Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I

Masalah Fantasi yang tersembunyi

Oleh: Dr. Yakub B Susabda

Individu penderitaan Obsessive Compulsive Disorder (OCD) adalah individu yang terjerat dengan dua macam pola dalam kejiwaannya yaitu obsessive dan compulsive. Obsessive artinya "a persistent preoccupation with something/secara terus menerus pikirannya memikirkan sesuatu dan atau perasaannya merasakan sesuatu yang ia tidak mampu buang." Oleh sebab itu, biasanya individu tersebut juga terjerat dengan dorongan yang tak terhindarkan untuk melakukan tingkah laku tertentu. Yang kedua ini disebut sebagai compulsive. Jadi kalau seorang individu menderita Obsessive Compulsive Disorder artinya, individu tersebut merasakan adanya dorongan yang begitu kuat untuk memikirkan sesuatu yang ia sendiri tak mau pikirkan dan kemudian melakukan tingkah laku tertentu yang ia sendiri tidak kehendaki. Tapi toh ia tidak mempunyai kekuatan untuk menolaknya.

Sebenarnya setiap orang "pada bagian-bagian tertentu" menyimpang gejala OCD. Ada yang tak dapat menghindarkan diri dari pikiran- pikiran porno sehingga setiap hari melakukan masturbasi; ada yang setiap hari harus bangun jam 5.00 pagi dan merasakan dorongan untuk harus membaca 1 pasal Alkitab sebelum melakukan hal-hal yang lain; ada pula yang setiap kali mandi selalu harus menyabun bagian tertentu dari tubuhnya sampai tiga kali supaya merasa betul-betul bersih; dan ada yang setiap kali doa mesti mendoakan pokok-pokok tertentu (misalnya, kesehatan dan sukses bagi anak-anaknya), atau kalau ia melanggar rutinitas tersebut, ia merasa sangat bersalah. Di samping itu ada pula individu-individu yang terganggu dengan munculnya pikiran-pikiran jahat. Setiap kali melihat ibunya menuruni tangga, misalnya, selalu muncul pikiran ingin mendorong ibunya supaya jatuh dan patah lehernya. Memang untuk pikiran-pikiran jahat tersebut, hati nuraninya selalu menuduh, tetapi pikiran-pikiran tersebut setiap kali muncul lagi.

Kasus-kasus OCD seringkali menggejala dalam bentuk-bentuk tertentu. Misalnya, fokus kali ini, yaitu individu yang terus menerus terjerat dengan fantasi yang tersembunyi dengan wanita-wanita lain (teman, sekretaris, pembantu rumah tangga, dsb). Dalam kasus seperti ini, setiap kali di rumah, individu tersebut cenderung menunjukkan gejala kecemasan (anxiety), kegelisahan (restless), mudah tersinggung (irritable),cari-cari kesalahan (Critical spirit), pikirannya sulit diduga dan emosinya meledak-ledak (unpredictable dan explosive). Dengan gejala-gejala 'lain" ini seringkali orang akan berpikir kalau masalahnya bukan OCD tetapi masalah watak, kepribadian, ketidakmatangan emosi, dan atau mungkin masalah komunikasi dengan isterinya. Padalah kalau ditelusuri benar-benar, kemungkinan besar masalahnya adalah masalah Mild OCD. Meskipun ia bukan penderita gangguan OCD yang serius, ia terjebak dengan pikiran fantasi tersembunyi yang ia nikmati.

Mungkin sebagai orang Kristen, pada saat-saat tertentu, ia merasa berdosa dan ingin dibebaskan dari pikiran tersebut. Setiap kali fantasi muncul lagi ia seolah-olah tidak berdaya mematikannya, bahkan ia cenderung untuk terus mengembangkan dalam fantasi yang sebenarnya ia nikmati. Sebagai contoh perhatikan kasus di bawah ini.

