Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/40hari/17

Doa 40 Hari 2016 edisi 17 (12-6-2016)

Kaum Afar: Perjalanan ke Masa Depan yang Tidak Pasti

40 HARI MENGASIHI BANGSA DALAM DOA -- MINGGU, 12 JUNI 2016

KAUM AFAR: PERJALANAN KE MASA DEPAN YANG TIDAK PASTI

Tanah air kaum Afar membentang sepanjang pesisir selatan Laut Merah, mulai dari bagian selatan Eritrea melalui bagian utara Djibouti, berbelok ke barat menuju ke Ethiopia tengah. Ini merupakan kawasan yang panas dan kering, yang meliputi dataran rendah dan padang gurun yang luas. Sebagai kelompok masyarakat yang nomad (selalu berpindah-pindah tempat), kaum Afar telah belajar untuk hidup di kawasan yang luar biasa tandusnya. Mereka beralih dari padang rumput yang sudah mengering menuju padang rumput lainnya beserta dengan unta dan kawanan ternak mereka, hidup mereka terutama bergantung dari susu ternak mereka.

Sejarah kaum Afar diteruskan secara lisan, dengan sedikit sekali data yang tertulis. Beberapa di antara sumber itu memberi kesaksian bahwa sejarah Afar sudah ada sebelum masa Islam. Masyarakat sekelilingnya mengenal kaum Afar karena keberanian mereka dan sifat yang tidak mengenal rasa takut ketika menghadapi konflik. Mereka telah menjalani berbagai pertempuran untuk mempertahankan diri dan tanah mereka terhadap musuh dari luar.

Akan tetapi, sekarang ini, kaum Afar menghadapi bentuk ancaman yang baru ketiadaan padang penggembalaan, perang antarwarga, masalah batasan wilayah, yang kesemuanya ini menjadi penghalang bagi mereka untuk menjalani kehidupan tradisional mereka. Banyak di antara mereka telah pindah ke kawasan perkotaan; mereka yang dulunya adalah penggembala dan pejuang yang gagah berani, kini harus hidup di antara masyarakat lain sebagai minoritas, tanpa pengaruh politis yang berarti dan terbatas dalam penentuan nasib sendiri.

Selama beberapa dasawarsa terakhir, sejumlah kecil orang Afar telah mengambil keputusan mengikut Yesus. Mereka berhimpun dalam kelompok-kelompok kecil, bersinar sebagai cahaya di negeri yang gelap. Bagi komunitas pengikut Kristus yang masih baru bertumbuh ini, Injil berarti pengharapan, bukan hanya untuk mereka sendiri, tetapi juga bagi seluruh kelompok masyarakat mereka. Beberapa di antara mereka mengalami penganiayaan dari keluarga mereka dan kelompok suku mereka. Akan tetapi, meskipun ada berbagai tantangan, mereka tetap setia mengiring Yesus dan membagikan Injil tanpa rasa takut.

Mari kita berdoa:

  1. Bagi beberapa orang Kristen Afar agar memiliki keberanian dan hikmat untuk menyaksikan Yesus Kristus kepada sesama penduduk negeri mereka.
  2. Bagi kaum Afar, yang Tuhan ciptakan dengan jati diri yang unik, agar mereka menemukan jalan untuk dapat menyatakan identitas budaya mereka di tengah-tengah perubahan zaman.
  3. Agar ada ditemukan kunci untuk mengomunikasikan pesan Kristus secara jelas kepada kelompok masyarakat ini.

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org