Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/40hari/1

Doa 40 Hari 2019 edisi 1 (24-4-2019)

Apa Itu Islam

[40-Hari-2019] Apa Itu Islam?/[01]

40 HARI MENGASIHI BANGSA DALAM DOA -- RABU, 24 APRIL 2019

APA ITU ISLAM?

Kapan pun saya mengajar tentang Islam, entah di seminari atau di gereja, saya selalu menerima pertanyaan yang dimulai seperti ini: "Apa pandangan seorang Muslim tentang ...?" Jawaban standar saya adalah sebuah pertanyaan juga: "Muslim yang mana?"

Bayangkan seseorang mengajukan pertanyaan yang mirip: "Apa pandangan seorang Kristen tentang ini atau itu?" Oke, Kristen yang mana? Presbiterian konservatif atau Southern Baptist? Metodis liberal? Aliran Pentakosta? Golongan orang Kristen Mesir? Seorang anggota gereja perintisan Kisah Rasul 29 di Seattle atau Gereja Baptis fundamentalis di pedalaman selatan? Seorang pendeta, ahli, atau orang awam? Orang Amerika, Norwegia, Ukraina, Suriah, Rwanda, atau Malaysia? Saya yakin Anda mengerti maksudnya.

Pada kenyataannya, ada begitu banyak keanekaragaman dalam dunia Muslim seperti halnya dalam dunia kekristenan. Sama seperti kita tidak ingin orang-orang non-Kristen mengotakkan kita dengan pandangan kekristenan yang "sama rata", kita seharusnya mengakui dan menjawab dengan tepat terhadap kemajemukan sudut pandang, tradisi, dan praktik yang terdapat di antara kalangan Muslim zaman sekarang. Dalam artikel ini, kita akan melihat beberapa poin utama dari keberagaman yang ditemukan dalam Islam pada masa kini, dan memikirkan implikasinya terhadap bagaimana kita berhubungan dengan kaum Muslim.

Memang benar, pembagian yang paling menonjol dalam dunia Islam adalah antara Sunni dan Syiah, yang dilatarbelakangi oleh konflik internal sengit pada tahun-tahun paling awal Islam. Golongan Sunni mewakili 85 -- 90 persen Muslim pada masa kini. Negara-negara dengan mayoritas golongan Syiah hanyalah Iran, Irak, Azerbaijan, dan Bahrain. Dalam beberapa hal, pembagian Sunni-Syiah dalam Islam dapat dibandingkan dengan perpecahan Timur-Barat dalam kekristenan yang memisahkan tradisi teologis Timur (Ortodoks Timur) dengan tradisi teologis Barat (Protestan dan Roma Katolik), meskipun analogi tersebut tidak perlu ditekankan.

Ketidaksetujuan inti antara golongan Sunni dan Syiah lebih bersifat politis daripada teologis, yaitu berkenaan dengan kepemimpinan sah dari Umat (komunitas Muslim di seluruh dunia). Golongan Syiah bersikeras bahwa Umat seharusnya dipimpin oleh imam-imam yang dituntun secara ilahi, yang setiap orang merupakan keturunan Ali, sepupu sekaligus putra menantu Muhammad. Meskipun Ali menjadi khalifah (pemimpin - Red.) ke-4, golongan Syiah percaya bahwa dia seharusnya mewarisi peran kepemimpinan tepat setelah kematian Muhammad. Golongan Syiah terbagi menjadi empat sekte, seperti "Dua Belas Imam" yang terkemuka di Iran, akibat ketidaksepakatan tentang bagaimana menelusuri garis kepemimpinan berdasarkan keturunan Ali. Sebaliknya, golongan Sunni percaya bahwa pada prinsipnya, seorang Muslim saleh mana pun bisa menjadi khalifah. Golongan Syiah biasanya memandang diri mereka sendiri sebagai minoritas saleh yang dianiaya sepanjang perjalanan sejarah Islam. Bisa dikatakan bahwa golongan Sunni dan Syiah memandang satu sama lain sebagai golongan yang tidak ortodoks, atau bahkan bidah.

