Sejarah Alkitab Indonesia
Home | Sejarah | Artikel | Bagan Data | Bibliografi

  Kategori Artikel
  Artikel-artikel sejenis dapat dilihat di Bibliografi Sumber Lain
  Doktrin Alkitab (16)
Home > Artikel > Tekstualitas dan Intratekstualitas dalam Hermeneutika Pascaliberalisme

Tekstualitas dan Intratekstualitas dalam Hermeneutika Pascaliberalisme

  Bibliografi          

Artikel ini diambil dari :
 Jurnal Teologi dan Pelayanan Veritas. Oleh Andreas Himawan

PENDAHULUAN

Perkembangan hermeneutika dalam gerakan teologi pascamodern, seperti yang dapat disimak dari kalangan pascaliberalisme,[1] memperlihatkan beberapa kecenderungan yang menarik. Gerakan teologi pascamodern ini jelas berkaitan erat dengan apa yang disebut sebagai perkembangan "the linguistic turn," yang mendominasi wacana filfasat pascamodern. Karena itu, teori-teori dan kritik-kritik kesusasteraan menjadi salah satu alat utama dalam interpretasi dan evaluasi teologi masa kini.[2] Perkembangan teologi pascamodern ini juga memperlihatkan kecenderungan kembali kepada hermeneutika Karl Barth, yang melihat teks formatif kekristenan sebagai "a strange new world within the Bible."

Pada satu pihak, pengaruh teori kesusasteraan telah mendorong pemakaian reader-response criticism, yang melihat proses membaca sebagai proses penciptaan makna. Di bawah pengaruh tokoh seperti Stanley Fish, teolog-teolog saat ini banyak berbicara mengenai interpretive communities. Pada pihak lain, di bawah pengaruh Karl Barth, orang-orang dalam gerakan yang sama terdorong untuk mengutamakan teks formatif kekristenan sehingga mereka menganjurkan pembacaan yang realistik (realistic reading) terhadap narasi-narasi Alkitab, dan melihat narasi-narasi ini dapat menciptakan satu dunia realita yang lebih nyata daripada dunia yang kita kenal dengan panca indera kita. Teologi pascaliberal adalah salah satu dari gerakan teologi pascamodern yang mementingkan teks dan mengutamakan pembacaan realistik tersebut.

Memang, di kalangan teologi pascaliberal sendiri terlihat juga kecenderungan untuk mengikuti jalur Stanley Fish, seperti yang dilakukan oleh Stanley Hauerwas.[3] George Lindbeck dan Hans Frei, yang dianggap sebagai pelopor gerakan pascaliberalisme, juga memperlihatkan kecenderungan menempatkan interpretive communities sebagai pencipta makna (dan bahkan kebenaran) teks. Tulisan ini akan saya fokuskan hanya pada penekanan mereka terhadap teks dan memperlihatkan beberapa penyimpangan dari pandangan Barth tentang tekstualitas. Tulisan ini juga memperlihatkan bahwa antara mementingkan teks qua teks dengan mementingkan komunitas pencipta kebenaran teks jaraknya sangat tipis.

HERMENEUTIKA DAN TEOLOGI INTRATEKSTUAL

Hermeneutika intratekstual, yang kemudian dikembangkan oleh George Lindbeck menjadi teologi intratekstual, adalah salah satu sumbangsih pemikiran Hans Frei. Bagi Frei, dunia simbolik yang diciptakan oleh narasi-narasi Alkitabiah, secara hermeneutik, haruslah ditempatkan sebagai yang lebih utama dibandingkan dunia pengalaman inderawi. Dengan mengutip Eric Auerbach, Frei mengatakan, narasi Alkitab tidaklah sama dengan sebuah novel, misalnya epik Homerik yang hanya sekadar mengundang pembacanya untuk sejenak melupakan realitas mereka sendiri. Narasi Alkitab justru mencoba mengatasi realitas kita. Kita sebagai pembaca yang harus menyesuaikan hidup kita dengan dunia simbolik narasi itu, dan meresakan bahwa diri kita adalah bagian dari struktur sejarah universal dunia tersebut.[4] Karena itu, hermeneutika bukanlah suatu usaha menyesuaikan dunia simbolik Alkitab ke dalam kategori-kategori ekstratekstual. Dan juga bukan suatu usaha mencari sesuatu di luar atau di atas dunia linguistik tersebut, apakah itu pengalaman religius atau kebenaran-kebenaran historis, tetapi suatu usaha mendeskripsikan dunia simbolik yang diciptakan oleh narasi- narasi Alkitab itu, yang pada gilirannya, menjadi semacam kerangka interpretif untuk melihat dunia inderawi kita. Narasi-narasi Alkitab dianggap mampu mengkonstruksi dan membentuk suatu dunia nyata yang melaluinya komunitas Kristen melihat realitas inderawi. Jadi dalam pengertian Frei, narasi Alkitab mempunyai keutamaan dalam arti ia menjadi semacam kategori hermeneutik terhadap Alkitab.