A adalah seorang suami dan ayah dari tiga orang anak yang manis- manis. B (istri A) mengeluh merasa tertekan hidup sebagai istri A, yang dirasakan sebagai laki-laki pemberang, sinis, egois, diktator dan tak mempunyai perasaan. Rasanya, apa saja yang dilakukan B selalu salah. Mula-mula B mengalah terus, tetapi lama kelamaan tidak tahan juga. Memang B mengakui bahwa ia juga ada kelemahannya. Misalnya dalam mengatur rumah tangga dan masak. Ia bukanlah seorang wanita yang terlatih dan berbakat dalam kedua hal tersebut, tetapi paling tidak ia sudah berusaha. Ia merasa bahwa ia juga berhak menuntut pengertian dari suaminya. Realitanya A sebagai suami tak pernah menunjukkan itikad baiknya. Bahkan cenderung memakai setiap "kekurangan B' sebagai alasan untuk dapat melampiaskan kemarahan dan penghinaannya. Akhirnya B berani melawan dan ...mulailah mereka sering bertengkar. Dari pertengkaran mulut yang biasa, mereka akhirnya terjebak ke dalam sistim "setiap kali berkomunikasi selalu saling melukai." Bahkan seringkali dalam pertengkaran mulut mereka saling melukai dengan kata-kata yang sifatnya fatal, seperti misalnya "lebih baik cerai ... karena antara kita sudah tidak ada cinta lagi." Pada suatu hari B menemukan bahwa A ada hubungan dengan wanita lain. Dalam kondisi yang sudah parah itu A mengupayakan perceraian dengan B. sebagai wanita Kristen, B menolak usul tersebut dengan alasan demi kepentingan anak-anak. Akhirnya, mereka mencari seorang hamba Tuhan sebagai konselor.

Mula-mula B dan si konselor percaya bahwa masalah mereka sebenarnya masalah perbedaan watak dan komunikasi, yang menjebak mereka dalam sitem yang buruk. Namun kemudian tersingkap bahwa watak dan kebiasaan sinis, menghina dan pemarah sebetulnya hanyalah manifestasi dari perasaan cemas dan gelisah oleh karena A terjerat dengan kebiasaan fantasi yang tersembunyi. Perasaan bersalahlah yang menyebabkan A menjadi demikian. Setiap kali sendirian dirumah, A selalu dalam obsesi memikirkan berbagai macam kemungkinan, cara, bahkan adegan fantasi bermain cinta dan mendapat kepuasan seksuil dengan wanita lain. Bagaimana membujuk, meraba, mendapat response, mengajak wanita tersebut masuk dalam rumahnya yang kosong, lalu melakukan tingkah laku saling merangsang dan memuaskan gairah seksuil mereka. Fantasi ini terus menerus muncul dan dihidupkan oleh A karena dinikmati, sehingga dapat dikatakan ia adalah penderita Mild OCD. Dalam hal fantasi ini saja, pikiran dan perasaan A obsessive dan hanya dalam fantasi seksuil saja tindakan A compulsive.

Dari kasus ini nyatalah bahwa masalah OCD bisa menggejala dalam bentuk-bentuk yang lain. Kalau hubungan dan komunikasi antara A dan B memburuk bahkan kemudian mereka bercerai, maka penyebab utamanya adalah OCD yang menyebabkan A begitu lemah dalam adaptasi dengan istrinya sendiri. Bahkan perasaan dan pikiran fantasinya telah menyebabkan dirinya menjadi alergi, bosan, muak, dan kehilangan gairah sama sekali dengan istrinya.

Coba bayangkan kasus seperti ini diperhadapmukakan kepada anda oleh karena anda teman dari B. Bagaimana kita dapat menolong B dan menyelamatkan pernikahannya?

  1. Beri pengertian bahwa "sebelum kenal kemudian menikah dengan B" A sudah mempunyai masalah yang sama.

    Mungkin benar kelemahan-kelemahan B adalah faktor pencetus (precipitating factors) dari hidupnya watak-watak buruk A yang sinis, egois, dan pemberang. Tetapi faktor pencetus bukanlah faktor penyebab (predisposing factors). Sebelum ada faktor pencetus, A sudah mempunyai masalah pada dirinya sendiri. Sehingga B perlu belajar memahami dan menafsirkan setiap tingkah laku A terhadap dirinya dari kacamata dan perspektif yang benar. B tidak perlu mengembangkan perasaan bersalah yang tidak semestinya, kecuali memang B melakukan kesalahan-kesalahan sengaja dan disadari di luar kekurangan-kekurangan pribadinya yang dibawanya dari kecil. Kalau memang demikian, B harus memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut, meminta maaf kepada A, dan mulailah kehidupan yang baru yang diturunkan oleh hati nurani yang bersih dan tulus. Tetapi kalau tidak demikian, mengapa B harus mempersalahkan dirinya sendiri (self-blaming)?

