Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/40hari/9

Doa 40 Hari 2016 edisi 9 (4-6-2016)

Suku Moronene

40 HARI MENGASIHI BANGSA DALAM DOA -- SABTU, 4 JUNI 2016

SUKU MORONENE

Populasi: 46.000 jiwa
Bahasa: Moronene
Jumlah umat Kristen: 1,9%
Umat mayoritas: Muslim (9,8%)
Status: Belum terjangkau

Pendahuluan/Sejarah

Moronene merupakan bagian dari sebelah Timur kelompok kecil Bungku Tolaki yang berasal dari Sulawesi Tengah. Semua kelompok etnis di Sulawesi adalah keturunan dan berasal dari orang-orang yang berasal dari Filipina beberapa ribu tahun yang lalu. Suku Moronene hidup di distrik Kabaena, Kabaena Timur, Rumbia, Poleang Timur, Rarowatu, dan Watubangga di kabupaten Bombana, dan Watubangga di kabupaten Kolaka. Di lima kabupaten yang terakhir disebutkan, mereka hidup bersama dengan suku Bugis. Bahasa Moronene merupakan bagian dari kelompok linguistik yang lebih besar disebut subfamili Bungku-Tolaki Timur yang juga mencakup Koroni, Bungku, Taloki, Bahonsuai, Mori, Kulisusu, Padoe, Wawonii, Tomadino, Kodeoha, Rahambuu, Tolaki, dan bahasa Waru.

Seperti Apa Kehidupan Mereka?

Daerah Moronene dikenal sebagai negeri Dewi Padi (tanah dewi padi). Nama ini didasarkan pada mitos yang menggambarkan daerah Moronene sebagai tempat yang memiliki kesuburan pertanian yang membawa kemakmuran bagi para penduduk yang kreatif dan mau bekerja keras. Namun, jika masyarakat Moronene (baik di daratan maupun di Pulau Kabaena) terus bergantung pada kemurahan hati alam dan tidak menerima perubahan sosial, bisa jadi status sosial ekonomi mereka akan menurun. Masyarakat Moronene selalu dikenal sangat menjunjung tinggi damai sejahtera, kesabaran, dan kesederhanaan. Akibatnya, setiap kali mereka terlibat dalam konflik dengan pihak lain, mereka akan selalu memilih untuk menyerah sehingga memungkinkan mereka untuk tetap berada di daerah yang sama. Contoh berikut menunjukkan lebih banyak tentang kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya sehari-hari suku Moronene: (1) Mereka hidup sangat sederhana dan senang tinggal dalam kelompok kecil. (2) Rumah-rumah mereka sebagian besar terbuat dari bambu yang didapatkan di dekat kebun mereka. (3) Jika mereka harus pergi mencari tempat tinggal baru untuk menghindari konflik di lokasi asli mereka, mereka membangun rumah baru mereka di lokasi yang berbeda untuk menghindari lebih banyak masalah. (4) Mereka biasanya suka menghias festival mereka dengan warna-warna cerah. Meskipun penelitian belum membuktikan ini, tampaknya ciri budaya di atas diwariskan dari generasi ke generasi, membentuk dasar kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan adat istiadat Moronene. Di daerah Rumbia, satu komunitas Moronene yang tinggal di daerah yang ditetapkan sebagai taman nasional belum diperlakukan dengan baik oleh pemerintah. Mereka diusir dari rumah mereka karena lahan mereka sekarang menjadi hutan lindung. Hal ini menyebabkan konflik sosial antara masyarakat Moronene dan pemerintah. Namun, mereka bukan tidak mendapat bantuan dari luar, mereka didukung oleh organisasi pengembangan masyarakat dan lain-lain. Pada tahun 2007, emas ditemukan di kabupaten Bombana, dan demam emas pun terjadi. Hal ini menyebabkan masuknya banyak orang luar ke daerah Moronene. Meskipun banyak orang Moronene pergi ke ladang emas untuk mencari emas, kekayaan malah lebih banyak didapatkan oleh orang luar dan demam emas mengakibatkan sejumlah masalah sosial.

Apa Kepercayaan Mereka?

Islam Suni telah menjadi agama dominan sejak tahun 1600-an. Namun, kepercayaan tradisional masih sangat penting, terutama kepercayaan pada roh-roh jahat. Tak satu pun dari Moronene saat ini dapat diklasifikasikan sebagai kelompok terisolasi. Mereka semua tinggal di desa-desa, atau pada peternakan di pinggiran desa. Beberapa memiliki kepercayaan animisme bercampur dengan keyakinan Islam mereka, tetapi mereka semua mengidentifikasi diri mereka sebagai Muslim atau Kristen.

Apa Kebutuhan Mereka?

Pendidikan dan fasilitas kesehatan yang lebih baik merupakan kebutuhan utama dari Moronene. Mereka juga membutuhkan pelatihan untuk meningkatkan produktivitas lahan mereka dan menaikkan standar hidup mereka sehingga mereka dapat bersaing dengan para transmigran di daerah itu. (t/Jing-Jing)

Untuk menjangkau suku Moronene bagi Tuhan, kiranya beberapa referensi dari bahan-bahan berikut ini dapat membantu memperlengkapi Anda:

  1. Kabar Baik audio-visual dengan 40 gambar dalam bahasa Moronene: http://globalrecordings.net/en/program/C84071
  2. Audio berdurasi pendek untuk kisah-kisah Alkitab, pesan penginjilan yang juga menyertakan nyanyian dan musik dalam bahasa Moronene: http://globalrecordings.net/en/program/C10010

Pokok Doa:

  1. Berdoalah agar Tuhan membangkitkan kerinduan kepada banyak orang percaya untuk memperkenalkan Kristus (Injil) kepada suku Moronene.
  2. Berdoalah kepada Tuhan Yesus agar suku Moronene dapat membuka hati untuk menerima pengajaran Kristen dan beriman sejati kepada Allah.
  3. Berdoalah agar pekerja-pekerja yang Tuhan kirimkan kepada suku Moronene memiliki pemahaman budaya dan bahasa suku Moronene sehingga mereka dapat lebih mudah beradaptasi dengan suku tersebut.
  4. Berdoa agar Tuhan menyediakan sarana, prasarana, dan keterampilan hidup yang dibutuhkan suku Moronene dalam meningkatkan mutu kehidupan serta kesejahteraan sosial mereka.

Diterjemahkan dari:
Nama situs: Joshua Project
Alamat URL: https://joshuaproject.net/people_groups/13822/ID Judul asli artikel: Moronene in Indonesia Penulis artikel: Tim Joshua Project
Tanggal akses: 11 Mei 2016

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org