Poin keberagaman penting lainnya digambarkan oleh Sufisme, yaitu tradisi mistis dalam Islam. Sederhananya, golongan Sufi adalah golongan "karismatik" dalam Islam. Sufisme bukanlah cabang atau sekte Islam yang terpisah dan sejajar dengan Islam Sunni dan Syiah, melainkan merupakan pendekatan yang lebih mengutamakan pengalaman terhadap kesalehan yang dapat ditemukan dalam kedua kelompok itu. Sufisme awalnya berkembang dalam periode pertengahan sebagai reaksi dari keringnya legalisme Islam arus utama, yang kurang memerhatikan spiritualitas pribadi dan pengetahuan akan Allah yang berdasarkan pengalaman. Sufisme mula-mula menekankan kesatuan dengan Allah dan melekat dengan pantheisme, suatu pandangan bahwa Allah adalah satu dengan alam semesta ?- pandangan yang cukup menghujat bagi golongan Muslim ortodoks. Berabad-abad kemudian, ahli teologi Al-Ghazali (1058 -- 1111) membawa Sufisme ke dalam arus utama dengan mengemasnya dalam istilah yang lebih ortodoks, dan spiritualitas Sufi tetap ada sebagai aliran yang terkemuka dalam agama Islam sejak saat itu.

Sufisme menekankan kesalehan, pengalaman mistis, dan disiplin rohani pribadi seperti pengajian, meditasi, pertapaan, doa, dan menyanyi, yang dipercaya membawa jiwa semakin dekat menuju kesatuan dengan Allah. Salah satu kelompok Sufi yang paling ternama adalah Mevlevi, atau "Whirling Dervishes" (Darwis Berputar - Red.), yang tarian berputarnya bukan semata-mata merupakan penampilan artistik, tetapi juga tindakan pengabdian spiritual. Golongan Sufi sering kali diperlakukan sebagai bidah dan dianiaya oleh mayoritas Sunni. Bahkan, pada masa kini, mereka umumnya dipandang dengan kecurigaan dan hina oleh Muslim tradisional karena keyakinan dan praktik-praktik mereka yang aneh.

Misionaris-misionaris Kristen yang bekerja di antara kaum Muslim di negara-negara yang kurang berkembang juga sangat akrab dengan aliran Islam yang beragam dan berbeda dari norma umumnya, yang dikenal sebagai "Islam tradisi". Islam tradisi adalah versi Muslim dari agama rakyat, sebuah sistem kepercayaan yang menggabungkan agama monoteistik tradisional dengan takhayul kafir animistis. (Sebagai perbandingan, bayangkan tentang Roma Katolik dengan okultisme yang ditemukan di beberapa bagian Kepulauan Karibia dan Amerika Latin.) Islam tradisi biasanya jauh lebih peduli dengan apa yang ada di sini dan saat ini -- perlindungan dari roh-roh jahat dan mengatasi penderitaan setiap hari -- daripada Islam arus utama dengan sudut pandang eskatologisnya yang kuat.

Pengikut Islam tradisi melakukan berbagai praktik takhayul seperti menangkal roh-roh dengan mantra dan jimat sihir, dan membacakan ayat-ayat Alquran untuk mendatangkan mukjizat kesembuhan. Muhammad bisa saja dianggap memiliki status yang nyaris ilahiah dan orang-orang berdoa kepadanya memohon bantuan supernatural, sama seperti bagaimana Perawan Maria diperlakukan oleh umat Roma Katolik tradisi. Islam tradisi menghadirkan tantangan dan peluang yang berbeda bagi misi Kristen. Ahli misi Reformed Samuel Zwemer (1867 -- 1952), yang disebut "Rasul bagi Islam", mengadakan penelitian perintisan tentang manifestasi sinkretisme Islam, yang mengamati bahwa Tuhan Yesus mengatasi kebutuhan dan rasa takut kaum Muslim rakyat dalam cara yang tidak pernah bisa dilakukan oleh Muhammad.