    Masalah A adalah masalah A. B hanyalah objek proyeksi perasaan bersalah dari A. Oleh sebab itu B tak perlu menafsirkan kata-kata dan sikap buruk A terhadap dirinya sebagai sikap dan kata-kata yang memang secara khusus ditujukan pada dirinya (don't take it personally and seriously). Seandainya yang menjadi istri A adalah orang lain (atau siapapun juga) A tetap akan memakainya juga sebagai objek proyeksinya. Jadi, kebetulan B-lah yang menjadi istrinya. Oleh sebab itu tolonglah B untuk memahami realita ini, sehingga sikap dan tingkah-lakunya tak terjebak pada perasaan dan pikirannya sendiri.

  2. Belajar memisahkan antara persoalan dengan hati nurani.

    Sebagian besar manusia (mungkin kecuali yang mempunyai kepribadian anti-sosial) mempunyai hati nurani yang hidup yang tuntutannya dapat dipercaya karena memiliki kebenaran "yang universal." Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa sebagian besar kesalahan yang manusia perbuat, mereka perbuat bukan oleh karena mereka jahat tetapi oleh karena mereka terjerat dengan berbagai struktur jiwa yang kurang sehat. Sehingga sebelum hati nurani sempat berperan, perasaan, pikiran, dan sikap sudah memanifestasikan diri sesuai dengan tuntutan instingnya. Inilah yang mungkin terjadi dalam kehidupan A. Sebelum hati nurani berperan, perasaan dan pikirannya sudah terjebak dengan fantasi seksuilnya. Sebagai penderitaan Mild OCD, kemungkinan besar hari nurani A masih sangat hidup. Yang terjadi hanyalah, tendensi Obsessive Compulsive-nya yang muncul lebih cepat dengan kekuatan yang jauh lebih besar, sehingga A terus mengulang kesalahan yang sama. Suara hati nurani ditekan masuk dalam alam subconscious. Hati nurani tersebut masih hidup karena eksistensinya disadari pada saat A merasa bersalah.

    Inilah yang harus diketahui dan benar-benar dipahami oleh B. Sehingga langkah-langkah penyelesaian tidak diracuni oleh perasaan dan pikirannya sendiri yang kemungkinan besar menurut keadilan sesuai dengan standar keadilan yang berlaku umum seolah-olah A melakukan kesalahannya dengan sengaja dan dalam kontrol diri sepenuhnya. B perlu betul-betul waspada karena kemungkinan besar ia akan mengutamakan tuntutan haknya sendiri dan bukan penyelesaian persoalan dengan natur persoalan tersebut. Ia harus ditolong untuk berani berperan sebagai penolong bagi suaminya, yaitu dengan menghidupkan dan memberi peluang bagi hati nurani A untuk berperan. Caranya, berbuat baik selalu padanya. Jangan balas "kejahatannya" dengan kejahatan. Cobalah untuk sabar dan layani dia dengan lemah lembut sambil doakan dia terus-menerus. Waspadalah dan jangan layani "suara iblis" yang berbisik mengatakan, "mengapa kamu yang harus mengalah ... apa gunanya perbuatan baik dan pelayananmu untuk manusia yang tak berperasaan itu... sampai kapan kamu akan menyia- nyiakan hidupmu...?"

  3. Mintalah pimpinan, bijaksana, dan waktu yang tepat dari Tuhan untuk dapat membawa A ke seorang konselor yang tepat karena untuk penyelesaian akar masalah OCD-nya, ia membutuhkan bantuan seorang therapist.

