Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Pengasuhan/Pendampingan Melalui Depresi Pada Anak

oleh Carrie Varnell

Sesuatu terjadi kepada anak-anak antara sekolah dasar dan sekolah menengah. Anda tahu, hal-hal di samping persoalan biologis. Saya tidak yakin itu apa, tetapi saya percaya kalau hal itu juga bagian dari ilmu pengetahuan. Anda pasti pernah mendengarnya. Anda memperhatikannya sungguh-sungguh. Akan tetapi, Anda tidak benar-benar memahami hal tersebut sampai hal itu Anda alami sendiri. Saya yakin bahwa saya sudah mempersiapkan anak-anak saya untuk menghadapi tahun-tahun di sekolah menengah dan mereka akan merindukan saat-saat canggung dalam hidup yang sering kali menakutkan.

Ternyata tidak.

Bosan dengan tugas

Baik anak laki-laki maupun perempuan saya mengalami ketakutan dalam sekolah menengah mereka dan dalam kegiatan penuh tambahan setelah sekolah. Kecanggungan itu semakin menyeruak. Peralihan dari seorang gadis kecil menjadi remaja yang sesungguhnya. Anak-anak laki-laki berada di mana-mana, berlagak dewasa, tetapi tetap tidak paham bagaimana mengucapkan kata-kata yang pantas. Sekolah menjadi masa yang berat saat itu.

Banyak hal berubah. Begitu pula dengan anak perempuan saya yang mudah bergaul, ceria, dan yang tidak peduli pemikiran orang lain.

Saya mendapat panggilan dari pihak konseling sekolah dan saya harus datang ke kantornya di sekolah. Ketika saya sampai di sana, saya melihat Rachel duduk di bangkunya, matanya merah dan berair. Pihak konselor memberi saya secarik kertas, sesaat kemudian saya merasa waktu seolah berhenti dan angin menghempaskan saya.

Kertas tersebut ternyata adalah surat yang ditulis oleh anak perempuan saya kepada temannya yang berisikan niat untuk bunuh diri. Puji Tuhan, temannya tersebut memberikan surat itu kepada pihak sekolah. Setelah kejadian tersebut, dua tahun berikutnya adalah tahap pendampingan/pengasuhan tersulit yang pernah saya alami.

Saya bukanlah seorang dokter atau terapi, tetapi berikut adalah hal-hal yang sudah saya alami sendiri serta hasil dari membandingkan cerita dari para ibu yang memiliki pengalaman yang serupa.

Itu Bukanlah Aku - Itu Kamu.

Hal ini tidak sering terjadi kepada saya, tetapi Allah tahu saya membutuhkan saran-Nya secara lantang dan jelas. Perasaan itu seperti jika Yesus duduk di samping saya, menopang wajah saya dengan tangan-Nya, melihat saya tajam-tajam dan berkata, "Jangan. Merasa. Ini. Tentang. Dirimu."

Sebagai seorang ibu, insting awal saya berkata, "Apakah saya telah melakukan kesalahan?" Saya ingin meneliti pada bagian mana anak perempuan saya kurang mendapat perhatian dan cinta kasih yang cukup sehingga dia berpikir bahwa dia tidak akan kuat menjalani kehidupannya ke depan. Allah membuatnya jelas untuk saya bahwa saya butuh memulihkan diri, dan saya melakukannya, hampir secepat ketika saya berpikir bahwa saya memerlukannya. Dia memperlihatkan kepada saya urutan waktu kehidupan anak perempuan saya dan menunjuk kepada suatu waktu dan berkata, "Hal ini memang harus terjadi. Semua pekerjaan yang sudah kita kerjakan sampai sekarang ini? Itu untuk mempersiapkannya melalui hal ini."

Saya berbalik kepada anak saya, merangkulnya, dan berkata, "Semua akan baik-baik saja." Berulang-ulang kali.

