You are hereKesaksian Misi / Kami Mati dengan Penuh Ucapan Syukur

Kami Mati dengan Penuh Ucapan Syukur


Kedua gadis Kristen itu menunggu di halaman penjara Tiongkok untuk eksekusi yang telah diumumkan. Seorang sesama tahanan yang melihat adegan itu dari sel penjaranya, menggambarkan wajah mereka terlihat pucat tetapi cantik di luar batas akal -- amat sedih tetapi manis. Berbicara secara manusiawi, mereka penuh rasa takut. Tetapi Qiu Qinxiu dan Hou Xiuzu telah memutuskan untuk menyerahkan diri kepada kematian tanpa mengingkari iman mereka.

Diapit oleh penjaga-penjaga pembelot, sang eksekutor datang dengan sebuah pistol revolver di tangannya. Dia itu adalah pendeta mereka sendiri! Ia telah dijatuhi hukuman mati bersama kedua gadis itu. Tetapi, seperti banyak kejadian lain di sepanjang sejarah gereja, sang eksekutor memberikan "janji" akan membebaskannya jika ia mau menembak gadis-gadis itu. Ia menerima.

Kedua gadis itu saling berbisik, kemudian membungkuk dengan hormat di hadapan pendeta mereka. Salah seorang dari mereka berkata, "Sebelum Anda menembak kami, kami berkeinginan untuk berterima kasih dengan sepenuh hati atas arti diri Anda bagi kami. Anda telah membaptis kami, Anda mengajarkan kepada kami jalan-jalan kehidupan kekal, Anda memberikan kepada kami perjamuan kudus dengan tangan yang sama yang kini Anda pergunakan untuk memegang pistol."

"Anda juga mengajarkan kepada kami bahwa orang Kristen terkadang lemah dan melakukan dosa-dosa yang mengerikan, tetapi mereka dapat diampuni kembali. Saat Anda menyesali apa yang hendak Anda perbuat pada kami, janganlah putus asa seperti Yudas, tetapi menyesallah seperti Petrus. Allah memberkati Anda, dan ingatlah bahwa pikiran terakhir kami bukanlah kemarahan atas kegagalan Anda. Semua orang pernah melewati jam-jam kegelapan."

"Semoga Allah memberi upah untuk semua hal-hal baik yang telah Anda lakukan kepada kami. Kami mati dengan penuh ucapan syukur."

Mereka membungkuk kembali.

Hati si pendeta telah dikeraskan. Ia menembak kedua gadis itu.

Setelah itu ia ditembak oleh para Komunis.

Apa yang dilakukan oleh seorang "Jesus Freak" ketika dikhianati oleh seseorang yang dekat dengannya? Mereka menunjukkan kepada pengkhianat-pengkhianat mereka kasih Allah.

Kasih [kasih Allah di dalam kita] tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain ... Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. -- Rasul Paulus. Mati martir di Roma, 65 Masehi

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Jesus Freaks
Penulis : Toby McKeehan dan Mark Heimermann
Penerbit : Cipta Olah Pustaka
Halaman : 115 -- 116

Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/kami_mati_dengan_penuh_ucapan_syukur