    Masalah OCD adalah masalah yang cukup kompleks. Banyak keluarga dan individu yang menderita karena kehadiran masalah ini dalam kehidupan orang yang mereka kasihi. Meskipun demikian sebagai orang-orang Kristen kita percaya bahwa apapun dan bagaimana keadaan dan kondisi jiwanya, ia adalah orang yang seharusnya kita kasihi. Ikatan pernikahan dan keluarga adalah ikatan yang "diikatkan atau dipersatukan" oleh Allah (Mat 19:6). Dan sesuatu yang "Allah telah ijinkan menjadi bagian hidup kita" pasti mempunyai makna dan kebaikan bagi orang-orang percaya (Roma 8:28). Allah telah berfirman, "Sebab aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yer 29:11)

    PERSPEKTIF PSIKOLOGIS

    OCD (Obsessive-Compulsive Disorder)

    Oleh: Dr. Paul Gunadi

    Di usia setengah baya ini saya makin menyadari betapa banyaknya hal dalam hidup ini yang tidak saya mengerti. Salah satunya yang tetap menjadi misteri adalah Obesessive-Compulsive Disorder, disingkat OCD. Dari namanya kita dapat melihat bahwa gangguan ini melibatkan dua fungsi kehidupan, yakni pikiran (obsesi) dan perilaku (kompulsi). Si penderita biasanya mempunyai pikiran tertentu yang tak dapat dilenyapkannya (obsesi) atau melakukan suatu tindakan berulang-kali tanpa kendali (kompulsi). Misalnya, ada yang terobsesi dengan pikiran bahwa ia kotor dan merasa harus mencuci tangannya atau mandi berkali-kali sehari untuk membersihkan diri. Bagi Saudara yang pernah menyaksikan film As Good As It Gets yang diperankan oleh Jack Nicholson, Anda mengingat insiden di mana ia mandi berjam-jam lamanya dan ia pun tidak pernah menggunakan sabun yang sama untuk membasuh tangannya.

    Dalam bukunya, The Boy Who Couldn't Stop Washing, Dr. Judith L. Rapoport mengamati bahwa pada umumnya penderitaan OCD dapat dibagi dalam dua golongan: si pencuci dan si pengecek. Si pencuci adalah ia yang terus menerus terobsesi mencuci atau membersihkan diri dan si pengecek adalah ia yang terus menerus mengecek atau memastikan sesuatu telah berjalan sesuai dengan kehendaknya. Ada yang harus mengecek bahwa lacinya telah tertutup, bahwa pintu dan jendela rumahnya terkunci rapat, dan bahwa bukunya tertata dengan pas. Bedanya dengan orang lain yang juga harus mengecek adalah penderitaan OCD melakukan pengecekan ini berpuluhan kali sehari. Ada yang harus membawa penggaris untuk mengukur apakah besi penyanggah pintu itu benar-benar sudah masuk ke lubangnya atau belum. Pandangan matanya saja tida sukup kuat untuk meyakinkan bahwa pintu itu sudah terkunci.

    Penderita OCD sadar dengan perbuatannya ini namun tak berkuasa mengendalikan dirinya. Seperti ada suatu keharusan untuk melakukannya dan ia tak dapat menghentikan tindakannya. Ia harus melewati ritualnya terlebih dahulu sebelum ia dapat merasa puas. Derita yang dialami penyandang OCD sudah tentu dalam; ia merasa malu dengan dirinya dan takut dianggap gila. Ia pun merasa frustasi sebab ia tak dapat mengendalikan dirinya; ia tidak bisa memberi perintah kepada pikiran atau tubuhnya untuk berbuat sesuai keinginannya. Derita OCD sering kali juga harus dibagi dengan mereka yang hidup dengannya. Misal ada suami harus membeli berlaksa-laksa sabun tangan untuk istrinya, atau istri yang harus menyaksikan suaminya mandi selama berjam-jam.

    Ternyata OCD dapat muncul pada segala usia. Dr. Rapoport melaporkan kasus seorang anak berusia 2 tahun yang jalan berputar-putar serta sederet kasus demi kasus remaja atau pemuda yang terkena berbagai jenis OCD. Saya sendiri telah bertemu dengan anak dibawah usia 10 tahun yang menggerak-gerakkan tangannya tanpa kendali atau orang tua berusia sekitar 70 tahun yang perlu mengecek kunci pintu rumahnya berulang-kali. Yang aneh adalah OCD dapat muncul seketika pada periode tertentu dalam hidup seseorang. Dengan kata lain, kita mungkin saja sebelumnya hidup "normal" dan bebas dari gangguan ini namun secara tiba-tiba penyakit ini muncul bak pencuri di tengah malam. Kita menyadari bahwa kita tidak perlu menggerak-gerakkan tangan kita, atau mengecek pintu berulang kali, membersihkan tubuh atau mencuci tangan berpuluh kali, tetapi kita menjadi begitu tak berdaya mengatasi keinginan-keinginan itu. Kita harus melakukannya sampai puas.