Carilah Bantuan Secepatnya

Saya tahu, kami sedang berada dalam situasi sulit sehingga kami membutuhkan bantuan ahli. Hari itu, gereja kami memiliki banyak informasi mengenai hal yang sedang kami alami. Asuransi Anda biasanya juga membayar untuk konseling. Pihak konselor ingin bertemu dengan saya serta suami saya, dan itu sangat menakutkan. Anda harus bersiap untuk menghadapi hal-hal yang berat.

Kami sudah melaluinya tanpa bantuan obat-obatan. Namun, menggunakan bantuan obat juga tidak masalah. Sekali lagi, saya bukanlah seorang dokter, tetapi dari yang saya tahu dari orang lain, terkadang zat kimiawi di dalam otak kita membutuhkan sedikit bantuan.

Berhati-hatilah dengan apa yang Anda harapkan.

Ingatkah Anda dengan predikat bertalenta dan berbakat yang kita bangga-banggakan sebagai orang tua ketika anak-anak kita diuji di sekolah dasar? Itu tidak datang secara cuma-cuma. Pernah mendengar istilah a tortured artist (artis yang tersiksa - Red.)?" Saya dan suami -- seorang aktris/seniwati dan perancang video game -- memiliki pengalaman tentang lubang gelap depresi dalam masa-masa kehidupan kami berdua. Saya sendiri tidak yakin akan mau menukar otak anak saya dengan mereka yang tidak kreatif jika itu berarti bahwa dia tidak akan menderita depresi dan kekhawatiran, tetapi akan ada hari-hari ketika saya berkata berbeda. Jika Anda memiliki seorang anak yang luar biasa berbakat dan sangat bertalenta, teruslah memantaunya. Saya tidak berkata bahwa mereka pasti akan mengalami hal itu, tetapi menurut setiap ibu yang anak tertuanya berhadapan dengan depresi, faktor G/T (Berbakat/Bertalenta - Red.) ada di dalamnya.

Rachel merasa sulit untuk berbagi masalahnya dengan teman sebayanya. Dia lebih nyaman berbicara dengan orang dewasa. Jadi, kesendirian adalah persoalan yang besar untuknya.

Dengarkan, dengarkan, dengarkan.

Dan, kemudian dengarkan beberapa hal lagi. Randy dan saya belajar dari awal bahwa cara terbaik mendisiplin anak-anak kami adalah mengajarnya sebelum krisis terjadi. Hampir mustahil mengajari anak Anda kebenaran Alkitab tentang ketidakegoisan, pada saat mereka berada dalam masa-masa perjuangan. Demikian juga, Anda bisa mengajari anak Anda untuk berbicara secara alamiah dengan cara mendengarkan semua kekonyolan yang dia lakukan ketika mereka duduk di kelas empat dan kemudian mereka akan menjelaskan secara rinci apa saja yang terjadi saat makan siang dengan sangat lancar. Mendengarkan dan melibatkan diri nantinya akan membantu si anak ketika mereka beranjak dewasa dan mereka akan merasa memiliki orang tua yang benar-benar tertarik dengan apa yang terjadi dalam kehidupan mereka.

Meskipun demikian, dalam masa-masa yang rapuh ini, saya tetap harus membangun kepercayaan dengan putri saya. Mendengarkan tanpa menghakimi. Tidak menawarkan tujuh langkah menuju kesehatan dan kebahagiaan. Tanpa mengutip "Janganlah khawatir akan apa pun juga..." Dan, itu sulit, karena justru hal-hal tersebut yang membantu saya ketika saya sedih.

Jika Anda tidak membentuk dasarnya ketika mereka berusia lebih muda, itu belumlah terlambat. Pikirkan pertanyaan-pertanyaan yang spesifik untuk diberikan kepada kepada anak remaja Anda yang sedang bergumul dengan depresi, daripada pertanyaan-pertanyaan yang tidak jelas. Daripada bertanya "Bagaimana kabarmu hari ini?", cobalah dengan, "Apa saja hal-hal kesukaanmu yang terjadi hari ini?" atau "Ceritakan tentang hal baru yang sudah kau pelajari."

