Sementara itu Indonesia, dan kemudian Malaysia menjadi negara merdeka yang berdaulat. Dengan kemerdekaan dari kekuasaan pemerintahan kolonial, lahirlah bahasa-bahasa nasional, bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia. Perkembangan bahasa-bahasa nasional yang pesat ini membuat terjemahan Alkitab yang lama semakin jauh tertinggal. Perubahan situasi politik, sosial, budaya dan keagamaan menurut terjemahan Alkitab yang lebih memadai, yaitu lebih sesuai dengan keadaan yang baru. Sebagai contoh, sebelum kemerdekaan kata "jajahan" berarti "daerah, wilayah" ("...Betlehem, di jajahan Tudea" - Luk. 2:4 Bode/TL), tetapi sekarang "jajahan" mempunyai konotasi negatif "negara yang dijajah oleh penjajah". Perbedaan pemakaian istilah di Indonesia dan di Malaysia juga perlu dipertimbangkan, contohnya "Karena dengan percuma kamu dapat, berikanlah juga dengan percuma" - Mat. 10:8 Bode/TL. Dalam bahasa Malaysia "percuma" sama artinya dengan "cuma-cuma" dalam bahasa Indonesia; sedang dalam bahasa kata "percuma" artinya "sia-sia, tidak berguna". Jadi, ayat tersebut dalam terjemahan Bode masih dimengerti di Malaysia, tetapi di Indonesia justru menimbulkan salah pengertian yang fatal.
"Salam sedjahtera.
Dengan perasaan sjukur kepada Tuhan, kami menjampaikan kepada Saudara sebuah Alkitab jang berisikan Perdjandjian Lama dan Perdjandjian Baharoe bersama-sama.
Sajang sekali Perdjandjian Lama terbitan ini masih terdjemahan dahulu jaitu oleh Dr. H.C. Klinkert pada tahun 1879, dan Perdjandjian Baharu terdjemahan Ds. W.A. Bode, tahun 1938; dan bahagian ini sampai sekarang diterbitkan dalam dua buku oleh karena bahasa jang satu berbeda lebih dari 50 tahun dari pada jang lain.
Apakah sebabnja sekarang Alkitab diterbitkan dalam bentuk sedemikian ini ?
Alasan jang terutama ialah karena dewasa ini banjak orang sangat rindu memiliki Alkitab seluruhnja, jang memuat baik Perdjandjian Lama jang lazim dipergunakan ialah Perdjandjian Lama terdjemahan Klinkert dan Perdjandjian Baharu Bode, maka untuk memenuhi permintaan banjak orang itu, diterbitkan Alkitab dalam bentuk ini.
Alasan jang kedua ialah karena terdjemahan Alkitab dalam Bahasa Indonesia "modern" itu belum selesai. Seperti maklum, sedjak tahun 1952 suatu Komisi Penterdjemahan telah mulai menterdjemahkan seluruh Alkitab kedalam Bahasa Indonesia sekarang. Pekerdjaan ini memerlukan waktu kira-kira sepuluh tahun.
Mengingat akan alasan-alasan tersebut diatas ini, maka terpaksalah kami menerbitkan Alkitab dalam bentuk jang kurang lazim ini. tidak perlu kami uraikan pandjang lebar disini, bahwa penerbitan Alkitab ini bersifat darurat. Walaupun demikian kami menaruh harap dengan penerbitan ini dapatlah dipenuhi kerinduan mereka jang memerlukan terbitan Alkitab, jang memuat bahagian itu bersama-sama.
Edjaan dalam terbitan ini telah disesuaikan dengan edjaan jang lazim sekarang.
Kami berharap semoga dengan pertolongan Tuhan pada waktuNja kami akan menerbitkan pula seluruh Alkitab jang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia jang lebih baik dan sempurna.
Achirnya kami berdoa kiranja perdjalanan Alkitab dalam bentuk ini djuga akan diberkati oleh Tuhan. Bapa kita dalam Jesus Kristus, serta akan senantiasa diiringi oleh Roh Kudus.
LEMBAGA ALKITAB INDONESIA."