Secara meyakinkan Frei berargumentasi mengenai pembacaan realistik dan hermeneutika intratekstual ini dalam bukunya, The Eclipse of Biblical Narrative.[5] Menurut Frei, dalam sejarah gereja, sampai abad ke 17, para pengkhotbah dan penafsir senantiasa melihat ke depan ke dunia nyata yang dibentuk oleh kisah-kisah Alkitab. Satu-satunya dunia yang nyata adalah dunia yang digambarkan oleh narasi Alkitab. Dunia nyata ini pula yang memberi makna dan realitas bagi kehidupan Kristen. Tetapi, demikian Frei berargumentasi, sejak abad ke 18, yakni zaman yang berada di bawah pengaruh Era Pencerahan, terjadi suatu pembalikan hermeneutik yang radikal. Penafsiran menjadi semata-mata suatu usaha menyesuaikan cerita Alkitab ke dalam suatu dunia lain yang mempunyai kisahnya sendiri. Realitas pembaca, yakni dunia modern, dianggap sebagai realitas yang utama yang kepadanya dunia Alkitab harus menyesuaikan diri. William Placher mengatakan bahwa hermeneutika demikian memandang narasi-narasi Alkitab dapat dianggap real hanya bila cerita-cerita itu dapat disesuaikan dengan kerangka pemikiran orang-orang modern.[6]

Dalam kerangka pemikiran ini, narasi Alkitab hanya dapat dimengerti bila dimasukkan ke dalam dua kategori: narasi itu adalah sejarah, atau narasi itu mengandung pelajaran-pelajaran moral. Metode-metode historis-kritis yang baru, digunakan untuk menyeleksi narasi-narasi mana yang historis yang dapat melewati standar metode tersebut. Bila hal ini ternyata sulit dilakukan, maka narasi Alkitab, seperti yang juga dikatakan oleh Placher, akhirnya semata-mata dianggap sebagai pembawa rujukan-rujukan idealistik dengan mengajarkan hal-hal moral, dengan memberikan lambang-lambang pengalaman rohani, atau menyajikan potensi-potensi eksistensi manusia.[7] Bagi Frei, apa pun idealismenya, apakah mencari kebenaran historis atau kebenaran moralistik, dengan mengabaikan karakter naratif dari Alkitab, hermeneutika modern telah merusak makna Alkitab baik melalui reinterpretasi maupun revisi.[8] Karena itu, dia mengajukan pembacaan cara ketiga terhadap narasi Alkitab: Baca kisah-kisah itu sebagai kisah-kisah yang tidak punya arti lain selain apa yang ingin dikatakan oleh kisah-kisah itu. Secara hermeneutik, pembacaan demikian selaras dengan sifat naratif Alkitab, di mana tindakan hermeneutik dilakukan adalah semata-mata untuk mendeskripsikan dunia Alkitab sebagai,

Suatu dunia dengan integritas linguistiknya sendiri, sama halnya dengan sebuah karya kesusasteraan yang mempunyai suatu dunia yang konsisten dalam standarnya sendiri, suatu dunia yang hanya dapat kita peroleh melalui melakoninya. Tetapi berbeda dengan dunia lakon lainnya, dunia narasi Alkitab adalah suatu dunia bersama di mana kita semua bisa hidup, bergerak, dan berada.[9]