Jika mereka menolak untuk berbicara, duduklah dengan mereka. Bersihkan bangkunya. Telan saja semua perkataan Anda dan buatlah mereka mengajari Anda cara bermain video game. Lakukan apa yang mereka ingin lakukan. Rachel bukanlah orang yang suka berbelanja, tetapi saya menyukainya. Jadi, waktu berkualitas bagi kami bukanlah berbelanja, tetapi lebih ke high-tea time (minum teh di atas meja makan yang tinggi dan biasanya berlangsung di sore hari - Red.) di Lavendou. Atau tertawa bersama dengan hamster di Petco. Atau berbagi semangkuk spaghetti di Macaroni Grill, karena seorang gadis rumahan akan bercerita tentang rahasia ketakutan tergelapnya ketika dia mendapatkan spaghetti.

Apa pun yang Anda kerjakan, jangan menyerah. Anda akan mampu memenangkan masalah keberanian ini jika Anda berfokus dengan hal tersebut.

Melayani

Ketika Rachel mulai beranjak dewasa dan kami telah melewati bagian terburuk dari badai kehidupan serta merasakan ada secercah harapan, dia menyadari bahwa dia memiliki suatu kesaksian. Allah mulai memakainya untuk melayani gadis-gadis lain yang mengalami hal yang serupa. Dia menyadari bahwa ternyata menyenangkan untuk dapat memberikan bantuan dalam hal-hal kecil di sekolah, dan dia suka menyimpan kertas dan pensil lebih bagi anak-anak kecil yang lupa membawanya. Membantu orang lain dengan tidak hanya berfokus pada diri sendiri dapat mengubah sudut pandang kita akan sesuatu. Bertanyalah pada gereja Anda tentang tempat-tempat di mana Anda dan keluarga dapat melayani.

Hal Itu Terus Terjadi

Mengajari anak

Hal tersebut tidak berakhir setelah masa-masa sekolah menengah. Dia masih bergumul dengan depresi dan kekhawatiran, dan mungkin dia akan terus mengalaminya. Akan tetapi, dia sudah tahu bagaimana cara untuk menghadapinya, apa yang memicunya, bagaimana cara meminta bantuan, dan rasa depresinya sudah semakin berkurang seiring dengan pertambahan usianya. Konseling telah berperan besar membantunya menghadapi masalah tersebut.

Sering kali saya merasa benar-benar di luar kendali dan seperti ingin berteriak sekeras-kerasnya. Dikaruniai seorang anak yang cantik, yang begitu dipenuhi dengan hidup dan energi serta kreativitas yang berangsur-angsur mengalami perubahan di hadapan saya sangatlah menyedihkan. Waktu-waktu doa saya sekarang berada dalam situasi yang benar-benar baru. Saya menghabiskan setiap pagi hanya untuk berlutut dan berdoa kepada Allah memohonkan belas kasihan-Nya.

Jadi, Allah tahu. Dia tahu sebab Dia melihat Anak-Nya yang Tunggal belajar tentang bagaimana saudara sepupunya Yohanes Pembaptis yang dipenggal kepalanya. Dia melihat Yesus berduka atas teman-Nya Lazarus. Allah melihat Yesus menangis dengan sangat menderita di Taman Getsemani saat sedang menghadapi kematian paling mengerikan yang pernah ada.

Allah telah mengingatkan saya melalui masa pengasuhan, dan sekali lagi, "Aku akan/dapat mengatasinya." Saya sudah menyaksikan kuasa Allah melalui hidup Rachel dan saya tidak dapat mengukur semua persoalan ini tanpa Juru Selamat saya.

Allah sudah mengatasinya. Dan, saya bersyukur karena-Nya. (t/Nikos)

 

Pengasuhan/Pendampingan Melalui Depresi Pada Anak

 

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Christian Parenting
Alamat situs : http://www.christianparenting.org/articles/parenting-childs-depression/
Judul asli artikel : Parenting Through a Child's Depression
Penulis artikel : Carrie Varnell

Komentar