidupan kita, dan kita sungguh-sungguh puas dalam Allah -- untuk selama-lamanya.

Apa yang harus Anda lakukan?

Jika Anda sungguh-sungguh mendambakan kebahagiaan yang bersumber dari Allah dalam Yesus, Allah sedang berkarya dalam kehidupan Anda. Apa yang seharusnya Anda lakukan? Berikut ini adalah cara-cara bagaimana merespons karya Allah dalam hidup Anda.

Alkitab

Larilah jauh-jauh dari semua janji palsu dosa. Mohonlah kepada Yesus untuk menyelamatkan Anda dari kesalahan, hukuman, dan perbudakan. "Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan." (Roma 10:13) Mulailah menaruh pengharapan Anda pada segala yang Allah berikan bagi Anda dalam Yesus. Patahkanlah kekuatan janji-janji palsu dosa dengan kepercayaan pada janji-janji Allah yang sungguh-sungguh melegakan. Mulailah membaca Alkitab agar Anda menemukan janji-janji Allah yang mantap dan berharga yang memerdekakan Anda (2 Petrus 1:3-4). Temukanlah gereja yang percaya Alkitab dan mulailah beribadah dan bertumbuh bersama-sama dengan orang-orang lain yang menghargai Kristus di atas segalanya (Filipi 3:7).

"Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan-Mu ada hikmat senantiasa."
(Mazmur 16:11)

Kabar yang terbaik di dunia ini adalah bahwa kebahagiaan kita tidak pernah bertentangan dengan kesucian Allah. Merasa puas dengan pemberian Allah bagi Anda, yaitu Yesus, adalah tindakan memuliakan Allah sebagai harta terbesar, dan hal itu memberikan Anda kebahagiaan -- yang abadi dan tak terbatas -- lebih dari kebahagiaan yang bisa diberikan oleh apa pun juga di dunia ini.

"Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita."
(Mazmur 100:2)

Audio Usaha Mencari Kesenangan

Diambil dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : https://www.desiringgod.org/articles/quest-for-joy?lang=id
Judul artikel : Usaha Mencari Kesenangan
Penulis artikel : John Piper
Tanggal akses : 2 November 2018
 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi Berita PESTA.
Redaksi: Mei, Roma, dan Yulia
Kontak | Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2019 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org