Bila hermeneutika intratekstual diberi pengertian sebagai usaha mendeskripsi dunia simbolik Alkitab yang terbentuk melalui narasi- narasi Alkitab, maka teologi intratekstual adalah suatu kelanjutan teologis dari hermeneutika tersebut. George Lindbeck mengatakan, "Dunia Alkitab mampu menyerap alam semesta ini. Dunia Alkitab ini memberikan suatu kerangka interpretif yang melaluinya orang-orang Kristen menjalani kehidupannya dan memahami realitas."[10] Karena itu, dalam satu kalimat yang kemudian menjadi sangat terkenal, dia mengartikan teologi intratekstual sebagai teologi yang "redescribes reality within the scriptural framework rather than translating Scripture into extrascriptural categories. It is the text, so to speak, which absorbs the world, rather than the world the text."[11]

Hermeneutika maupun teologi dalam artian intratekstual jelas sangat mementingkan teks sebagai suatu sistem semiotik. Tidak heran kalau teolog-teolog pascaliberal umumnya mengambil posisi Karl Barth yang memandang narasi-narasi Alkitab sebagai "the strange new world within the Bible." Makna religius, bagi Lindbeck, tidak ditemukan di luar teks atau di luar sistem semiotik. Makna selalu bersifat imanen di dalam teks atau di dalam sistem semiotik tersebut.[12] Dalam artian ini, teologi sangat bersifat deskriptif, yakni deskripsi teologis terhadap apa yang operatif di dalam sistem semiotik. Hermeneutika, dalam pola ini, jelas telah bergeser dari pencarian historical truth, atau authorial intention, atau authorial motivation kepada final product, yakni kepada teks itu sendiri.

Perkembangan ini jelas bukan merupakan sesuatu yang khas dalam teologi pascaliberal. Hermeneutika umum telah pula menggeser fokus utama mereka di dalam proses interpretasi, dari author ke text (dan bahkan kemudian ke reader). Fokus kepada teks ini, pada waktu yang bersamaan juga dipopulerkan oleh Brevard S. Childs, seorang sarjana Alkitab, yang juga adalah rekan Frei dan Lindbeck di Yale University, yang menekankan pendekatan kanonikal dalam hermeneutika Alkitabiah. Perkembangan ini menarik dan disambut cukup gembira oleh kalangan Injili. Alkitab tidak lagi dilihat sebagai ceceran-ceceran pengalaman religius yang kebetulan terkompilasikan dalam satu kitab. Alkitab kini dilihat dalam posisinya sebagai suatu final product, suatu kanon, dan suatu teks konstitutif dan normatif yang utuh.

TEKS DAN KEBENARAN ONTOLOGIS

Beberapa komentar dapat diajukan kepada model hermeneutika intratekstual ini. Hermeneutika yang seharusnya teologis, telah menjadi hermeneutika yang terlalu formal. Misalnya, dalam hal tekstualitas, pandangan kaum pascaliberal, khususnya dalam Lindbeck, teks itu telah menjadi suatu sistem tertutup yang diisi hanya oleh penanda (signifiers). Pertanyaan-pertanyaan penting mengenai historisitas, referensi, dan ontologi dieksklusikan karena dianggap, pertama, tidak sesuai dengan karakter naratif suatu kisah realistik; dan kedua, tidak mencerminkan kesetiaan teologis yang bersifat intratekstual. Teks menjadi self-referential dan otonom.[13] Dalam hal ini, beberapa teolog pascaliberal, walaupun mengakui diri dan diakui sebagai pelanjut-pelanjut dari konsep Barth mengenai tekstualitas, sesungguhnya hanya menerima secara parsial konfirmasi Barth terhadap "the strange new world within the Bible" tersebut.