    Dari manakah datangnya OCD ini? Ternyata mengamati gejalanya jauh lebih mudah daripada menemukan penyebabnya. Dr. Rapoport sendiri menduga bahwa OCD berasal dari kekeliruan fungsi senyawa kimiawi di daerah basal ganglia pada otak. Dengan kata lain, gangguan ini lebih bersifat organik (fisik) daripada psikologis. Sudah tentu kecemasan yang tinggi akan dapat memperburuk keparahannya, namun pada dasarnya gangguan ini bersumber dari kekeliruan fungsi fisik kita, bukan psikologis atau lingkungan.

    Sekarang tentang penanganannya. Pertama, sebagai orang tua kita perlu mengkomunikasikan penerimaan, bukan penolakan kita. Ada kecenderungan orang tua untuk menolak anak yang menderita OCD karena perilaku itu mempermalukan orang tua. Atau, ada juga yang tidak bisa menerima anak yang OCD sebab ia sendiri pun mengalami gangguan yang sama pada masa kecilnya (atau bahkan pada masa sekarang). Ingatlah, bahwa bukannya anak tidak mau menghentikan perilaku ayau pikirannya yang aneh, ia tidak bisa. Sudah tentu kita boleh dan seharusnyalah memintanya untuk berusaha sekeras mungkin mengontrol pikiran atau tindakannya itu. Namun jika ia tetap tidak bisa, terimalah anak itu dengan kasih sayang dan rasa iba. Penolakan orang tua niscaya memperparah penderitaan si anak sebab ia pasti telah mengalami penolakan atau ejekan teman-temannya di sekolah.

    Kedua, bawalah anak (atau diri sendiri) ke psikiater untuk mendapatkan perawatan medis. Dr. Rapoport mengemukakan bahwa Anafranil ternyata sangat efektif mengurangi gangguan OCD. Meskipun demikian ada kasus-kasus tertentu yang tidak tanggap terhadap pengobatan. Menurut seorang rekan psikiater yang saya kenal, sekarang sudah ada jenis obat yang lain yang dapat digunakan untuk menangkal gejala OCD. Proses perawatan memakan waktu biasanya sampai berbulan-bulan dan adakalanya gejala yang sudah hilang dapat muncul kembali suatu saat kelak. Sebaliknya, dalam beberapa kasus, ternyata OCD dapat menghilang dengan sendirinya tanpa pengobatan atau perawatan apapun. Namun apabila OCD sudah sangat menganggu fungsi hidup sehari-hari, sebaiknya kita tangani dengan pertolongan obat.

    Mazmur 139:13 menegaskan dengan lantang bahwa Tuhanlah "yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku." Entah mengapa, Ia yang menenun kita, telah menenun dengan benang yang berpotensi menciptakan OCD. Sekali lagi kita ditantang untuk mempercayai hikmat dan rencana Tuhan. Pada akhirnya pemazmur berseru-bukan dengan nada protes melainkan kagum, "Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya." (ayat 14) OCD memang merupakan suatu 'kelemahan," namun apa artinya satu kelemahan di tengah-tengah sejuta keajaiban ciptaan-Nya yang dahsyat? Jangan sampai kita terkecoh; di dalam OCD terdapat seorang manusia. Lihat dan kasihanilah manusianya.

    RALAT
    Pada artikel "Kerapuhan Hidup" dalam Edisi Januari - Maret 1999, saya menulis bahwa H.G. Spafford, penulis lagu "It Is Well With My Soul," kehilangan tiga putrinya dalam musibah karamnya kapal yang mereka tumpangi. Yang benar adalah, ia kehilangan empat putrinya. Saya mohon maaf atas kekeliruan ini.

    Paul Gunadi.
    Sumber
    Halaman: 
    --
    Judul Artikel: 
    Parakaleo (Edisi Apr. - Juni 1999)
    Penerbit: 
    Departemen Konseling STTRI

Komentar