Orang-orang Kristen di Amerika Serikat perlu waspada terhadap bentuk Islam lainnya yang bersifat khusus dan pribumi yang terdapat di antara orang-orang Afrika-Amerika. Nation of Islam (NOI) dibentuk pada 1930 oleh Wallace Fard Muhammad (lahir dengan nama Wallace D. Ford) sebagai gerakan supremasi kulit hitam. Awalnya, NOI tidak banyak terkait dengan Islam ortodoks. Nama itu dipilih utamanya sebagai kontras dengan kekristenan, yang dikenal sebagai agama kulit putih pemilik-budak, digabung dengan pandangan bahwa Islam adalah agama asli orang Afrika. Ajaran dari para pemimpin aslinya sangat jauh dari Islam historis, seperti halnya Mormonisme sangat jauh dari Kristen ortodoks.

Namun, pada akhir 1970-an, pemimpin NOI, Wallace D. Muhammad, meninggalkan akarnya yang rasis, dan membawa organisasi itu menjadi sejalan dengan Islam Sunni ortodoks, dengan konsekuensi bahwa ratusan ribu orang kulit hitam Amerika masuk ke Islam arus utama hampir dalam satu malam. (NOI yang asli kemudian bangkit kembali sebagai kelompok yang berubah secara radikal dan masih ada hingga hari ini di bawah kepemimpinan Louis Farrakhan.) Hari ini, satu di antara lima Muslim di Amerika Serikat adalah dari golongan Afrika-Amerika, dibandingkan dengan satu di antara enam orang Kristen.

Orang-orang Kristen di Barat cenderung mengidentifikasi Islam sebagai agama fundamentalis berbasis Alquran yang ditemukan di Timur Tengah, Afrika Utara, serta Asia Selatan dan Tenggara -- dan dengan alasan yang baik. Meski begitu, fundamentalisme Islam hanya mewakili satu dari beberapa arah didorongnya Islam hari ini. Dunia Islam telah menghadapi krisis kepercayaan diri sejak penghapusan kekhalifahan Ottoman pada 1924. Sejak saat itu, tidak ada kekhalifahan yang dapat dikenali, yang dapat dicari orang Muslim untuk mendapatkan pimpinan. Berbagai dinasti Islam yang banyak berkuasa di dunia beradab pada abad-abad sebelumnya telah runtuh, dan karenanya orang-orang Muslim bertanya, "Apa yang salah, dan bagaimana kita memperbaikinya?"

Secara luas, dua gerakan reformasi yang sangat berbeda bangkit sebagai respons terhadap krisis ini. Gerakan fundamentalis bersikeras bahwa Islam perlu kembali ke akarnya: orang-orang Muslim hari ini, termasuk para pemimpin negara-negara mayoritas Muslim, tidaklah cukup Islami. Solusi yang diajukan adalah untuk kembali ke kepatuhan tanpa kompromi terhadap Alquran dan Hadis (tradisi tentang Muhammad dan komunitas Muslim mula-mula). Sebaliknya, gerakan kaum yang progresif menyampaikan bahwa Islam tersandung karena, tidak seperti Kristen Barat, Islam gagal hidup berdampingan dengan modernitas. Dalam pandangan ini, cara untuk melangkah ke depan adalah mereformasi dan memperbarui Islam, menyesuaikannya dengan dunia modern. Jelas, ini membutuhkan pendekatan yang lebih fleksibel dan selektif terhadap sumber-sumber Islam.

Pertanyaan yang muncul: Di mana sebagian besar Muslim hari ini berpihak sehubungan dengan gerakan-gerakan reformasi yang bertentangan ini? Tidak ada jawaban yang sederhana, tetapi bisa dikatakan bahwa sebagian besar orang Muslim mendapati diri mereka sendiri terbagi menjadi dua. Kemungkinan hidup mengikuti tafsir ketat Syariat (hukum Islam) yang didukung oleh kaum fundamentalis hanya memiliki sedikit daya tarik, dan mereka kecewa dengan lingkaran kekerasan yang terus-menerus dilakukan oleh golongan Islam garis keras. Akan tetapi, mereka tidak bisa menyangkal bahwa ketika berbicara tentang menghadirkan "Islam yang benar" berdasarkan Alquran dan Hadis, kaum fundamentalis memiliki klaim yang lebih baik daripada kaum modernis.