Salah satu kritik tajam untuk Lindbeck datang dari sejawatnya di dalam kubu pascaliberalisme, yakni Ronald Thiemann. Dia mengatakan Lindbeck terlalu berfokus pada teks dan tekstualitas dalam artian formal, dan terlalu sedikit berbicara mengenai hal-hal teologis, bahkan hampir tidak berbicara tentang Allah. Karena itu, menurut Thiemann, bahaya dari pendekatan fokus hermeneutik demikian adalah pembicaraan tentang teks menggantikan wacana tentang Allah. Teks berdiri di tempat di mana seharusnya Allah yang berdiri.[14] Hal ini dapat terjadi pada program teologi dan hermeneutika Lindbeck karena kurangnya perhatian pada konsep wahyu atau penyataan melalui teks. Barth memang menekankan tekstualitas, tetapi, kembali mengutip Thiemann, tanpa doktrin penyataan, suatu doktrin yang sangat sentral dalam Barth, segala wacana tentang tekstualitas, intratekstualitas, dan self-interpreting texts menjadi mubazir dan kehilangan kekuatan teologisnya.[15] Bahkan Brevard S. Childs, yang sangat mengutamakan tekstualitas, mengeritik Lindbeck pada butir penting tersebut. Dia mengatakan,

Lindbeck dengan yakin mengutip frase Karl Barth tentang "the strange new world within the Bible," seolah-olah Barth sedang membayangkan sebuah komunitas iman yang ditarik masuk ke dalam semesta ciptaan Alkitab. Hal ini sesungguhnya tidak sesuai dengan maksud Barth. Bagi Barth, yang terutama, Alkitab menyaksikan sesuatu realitas di luar teks, yakni Allah, dan melalui teks Alkitab, pembaca dikonformasikan dengan Firman Allah yang adalah Yesus Kristus.[16]

Yang penting dari kritik ini adalah bahwa teks, dalam hal ini teks Alkitab, bukanlah suatu entitas tertutup yang bersifat self- referential dan otonom. Karena itu realitas tidak dapat direduksi menjadi teks. Kritik yang sama dapat ditujukan kepada kalangan penganut konsep wahyu proposisional yang menghadapi bahaya mereduksi wahyu ilahi menjadi semata-mata pernyataan-pernyataan proposisional. Keyakinan bahwa teks Alkitab adalah firman Tuhan tidak mengurangi fakta bahwa teks itu tidak menunjuk kepada dirinya sendiri. Teks itu mendapatkan wibawa dan otoritas bukan semata-mata (dan terutama) karena teks tersebut dapat membangun suatu dunia simbolik yang koheren. Dan bukan pula karena ia diterima sebagai suatu teks normatif oleh satu komunitas. Kebenaran dari teks (the truth of statement) tergantung sepenuhnya pada referensinya, yakni kesetiaan dan ketepatan dalam menunjuk kepada suatu realitas ontologis (the truth of being). Thomas Torrance mengemukakan hal ini dengan cara berikut:

Pernyataan-pernyataan Alkitabiah adalah benar bukan karena pernyataan-pernyataan itu menangkap kebenaran di dalam diri mereka sendiri, tetapi karena mereka menunjuk kepada kebenaran di luar mereka.... Pernyataan-pernyataan itu benar dalam artian mereka secara setia menunjuk kepada kebenaran - karena itulah, pernyataan- pernyataan Alkitabiah perlu dimengerti dan ditafsirkan menurut realitas yang mereka tunjuk, bukan sebaliknya."

Penulis yang sama, dalam buku yang lain, pernah menulis sebuah kalimat (yang rupanya agak sulit diterjemahkan tanpa kehilangan kekuatan dan keindahan kalimat tersebut) tentang kemustahilan mereduksi being ke dalam pernyataan: "No more than you can picture in a picture how a picture pictures what it pictures, without reducing everything to a picture, can you state in statements how statements are related to being without reducing everything to statements."[18]

Pada dasarnya, hermeneutika intratekstual yang dikembangkan oleh pascaliberalisme menggeser terlalu jauh fokus teologis sehingga kecenderungan menjadi hermeneutika formalistik tidak dapat dihindarkan. Bila referensi, ontologi, dan juga historisitas menjadi unsur-unsur yang terlalaikan, maka tidak heran bila makna esensial tekstualitas menjadi hilang. Bila diterapkan dalam suatu komunitas yang nyata, yang berlandaskan hidup bukan hanya pada suatu sistem semiotik, tetapi juga pada keyakinan dan kebenaran, maka kecenderungan formalistik itu, agar dapat menjadi praktis, akhirnya menjadi pragmatis.

Hal ini jelas terlihat dalam program teologi pascaliberal dalam wacana mereka tentang kebenaran. Lindbeck, misalnya, pada satu pihak memang menekankan teks atau sistem semiotik, tetapi pada pihak lain, dalam proses hermeneutika, teks rupanya bukan suatu entitas objektif yang stabil. Ia tidak direlatifkan oleh objek referensinya (sebagaimana di dalam Barth atau Torrance), tetapi, dalam Lindbeck, ia direlatifkan oleh disposisi pembaca atau pengujar teks. Dalam memunculkan makna dan kebenaran, peranan pembaca menjadi sangat definitif. Dalam konteks inilah, teologi pascaliberal, dalam tradisi Wittgensteinian dan Austinian, menekankan kebenaran sebagai performative truth, atau apa yang Lindbeck sebut sebagai intrasystemic truth."[19] Wacana ini tidak lagi memandang kebenaran sebagai sesuatu yang substantif dan ontologis, tetapi lebih dalam pengertian kategorial dan pragmatik. Pernyataan Kristen dianggap benar bila pernyataan itu, pertama, koheren dengan kategori-kategori sistem semiotik atau the web of beliefs komunitas Kristen; dan kedua, koheren dengan the form of life atau total relevant context dari komunitas tersebut, yakni sistem praktis yang telah "menubuh" dalam komunitas itu. Pernyataan Christus est Dominus, misalnya, bagi Lindbeck adalah kalimat tanpa makna dan bahkan tanpa kebenaran bila diteriakkan oleh seorang prajurit perang salib ketika ia sedang menebas kepala musuhnya. Dalam konteks perbuatan tersebut, yang jelas kontradiktif dengan konsep ketuhanan Kristus dalam narasi kekristenan, pernyataan Christus est Dominus adalah salah. Secara kategorial, kalimat itu benar, tetapi secara intrasistemik, kalimat itu salah. Karena itu, secara ontologis, tidak mungkin pernyataan tersebut benar bila secara intrasistemik ia salah.[20] Dalam satu kalimat yang sangat kuat, dia mengatakan bahwa pernyataan religius "acquires the propositional truth of ontological correspondence only insofar as it is a performance, an act or deed, which helps create that correspondence."[21]

KESIMPULAN

Bila pengertian ini ditarik cukup ekstrim, maka pengertian intratekstualitas dalam pascaliberalisme menjadi semacam pembenaran bagi peran komunitas untuk memberi makna dan kebenaran pada teks. Hal ini dapat terjadi karena teks tidak mendapatkan kekuatan dari realitas atau ontologi yang ditunjuk. Teks memang tidak stabil dalam menangkap kebenaran, tetapi ia dapat menjadi penunjuk (signifier) kepada kebenaran (signified). Pada Barth, tidak ada kekuatiran apakah teks, yang adalah bahasa manusia, mampu berkorespondensi dengan ontologi yang bersifat ilahi. Korespondensi itu dapat tercipta bukan karena disposisi komunitas Kristen, tetapi karena wahyu ilahi di dalam Yesus Kristus.

Kategori wahyu inilah yang tidak terdapat dalam kebanyakan teolog pascaliberal, sehingga perbincangan tentang teks, pada satu pihak, menjadi sangat otonom dan self-referential, dan pada pihak lain, menjadi kehilangan kekuatan ontologis-teologis dan tergantikan oleh suatu nuansa yang dekat pada teologi natural. Bagi Barth kebenaran Injil tidak terkondisikan oleh kesaksian manusia. "It would be the truth even if it had no witness.... It is the truth even though its human witnesses fail. It does not live by Christians, but Christians by it."[22] Hermeneutika yang setia pada teologi Kristen bukan saja menerima teks Alkitab sebagai teks kanonikal yang mampu membentuk suatu sistem semiotik yang dapat menjadi "tata bahasa" bagi kehidupan religius Kristen, tetapi hermeneutika yang terutama memandang melalui teks tersebut kepada objek referensinya, dan menemukan Allah Tritunggal yang mewahyukan diri-Nya. Dengan Allah itulah, dan bukan dengan teks tentang Allah itu, kita dapat hidup, bergerak, dan berada.