Selain berbagai tradisi dan pembagian dalam dunia Muslim ini, kita juga dapat menemukan keberagaman budaya yang banyak sekali, belum lagi variasi kepribadian dan temperamen yang mencirikan golongan manusia secara umum. Tidak ada satu pun dari hal-hal ini yang menyiratkan bahwa Islam adalah kesatuan yang tak berbentuk dan tak dapat dilukiskan. Kita masih bisa berbicara penuh arti tentang "Islam arus utama" sebagai agama monoteistik ketat yang diartikan sebagai ketaatan kepada kehendak Allah, diwahyukan melalui nabi-Nya, Muhammad, dipertahankan dalam Alquran dan Hadis, dan diungkapkan dalam "Lima Rukun Islam". Namun, di sekitar inti tersebut, kita bisa menemukan keberagaman "Islam" yang membingungkan.

Apa artinya ini bagi hubungan orang Kristen dengan orang Muslim? Di antara hal-hal lainnya, kita perlu menerapkan Hukum Kasih, berusaha untuk menghindari menilai orang Muslim hanya berdasarkan stereotip, sama seperti kita juga tidak mau dinilai demikian sebagai orang Kristen. Dalam percakapan kita dengan orang Muslim, kita perlu mendengarkan dan memahami pandangan tertentu mereka tentang Islam beserta implikasi-implikasinya sebelum kita menggunakan pisau bedah firman Allah. Dengan percaya pada cukupnya Kitab Suci, kita bisa dengan penuh keyakinan bukan hanya bahwa diagnosis Alkitab tentang kejatuhan manusia dalam dosa berlaku pada setiap orang Muslim, sebagai sesama keturunan Adam, tetapi juga bahwa cara-cara yang Kristus dan para rasul-Nya terapkan dalam berhubungan dengan berbagai bentuk agama palsu dalam Perjanjian Baru akan menjadi tuntunan yang berharga saat kita memberikan air hidup kepada sesama kita yang Muslim. (t/Jing-Jing)

POKOK DOA

1. Mari berdoa agar semakin banyak orang Kristen mampu memandang orang-orang Muslim dalam kasih dan hikmat Tuhan sehingga semakin banyak relasi yang dapat terjalin dan membuka ruang bagi pemberitaan Kabar Baik bagi kaum Muslim.

2. Doakan orang-orang Muslim yang saat ini hidup di wilayah-wilayah yang terbelakang dan tertinggal. Biarlah Tuhan berkarya dalam situasi sulit ini sehingga mereka dapat melihat Dia di tengah-tengah karya-Nya.

3. Mari kita berdoa agar Tuhan membangkitkan kerinduan dalam hati saudara-saudara kita dari kaum Muslim untuk mencari kebenaran yang sejati. Kiranya dalam pergumulan dan pencarian tersebut, mereka akan beroleh jalan kepada kebenaran yang sejati dalam Kristus.

4. Berdoalah bagi para misionaris yang tengah melakukan pengabaran Injil kepada kaum Muslim agar hikmat Allah menyertai dan memampukan mereka untuk berbicara tentang kasih dan anugerah keselamatan dari Tuhan Yesus.

Diterjemahkan dari:

Nama situs: Ligonier

URL: https://www.ligonier.org/blog/what-islam/

Judul asli artikel: What is Islam?

Penulis artikel: James Anderson

Kontak: doa(at)sabda.org

Berlangganan: subscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org

Berhenti: unsubscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org

Arsip: http://sabda.org/publikasi/40hari

(c) 2019 oleh e-DOA dan "MENGASIHI BANGSA DALAM DOA"

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org