Catatan Kaki:

  1. Pascaliberalisme adalah gerakan teologi yang sangat signifikan yang muncul di era 70-an dan 80-an khususnya dari Yale University. Artikel ini tidak akan membicarakan gerakan itu sendiri, tetapi hanya membicarakan beberapa karakteristik hermeneutika yang umum ditemui dalam gerakan tersebut.
  2. Bandingkan dengan David Tracy, "Literary Theory and Return of the Forms for Naming and Thinking God in Theology," The Journal of Religion 74:3 (July 1994) 302.
  3. Bandingkan dengan karya Hauerwas, A Community of Character: Toward a Constructive Christian Social Ethics (Notre Dame: UNDP, 1986), dan khususnya, Unleashing of the Scripture: Freeing the Bible from Captivity to America (Nashville: Abingdon, 1993).
  4. Dikutip oleh William Placher, "Paul Ricoeur and Postliberal Theology: A Conflict of Interpretations?" Modern Theology 4:1 (1987) 36.
  5. (New Haven: Yale University Press, 1974). Teks ini umumnya dianggap sebagai bacaan yang rumit. Untuk sebuah analisis dan kritik yang menolong mengenai buku ini, dapat disimak tulisan George P. Schner, "The Eclipse of Biblical Narrative: Analysis and Critique," Modern Theology 8:2 (April 1992) 149-172. Rujukan kepada tulisan Hans Frei yang lebih pendek mengenai "pembacaan realistik" atas Alkitab dapat dibaca dalam tulisannya "The 'Literal Reading' of Biblical Narrative in the Christian Tradition: Does it Stretch or Will it Break?" dalam The Return to Scripture in Judaism and Christianity: Essays in Postcritical Scriptural Interpretations (ed. Peter Ochs; New York: Paulist, 1993).
  6. "Paul Ricouer and Postliberal" 36.
  7. William Placher, "Revisionist and Postliberal Theologies and the Public Character of Theology," The Thomist 49:3 (July 1985) 404.
  8. Hans Frei, "Response to 'Narrative Theology: An Evangelical Appraisal,"' Trinity Journa1 8:1 (September 1987) 21.
  9. Hans Frei, "An Afterword: Eberhard Busch's Biography of Karl Barth" dalam Karl Barth in Re-view(ed. H. Martin Rumscheidt; Pittsburgh, PA: Pickwick, 1981) 114.
  10. The Nature of Doctrine: Religion and Theology in a Postliberal Age (Philadelphia: Westminster, 1984) 117.
  11. Ibid. 118.
  12. Ibid. 114.
  13. "Teks menjadi self-referential dan otonom," adalah suatu kritik yang diarahkan kepada tekstualitas pascaliberal oleh Gary Comstock dalam tulisannya, "Truth or Meaning: Ricoeur Versus Frei on Biblical Narrative," Journal of Religion 66/2 (April 1986) 123,128.
  14. Ronald Thiemann, "Response to George Lindbeck," Theology Today 48:3 (Oktober 1986) 378.
  15. Thiemann, "Response to George Lindbeck" 378.
  16. Biblical Theology of the Old and New Testament (London: SCM, 1992) 22 [huruf miring ditambahkan].
  17. Karl Barth: Biblical and Evangelical Theologian (Edinburgh: T&T Clark, 1990) 112.
  18. Thomas Torrance, Transformation and Convergence in the Frame of Knowledge (Grand Rapids: Eerdmans, 1984) 318.
  19. Lindbeck membahas topik ini khususnya dalam pasal 3 dari The Nature of Doctrine. Dia menggunakan kata intrasystematic truth, tetapi dalam wacana tentang pascaliberalisme, kata intrasystemic truth yang lebih sering dipakai.
  20. Ibid. 64.
  21. Ibid. 65 [huruf miring ditambahkan]. Yang Lindbeck maksud dengan propositional truth adalah kebenaran dalam pengertian korespondensi antara pernyataan dan objek yang ditunjuk oleh pernyataan tersebut.
  22. Church Dogmatics IV/3/2 (Edinburgh: T&T Clark, 1962) 656.
^ Ke Atas ^


Tentang Kami | Kontak Kami | Ucapan Terima Kasih | Buku Tamu | Peta Situs | Links
Disclaimer | © 2003-2014 | Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) | E-mail: webmastersabda.org | Laporan Masalah/Saran

Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati